Main Cast : KyuMin
Warning : Yaoi ; OOC ; Dont like dont read! ; typo everywhere
Sungmin adalah seorang gay. Ia berharap bisa menikah dan hidup bersama lelaki yang mencintainya, tapi ia tau bahwa ibu tidak akan senang, jadi ia memutuskan untuk mengikuti siklus kehidupan manusia normal seperti yang orang-orang putuskan. Tapi semua berubah saat ibu kembali, mengatakan akan menikah lagi dan mengajaknya hidup bersama.
.
.
.
.
.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
Ia kira semua sudah berakhir pada 1 tahun yang lalu. Ketika ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Melupakan kejadian getir yang berkali lipat dan seperti tak pernah bosan menghampiri hidupnya.
Menjadi seorang pelacur adalah satu-satunya takdir terkeji yang harus ia hadapi. Ia pikir itu semua mutlak dan ia benar-benar merasa harus melakukannya—jika tidak ingin terombang-ambing oleh kerasnya kehidupan.
Memasang tatapan seduktif yang menjijikan setiap kali berperan saat memulai pekerjaannya dan bertingkah selayaknya manusia paling bahagia di dunia, meskipun ia sendiri yakin bahwa sosoknya bahkan tidak lebih baik dari bangkai tikus yang sekarat di jalan raya.
Apa yang bisa diharapkan dari seorang wanita yang menelantarkan anak lelaki serta mertua yang sudah tua renta di rumah pada saat musim dingin. Wanita yang dengan segala kecerobohan yang disengaja, mejajakan kesucian untuk kaum adam menjijikan di luaran. Bahkan saat telah berulang kali melakukannya, gambaran segala tentang upacara suci yang paling mengharukan bersama sang mantan pendamping hidup masih saja terngiang dalam benaknya. Dan jawabannya? Tidak ada.
Tapi seluruhnya berubah dan ia cukup berterima kasih kepada tuhan. Semua memori menjijikan itu adalah satu tahun yang lalu. Dan hari ini adalah satu tahun yang baru.
Tapi ia bahkan tidak pernah menduga bahwa hari ini akan terjadi. Ketika seorang anak lelaki mencari ibunya yang telah lama menghilang hampir 3 tahun. dia pikir Sungmin—ia masih sangat mengingat jelas nama putranya, walaupun banyak lebih meragukan apa nama marganya, sudah mati karena kelaparan atau kecelekaan atau—apapun itu.
"I-ibu?"
Wanita itu tediam. Pada kenyataannya, ia tak mungkin dan tak akan pernah mungkin bisa melupakan suara yang berdengung dari seberang sana. Suara lama yang sangat terkenang, seperti sebuah alunan klasik kegemarannya. Selalu terngiang dan terbayang di malam-malam di tidurnya.
Dan kenyataan lainnya adalah tidak ada orang lain yang memanggilnya dengan panggilan semulia itu selain anak lelakinya sendiri, Sungmin.
"I-ibu? Ini aku—Sungmin. "
Ia ingin sekali bertanya, Sungmin? Sungmin yang mana? Bukan Sungmin putraku yang kukira sudah mati, kan?
Itu bukan pemikiran yang bagus, lagi pula dia bukan lagi orang bodoh.
"Sungmin—Ada apa?" Kalimat dingin itulah yang hanya terlontar dari mulutnya.
"I-ibu dimana? Apa kabar? Dan... ah—maksudku, bi-bisakah kita bertemu?"
"Aku baik-baik saja dan maaf, aku sedang sibuk. Nanti kuhubungi lagi. Sampai jumpa."
"Tapi—"
Dengan gerakan tergesa, ia segera memutus sambungan sepihak. Merasa tak mampu lagi untuk berlama-lama mendengar suara malaikat kecil sialannya itu. Bohong jika seorang ibu sepertinya berkata tak pernah ada perasaan merindu jauh dilubuk hatinya, bohong jika seorang ibu sepertinya berkata bahwa sudah tidak perduli dengan keadaan dan apapun yang menyangkut sang buah hati.
Ini bukan waktu yang tepat. Setidaknya janganlah menghadirkan sosok itu pada saat ia tengah sibuk menyiapkan pesta pernikahan dan mengukuhkan hati agar benar-benar siap untuk melukis kehidupan baru serta benar-benar akan melenyapkan kenangan yang bahkan tidak sudi untuk ia ingat kembali.
.
.
.
.
.
Step Summer —
.
.
.
.
.
Sungmin percaya bahwa setiap orang tua pasti akan menyayangi anaknya. Sebanyak apapun alasan yang mengharuskan mereka untuk membenci satu sama lain, tetap tidak akan menghalangi perasaan suci itu. Itu sudah mutlak dan bagaikan sebuah anugerah tetap yang diberikan oleh tuhan.
Sambil melangkah di tepian jalan raya, sesekali menendang kerikil kecil yang yang tampak dihadapannya, Sungmin kembali mengingat percakapan singkatnya dengan sang ibu. Setelah tiga tahun berlalu, dan ternyata rasanya sangat menyenangkan. Suara ibunya masih sama, terdengar dingin dan lembut serta penuh kasih sayang disaat bersamaan. Terlebih, ibu bilang bahwa akan menghubunginya kembali nanti (walaupun Sungmin tidak tau kapan). tapi satu kalimat sederhana itu cukup membuat perasaan dihatinya membuncah tak menentu.
Sungmin segera berlari saat melihat gang rumahnya yang tampak di ujung jalan sana, Sungmin ingin cepat-cepat tiba di rumah dan sudah tidak sabar untuk menceritakan kejadian hari ini pada nenek. Dari mulai ulangan sejarah yang menjengkelkan sampai percakapannya dengan ibu di telepon tadi.
Tampak bibi Song yang berdiri tengah menjemur pakaian di halaman rumahnya.
"Sungmin, sudah pulang?" Bibi Song menghentikan sejenak pekerjaannya dan beralih menatap Sungmin sambil memperlihatkan senyum keibuannya. Itu tampak cantik di mata Sungmin, tapi Sungmin memutuskan senyum ibunya lebih-lebih cantik dibanding siapapun.
"Dimana nenek? Ada didalam kan?" Sambil membuka sepatu dengan gerakan tergesa dan menyimpannya di kolong meja, Sungmin tidak menjawab pertanyaan bibi Song. Ia yakin itu tidak sopan, ia berjanji akan bersedia dihukum lain kali. Ia sudah tidak sabar bertemu neneknya.
"Ada di dalam, ia baru saja menghabiskan buburnya."
"Baiklah—terimakasih sudah menjemurkan pakaian ku, aku berjanji akan membelikanmu kue beras nanti." Setelah mengucapkan itu, Sungmin segera masuk kedalam.
Sungmin memasuki kamar nenek tanpa mengganti seragamnya terlebih dulu, ia hanya meletakkan tas di ruang tamu. Nenek terlihat tengah duduk di kursi roda yang menghadap langsung ke arah jendela yang menghadirkan pemandangan halaman depan rumah.
Sungmin melangkah pelan menghampiri nenek yang duduk membelekangi pintu. Ia segera mendudukkan diri di kasur. "Hey, aku sudah pulang."
Nenek hanya diam. Sungmin sudah terbiasa dengan semua itu. Nenek hanya akan membuka suara jika sedang berbincang tentang pizza ataupun makanan lezat lainnya, tapi Sungmin tau wanita paruh baya di hadapannya mendegar segala perkataannya sekalipun matanya terpejam damai.
"Tadi aku menelpon ibu—jangan memarahiku ya, aku hanya terlalu merindukannya."
"Aku tidak pernah menduga bahwa nomor yang kusimpan itu masih dapat dihubungi, hehehe. Untung aku menyimpannya." Sungmin masih rela berceloteh menuangkan segala isi hatinya. Matanya menerawang ke depan, mengamati rupa halaman depan rumahnya.
"Kau merindukannya tidak?"
.
.
.
Hening. Hanya ada suara terpaan angin yang berhembus melalui celah gorden jendela yang terbuka.
.
.
.
Sungmin beralih menatap nenek yang masih setia terpejam. "Nek, jawab aku. Kau merindukan ibu atau tidak?"
Sungmin tidak mengerti kenapa hari ini ia ingin sekali mendengar nenek bersuara tanpa harus berbincang tentang makanan-makanan enak seperti biasanya.
Dengan rasa penasaran yang membumbung, Sungmin segera melangkah agar lebih mendekat dengan sosok wanita itu. Ia bersimpuh di hadapannya seperti biasa, matanya memandang lembut kepada wajah yang telah menua itu. Sungmin mulai menggenggam kedua tangannya dengan hati-hati—gerakan yang masih sama seperti biasa.
Sungmin tertegun ketika merasakan hawa dingin menjalar dari kedua tangan yang digenggamnya. Perlu diingat bahwa ini masih siang hari di bulan Juni dan bulan Juli merupakan pertengahan musim panas. Udara di luar tidak dingin. Sama sekali.
Sungmin meraskan bahwa air matanya bisa kapan saja menyeruak membasahi wajahnya.
"Nenek, kau tidak mau pizza? Ayo beli pizza..."
Beralih mengeratkan syal yang terlilit di lehernya dan memeriksa seluruh permukaan tubuh nenek, air mata Sungmin makin mendesak keluar untuk membanjiri pipinya. "Jangan terus menerus tidur, kepalamu bisa pusing—ayo kita beli pizza!"
Sungmin tidak bisa berpikir lebih jernih lagi saat tangannya meraba pergelangan tangan wanita di hadapannya dan tak lagi menemukan denyut kehidupan dimana-mana.
"Hiks—bagaimana sih, katanya kau suka pizza tapi malah tidak mau bangun!"
Sungmin beralih memeluk nenek dengan erat, menenggelamkan wajah wanita paruh baya itu tepat didadanya. ia sungguh tidak mau percaya, tapi semuanya seolah mengharuskannya untuk percaya.
"Ayo cepat bangun, ish! Ayu kita bertemu ibu lalu beli pizza—hiks."
Tapi semuanya terasa sia-sia.
Dan terakhir, Sungmin mengecup kening wanita yang paling ia sayangi itu lalu berlalu keluar untuk memanggil bibi Song.
"Yasudah, tidur yang nyenyak ya. Setelah kau bangun—hiks—aku akan mebelikanmu pizza. Selamat tidur..."
.
.
.
.
.
Step Summer —
.
.
.
.
.
Sudah sejak pagi tadi, perut Sungmin belum terisi apapun. Bukan karena persediaan telur yang menipis, bukan—bahkan Bibi Song telah menyiapkan semangkuk nasi, ikan dan kimchi yang dibiarkan tak tersentuh di meja makan. Rasanya ingin sekali terus menerus menangis tapi Sungmin tidak ingin membuat bibi Song turut bersedih ataupun khawatir, jadi Sungmin memutuskan untuk memakan setengahnya. Ketika lidahnya mengecap rasa dari ikan goreng, entah mengapa rasa ikan dan telur sama saja, hambar.
Sungmin anak lelaki dan lelaki tidak boleh menangis, itu semestinya. Tapi Sungmin tidak lagi bisa menahan air matanya sejak pagi tadi. Nenek sudah tidak ada. Nenek sudah meninggal dan itu berarti tidak ada lagi yang menemaninya—melupakan fakta bahwa Bibi Song pasti bersedia merawatnya.
Segala pikiran-pikiran tentang bagaimana nanti jika ia kesepian? Siapa nanti yang akan dibelikannya pizza? Siapa nanti yang akan dijadikannya sebagai tempat berbagi? Segera muncul berkeliaran dengan jelas di benak Sungmin.
Lee Sungmin. 16 tahun. Orang tua yang entah menghilang entah kemana. Masih harus sekolah dan tentunya butuh makan, minum dan segala kebutuhan lainnya.
"Bahkan aku belum bisa membelikanmu pizza, kenapa tidak tunggu sebentar lagi sih?" tatapannya seperti berbicara pada pigura yang berdiri indah di atas meja.
Sungmin sadar bahwa ia tidak bisa terus menerus mengandalkan keberadaan Bibi Song. Bibi Song sudah menjadi seorang janda sejak 4 tahun lalu dan mempunyai 3 anak yang masih belia, pekerjaannya tidak menentu. Terkadang Sungmin melihatnya tengah mencuci pakaian tiada henti, kadang juga berkebun dan Sungmin tau bahwa itu merupakan tantangan terbesar bagi wanita itu.
.
.
.
.
.
Ketika Hyukjae mengatakan bahwa nomor yang pernah Sungmin hubungi lewat ponselnya malah menghubunginya kembali dan itu telah terjadi berulang-ulang, Sungmin sontak terkejut saking senangnya. Sungmin tidak pernah meminjam ponsel Hyukjae untuk menghubungi orang lain selain Ibunya pekan lalu.
"Kau serius?!"
"Tentu saja, jelas-jelas ia bilang ia mencari Sungmin."
"Lalu kau bilang apa?"
"Ya—aku bilang saja bahwa aku ini hanya teman mu, waktu itu kau meminjam ponselku untuk menghubunginya."
Ingin sekali Sungmin menangis kelewat bahagia, ibu tidak berbohong soal akan menghubunginya lagi. Setelah 3 tahun berlalu, rasanya sangat mengharukan. Ternyata ibu masih menganggapnya dan tidak menutup kemungkinan untuk kembali. Setidaknya itulah yang memenuhi pikiran Sungmin, lagi pula nenek selalu mengajarkannya untuk berpikiran positif.
"Lalu dia bilang?"
"Dia akan menghubungi lagi nanti... Jadi itu suara ibu mu ya?"
Sungmin hanya mengangguk seraya memasang senyum manisnya.
"Tapi suaranya sedikit terdengar mengerikan, seperti ibu tiri. Rasanya dingin sekali, untung aku tidak membeku saat berbicara dengannya." Eunhyuk bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Ia tidak pernah menduga bahwa ibu dari temannya yang miskin tapi ramah ini mempunyai ibu yang 'kedengaran' mengerikan.
"Itu suara terlembut yang pernah ada di hidupku."
Step Summer —
Hari minggu siang, setelah pekerjaan mengantar susunya rampung, Sungmin dengan terburu-buru segera menuju ke sebuah kafe yang tak jauh dari sekolahnya. Sungmin merasakan dadanya berdebar hingga jantungnya terasa bisa kapan saja melompat dari tempatnya.
Duduk dengan tenang di salah satu kursi di kafe yang cukup mewah itu, ia belum pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya meskipun Hyukjae telah berulang kali mengajaknya. Sungmin pikir ia tidak punya cukup waktu dan uang untuk sekedar bermain di tempat seperti ini.
Sungmin telah menunggu sekitar dua puluh menit, sepuluh menit lagi akan menjadi setengah jam tapi senyum manisnya masih setia terpatri di wajahnya. Ibu mengatakan akan menemuinya disini tepat jam 2, tapi sekarang sudah jam 2 lebih dua puluh menit.
Sungmin yang mulai resah, segera menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kafe sebelum pandangannya benar-benar tertuju di arah pintu masuk. Sungmin percaya bahwa ibunya adalah wanita cantik, tapi ia tidak menyangka bahwa hanya dalam 3 tahun, wajah wanita yang mulai melangkah ke arahnya dan sekarang duduk dihadapannya benar-benar terlihat cerah.
Entah karena kulitnya yang putih bersih, kacamata hitam yang bertengger indah, tas jinjing putih yang kelihatan mahal atau dress ketat berwarna kuning yang mebuat sosok dihadapannya benar-benar terlihat berbeda. Bahkan ketika wanita itu mulai membuka kacamata hitamnya, Sungmin masih sulit percaya bahwa ia benar-benar duduk berhadapan dengan ibu.
"Ibu..."
Sungmin bukan mencoba memulai pembicaraan, kata itu meluncur begitu saja, seolah bentuk ungkapan kekagumannya pada wanita dihadapannya.
.
.
.
Wanita itu masih memandangi Sungmin dengan sejuta teka-teki yang tergambar dalam rautnya. Anak lelakinya ternyata sudah sebesar ini. Meskipun wajahnya tidak berubah sama sekali, anak lelaki paling manis yang pernah terlahir dari dalam rahimnya. Buah cinta bersama sang (mantan) suami.
"Apa kabar?"
Sungmin merasa ada beberapa hal yang hilang setelah 3 tahun berlalu. Tatapan kasih sayang itu seolah memudar dari mata ibu. "A-aku baik-baik saja. Ibu sendiri?"
"Seperti yang kau lihat." Jawabnya singkat. Ia bersumpah bahwa nada bicara yang terdengar angkuh ini bukan disengaja. Ia yang terlalu bodoh dan hanya tidak bisa—mungkin tidak mengerti, bagaimana cara merealisasikan bentuk kerinduannya pada sang putra.
Setelah memesan makanan dan minuman dan tak lama pelayan mengantar pesanan keduanya. Sungmin tidak menyangka bahwa ibunya memesankan pizza untuknya, ia jadi teringat nenek dan ingin menangis detik itu juga.
"Nenek meninggal, 2 minggu yang lalu." Sambil melahap potongan pizza yang dipotong kecil-kecil, Sungmin menjaga nada suaranya agar tidak terdengar aneh. Memalukan sekali jika ia menangis di hadapan ibu.
Ibu sempat tertegun sejenak, Sungmin memandang heran kearahnya.
"Oh begitukah?"
Sungmin mengangguk, "Apa ibu mau kuantarkan melihat pemakaman—"
"Tidak." Ibu buru-buru menjawab. Nada bicaranya terdengar makin tegas. Dan itu sangat aneh menurut Sungmin.
"Sungmin." Ibu meletakkan sendok serta garpunya diatas piring yang berisi steak yang hampir habis, beralih menatap Sungmin dengan pandangan yang lagi-lagi sulit dijabarkan.
Sungmin hanya menatapnya kembali dengan pandangan polosnya seperti biasa, baru kali ini ibu memanggilnya dengan nada seserius itu.
"Awal bulan depan aku akan menikah."
Mulutnya sedikit terbuka mendengar pengakuan ibu. Ibu akan menikah dan bukan berarti ia akan mendapat ayah baru? Ternyata ibunya telah menemukan pendamping hidup yang baru dan setidaknya itu tidak menjadi berita buruk.
"Begitukah? Aku—turut senang mendengarnya."
"Ya. Aku akan menikah dengan orang kaya raya yang punya banyak perusahaan dan tentunya uang...tidak seperti ayahmu."
Sungmin mencoba tertawa mendengarnya walaupun hatinya sakit. Ia tidak menyangka ibu bisa menghina suaminya sendiri di depan anak lelakinya. Sungmin mencoba meyakinkan bahwa ibu tak bersungguh-sungguh saat mengucapkannya. "A-apa? Ya—itu berita yang sangat baik."
"Ikutlah aku ke Seoul." Gumamnya lirih.
Sungmin mengangkat kepalanya, walaupun suara ibu terdengar lirih, tapi Sungmin masih bisa mendengarnya. Sungmin masih memandanginya, tidak berniat menjawab.
"Aku tau kau sudah tidak punya siapa-siapa setelah kematian wanita itu—"
"Wanita itu adalah mertuamu, bu."
"Aku tidak peduli." Ibu mengatakannya dengan nada bicara yang sangat mengganggu di telinga Sungmin. Nada bicaranya kedengaran angkuh dan tidak bersahabat. Sungmin sedikit banyak kecewa melihat perubahan drastis itu.
"Dengar Sungmin, setelah kupikir-pikir, membawamu ke Seoul dan mengajak mu tinggal bersamaku bukan sesuatu yang buruk. Bagaimanapun aku masih sadar bahwa kau putra ku."
Ini semua benar-benar diluar dugaan Sungmin. Ibu bahkan tidak meminta maaf karena telah meninggalkannya dan nenek selama 3 tahun, ibu memintanya untuk pergi ke Seoul dengan nada bicara yang sangat asing, sama sekali tidak terdengar seperti ajakan hidup bersama layaknya seorang ibu kepada anak lelakinya. Entah Sungmin merasa senang karena telah dipertemukan kembali pada sang ibu atau malah harus kecewa melihat banyak perubahan yang ada pada sosok itu.
Sungmin tidak mungkin menolak karena ia sendiri telah berpikir bahwa ia tidak punya siapapun lagi selain ibu. Jadi setelah Sungmin akhirnya bersedia, pembicaraan selesai dan Sungmin berangkat ke Seoul 3 hari setelahnya.
Step Summer —
Memasuki pertengahan bulan juni, udara kota Seoul terasa panas. Sungmin berpikir ini bahkan lebih panas dibanding di desanya dulu. Langit benar-benar terlihat cerah. Gedung-gedung pencakar langit terlihat menjulang tinggi dengan hebatnya. Ini adalah pertama kalinya Sungmin datang ke Seoul. Tidak perlu bertanya apakah ia senang atau tidak, Sungmin pikir ini terlalu hebat. Walaupun ibu tidak menjemputnya langsung ke desa dan malah menyuruh orang lain yang menjemputnya, bagi Sungmin itu bukan masalah.
Setelah makan siang di salah satu restoran mewah di Gangnam, orang yang diutus ibunya itu mengatakan akan segera mengantarnya untuk pulang. Sungmin tentu saja bingung dengan kata pulang.
"Pulang? Apa aku akan di antar kembali ke Busan?"
Pria itu tampak tersenyum sejenak, "Anda akan diantar ke apartement nyonya." Jawabnya sopan lalu kembali fokus menyetir.
Sungmin hanya menganggukan kepala tanda mengerti. Ia bukan tidak mendengar ketika pria dewasa didepannya memanggil ibu dengan sebutan nyonya seakan ibu benar-benar orang penting yang wajib dihormati. Sungmin mulai bingung dengan segala hal yang menyangkut ibunya setelah 3 tahun berlalu.
Sungmin merasa bahwa kecepatan mobil yang ditumpanginya mulai menurun dan benar-benar berhenti di kawasan apartement mewah, Sungmin tidak berbohong saat mengatakan kata mewah karena Sungmin pun harus mendongak tinggi-tinggi hanya untuk melihat lantai teratas bangunan tersebut. Setelah itu pria yang sedari tadi mendampinginya, menggiringnya masuk ke dalam bangunan itu.
Sungmin benar-benar tercengang ketika masuk kedalamnya. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya tentang pekerjaan ibu selama ini hingga dapat membeli apartement semewah dan sebesar ini. Ia tidak menyangka bahwa ibu telah menjadi orang yang benar-benar kaya.
"Selama ini nyonya tinggal disini sendiri." Pria itu berdiri sopan samping Sungmin yang masih mengagumi segala perabotan yang ada.
Mendengar itu, Sungmin segera mengalihkan pandangannya menghadap pria berjas hitam itu. "Sendiri?" Tanyanya tak yakin. Sungmin mulai membayangkan bagaimana kesepiannya ibu saat berada di apartement sebesar ini.
"Kenapa tidak dari dulu ibu mengajakku dan nenek kemari, ya?" Gumamnya tanpa sadar.
Pria itu hanya tersenyum sopan mendengar gumaman polos Sungmin. Ia membungkukkan tubuhnya sopan dan memperkenalkan diri, "Saya adalah asisten pribadi nyonya. Anda bisa memanggil saya tuan kim."
Sungmin sadar bahwa sedari perjalanan panjangnya dari Busan hingga ke Seoul, pria ini sama sekali belum mengenalkan diri secara resmi turut ikut membungkukkan tubuhnya sopan, "Oh? Baiklah tuan kim. Saya Sungmin. Senang bertemu anda."
"Saya akan keluar sebentar. Sebentar lagi nyonya akan kemari menemui anda. Anda bisa beristirahat terlebih dulu. Saya pamit, tuan." Tuan kim kembali membungkukkan kepala dan berjalan keluar ruangan lalu menutup pintu meninggalkan Sungmin sendirian.
Sungmin yang ditinggal sendirian memilih beristirahat sejenak di sofa dekat ruang TV. Sofanya benar-benar empuk, Sungmin baru kali ini merasakan bokongnya mendarat pada sofa senyaman ini. Matanya bergerak menjelajahi benda-benda yang terpampang dalam apartement ini, ada TV flat dengan layar besar yang Sungmin tidak tau persis ukurannya beserta speaker dan perangkat lainnya, air conditioner yang membuat udara dalam apartement ini sejuk, lalu sofa berukuran besar yang salah satunya tengah diduduki Sungmin, rak buku yang terisi berbagai macam majalah. Menengokkan kepalanya ke belakang, Sungmin bisa melihat ada 3 pintu yang diperkirakan sebagai kamar.
Sungmin ingin sekali menjelajah ke ruangan-ruangan lain seperti dapur dan kamar mandi, tapi ibu belum datang dan menurutnya itu tidak sopan jadi ia lebih memilih duduk tenang di sofa sambil menunggu ibu.
Tak lama Sungmin menangkap suara pintu terbuka. Sungmin berpikir bahwa itu ibu dan benar saja, ibu menghampirinya dengan santai. Melempar tas hitam mahalnya di sofa lalu mendudukan diri di sofa yang berseberangan dengan sofa yang tengah didudukinya.
"Ibu...dari mana?" Sungmin mulai membuka suara. Ia meneliti penampilan ibunya dan lagi-lagi terpesona untuk kesekian kalinya. Penampilan ibu benar-benar memperlihatkan wanita dewasa yang mapan dan percaya diri serta sukses dalam kehidupannya.
"Kau sudah tau kan untuk apa kau kubawa kemari?" Bukannya menjawab pertanyaan Sungmin, Ibu malah melontarkan pertanyaan lain dan menyilangkan kakinya sambil bersedekap tangan.
"Untuk—mengajakku tinggal bersama?" Nada suara Sungmin terdengar tidak yakin. Katakanlah ia bodoh, Ia benar-benar gugup bicara dengan ibu. Sungmin malah merasa tengah berbicara pada bosnya.
"Ya. Dan kuharap kau terbiasa dengan keadaan seperti ini. Jangan membuatku malu." Jawab ibu tegas.
Bohong jika Sungmin tak sakit hati, terlebih ibu mengatakannya dengan acuh seakan tak memikirkan perasaannya setelah mendengar larangan itu. 3 tahun membawa terlalu banyak perubahan pada wanita yang melahirkannya itu. Ia rasa ibu telah mejadi orang hebat hingga Sungmin merasa sangat bangga sekaligus kecewa.
Ibu beranjak dari duduknya, meraih tas dan hendak berlalu, "Besok kau akan kuajak ke suatu tempat, berpakaian lah seperti apa yang telah disiapkan. Kamarmu yang ada di sebalah timur. Kau bisa beristirahat disana."
Setelah itu terdengar suara pintu ruangan tertutup. Sungmin merasa ini semua terlalu jauh dari perkiraannya. Bukannya tidak bersyukur karena telah dipertemukan kembali oleh sang ibu, tapi Sungmin lebih merasa terdapat jarak pemisah antara dirinya dan ibu, walaupun ia dapat kembali menatap wajah yang paling dirindukannya ataupun suara lembut ibu yang terdengar merdu dalam gendang telinganya. entah apa yang terjadi selama 3 tahun ke belakang, bahkan ibu tidak menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana keadaannya, apa yang selama ini ia makan ataupun bagaimana bisa Sungmin bertahan hidup tanpa sosok itu.
— Step Summer —
Ini adalah keesokan harinya. Sungmin yang membuka jendela kamarnya sempat tertegun dan ingat bahwa ini bukan lagi di Busan, jadi yang ia temukan adalah gambaran lalu lintas padat khas pusat kota, bukannya suara cicit burung, pemandangan bibi Song yang tengah menjemur pakaian atau mencabuti rumput.
Ketika Sungmin ingat bahwa hari ini ibu akan membawanya ke suatu tempat, Sungmin lekas pergi ke kamar mandi dan berpakaian. Ia menemukan sebuah kemeja, jas santai serta celana denim hitam di lemari. Tak mau menemukan raut jengkel dari wajah ibu karena banyak bertanya, akhirnya Sungmin mengenakannya dengan patuh.
Ibu membawanya ke sebuah restoran Jepang di tengah kota. Sungmin berpikir bahwa mungkin ibu hanya akan mengajaknya makan siang bersama. Tapi setelah masuk kedalam salah satu ruangan tertutup yang berada di restoran itu dan duduk di tempat yang disediakan, Sungmin menyadari kehadiran orang lain, apa ibu akan mengenalkannya kepada teman atau—?
Pria itu tampak tersenyum dan berdiri sambil merangkul pinggang ibu dengan mesra, ia sempat menyematkan sebuah kecupan tepat di bibir ibu. Sungmin hanya terdiam menatapnya. Oh jadi ini calon pendamping baru ibunya.
Sungmin yang melihat penampilan pria dihadapannya, memutuskan bahwa ia adalah orang kaya. Segala yang melekat pada tubuh pria itu sekaan meneriakkan kata uang dan uang. Diihat dari wajahnya, pria dihadapannya bukanlah lagi dalam usia muda dan sepertinya terpaut jauh dengan usia ibu. Rautnya dingin tapi senyumnya menawan walau diperkirakan usianya mendekati usia sang nenek yang telah meninggal. Sungmin sempat berpikir apakah selama ini ibu menjadi simpanan seorang pejabat atau pengusaha kaya?
"Apa kau sudah menunggu lama?"
"Tidak, aku pun baru saja datang. Ah, aku sudah memesankan pesanan untuk kalian."
"Ah, begitukah? Terimakasih Presdir Cho."
Mereka terus berbincang tanpa menghiraukan Sungmin. Sungmin hanya menunduk sambil menyumpiti sushi dihadapannya dengan tenang. Samar-samar ia mendengar mereka membahas tentang banyak hal yang tak dimengertinya. Sungmin yang tidak perduli dan sepertinya tidak dianggap hanya melanjutkan makan dalam diam.
"Ah—ini, Sungmin. Ia adalah keponakan ku yang lama menghilang. Aku sudah pernah bercerita padamu, bukan?" Ibu tersenyum menatap sosok didepannya. Senyum yang sudah sangat lama tidak terlihat oleh Sungmin.
Ibu menyenggol lengan Sungmin, menyadarkan Sungmin dari lamunannya. "Sungmin, perkenalkan dirimu."
Sungmin tidak pernah menyangka bahwa ibu bisa menjadi setega ini. Meninggakannya selama 3 tahun, lalu datang dan memperkenalkannya sebagai keponakan kepada calon suaminya yang baru. Tidak ada yang lebih menyakitkan saat batinnya berteriak seakan ibu malu memperkenalkannya sebagai anak kandung, seorang anak yang pernah terlahir dari rahimnya.
Dengan gugup dan mati-matian menahan air mata. Ia sudah berjanji akan menjaga ibu dan membahagiakan ibu, termasuk untuk tidak mempemalukan ibu. Mungkin ibu punya alasan khusus untuk itu meskipun ia yakin ibu tidak akan membahasnya, lagipula Sungmin tidak mau mendengarnya.
Sungmin memperkenakan diri dan membungkukkan tubuhnya, "Lee Sungmin imnida. Senang bertemu anda, tuan."
.
.
.
.
.
T B C
Halo! Apa kabar semua? ^^
saya kembali membawa chapter 2 hehe, gimana? Alurnya kelambatan atau malah masih kecepetan? Atau malah ceritanya yang kependekan? wkwk. Oiya, apa ceritanya bertele-tele? Maaf ya, dichapter ini belum ada kyumin momentnya. Abis baca ini, pasti langsung pada bisa nebak deh yakin hahahaha. Kemungkinan chapter depan kyumin baru muncul. Saya juga masih bingung gimana munculin kyuhyun nya, yang enak gimana ya? /lah /abaikan
Ini genrenya sebenernya romance, drama, hurt/comfort. Romance-romancenya ditahan dulu ya sampe kyumin nikah/? Entah kapan wkwk. Yang minta adegan sedihnya ga dibanyakin, maaf ya. Saya usahain semampu saya nanti tapi semuanya bakal indah pada waktunya kok ^^
Terimakasih bagi yang mereview di chapter kemarin. Saya baca semua dan sempat terhura /plak/ maaf tidak menyebutkan satu persatu ^^ saran dan kritik masih sangat dibutuhkan. Jangan lupa untuk mereview lagi ya? Terimakasih /bow/
