Setelah buka kotak review dan isinya nagih sequel semua... akhirnya saya usahain meneruskan imajinasi saya dan membuatnya.
Berhubung imajnasi lagi kenceng banget habis lihat chanbaek pegangan tangan.
Sequel-nya beda judul, dari u can do it, berubah jadi u can get it.
Sip, ini diaaaaa...
.
.
.
.
.
.
.
"Baekhyun, kau bercanda kan?"
"Siapa bilang? Aku serius kok."
"Tapi, Baek—"
"Tidak ada tapi. Kalau mau mengajakku kencan, kau harus mendapatkan nilai ulangan matematika yang lebih tinggi dariku."
"Baek, itu tidak mungkin—"
"Makanya belajar!"
"—kau tega sekali padaku."
"PEDULI?!"
.
.
.
.
.
.
U Can Get It!
Pairing: Chanbaek / Baekyeol
Genre: romance
Shonen-ai / BL / AU / OOC
.
Sorry for typo(s)
.
.
.
.
.
Baekhyun menutup telepon sepihak. Malas mendengarkan rengekan Chanyeol lebih lama di telepon itu. Ia memijat pelipisnya perlahan, pening mendadak. Baru saja ia akan naik ke kamarnya, suara bel mengganggu fokusnya.
"Baekhyun? Tolong buka pintunya dan lihat siapa tamunya. Ibu berada di dapur." Seru ibunya.
Baekhyun menggerutu tidak jelas. Ia merutuki orang yang datang malam-malam begini—padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh—dan menambah pening di kepalanya. Baekhyun membuka pintu rumahnya kemudian melihat ke arah pagar—
"Haaaaaaiii, Baekhyun~!"
—dia menemukan orang paling tidak penting sedunia berdiri di depan pagar rumahnya yang sudah terkunci. Melambaikan tangannya yang menggenggam batang plastik permen lollipop sementara tangan satunya lagi membawa dua buku.
Baekhyun berjalan mendekat, "Apa yang kau lakukan malam-malam begini, Yoda?" matanya terpaku pada buku-buku yang ada di tangan Chanyeol.
Chanyeol menghembuskan napas kasar, "Sopan sedikit dengan tamu." Kemudian dia memakan permennya.
"Yah! Tinggal katakan apa yang kau inginkan dan enyahlah dari sini."
Chanyeol menarik permennya, "Ayolah, Baek." Chanyeol memutar matanya jengah, "aku ini manusia, bukan amuba. Tidak perlu diusir begitu."
"Aku tidak mengusirmu, tapi membasmimu. Oh ya, pestisidaku mana ya?"
Chanyeol memasang wajah kelewat datar, "Tidak usah sok go green begitu sampai butuh pestisida. Aku tidak dijinkan masuk, nih?"
Baekhyun menaikan satu alisnya, "Kupikir aku sudah dengan sangat tegas mengatakan padamu kalau aku menolak ajakan kencanmu—"
"Tapi kau sendiri yang waktu itu menyuruhku untuk menjemputmu."
"—dan itu semua karena jebakanmu!"
Chanyeol berusaha menjelaskan dengan sabar, "Lagipula, siapa yang mau menjemputmu kencan? Aku ke sini dengan niat baik mau belajar matematika."
Baekhyun melongo. Chanyeol itu—urgh, ASDFGHJKL—Baekhyun rasanya ingin sekali membenturkan kepala Chanyeol ke pagar besi rumahnya.
"Kan kau sendiri yang bilang, kalau aku harus melampaui nilai ulangan matematikamu baru bisa mengajakmu kencan. Makanya aku datang ke sini untuk belajar. Niatku tulus, lho. Ikhlas lahir batin."
"Peduli apa aku dengan niatmu? Memangnya kau tidak bisa belajar sendiri saja ya?"
"Kau mau keluar dari tanggung jawabmu?"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Fakyu Chanyeol, FAKYUUUU—hati Baekhyun menjerit. "Aku menyesal sudah menerima tugas dadakan sebagai guru bimbingan. Apalagi harus mengajari orang sepertimu."
"Hei, pendek, kakiku sudah pegal berdiri nih. Beneran tidak dibukakan pagar ini untukku?"
Baekhyun membuka pagar itu, kemudian ketika Chanyeol baru melangkah masuk, kakinya yang malang sengaja diinjak dengan sangat keras oleh Baekhyun.
"Berani memanggilku 'pendek' lagi, aku tidak akan pernah mau memenuhi ajakan kencanmu."
"Memangnya siapa yang mau mengajakmu kencan lagi?"
Wajah Baekhyun memerah. Chanyeol menahan tawanya. Sekali lagi, kakinya kena injak lebih keras dibanding yang tadi.
"YAH! ADUH! Baek, kau tega sekali." Chanyeol mengaduh.
Baekhyun kembali mengunci pagar kemudian berjalan duluan menuju rumahnya. Tidak memperdulikan Chanyeol. Chanyeol segera menyusul Baekhyun, berjalan di belakangnya sambil memutar-mutar pegangan permennya. Ia masuk, menggumamkan kata permisi kemudian melepas sandal yang ia kenakan.
"Siapa tamu yang datang, Baekhyun?" tanya Nyonya Byun yang baru saja keluar dari dapur.
Baekhyun hanya menunjuk ke belakang menggunakan ibu jarinya, terlalu malas menoleh. Nyonya Byun tersenyum ketika melihat sosok tinggi Chanyeol yang berjalan mendekat.
"Ah, Chanyeol rupanya. Sudah lama bibi tidak melihatmu, tumben sekali datang ke sini. Ada perlu apa?"
Chanyeol balas tersenyum, "Selamat malam, bibi. Aku akan belajar matematika dengan Baekhyun."
Nyonya Byun menatap anaknya kemudian Chanyeol secara bergantian, "Oh begitu. Kalau begitu kalian belajar di atas saja, kalau di bawah takut terganggu karena berisik. Kakaknya Baekhyun baru saja menguasai TV untuk bermain playstation sendirian."
Baekhyun melirik ke belakang ibunya, melihat kakaknya yang sangat fokus terhadap game di hadapannya. Oh ayolah, Baekhyun jadi ingin ikutan main kan. Tapi Baekhyun hanya menghela napas kemudian melangkahkan kakinya menuju tangga, "Ayo, Chanyeol. Kita belajar di kamarku saja."
Chanyeol ikut melangkahkan kakinya. Memasuki kamar Baekhyun—yang sudah sangat lama tidak ia lihat—terasa asing di pengelihatannya. Chanyeol mengernyit samar, kedua matanya terfokus pada salah satu furnitur tepat di samping meja belajar Baekhyun.
"Sejak kapan kau jadi otaku?"
Baekhyun berbalik, tersenyum tipis ke arah Chanyeol. "Sejak kakakku meracuniku dengan anime. Apalagi game yang menggunakan tokoh anime. Seru juga sih, sebenarnya."
Chanyeol mengamati rak buku Baekhyun yang berisi dua ruang kosong. Bagian atas berisi berbagai macam buku, sementara bagian bawah terisi berbagai macam figuran tokoh anime.
Chanyeol memutuskan untuk duduk di atas karpet bulu berwarna cokelat tua di samping tempat tidur Baekhyun. Baekhyun meraih buku yang berada di atas meja belajarnya. Baekhyun segera meraih buku catatan Chanyeol dan melihat catatan akhirnya.
"Aku buatkan soal dengan materi ini ya," kemudian Baekhyun mulai menulis angka-angka di buku latihan Chanyeol.
Chanyeol hanya memandanginya. Menatap wajah serius Baekhyun yang terlihat menarik di matanya. Bibir Baekhyun bergerak dengan refleks bergumam sekaligus bermonolog menyebutkan angka-angka yang ia tulis. Chanyeol tersenyum geli melihatnya.
"Nih, kerjakan." Baekhyun mendorong buku latihan Chanyeol.
Chanyeol segera mengalihkan pandang, tidak ingin ketahuan memandangi Baekhyun. Ia mengangkat bukunya ke atas ranjang Baekhyun untuk dijadikan meja. Baekhyun bersandar pada sisi depan ranjangnya—sementara Chanyeol duduk di sampingnya—kemudian mengutak-atik ponselnya sambil menunggu Chanyeol selesai. Ia mengenakan headset-nya kemudian memutar lagu untuk menghilangkan rasa bosan.
Baekhyun sibuk menyenandungkan lirik lagu dengan suara lirih agar tidak mengganggu fokus Chanyeol. Tapi tiba-tiba saja sebelah kiri headset-nya dilepas dari telinganya.
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol, "Maumu apa, sih? Kerjakan saja soal-soal itu, jangan mengangguku."
Chanyeol memasang sebelah headset itu di telinganya sendiri. Tanpa menjawab, ia melanjutkan kembali mengisi soal yang diberikan Baekhyun. Baekhyun menggerutu sebal di sampingnya, tapi pada akhirnya ia diam saja.
Lima menit berlalu, Chanyeol belum juga selesai mengerjakan soal. Dia malah merogoh saku dan mengeluarkan satu permen lollipop lagi dari saku jaketnya. Ia membuka bungkusnya kemudian memakan permen tersebut dan kembali tenang mengerjakan soal. Baekhyun yang semakin bosan pun naik ke atas ranjang dengan hati-hati agar tautan headset mereka tidak terlepas. Baekhyun juga tidak tahu kenapa dia peduli dengan itu.
Ia berbaring menelungkup, tepat di hadapan Chanyeol. Baekhyun menatap buku matematika Chanyeol yang ternyata baru terisi enam soal. Chanyeol sibuk menghitung soal nomor tujuh. Baekhyun memperhatikan buku dan Chanyeol secara bergantian, bingung sendiri dengan apa yang ia lakukan. Ia menghela napas dan berbalik telentang menatap langit-langit kamarnya.
Chanyeol masih diam, fokus mengerjakan matematikanya.
Meskipun sesekali matanya melirik Baekhyun yang tidak bisa diam.
Tumben banget ini anak nggak bisa diam.
Baekhyun menelungkup lagi, tangannya terlipat di depan dengan dagu yang tertumpu di sana. Memperhatikan buku tulis Chanyeol dengan pandangan datar. Kemudian pandangannya merambat ke atas, memperhatikan Chanyeol.
Entah niat dari mana, Baekhyun mengulurkan tangannya untuk menarik pegangan permen lollipop dari mulut Chanyeol. Dan dengan seenaknya memakan permen rasa jeruk itu. Sedetik setelah itu semburat merah tipis mewarnai pipinya, Baekhyun baru sadar dengan hal yang ia lakukan tadi.
.
.
Aku ngapain, sih?
Ih.. ini kan sama aja seperti.. ciuman secara tidak langsung...
Baek, kau kok bodoh sekaliiii
.
.
Chanyeol jadi mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun yang hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"K-Kau berhutang satu permen padaku." Kata Chanyeol, tidak terima permennya diambil begitu saja.
"Anggap saja permen lollipop ini sebagai permintaan maaf darimu karena sudah mengganggu jam malamku yang tenang." Kata Baekhyun santai.
"Tapi aku tidak minta maaf, dan memangnya aku salah apa?" tanya Chanyeol.
Baekhyun bangkit duduk, sampai headset di telinga kanannya lepas. "Jelas sekali kau salah. Salahmu itu banyaaaaaaaaaaakkk sekali." Ucap Baekhyun mendramatisir.
Chanyeol mencibir pelan. "Seperti kau tidak punya salah saja." Chanyeol meletakan pensilnya dan mendorong buku itu ke depan, "Selesai tuh."
Baekhyun memutar buku itu agar menghadap ke arahnya sambil tiduran menelungkup kembali dan memeriksanya dengan teliti. Kemudian dia tersenyum, "Wah wah wah, kemajuan yang baik, tuan Park. Tapi masih ada satu nomor lagi yang salah."
"Satu nomor lagi, ya?" Chanyeol menumpukan dagunya di atas tangannya yang terlipat di atas ranjang, "Mau mengajariku?" tanyanya sambil memasangkan sebelah headset di telinga kanan Baekhyun.
Baekhyun memutar buku itu kembali menghadap Chanyeol. Ia meraih pensil dan menunjuk nomor sembilan. Tangan kirinya menarik gagang permen dari mulutnya agar tak menganggunya saat menerangkan.
"Jadi, begini..."
Ketika Baekhyun mulai menjelaskan, kedua mata Chanyeol justru terpaku ke arahnya. Bukan ke arah yang ditunjuk oleh pensil. Baekhyun tidak menyadari tatapan Chanyeol.
"...terus kalau ada soal seperti ini..."
"...lihat tanda phi..."
"...jangan langsung tambahkan negative..."
Suara Baekhyun hanya setengah-setengah masuk ke otaknya.
"...bagaimana, mengerti tidak?"
Chanyeol mengangguk tapi dia sendiri tidak tahu apa yang baru saja Baekhyun jelaskan. "Baek, beneran nih kalau aku berhasil melampauimu, aku bisa... mengajakmu kencan?"
Baekhyun memalingkan pandangannya dari buku menuju Chanyeol. "Pertanyaan itu penting, ya?"
"T-Tentu saja!"
Baekhyun menatap tajam, tapi kemudian ia menghela napas. "Lihat saja nanti. Dua minggu lagi ulangan matematika. Persiapkan dirimu."
Chanyeol mengangguk penuh semangat masa muda. "Siap!"
.
.
.
.
"Aku pulang ya, bibi."
"Iya, sering-sering main ke sini lagi ya, Chanyeol."
"Baiklah, tapi kalau sempat ya, bi."
"Baekhyun, antar Chanyeol sampai ke depan sana."
Baekhyun memutar matanya. Tapi ia tetap menuruti dan mengantar Chanyeol sampai ke depan pagar.
"Lain kali, belajar saja sendiri di rumah." Kata Baekhyun. Masih tidak terima malamnya yang tenang diganggu begitu saja.
Chanyeol berbalik, memandang Baekhyun dengan senyum lebar, "Belajar denganmu lebih menyenangkan."
"Apanya yang menyenangkan? Ada juga, kau, aku marahi terus-terusan."
"Tidak juga," Chanyeol maju selangkah, "menurutku, itu tetap menyenangkan kok."
"Haaah, ya terserah kau. Sudah, pergi sana. Hus, hus." Baekhyun mengusir Chanyeol.
"Tunggu, masih ada yang kurang."
"Apa lagi—mmmphh.."
Jantung Baekhyun mulai berulah dan nyaris copot ketika Chanyeol merunduk dan mencium bibirnya. Kalimatnya hilang, pikirannya teralihkan pada Chanyeol seorang.
Bahu Baekhyun menegang, kakinya melemas, wajahnya perlahan-lahan memerah. Chanyeol memejamkan kedua matanya, tapi tidak dengan Baekhyun yang masih menampilkan wajah syok. Jantung Baekhyun mulai tak wajar karena melihat wajah Chanyeol sedekat ini.
Chanyeol melumat bibir bawahnya tiga kali sebelum melepaskannya. Tapi jarak mereka masih dekat karena Chanyeol hanya melepaskannya beberapa senti.
Baekhyun terengah—atau lebih tepatnya sesak napas—karena terlampaui kaget dengan apa yang baru saja Chanyeol lakukan.
"Hutang permennya sudah terbayar." Bisik Chanyeol di depan bibirnya dengan suara rendah.
Wajahnya merah padam, dua detik kemudian Baekhyun baru mendapatkan kembali pikiran dan suaranya, "C-Chanyeol... kau—mmph.."
Chanyeol menekan kembali bibirnya. Ketagihan dengan lembutnya bibir Baekhyun. Tapi hanya sesaat, Chanyeol tahu kalau dia berbuat lebih, Baekhyun pasti akan marah padanya. Ketika ciuman singkat itu terlepas, Chanyeol menarik dirinya untuk berdiri tegak.
"Sampai jumpa besok di sekolah Baekhyun. Oh tidak, sampai jumpa besok pagi di depan rumahmu. Kita berangkat bersama." Dan lagi-lagi Chanyeol menghilang dengan mengambil langkah seribu menuju rumahnya sendiri.
"H-Hah?"
Lagi-lagi Baekhyun dibekukan oleh Chanyeol. Jatuh ke dalam genggaman Chanyeol.
.
.
.
.
.
Dua minggu kemudian,
Baekhyun baru saja keluar dari perpustakaan di lantai empat dan berniat turun ke lantai satu. Ia ingin ke kelasnya karena sekitar sepuluh menit lagi bel berakhirnya istirahat akan segera berbunyi.
Ketika dia baru sampai di lantai satu, Chanyeol sudah berdiri di hadapannya. Baekhyun lama-lama kesal melihat wajah itu.
"Mau apa kau, Chanyeol?" tanya Baekhyun dengan nada sarkastik.
"Galak banget sih, aku datang baik-baik lho."
Baekhyun menaikan satu alisnya, "Kalau gaya bicaramu seperti itu aku yakin ada sesuatu."
Chanyeol tersenyum lebar layaknya orang bodoh di mata Baekhyun. "Aduh ketahuan, ya?"
Baekhyun berjalan melewati Chanyeol. Chanyeol segera menyusulnya, berjalan berdampingan. Siswa-siswi yang berada di lorong lantai satu itu tiba-tiba tertarik untuk melihat mereka berdua. Siswa-siswi di sana cukup menggemari atau mengagumi seorang Byun Baekhyun.
Kenapa?
Itu karena Baekhyun orangnya pintar, ramah, unyu, kawaii gimana gitu, baik hati, dan rajin menabung(?) Apalagi beberapa siswa yang uhukmelencenguhuk mencurahkan perhatiannya untuk memandangi Baekhyun yang berjalan menuju kelasnya bersama Chanyeol.
"Aku cuma mau memintamu untuk memberiku semangat dan saran." Kata Chanyeol.
"Untuk apa?"
"Untuk ulangan matematika delapan menit lagi dari sekarang."
Baekhyun berpikir sesaat. Kemudian dia memandang Chanyeol, "Yang penting kau usaha sendiri. Bekerja dengan kemampuanmu saja sudah cukup. Aku mendukungmu, semoga kau berhasil."
Chanyeol tersenyum, ia menepuk punggung Baekhyun cukup keras. "Terima kasih, ya, Baek."
"Ya tapi jangan sampai memukul punggungku juga, Yeol. Ini namanya menyakiti bukan berterima kasih." Kata Baekhyun.
"Ahahaha, iya maaf. Sensitif sekali sih." Chanyeol tertawa garing. Tangannya merangkul leher Baekhyun dan berpura-pura akan mencekiknya. Baekhyun berusaha untuk melepaskan tangan Chanyeol.
Tanpa sepengetahuan Baekhyun, selembar sticky note tertempel di punggungnya. Ditulis dengan hangul yang memenuhi kertas itu.
Jangan lihat-lihat. Dia milikku.
Siswa-siswi di sana segera mengalihkan pandang. Tidak ingin kena masalah.
Yah, tidak perlu kuberitahu siapa yang menempelkannya, kan?
Siapa lagi kalau bukan Chanyeol yang tadi menepuk punggung Baekhyun.
.
.
.
.
Baekhyun kesal sendiri kenapa dia harus pulang terlambat gara-gara membantu wali kelasnya untuk memeriksa tugas. Ia baru selesai limabelas menit setelah bel pulang. Baekhyun membenarkan letak kacamatanya—kali ini berbingkai sapphire—yang mengendur kemudian mempercepat langkahnya.
Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang tengah bersandar pada dinding gerbang sekolah—mencegatnya di sana. Bersandar dengan gaya sok macho dengan satu tangan masuk ke saku celana sementara tangan satunya lagi melempar-lempar batu dari tangannya ke udara.
Ini anak mau ngajakin tawuran?
Perempatan imajiner muncul di dahi Baekhyun. Hanya tinggal mereka berdua yang ada di sana. Baekhyun sulit sekali untuk tidak memperhatikan orang itu karena orang itu memang sedang menunggunya.
Orang itu menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum semanis cokelat cadburry. Dia melempar batu di tangannya sembarangan—moga-moga tidak ada orang yang kena—dan beralih menghadap Baekhyun dengan tangan terangkat. Menyapa dengan intonasi nada yang sudah Baekhyun hapal di luar kepala, intonasi yang familiar.
"Haaaaiii, Baekhyuuun~"
Dia melambai dengan genit ditambah kedipan gratis dari sebelah matanya.
Perempatan imajiner di dahi Baekhyun muncul lebih banyak. Baekhyun mengangkat dagunya angkuh, memperlihatkan wajah garang yang sangat tidak cocok di wajahnya.
"Ganggu saja. Pergi. Sana. Dasar. Tiang. Listrik."
Chanyeol mengumpat dalam hati—mengatakan bahwa Baekhyun itu pendek—lalu berkata dengan wajah kesal, "Sudah baik-baik ditungguin malah diusir. Dosa apa diri ini, leluhur..." Chanyeol mengusap dadanya beberapa kali.
Baekhyun mengernyit samar, "Kau... menungguku?"
"Iya, yuk pulang sekarang." Chanyeol maju selangkah dan seenaknya menggamit tangan Baekhyun.
Baekhyun sudah terlanjur pusing, tidak ingin berdebat dengan Chanyeol lebih lama. Sampai seperempat jalan, Chanyeol membuka suara,
"Kau sudah tahu belum tentang nilai ulanganku hari ini?" tanya Chanyeol.
"Belum." Jawab Baekhyun singkat.
"Sebelum itu... aku mau tanya, nilai ulanganmu dapat berapa?" tanya Chanyeol. Kemudian ia berdoa dalam hati agar nilainya lebih tinggi dari Baekhyun.
"Seperti biasa, sembilan puluh." Jawab Baekhyun seperlunya.
Chanyeol langsung menghentikan langkahnya, otomatis langkah Baekhyun ikut terhenti.
"Kenapa, sih?"
Chanyeol melepas tangannya yang menggamit tangan Baekhyun kemudian melangkah ke depan Baekhyun. Berdiri di hadapannya.
"Serius cuma sembilan puluh?"
Baekhyun mengangguk dengan wajah datar.
Chanyeol tersenyum lebar kelewat senang kemudian memeluk Baekhyun cepat dengan gerakan yang tidak terduga.
Baekhyun membeku.
Chanyeol menariknya dengan sangat cepat, hidung Baekhyun sampai menabrak bahu Chanyeol dengan keras dan kacamatanya miring. Saking kagetnya, tas yang hanya Baekhyun sampirkan di sebelah bahu sampai jatuh ke trotoar.
"Akhirnya..." gumam Chanyeol.
Chanyeol hanya merunduk sedikit, mengakibatkan kaki Baekhyun harus berjinjit. Kedua lengan Baekhyun lurus ke bawah, terasa lemas karena jantungnya mulai berulah lagi.
"...aku bisa melampauimu. Nilaiku sembilan puluh dua." Sambung Chanyeol. Dia melonggarkan pelukannya, tetapi tangannya masih melingkar manis di pinggang Baekhyun.
Baekhyun berdiri normal, kakinya sudah tidak berjinjit lagi. "C-Chanyeol.. tanganmu.." kata Baekhyun pelan. Meskipun kata hatinya justru menginginkan agar Chanyeol tidak melepaskan tangannya.
Chanyeol membenarkan letak kacamata Baekhyun dengan satu tangan kemudian tangannya melingkari pinggang Baekhyun lagi.
Aku sudah melampauinya.
Tidak ada menunda-nunda lagi, harus sekarang juga!
Dalam hati Chanyeol memantapkan dirinya.
"B-Baekhyun..."
Baekhyun menatap lurus ke arah Chanyeol.
"..aku ini bukan orang yang romantis. Tapi... aku ingin mengatakan semua yang ada di dalam pikiranku,"
Chanyeol menarik napas, menghilangkan kegugupannya.
"Aku selalu menjadi si nomor dua darimu. Selalu saja kau yang menjadi si nomor satu, itu benar-benar membuatku baper berhari-hari. Aku ingin melampauimu. Karena... aku ingin kau memandangku. Aku ingin kau memandangku, melihat keberadaanku, meskipun itu hanya sekali saja..." Chanyeol diam, tiba-tiba bingung ingin mengatakan apa lagi.
Baekhyun menyadari hal itu. Semburat merah tipis mulai muncul di wajahnya. Sudah dapat menebak apa yang akan Chanyeol katakan selanjutnya.
Chanyeol mendapatkan kembali kalimatnya, "Baek... mau tidak kau selamanya menjadi si nomor satu?"
Baekhyun menaikan satu alisnya.
"Si nomor satu... di hatiku. Aku menyukaimu. Kau mau kan menjadi si nomor satu untukku?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Gemas dengan ekspresi Chanyeol yang seolah dipenuhi ketakutan kalau-kalau ia menolaknya. Baekhyun mengangguk pelan dengan wajah memerah, "Aku mau."
Chanyeol tertegun. "Baek... kau serius menerimaku? Kau mau menjadi kekasihku?"
Baekhyun mengangguk samar, wajahnya benar-benar merah padam.
"Aku juga menyukaimu," bisiknya pelan.
Chanyeol memeluk Baekhyun lagi lebih erat. Sampai-sampai Baekhyun harus berjinjit—lagi—tapi kali ini tangannya bergerak untuk membalas pelukan Chanyeol tanpa ragu.
Tapi Chanyeol yang memang pada dasarnya tidak romantis, merusak momen itu dengan tangannya yang bergerak melepas pelukan mereka kemudian menarik kacamata sapphire Baekhyun sampai lepas.
"Ayo pulang, dan coba ambil kacamata ini dariku!"
"Fakyu, Chanyeol! FAKYYUUUUU! Kembalikan kacamataku, idiot!" Baekhyun berteriak, benar-benar kesal pada Chanyeol. "Cepat kembalikan, aku tidak bisa melihat!"
Chanyeol berlari, semakin menjauhi Baekhyun. "Bohong, min matamu kan cuma 0,75."
Baekhyun ikut berlari mengejar Chanyeol.
"Kembalikan padaku!"
"Tidak mauuuuu~"
"YAH! CHANYEOL!"
"Ambil saja sendiri dariku."
"Awas kau tiang listrik!"
"Aduh aku takut sekali~"
Mereka masih berlari. Saling mengejar satu sama lain sampai keduanya kelelahan. Tapi meskipun begitu, yang terlihat di wajah mereka bukan rasa lelah. Melainkan rasa senang yang meluap-luap.
Baekhyun kelelahan mengejar Chanyeol. Apalagi kaki panjang Chanyeol bisa melangkah lebih lebar dari pada dirinya. Kini mereka sudah berjalan berdampingan kembali. Rumah sudah di depan mata.
"Yeol,"
"Hm?"
"Kau selalu menjadi nomor satu kok sejak dulu."
"Kok bisa?"
"Iya, kau itu nomor satu di pikiranku, di hatiku."
.
.
.
.
.
Finish!
a/n: semoga sequelnya tidak mengecewakan, yaaaa :D
kalau mengecewakan, saya minta maaf. Ngetiknya agak ngebut.
Nah tuh, ciuman udah, pelukan udah, jadian udah, lunas yaaa~
Makasih lho yang udah review/fav/alert maupun siders sekalipun, makasih udah meluangkan waktu untuk baca fanfic ini~
Btw kenapa pernyataan perasaannya Chanyeol jadi gitu ya... ah udahlah, saya lelah dengan imajinasi saya /lesu/
Meskipun gitu... mau kan,
...review lagi?
