Jinchuriki's Story: Stare Con Te
Capitolo Due
"Hei, Kakek! Mau diapakan gadis itu!" teriak Minato, berusaha mengambil kembali sang gadis. Tapi kakek itu berkeras dan tidak membiarkan Minato menyentuk Kushina.
"Ho, jadi kau yang merusak segelnya Kushina, bocah. Minggir! Aku akan menyelesaikannya," ujar sang kakek. Tapi perkataan Kakek itu dipotong dengan bentakkan dari Minato.
"Tidak perlu! Dia tidak boleh diperlakukan seperti itu!" Balas Minato. Si kakek memperhatikan Minato, menghela nafas dan akhirnya melepas Kushina. Membiarkan pemuda itu menggendong kembali Kushina dan menidurknnya di kasur seperti sebelumnya.
"Dia sudah kubuat tidak sadarkan diri untuk beberapa saat. Kau ikutlah denganku, bocah," ujar sang Kakek. Minato hanya diam dan mengikuti langkah Kakek itu ke ruang tamu. Dia duduk berhadapan dengan sang Kakek.
"Kau tau siapa Kushina itu sesungguhnya?" Kakek itu mulai berbicara dengan serius. Minato menggeleng, meminta penjelasan dari pertanyaan sang Kakek. Memangnya kalau bukan manusia, Kushina itu apa? Kambing?
"Dia adalah anak yang dalam tubuhnya disegel siluman rubah. Saat usianya 15 tahun, segelnya melemah karena dia luka berat akibat kecelakaan. Kesadarannya diambil alih oleh siluman rubah dan membunuh semua keluarganya serta meluluh lantahkan kediaman Uzumaki.
Beruntung rumah utama tetap berdiri kokoh karena di ruangan bawah tanah rumah utama terdapat tempat khusus untuk menyegel siluman. Dulu aku berhasil menyegel siluman itu beserta Kushina diruangan bawah tanah itu.
Sudah hampir 3 tahun dia disegel, tapi sejak minggu lalu segelnya mulai melemah. Kami berniat membunuh Kushina malam tadi, sebelum dia memakan lebih banyak korban. Lagipula aku sudah tidak kuat lagi menyegelnya."
Minato tersenyum lega dan berkata, "Berarti aku datang tepat waktu." Kakek itu tersenyum dan membalas, "Ya, kupikir sudah terlambat karena Kushina sudah dibunuh oleh orang lain. Tapi tadi pagi ku temukan dia masih hidup. Aku baru saja akan membunuhya."
"Berarti aku juga menyelamatkanmu dari dosa, kek."
"Hahaha, kau anak yang baik. Apa kau sudah dimakannya?"
"Ya, dia memakanku dengan sangat lahap." Kakek itu terkejut. Pertanyaannya tadi hanya bercanda, tetapi mendengar jawaban serius dari Minato, sang kakek kaget bukan main.
"Dimana? Tunjukkan padaku!" Minato mengangkat bahu dan membuka bajunya, menunjukkan tubuhnya yang baik-baik saja.
"Aku tidak bercanda, kek. Rasanya masih sakit, tapi lukanya sudah hilang," jelas Minato. Sang kakek mengelus jenggotnya.
"Jadi kau adalah Jinchuriki no Shokuhin yang ditakdirkan untuk menjadi makanan siluman rubah itu, ya."
"Eh?"
"Kalau begitu aku bisa lebih tenang. Aku pergi dulu," ujar sang kakek. Diapun segera pergi meninggalkan Minato yang kebingungan, berusaha mencerna perkataan sang kakek. Aneh sekali, ini mulai konyol. Sekarang dia menjadi makanan? Dia yang selama ini selalu dielu-elukan menjadi makanan? Ini tidak lucu.
"Gadis itu...Kushina, dia kurang istirahat dan perlu asupan gizi. Kau yakin mau mengurusnya sendiri?"
Minato menghela nafas lega. Dia langsung memanggil ibunya yang seorang dokter untuk datang kesana dan memeriksa keadaan Kushina. Beruntung keadaan Kushina tidak terlalu buruk. "Iya, bu. Ini sudah keputusanku sebagai seorang pria," balas Minato.
"Baiklah kalau itu memang keputusanmu. Ibu pulang dulu, ada pesan?"
"Tidak ada, ibu pulang saja istirahat. Hati-hati di jalan, ya!"
Tsunade mengangkat bahu dan segera pergi dari rumah itu. Melihat kepergian sang ibu, Minato tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan rumah. Sesekali dia melihat keadaan Kushina di kamar, sekedar untuk memastikaan bahwa gadis itu tidak mengamuk.
Minato akhirnya selesai membersihkan rumah itu. Terlalu besar untuk dibersihkan sendiri, jadi Minato hanya membersihkan beberapa ruangan yang rencananya akan digunakannya selama seminggu. Dia cukup kaget saat kakek tua itu datang lagi dengan membawa banyak sekali bahan makanan, bahkan setelahnya cukup banyak warga yang mengunjunginya. Sebagian besar hanya menyapanya sebagai tetangga baru, sebagian lagi memberikan jimat padanya.
Minato memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia duduk di ruang tamu dan melepas kaosnya yang basah karena keringat. Kemudian dia ingat buku tua yang ditemukannya semalam. Sedikit meraba sakunya, Minato ingat buku itu ada disana. Dia mengeluarkannya dan membacanya.
"Ratusan tahun lalu, desa ini luluh lantah.
Dewa telah mengutuk seorang putri dari klan termasyur menjadi makhluk setengah siluman rubah. Ibu dari Putri itu mencintai seorang Dewa Bumi, tapi sang Dewa menolak cintanya. Wanita itu terus memaksa dan dewapun mulai menerima cintanya. Kemudian lahirlah anak mereka. Dewa Bumi sangat mengasihinya, menganugerahinya dengan kecantikan yang menawan.
Namun kasihnya begitu besar kepada sang anak membuat istrinya geram. Ibu dari putri itu memotong lidah dan membakar rambut sang putri. Mengetahui hal itu, Dewa Bumi pun murka. Dia berubah menjadi iblis akibat amarah dan dilenyapkan oleh Dewa pencipta.
Tapi, sebelum dilenyapkan, Dewa Bumi sudah terlanjur membunuh istrinya dan mengutuk keturunannya dengan segel siluman rubah, dimana setiap 100 tahun sekali akan lahir seorang putri yang ditubuhnya terdapat siluman rubah. Keturunan sang putri memiliki rambut merah sebagai ciri khasnya, dikenal dengan klan Uzumaki," gumam minato. Minato terus membaca buku itu hingga akhirnya ia menyadari bahwa buku ini bukanlah novel, tetapi catatan sejarah mengenai siluman rubah -mengenai Kushina.
"Dewa pencipta merasa iba melihat keturunan sang putri yang hidup menderita karena siluman rubah dalam tubuhnya memakan banyak energi kehidupan sang putri, menyebabkan setiap keturunan yang memiliki segel rubah hanya berumur singkat.
Dewa pun memberikan kemampuan kepada keturunan putri, kemampuan untuk bisa memakan orang lain tanpa menyakiti orang tersebut, agar energi kehidupannya . Satu syarat untuk bisa melakukan hal itu adalah dengan ciuman sang putri. Sejak itu, keturunan sang putri selalu memiliki seorang atau bahkan beberapa pria yang tidak akan mati sebelum kematian sang putri, yang akan menjadi asupan energi, yang akan memberikan cinta bagi sang putri. Pria itu kemudian disebut Jinchuriki no Shokuhin ," Minato terdiam. Berusaha mencerna makna dari kalimat itu.
Dia merasa kalau dia adalah bagian dari pria-pria yang disebut Jinchuriki no Shokuhin itu, orang yang diciptakan untuk menemani keturunan sang putri. Dan sesaat setelahnya wajah Minato sukses memerah. Minato terus membaca buku itu. Kini dia tahu masalahnya. Tentang segel, tentang ruangan bawah tanah dan tentang Kushina.
Pria berambut kuning dengan mata ocean blue itu bahkan tahu cara melepas pelindung yang mengekang indra Kushina agar siluman rubah tidak mengamuk. Dia masih tidak tahu bagaimana bentuk segel itu, tapi dia berniat melepaskannya. Dia ingin Kushina hidup bebas seperti gadis lainnya.
Malam itu, seperti biasanya, Minato dimakan Kushina. Berlangsung tidak selama malam pertama dan Minato sudah mulai terbiasa dengan rasa sakitnya. Meliat wajah puas dan senyum yang merekah dari Kushina setelah gadis itu memakannya membuat Minato melupakan semua rasa sakitnya.
"Kushina, bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" Kushina mengangguk. Minato nampak tersenyum dan menggenggam tangan gadis itu.
"Aku ingin mendengar suaramu. Bisa?" Kali ini Kushina menggeleng.
"Kenapa? Apa mereka juga menyegel suaramu?" Kushina mengangguk.
"Ini konyol. Kau tidak salah apa-apa, tapi kenapa kau harus diperlakukan seperti ini?" Minato mengangkat tangan Kushina dan membiarkan Kushina merasakan hangatnya wajah Minato saat ini. Tapi Kushina hanya menunduk.
"Kau ingin selamanya seperti ini?"
Kushina menggeleng.
"Beritahu aku dimana segelnya."
Kushina tetap menunduk. Dengan ragu dia menunjuk ke arah penutup matanya. Minato tersenyum. Dia sudah tahu caranya, tinggal dipraktikkan. Kunci melepaskan segel pelindung pada diri kushina sangatlah mudah. Hanya Jinchuriki no Shokuhin dan orang yang memasang segel yang dapat melakukannya. Minato mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh penutup mata itu.
Tangannya belum menyentuh kainnya, tapi Minato merasakan sengatan dahsyat yang membuat posisi duduk Minato mundur karena kekuatannya. Sementata itu, Kushina kembali menjerit kesakitan.
"Rupanya ini alasan kenapa dia tidak mau aku membuka penutup itu," gumam Minato. Dia berdiri dari kursinya dan kembali mendekati Kushina. Dia memeluk Kushina dengan erat hingga gadis mulai tenang.
"Maaf aku telah menyakitimu," bisik Minato. Kushina mengangguk kecil dan membalas pelukan Minato, tangannya yang kurus meremas kaos milik Minato.
Minato melonggarkan pelukkannya dan menatap wajah Kushina. Tangannya kini menengadahkan wajah kushina dan mencium bibir milik sang gadis dengan lembut. Tangannya yang satu lagi mengelus kepala Kushina.
Ciuman itu berlangsung lama hingga akhirnya Minato menjauhkan bibirnya dan menunjukkan senyumannya. Dia mengangkat seutas kain ditangannya sambil berkata, "Lihat aku berhasil melepasnya."
Kushina tetap diam, matanya masih terpejam dan mulutnya tertutup. Dia dengan ragu membuka matanya. Pelahan, dia dapat melihat seorang pria duduk di hadapannya dengan senyum girang.
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Kushina. Minato tersentak dan mulai bingung.
"A, aku...tidak mungkin tanpa kain itu...aku akan menyakiti banyak orang," Kushina kembali bergetar, tangannya terangkat dan berusaha mengambil kembali kain penutup matanya. Tapi Minato langsung menyobeknya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi," balas Minato.
"Diam! Kau tidak mengerti apa-apa! Aku adalah monster! Pergi! Sebelum aku menyakitimu!" bentak Kushina.
"Kau sudah memakan dagingku tadi malam dan aku masih disini. Aku memang tidak mengerti, tapi ini sudah keputusanku sebagai seorang pria. Kau tidak akan menyakiti siapapun lagi," jawab Minato.
"Aku telah membunuh semua anggota keluargaku!" Minato tersenyum Lalu menggengam tangan Kushina.
"Kalau begitu kau tinggal membuat keluarga baru. Aku akan menggantikan kain ini menjadi pelindungmu," balas Minato. Kushina perlahan mulai tenang dan menatap pemuda itu dengan kedua mata violetnya.
"Siapa namamu?" Tanya Kushina.
"Minato, Minato Namikaze. Aku sudah membeli tanah ini beserta semua properti didalamnya, termaksud dirimu, sepertinya. Em, Itu berarti aku akan menjagamu juga, percayalah."
"Aku cuma tanya namamu, bodoh."
"He?"
"Apa bekas tadi malam masih sakit?"
"Kau pikir setelah kau kerokoti seperti itu tidak sakit?" Jawab Minato. Pria berambut kuning itu menatap datar kearah Kushina sambil memonyongkan mulutnya. Melihat ekspresi kekanakan Minato, Kushina tertawa pelan.
Minato terpana. Sosok tertawa Kushina sangat manis. Dia baru sadar, warna rambut kushina berubah dari hitam kemerahan menjadi merah, kontras dengan kulitnya yang putih. Warna matanya yang memberi efek tenang, dan suara tawanya yang renyah telah membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ini pertama kalinya Minato bertemu dengan perempuan seperti ini. Pertama kalinya pria itu merasa jatungnya menari dan bunga-bunga mekar di hatinya. Ini bukan penyakit, Minato tahu itu, dia sudah jatuh cinta kepada Kushina.
"Maafkan aku, Minato, aku–" Kushina tersenyum dan menatap pemuda dihadapannya. Minato membalas senyuman Kushina dan menggenggam tangan Kushina erat.
"Tidak masalah, Kushina. Kau boleh memakanku kapan pun sebanyak apapun."
Minato berteriak kencang sekali malam itu. Setelah beberapa hari tinggal bersama kushina, ini kali keduanya berteriak sangat keras -bahkan bisa dibilang menjerit. Yang pertama karena dia pertama kali dimakan Kushina. Yang kedua terjadi malam ini akibat pemaparan Kushina tentang dirinya.
"Kenapa? Apa aku terlihat tua?" Balas Kushina, sebelum dia memasukkan sesendok nasi noreng ke mulutnya. Bukan buatannya, tapi buatan Minato. Kushina tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Sekeras apapun dia mencoba, hasilnya selalu buruk. Untungnya Minato cukup sabar dan bisa melakukan apa saja.
"Berarti aku telah melakukan tindakan asusila," balas Minato dengan ekspresi pucat, "Aku tidak menyangka kau baru 13 tahun. Kudengar kau disegel 3 tahun. Berarti, sekarang umurmu diatas kertas adalah 16 tahun, kan? Tapi tetap saja..."
"Ya, ya...kau saja yang ketua-an, om Minato. Segel itu sepertinya menghentikan pertumbuhan tubuhku." Kushina sejak 3 tahun lalu, tepat setelah siluman dalam dirinya hilang kendali, disegel di ruangan bawah tanah. Walaupun begitu, Kushina tergolong cerdas karena sudah menyelesaikan SMA diusia 10 tahun.
"Hei, maukah kau tinggal di tokyo untuk sementara waktu?" Akhirnya Minato mengatakan maksud sesungguhnya dari menemani Kushina makan malam itu.
"Hm? Kau mau menghancurkan rumahku dan mendirikan kastil disini?" Tanya Kushina, menyuap kembali nasi gorengnya.
"Benar, tapi aku tidak sedang merencanakan akan membangun kastil disini, adik Kushina," balas Minato dan alhasil dia mendapat deathglare dari Kushina karena embel-embel adik yang terdengar menyebalkan.
"Tidak akan kuizinkan. Aku tidak akan keluar dari rumah ini."
"Hn, Kenapa?"
"Karena rumah ini rumahku, walaupun kamu sudah membelinya. Tapi aku tidak akan mengizinkannya."
"Hee, tapi cuma akan ku renovasi, kok. Akan persis sama dengan pertama kali dibangun."
Kushina menghela nafas dan menatap Minato dengan tatapan datar. Tapi Minato dapat menyadari kegelisahan Kushina dari tatapannya itu. Sebelum Minato bertanya lebih banyak, Kushina berdiri dan berkata, "Aku kenyang. Mau tidur. Jangan diganggu."
Aneh. Minato memandangi pungung Kushina sambil bertanya-tanya apa yang dipikirkan oleh Kushina. Akhirnya dia menghabiskan waktu dengan duduk termenung di meja makan.
Kushina mengunci dirinya dikamar semalaman, padahal biasanya dia tidur bersama Minato. Gadis itu juga beberapa kali mendengar Minato mengetuk pintu kamar, tapi tidak di acuhkannya. Dia butuh waktu untuk sendiri. Kushina tidak habis pikir siapa yang tega menjual tanah miliknya, dia bahkan tidak menerima uang sepeserpun untuk sejengkal tanah milik keluarganya. Saat dia bertanya pada Minato, pria itu hanya mengatakan bahwa tanah ini dibelinya dari seorang kakek atas perantara ayahnya.
Tapi, toh, Kushina tidak mau memusingkan hal itu. Bukan itu yang membuat Kushina pusing. Melainkan semua ini terlalu tiba-tiba. Setelah melewati tiga tahun dalam kegelapan, dia langsung diseret ke dunia luar. Ini terlalu mendadak baginya.
Belum lagi setelah insiden 3 tahun lalu, semua orang pasti akan takut dengannya. Bertemu dengan orang luar hanya akan menambah rasa sedih dan minder Kushina. Kushina takut dijauhi orang lain. Dia benci diperlakukan seperti itu.
Besoknya, pagi-pagi sekali, saat Kushina memutuskan untuk keluar kamar, dia kaget saat menemukan Minato tertidur di depan pintu kamar.
"O, oi..."gumam Kushina. Dia juga tidak habis pikir tentang pria satu ini dia datang mendadak dengan kebaikan yang tulus. Bahkan setelah melihat wujud silumannnya, pria itu tidak takut.
Kushina duduk disamping Minato, menyandarkan kepalanya ke pundak Minato. Pria ini selalu memberikannya kenyamannan hanya dengan berada di dekatnya. Sejak awal bertemu dengan pemuda itu Kushina selalu menikmati setiap sentuhan Minato.
Akhirnya Kushina tertidur lagi disamping Minato. Minato membuka matanya dan tersenyum kecil. Dia sebenarnya sudah terbangun saat Kushina membuka pintu kamar. Tapi karena sepertinya akan menarik, dia jadi berpura-pura tidur.
Setelah intropeksi diri semalaman, Minato sadar kalau keputusannya menghancurkan rumah ini sekarang menyakiti Kushina. Dia sudah sangat sering menyakiti perasaan perempuan, bahkan itu menjadi hiburan bagi Minato saat di sekolah menengah awal sampai kuliah. Tapi menyakiti Kushina? Minato harus berpikir seratus kali untuk hal itu.
Minato mengelus rambut merah kushina perlahan tanpa menghilangkan sebercak senyum di senang, tapi hal itu menyebabkan Kushina terbangun.
"Dasar tukang tidur," gumam Minato. Kushina langsung membalasnya dengan mencubit pinggang Minato yang diikuti dengan lirihan Minato.
"Well, Kushina. Aku menyesal telah memutuskan sesuatu tenpa memperhitungkan perasaanmu. Tidak akan ada rumah yang dihancurkan. Aku hanya akan menyingkirkan puing bangunan dan menggantinya dengan taman," jelas Minato dengan wajah memerah yang dia sendiri tidak tahu penyebabanya.
"Kau pasti keberatan kalau rumah ini kuhancurkan. Kau pasti memiliki banyak kenangan di rumah ini," tambah Minato.
"Tidak. Aku...bukan begitu. Em, aku takut keluar rumah. Penduduk desa membenciku, mereka takut padaku. Aku adalah pembawa sial bagi mereka. Jadi...kumohon jangan memintaku keluar dari rumah ini," jelas Kushina.
"Tidak apa-apa. Aku ada di sampingmu, jadi tenang saja. Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan ke supermarket? Kita perlu beberapa bahan makanan dan baju," ajak Minato. Tapi Kushina menunduk sambil menggelengkan kepala, keberatan dengan ajakan Minato.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," tambah Minato. Tapi kalimat itu tidak cukup untuk menghilangkan keraguan Kushina.
"Kau meragukanku?" Tanya Minato.
"Bukannya begitu, tapi..."
"Apa selama ini aku pernah melanggar janji?"
"Bodoh, aku baru mengenalmu beberapa hari."
"Bukankah aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padamu? Dan setelah itu kau masih meragukanku?"
"Aku...percaya padamu. Tapi,"
"Yak! Kita berangkat sekarang. Kau bisa pakai jaketku, diluar sangat dingin."
"Kau pikir sekarang jam berapa!"
"Hm? Kita akan jalan kaki, mobilku bensinnya habis."
Kushina tidak sempat menunjukkan ekspresi keberatannya saat tangan Minato menarik lengannya dan membawanya ke kamar. Memasangkannya jaket dan melingkari lehernya dengan syal milik pria itu. Lalu Minato tersenyum sambil mengacak rambut kemerahan Kushina dan kembali menarik Kushina keluar rumah.
"Oi, oi... kau pikir aku apa, hah! Pelan-pelan..." geram Kushina. Minato tertawa dan melepaskan tangannya.
"Maaf, maaf. Ini pertama kalinya aku sangat antusias berjalan bersama perempuan!" Balas Minato dengan senyum sumingrah dan rona kemerahan diwajahnya. Kushina hanya diam, dia sendiri terkejut dan cukup malu mendengar jawaban minato. Tanpa sadar dia sudah menempatkan Minato dihatinya.
Kehangatan dan kenyaman yang diberikan pria itu kepadanya telah membuat Kushina jatuh hati hanya dalam waktu beberapa hari. Ralat, bahkan sejak pertama kali mendengar suara Minato, Kushina telah merasakan debaran di hatinya. Mengingat Minato menyerahkan hidupnya pada Kushina membuat gadis itu senang –tapi selalu berusaha ditutupinya.
Setelah mereka berjalan menuruni gunung, akhirnya mereka tiba di sebuah desa. Penduduknya cukup banyak dan telihat ramah bagi Minato. Bagi Kushina? Gadis itu merasa mereka menatapnya ngeri. Bahkan beberapa menjauh ketika didekati Kushina. Selama 13 tahun hidup dengan masyarakat, ini pertama kalinya Kushina keluar rumah dengan terang-terangan.
Dia dulu sering pergi keluar, tapi dengan menggunakan penyamaran. Maksudnya, dengan rambut merah dan mata violet yang sangat mencolok seperti ini akan membuatnya menjadi pusat perhatian dan akan dijauhi.
Semua orang tahu kalau klan Uzumaki yang terkenal dengan rambut merahnya sudah hampir punah, keturunan murni-nya hanya tersisa beberapa yang salah satunya merupakan siluman rubah. Karena selain orangtuanya, keluarga yang lain sudah berdarah campuran.
Apalagi sekarang hanya tinggal satu-satunya yang tersisa, yang memiliki siluman rubah ditubuhnya, yang membunuh semua keluarganya, yang terlah disegel selama 3 tahun –Kushina. Wajar saja kalau semua orang takut kepadanya.
Minato sendiri bukannya tidak sadar dengan tatapan itu, dia tahu tangan Kushina dingin sekali dan terkadang gemetar saat memperhatikan tatapan warga. Tapi dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu dia melihat seorang nenek datang menghampirinya.
"Nak, apakah kamu Shokuhin?" tanya nenek itu. Minato bingung mau menjawab apa, tapi dia segera mengiyakan pertanyaan sang nenek.
"Kau tidak bercanda, kan?" Tanya sang nenek lagi.
"Apa aku harus membuktikannya sekarang?" Balas minato. Dia meraih tangan Kushina dan menggenggamnya dengan erat, berusaha menenangkan Kushina yang dia tahu sekarang sedang gelisah.
"Apakah benar, Kushina-sama?" Tanya sang nenek kepada Kushina. Kushina menelan ludah lalu menganggukkan kepala.
"Kami saling mencintai, karenanya pria ini bisa melepaskan mantra pelindung yang dipasang kakek," jelas Kushina. Minato sendiri terkejut mendengar jawaban Kushina. Bagaimana Kushina tahu akan perasaannya? Tapi sebelum dia membiarkan khayalannya terlalu melambung, Kushina langsung mencubit pinggangnya dan menendang tumit Minato.
"Ka, kalau begitu...selamat, Kushina-hime! Syukurlah, biarkan saya mengantar anda," ujar sang nenek.
"Tidak usah," balas Kushina. Tapi sang nenek tetap keras kepala dan memaksa untuk mengikuti Kushina dan Minato.
"Stt, kau boleh percaya atau tidak," bisik Kushina kepada Minato, "Seluruh tanah di desa ini dan dua gunung disana adalah milik klan Uzumaki. Kalau kau memutuskan untuk menikahiku, itu berarti kau juga harus menjadi kepala desa, pak Minato."
Minato sontak kembali memerah wajahnya, antara malu dan juga kaget. Tanah seluas ini tidak sebanding dengan seluruh aset kekayaan keluarganya. Sementara itu, nenek tadi dengan semangat menyebarkan berita bahwa Kushina kini tidak lagi berbahaya.
-To Be Continiue -
Yo, Yo, Yoooo! Halooo halooo!
Dateng lagi~
Hahaha, sumpah, Mizutto ketawa ngakak waktu ada yang bilang ceritanya bakalan Discountinue di review. Duh, Mizutto langsung semangat, deh. Makasih, yaa...
Betewe, sebenarnya, cerita ini di komputer Mizutto sudah tamat. Tapi cuma males ngedit. Karena Typo-nya luar bisa. Awalnya, diketik di HP, terus karena jari Mizutto kegedeean, typo jadi tidak terkendali. Serius, loh...
Dichapter selanjutnya, bakalan ada character baru. Rival cinta Kushina. Jadi, ditunggu yaaak, lanjutannya.
Review ayo di review~! Review nya bakal bikin Mizutto makin semangat, deh. Makasih yang sudah review yaaak!
Promosi bentar:
Mizutto mengarang cerita Fantasy lainnya di fandom NaruHina dengan Judul: Special Police Staff. Ayo dibaca yaaa, heheehe
