Tiga hari sesudah menikah...
Aku dan Chanyeol memutuskan untuk tinggal di apartemen sementara selagi menunggu rumah baru kami selesai di bangun. Soal rencana rumah baru yang akan kami tinggali nanti, aku benar-benar terkejut dengan rencana Chanyeol yang dirancang tanpa sepengetahuanku. Kau tahu? Chanyeol itu penuh dengan kejutan dan rahasia. Aku menyukainya yang seperti itu.
Jadi, ini adalah hari kedua kami tinggal di sebuah apartemen yang bisa dibilang terkesan cukup mewah. Mulai dari sekarang aku bisa melanjutkan pekerjaanku sebagai sekretaris di KIM Group dan Chanyeol bekerja sebagai CEO perusahaan Phoenix.
Jangan tanya kenapa kami lebih memilih untuk tinggal di apartemen daripada membeli rumah yang sudah jadi... itu kemauanku sendiri, awalnya Chanyeol tidak mau menuruti permintaanku, namun dengan segala cara kucoba akhirnya ia mau.
"Wah, enak sekali baunya? Kau memasak apa, Sayang?" tanya Chanyeol sembari memelukku dari belakang.
"Coba tebak apa?" kataku sambil menaikkan sebelah alisku. Lalu, Chanyeol menaruh dagunya di atas sebelah kiri pundakku. Hembusan nafasnya yang berat kini terasa di curug leherku.
"Apa ini ada hubungannya dengan makanan kesukaanku?" tanyanya dengan kepala yang masih berada di atas pundakku. Aku tertawa kecil mendengarnya, lalu kemudian meresponnya dengan anggukan kecil.
"Aku lapar," gumamnya dengan tangan yang semakin erat memeluk pinggangku.
"Sabarlah sebentar, supnya belum begitu matang, Chanyeol." jawabku lembut.
"Tidak. Aku tidak mau makan sup itu," katanya lagi membuatku heran. Sejauh ini, Chanyeol tidak pernah berkata seperti itu, ia selalu menerima dan memakan semua masakan yang kubuat.
"Maksudmu, kau tidak mau memakan sup buatanku, kah?" tanyaku mulai di luar akal.
"Bukan~"
"Lalu?"
"Aku lapar,"
"Tadi kau bilang lapar dan tidak mau makan sup buatanku ini. Lalu, kau mau apa? Katakan saja apa yang mau kau makan, Sayang."
"Aku lapar,"
"Terserah kau sa-"
"Aku menginginkan dirimu."
"Apa?"
"Sebagai santapan makan malamku hari ini,"
Chanyeol kemudian membalikkan badanku dengan tangan yang masih melingkar di pinggangku, lalu kemudian ia mencium bibirku dengan sangat dalam. Dengan perlahan ia mencoba meraba tubuhku dengan tangan yang ia masukkan ke dalam bajuku.
Tanpa perlawanan dan pemberontakan apapun, aku membiarkan Chanyeol menyentuh tubuhku, bagaimanapun juga dia adalah suamiku dan ia berhak atas diriku. Tidak sampai situ saja, Chanyeol mulai memberikan tanda-tanda kepemilikkan di landasan leher putih mulusku, sesekali ia kecup dan jilat secara bergantian.
"Hngh..." itu lah kata-kata yang sering aku keluarkan ketika Chanyeol mulai bermanja-manja dengan putingku dan di curug leherku. "Aww!" ringisku kesakitan saat aku tidak sengaja melukai ujung jariku dengan pisau yang masih tergeletak di atas talenan dapur.
"Astaga, kenapa?!" tanya Chanyeol dengan wajah yang panik bukan main setelah mendengarku meringis kesakitan dengan pelan. "Kau tidak apa-apa, Sayang? Mana yang terluka?"
Aku belum sempat menjawab, tapi Chanyeol langsung bergegas ke kamar kami berdua, sekedar mengambil kotak P3K yang berada di atas lemari baju kami. Kemudian, ia kembali dengan tergesa-gesa sambil membawa kotak tersebut.
"Chanyeol, aku tidak apa-apa, ini hanya seb-"
"Ayo kita obati di ruang tamu," ucapnya. Aku hanya mengangguk pelan sambil mengekorinya ke arah ruang tamu. Ia kemudian mengisyaratkanku untuk duduk di atas sofa, sementara ia berjongkok di hadapanku, tepat seperti saat grand duke memakaikan sepatu kaca pada kaki mungil Cinderella.
"Berikan tanganmu," pinta Chanyeol dengan suara berat khasnya. "Maaf, karena kecerobohanku kau harus terluka karena pisau tadi. Harusnya aku-"
"Sst, sudah. Apa sih yang kau katakan? Aku tidak apa-apa Chanyeol, lagi pula itu tidak sengaja dan itu bukan salahmu. Itu salahku yang tidak hati-hati dalam menaruh benda tajam," kataku dengan kedua tangan yang menangkup wajah Chanyeol.
"Tidak. Apapun yang menimpa dirimu, maupun kecil atau besarpun, melindungimu adalah kewajibanku, Baekhyun. Kau adalah kewajibanku sekarang."
"Aku mengerti, tapi jangan sampai menyalahkan dirimu lagi seperti ini ya? Ini sepenuhnya salahku, bukan salahmu, Chanyeol."
Chanyeol diam, ia masih memasang ekspresi yang muram. Kedua bola matanya menatapku sangat dalam, bibirnya mengerucut dan dengan tiba-tiba ia menjatuhkan kepalanya di atas perutku.
Aku terkekeh kecil dan mengelus surai rambut hitamnya yang semakin panjang dengan lembut. "Apa yang aku lakukan sampai bisa dicintai setulus ini olehmu, Baekhyun?" lirihnya dengan kepala yang masih ia sembunyikan diperutku.
"Kau bertanya apa yang kau lakukan sampai aku bisa mencintaimu? Jawabannya adalah..."
"Karena hanya kau satu-satu kunci yang dapat membukakan hatiku yang terkunci, kau yang mengajarkan aku apa cinta yang sebenarnya, kau membuatku jatuh cinta kepadamu hanya dengan sentuhan-sentuhan kecil..."
"Dan, kau spesial, Chanyeol, sangat spesial..."
Chanyeol tertawa kecil, aku mengadah untuk melihat wajah tampannya saat tertawa. Aku menatap matanya dengan sangat dalam dan penuh cinta, dengan seketika ia menatapku dengan wajah heran.
"Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" tanyanya.
"Tidak ada." jawabku.
"Lalu?"
"Tidak apa, aku hanya bertanya-tanya. Seseorang yang sempurna seperti dirimu telah menjadi milikku seutuhnya," Chanyeol tertawa meledekku, aku memang tidak sepandai itu untuk mengatakan yang seperti itu.
"Aku bukan manusia yang sempurna, Sayang. Bahkan, jika boleh kukoreksi kata-katamu, aku menjadi manusia sempurna karena kau. Kau yang melengkapi segala kekuranganku,"
.
.
.
.
Setelah makan malam selesai, kami berdua pergi ke kamar untuk tidur. Padahal ini sudah jam 12 malam dan aku tetap saja tidak bisa tidur, mungkin aku belum terbiasa tidur di sini selain di rumah ayah dan ibu.
Sudah beberapa kali aku mengganti posisi tidurku namun tetap saja nihil, aku tetap tidak bisa tidur dan Chanyeol sepertinya sudah terlelap, ku harap kegelisahanku tidak mengganggunya saat tidur.
"Ah, ya Tuhan..." keluhku.
"Ada apa, Baek?" tanya Chanyeol tiba-tiba tanpa membuka matanya.
"Ah, apa aku membangunkanmu?"
"Tidak, aku belum tidur. Aku daritadi merasakan kegelisahanmu, tampaknya kau tidak bisa tidur, hm?"
"Ya... aku tidak bisa tidur, Chanyeol." sahutku dengan wajah murung. Chanyeol membuka matanya dan langsung memelukku dari belakang. "Aku harus melakukan apa agar kau bisa tertidur, Baek?"
"Ini sudah cukup bagiku, terima kasih Chanyeol." ujarku langsung membalikkan badan dan melingkarkan tanganku di lehernya.
"Apapun untukmu, Sayang," sahutnya.
"Aku belum bisa tidur, apa kau mau tidur? Tak apa jika kau ingin tidur duluan, mungkin aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri."
"Tidak, aku akan menunggumu sampai kau bisa tidur, Baek."
Aku tersenyum manis dan mengeratkan pelukanku, Chanyeol juga semakin erat memeluk pinggangku. "Chanyeol..." panggilku lembut.
"Hm?" sahutnya.
"Maukah kau membawaku ke balkon?Aku ingin melihat bintang jatuh, karena menurut berita hari ini akan ada bintang yang jatuh."
"Oh, ya? Mari kita kesana." ucapnya langsung melepaskan pelukan kami berdua dan bangkit dari tempat tidur. Ia kemudian menggendongku seperti koala yang hinggap di pepohonan dengan tanganku yang melingkar di lehernya.
Saat kami sudah sampai di balkon, aku bisa merasakan angin malam yang menerpa kami berdua, membawa kesan yang sangat sejuk dan nyaman. Aku duduk di pangkuan Chanyeol dengan tangan Chanyeol yang memeluk pinggangku dengan erat.
"Saat ada bintang jatuh nanti, apa yang kau harapkan, Baek?" tanya Chanyeol.
"Hm, apa yaa? Apa kau bisa menebaknya?" kataku iseng.
"Keinginanmu banyak, Sayang, mungkin aku akan mengucapkan semuanya lebih dari dua puluh kali."
"Hahaha, jangan bercanda! Itu semua hanyalah keinginan kekanak-kanakanku saja."
"Sambil menunggu bintang jatuh, apa yang kau harapkan dariku, Baek?"
Aku menghela nafas, diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun saat ia memberiku pertanyaan yang seperti itu. Rasanya ingin kujawab, namun aku takut membuatnya sangat terbebani.
"Apa kau menginginkan boneka anak anjing lagi? Atau kau ingin aku membelimu anak anjing untuk di pelihara?" tebaknya.
Aku tersenyum. "Aku sangat ingin, namun meminta itu disaat yang seperti ini menurutku tidak tepat, Chan. Aku hanya ingin kita berdua disini."
Chanyeol mengangguk mengerti. Kemudian, kami berdua sama-sama diam menunggu bintang jatuh datang. Tapi, aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Chanyeol kalau aku sedang mengharapkan sesuatu darinya. Aku hanya takut harapanku tidak dapat di kabulkan, atau lebih tepatnya tidak akan pernah bisa di kabulkan.
Aku membalikkan badanku dan memeluk Chanyeol seperti koala yang hinggap di pepohonan. Chanyeol melihat tingkahku dengan aneh, namun ia tidak berkata apapun selagi aku mencari posisi yang nyaman saat memeluknya.
"Se-sebenarnya, ada sesuatu yang kuinginkan..." ucapku terbata-bata sambil memeluk erat leher Chanyeol.
"Benarkah? Apa yang kau inginkan, Baek? Katakan saja, akan kukabulkan keinginanmu itu." jawabnya dengan tangan yang semakin erat memeluk pinggangku.
"Aku ingin..."
"Hm, apa yang kau inginkan, Sayang?"
"Aku ingin seorang... bayi..." lanjutku langsung menenggelamkan kepalaku di bahu lebar milik Chanyeol.
Chanyeol diam sejenak. Sudah kuduga, pasti dia tidak akan bisa mengabulkan keinginanku yang mustahil itu, bagaimana bisa ya kan seorang laki-laki tulen sepertiku bisa mempunyai buah hati yang kukandung sendiri?
"Baek," panggil Chanyeol lembut
"Hm," sahutku sembari memeluk erat ia karena tidak siap mendengar jawaban dari mulut Chanyeol.
"Baek, lihat aku." pintanya.
"Tidak mau,"
"Baek~"
"Iya, oke. Aku tahu Chanyeol, pasti keinginanku itu sangat mustahil dan tidak bisa di kabulkan, kan? Maaf jika aku suka meminta yang aneh-aneh padamu, padahal aku mengetahui kalau itu sangat mustahil."
Chanyeol menarik tubuhku pelan untuk mengadah agar aku dapat melihat wajahnya. "Jangan menangis, Sayang." ucapnya menenangkanku sambil mengusap kedua pipiku yang mulai basah.
"Kalau itu tidak mungkin terjadi bagimu, maka aku lah yang akan berusaha membuat itu menjadi kemungkinan yang akan terjadi." jawabnya lembut. "Aku akan melakukan semuanya demi kau, Baekhyun. Aku akan mengabulkan permintaanmu itu, tunggu sampai si kecil tumbuh di dalam sini yaa~"
"Sungguh kah, Chanyeol, kau akan mengabulkan semua itu?!" ujarku riang dan sedikit tidak percaya.
"Asalkan kau bahagia, akan kulakukan semuanya untukmu, Sayang." jawabnya.
"Chanyeol, terima kasih!"
"Kau tidak perlu berterima kasih, sebab itulah kewajiban seorang suami untuk membahagiakan belahan jiwanya."
"Cih, dasar raja gombal!"
Aku membenarkan posisiku, duduk dipangkuan Chanyeol menghadap ke langit-langit dan menunggu bintang yang akan jatuh pada malam hari ini.
"Baek, bolehkah aku mengetahui apa harapanmu itu saat bintang jatuh tiba?" tanya Chanyeol dengan tiba-tiba.
"Hmm... baiklah. Tutup matamu, Chanyeol. Kau tidak boleh membuka matamu sebelum aku menyuruhmu untuk membukanya." ujarku.
"Hahaha, oke, oke. Aku akan menutupnya~" ucapnya sambil terkekeh geli. Aku hanya tersenyum manis mendengar kekehan kecilnya.
Aku pun mulai berdoa. "Tuhan dan bintang jatuh yang akan tiba pada malam ini... aku berharap, Chanyeol akan terus mencintaiku sampai akhir hayat hidupnya... dan jika suatu hari nanti ia tidak mencintaiku lagi karena suatu alasan, pastikanlah bahwa kami berdua akan terus bersama walaupun tidak ada lagi cinta diantara kami berdua. Pastikanlah Chanyeol menemukan kebahagiaannya, dan bila nanti saatnya telah tiba... aku berharap kepadamu, pastikanlah kami akan selalu bahagia dan dipersatukan di surga indahmu..."
"Park Chanyeol, sampai matipun aku akan tetap mencintaimu. Dengarkan lah suara hatiku, Chanyeol. Tuhan dan para bintang adalah saksi dimana aku telah mengucapkan harapanku dihadapannya." ujarku lalu membuka mataku dan melihat bintang jatuh pada malam ini, lalu membalikkan badanku untuk menghadap wajah Chanyeol yang kedua matanya masih ia tutup.
"Aku sangat mencintaimu, Chanyeol... sangat-sangat cinta..."
Lalu, kemudian aku mendaratkan bibirku di atas bibir Chanyeol. Mengecupnya dengan sangat lembut dan hangat.
"Berjanjilah padaku untuk tetap mencintaiku, Chanyeol, meskipun tidak ada lagi ruang untukku dihatimu."
.
.
.
Siapa yang naro bawang bombay disini? Hayo, ngaku njir! WKWKWK. Btw see u in next chapter (ga janji)
