Hallo~~~ heheheh setelah nelantarin fic ini sebulan lebih akhirnya Babayan apdet juga :'D maklum waktu itu idenya lagi buntu, mampet dan ntah kesumpel sama apa :(( yah mumpung baru-baru aja dapet ide lagi nih xD. Oke, monggooo dibaca…
.
.
.
Colorful
By MeganeBabayan
Kuroko no Basuke milik Fujimaki-sensei.
Summary chapter 2: Kise jatuh dari ayunan dan nyemplung ke selokan yang sebenernya adalah portal?! Ehh tau-tau muncul di rumah Aomine! Terus kok Akashi bisa berubah jadi balon gini?!/ "Pffft Akashicchi meskipun kamu jadi balon tapi kau tetep ganteng kok!"/ "Diam, Ryouta! Seandainya aku bisa megang gunting akan kubotakin kepalamu!"
Warnings: OOC, lebay, aneh, gaje, jelek, de-el-elll kebanyakan~
.
Siapkah untuk membaca? Kalau siap, hepi reading dehh…
.
.
.
"Nah, kalau gitu siapa yang mau naik duluan?" tanya Momoi.
"Oh terbukti nih Kise-kun skill manjatnya udah selevel ama monyet sampe bisa ngebikin ginian dari selang." Kata Kuroko, meledek dengan muka lempeng bin watados.
"Iiiih Kurokocchi kalo gitu mah kamu gak boleh naik ah!" gerutu Kise. "Kan aku yang bikin, aku yang duluan naik yah! Gapapa kan-ssu?"
"Iya, monggo, silakan, sono…," kata Aomine.
"Tapi harus ada yang ngayunin aku loh. Aominecchi aja lah ya…" kata Kise, senyum jail sambil memandangi Aomine dari ujung kaki sampe ujung kepala. Tidak ada yang mencurigakan jadi bisa dipastikan dia yang bisa mengayunkan Kise. Kuroko sih boro-boro. Belum juga selesai dipastikan dia mah udah ilang duluan!
"Loh kok aku?! Midorima aja!" bantah Aomine, nunjuk Midorima yang lagi ngorek-ngorek telinga pake tusuk giginya─lah kok?
"Ya udahlah siapa aja, pliiiiis… kalo gak aku nangis nih!" rengek Kise yang sudah bertengger manis di atas ayunan selang. "Midorimacchiiii…"
Tapi sepertinya kuping Midorima jadi bonge setelah dikorekin pake tusuk gigi. Mau Kise nangis kayak gimana juga gak akan kedengeran.
"Cepetan oy Midorima kita gak mau denger dia nangis!" kata Aomine panik sambil menarik-narik kaos Midorima. Bibir Kise udah maju lima senti pertanda tangisan cetar nan membahana akan keluar.
"Shintarou! Jangan sok budeg! Cepetan sono ayunin si Ryouta!" bahkan Akashi ikut maksa.
Tapi tetap saja si Midorima anteng, kali ini malah ngorekin hidung. Ckckck.
"Hiks…" oh tidak, Kise mulai menangis! Gimana ini?!
"MIDORIMA/SHINTAROU/MIDORIMA-KUN/MIDORIN!" akhirnya mereka semua berteriak sambil ngarep-ngarep Midorima bisa sembuh dari bongenya sebelum Kise bener-bener nangis.
Akibatnya, Midorima kaget dan tusuk giginya meleset,
"KAMPRET KALIAN, AKU JADI MIMISAN GINI-NANODAYO!"
Pluk. Tiba-tiba dari kedua telinga Midorima keluar kapas kecil yang udah berubah warna. Yeiks.
"Dih mangkanya gak usah sok budeg segala! Buruan gih ayunin si Kise!" bentak Aomine, memandang Midorima yang masih mimisan dengan tatapan tajam menusuk pantat. Eh maksudnya menusuk hati.
"Ternyata kupingmu disumpel… pantesan jadi bonge gitu…," kata Mayuzumi yang dari tadi anteng baca buku.
"Ck, iyaaalah iyaa. Tapi masa aku sendiri? Itu namanya GAK ADIL-nanodayo."
"Oke, sama aku!" akhirnya Aomine bersedia menemani.
"Yeiii yang kenceng yah ngayuninnya!" Kise yang barusan hampir nangis kini menjadi ceria kembali berkat bantuan Super Dede. (hahh?)
"Oke, Midorima… ayo kita gunakan semua kekuatan kita agar mahluk kuning ngambang ini melayang…" Aomine melirik Midorima sambil masuk zone.
"Tentu saja. Aku siap-nanodayo." Balas Midorima dengan kacamata berkilat-kilat.
"Satuuu, duaaa, tiigaaaa!"
"GYAAAA!" lalu abis itu ada suara, gedubragg.
Karena diayunin terlalu kenceng dan tangan Kise belum siap berpegangan, si rambut pirang itu jatuh ngejengkang dan masuk ke selokan. Untungnya selokannya kering dan bersih─gak bersih-bersih amat sih palingan adanya sampah daun.
"Ki-chan?!" teriak Momoi kaget ples panik, takutnya Kise jadi amnesia gitu, terus lupa ingatan, atau gak otaknya jadi muter dan gimana kalo dia jadi psikopat, terus dia─stop.
Tak ada jawaban atau suara apapun dari arah selokan.
"Jangan-jangan Kise-kun pingsan?" tanya Kuroko.
"Woy Kise, jangan bercanda… cepetan bangun…," kata Aomine sedikit takut-takut.
"Hmm coba aku liat ke sana ahh…" Mayuzumi menutup bukunya, kemudian berjalan ke selokan… tapi apa yang dilihatnya di selokan, sampe-sampe melongo gitu?
"Chihiro-nii, ada apaan? Bangke? Telek cicek?" tanya Kuroko ngawur dan menghampiri kakak sepupunya. Begitu dia melihat ke selokan, Kuroko pun ikut melongo dengan mulut nganga bagaikan goa untuk dimasuki para lalat atau serangga lainnya.
"Hahh apaan nih…" tanya Kuroko datar pas ngeliat selokannya berubah jadi kayak ungu-ungu yang berputar-putar, ada bunga-bunganya gitu, lagi. Gak ngerti sih aku juga.
"Woaaah portal ini mah, coba masuk yuk, temenmu itu pasti masuk sini juga, dek Kuro…" kata Mayuzumi, ekspresi datar tapi matanya berbinar.
"Gak ah jangan ntar gimana kalo kita kesasar ke kastil Herobrine, abis itu nyampe di puncak pohon spruce yang paling tinggi?" tanya Kuroko.
"Portal? Ih aku penasaran kita bakalan dibawa ke mana. Yuk ahh capcus cyiiin!" Aomine tanpa basa-basi lebih lanjut langsung lompat ke dalam portal dan…
…menghilang! WUES AOMINE ILANG CUY!
"E AHOMINE KAMPRET MALAH MASUK DIA?!" teriak Midorima tak percaya. Saking kagetnya, kacamatanya copot, jatuh dan masuk ke dalam portal itu…
"GYAAA KACAMATA MIDORIN JUGA PERGI!" teriak Momoi histeris. Kan gak elit aja kali ya, masa kacamatanya doang yang masuk lah orangnya enggak.
"Kalau begitu mau gimana lagi… kacamataku itu adalah lucky item seumur hidupku… karena tanpa dia, aku tak bisa melihat dengan jelas… duniaku rabun tanpanya…" Midorima jadi sok dramatis sambil berlutut di tanah. Akashi mengernyit jijay.
"Yukk ah masuk! Aku gak tahan liat Shintarou begitu terus, ayo Tetsuya." Akashi menarik tangan Kuroko sambil nyebur ke dalem portal, nyusul Aomine, kacamatanya Midorima, dan Kise.
"Tunggu Akashi-kun─!"
Terlambat. Kuroko dan Akashi sudah pergi. Mending kalo teleportasinya deket gitu, gimana kalo tau-tau nyasar ke jamban di tempat parkiran mall gitu?
"A-apa… dek Kuro… tidak! Dia mengambil dek Kuro-ku chayang! Semoga dia gak kenapa-napa… dek Kurooo tunggulah aku…" berikutnya, seorang lagi hilang.
"Ma-Mayuzumi-san?! Lah kok pada nyemplung iki… sudahlah. Bay bayy, Midorin!" Momoi ikut pergi menyusul semuanya dan tersisalah Midorima yang masih meratapi kepergian kacamatanya─bukannya disusul aja, gitu.
"Hah? Momoi! Kau ilang-nanodayo! Aduh! Aku gak mau disini sendirian! Aku juga harus pergi! Ke manapun nyampenya… meski ke planet Venus pun… DEMI KACAMATAKUUU!"
Setelah Midorima masuk, portalnya pun tertutup…
.
"L-Loh ini kan…" Aomine mengerjapkan mata, menatap sekitarnya yang terasa familiar─ditambah orang-orang pingsan bertaburan.
"RUMAHKU?!" teriaknya kaget dan lebay. "Tapi kok kerasanya tinggi gini sih… ini di mananya ya?" Aomine meraba-raba sekitar, "Kayaknya ini genteng…"
Tunggu─GENTENG?
"GYAAA KITA ADA DI ATAS GENTENG RUMAHNYA DAI-CHAN!" teriak Momoi yang baru saja sadar setelah pingsannya. "K-kok kita bisa kekirim ke sini sih? Portal apaan tuh tadi?"
"Terus… kita turunnya gimana nih? Piye iki?" tanya Mayuzumi, yang sebenarnya sudah bangun dari tadi tapinya asik aja baca buku butut barang nemu, sampe gak nyadar ini mereka lagi di genteng. "Hmmm kok ini ada binahong nempel gini… ada paria busuk… ada tomat peot… apa-apaan genteng rumahmu, Aomine?"
"I-ini di mana… kacamataku… mana kacamataku-nanodayo…" Midorima yang baru saja bangun langsung meraba-raba sekitar nyariin his lovely megane. Tapi yang kepegang kok kayak halus gitu ya… wangi sampo laipboy lagi.
"Ck ini tangan siapa sihh…," protes Mayuzumi risih karena Midorima lagi ngelusin kepalanya sambil penasaran.
"Ma-maaf, ini kepala siapa ya-nanodayo?" tanya Midorima, matanya terlalu rabun untuk mengetahui wajah orang yang lagi baca buku itu.
"Kepalaku!" Mayuzumi manyun, "Sudahlah gimana ini cara kita turunnn…" keluhnya, sambil duduk gak tenang dan mukanya… hem, sepertinya dia ini kebelet pipis.
"OH! Midorin tuh kacamatamu… ada di bawah sana…" Momoi menunjuk-nunjuk ke bawah, ke tempat dengan lantai warna-warni dimana kacamata Midorima tergeletak di atas keramik warna krem.
"HAH?! KALAU ADA DI BAWAH BERARTI UDAH PECAH?" teriak Aomine.
"Sudahlah… urusan kacamata ntar aja… yang penting turun dulu kan baru bisa diambil…" kata Kise, "Wahh sudah kuduga kita ada di genteng… genteng mana ini? Ujunggenteng-ssu?"
"Kise! Jangan ngelindur mulu!" kata Aomine, melihat Kise cengar-cengir tapi matanya merem.
"Woaaah! Ada pantai! Aku melihat laut-ssu! Aku mau berenang ah!" Kise berdiri lalu berjalan, matanya masih merem, dan…
"Ki-chan! Jangaaan!" jerit Momoi panik menutup matanya. Kise masih jalan, beberapa senti lagi dia akan jatuh ke…
Dan Kise pun jatuh…
Dan kemudian─
─kecebur di gentong air dengan tidak elitnya.
"HUWAAA DINGIN-SSU!" teriak Kise yang akhirnya sadar kalau dia tidak sedang di Ujunggenteng.
"Temen-temen mana yah? Loh… ini kan rumahnya Aominecchi?" tanya Kise bingung sambil berjalan keluar dari gentong dengan keadaan setengah basah.
"Kiseee?! Kamu selamat kan?! Tolong kalo liat kacamata injek aja!" teriak Aomine.
"Aominecchi? Kamu di mana-ssu? lah kok ini ada kacamatanya Midorimacchi…"
"NAH UDAH INJEK AJA!" sekarang suaranya Mayuzumi.
"Kita di atas genteng sini, Kise-kun. Kamu berhasil turun karena ngelindur lagi di pantai dan jatuh ke gentong." Kata Kuroko.
"Oh… pantesan aku basah gini… hemm.. kalau gitu kalian gak cobain aja nyebur ke gentong juga-ssu? gak sakit kok Cuma dingin!" saran Kise. "Ini kacamata enaknya diapain yah…"
"TIDAK! JANGAN! KACAMATAKU-NANODAYO!" teriak Midorima panik melihat Kise sudah mungut kacamatanya. Kise menyeringai jahil.
"Aku buang aja kali ya..."
"Tidaaaak!" dan akhirnya Midorima-lah yang memberanikan diri turun dan mendarat dengan kecenya di depan Kise. Merebut kembali kacamata kesayangannya.
"WUIS TUH MIDORIMACCHI AJA BISA TURUN SEKEREN ITU! LIAT DIA MASI IDUP KOK!"
"Kampret kau Kise, emangnya aku bakalan mati apa kalo Cuma turun dari ketinggian segitu…" kata Midorima sambil membersihkan kacamatanya.
"Hahaa iyah soalnya kan kamu udah berpengalaman jatuh berpuluh kali Midorin…" giliran Momoi yang mendarat di gentong. Meskipun rada meleset, tapi ujung-ujungnya kecemplung juga.
"Nah tuh Momocchi juga udah turun-ssu… ayo dong! Kita main scrabble sama bultang! Hehe boleh kan Aominecchi?" tanya Kise sambil nyengir dua jari─karena salam dua jari sudah lewat masa-masa ngetrennya.
"Hmmm sebentar… beneran nih gak pa-pa? Aku rada takut sih." Kuroko menatap ke bawah sambil berjongkok. "Midorima-kun yang baik, tangkepin aku dong." Pinta Kuroko mencoba jurus puppy eyes yang diajarin Kise.
"K-Kuroko sini cepetan. Bu-bukannya aku peduli padamu-nanodayo, tapi kan ntar repot kalo kamu jatoh." Yelah si Midorima tsunderenya kambuh.
"Aku dataaang~" Kuroko jatuh bagaikan bidadari di iklan parfum. Yang artinya kalau Midorima gak nangkep dia, pasti lantai dua udah ngegebros ke bawah. Dan itu mengajari Aomine kalau Bidadari itu bisa membuat atap rumah bolong.
"Berat-nanodayo. Cepet turun." Kata Midorima, memalingkan muka yang memerah sambil menjatuhkan Kuroko gitu aja.
"Sakit!" protes Kuroko. "Chihiro-niiii turuuun dong!" panggilnya, Mayuzumi langsung menutup bukunya dan terjun bebas. Tenaaang, kan Mayuzumi itu hantu bukan malaikat apalagi bidadari. Jadi lantainya gak bakalan runtuh. Cuma lututnya aja yang jadi memar dikit.
"Yosssh semuanya udah turun nih. Hmmm… Midorin, Tetsu-kun, Ki-chan, Mayuzumi-san… Dai-chan tinggal kamu yang belum turun!" panggil Momoi sambil ngitung jumlah yang udah ada di bawah.
"T-tapi.. ta-tapi… aku… engg.." Aomine gugup sambil mandangin yang lagi ada di bawah. Ih masa yang punya rumahnya takut si?!
"Miauw." Ada bunyi kucing di belakang Aomine. Mata kucing itu berkilat, menatap Aomine seolah 'bang Item sono jatuh aja gih, ini daerah kekuasaan gue tau gak'.
"A-aduh ampun cing ampun… i-iya iya aku turuuun!"
BRUGH!
Aomine sudah turun duluan sebelum dia didepak ama si kucing dan jatuh dengan posisi kepala duluan─itu sih harapannya si kucing. Kalau kayak gitu sih, bisa-bisa Aomine bangun langsung ditanya, "Siapa Tuhanmu?"
"Aomine-kun, main scrabble yukk." Ajak Kuroko dengan muka datar dan nada polosnya.
"Iyah-ssu kita bikin nama!" kata Kise, sudah membayangkan nama apa yang bisa disusunnya nanti.
"Ya udah. Tunggu yah aku mau nyari scrabblenya dulu, kalo gak salah sih ada di gudang di lante bawah… Akashi temenin aku yok!"
"Daiki, berani sekali kau menyuruhku menemanimu ke gudang yang dekil dan bau asem sepertimu?" Akashi menatap tajam Aomine.
"Aku gak nyuruh, Cuma minta temenin! Ayo ah!" sebelum Akashi protes lagi, dia udah ditarik Aomine ke lantai bawah. Yang lain nungguin sambil masuk ke ruang tamu rumah itu.
"Oi-oi Daiki! Aku tidak mau seragamku ini jadi dekilan penuh debu! Lepasin oy!" protes Akashi, sambil kesakitan karena Aomine megang tangannya kekencengan.
"Aduh! Biarin ah! Yang penting kita bisa main scrabble ehehe…" kata Aomine, ketawanya maksa banget. Ya jelaslah, dia kan takut masuk gudang sendirian makanya minta ditemenin gitu.
Kemudian mereka memasuki gudang yang dulunya kamar tamu itu. Sebenernya Aomine tinggal ama neneknya yang kalau lebaran suka dapet banyak tamu.
"Hm, kalau gak salah di sini deh. Akashi tungguin yah, jangan kabur loh!" Aomine pun masuk ke salah satu dari empat kamar.
"Heeeu lah… cepetan loh ya." Kata Akashi sambil nungguin Aomine nyari scrabble. "Hemm ruangan apa tuh?" tanyanya penasaran ngeliat pintu ruangan yang di deket kamar mandi ditempelin papan 'DILARANG MASUK'.
"Heee menarik juga… aku cobain masuk ahh." Akashi pun memasuki ruangan itu tanpa diketahui Aomine.
"Nahh udah ketemu nih scrabble. Akashi ayok kita main!" teriak Aomine sambil berjalan keluar kamar. "Loh… Akashi kamu di mana?" tanya Aomine mendapati si mata belang menghilang.
Lalu Aomine melihat pintu ruangan yang terlarang (ceileh) itu terbuka.
Jangan-jangan…
"AKASHI! JANGAN MASUK SANA OYY!" Aomine dengan tergesa-gesa menaruh scrabble sembarangan, terus lari ke pintu dimana Akashi berada.
"Eh, Daiki! Kenapa sih ruangan ini gak boleh dimasukin?" tanya Akashi, "Padahal menarik gini…" Akashi memperhatikan rak yang banyak potion gitu. Ramuan lah.
"Gak boleh! Di sini banyak ramuan berbahaya, tauk! Ada yang bisa ngeledakin diri, merubah orang atau apa aja jadi babi… kan gak elit tuh kalo misalnya kamu ketumpahan terus jadi babi merah mata belang?!"
"Daiki, enak aja kamu ngejek aku. Aku kan berhati-hati gak kayak kamu suka teledor. Katanya kan kamu pernah berubah jadi timun selama sehari karena gak sengaja numpahin salah satu isi botol di sini. Memangnya, orang yang bolos sekolah gara-gara jadi mentimun itu ELIT?" tanya Akashi dan menyenderkan badannya ke rak.
Tiba-tiba. Raknya pun bergoyang dumang dan… sebotol ramuan merah yang ada gambar balonnya pun jatuh…
Mengenai kepala Akashi…
"H-hah─"
POFFF!
Bukan, bukan suara kentut atau apa, tapi…
"AKASHI?! WUT DE… ?!" teriak Aomine kaget melihat Akashi berubah wujud menjadi…
…BALON, PEMIRZAH! LEBIH TEPATNYA BALON MERAH DENGAN MUKA UNYU BERMATA BELANG!
"Daiki! Tolongin aku! Huhuhu!" tangis Akashi. Nyesel dia masuk ke ruangan itu. Nyesel dia nyender ke rak itu. Nyesel dia nemenin Aomine ke gudang itu. Nyesel pokoknya, Akashi nyesel banget karena dia sudah berbuat satu kesalahan besar yang mengubah dirinya menjadi BALON.
"Y-Ya sudah… ayo kita ke atas!" Aomine membawa Akashi, pergi ke atas dan si scrabble dilupain begitu aja. (backsound: Kaaaau… pergiiiii… tinggaaaalkankuuuu…)
Aomine pun masuk ke ruang tamu dan menaruh balon Akashi di atas meja.
"Oh, Aominecchi! Kok kamu malah bawa balon sih, kita mintanya scrabble loh bukan balon!" tanya Kise bingung.
"Waw balonnya punya muka! Waw balonnya bisa cemberut! Waw balonnya pundung! Waw balonnya matanya belang! Waw balonnya mirip Akashi-kun! Waw─"
"WOIII TETSUYA DIEM KAU!" bentak balon Akashi.
"─balonnya bisa ngomong." Kuroko melanjutkan kalimatnya yang terakhir. "Kau… beneran Akashi-kun?" disambung dengan pertanyaan bingung.
"Hah?! A-Akashi, kok kamu bisa berubah jadi balon-nanodayo?!" tanya Midorima kaget sampe kacamatanya merosot ke idung.
"Ceritanya panjang, nih! Jadi gini, tadi aku ama Akashi ke bawah, aku ngambil scrabble, tau-tau dia ngilang dan ternyata masuk ke ruangan yang dilarang, terus dia ketumpahan salah satu ramuan di rak dan gini deh! Dia jadi balon!" cerita Aomine.
"Waduuuh ramuan apa yang kamu punya, sampe Akashi bisa jadi balon gitu, Aomine… pffft." Mayuzumi menahan tawanya.
"Pffft Akashicchi meskipun kamu jadi balon tapi kau tetep ganteng kok!"
"Diam, Ryouta! Seandainya aku bisa megang gunting, kubotakin kepalamu!" marah balon Akashi. "Betewe, Daiki… apakah aku… bisa kembali ke wujudku semula?"
"Oh soal itu… gak bisa! Ramuan ini permanen!" ujar Aomine dengan tampang serius.
Jlgeeeeer. "Ja-jadi… aku… harus jadi balon gini semasa hidup, gituh?" Akashi merasakan dirinya kesamber petir.
"Iya… tenang aja, karena yang berubah jadi balon karena ramuan itu gak bakalan meletus, pecah, kempes ataupun apa kok, hohooho!" tawa Aomine jahil.
"HUWEEE AKU GAK MAU! AKU MAU JADI MANUSIA LAGI! YA TUHAN IZINKAN AKU MOTONG KEPALA SI DAIKI JIKALAU AKU BISA JADI MANUSIA LAGI! UHUHU!" tangis Akashi cempreng.
"Bahhh kalau gitu sih udahlah jadi balon aja selamanya!" kata Momoi sambil manyun. Dalam hatinya dia bersyukur juga sih, dengan gini kan Akashi gak bisa ngapa-ngapain. Tapi kan kasian juga, gitu…
"Sebenernya sih ada cara untuk ngebatalin ke-permanen-an ramuan ini…" kata Aomine, menggaruk kepalanya.
"Eh? Yang bener?!" tanya Mayuzumi. Eh udah segitu bahagia Akashi jadi balon. Padahal tadinya Akashi mau dia tendang-tendangin sampe nyangkut di monas kalo bisa. Ternyata ada penawarnya juga!
"Beneran? Alhamdulillaaaaah! Alhamdulillah taun ini masih bisa lebaran dengan wujud manusia! Alhamdulillaahh masih bisa pake baju baru!" balon Akashi bersujud syukur gembira. Meskipun gak ada balon yang bisa sujud, sih.
"Caranya gimana tuh, Aomine-kun?" tanya Kuroko penasaran.
"Caranya adalah… pergi ke dukun yang rumahnya ada di puncak bukit yang gak terlalu jauh dari sini! Tapi perjalanannya… innalillahi capeknya!" ujar Aomine. Menunjuk ke perkampungan yang keliatan dari jendela ruang tamu.
"Terus kalo kita udah nyampe di dukunnya gimana?" tanya Momoi.
"Bilang aja minta ramuan mujarab penawar ramuan balon!" kata Aomine. "Aku juga gitu pas jadi mentimun. Abis gitu ntar pasiennya disemburin aneh-aneh gitu! Terus ditaburin kembang, abis gitu─ah kalo kebanyakan ngasih tau gak rame ntar jadinya." Aomine memutus ceritanya tentang pengobatan mujarab si mbah dukun.
"Ya sudah! Apapun, pokoknya kita harus pergi ke dukun itu! Ayoooo-ssu!" kata Kise bersemangat.
Mereka bertujuh pun pergi, dan berhenti ketika menemui pohon pete yang persis di depan rumah Aomine, mereka berenti bukan karena kabita ingin nyolong pete, tapi karena melihat turunan yang lumayan licin.
"Susah nih kalo bawa-bawa balon…" keluh Mayuzumi yang ditugasin membawa balon Akashi. "Ahaaa aku punya ide…" tiba-tiba tebersit ide jail di otak Mayuzumi.
"Akashi… maafkan dakuh yang telah berbuat salah padamuh…" Mayuzumi berkata sok dramatis tapi nadanya datar sambil memeluk Akashi berwujud balon.
"Eh? Maksudnya apa?" tanya Akashi.
"Enggak, gak pa-pa. gak dimaafin juga biarin. Tapi ini demi kebaikan kamu juga kok." Mayuzumi mengangkat balon Akashi ke atas kepalanya, dan…
Wuzzzz…
Dia dibiarkan terbang jauh ke bawah dibawa angin.
"Kejaaaar!" teriak Aomine, kemudian mereka ketawa-ketiwi melihat Akashi yang komat-kamit gak jelas, mukanya sweatdrop sambil takbiran dan dikejar-kejar temen-temennya yang semuanya tampak seperti setan di mata Akashi.
"Innalillahi, Allahuakbaaaar!" Akashi mantul-mantul dan terus turun, menuruni jalan di perkampungan itu. Lewat kandang soang. Balong. Empang. Sawah. Dan ketika dia berhenti memantul, di bawahnya menunggulah sebuah(?)…
…SUNGAI.
"Waaaaaaaaaaaaa!" jerit Akashi yang telah nyebur ke sungai dan hanyut. Entah ke mana dia akan pergi… moga-moga gak ditemuin mang-mang yang suka jualan balon di pasar minggu dan dia akan dijual… semoga enggaaaak!
.
.
.
TBC…
.
Ihihihihihih ini apaan ini gaje seperti biasanya… ihihi :'D
Kok semakin gak nyambung aja si ama judulnya :'(( heheh biarin yang penting warna-warni kann… :v meskipun kayaknya lebih cocok dikasi judul 'The Adventure of Red Balloon' kali yak?! Hehe Babayan sendiri juga gak tau, kenapa Akashi malah jadi balon gini :v soalnya ini based on true story sih. bukan, bukan soal berubah jadi balonnya… tapi di hape Babayan ada video Babayan ama sodara-sepupu Babayan lagi main balon merah di bak mobil buntung… karena balonnya warna merah dinamain 'Akashi' dehh xD abis itu si balon juga dilemparin dari sampe terbang jauh gituuu hihihi :p
Gimanakah selanjutnya? Apakah balon Akashi akan dipungut oleh mang-mang tukang jualan balon? Apakah dia bakalan dijual di pasar? Akankah Akashi berhasil balik ke wujudnya semula? Apakah mereka bertujuh bakalan berhasil nemuin tuh dukun? Tunggulah chapter berikutnyaaa… xDD jangan lupa tinggalin jejak dong~ makasih udah mampir yaaa :)
