Chapter 2 : Sunagakure berkhianat? Atau Politik LN?

.

.

Dengan kecepatan tinggi, lelaki yang memiliki postur tubuh tegap tidak terlalu berisi dan juga tidak bisa dibilang kurus itu menapaki dahan-dahan pohon hutan liar. Mata satunya yang tertutupi surai dark blue itu memandang tajam pada apa saja yang menghalangi jalannya. Entah apa yang membuatnya begitu terburu-buru, tapi raut wajahnya yang biasanya selalu datar itu kini menunjukkan ketegangan luar biasa.

Gerbang yang menjulang tinggi dengan bangunan-bangunan yang tidak kalah tinggi dari gerbang desa Konoha yang kini sudah tidak bisa dibilang desa itu mulai memasuki indera penglihatannya. Matanya yang hitam setajam elang itu menyipit dan mulai berjalan dengan normal ketika memasuki pintu gerbang. Beberapa penjaga yang terlihat malas-malasan mulai berdiri tegap dan menyambutnya dengan sapaan basa-basi belaka.

Si pemilik mata hitam tanpa menggunakan hitai ate hanya jubah biru tua elegan panjang miliknya yang sampai pada semata kaki ditambah dengan baju kemeja putih pada lengan kirinya yang tertiup oleh angin menandakan bahwa si empunya tidaklah memiliki tangan kiri hanya menatap tajam si para penjaga gerbang. Wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa dan melengos pergi. Rahangnya yang tampan itu mendongak menatap bangunan paling megah dan tinggi diantara bangunan-bangunan yang lainnya—Kantor Hokage.

.

Born From The Death by Merisshintia

.

"Bisakah mantan muridku yang satu ini bersopan santun sedikit pada Hokage?" Tanpa mengalihkan sedikitpun dari tumpukan kertas-kertas serta komputer di meja kerjanya, pria berkepala tiga atau berusia sekitar 34 tahun itu mengetahui dengan pasti siapa yang tengah menerobos masuk penjagaan ketat kantor Hokage. Melihat ekspresi sekretarisnya yang berubah menjadi merah padam dan gugup sudahlah jelas siapa pelakunya,

"Hn." Sasuke, bungsu Uchiha sekaligus keturunan terakhir yang hidup di muka bumi ini tidak banyak bicara. Dia hanya menyerahkan gulungan berupa data-data yang dia dapatkan setelah berkelana selama kurang lebih setengah tahun dari terakhir kali dia memberikan laporan. Kakashi, sang Hokage hanya menghela napasnya pelan. "Sudah berapa kali kukatakan padamu, Sasuke? Mulailah belajar menggunakan ponsel dan berkirim pesan lewat email. Itu akan menghemat waktumu." Ujar sang Hokage. Tangannya mulai menerima gulungan kertas dari mantan muridnya itu.

"Tsk. Dan membiarkan mereka menyabotase informasi desa lewat jaringan internet?" Balas Sasuke tajam. Kakashi membelalakan matanya mendengar jawaban dari Sasuke, lagi-lagi sang Hokage menghela napas berat. Dia sangat tahu bahwa si pengguna jurus Chidori yang diajarkan olehnya itu sangat ingin melindungi desa kelahirannya setelah mengetahui kebenaran dari sang kakak tercinta, Itachi.

"Kau terlalu paranoid, Sasuke. Kita sudah mengenal para kage jadi hal tersebut tidak mungkin—"

"—Nothing's impossible, Hokage-sama. Sebaiknya anda melihat informasi apa yang saya bawa." Setelah mengatakannya, Sasuke pergi meninggalkan ruangan secepat biasanya tanpa permisi atau pamitan terlebih dulu. Tidak lebih dari sepuluh menit Sasuke berada di ruangan. Menggelengkan kepala, "Aku bahkan belum memberitahumu berita penting lainnya, Sasuke." Kakashi memijat pelipisnya,

"Tolong bawakan aku air hangat." Ucap Kakashi pada sekretarisnya,

.

.

Sakura berulang kali melihat surat perintah yang diberikan oleh Hokage yang lampirannya ditanda-tangani oleh Tsunade dan para petinggi Konoha lainnya. Sudah satu jam waktunya habis digunakan untuk melamun dengan berbagai pikiran-pikiran berseliweran masuk kedalam otak cerdasnya, namun dia tidak dapat menemukan apapun jawabannya. Kembali, mata klorofilnya menatap secarik kertas dengan kop pemerintahan Konoha yang dipimpin oleh seorang Hokage—Hatake Kakashi dan stampel dari para petinggi lainnya, dia mendesah kesal dan menenggelamkan kepala merah mudanya kedalam lipatan tangannya.

"Forehead apa kau sibuk?" Suara ketukan pintu disertai suara cempreng yang sudah sangat dihapalnya itu memasuki gendang telinganya, dengan cepat Sakura menegakkan kepala merah mudanya, menatap horror pintu dan segera menyembunyikan kertas yang sedari tadi sedang diratapinya,

"Ne, Ino masuk saja!" teriaknya setelah beberapa detik otak cerdasnya me-loading.

"Hey jidat, Tenten dan Hinata mengajak kita untuk berendam air panas ke Onsen sore ini!" Sore ini.. sore ini tepat pukul empat.. sore ini—

"SORE INI?!" Teriakan Sakura yang cukup nyaring mau tidak mau membuat sahabat sedari kecilnya itu terlonjak kaget, dia melangkah mundur dan ancang-ancang kabur manakala sahabatnya ini mengamuk tiba-tiba. "A-apa yang kau lakukan, jidat?! Kau membuatku terkejut!" Emelard milik Sakura menatap mata biru wanita cantik di depannya dengan tatapan nanar, dia meneguk ludahnya pelan, "Se-sekarang jam berapa, Ino?" Helaan napas keluar dari bibir sensual wanita dengan surai pirang ini, Yamanaka Ino melirik jam dinding yang bertengger dengan indah di dinding tepat satu meter di atas kepala sahabat pinky-nya itu,

"03.30pm, tenang saja kita masih punya waktu 30 menit untuk—"

"—Gomenna Ino, lain kali saja ya!" dengan kecepatan kilat, Sakura sudah berada di ambang pintu dan menghilang setelah mengatakan 'lain kali saja ya!'

"Dia sebenarnya kenapa sih?" tanya Ino sambil menggelengkan kepala tidak paham. Sesaat, seuntas senyum miring menghiasi bibir sensualnya, "Khukhukhu sepertinya dia akan kencan tanpa sempat memberitahuku~" tebaknya melenceng jauh. Tidak salah sih, beberapa minggu ini banyak sekali surat ajakan kencan yang dikirimkan pada sahabat pinky-nya itu karena statusnya yang hingga saat ini masih menjomblo.

.

.

Di dalam ruangan yang serba putih dan tentu saja dengan dinding yang sudah di desain dengan sedemikian rupa hingga hasilnya menjadi kedap suara, Orochimaru berulang kali mengancam Tsunade yang memaksa dirinya untuk memindahkan hasil eksperimennya ke Rumah Sakit terbesar di Negara HI yang secara tidak langsung berada di tengah-tengah kota Metropolitan yang berada di Konoha. "Ini yang terbaik untuk Itachi, Ular! Dia membutuhkan perawatan yang lebih steril dan lengkap dibandingkan dengan laboratorium milikmu yang menyeramkan itu! Lagian kau pun harus fokus pada eksperimen yang lainnya." Dengus Tsunade, mereka tidak menyadari sosok perempuan merah muda sudah berada di sana sejak dua menit yang lalu mendengarkan para Sannin Legendaris beradu mulut.

"Bisakah kalian berhenti bertingkah seperti anak kecil? Nona Haruno sudah datang." Degup jantung Sakura berdetak dua kali lebih cepat ketika suara lain yang tiba-tiba muncul di belakangnya menginterupsi mereka,

Tsunade mengalihkan perhatiannya dari Orochimaru, mata karamelnya mendadak lebih lembut ketika melihat murid kebanggaannya sudah tiba,

"Ah, aku senang sekali kau mau menerima misimu, nak." Tsunade berjalan menghampiri Sakura dan menepuk pundak gadis pinky yang terlihat sekali kalau dia masih sangat kebingungan. Delikan mata Tsunade seolah memberikan perintah pada Orochimaru untuk mengikutinya ke luar, ke tempat yang lebih privasi.

Mereka memasuki ruang diskusi yang hanya diisi oleh Tsunade, Orochimaru, Sakura, serta seseorang yang barusan berhasil menaikan detak jantung Sakura berdetak dua kali lipat—Kabuto.

"Jadi? Kau menerima misimu ini, nak?" tanya Tsunade basa-basi. Sakura memutar bola matanya seraya melipat kedua tangannya di depan dada, "seperti aku bisa menolaknya saja, Shishou. Ini perintah mutlak 'kan? Sampai-sampai surat perintahnya saja ditanda-tangani oleh semua tetua, dirimu, Orochimaru-sama, serta Hokage sendiri!" Tsunade tertawa mendengar penuturan murid kesayangannya ini. Suara deheman Orochimaru yang serak itu berhasil membuat suasana kembali diam,

"seperti janjiku, Tsuna, aku akan membiarkan perawatan Itachi di rumah sakit ini asalkan nona Haruno yang bertanggungjawab. Dia ninja medis yang mampu mengalahkan kebolehanmu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Orochimaru diikuti oleh Kabuto berjalan pergi meninggalkan guru-murid itu berdua. Sebelum benar-benar pergi, Kabuto memberikan tepukan semangat pada pundak kunoichi kebanggaan Konoha ini.

"Jadi, kapan aku bisa memulai misinya, shishou?" tanya Sakura. Tsunade mendelik tajam, sebelum menjawab, Sakura kembali berbicara,

"Ma-maksudku, bukan sore ini 'kan?"

"Tentu saja sore ini, Sakura! Pantau terus perkembangan Itachi dan berikan laporannya padaku sebelum si ular mendapatkannya, mengerti?" perintah Tsunade. Sakura mengangguk takut,

"H-ha'i Shisou."

Dan sejak detik ini kehidupan seorang Haruno Sakura akan berubah 180 derajat. Sekiranya itulah yang ada di dalam benak gadis merah muda ini. Mendesah pelan, Sakura memasuki ruangan yang bisa disebut VVIP itu dengan lesu. Dia mengeluarkan aliran cakra hijaunya dan meletakannya di kening sang Uchiha Sulung. Setelah dirasa cukup, Sakura mencatat beberapa laporan yang sekiranya perlu. Memandang sebentar sosok tampan di depannya, Sakura kembali teringat pada pujaan hatinya,

"Sasuke-kun." Ucapnya pelan. Mereka sangat mirip, yang membedakan hanya garis di wajah serta warna rambutnya. "Hei Itachi-san, bagaimana bila Sasuke-kun tahu kau kembali hidup? Apa dia akan berhenti berkeliaran di luar desa dengan alasan menebus dosa-dosanya itu?" tanya Sakura pelan. Bibirnya tertarik membuat lengkung senyuman yang miris, dia bertanya pada seseorang yang bahkan belum sadarkan diri.

"Kurasa hari ini cukup, Itachi-san. Aku harus kembali ke rumah atau ibuku akan marah-marah lagi." Sakura tertawa mengingat bagaimana sang ibunda tercinta menganggapnya tidak peduli lagi dengan keadaan rumah dan kedua orangtuanya karena sangking sibuknya di rumah sakit. Sakura beranjak pergi dan mematikan lampu ruangan rawat Itachi.

.

.

Shikamaru mendengus kesal menatap email yang baru saja memasuki komputernya. Dia sungguh merasa sangat lelah hari ini dan baru saja menginjakkan kakinya di kamar tercintanya, niatnya hari ini itu dia ingin berendam air panas lalu tidur, tapi sepertinya Hokage yang menurutnya merepotkan itu memang benar-benar merepotkan. Bagaimana mungkin dengan seenak jidatnya yang selalu ditutupi oleh poni peraknya itu, dia tiba-tiba mengirimkan email yang hanya berisi,

From : Hokage-sama

Kumpul di ruangan meeting sekarang juga.

P.S : PENTING!

Shikamaru mengusap wajahnya pelan. "Tsk!" dan dia dengan cepat keluar lewat jendela kamarnya menuju tempat yang diperintahkan sang Hokage.

Berbeda dengan Naruto, pemuda pirang ini dengan teliti membaca setiap lembaran-lembaran kertas tentang ilmu politik yang dipelajarinya. Dia benar-benar menyukai dengan pelajaran ini bahkan mangkuk ramen instan miliknya belum sempat disentuh sama sekali. Mata birunya teralih ketika ponselnya berdering pertanda ada telepon masuk. Tanpa melihat siapa peneleponnya, dia mengangkat dengan cepat,

"Nan-ttebayo?" jawabnya. Dahinya berkerut ketika telepon tiba-tiba dimatikan. Sama seperti Shikamaru, Naruto dengan kesal melempar ponselnya keatas kasur dan melesat pergi melalui jendela kamarnya. Otaknya yang memang pas-pasan untuk mata pelajaran itu berpikir keras selama perjalanan, apa ini mengenai penemuan baru Orochimaru itu? Batinnya. Setelah hampir satu bulan sejak penemuan Orochimaru yang diketahui olehnya, Naruto benar-benar tidak pernah lagi mendengar informasi apapun dari perkembangan observasi itu jadi saat ini dia benar-benar sangat penasaran terutama menyangkut tentang kedua orangtuanya.

"Shikamaru!" sapa Naruto yang melihat Shikamaru berjalan lebih dulu darinya, menghentikan langkahnya, Shikamaru berbalik dan mengangguk pertanda dia menyapa balik rekannya itu. "Kau juga dipanggil, eh?" ucap Shikamaru acuh tidak acuh,

"Ya, sepertinya ini mengenai penemuan itu, Shikamaru." Ungkap Naruto,

"Penemuan apa?" Suara dingin dan familiar itu menyeruak memasuki gendang telinga mereka berdua, keduanya berbalik dan melihat sosok yang telah lama tidak dilihatnya berjalan kearah mereka. Tatapannya tetap datar seperti terakhir kali mereka melihatnya,

"Teme! Kau kembali?" Naruto tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapinya ketika sahabat sekaligus rivalnya itu membalas dengan senyuman yang sangat tipis. Mereka bertiga berjalan menuju kantor Hokage, tepatnya menuju ruang diskusi di kantor tersebut.

Naruto melirik Sasuke yang benar-benar berwajah datar, dalam benaknya berkecamuk apakah Sasuke sudah tahu tentang eksperimen yang dilakukan oleh Orochimaru? Memang, penemuan Orochimaru ini masih sangat rahasia dan hanya orang-orang tertentu saja yang diizinkan untuk tahu. Tapi, Sasuke adalah anggota keluarganya—Itachi— sekaligus pahlawan perang Shinobi tiga tahun yang lalu. Naruto menghela napas pelan, saat ini, bukan kehendakku untuk memberitahumu, Sasuke. ucap Naruto dalam hati.

Mereka memasuki ruang diskusi yang ternyata hanya ada Kakashi seorang dan mata-mata Anbu yang sudah sangat mereka kenal, Sai, duduk dengan manis di deretan kursi yang melingkari meja bundar di ruangan tersebut. Mereka berlima akhirnya melakukan diskusi yang cukup panjang,

"Itu tidak mungkin, sensei! Aku sangat tahu jika Gaara tidak mungkin ada niatan untuk mengkhianati Konoha atau desa-desa lainnya!" Naruto, lagi-lagi menggunakan emosinya dalam mengungkapkan segala jenis permasalahan, tidak salah sih, dia adalah sahabat dekat dari sang Kazekage muda Sunagakure. Kakashi memahaminya dengan sangat baik, dia berdehem,

"Ini hanya perkiraan saja, Naruto! Aku juga berharap tidak sampai terjadi pengkhianatan diantara para desa Shinobi." Jelas Kakashi,

"Sebenarnya tidak bisa dibilang suatu rencana pengkhianatan, Hokage-sama, bisa saja mereka memang baru menemukan bahwa ada kandungan minyak bumi yang sangat berlimpah di wilayahnya itu dan belum sempat memberitahu kita." Tungkas Shikamaru mencoba berpikir bijak, Naruto menyetujuinya dengan anggukan yang sangat mantap.

"Logika kalian sungguh tidak berjalan dengan sangat baik. Mereka telah menemukannya kurang lebih hampir satu tahun yang lalu, dan aku sudah menyelidikinya hampir enam bulan ini. Mereka memang tidak berniat untuk memberitahu siapapun, bahkan kini pembangunan besar-besaran telah dilakukan oleh mereka! Apa kalian tidak penasaran dari mana mereka mempunyai budget sebesar itu untuk melakukan perombakan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun?" Mereka semua terdiam mendengar penuturan panjang lebar dari Sasuke yang biasanya tidak pernah peduli dengan urusan desa orang,

Kakashi bahkan tidak tahu kalau Sunagakure, desa pasir yang sangat panas dan gersang yang tidak berpotensi dalam tanaman apapun selain kaktus serta hanya cocok sebagai negeri untuk berternak itu kini sedang melakukan proyek pembangunan yang besar. Untuk hal tersebut dibutuhkan omset yang sangat tinggi seperti halnya Konohagakure sebagai Negara HI yang mempunyai utang negara cukup tinggi karena pembangunan dan perbaikan desa akibat perang. Namun, yang mengherankan justru para diplomat atau sebut saja duta Konoha yang ada di Suna sama sekali tidak memberikan informasi mengenai hal tersebut pada Desa, seolah tidak terjadi apa-apa. Apakah ada permainan politik di sini?

Perdebatan cukup alot hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12.30 malam hari. Diskusi ditutup dan Kakashi meminta diantara mereka untuk tidak ada yang lebih dulu membocorkan masalah tersebut pada siapapun sebelum informasinya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Bila memang ada yang disembunyikan oleh Sunagakure, maka akan terjadi perang dingin diantara kedua negara besar tersebut.

.

.

.

Hari menunjukan pukul 07.00 pagi hari, Sakura sudah datang di rumah sakit dengan membawa beberapa laporan dari juniornya mengenai keadaan pasien-pasien yang baru pulang dari misi. Memijat pelipisnya pelan, Sakura memasuki ruangan itu, ruangan dengan nomor kamar 226 yang dilengkapi dengan fasilitas canggih serta lengkap bahkan ruangannya pun kedap suara. Dengan langkah berat, Sakura membawa tubuh rampingnya untuk memasuki ruangan yang masih gelap itu karena belum ada yang menyalakan lampu ataupun membuka tirai jendelanya.

Jubah putih dokternya mengayun seirama dengan langkah kakinya. Dia menutup pintu ruangan dengan sangat pelan, menghela napas sejenak, akhirnya dia berhasil memasuki ruangan yang sebenarnya sangat enggan dia masuki ini, entah karena hal apa. Emeraldnya terbelalak ketika melihat begitu banyak burung gagak yang entah datang dari mana telah memasuki ruang inap Itachi,

Suaranya mendadak hilang ketika dia berniat untuk berteriak, suasana mendadak hening dan burung-burung gagak itu pun mendadak hilang, masih berdiri dengan lutut yang bergetar, Sakura dengan berani menatap sosok di atas ranjang yang telah duduk dengan mata terpejam erat,

"Jangan pernah melaporkan keadaanku pada siapapun, anggap aku tidak pernah sadar, kunoichi." Bulir-bulir keringat dingin membasahi tubuh Sakura, bibirnya kelu untuk sekedar berucap atau menanggapi apapun itu. Kini, Sakura bahkan telah jatuh terduduk di atas lantai marmer kamar inap yang dingin ini tanpa bisa mengalihkan mata emeraldnya dari sosok di atas ranjang yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam mata merahnya.

.

.

.

Bersambung.

A/N : Bertemu lagi dengan saya! Hallo selamat malam Sabtu, senang sekali baru satu chapter sudah ada yang mem-favorite cukup banyak! Hehe,

Saya ucapkan terima kasih banyak untuk yang sudah memberikan review, favorite ataupun follow fanfic ini. Saya anggap itu sebagai apresiasi kalian terhadap keberlangsungan fanfic ini sekaligus penyemangat saya untuk lebih cepat dalam meng-update ini cerita.

Saya hanya meminta untuk tidak langsung kabur setelah membaca cerita saya, setidaknya tinggalkanlah jejaknya di kolom komentar, ya. Saya sudah lumayan lama vakum di fanfic Naruto jadi sedikit gugup gitu untuk memulai kembali menulis cerita haha xD

Oh iya, saya usahakan minggu depan untuk tidak telat update, soalnya minggu depan itu minggu yang sangat menyeramkan bagi saya.

Bayangkan,

Senin : Presentasi Manusia dan Sains

Selasa : Agama, Ilmu Negara

Rabu : Sosiohumaniora tentang Sosiologi

Kamis : Pengantar Ilmu Hitam—Hukum maksudnya—

Semuanya PRESENTASI! Doakan aku ya semoga lancar hiks.. Jadi, kalau memang telat pun tolong dimaklumi, ya hihi..

.

.

Oh iya, terima kasih banyak untuk :

Hanazono yuri : Mungkin ada, mungkin enggak. Haha, pantengin aja ceritanya, ntar kamu ambil kesimpulan sendiri kira-kira ada unsur romasa antara mereka bertiga atau tidak. Thanks for your reviews!

.gee : Anti mainstream? Benarkah? Haha, terima kasih geegee :D

RIKUDO MADARA 39 : Terima kasih untuk dukungannya Madara-san!

Dryad : Hey kenapa tidak login? Tapi, terima kasih sudah review :D

adora13 : Penasaran? Haha, pantengin terus ceritanya ya! Terima kasih sudah review :)

alisialinet : Terima kasih sudah review alisalinet-san!

Asuka Kazumi : Sasuke shock? Pastilah itu haha, tapi untuk kepastiannya jangan lewatin chapter-chapter selanjutnya yaa Asuka-san. Terima kasih sudah me-review!

Laila : Hey kenapa tidak login, Laila-san? Tapi, terima kasih sudah review :D

Kirara967 : Suka? Syukurlah, arigatou ne :D semoga chapter 2 ini tidak mengecewakanmu ya!

.

.

Sekian dari saya, selamat malam dan sampai jumpa di next chapter~

Oh iya, NITIP DOA BUAT MINGDEP HUEEEEEEEE... T_T