-flashback-Tahun1395, pedalaman hutan belantara bagian selatan.

Dari sejauh mata memandang hanya ada pepohonan tua yang daunnya lebat serta dahan pohon yang kuat dan besar jika di lihat dengan mata manusia biasa. Tapi tidak dengan bangsa-bangsa yang tinggal di dalam hutan tersebut.

Vampire, Werewolves, Dryad atau peri hutan, Elf, Nymph, Dracula dan yang lainnya. Setiap bangsa dihutan tersebut memiliki portal-portal atau pintu masuk yang berbeda-beda untuk setiap bangsa mereka. Dan hanya makhluk mitologi seperti merekalah yang bisa melihat portal tersebut.

Ya, manusia meyakinkan bahwa mereka adalah makhluk mitologi yang tidak benar dan tidak ada keberadaannya dimuka bumi ini. Tapi itu hanya penilaian orang-orang yang tidak percaya akan hal-hal seperti itu.

Kembali ke dalam hutan belantara bagian seletan ini, tidak hanya makhluk yang berwujud setengah manusia setengah binatang, Unicorn, Pegasus, grifin dan binatang lain pun bahakan menempati hutan tersebut di bagian jauh dalam hutam tersebut. Hidupnya tersembunyi, bahkan tidak ada manusia yang berani memasuki area hutan ini.

.

.

.

.

*Love ? (사랑 ?)*

.

.

.

.

"Hei! Syunha, mau pergi ke mana kau ?" Seseorang berteriak memanggil nama tersebut.

"Oh! Valentine, aku ingin mengunjungi sepupuku. Ada apa ? Kau mencariku ?" Tanya Syunha pada Valentine.

Perempuan berambut merah panjang itu melonjak senang,

"Park Jimin kah ? Kyaaa~ boleh aku ikut ? Aku ingin melihat wajah tampannya, boleh ya Syunha ?" Riang Valentine.

"Eihh kau ini, dia sudah menjadi milik orang lain tahu, jangan kegenitan dengannya, kalau Justin tahu kelakuanmu seperti ini, habis lah dirimu Val."

Valentine hanya memanyunkan bibirnya karena kesal,

"Aku tahu kalau dia sudah punya pasangan, aku kan hanya kangen dengannya. Sudah lama tidak bertemu dengannya, terakhir bertemu saat kita pelatihan kan ?" Valentine masih mempertahankan posenya dengan bibir bawah yang melengkung dan sedikit maju.

"Ya, kau benar juga Val. Tapi aku tidak berani jamin kalau kau sempat melakukan hal-hal yang 'aneh' mungkin saja kau akan pulang dengan bagian tubuhmu ada yang hilang." Setelah mengatakan kalimat itu Syunha terkekeh melihat ekspresi Valentine.

"Yang benar saja, sebegitu protektifnya kah sang pangeran kerajaan kita ? Aigoo~ seram sekali." Valentine menggelengksn kepalanya lucu.

"Sudah, ayo pergi. Sebelum aku di cincang oleh Jimin oppa." Ajak Syunha.

"Baby, ayolah jangan ngambek, Syunha pasti akan datang sebentar lagi." Jimin terus mengikuti langkah seseorang yang di panggilnya 'baby' tadi.

"Sedari tadi kau hanya bilang sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar lagi! Aku bosan menunggu, kau tahu hal itu." Kesalnya.

"Aku janji, kali ini dia aka-

"Maaf aku terlambat oppa, saat di perjalanan aku bertemu Valentine dan dia ingin ikut kesini bersamaku. Sekali lagi maafkan aku oppa." Syunha pun akhirnya datang dan itu membuat hati Jimin sedikit lega, ya hanya sedikit.

Karena ia tahu orang kesayangannya itu tidak terlalu menyukai Valentine. Yeoja manis dan baik tapi sedikit genit. Jimin melirik 'teman hidup' tercintanya itu melalui ekor matanya, takut-takut ia akan mengamuk.

Sayangnya ia hanya mendapat tatapan datar dan tajam dari 'teman hidup'nya itu.

"Syunha, mengapa kau membawa anak itu ikut bersamamu, sudah tahu pangeran itu tidak terlalu menyukainya, bisa mati aku kalau dia mengamuk." Jimin memberikan peringatan melalui telepatinya dengan Syunha.

"Mau bagaimana lagi dia memaksaku untuk ikut bersamaku, dia bilang ingin bertemu deng-

Ucapan Syunha terputus saat mendengar dentingan sepatu yang menjauh dan bergema di ruangan sunyi itu. Jimin maupun Valentine menoleh kearah sumber suara yang ternyata suara dari sepatu sang pangeran, 'teman hidup' Jimin yang mulai menjauh, pergi dari ruangan itu.

Melihat kepergiannya itu, Jimin pun berlari mengejarnya. "Hyung, jangan ngambek dong." Ujar Jimin sedikit keras karena jarak dirinya lumayan jauh dengan sang pangeran.

Setelah kepergian Jimin dan pangeran, Syunha mengalihkan tatapannya kepada Valentine.

"See that ? Apa aku bilang. Haduh kalau sudah seperti ini aku tidak tahu bagaimana membujuk oppa-ku itu. Sebaiknya kita kembali sekarang, aku akan mencoba berbicara pada oppa-ku nanti."

"Maafkan aku Syunha, aku tidak tahu kalau reaksinya akan seperti itu. Pangeran sangat dingin, itu mengerikan." Ujar Valentine.

"Jangan berbicara sembarangan pangeran bisa mendengarmu tahu."

Valentine mengerucutkan bibirnya lucu.

"Mian." Ujarnya

Syunha merasa tidak tega, akhirnya ia mengajak Valentine keluar dari istana dan kembali ke rumah mereka.

"Sayang, hei!. Berhentilah merajuk, kau ini kekanakan sekali sih."

Mendengar ucapan itu dengan tiba-tiba sang pangeran berhenti, mau tidak mau Jimin juga mengikutinya berhenti melangkah.

"Tsk... kekanakan ya ?" Sang pangeran menaikan salah satu sudut bibirnya, menatap kosong lorong yang sedang ia dan Jimin lalui.

"Bu-bukan begitu ma-maksudku...

"Jangan mencariku lagi, untuk saat ini lebih baik kita tidak usah bertemu."

"Tap-tapi sayang.. baby.. Yoongi.. yak!! Mau kemana kau.."

Sang pangeran atau sekarang kita bisa memanggilnya Yoongi karena memang itulah nama sang pangeran. Yoongi tidak menggubris teriakan Jimin ia malah ber-teleportasi, menghidar dari Jimin-nya.

Jimin berhenti, "Dasar Jimin bodoh! Sudah tahu dirinya 'mood swing' kenapa harus mengeluarkan kata-kata itu di depannya." Saking frustasinya ia sampai tidak sadar kalau ia sudah membuat istana milik Yoongi itu membeku.

"PARK JIMIN KAU MEMBEKUKAN ISTANAKU BODOH!, CEPAT KEMBALIKAN KEADAANNYA SEPERTI SEMULA." Suara Yoongi menggema di pikirannya, seketika itu Jimin tersadar kemudian menarik kembali kekuatannya yang tidak sengaja keluar itu.

"Aigoo, bikin kaget saja...

"Yoongi hyung, ayolah jangan marah terus, kau dimana sekarang ?"

"Sudah aku bilang jangan mencariku, kau ini kenapa sih Jim ?"

"Hyung, jangan seperti itu. Kuperingatkan jangan keluar istana. Mereka sedang mengincarmu, dan dalam keadaanmu yang sekarang, bagaimana bisa kau mengendalikan kekuatanmu, tolong dengarkan aku kali ini."

"Diamlah, aku memang sedang di luar-

"HYUNG!"

"PARK, kau bisa diam tidak. Kepalaku serasa ingin pecah."

"Aku sudah bilang jangan keluar istana! Kau paham tidak apa arti kalimat JANGAN KELUAR DARI ISTANA, hah! Kau sedang hamil, jangan membuatku khawatir." Saat mengatakan kalimatnya Jimin mencoba melacak keberadaan Yoongi. Ia sudah berada di luar istana dan sekarang ia harus mencari Yoongi sampai ketemu.

"Park, berhentilah bersikap overprotektif padaku. Kau mem- aargh..."

Jimin membelalakkan matanya mendengar jeritan Yoongi, ia mempercepat larinya mecari sumber suara Yoongi.

"A-akhh, jangan sekarang...earrggh.. astaga ini sakit sekali." Yoongi terduduk sambil meremas perutnya yang terasa ingin disobek dari dalam.

"Perisai..aku harus membuat perisai..haah.. harus." Dan seketika setelah memejamkan matanya sejenak, perisai tak berwarna alias bening mengelilingi sekitar tempat dirinya terduduk, tebal dan kokoh.

Tidak ada yang bisa memecahkan perisainya meskipun itu Jimin sekalipun. Hanya izin dari dirinyalah yang mampu membuat perisai itu pecah.

"Arghh... jika ini memang waktuku...arghh.. baiklah.. aku siap." Yoongi terus meringis saat rasa sakitnya makin menjadi, ia sampai terbaring menyamping karena mencoba menahan rasa sakitnya.

"Sial, aku benar-benar terkena mantra biadab itu..ssshh...

"Hyunji-ah, kau tidak sabar bertemu appa-mu ne ?" Tanya Yoongi. Ia semakin menjerit kesakitan saat merasakan perutnya mulai terkoyak perlahan.

"Pangeran!, pangeran!.. omo! Jimin-ah, pangeran di sana. Cepatlah." Jerit Minjun, hyung-nya Jimin sambil tangannya mengarahkan ke tempat Yoongi berada.

Semua penjaga, pelayan, dayang bahkan sahabat-sahabat Jimin dan Yoongi pun datang membantu mencari Yoongi-nya.

"Tidak..tidak mungkin...Yoongi hyung." Jimin melesat menuju posisi Yoongi yang mulai memancarkan sinar kuning kemeasan, tapi sayangnya ia tertahan karena perisai yang Yoongi buat.

Buukk!

Buukk!

Jimin terus memukuli perisai itu, tetapi nihil, tidak ada perubahan sama sekali. "Hyung..Yoongi hyung, kumohon jangan tinggalkan aku" ucap Jimin lirih, ia metatap seseorang lebih tepatnya 'bayi' yang berada di atas perut Yoongi dengan lumuran darah.

Yoongi tersenyum tipis menatap Jimin sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Yoonji-bayi- yang berada di atas tubuhnya kini.

"Kau lihat Hyunji ? Itu appa-mu sayang...haah.." seakan tercekik karena kehabisan nafas, Yoongi kembali melirik Jimin. Setelahnya, Yoongi kemudian mematahkan mantra perisainya membuat perisai itu pecah seketika. Dengan kesempatan itu Jimin melesat kearah Yoongi, menopang kepala Yoongi ke atas pahanya.

"Seharusnya aku memberitahukan...haah... hal serius ini padamu dulu...aku terkena matra para vampire keparat itu saat keluar istana...dan...dan hal ini yang membuat...haah...membuatku bisa kehilangan nyawaku saat melahirkan dirinya..." yoongi melirik kembali anakknya bersama Jimin. Tubuhnya kaku, ia tidak bisa merasakan keberadaan tubuhnya, mati rasa.

"Ap-apa maksudmu baby ? Aku tidak mengerti. Mantra ? Mantra apa ?" Jimin berucap terbata.

"Ji-Jimin...aku sudah tidak kuat lagi...maafkan aku sayang..aku akan selalu mencintaimu...selamat tinggal." Dengan kalimat terakhir itu Yoongi menutup matanya.

"Yo-Yoongi hyung, jangan bercanda. Hyung! Adwae!!!" Teriak jimin saat melihat teman hidupnya menutup mata.

"Jim, semoga di kehidupan selanjutnya kita akan bertemu kembali. Jangan lupakan aku, rawat anak kita dengan baik. Aku mencintaimu, saranghae Park Jimin." Ucapan Yoongi terngiang di kepalanya, membuat dirinya terdiam sesaat.

Setetes air mata menuruni pelupuk matanya, ini pertama kalinya Jimin menangis kembali, setelah sekian lamanya ia tidak pernah menangis. Ia tidak kuasa melihat seseorang yang berharga dan sangat ia cintai pergi dari kehidupannya, bukan sebentar tapi selamanya.

-end of flashback-

"Appa, wae ? Kenapa melamun ? Memikirkan sesuatu ?" Tanya Hyunji.

"E-eoh... mian Hyunji-ah, appa melamun lagi ne ?" Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa canggung. Hyunji hanya tersenyum manis pada Jimin.

"Hyunji-ah, senyumanmu benar-benar mirip eomma-mu." Ucap Jimin dalam hati.

"Appa belum menjawab pertanyaanku, kenapa appa melamun ? Memikirkan sesuatu ?" Hyunji memiringkan kepalanya lucu sambil menatap ayahnya itu.

"Tadi, appa sepertinya melihat eomma-mu..yah, eomma-mu. Sangat mirip, benar-benar sangat mirip-

"BENARKAH ?" Teriak Hyunji heboh, Jimin meringis mendengar lengkingan putri kesayangannya itu.

"Yak!! Appa belum selesai bicara, kenapa malah berteriak eo ? Aishh..kau benar-benar mengambil sifat eomma-mu yah.. Hyunji."

Yang di ceramahi hanya memberikan senyuman manisnya dengan Vsign andalannya. "Mian, appa." Ucapnya polos.

"Eihh..umurmu sudah 425 tahun, masih saja seperti anak kecil, ehh? Tapi kalau dipikir-pikir memang masih kecil ya? Ahh molla!" Jimin menggelengkan kepalanya.

"Ah! Hyunji-ah besok mau ikut appa ke kampus ? Umurmukan kurang lebih sama dengan Jungkook, appa akan mendaftarkanmu ke jurusan yang sama dengan kita semua, seni. Bagaimana ?" Tanya Jimin.

"Jadi mahasiswi lagi ? Ah~ appa~ aku tidak mau. Aku sudah ratusan kali masuk dan lulus. Aigoo, aku tidak mau sekolah lagi appa!" Keluh Hyunji.

"Eihh, itu kan jurusan yang lain, kali ini kau harus masuk jurusan seni titik, tidak ada tapi-tapian. Eomma-mu juga di jurusan seni tahu. Hanya sementara, bagaimana ?" Tawar Jimin.

"Bisa bertemu eomma ? Emm..baiklah, tapi janji hanya untuk sementara. Setelah itu aku tidak akan mau kembali ke tempat yang namanya sekolah atau universitas lagi." Mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap di depan Jimin.

Jimin tersenyum kemudian,

"Kemarilah, sudah lama appa tidak memelukmu." Merentangkan tangannya menunggu Hyunji-anaknya- membenamkan tubuh kecilnya di dekapan ayahnya, memeluknya erat seakan tidak ingin merasa kehilangan lagi.

"Appa, aku sangat ingin melihat eomma, maksudku secara langsung. Kita hanya memiliki lukisannya saja, aku juga ingin merasakan pelukan eomma." Lirih Hyunji.

"Sabar ne ? Kalau di pikir-pikir, eomma-mu tidak seperti dulu. Dia bahkan tidak tahu jati dirinya yang sebenarnya, kekuatannya masih tersegel rapat. Tapi appa bisa mengenalinya dari hawa hangat tubuh yang di pancarkan eomma-mu. Dan..yah.. warna mata miliknya masih seperti dulu." Jimin menerawang, mengingat apa yang terjadi tempo hari saat mereka bertemu kembali untuk pertama kalinya.

"Appa.." panggil Hyunji.

"Eoh, Ne ?" Jawab Jimin.

"Semoga eomma bisa mengingat kita lagi." Ujar Hyunji pelan.

"Ne, semoga saja." Sahut Jimin. "Kuharap juga begitu." Lanjutnya dalam hati.

.

.

.

.

* LOVE ? (사랑 ?)*

.

.

.

.

Pagi itu, entah kenapa terasa sepi. Awan begitu mendung, kilat menggelegar tanpa suara, hanya cahaya kilatannya yang terlihat. Kegelisahan melanda, keringat mengucur deras dari pelipisnya. AC di ruang kamar tidur itu seperti tidak berfungsi untuknya, hanya hawa panas yang terasa mengelilingi tubuhnya.

"Yoongi jangan keluar dari istana sayang, eomma sudah peringatkanmu untuk tetap berada di dalam istana."

"Aku tidak keluar dari lingkup istana eomma, hanya keluar sebentar. Taman ?"

"Baiklah jangan keluar dari pembatas istana. Ingat Yoongi ? Jangan!."

"Ne eomma."

Pekikkan tertahan dengan suara kecil keluar dari bibirnya. Tidak biasanya ia seperti itu. Ini bukan mimpi baginya, lebih seperti kepingan memori yang pernah hilang tertelan entah kemana, kemudian timbul ke permukaan, menyelinap di sela sempit bagian ingatan mikiknya.

"Erraaghhh!" Tersentak bangun dengan teriakan. Dada yang naik turun, nafasnya terkuras.

"Yoongi, ada apa sayang ? Kau tidak apa-apa di dalam sana ?" Pekikan dari eomma-nya membuatnya mengalihan pandangannya ke pintu masuk kamarnya.

"Ani, aku tidak apa-apa eomma." Ujar Yoongi, menjawab pertanyaan sang ibu.

"Kalau begitu mandi dan berpakaianlah yang rapi, turun dan makan bersama kami. Hari ini kuliah kan ?" Tanya eomma-nya.

"Ne eomma, tunggu aku di bawah." Jawab Yoongi, tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki yang menjauh.

Yoongi memagang kepalnya yang terasa berdenyut tiba-tiba.

"Penglihatan apa itu ? Ini bukan mimpi. Kenapa hal seperti itu muncul dalam tidurku ?" Bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian menggeleng kuat. Ia turun dari ranjangnya mengabil handuk di lemarinya.

"Haah, melelahkan sekali. Bukan hanya usiaku yang menua tapi sepertinya tubuhku juga ikut menua." Keluh Yoongi.

Setelah menutup pintu kamar mandinya ia berjalan melewati kaca yang ada di kamar mandinya. Awalnya Yoongi biasa saja melewatinya tetapi tiba-tiba ia berhenti. Berbalik kembali melewati kaca tersebut, saat melihat ke kaca betapa terkejutnya dia melihat pantulan dirinya yang bergitu berbeda. Ia sampai terduduk di lantai kamar mandi tersebut, jantungnya berdetak sangat cepat.

"M-mwoya ?" Ucapnya linglung.

"Hei, tidak perlu terkejut seperti itu, santai saja Min Yoongi." Sosok yang berada di pantulan kaca tersebut berbicara membuat mata Yoongi terbelalak kaget. Yoongi pun berdiri, melirik kembali pantulan dirinya di kaca tersebut.

"M-mwo ? Kau..kau siapa ? Kenapa mirip sekali denganku ?" Tanya Yoongi terbata.

"Aku ? Aku adalah dirimu, dirimu adalah aku. Apa kau mengerti Min Yoongi ?" Sosok itu tersemyum manis pada Yoongi.

"Maksudmu apa ? Aku dirimu ?" Bingung Yoongi.

"Ya, aku dirimu...dimasa lalu, tepatnya 425 tahun yang lalu." Sosok itu berucap lirih.

"Tapi, kita sangat berbeda. Bagaimana bisa kau bilang aku itu dirimu ? 425 tahun yang lalu ? Aku bahkan baru berusia 24 tahun. Bagaimana mungkin hal itu terjadi ?"

"Yoongi, dengar. Kau adalah reinkarnasi pangeran dari kerajaan Vestalla, yah.. itu adalah diriku." Jawab sosok itu santai.

"Kekuatanku tersegel di dalam tubuhmu, aku bisa merasakannya. Yoongi-ah kau harus membuka segel itu." Ucap sosok itu serius.

"Ba-bagaimana caranya ?" Tanya Yoongi.

"Temui seseorang yang bernama Park Jimin, dia akan membantumu membuka segel itu." Ucapnya.

"Tidak, tidak. Aku tidak mau, maaf aku tidak bisa." Yoongi berlalu, menghindar dari sosok itu.

"Tapi Yoongi...Yoongi-ah!" Sosok itu berteriak, Yoongi pura-pura tidak mendengarnya, ia merendam dirinya hingga seluruh tubuhnya terendam air dalam bathup tersebut.

Wajah sosok itu mengeras, memperlihatkan bahwa dirinya sungguh sangat kesal.

"Hah!, aigoo.. anak itu susah sekali diajak kompromi. Sepertinya aku harus menemui Jimin sekarang, sudah saatnya aku keluar."

"Hei, Yoongi. Apakah kau sudah sehat ? Bagaimana dengan kakimu ?" Pertanyaan dari Seokjin mengejutkan Yoongi, sepertinya ia melamun.

"E-eoh. Su-sudah hyung, kakiku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir." Yoongi tersenyum kecil.

Seokjin mengernyitkan keningnya. "Ada yang tidak beres dengannya." Ujar Seokjin dalam Hati.

"Sebenarnya ada apa ? Ada yang aneh hari ini denganmu Yoongi."

"Aniyeyo, tidak ada apa-apa hyung, sungguh." Yoongi membuat Vsign disebelah pipinya.

"Tsk! Yoongi-ah, kau tidak bisa membohongiku. Kau tahu itu eo?" Seokjin berucap dengan kesal.

"A-aah! Hyung, sepertinya aku harus pergi, bye." Yoongi dengan cepat berdiri dari duduknya, berjalan cepat menghindar dari tatapan Seokjin.

Sayangnya baru beberapa langkah dirinya menjauh dari Seokjin, entah linglung atau dirinya yang kurang memperhatikan jalan. Yoongi menabrak dada seseorang dengan keras dan itu membuatnya hampir mencium lantai kalau saja orang itu tidak cepat menarik tangan Yoongi.

"Yoongi baby, temani aku berlatih ya sayang ?"

"Aakhh..." pekik Yoongi, tubuhnya langsung merosot jatuh dengan sebelah tangannya yang masih bertautan dengan orang itu.

"Yoongi hyung, gwenchanhayo ?" Ujar orang itu yang ternyata adalah Jimin.

Dengan cepat Yoongi melepaskan tautan tangannya.

"Jangan menyentuhku!" Seru Yoongi. Jimin hanya terdiam di tempatnya.

"A-ahkk, apa lagi ini." Yoongi berucap dengan nada lirih dengan tangan yang memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Matanya terpejam rapat.

"Temui seseorang yang bernama Park Jimin, dia akan membantumu membuka segel itu."

Kata-kata sosok yang tadi pagi bertemu pandang dengannya di cermin kamar mandi kembali terngiang jelas di kepalanya. Mata yang semula terpejam tiba-tiba terbuka lebar dengan kilatan sesaat di manik matanya.

"Warna mata pangeran! Berarti ini memang benar-benar dirimu hyung ?" Pekik Jimin dalam hati. Ia sangat terkejut saat kilatan mata Yoongi dengan tiba-tiba berwarna perpaduan antara merah darah dan biru laut, hanya pangeranlah yang memiliki warna mata tersebut.

Jimin kemudian berjongkok berhadapan dengan Yoongi, ia menarik lengan Yoongi tetapi langsung di tepis oleh Yoongi.

"Sudah aku bilang jangan menyentuhku." Yoongi menatap tajam Jimin yang berada di hadapannya. Seakan tidak perduli, Jimin kembali meraih lengan Yoongi dengan satu tangannya yang mengelilingi pinggang Yoongi, menariknya agar bisa berdiri. Yoongi akhirnya pasrah saat ditarik paksa oleh Jimin untuk berdiri.

"Aku hanya membantumu." Ujar Jimin.

"Wow Jim siapa yang kau bawa bersamamu ? Sangat cantik, adikmu ?" Seseorang bertanya, Jimin dan Yoongi mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang ternyata adalah Hoseok. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Hosoek.

Yoongi kembali memekik sakit pada kepalanya sesaat setelah menatap mata seseorang yang disebut cantik oleh Hosoek. Jimin tersenyum kecil kemudian ia memberi isyarat untuk mendekat. "Eomma!" Jimin berucap dengan telepatinya ke seseorang itu-Hyunji-. Hyunji pun berlari dari tempatnya semula, ia awalnya hanya memperhatikan appa-nya, Jimin. Yang sedang berinteraksi dengan seseorang, dengan kemungkinan anggapannya sesosok ibu untuknya.

"Eomma ?" Pekik Hyunji keras sambari memeluk Yoongi yang syok atas panggilan seseorang yang sedang memeluknya itu.

"Eo-eomma ?" Ujarnya tak percaya.

Seokjin, Hoseok yang berada tidak jauh dari mereka hanya tersenyum melihatnya. Ya, mereka tahu Yoongi. Mereka tahu cerita Yoongi dan Jimin, karena mereka semua ada di saat kejadian itu terjadi. Jungkook, Taehyung, dan Namjoon juga tahu. Mereka hanya tidak bisa memberitahukan hal itu pada Yoongi, karena mereka tahu, sang pangeran sendirilah yang akan mendatangi reinkarnasi dirinya di masa depan. And see now ? They meet again.

TBC