"Ku dengar, kau pekerja teladan di sini, benarkah?" tanya Kyuhyun sambil tersenyum. Dan mulai berani, Sungmin mengangkat wajahnya, dan terpampanglah wajah Cho Kyuhyun yang baru sekilas Ia pandang tadi.

Sungmin menyengir kaku "Ah, biasa saja. Mereka saja yang terlalu melebihkan"

"Ku rasa mereka benar, kau itu teladan. Sangkin teladannya, kau bahkan berani menegur dan membentak Direktur mu sendiri" Kali ini kalimat itu terlontar dengan sebuah senyuman, atau tepatnya sebuah seringai.

Tamatlah riwayat mu, Lee Sungmin.

4 Ways to Get a Wife

Chapter 2

.

.

Summary : Wanita yang suka memungut apa saja, Lelaki yang selalu ditolak oleh siapapun.

Kisah romantis mereka dalam sebuah perjanjian jangka pendek!

.

.

.

Genre : Drama, Romance, Little Hurt

.

.

.

Rate : T

.

.

.

Cast : KyuMin and Others

.

.

.

Disclaimer : Cerita ini merupakan remake dari novel berjudul '4 Ways to Get a Wife' yang ditulis oleh Hyun Go wun. Bukan plagiat oke, hanya remake.

.

.

Warning :GS (GENDER SWITCH), Typo (s), OOC.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

Sungmin menghempaskan tubuhnya di sofa, merasa lelah untuk hari ini.

Ia tidak menyangka bahwa orang yang sudah menginjak pekerjaannya pada waktu itu adalah Direkturnya sendiri, dan sialnya, si Cho Kyuhyun itu mengingatnya!

Jika begini, cepat atau lambat dia mungkin bisa kehilangan pekerjaannya ini.

"Sungmin-ah" sekarang telah berdiri di sampingnya

Sungmin menolehkan wajahnya sekilas, "Apa?"

"Kau dan Direktur Cho pernah bertemu sebelumnya?"

Sungmin menggigit bibirnya, sepertinya tak ada salahnya jika Ia bercerita pada sahabatnya ini, "Iya, sebenarnya alasan aku terlambat tadi karna dia"

Eunhyuk mengeryitkan keningnya bingung, "Karna Direktur Cho? Memang apa yang dia lakukan pada mu?"

"Tadi aku melihatnya menginjak-injak bunga yang sudah ku tanam, au tau kan betapa lelahnya aku mengerjakan itu semua? Dan dia merusaknya begitu saja? Aku tidak akan membiarkannya. Dan saat aku ingin menemuinya, aku malah menginjak salah satu selang air, dan.. ya kau pasti tau sendiri lah" Sungmin berbicara dalam satu tarikan napas, sepertinya dia punya bakat rapp(?)

Eunhyuk terkekeh, "Lalu?"

"Lalu bagaimana?"

"Ah aku paham, kau takut Direktur Cho akan memecat mu, ya?" tanya Eunhyuk tepat pada sasaran.

Sungmin menghela napas, "Iya"

"Sejak kapan kau takut padanya? Bukankah Lee Sungmin paling tidak takut pada apapun, kecuali pada Tuhan?"

Sungmin menggigit bibirnya, "Benar sih"

"Menurut ku, yang kau lakukan itu benar-benar saja Sungmin-ah", "pura-pura saja seakan itu tidak pernah terjadi" tambah Eunhyuk

Sungmin menganggukkan kepalanya cepat, untuk apa dia takut jika si Direktur Cho Kyuhyun itu akan memecatnya? Seperti kata Eunhyuk, yang dilakukan dirinya benar-benar saja kok.

"Gomawo, Eunhyuk-ah"

.

.

Sepertinya Sungmin adalah seseorang yang tak pernah lepas dari tanggung jawab, jika di luar tanggung jawabnya adalah pekerjaan, maka di rumah tanggung jawabnya adalah adik-adiknya.

Mereka sedang duduk di ruang makan sambil menyantap makanan mereka masing-masing, juga menonton TV kecil yang berada di depan meja makan itu.

"Sungjin, jangan bermain game terus! Cepat habiskan makanan mu" perintah Sungmin sediit kesal, karna adik tengahnya ini terus saja memainkan game boynya.

"Ck. Kau bawel sekali nuna, iya iya"

Setelah Sungjin, Sunmi, si bungsu juga menyita perhatian kakaknya yang paling tua itu.

"Habiskan makanan mu, Sunmi. Tidak biasanya kau membaca koran" cibir Sungmin, heran ketika adik bungsu ini membaca koran dengan serius

"Eonni, lihat ini" ujar Sunmi, sambil memberikan koran yang tadi Ia baca pada Sungmin, dan menunjukkan sebuah halaman.

Dicari : Istri Kontrak

Persyaratan : Usia antara 23-30 tahun, fisik sehat dan rapi. IQ diatas 130, memiliki pekerjaan tetap.

Kesepakatan : Akan diberikan uang kontrak, dan upah per 2 bulan standar lulusan universitas. Disediakan pakaian dan segala kebutuhan yang dibutuhkan. Dan, setelah kontrak selesai akan diberikan keuntungan seperti beasiswa atau perjalanan ke luar negeri

Kontrak bukan ontrak seumur hidup, 5 tahun adalah waktu terlama dari kontrak. Tidak diperbolehkan kontak fisik atau keluhan apapun.

Lampirkan CV, surat keterangan ksehatan, ijasah SMP dan SMA, serta sertifikat tes IQ. Dan akan diadakan wawancara setelah lulus seleksi dokumen.

"Gila" Sungmin tercengang

Iklan ini sungguh sangat tidak mainstream, biasanya yang Ia temui di koran adalah lowongan pekerjaan dalam jangka pendek atau lain-lain. Tapi ini, istri kontrak? Yang benar saja.

Memang harus Sungmin akui, zaman semakin gila saja.

"Eonni, tapi ini lumayan kan? Upahnya per 2 bulan, kontraknya juga bagus, dan setelah kontrak selesai, akan diberikan beasiswa atau perjalanan ke luar negeri" ujar Sunmi sambil berbinar-binar

"Kau berfikir apa, hah? Ingat, usia mu bahkan masih 19 tahun, Sunmi" Sungmin berusaha mengingatkan, Ia tau pasti Sunmi berfikir melakukan sesuatu.

Sunmi mengerucutkan bibirnya, tanpa memandang sekalipun pada sang kakak.

"Hanya orang gila saja yang mau mengikuti hal semacam ini, Sunmi. Jangan berfikir macam-macam kau" Sungmin berkata tegas

"Aku tau, eonni" jawab Sunmi, gadis itu tersenyum tipis

"Baiklah, sekarang, habiskan makanan mu"

"Tidak, ini kan sudah malam, nanti aku gendut. Bukankah eonni tau jika aku ini calon Miss Korea?"

"Lupa peraturan nomor satu di keluarga kita, hah?" tanya Sungmin sinis

"Kesehatan nomor satu" jawab Sunmi ogah-ogahan

"Jadi cepat habiskan makanan mu" perintah Sungmin datar

"Huh" Sunmi mengeluh pelan

.

.

Sekarang sudah pukul 10 malam, setelah adik-adiknya itu sudah tertidur, Sungmin sekarang duduk di teras rumah mereka yang kecil itu. Ia menghela napasnya beberapa kali, lalu menekuk kedua kakinya, dan menenggelamkan kepalanya ditengah tekukkan kakinya.

Ia putus asa.

Ya benar, dia sedang putus asa. Sungmin merutuki pamannya yang seenaknya saja menjadikan rumahnya menjadi jaminan, jika saja pamannya itu tidak melakukannya, Sungmin pasti tidak seputus asa seperti ini. Jika seperti ini terus, mereka terancam bisa kehilangan rumah kecil mereka ini. Peraturan nomor 23 di rumah mereka memang mengatakan, segala sesuatu yang gratis itu membahayakan.

Tapi, rasanya Sungmin saat ini ingin sekali memenangan sebuah lotre, atau berharap ada malaikat baik dari surga yang memberikannya pinjaman uang. Sudah berbagai bank di Seoul yang Ia kunjungi, tapi tetap saja tak ada satu pun yang berbaik hati memberikannya pinjaman, kejam memang.

Sungmin mengadahkan kepalanya menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang, "Ibu, kau tau masalah anak mu ini kan? Kami sudah tidak punya banyak waktu. Bantu kami, ayah, ibu. Bantulah kami"

Sungmin menghela napas, andai Ia kedua orang tuanya itu masih ada, dia pasti tak akan menanggung beban seberat ini. Miris memang, saat usianya 12 tahun, kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya itu. Sampai sekarang, malam itu masih melekat pada otaknya, malam dimana Ia mengeluarkan air mata yang sangat derasnya. Dan Sungmin mengecap malam itu sebagai malam paling menakutkan dalam hidupnya.

Ya, kita doakan saja supaya ada malaikat yang dapat membantu Sungmin.

.

.

.

Kyuhyun mengetuk pintu ruangan itu, Ia menunggu beberapa detik sebelum ada perintah masuk untukknya. Dan Ia memasuki ruangan itu, dan mendapati seseorang tengah terduduk di kursi kerjanya dengan posisi membelakangi Kyuhyun

"Annyeong, Presiden Cho" sapa Kyuhyun

Presiden Cho memutar kursinya, dan memandang Kyuhyun "Kau tidak perlu seformal itu, di luar kantor, Kyuhyun" tegurnya

"Aku hanya bersikap hormat, kakek" jawab Kyuhyun, pria itu mengeluarkan senyum tipisnya

Presiden Cho menghela napasnya pelan, "Bagaimana kabar mu?"

Kyuhyun mengeryitkan dahinya bingung, tidak biasnya kakeknya ini menanyakan kabarnya, "Tidak perlu basa basi, kakek. Katakan saja langsung apa yang ingin kau bicarakan"

Presiden Cho tertawa kecil menanggapi perkataan cucu tertuanya ini, "Kau benar-benar cerdas, nak"

"Aku bukan anak mu, kek. Cepat katakan"

Presiden Cho mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, dan meletakkannya di meja kerjanya, agar Kyuhyun melihatnya. Itu sebuah foto, ya bisa dibilang foto lama, karna foto itu sudah nampak menguning. Foto itu memincingkan matanya, ada seorang wanita dan seorang pria sedang berfoto berdua.

Kyuhyun menyusuri pandangannya pada sang wanita, wanita itu nampak sedang hamil, dia nampak tersenyum. Dan begitu Kyuhyun melihat sang pria, matanya langsung ogah-ogahan melihat foto itu. Kyuhyun tau betul siapa pria itu, siapa lagi jika bukan ayahnya. Cih.

"Appa mu" ujar Presiden Cho

Kyuhyun memutar kedua bola matanya dengan malas "Tanpa kau beritahu, aku sudah tahu"

"Apa pendapat mu?" tanya Presiden Cho, senyum tipis keluar dari bibirnya

Masih dengan ogah-ogahan, "Apa anak di dalam kandungan itu, salah satu adik ku yang lain?" tanya Kyuhyun

"Pertanyaan mu tepat. Entahlah, tapi ku rasa iya"

"Lalu?"

"Aku mau kau mencari, salah satu calon adik mu yang lain" ujar sang kakek terang-terangan, sontak itu membuat Kyuhyun kaget, "Kenapa harus aku?" tanya Kyuhyun sebal

"Kau calon kakaknya"

"Kakek, jika Ia memang membutuhkan, pasti Ia akan mencari kita. Sudah lah, aku tidak mau membuang waktu dengan hal tidak bermanfaat seperti ini" jawab Kyuhyun ketus.

Sang kakek hanya bisa menggelengkan kepalanya, ucapan ketus itu mirip sekali dengan anaknya, Yeung Hwan saat masih muda dulu. Memang benar kata orang, hubungan darah tidak pernah bohong.

Karna tak ada respon, Kyuhyun membungkukkan badannya, "kalau begitu aku pergi dulu, selamat malam, kakek." Ujarnya tenang, lalu berjalan dengan gontai meninggalkan ruangan sang kakek.

Presiden Cho masih tetap pada posisinya, Ia menghela napas. Ia sudah tau pasti penolakkan adalah jawaban Kyuhyun, sungguh mustahil jika Kyuhyun mau mencari salah satu saudara kandungnya.

Ia menatap foto itu. Jika anak yang dikandung wanita itu kelak mungkin menjadi salah satu adik kandung Kyuhyun, kapan kira-kira anak itu akan muncul? Lalu, luka apa yang harus ditanggung oleh anak ini? Dan, berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan agar lukanya itu bisa sembuh?

Foto ini adalah foto lama. Foto dari kejadian 10 tahun yang lalu.

.

.

.

Pagi ini, mood Kyuhyun terlihat baik, Ia datang lebih cepat ke kantornya pagi ini.

"Hei-hei, lihat siapa yang sudah datang" ujar Donghae, lalu Ia terkekeh sendiri melihat sahabatnya itu sudah berada di ruangannya lebih cepat.

Kyuhyun yang sedang menyesap kopinya itu, langsung menatap Donghae tajam "Salah jika aku datang lebih pagi?" tanyanya ketus

Donghae merutuki kesalahannya yang sudah menggoda Direkturnya ini, sekarang sepertinya mood baik itu perlahan berubah menjadi buruk, "Tidak sih, hanya tumben saja"

"Oh ya, kau dan pegawai kantin itu ada apa?" tanya Donghae

Kyuhyun tersentak, "Oh, dia. Ada apa bagaimana?"

Donghae memincingkan dahinya penasaran, sebenarnya sudah dari kemarin dia ingin mengetahui ini, "Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?"

Kyuhyun menatap sahabatnya ini ogah-ogahan, sahabatnya ini sepertinya suka sekali menghancurkan moodnya, "Iya, waktu aku sedang di padang rumput Haru, aku tidak sengaja menginjak salah satu bunga di sana, dan si pegawai itu marah-marah. Padahal, jelas-jelas aku Direktur Kyung Hee, berarti bunga itu juga milik ku, kan?"

Donghae menggelengkan kepalanya pelan, tumben-tumbennya sahabatnya ini mengunjuni padang rumput, "Hei, Siwon juga pemilik Kyung Hee" ralat Donghae

"Tapi aku Direkturnya"

"Oke, berarti pikiran ku salah"

Kyuhyun menatap sahabatnya ini bingung, "Apalagi?"

Donghae mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah koran. Lalu Ia melemparkannya ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun yang menerima koran itu , menatap sahabatnya dengan geram, "Kau tau, jika kau bukan sahabat ku, sudah dipastikan kau akan ku hajar habis-habisan, Lee Donghae"

Donghae terkekeh, "Jangan banyak bicara, baca saja"

Koran itu hanya selembar, Donghae memang sengaja mengambil bagian terpenting yang harus dibaca Kyuhyun. Kyuhyun mengeryitkan dahinya.

"Apa-apaan ini?" tanyanya kaget

"Harusnya aku yang bertanya, Cho Kyuhyun" Donghae mengatakannya sambil tersenyum sinis

"Bukan aku" seolah tau apa yang akan ditanyakan sahabatnya ini, Kyuhyun langsung menjawab

"Jelas-jelas orang yang dimaksud di koran ini adalah kau. Kau cukup beruntung, sepertinya ada seseorang yang ingin menghadiahkan istri pada mu"

Setelah 10 detik kalimat itu terlontar dari mulut Donghae, Kyuhyun langsung menyadarinya, "Im Yoona" ujarnya sinis

Donghae bersiul singkat begitu mendengar nama Yoona dari mulut Kyuhyun, dan tentu saja langsung mendapat deathglrae dari Kyuhyun

"Sudah banyak lamaran yang masuk"

Kyuhyun tersenyum sinis, "Orang-orang sudah gila rupanya"

"Aku juga berfikir seperti kau, tapi sepertinya tidak untuk para pelamar" jawab Donghae tenang

Donghae terkekeh melihat wajah pucat Kyuhyun, "Tenang, akan ku bereskan. Daripada keluarga mu tahu, oh, aku tidak mau melihat mereka pingsan di tempat" Donghae mengatakan itu sambil tertawa geli

"Atau, mungkin mereka sudah pingsan sekarang" Kyuhyun menyahut singkat, sementara Donghae masih tertawa geli membayangkan hal itu

Berbagai pihak yang selalu memperhatikan Kyuhyun tidak mungkin melewatkan kesempatan sebaik ini untuk menjatuhkan dirinya. Im Yoona, sepertinya Kyuhyun sudah masuk ke awal perangkap gadis itu, Ia tau gadis itu tidak mungkin menyerah dengan polosnya.

Masih terdengar jelas di otak Kyuhyun suara pelan mereka dalam perbincangan itu, ketika dirinya bertekad akan memberi alasan setimpal kepada dua orang itu suatu saat nanti. Mengingat itu, tatapan Kyuhyun langsung berubah menjadi sedingin es.

Ya, kita doakan saja semoga ada malaikat yang bisa membantu Kyuhyun untuk melewati masalah ini.

.

.

.

Kyuhyun kembali ke rumah itu, tapi kali ini Ia akan berhadapan dengan Presiden Cho dengan sang istri.

"Bukan aku yang membuat iklan di koran" ucap Kyuhyun langsung tanpa basa basi

"Kita batalkan saja pelantikan direktur di rapat komite kali ini. Kau tinggal menolak saja, dengan begitu, kami akan tutup mulut mengenai masalah ini"

Kyuhyun menyeringai, akhirnya jawaban itu yang terlontar dari mulut sang nenek. Jika seperti ini, baru pertarungan mereka akan lebih terasa.

"Bagaimana kalau sebaliknya?"
"Apa?"

"Aku akan membiarkan kalian menyebarkan iklan itu, asal kalian menyutuju pelantikan ini" jawab Kyuhyun tegas

"Kau gila, jadi kau mau menikahi wanita yang bahkan belum kau kenal?" tanya Nyonya Han

"Benar"

Presiden Cho dan Nyonya Han saling berpandangan, "Baiklah"

"Kau masih mengharapkan Yoona?" tanya Presiden Cho, pertanyaan itu soontak langsung membuat Kyuhyun menatap tajam sang kakek

"Mengharapkan? Ku dengar dia mau menikahi pria lain" jawab Kyuhyun enteng

Kyuhyun mengambil secangkir teh di depannya, mulai menyesap rasa panas yang berada dalam teh itu.

"Dia sudah bertunangan dengan pria lain" ujar Sang kakek. "Lalu? Bukankah kalian yang paling tahu tentang hubungan kami?" Kyuhyun tersenyum tipis

"Jadi, kau serius ingin menikahi wanita di iklan itu?" kali ini sang nenek yang memberikan pertanyaan itu

"Belum sejauh itu, kan urutannya bertemu dulu, baru kami akan menjadi sepasang kekasih"

Kedua orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Toh, jika Kyuhyun sudah bertekad, tidak ada yang bisa menghasutnya lagi, kan?

.

.

.

Kyuhyun sudah sampai di mobilnya, dia duduk di posisi belakang. Mungkin dia akan dibilang sombong oleh orang lain, karna jelas-jelas Donghae berada di posisi depan, tepatnya di posisi penyetir. Sahabatnya itu memang memutuskan mengantarnya ketika Kyuhyun mendapat panggilan ke rumah kakek dan neneknya itu.

"Bagaimana?" tanya Donghae

"Biasa saja"

"Apa ada hubungannya dengan Yoona?" pertanyaan Donghae kali ini benar-benar membuat Kyuhyun ingin menggaruk kaca mobilnya itu. Kenapa harus nama Yoona lagi? Toh pada akhirnya, Yoona tidak bisa menjadi pendampingnya. Toh pada akhirnya, semua pihak akan tetap menentang hubungannya dengan gadis itu, ah, tepatnya dunia akan tetap menentang hubungannya.

"Tidak. Hei, bisakah kau jangan ikut campur?" tanya Kyuhyun ketus

"Mana bisa aku ikut campur? Kau, benar-benar melepaskan... Yoona?"

"Hm, aku menyerah" jawaban itu sontak membuat Donghae mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya itu. Ia menatap Kyuhyun miris, Ia tau betul sebenarnya Kyuhyun adalah pihak yang paling terluka. Ia tau betul pasangan itu sebenarnya sangat saling mencintai. Ia tau betul bagaimana Cho Kyuhyun yang dulu kesepian setelah bertemu Im Yoon ah.

"Baiklah. Apa, tidak sebaiknya kau mulai serius mencari pendamping, aku ingin kau bahagia seperti orang lain" saran Donghae

"Tapi masalahnya aku bukan orang lain, dan tidak ingin seperti orang lain" jawab Kyuhyun datar

Ya, Kyuhyun memang bukan seperti orang lain.

.

.

.

Suasana kantin kali ini tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, tampa ramai.

"Ibu Kim, tahunya sudah mau habis" teriak Sungmin, lalu melanjutkan aktivitasnya, menyendokkan nasi dan berbagai macam lauk kepada mahasiswa Kyung Hee University

"Eonni, tambahkan nasinya lagi dong"

"Bibi, minta tahunya lagi dong"

"Aku Park Seok Jun dari fakultas ekonomi. Aku menyukai mu, mau tidak jadi pacar ku?"

Semua suara itu terdengar begitu saja di antara suasana kantin yang begitu ramai itu. Tunggu, tadi ada seseorang yang terang-terangan menyatakan cintanya pada Sungmin. Hal itu sudah biasa dia alami, memang sudah banyak mahasiswa di Kyung Hee yang menyatakan cintanya begitu saja pada Sungmin

Tiba-tiba ponselnya berbunyi ketika Ia sedang sibu-sibuknya menyendokkan nasi kepada para mahasiswa.

"Eunhyuk-ah, tolong gantikan aku" bisik Sungmin pada Eunhyuk yang berada di sebelahnya

"Hm?" tanpa mendengar persetujuan Eunhyuk, Sungmin bergegas ke belakang untuk mengangkat telfonnya

"Halo?" tanya Sungmin

"Nuna!" suara itu menjerit memanggil namanya. Tunggu, sepertinya dia tau suara ini...

Yoo Jin Sung, sahabat Sunmi.

"Ah, Jin Sung-ah. Ada apa?" tanya Sungmin bingung, tidak biasanya sahabat adik bungsunya ini menelfonnya.

"Sunmi!"

"Sunmi?" Sungmin mengangkat alisnya bingung. "Kenapa Sunmi?" tanyanya

"Di-dia..."

"Kenapa?" sekarang Sungmin bertanya dengan was-was

"Tindakannya aneh. Dia bilang mau menikahi seseorang"

Err, sekarang Sungmin merasa bingung seratus persen. "Menikah bagaimana?"

"Ah, kau tidak berbuat macam-macam dengan Sunmi, kan?"

"Bu-bukan aku, nuna!" sangkal Jin sung

Oh, demi apapun Sungmin sudah malas berbincang dengan adik sahabatnya ini, "Lalu dengan siapa?"

"Katanya dengan orang yang ada di koran"

Sungmin terdiam sejenak

Benar-benar anak itu!

Istri kontrak, pantas kemarin adiknya itu menurut begitu saja.

.

.

.

Kyuhyun tersentak begitu memasuki ruangannya, sudah terdapat tumpukkan dokumen di meja kerjanya.

"Apa ini?" tanya Kyuhyun pada Donghae yang sudah berada di belakangnya

"CV dari para wanita yang melamar menjadi istrimu. Wawancaranya hari ini. Kan kau yang menyebarkan iklan ini, jadi kau juga yang harus bertanggung jawab" Donghae menyodorkan dokumen itu dengan tidak sabaran pada Kyuhyun yang mengerutkan dahinya

"Terserah kau saja" jawab Kyuhyun datar, lalu mendatangi kursi meja kerjanya itu

Kyuhyun mendorong kotak berisikan CV itu, sehingga jatuh ke lantai. Terdengar suara debaman yang begitu keras saat kertas-kertas itu terjatuh.

"Singkirkan saja yang di bawah itu, pilih saja salah satu yang tersisa" Kalau begini, Kyuhyun sudah tidak bisa apa-apa, ternyata sudah banyak wanita gila di Korea ini.

"Kau tidak takut?" tanya Donghae, pria itu duduk di salah satu sofa di ruangan Kyuhyun

"Apa yang harus aku takuti?" tanya Kyuhyun sambil menyeringai

"Kau tidak takut jatuh cinta dengan pasangan kontrak mu kelak?"

Kyuhyun terkekeh geli, "Aku bukan tipe orang mudah jatuh cinta, hah"

Tiba-tiba, suara telefon di meja Kyuhyun berbunyi

Direktur, ada seorang wanita yang memaksa ingin bertemu anda.

"Gila" tiba-tiba kalimat itu terlontar dari mulut Donghae

"Tanyakan padanya, apa mengenai iklan di koran?"

2 menit Kyuhyun menunggu jawaban, Ia mendengar suara-suara rusuh dari sebrang telefon, "Iya, Direktur"

"Suruh dia masuk" perintah Kyuhyun, dan itu langsung membuat Donghae membulatkan matanya

"Wawancaranya jam 5, hei"

"Wawancara 2 jam sebelumnya tidak apa, kan?"

Setelah Kyuhyun mengucapkan kalimat itu, terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras. Sudah dapat dipastikan itu pintu ruangan Kyuhyun

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada pintu ruangannya, dan...

DEG

Itu kan si pegawai kantin

Sungmin terdiam begitu Ia mengetahui bahwa Direktur Cho, ada di hadapannya.

"Maaf, apa kau ingin ikut wawancara?" Donghae bertanya memecahkan keheningan

"Maaf jika aku lancang, apa kau yang memasang iklan di koran itu?" tanya Sungmin, Ia melontarkan pertanyaan itu pada Donghae

"Tidak. Tapi orang di samping ku ini yang memasangnya" jawab Donghae lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun

Sontak, Sungmin langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun, sama seperti Sungmin, Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Mereka saling menatap, rasanya seperti ada sengatan listrik dari tatapan kedua belah pihak.

Sial, jadi Direktur sialan ini yang menghasut adik ku dengan iklan di koran itu.

.

.

.

Chap 2 selesai!

Haha, maaf jika di chap ini KyuMin mommentnya masih sedikit, dan alurnya masih terlalu cepat. Tapi di chap berikutnya, saya janji KyuMin mommentnya pasti bakal menarik/?

Oh ya, tolong jangan jadi silent readers ya, pernah dengar istilah RNR, kan? Saya harap kalian menerapkan hal itu~

Next? Review!

Special Thanks to :

Mirna yuanita, dewi. , parkhyun, Guest, danactebh, gwansim84, vitaminsparkyu1123, and kms.