Present
KaiChen
B-A-I-T-S
(White Love)
.
.
.
This is pure from my own imagination. Do Not Copy-Paste, or remake without my permission. Understand?
.
.
.
Hanya sebuah kisah mereka yang sering bertemu untuk memancing, tanpa sadar... hati mereka juga ikut terkait satu sama lain.
.
Chapter 2: You?!
Suara lonceng yang bergantung pada bibir pintu terus menyuarakan, kling-kling yang nyaring. Membuat dua orang sahabat yang tengah asik—tidak, yang sedang asik dengan hidangan sarapan nikmat gratis itu Kyungsoo, sedangkan Jongdae hanya merengut dan memainkan ponselnya. Membuka menu, lalu menutupnya lagi, dengan gusar. Sungguh, Kyungsoo brengsek! Ya tuhan, sisa gaji terakhirku! Ingin rasanya Jongdae menangis meraung-raung dengan histeris kalau ia tidak sedang mengingat tengah berada dimana.
"YA! Cepat bereskan kekacauan ini!" yang itu, suara teriakan cempreng nan nyaring memekakan telinga itu, milik Byun Baekhyun. Kyungsoo mendongak, dengan mulut yang penuh karena rakus melahap semuanya, "Kau tahu—"
"Telan dulu makananmu!" ucap Jongdae dingin, menjorok ke ketus. Kyungsoo cemberut, namun kemudian menelannya dengan susah payah. "Sudah!" balasnya kesal.
Ia menarik nafas panjang sebelum berucap, astaga ia hampir tersedak tadi. Jongdae brengsek! "Kau tahu, aku tidak habis pikir dengan si Byun Bebek itu!" Kyungsoo menunjuk dengan dagunya, "Bagaimana nasib telinga para pegawainya, oh Astaga! Aku yang mendengarnya sekilas dan jarang kesini saja hampir gila, bagaimana dengan para pegawainya?" Kyungsoo menatap kearah para juru masak yang tengah teman kecil cerewetnya omeli itu sambil berkacak pinggang dari kejauhan, menatap dengan iba.
Jongdae menatap Kyungsoo penuh selidik, "Sejak kapan kau punya belas kasihan seperti itu, huh?" Kyungsoo melotot, "Ya! Memangnya aku psikopat apa tidak punya rasa kasihan?"
"Lalu, perlakuanmu terhadap sisa uang didompetku, pantas disebut belas kasihan begitu?" serunya sarkastik, Kyungsoo mencibir sebentar lalu menyunggingkan senyum aneh, "Itukan salahmu sendiri!"
"Kau itu mengambil kesempatan disetiap waktuku saat lengah!"
"Lalu? Kau kan selalu lengah kalau sudah bertemu dengan ikan bibir seksi dipesisir!" Kyungsoo balik mengejeknya sambil menjulurkan lidah lancipnya, Jongdae bergidik, "Hih, bahkan lidahmu saja bentuknya sudah seperti ular derik!"
"Ya!" Kyungsoo berteriak nyaring membuat pelanggan lain disisi kanan kiri mereka menoleh, beberapa menatapnya jengkel karena merasa acara makan pagi terganggu, sebagian lagi mengacuhkannya. "Jika kalian datang untuk membuat suasana dikedaiku semakin kacau—" Kyungsoo memotong perkataan temannya yang lain itu dengan cengiran khas. Memelas, kata yang lebih tepat. "Baekhyun-ah,"
Baekhyun memincingkan kedua mata sipitnya, menatap Kyungsoo dan Jongdae, namun sepertinya Kim Jongdae tidak peduli. Sangat menyelidik, "Apa aku ketinggalan sesuatu?" si bos rumah makan itu menarik satu kursi kosong untuk bergabung dimeja bersama dua sahabatnya. Melupakan masalah pegawai tidak becusnya seperti biasa, untuk sejenak. Kyungsoo menyendokkan makanan ke mulutnya dengan kikuk, tanpa tahu malu, "Aku tidak akan hutang lagi direstoranmu!" serunya senang, hampir tersedak lagi.
Sedangkan yang diajak bicara malah mengerutkan kening, "Maksudmu?" ia bingung. Kyungsoo menepuk-nepuk dadanya sendiri setelah selesai menegak segelas air. Ia menatap Jongdae sebentar, teman-nya itu benar-benar tidak peduli. "Ya, aku akan membayar."
Baekhyun tersenyum miring mendengarnya, "Dapat uang darimana kau?"
"Tentu saja Jongdae yang bayar! Dan sekalian, hutang makan malamku minggu lalu saat kencan dengan Minseok hyung!"
"Ck, kalian itu sepasang manusia yang tak bermodal!" itu ejekan Baekhyun.
"Ya! Minseok hyung lupa membawa dompet saat itu!" balas Kyungsoo tidak terima.
"Alasan yang klasik!" persahabatan yang aneh. Baekhyun selalu bisa mengejek orang lebih sarkastik dari siapapun dan itu lebih menyebalkan dari sungut Jongdae saat mengamuk. Dan Kyungsoo selalu saja kalah. Ya Tuhan.
"Bisakah kalian berhenti, dua orang aneh."
Baekhyun melipat kedua tangannya didada, dengan angkuh, "Kau katai aku sebagai orang aneh, tapi kau selalu memintaku memasakkan acara jamuan makan malam antar tetangga apartemenmu, bahkan saat thanks giving!" Sungguh, Byun Baekhyun itu benar-benar!
Jongdae melotot, "Kau tidak ikhlas membantuku?" nadanya dibuat-buat tapi ketus juga. Baekhyun mengedikkan kedua bahunya acuh, "Aku tidak bilang begitu, aku hanya mengingatkan 'kebaikan'ku selama ini kepadamu, terutama," ia melirik Kyungsoo sekilas, yang ditatap langsung berhenti menyuapkan makanan.
"Dan, yang pantas kau katai aneh itu Kyungsoo, bukan aku."
"YA!"
"Aku benar kan?"
Jongdae memijit pelipisnya pening, "Diam kalian berdua!"
"Kenapa Tuan Kim? Sekarat dibagian finansial?" Baekhyun berdiri sambil berkaca pinggang. "Ya, dan itu gara-gara dia!" Jongdae menunjuk kearah Kyungsoo saking frustasinya. Kyungsoo hampir tersedak lagi, masih sempat-sempatnya ia makan disituasi seperti ini. Tapi tak lama, kedua matanya melotot, mencoba seseram mungkin. "Kenapa jadi menyalahkan aku semua?!"
"Karena memang kau!" Baekhyun dan Jongdae bersahut dengan kompak. Yang satu dengan nada angkuh, yang satunya frustasi. Kyungsoo terdiam. Nyalinya mendadak ciut. Minseok hyung tolong!
Baekhyun menghembuskan nafasnya, "Aku rasa kalian bisa selesaikan sendiri, dan jangan lupa membayar ya.. Tuan-sekarat-finansial, aku harus kembali mengatur semua kekacauan ini. Dan—"
"Baek Baby!" belum selesai perkataannya, Baekhyun dibuat menoleh karena suara seseorang. "Luhan hyung!" kedua matanya berbinar, dan dengan cepat langsung menghamburkan diri kepelukkan lelaki yang memanggilnya sayang tadi. "Kau sangat merindukanku, isn't you?" Yang lebih tinggi, sama berwajah asia dengan mereka, yang dipeluk Baekhyun itu bertanya. Namanya Luhan. Kekasih si Byun Bebek. Sedangkan yang ditanyai malah mengendus dan mengusakkan wajahnya didada kekasihnya dengan mesra, "Hu'um!" seperti anak kecil. Tidak mempedulikan tatapan risih pengunjung lain yang menatapnya gay atau apalah itu. Kyungsoo mendengus, sedangkan Jongdae masih meratapi nasib keuangannya yang sudah diujung—entahlah.
"Dasar!" Luhan mengusak rambut Baekhyun gemas membuat kekasihnya melepas pelukan itu, cemberut. "Hyung! Berantakan!"
Luhan tertawa, "Nanti siang ku jemput ya," Baekhyun langsung mengangguk dengan cepat tanpa disuruh. "Ya Tuhan! Berhenti bermesraan didepanku!" Kyungsoo berteriak merana. Membayangkan Minseok dengan perlakuannya yang sama manis seperti kekasih Baekhyun kepada temannya itu. Iri. Tentu saja!
"Sirik saja kau, Kyungsoo." Baekhyun bernada sok manis padahal mengejek. Sungguh, temannya ini sangat menyebalkan, seolah ia adalah makhluk paling manis dan menggemaskan didunia. Tapi kalaupun iya, pantas saja sih.
"Yasudah Baby, aku masih ada urusan, ingat? Jam 1 pm!"
Baekhyun mengangguk, lalu Luhan mengecup keningnya dengan lama dan sayang. Berlalu pada detik-detik setelahnya. "Lovey Dovey terus!" Kyungsoo menyindir. Sedangkan Baekhyun menyeringai, "Tentu saja, rasanya sangat menyenangkan kau tahu. Apalagi kalau Luhan hyung sudah menarikku keapartemennya lalu mengajakku untuk—"
"Ya! Sudah hentikan! Dasar mesum! Pergi kau sana!" sedangkan Baekhyun hanya tertawa seperti penyihir, sungguh membuat bulu kuduk Kyungsoo merinding. "Ya Tuhan! Baekhyun itu gila ya? Tapi bagaimana bisa dia dapat yang modelnya seperti Luhan, tampan, berada, Baekhyun juga kaya."
Kyungsoo baru menyadari Jongdae yang melamun daritadi, "Astaga! Sebegitu tegakah aku, sampai kau melamunkan uang sisa gaji akhirmu?!"
"Diam kau!"
"Hello, kita bertemu lagi,"
Jongdae langsung menoleh kearah sumber suara. "Kau?!" ia menjerit berlebihan sambil berdiri dari duduknya, "Senang bertemu denganmu, lagi."
Jongdae masih tidak tahu harus berkata apa, atau sekedar mengucapkan apa, ya sebenarnya sama saja. Intinya, ia bingung. "Boleh aku duduk bersama kalian?"
"Tentu saja!" itu suara Kyungsoo, terdengar sangat girang.
Jongdae langsung menoleh untuk memelototi sahabat bodohnya itu. "Apa yang kau katakan tadi idiot?" bisik Jongdae kesal. Dan sebenarnya, lelaki yang menyapanya tadi mendengar. Sedangkan Kyungsoo merengut.
"Boleh?"
Jongdae masih diam, nampak berpikir walaupun sebenarnya ia sanggup saja jika langsung berkata tidak. Namun, lelaki dihadapannya itu sudah terlanjur duduk, dikursi tempat Baekhyun duduk tadi. "Siapa yang menyuruhmu duduk?!" serunya kesal.
"Inikan restoran umum, aku ingin makan, dan aku membayar, jadi aku berhak duduk dimanapun aku mau," jawab lelaki itu kelewat santai. Jongdae makin merengut. "Aku bayar semuanya." Tunggu, apa? Jongdae menoleh dengan cepat. "Apa kau bilang?"
Lelaki itu tersenyum, "Aku akan membayar semuanya, makanan yang akan aku pesan, dengan semua santapan yang ada dimeja ini—"
"Hutang kencan seminggu yang laluku juga!"
"Ya, dan hutang kencan seminggu yang lalu milik temanmu juga." Lelaki itu tersenyum penuh makna, "Aku yang akan bayar." Jongdae tak sanggup berkata-kata, ia langsung duduk dikursinya. Lebih seperti terduduk pasrah dengan mulut yang masih menganga, ia masih tidak bisa mempercayai ini. "Kau—"
"Tenang saja, aku tidak suka membuat lelucon yang berunsur menipu lagipula,"
"..."
"Ngomong-ngomong, namaku—"
Kling~!
"KimJong!"
Ketiga orang yang tengah berada dimeja itu menoleh, "Minseok hyung?" dua orang bergumam bersamaan. Kyungsoo dan lelaki itu langsung bertatapan, "Kau mengenal sepupuku?"
"Kau mengena—tunggu, apa?! Sepupu?!" Kyungsoo tidak dapat menutupi keterkejutannya. Lelaki itu hanya mengangguk cepat, lalu yang bernama Minseok itu menghampirinya, "Aku ingin bilang kalau—" nafasnya terengah-engah, "Chagi?" Minseok menatap kearah Kyungsoo heran.
"Chagi? Apa? Bisa kau bilang sekali lagi? Kau memanggilnya apa?"
"Chagi, bagaimana bisa kau—"
"Hyung!" lelaki itu meneriakki Minseok karena merasa tak ditanggapi. "Ya Tuhan! Apa yang kau harapkan?! Dia Do Kyungsoo, kekasihku!" seru Minseok lantang lantaran kesal. Ia sudah berkeliling mencari sepupunya itu, menghabiskan menit-menit berharganya hanya karena ponsel si bocah itu tertinggal!
"Apa?"
"Ish, dasar anak kecil, ini ponselmu! Dasar merepotkan!"
"Chagi, kau disini?" Minseok menghampiri kekasihnya sambil memeluk pundak sempit itu. Percakapan selanjutnya antara mereka, entahlah Jongdae tidak mendengarnya lagi. Lebih tepatnya, ia masih bingung untuk mencerna semuanya. Kyungsoo kekasih Minseok, pria menyebalkan ini sepupu kekasih Kyungsoo, lalu, tadi Minseok memanggilnya apa?
"Kau tadi memanggilnya apa?" suara Jongdae tiba-tiba, ia benar-benar tidak sadar mengucapkan itu.
Minseok menoleh kearah Jongdae, "Kau bertanya padaku?"
"..." Jongdae hanya menatapnya bingung dalam diam.
"Maksudmu, aku memanggil anak ini apa?" Minseok menunjuk kearah sepupunya yang sama bingungnya dengan Jongdae.
Jongdae mau tak mau mengangguk. Untung otak Minseok jauh lebih pintar dari Kyungsoo yang lambat dan bodoh juga hanya tau makan saja! Dan merepotkan teman, jangan lupakan itu. "KimJong!"
"Huh?"
Minseok mengangguk tanpa dosa, "Iya, KimJong! Namanya itu Kim Jongin, aku suka memanggilnya KimJong! Dan dia selalu mengumpat kalau aku memanggilnya seperti itu." Minseok terkekeh sebentar. Tidak menyadari tatapan terkejut dari Kyungsoo dan Jongdae. Terutama Kyungsoo. "Eum, chagi?"
"Ya?" Minseok mengusak rambut Kyungsoo gemas, "Aku juga suka memanggil Jongdae KimJong."
"Maksudmu?"
"Ya, temanku,(sambil menunjuk Jongdae) namanya Kim Jongdae, dan aku suka memanggilnya KimJong dan dia akan marah-marah juga padaku!"
Minseok membulatkan kedua matanya, otak pintarnya menyimpulkan, "J-jadi," ia menatap sepupunya dan teman kekasihnya itu secara bergantian. "Kau-kau-kalian," ia menunjuk kearah sepupunya dan Jongdae secara bergantian. "Kim-Jong-In, Kim-Jong-Dae,"
Kyungsoo membulat kedua matanya sampai lebar, "Astaga!" ia menutup mulutnya dengan dua tangan karena tidak menyangka. "KimJong!" sahut Minseok dan Kyungsoo bersamaan.
"Nama kalian hampir sama!"-Minseok.
"Kalian berjodoh!"-Kyungsoo.
Dan Jongdae tidak tahu lagi harus bagaimana, tubuhnya hanya bisa membeku ditempat mendengar apa yang mereka katakan.
.
.
.
.
TBC
