Rhyme A. Black

Present

.

.

…GARA-GARA PUISI…

Disclaimer :

Rhime : Masa' shi Khisimoto?

Khisimoto-san : ya iyalah gue, ngapain juga loe memodopikasi nama gue, sambung ngak,*ngancem pake golok* sambung…cepetan!

Rhime : iya deh, sensei Rhime sambung. Naruto belongs to MasaSHI Khisimoto-sensei!

AUTHOR YANG TAK PERNAH TERLEPAS DARI JERATAN TYPO

WARNING : AU-HIGH SCHOOL, OOC, GARING DAN PEDES.

Episode yang lalu...

Naruto yang terus mendapat puisi lavender itu akhirnya menyelidiki siapa yang terus mengiriminya. Sesampainya di sekolah, Naruto akhirnya benar-benar bertemu dengan gadis itu. Siapakah gadis yang mampu membuat penasaran Pangeran Telat itu???

1,2,3, TAKE…ACTION…

'Aku ketahuan…' pikir gadis itu

Mata gadis itu membulat lebar, bibirnya mengatup-ngatup, wajahnya kini mulai memerah dengan sempurna, seluruh tubuhya bergetar ketakutan, tangan kanannya yang bergetar itu menjatuhkan amplop yang baru mau ia masukkan, sementara tangan kirinya mencengkram erat tali tas selempangnya. Gadis itu segera berjongkok dengan gemetaran untuk meraih surat itu, dia terlihat tak sanggup untuk hanya sekedar melirik ke Naruto yang saat ini cengiran di wajahnya berganti dengan ekspresi heran. Saat gadis itu telah mendapatkan puisinya, pergelangan tangannya telah di cengkram erat oleh tangan Naruto. Terlihat kini perbedaan sangat kontras, ketika tangan kecoklatan itu memegang lengan putih gadis itu.

Gadis itu tak sanggup menatap Naruto yang kini sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Dia hanya memejamkan matanya, meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi—yang sepertinya sia-sia—. Poninya menutupi wajahnya yang kian menunduk, sementara itu tangan kanannya meremas-remas puisi yang di genggamnya. Hah, kasihan kertas itu…

Masih dengan posisi tadi. Mereka berdua berjongkok. Dengan Naruto yang memegang pergelangan tangan gadis itu, serta gadis itu yang sedang meremas puisinya. Naruto terus saja menatap gadis itu, tanpa merasa bahwa karenanyalah gadis itu terus menunduk. Hening menyelimuti mereka, sampai akhirnya Naruto yang membuka percakapan.

"Nama kamu siapa?" Tanya Naruto dengam senyum manisnya, berusaha sebaik mungkin.

"…." Gadis itu diam tak bergeming di tempatnya, malah makin keras mencengkram kertas puisinya itu.

"Kamu kelas berapa?" Tanya Naruto lagi. Namun respon gadis itu tetap sama. Diam.

"Kamu bisu yah?" Tanya Naruto, kini dengan suara yang agak keras dari sebelumnya. Ekspresi senyum mulai menghilang dari wajahnya, tapi hanya sebagian kecil karena masih ada lengkungan tipis di bibirnya itu. Dan gadis itu semakin menundukkan pandangannya, di pejamkan matanya erat. Dan semakin menunduk lagi ketika Naruto hendak melihat wajahnya yang kini memerah dengan sempurna. Kemudian tangan kanan hendak mengambil puisi itu, Naruto agak menariknya karena cengkraman yang kuat dari gadis itu. Kertas itu sudah kusut marut, bahkan ada sobekan kecil di beberapa tempat karena kuku dan tangan berkeringat gadis itu. Naruto segera membaca puisi yang telah berpindah tangan ke tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih mencengkram tangan gadis yang kini sudah bergetar lagi.

"Aku baca yah, puisinya." Kemudian, Naruto membaca puisi itu, saat membaca puisi itu dia tersenyum-senyum sendiri. Gadis pemalu itu menyadari hal itu, Naruto masih saja tersenyum-senyum. Entah keberanian dari siapa yang ia dapat, gadis itu mulai mengangkat wajahnya. Pelan-pelan. Tapi entah itu kemalangan atau keberuntungan, karena kini ia telah tepat menatap mata biru menghanyutkan milik Naruto, karena saat ia mengangkat wajahnya, Naruto telah selesai membaca puisi itu.

Ketika Naruto mendapati warna ungu lembut itu menatapnya, yang ada dipikirannya adalah…. Cantik, indah bagai padang lavender, lembut bagai salju yang pertama kali turun.

Dan, ketika gadis itu menatap mata biru Naruto, yang ada dipikirannya adalah….kuat, mempesona bagai langit cerah musim panas, tetapi dalam seperti lautan.

Dan untuk mengatasi keterjutannya atas makhluk ciptaan tuhan itu, ia berdeham dan memasang senyumnya sambil bertanya kembali.

"Nama kamu siapa?" Tanya Naruto kembali dengan nada yang sama seperti tadi.

"Hi-Hi-Hinata, Hyuuga Hinata." jawab Gadis yang bernama Hinata itu. Gugup sekali dia. Tapi biar dipikir bagaimanapun, bila dirimu kedapatan sedang memasukkan sesuatu ke loker pujaan hatimu, pasti kau akan seperti Hinata juga. Gugup abieeesss.

"Gugup banget sih," celetuk Naruto kini dia mulai nyegir lagi "Kamu kelas berapa?"

"Ke-ke-kelas X-4." jawab Hinata dengan nada gugup yang masih menghiasi jawabannya. Asal tahu saja , dia masih stand by menatap Naruto, wajahnya? Tahu sendirilah.

"Kenapa kamu mengirimiku puisi-puisi seperti ini?" Tanya Naruto lebih lanjut. Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya, 'secara dia itukan fans gue' pikirnya narsis

Hinata terdiam dan mengalihkan pandangannya pada ujung sepatunya. Dia mulai gusar karena pertanyaan dan Naruto sendiri yang kini masih terus mengamatinya. Kini otaknya sibuk mencari-cari jawaban yang cocok. Tapi berapa kalipun otaknya di putar, 4-5683-986 tetap berputar di otaknya. Because I love you.

"Kamu fansku yah?" Tanya Naruto dengan PD-nya.

"…" Hinata mengangguk, padahal dalam hatinya, lebih Naruto-kun, bukan hanya sekedar fansmu…

"Ohh, gitu."Kemudian masih menggenggam tangan Hinata, Naruto menariknya berdiri. Hinata turut saja berdiri. 'tangannya berkeringat' pikir Naruto.

"Aku antar kamu ke kelas yah." ajak Naruto. Hinata mengangguk pasrah, dan mengikuti Naruto yang berjalan lebih dulu di depannya. Dari sisi kiri dan kanan, terdengar suara bisik-bisik tak jelas. 'Gawat', pikir Hinata 'itu pasti Fansgirl Konoha junior atau Fansgirl Naruto-kun'. Di tengah koridor kelas yang sudah mulai ramai, Naruto masih saja menggengam tangan Hinata, tanpa mempedulikan sekitarnya dan Hinata yang sepertinya sudah mau pingsan itu.

"Ihh, siapa sih tuh? Ganjeng banget, pake pegang-pegangan segala lagi sama Naruto-kun" Bisik seorang cewek berambut coklat pada temannya yang ramburnya dikuncir dua.

"Iya! So sweet banget. Anak kelas berapa sih?" Tanya yang dikuncir dua

"Ngak tau, ntar aja kita cari tahu, gimana?"

"Iya deh. Kita kasih tahu tuh anak FC sebentar." Ujar si kuncir dua penuh semangat, sementara temannya tak kalah semangatnya juga.

'Ya Tuhan, matilah aku' pikir Hinata khawatir. Dia masih ingat jelas bagaimana nasib anak kelas XI yang harus tidak masuk sekolah selama tiga hari karena nekat menyatakan cintanya pada Chouji di depan halaman sekolah. Waktu itu, anak kelas IX itu menyatakan cintanya sepulang sekolah menggunakan toa sekolah. Akhrinya anggota KJ (Konoha Junior) FC, mengejar anak kelas XI itu, bahkan dia belum selesai mengucapkan Kata 'Chouji…aishitteru', dia sudah melihat anggota KJ FC dengan latar belakang debu beterbangan di belakangnya sedang berlari menuju dirinya. Dan… jadilah anak itu tergilas dan terbawa oleh anggota KJ FC tadi. Chouji bukannya khawatir malah bersyukur sambil memeluk keripik kentangnya.

"Hahhh, untung saja keripikku tidak terbawa terbang oleh mereka." guman Chouji waktu itu sembari menyeka keringat di dahinya.

Hinata yang waktu itu melihat kejadian itu, hanya bisa mendoakan semoga Senpainya itu baik-baik saja. Rupanya, Senpainya itu lupa peraturan pasal 2 ayat (1) undang-undang KJ FC. Bahwa, bagi yang ingin menyatakan perasaannya pada salah-satu personil KJ, harus meminta persetujuan dari KJ FC. Hinata jadi geli sendiri juga, bila mengingat peraturan gaje yang terdiri dari 50 pasal itu.

"Enggg, Hinata. Kamu itu sodaranya Neji-senpai yah?" Tanya Naruto, sambil mensejajarkan langkahnya dengan Hinata.

"Bu-bukan, Neji itu sepupuku." Jawab Hinata

"Kok, masih gemetaran sih?" Tanya Naruto lagi "Nih, kelasmu dah nyampe."

"A-a-arigatou Naruto-kun." ucap Hinata masih belum sanggup menatap wajah Naruto. Naruto jadi gemas sendiri di buatnya. Kini bibirnya membentuk cengiran lebar yang sekiranya hampir sampai ke telinganya.

"Ya udah, bai-bai Hinata-chan. Sampai ketemu lagi." Naruto melambaikan tangannya pada Hinata dan berjalan menuju kelasnya. Tanpa menyadari ada bunyi gedebuk keras yang berasal dari kelas X-4.

Saat tiba di kelasnya, Naruto menyapa ceria semua teman-temannya yang ada di dalam kelas.

"SELAMAT PAGI SEMUANYAAA!!!" seru Naruto dengan toanya. Semua yang ada di dalam kelas, secara tiba-tiba menghentikan kegiatannya, dengan gerakan slow motion mereka semua menolehkan kepalanya kepada Naruto, mereka semua menganga cengok. Ada apa ini? Apakah ada serangan alien ke bumi atau kiamat yang sudah dekat?. Bukan karena suara Naruto yang kerasnya bukan kepalang, tapi karena Naruto yang menurut mereka datang kepagian. Gerakan selanjutnya mereka yang punya arloji menoleh ke arloji mereka. 'pukul 06.20, buset dah. Naruto cepet banget datangnya'. Lalu dengan takut-takut mereka mundur tiga langkah dari tempat mereka tadi berdiri. 'Makkk! Ada hantu di pagi hari' pikir mereka semua.

"Kamu Naruto yah?" Tanya Lee dengan bodohnya sambil mengamati Naruto dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Iya, kalian pada kenapa sih?" Tanya Naruto dengan gusar karena di perhatikan begitu oleh seluruh penghuni kelas.

"WUAHHH HEBAT!!!," teriak Lee tepat di telinga Naruto, dan hal itu membuat si pemilik telinga dan yang lainnya menjauh sejauh sampai kedinding belakang kelas. " Teman-teman sekalian, kini sang Pangeran Telat kita, Uzumaki Naruto telah memecahkan rekor untuk pertama kalinya tidak datang terlambat ke sekolah. Give applause." seru Lee yang kini telah berdiri di depan kelas, kemudian teman-teman yang memberikan tepuk tangan meriah kepada Naruto, ada yang menyalaminya, ada pula yang mengalungkan bunga di leher Naruto. Dan, sekilas ada bulir keringat besar menggantung di belakang kepala Naruto.

Hari itu, pelajaran fisika yang di jelaskan Kakashi-sensei sama sekali tidak masuk di kepala Naruto. Yang ada Naruto malah mencoret-coret belakang buku tulisnya sambil senyum-senyum tidak jelas, masih memikirkan kejadian tadi pagi ketika pertemuannya dengan Hinata. Entah mengapa kejadian itu begitu membekas di hatinya. Kakashi-sensei yang ternyata sedang menjelaskan di depan, melihat Naruto yang berkelakuan aneh itu. Sensei yang terkenal dengan wajahnya yang selalu di tutup masker dan juga suka membaca buku yang bersampul orange aneh yang isinya you-knowlah, langsung mengampiri Naruto.

"Naruto Uzumaki." panggil Kakashi-sensei, tapi Naruto tidak menyahut. Tetap mencoret-coret bukunya dan senyum-senyum kayak orang gila.

"Naarrutto. Uzumakiiii." Panggil Kakashi lagi kali ini terdengar nada sabar yang di sabar-sabarkan dan juga penekanan di setiap kata-katanya, pembuluh vena bermunculan di dahinya. Dan masih tak ada jawaban. Kakashi-sensei mengumpulkan tenaganya, mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan.

"NARUTO UZUMAKI!!!" Teriak Kashi-sensei, dan kali ini suaranya menggelegar di seluruh penjuru kelas. Alhasil seluruh penghuni kelas menjadi kaget di buatnya, apa lagi Naruto yang ternyata telah jauh berada di alam bawah sadarnya jauh lebih dalam, jauh lebih dalam setelah mendengar teriakan Kakashi-sensei langsung melesat ke alam sadarnya.

"Haik sensei! Saya telah mengerjakan tugas bahasa inggris lima lembar dan sudah memberi makan babi kesayangan Tsunade-Obaachan." jawab Naruto sambil berdiri tegap di tempat duduknya, dikiranya pelajaran hari itu adalah pelajaran bahasa inggris oleh Shizune-sensei.

Semua murid yang berada di kelas itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka mendengar jawaban Naruto. Naruto hanya memandang mereka semua dengan alis yang berkedut heran sambil bertanya dalam hati 'mengapa mereka tertawa? Dan kenapa Kakashi-sensei ada di sini? Hi… dia menatapku ngeri'. Lalu Naruto memberanikan dirinya.

"Kenapa Kakashi-sensei ada di sini? Inikan jamnya Shizune-sensei."

Dan kembali seisi kelas di isi dengan gelak tawa, bahkan ada beberapa siswa yang terjatuh dari kursinya. Sebelah alis Kakashi-sensei terangkat naik dan ada empat segitiga siku-siku berkedut di keningnya.

"Ini JAM PELAJARANKU. Naruto Uzumaki. Dan mengapa kau melamun di JAM MENGAJARKU SAAT INI???" Tanya Kakashi-sensei geram. Naruto kini menatap horror wajah Kakashi-sensei, dalam benaknya wajah senseinya itu telah berubah memiliki tanduk di kepalanya. Dan berakhirlah Naruto dengan di beri omelan-omelan oleh Kakashi-sensei, sejak sisa jam pelajaran sampai bel istirahat berbunyi.

TRIIIIINNNNNGGGGGG……NGING…NGING…NGOK…NGOK…

Suara bel istirahat telah berbunyi, mengakhiri pelajaran dan omelan Kakashi-sensei terhadap Naruto. Setelah Kakashi-sensei berlalu dari hadapan Naruto, Sasuke, Gaara, Kiba, Chouji, dan Shikamaru datang menghampiri Naruto.

"Kacau lu, Nar. Mangkanya jangan ngelamun saat pelajarannya Kakashi-sensei." Nasehat Gaara.

"Ngelamunin apaan sih lu?" Tanya Chouji sambil mengunyah keripik kentangnya.

"Bukan apa-apa kok." Elak Naruto.

"Ya udah, ke kantin yuk." Ajak yang lainnya.

"Gak ah, 'gi males nih." tolak Naruto

"Oh, ya udah. Duluan yah." Pamit mereka semua meninggalkan Naruto di kelas. Saat teman-temannya sampai di koridor sekolah, Naruto bisa mendengar dengan jelas teriakan lebay para gadis-gadis yang ada di luar sana. 'pasti ada yang mimisan dan pingsan' pikir Naruto menebak kejadian di luar.

"Hah, gara-gara bangun kepagian gue lupa bawa uang jajan gue, lupa pula gue bawa bentou gue. Hah, Hinata…" gumam Naruto pada dirinya sendiri. Entah mengapa sejak pertemuan mereka di depan loker Naruto tadi, Naruto tak hentinya memikirkan gadis pemalu itu. Akhirnya karena bosan di kelas, serta malas di tatap oleh Fansgirlnya yang kebeneran lewat di kelasnya, Naruto melangkahkan kakinya menuju atap sekolah, tempat biasanya ia menenangkan dirinya. Sesampainya di atap, dia mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang yang entah—disediakan—oleh—siapa. Baru lima menit dia duduk, Naruto mendengar derap langkah seseorang sedang menaiki tangga…

CKLEK…. Suara pintu di buka seseorang, seseorang itu sedang sibuk membalas—sepertinya—sms dari seseorang, sehingga tidak memperhatikan Naruto yang sedang menatapnya.

"Hai Hinata-chan." sapa Naruto pada seseorang itu alias Hinata, Hinata yang kaget di sapa begitu langsung menoleh ke arah Naruto. Seketika saja, Hinata gemetar, dan langsung menunduk menatap bentou yang sedang di pegangnya. Degub jantungnya kini bertambah tiga kali lipat, wajahnya kini semerah apel.

"Kenapa berdiri aja disitu? Sini duduk." ajak Naruto sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Agak ragu Hinata duduk di samping Naruto, Dengan gemetaran Hinata membuka penutup bentounya. Naruto yang melihat gerak-gerik Hinata jadi senyum-senyum sendiri

"Na-Na-Naruto-kun tidak makan siang?" Tanya Hinata kalem

"Gue lupa bawa makan siang gue." jawab Naruto sekenanya

"Na-Na-Naruto-kun mau?" Hinata menawarkan bentounya

"Wah, boleh nih? Makasih yah," Naruto kemudian mengambiil onigiri dan melahapnya."Wah, enak. Hinata-chan yah yang buat?" Tanya Naruto setelah melahap habis onigiri yang di ambilnya. Hinata mengangguk dengan semangat, ada rasa senang di dalam hatinya.

"Kalo gitu boleh dong nambah lagi?" Tanya Naruto, tapi belum mendapat jawaban dari Hinata, Naruto udah nyomot duluan tuh ayam goreng yang kelihatannya sedap. Naruto terlihat menikmatinya, dan Hinata turut memakan makan siangnya juga. Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu.

"Masya Allah! Gue lupa" Naruto nepok jidatnya sendiri, lalu mengeluarkan HP-nya, mau menelpon Okaa-sannya dirumah, bahwa dia sebentar terlambat pulang karena akan mengerjakan PR di rumah Shikamaru. Namun baru dia menekan nomer telepon rumahnya, HP-nya udah lobet duluan. Jadilah Naruto mengacak-acak gusar rambut pirangnya dengan tangan kirinya.

"Ne, Hinata-chan boleh pinjam HP-nya ngak?" Tanya Naruto sambil nyegir malu.

Hinata dengan malu-malu dan menunduk menyerahkan HP-nya pada Naruto, dia malu sekali sampai wajahnya kembali memerah dengan sempurna. Karena , wallpaper yang di guanakan untuk HP-nya itu adalah foto Naruto yang sedang nyegir senang. Naruto menerima HP Hinata dengan mantap, kaget dan langsung cengar-cengir ketika dia melihat fotonya terpampang jelas di HP gadis lavender itu.

"Hinata-chan, dapet darimana nih foto?" Tanya Naruto dengan senyum liciknya sambil memperlihatkan wallpaper HP yang sedang di pegannya itu. Spontan tubuh Hinata menegang, wajahnya kini merah kayak rambutan kelewat matang. Langsung saja Hinata menaruh kotak bentounya dan langsung kabur meninggalkan Naruto yang melongo, masih memegang HP Hinata.

-

-

TBC

TUBERCOLLUSE

AUTHOR'S SIDE

AKU SENANG…AKU SENANG…*Teriak ala Spongebob"

TERIMAKASIHSEMUANYAAA…. Karena-hiks-karena kalian telah membaca fic dan mereview fic aku ini—hiks—* menangis haru*. Maaf yah, Rhimmie baru update, coznya aku baru habis selesai UTS tadi. Gomen buat anda yang sudah menunggu fic saya dengan setia *GR*

Di chapter ini entah apakah masih abal atau udah ngak. Soalnya misstypo emang susah diilangin*ngegosok misstypo pake kain pel*. Di chapter ini banyak banget yah ekspresi Hinata yang memerah wajahnya *bingung saia mau eskpresi apalagi, kalau pucat tandanya dia liat hantu donk*.

Reviewers and readers, apakah alurnya kecepetan? Atau kelambatan? *silahkan cek otak anda masing-masing**dipites*. Rhimmie senang banget bisa dapat review dari para author-author sekalian. Mari kita jawab review

For Erune : thanks a lot buat review dan pujiannya. Btw kapan nih fic senpai di lanjutin?

For Melody Cinta : makasih2 banget atas pendapat, saran dan juga petunjuknya.

For Chian30ne : anda deg-degan, ini dah ada lanjutannya tuh diatas *ngelirik ke atas*. Thanks atas sarannya, btw tebakan senpai benar, Chouji disini di buat mirip ama Shindong. Senpai penggemar SJ yah?

For Light-sapphire-chan : wuahhhh, akhirnya, akhirnya Light-chan mereview fic aku.*senang* Light-chan penggemar naruhina? Thanks review dan sarannya. Naruto hari ini ulang tahun.

For NaMizu No Mai : makasih reviewnya

For Dindoll-chan : thanks for you review

For .sabaku. : makasih atas segalanya *???*

BTW, buat naruhina lovers, hari ini NARUTO ULANG TAHUN. Huwaaa, aku senang banget tanggal 10 ini. Senpai-senpai sekalian, bagaimana kalo kita bikin fic buat ulang tahunnya Naruto kita ini? Gimana? Gimana? Setuju ngak?*ngeliat Naruto yang senyum-senyum gaje*