Pocky Game!
Durarara!
Author: shourarara
Rate: T
Pair: Shizuo x Izaya
OOC, abal, fic lama, shounen-ai, dan flashback / request dari teman lama.
A/n: Mungkin beberapa dari pembaca sudah ada yang pernah membaca fic ini—diperingatkan kembali, ini adalah fic yang saya tulis ulang karena hal tersebut menyangkut pada bahasa serta penulisan. Terima kasih juga bagi yang telah bersenantiasa untuk memberikan review fic ini!
Durarara! bukan punya saya.
Reply (review) *orang terdekat/ saya menggunakan bahasa gaul
NaRin RinRin: aih- terima kasih atas reviewnya! Saya sedang berusaha untuk mengetik fic ini dengan secepat kilat, namun—banyak hal yang mencegah saya buat ngelanjutin fic ini dengan tepat waktu.
*Rein Yuujiro: sebenernya gue awal cerita emang ada pocky game bro- terus juga ini aslinya fic request temen gue setahun yang lalu dan gue gangerti kenapa bahasa gue pro HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA oh ya makasih reviewnya Rein!
Ialest: terima kasih reviewnya!
.
.
.
{Chapter 2}
.
.
.
Beberapa pekan setelah peristiwa dimana Shizuo tidak ingin melanjutkan perkelahian antara dia dengan Izaya membuat pemilik surai kelam itu geger dengan pernyataan tersebut. Izaya hanya menginginkan agar semua kembali seperti yang telah menjadi keseharian mereka berdua—dimana mereka berdua dapat bertengkar hingga diri mereka lelah.
Izaya belari kecil menuju kelasnya dan tanpa disengaja, ia menabrak salah seorang murid. Sembari mengelus perlahan hidung miliknya—ia segera meminta maaf kepada murid tersebut.
"M-Maaf—aku tidak melihat ke arah depan dengan benar," ucap Izaya minta maaf. Tunggu, Izaya minta maaf? tindakan-nya tersebut termasuk dalam kategori hal yang paling tidak mungkin dilakukan oleh seorang Orihara Izaya.
Setelah dilihat lebih seksama—murid tersebut adalah Dota-chin.
"Ah—tidak apa-apa." jawab Dota-chin segan.
Sesungguhnya Izaya tidak ingin berurusan dengan Dota-chin. Namun, takdir menghalau keinginan Izaya.
"Orihara—maukah kau ikut dengan kami semua untuk ber-karaoke seusai sekolah? Mungkin saja untuk menghilangkan segala kejenuhan dirimu terhadap tindakan Shizuo,"
"—Tunggu sebentar, mengapa kau tahu hal tersebut?" tanya Izaya memasang tampang gelisah. Mengapa Dota-chin mengenai dia dengan Shizuo.
"Seluruh murid mengetahui hubungan kau dengan Shizuo—dan bagaimana kalian bertengkar untuk terakhir kali. Rumor tersebut sudah tersebar hingga guru-guru pun membicarakan hal tersebut," Dota-chin menyeringai dengan lebar, menunjukkan kebolehan pada gigi-nya.
Izaya hanya bisa mengernyitkan dahinya dan menghela nafasnya. Wajah kusut menghiasi paras milik pemuda dengan julukan 'Musuh Terbesar Izaya'-ini.
"Aku akan mencoba untuk menghilangkan segala kejenuhan diriku—aku tidak ingin Heiwajima mengisi otakku dengan semua kenangannya,"
"—Eehh? Apa maksudmu dengan 'kenangan'?"
Dota-chin mengangkat kedua sudut bibirnya seraya membungkukkan badannya hingga wajahnya berada tepat di depan wajah Izaya.
"B-Bukan apa-apa,"
Dota-chin tersenyum tipis dan kembali berdiri dengan tegak seperti semula—berjalan menjauhi Izaya sembari melembaikan tangannya.
Seusai sekolah, Dota-chin berjalan menuju ruang kelas Izaya—menemukan keberadaannya, ia langsung menepuk pelan pundak milik Izaya yang saat itu duduk manis sembari melihat kata-kata yang tertulis pada sebuah novel serta membuat dirinya lupa pada waktu.
"Orihara? Apa kau benar-benar ikut bersama kami?"
Izaya terlihat sangat tenang—membuat Dota-chin bertanya-tanya pada dirinya.
"Tentu aku ikut—untuk apa aku berdiam diri di rumah hanya untuk menyaksikan tontonan umum yang bisa membuat diriku mati karena jenuh?"
Dota-chin pun mengiyakan hal tersebut sebagai tanda bahwa Izaya setuju dengan ajakannya. Ia bersama gengnya sudah memesan tempat untuk berkaraoke dan ruang tersebut berada di ruang 4. Di sana terlihat Izaya yang tengah duduk dengan santai tanpa merasa ada yang mengganjal di hatinya saat itu.
Namun sekali lagi—takdir menghalau keinginannya. Dota-chin membuka pintu ruangan mereka dan menemukan Shizuo berdiri di depan pintu tersebut. Ia tampak segar dan parasnya tidak menunjukkan bahwa dia berada dalam fase kegeraman yang dapat menghancurkan tempat karaoke mereka itu.
Setelah menelusuri seluruh penjuru ruangan—sorotan matanya tertuju pada Izaya yang saat itu sesama memberikan sorotan mata yang mematikan. Begitu ia sadar bahwa dirinya telah memberikan sorotan tersebut, ia mulai membuka mulutnya,"Mengapa ada Orihara?"
Dota-chin saat itu hanya bisa mengepalkan kedua tangan dan kemudian menyilangkannya di depan dadanya. Ia menghela nafas.
"—Hah, kuharap kau cepat berbaikan dengan Orihara," Dia mengucap kata tersebut dengan suara yang pelan sehingga hanya terdengar oleh Izaya.
Bertepatan dengan waktu yang sama, Dota-chin memiliki ide yang dapat membuat kedua insan tersebut berbaikan hanya dengan sebuah permainan yang kecil. Ya—ide tersebut adalah 'King and Slave' dimana orang yang mendapatkan secarik kertas yang paling panjang, maka dialah yang akan menjadi 'King' dan dimana orang yang mendapat kertas yang paling pendek akan menjadi 'Slave'.
"Sudah-sudah, setelah semua sudah tenang—aku punya sebuah permainan," Terlihat kedua sudut bibir milik Dota-chin terangkat.
.
.
.
{T B C}
.
.
.
A/n: HALO—sebenarnya saya agak malas untuk mengetik makanya saya buat gantung seperti dan juga hal yang buat saya jadi malas karena juga saya lagi menghadapi ujian praktek dan minggu depan saya sudah masuk ke TO Paguyuban. Dan beberapa minggu lagi saya sudah tak tau lagi dengan jadwal saya /digampar. Mungkin—di lain waktu saya dapat melanjutkan ficnya.
Review? /tidak memaksa
