Truth? This is it.

Fic yang saya buat, untuk menceritakan semua hal tentang Henna. Beberapa misterinya belum terkuak, jadi silahkan baca!

Disclaimer: Aku sama sekali tak memiliki hak atas Saint Seiya. Karena uda jelasnya saya sendiri belon lahir waktu saint seiya terbit XD

Warning: fic jelek, typo(harapnya ga ada), Gaje, OOC, de-el-el.

.

.


Someone's POV

Aku tak ingat masa laluku. Lembaran yang mampu kuingat hanya mulai dari sejak pertama kalinya aku mulai latihan. Aku diangkat sebagai pimpinan pulau pelatihanku karena mereka berkata bahwa akulah reikarnasi seorang Archangel. Malaikat utama.

Mau tak mau, aku harus hidup dengan itu. Meski itu artinya seorang bocah berumur 4 tahun memegang komando seluruh pulau itu. Meski itu artinya aku akan ditimpakan dengan berbagai latihan sulit. Meski artinya aku harus bertahan dengan simbol aneh di dadaku.

Simbol aneh? Ya itu benar. Aku tak tahu dari mana asalnya, tapi aku sudah terbiasa karena simbol ini menempel di dadaku sejak aku lahir. Meskipun aku pemegang komando tertinggi, bukan berarti aku takkan dijauhi. Oleh warga setempat dan saint-saint pelatihan lainnya.

'Pergi kau, anak haram!'. 'Mentang-mentang kau pemimpin pulau ini, kau saja masih bocah!' ' Apa ada yang bisa diharapkan darimu?!'. 'Mati saja, dasar penipu!'. 'Archangel suci takkan sudi bereikarnasi di tubuh hina dirimu!'. Bukankah itu perkataan yang sangat menyakitkan?

Yang dekat denganku hanyalah para pelayan setiaku serta guruku yang baik. Itu sudah lebih dari cukup. Siapa juga yang mau tinggal dengan anak pembawa sial dan berkepribadian ganda? Mataku sebelah berwarna merah dan aku bisa berganti kepribadian saat-saat genting. Wajar aku dianggap sosok aneh.

Aku ini sosok yang tak berguna bukan? Namun mereka yang mendukungku tetap percaya padaku. Aku tak ingin mengecewakan mereka, maka aku berlatih. Dalam waktu singkat, indera ke-8 dapat kuraih. Aku menggapai cloth mistis dan tetap memegang komando untuk beberapa saat.

Kemudian aku meminta izin untuk kembali ke tempat asal dimana mereka menemukanku. Sebuah panti asuhan kecil di India. Rasanya takut kalau aku akan diasingkan setelah sampai disana, namun 180 derajat berbeda dari pemikiranku.

Selain para penjaga panti asuhan, anak-anak disana sangat menyayangiku. Mereka senang bermain denganku dan bahkan mereka memuji warna mataku yang unik. Sungguh keluarga yang menyenangkan. Namun satu hal membuatku jadi penasaran.

Sebuah foto lama. 3 orang anak tercetak di foto itu. Sepasang kembar (laki-laki dan perempuan), dan satu lagi seorang bayi. Mereka berkata kalau akulah si bayi itu. Kedua kembar itu.. kakakku? Aku mendiamkannya karena tak mengerti, namun masih saja aku penasaran. Siapa mereka?

Tapi mengingat tugasku sebagai seorang pemimpin, aku harus kembali ke pulau secepat mungkin. Sesampai disana, aku kembali memegang komando meski beberapa orang tetap kasar denganku. Meskipun begitu, entah kenapa anak-anak serta beberapa orang dewasa lain ada yang akrab denganku. lebih baik daripada semua jadi musuhku.

Beberapa hari kemudian, seorang lelaki yang memiliki cloth berwarna emas mendatangiku. Dia mengenalkan dirinya sebagai Virgo Shaka, saint Athena dari sanctuary. Pope nya menyuruhnya untuk berpatroli disekitar pulau ini. Tentu aku mengizinkannya.

Setelah berbincang beberapa kali, kami jadi akrab. Terkadang kami bertukar kisah. Tentang diriku yang dibenci dan tentang dirinya yang seorang titisan Buddha. Aku kagum mendengarnya. Meski dia sudah kembali ke Sanctuary, kami masih tetap berhubungan melalui surat dan telepati.

Tak lama kemudian, dia mengulurkan tangannya padaku dan membawaku tinggal bersamanya. Pertama kali melihatnya, aku seperti melihat versi diriku yang dewasa. Model rambutnya serta warna pirangnya mirip denganku, kedua matanya yang biru mirip sekali dengan warna mata kiriku.

Hampir saja kukira dia saudaraku. Tapi kalau dipikir itu tak mungkin. Aku bahkan tak tahu siapa orang tuaku. Aku baru pertama kali itu melihat sosoknya. Aku baru pertama kali itu menjadi saudarinya. Iya kan? Shaka-nii. Kakakku.

END OF POV


Henna asik-asik melamun sementara Mitsuki sudah nyengir licik dibelakangnya. Diambil langkah-langkah pelan, dan...

"Mitsuki-chan, tolong jangan kejutin aku." Sahut Henna tiba-tiba.

Malah Mitsuki yang menjerit terkejut sampai terpeleset. Henna jadi sweatdrop menyaksikan adegan malang itu.

"Aku yang mau kagetin kok aku juga yang menjerit?" ratap Mitsuki.

"Salah sendiri kok!" Balas Henna sweatdrop. "Omong-omong, jarang-jarang Mitsu-chan kemari. Ada urusan ya?"

"Nggak kok. Cuman berkunjung aja, rombongan Seiya-kun yang ngajak tuh." jawab Mitsuki.

Henna ber-ooh ria lalu kembali melamun tentang masa lalunya. Mitsuki jadi sebal sendiri karena dikacangin. Pipinya digembungin, posisinya gonta ganti, matanya dikedip-kedipin, garuk-garuk kepala dan sebagainya, Henna masih saja tidak memperhatiin.

"Kalo mau bayangin si Ikki nanti aja dong! Henna-chan gak seru deh!" protes Mitsuki.

"Eeh?! Buat apa juga aku bayangin Ikki-san?" seru Henna dengan rona di pipinya.

Mitsuki senyum senang. "Henna-chan kok masih panggil dia pakai embel-embel '-san' sih? Nggak '-kun' aja? Gituan kok kaku amat?" goda Mitsuki.

"KAMI NGGAK PACARAN, MITSU-CHAN!" Teriak Henna.

Henna jadi sadar sendiri lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Mitsuki juga terdiam. Terjadi kesunyian antar mereka berdua sampai Mitsuki angkat bicara lagi.

"Tadi aku gak ada bilang pacaran tuh.. Jangan-jangan Henna-chan uda pacaran sama Ikki ya?! Cieee! Selamat yah! Kapan traktirnya?"

"BUKAN ITU MAKSUDKU, MITSU-CHAAAAN!"


Sementara itu..

Seorang lelaki berjalan menyusur lorong, dan membuka pintu besar. Dia melangkahkan kakinya kedalam dan berlutut dihadapan seseorang yang tak lain dari atasannya.

"Kau yakin 'dia' tinggal di area itu?" tanya seorang sosok, duduk di sigasana,

"Saya yakin, tuan. Cosmonya sama persis seperti yang engkau gambarkan. Dialah yang engkau cari."

"Kerja bagus, Azazel. Seperti yang kuharapkan dari yang terkuat diantara 7 lainnya. kirimkan yang lain untuk membawanya kemari." Perintahnya.

"Akan segera kulaksanan, Tuan."

"Ingat, jangan sampai dia terbunuh. Kehormatan untuk membantainya hanya boleh dilakukan untukku." Jelas sosok itu lagi.

"Saya mengerti tuan." Antek itu bangkit dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan tuannya tersenyum licik.

.

.

Kembali ke kuil Virgo..

"Ya deh, ngaku! Kata Marin-san dan Shaina-san, itu katanya pedekatean. Kalo pacaran nunggu dia nembak aku. Puas?" Henna ngalah ke Mitsuki.

"Hehe! Kalau gitu cepetan pacaran! Biar aku dan yang lain ditraktir!" pinta Mitsuki.

"Mitsu-chan ada-ada aja. Gak pakai pacaran sama dia, aku hayuh-hayuh aja kok traktir kamu." Ujar Henna.

"Iya juga sih. Tapi kan nggak ada serunya." Balas Mitsuki.

Persimpangan langsung muncul di dahi Henna. Alhasil Mitsuki kena jitakan ringan. Bukannya menyudahi, tapi Mitsuki lagi-lagi menggoda Henna.


Sementara itu, di tempat lain.

Sepasang kembar cewek dan cowok berjalan disekitar Athens. "Permisi pak. Apakah kau tahu dimana arah Sanctuary?" tanya pemuda itu.

"Sanctuary? Aku tak yakin kalau hal itu nyata atau tidak, tapi kudengar-dengar letaknya arah sana." Jawab pria yang ditanyai.

Kedua orang itu berjalan ke arah yang ditunjukkan, tapi karena kurang yakin mereka kembali bertanya. Kali ini ke orang asing yang berjubah.

"Permisi, apakah anda tahu letak sanctuary?" tanya pemudi itu.

"Hmm? Apa yang kau inginkan dari sana?" tanya orang asing, lebih tepatnya seorang wanita.

"Adik kami tinggal disana, kami ingin menjemputnya." Jawab pemudi itu.

"Namanya siapa?" tanya wanita itu.

"Michiyo. Hasegawa Michiyo." Jawab pemuda itu.

'Bukannya itu adik si saint virgo?' Batin wanita itu. "Baiklah, kuantar kalian."

Keduanya tampak puas dan mengikuti wanita itu. Setelah melewati jalan, tanjakan, portal dan sebagainya, akhirnya tujuan mereka terdatangi dan wanita asing itu membuka jubahnya. Wanita asing itu tak lain dari Shaina sendiri.

"Nah, tujuan kalian sekarang adalah kuil virgo. Tapi sembarang orang tak boleh dekat sih.." Shaina berpikir sejenak. "Ah, ikut aku."

Shaina menyamarkan mereka dengan pakaian ala calon saint dan juga sebuah topeng untuk si pemudi. Meski dia sempat menolak dengan alasan 'Agak jadul'. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di kuil Aries.

"Aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini. Mintalah pada penjaga kuil ini untuk mengantarmu." Kemudian Shaina melangkahkan kakinya pergi dari kuil itu.

"Sanctuary yah? Gede amat tempat ini!" seru pemudi itu . Beberapa orang yang lewat melihatnya dengan heran.

Pemuda yang bersamanya jadi kelabakan. "Miki! Baru sampai sudah bikin malu kamu!" hardik pemuda itu.

"Apaan sih?! Aku gak salah kan kalau tempat ini besar?! Dasar Mikio bodoh!" seru Miki.

"Kok aku sih yang bodoh?!" tanya Mikio gak terima.

Keduanya tetap adu mulut sampai berjalan. Mereka gak sadar kalau mereka sudah sampai di kuil aries. Mu hanya bisa bengong, gak tau mau ngapain.

"Se.. selamat siang?" sapa Mu.

Mikio dan Miki terhenti sebentar dan langsung balas menyapa. Meskipun mereka sudah malu tingkat dewa.

"Gomenasai. Saudara kembarku terkadang bisa bawel. Jelas Miki.

Miki langsung mendapat glare dari Mikio. "Apaan?! Elo kok yang mulai!" seru Mikio gak terima.

Alhasil perang mulut tersulut lagi. Mu ingin melerai tapi melihat begitu dahsyatnya(?) pertarungan itu, Mu hanya bisa sweatdrop di tempat.

"A.. Anoo.. Apa kalian ada perlu kemari?" tanya Mu sambil memberanikan dirinya, karena takut kena tonjokan dari Miki yang tampaknya super galak.

"Ah, kami ingin mencari adik kami. Kabarnya dia tinggal disini." Jelas Mikio.

Mu tampak heran. "Adik? Kalau saya boleh tahu, namanya siapa ya?" tanya Mu.

"Namanya Hasegawa Michiyo." Sahut Miki riang.

'Hasegawa Michiyo? Bukannya itu Henna? Bukannya Henna itu adik Shaka?' batin Mu.

"Emm, bagaimana kalau saya antar kalian ke dia?" tawar Mu.

Keduanya setuju. Mu melaksanakan teleportasinya dan mengantarnya beserta kedua orang asing itu ke kuil Virgo.

"Kalau boleh saya tanya, nama kalian siapa? Kalian kembar ya? Penampilan kalian sama persis." Sahut Mu.

"Ah, benar. Saya Hasegawa Miki." Ujar Miki.

"Saya Hasegawa Mikio, senang bertemu tuan.." ujar Mikio.

Mu tersenyum lalu mengantar mereka kedalam kuil Virgo. Mitsuki yang masih tengah merdeka(?) menggoda Henna, melihat Mu dengan kembar Hasegawa.

"Mu-san? Mereka siapa ya?" tanya Henna.

Belum sempat Mu angkat bicara, Miki beraksi duluan dan memeluk Henna sekuat tenaga(wow!)

"Michi-chaaan! Aku rindu bangeet! Lama banget kita pisaah!" seru Miki.

"Mi.. Miki!" seru Mikio super malu.

Mitsuki dan Mu sweatdrop ditempat. "Siapa mereka, Mu?" tanya Mitsuki.

"Katanya nyari si Henna kok." Jawab Mu.

"Henna-chan nampaknya gak kenal tuh." ujar Mitsuki.

"Itulah aku herannya." Balas Mu.

Mikio langsung menjitak kepala Miki. "Miki, ayo ikut aku sebentar!" Mikio menarik paksa tangan Miki keluar kuil.

"Sakit banget lho, Mikio!" bentak Miki.

"Hush, diam aja deh! Gue tanya aja dulu sama elu! Emangnya umurnya berapa waktu dia dibawa ke pure island?!" tanya Mikio.

"Hmm, waktu dia 2 tahun kan?... ups.." Miki jadi malu sendiri. "Gimana dia ngingat kita kalo dia masih bayi ya?" gumam Miki.

"Ya uda! Makanya itu!" seru Mikio.

Tanpa disadari, Henna, Mitsuki dan Mu melihat-lihat drama antara kembar Hasegawa. Miki dan Mikio terdiam sebentar menatap Henna yang kebingungan.

"Maafkan kalau kami kurang sopan." Miki menunduk minta maaf.

Henna tersenyum ramah. "Tak apa. Etto, kalian masuk saja dulu. Mungkin aku bisa mendengarkan alasan kedatangan kalian."

Henna dan yang lain melangkahkan kaki mereka kedalam kuil virgo. Seperti biasa, Henna yang ramah tentu menyediakan teh dan kue untuk tamu-tamu dan teman-temannya.

"Kalau kau tak percaya, sebenarnya tak apa. Asalkan kami sudah memberi tahumu saja." sahut Miki. "Kami kembar Hasegawa. Aku Miki dan saudaraku ini Mikio. Waktu itu kau masih kecil jadi tak ingat apapun, tapi kami ini kakakmu."

Mitsuki dan Mu tampak terkejut, tapi tak sebanding dengan Henna yang sudah jantungan(?). "Ta-tapi itu agak membingungkan, meski aku ingin percaya. Aku sendiri sudah punya kakak, meski dia kakak angkat. Tapi maafkan aku kalau menyinggung, namun penampilan kita tak terlalu persis." Sahut Henna.

"Lho? Kami bukan kakak kandungmu, Michi. Kami kakak angkatmu juga."

Perkataan Mikio makin mengundang kekagetan. "Beberapa tahun yang lalu, orang tua kami menemukanmu terbuang di area hutan. Saat itu, umurmu katanya masih sebulan dan tentu orang tua kami membawamu pulang." Jelas Mikio.

"Kami sih orang jepang asli, tapi karena ada urusan perusahaan maka ayah kami bekerja di India untuk sementara waktu. Tetapi ketika beberapa warga setempat mengetahui kami mengadopsimu, rumah kami... diam-diam dibakar." Miki agak tak rela menceritakan itu kembali.

"A- APAA?!" Mitsuki tak percaya.

"Mungkin ayah dan ibu tak tahu, tapi anak-anak sekitar yang merupakan sahabat kami mengatakan kalau orang tua mereka yang menyulut api itu. Alasannya... Mereka tak terima anak setan masuk lingkungan kami." Jelas Mikio.

"Anak setan? Maksudnya anak setan itu-" Mu tak menyelesaikan kalimatnya dan menatap Henna. Terdapat pancaran emosi sedih di wajahnya.

"Mikio, Michi dan aku berhasil keluar karena dibantu sahabat kami. Tapi ayah dan ibu. Mereka berkorban demi keselamatan kami. Setelah insiden itu, kami dilarikan ke salah satu panti asuhan. Kami memilih yang lumayan terpencil agar kami tak diketahui oleh warga dendam itu." Kata Miki.

Henna, Mitsuki dan Mu mematung mendengar cerita pilu itu. "Ma-Maaf ya, karena akulah kalian seperti itu bukan?" isak Henna.

"Henna-chan? Kenapa?" Mitsuki kaget.

"Bukankah sudah jelas? Mereka dibunuh karena aku masuk ke lingkungan mereka. Aku si anak setan." Sahut Henna. "Mata kiriku saja berwarna merah, dan aku punya simbol aneh di dadaku."

Mitsuki dan Mu terdiam dan membiarkan kembar Hasegawa melanjutkan penjelasan itu. "Sesampai disana, kita hidup cukup normal setidaknya selama 2 tahun. Lalu beberapa orang datang dan menjemput Michi. Mereka bilang kau salah satu kandidat saint di pure island. Jadi mau tak mau, kami merelakanmu." Jelas Miki.

"Dan tak lama kemudian, paman kami menjemput kami dari panti asuhan itu dan kami kembali ke jepang. Tapi kami tak pernah putus harapan untuk mencarimu kembali. Kami mengumpulkan informasi-informasi dan akhirnya kami sampai disini." Mikio tersenyum lega dan senang.

Henna hampir tak percaya, tapi dia tahu membedakan siapa yang bisa dipercaya dan tidak. Kedua kembar ini memang jujur, jadi kepercayaan Henna tentu menempel pada mereka.

"Michi-chan! Pokoknya aku senaaaaang!" seru Miki, lagi-lagi meluk Henna yang diambang megap.

Ketiga lainnya hanya bisa menonton sambil sweatdrop ditempat. Tapi tak ada salahnya membiarkan kedua gadis itu berpelukan. Mereka tetap kakak adik bukan?

.

.

TBC


Ketrin: Hua, jelek ya?

Henna: banget!

Ketrin: aihh.. *mundung*

Henna: Eeh!? Ket, aku bercanda! Beneran bercanda!

Ketrin:...

Henna: yah, salah ngomong. Sorry yah.. err, kami dua minta maaf kalo fic ini jelek. Kasian si Ketrin berusaha ngenalin semua tentang aku di fic ini. Yah, silahkan tunggu lanjutannya. Dan oya, ini tentang kembar Hasegawa diatas.. Hmm, aku punya 3 kakak dunk? Sugoi.. tapi sayang pada kakak angkat semua.. T^T

Ketrin: Bukan.. kakak angkatmu hanya ada 2.

Henna: hah? Maksudnya?

Ketrin: tengok nanti deh..

Henna: dasar *sweatdrop*


Hasegawa Miki (Female)

Umur 20 tahun (18 Mei)

Rambut merah kecoklatan, panjang melewati bahu, diikat dua.

Mata warna hitam onyx.

Tinggi 168 cm, berat gak diketahui(?)

.

.

Hasegawa Mikio(Male)

Umur sama dengan Miki (ya iyalah, kembar kok!)

Rambut juga merah kecoklatan, lumayan panjang jadi diikat kecil. (Mirip Len vocaloid)

Mata juga warna hitam onyx.

Tinggi 175 cm, berat juga enggak diketahui(?)