Tittle : Y and J

Main Cast : Wu Yifan | Kim Jongin | Xi Luhan

Rate : M

.

.

.

.

Hari sudah gelap ketika Kim Sungsoo dan Wu Yifan tiba di Seoul. Deretan jendela bercahaya dan jalan-jalan raya berlampu lisrik terletak di kawasan Gangnam. Yifan tak begitu mengenali kota-kota besar selain China. Jalan tepi sungai Han mengantar mereka ke selatan. Mereka melewati beberapa pertokoan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Akhirnya, setelah memasuki kawasan perumahan dengan keamanan yang ketat, mereka melihan papan nama yang menempel di tembok penghubung pintu gerbang yang menjulang tinggi; "Kim Sungsoo – Kim Yoonah". Setelah pintu gerbang masuk yang bergaya kuno menjulang tinggi di hadapan mereka terbuka, mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman luas sebuah bangunan yang tidak bisa dibilang biasa.

Jalan masuk selebihnya diterangi lampu yang berada di samping-samping tembok pembatas.

"Kita sudah sampai di rumahku, Yifan," tukas Sungsoo, memandang jendela-jendela bercahaya dengan lega. "Mari kita masuk."

Yifan tidak menjawab, ia hanya mengangguk tanpa mengubah air wajahnya. Bukannya ia tak mengerti dengan sebagian ucapan Sungsoo. Ia mengerti, berterimakasihlah pada temannya Chanyeol, sahabat SMA nya saat di China yang selalu memaksa Yifan untuk mengetahui sedikit demi sedikit bahasanya dengan alasan 'persahabatan'.

Dengan penjagaan yang lengkap, mereka turun dari mobil anti peluru yang terparkir di depan halaman berlantai keramik. Yifan berjalan di belakang Sungsoo dengan menenteng tas hitam yang berisi beberapa pakaian.

Di dalam, mereka bisa meliat meja-meja yang diterangi lilin, pelayan-pelayan wanita dengan mengenakan seragam sendiri, dan beberapa petugas keamanan Negara berjas hitam. Potret kemewahan.

Sungsoo dan Yifan masuk ke sebuah ruangan yang besar berisi beberapa buku koleksi yang tersusun rapi di rak buku besar. Yifan memandang sekeliling.

Balok kayu di langit-langit menjulang di atas area duduk dan sebuah meja kerja kayu. Suasana dalam ruangan itu seperti tidak kenal waktu.

Di salah satu tempat duduk, seorang wanita yang terlihat tulus menunggu dengan sabar. Di hadapan wanita itu, seorang lelaki dengan pakaian yang bertolak belakang sedang memainkan ponsel tanpa menoleh, merespon beberapa orang yang memasuki ruangan itu.

Sungsoo duduk di samping wanita di sofa utama, kemudian mempersilahkan Yifan untuk duduk di hadapan mereka; di samping lelaki berkulit tan. Beberapa petugas keamanan yang mendampingi Yifan dan Sungsoo sejak dari China, tertahan di balik pintu kokoh ruangan itu. Sedangkan, dua petugas keamanan Negara, berjaga di dekat pintu masuk.

Lelaki beruban yang Yifan ketahui bernama Lee Sun Jae itu tetap berdiri di samping sofa yang di duduki Sungsoo. Mereka sempat memperkenalkan diri saat perjalanan dari China ke Korea Selatan.

"Perkenalkan, ini istriku, Kim Yoonah"

Setelah mendengar suara ramah dari Sungsoo, Yifan dan wanita anggun berparas cantik itu berjabat tangan.

"Dia Yifan… Yang ku ceritakan semalam,"

Benar, saat di China, pasangan suami istri itu melakukan sambungan telepon dan sedikit banyak Sungsoo menceritakan tentang perjalanannya, Wu Lian, hingga rencananya yang melibatkan Yifan.

"Jongin…" panggil Yoonah pada lelaki yang duduk di samping Yifan.

Namun, tak ada tanda-tanda dari Jongin untuk merespon ucapan istrinya. Nampaknya pasangan suami istri itu seketika menyadari satu hal, Jongin sedikit tidak menyukai ibunya karena menurut Jongin, ibunya tidak pernah membelanya ketika ayahnya bertindak tegas terhadap Jongin. Intinya, Jongin benar-benar tidak mempunyai tameng di keluarga ini ketika ia mendapat masalah.

Kemudian Sungsoo bersuara, "Kim Jongin…" nadanya tetap rendah namun penuh penekanan.

Jongin mengangkat kepalanya. Melirik ke arah Sungsoo dan wanita yang duduk di samping pria tua itu dengan pandangan malas.

"Perkenalkan, dia Yifan." Sungsoo memperkenalkan Yifan pada Jongin.

Jongin menoleh ke sampingnya dan menghela nafas panjang, "Kali ini apalagi, Aboji?"

Tanpa membalas uluran tangan Yifan, Jongin kembali memandang ayahnya dengan tatapan tajam.

"Dia akan menjagamu 7x24 jam. Dia cu…" memotong perkataan ayahnya dengan tiba-tiba berdiri dari sofanya, Jongin memperlihatkan wajah dengan penuh ekspresi tidak suka. "Dia cucu dari Wu Lian, Jongin."

Jongin memandangi lelaki berambut light brown yang masih belum mengeluarkan suaranya itu sejenak. Kemudian ia menarik nafas dalam. Bukan tidak tau tentang Wu Lian, Jongin tau siapa kakek yang sedikit banyak berjasa untuk ayahnya itu. Jongin berlutut di hadapan ayahnya,

"Aboji… kumohon jangan lakukan itu lagi." Ia menunduk. Pandangannya tepat di antara kedua kaki ayahnya yang memakai sepatu bermerk Edward Green hitam.

Sungsoo menyentuh tangan wanita di sampingnya, "Lalu aku akan membiarkan kau membuat masalah lagi, begitu? Kami sudah kehabisan akal, bagaimana cara mendidikmu. Hukuman penurunan fasilitas juga sepertinya tak berpengaruh besar padamu."

Melihat mata Jongin menatapnya dengan tatapan memohon, Sungsoo menghela nafas, "Tidak ada penolakan, Jongin. Kau tau kan posisi keluarga kita sekarang ada dimana?"

Tangan Jongin mengerat, ia beranjak dan berdiri tepat di depan ayahnya. Sebenarnya, ini adalah kata-kata yang ratusan kali ia katakan pada kedua orang tuanya, "Aboji! Aku ini Kim Jongin. Bukan Kim Sungsoo yang selalu harus terlihat baik di depan orang lain."

Tatapan dalam dengan penuh amarah tertuju pada ayahnya, "Aku… tidak… pernah… ingin… punya… ayah… sepertimu…" katanya dengan penuh penekanan.

Semua orang di dalam ruangan itu terkejut beberapa saat; Sun Jae, Yoonah, dua petugas keamanan tak terlalu terkejut, kecuali Yifan. Sudah sering mereka mendengar umpatan kasar dari bibir anak tunggal keluarga Kim itu. Dan, Yifan, ia bahkan sedikit miris mendengar pengucapan anak Sungsoo pada lelaki tua murid kakeknya itu. Walau Yifan tidak mengenal keluarganya, ia tak pernah berkata semacam itu.

BRAK!

Suara pintu dengan ukiran tradisional itu terdengar keras karena Jongin telah menutupnya secara kasar.

.

.

Sebenarnya Yifan enggan bekerja seperti ini, membuntuti orang lain 7x24 jam. Sebagai penjaga Jongin; bisa dibilang sebagai bodyguard. Padahal, ia ingin menjadi pemain basket professional, melanjutkan prestasi olahraga seperti saat SMA di China; menjadi kapten tim basket sekolahnya, mengikuti tournament antar SMA atau Kota, begitu seterusnya. Nama Wu Yifan juga menjadi salah satu nama penting dalam tournament antar SMA, mereka menjuluki Yifan, 'Dragon'. Memecahkan lapangan basket, mencetak angka, bermain sportif, dan tentunya, pesonanya di kalangan gadis SMA.

Namun, sepertinya keinginannya telah gugur oleh kebutuhan hidup yang harus ia cari. Yifan harus mengumpulkan banyak uang.

Setelah mendengar dari Fei, kenapa wanita itu mau menjadi perawat pribadi kakeknya, keinginannya semakin kuat bekerja sebagai bawahan Kim Sungsoo; menjaga Jongin. Tumor otak. Ya, rasanya ia akan berteriak dan memaki Tuhan ketika mendengar berita itu dari mulut Fei beberapa saat setelah pertemuan kakeknya dan Kim Sungsoo di apartement kakeknya, belum lagi, laporan Doktor dari Rumah Sakit memperkuat perkataan Fei.

Sejak kecil, kakeknya mengajarkan teknik-teknik beladiri dengan beberapa muridnya.

Sejak kecil, kakeknya merawat Yifan tanpa sosok seorang wanita; karena nenek Yifan sudah meninggal sebelum Yifan terlahir.

Hari mulai larut. Setelah Kim Sungsoo memperkenalkan Yifan pada seluruh bawahannya, lelaki tua dengan senyum hangat itu harus kembali ke rumah dinasnya yang terletak tak jauh dari rumah pribadinya bersama semua petugas keamanan; yang memang bertugas mengawal Perdana Menteri itu. Meninggalkan Yoonah, Jongin, Yifan, dan beberapa penjaga rumah. Yifan mengamati ruangan di hadapannya, ruangan yang luas berisi perabotan rumah tangga pada umumnya, juga beberapa foto keluarga yang cukup besar berada di tembok penghubung ruangan itu dengan ruangan sebelahnya. Piringan hitam yang masih berfungsi berada di sudut ruangan itu sedang memutarkan lagu. Entahlah, Yifan tak tau itu lagu apa. Bahasa Korea dan sepertinya lagu lama.

Tatapannya menyapu sekali lagi ruangan yang di penuhi dengan teknologi tinggi itu sebelum ia bertemu muka dengan Yoonah.

Senyum hangat perempuan berumur 45 tahun itu membuat Yifan menyunggingkan sedikit senyumnya.

"Jadi kau sudah mengerti kan pekerjaanmu?"

"Sudah, Nyonya Kim." Yifan menyahut singkat mendengar pertanyaan Yoonah.

"Sebenarnya aku masih percaya kau adalah cucu dari Wu Lian. Sifat kalian berbeda jauh," Yoonah melanjutkan, "Dan panggil aku ahjumma. Nyonya Kim terlalu aneh jika kau yang memanggil. Arrasseo?"

Sembari tertawa kecil, Yoonah mengangkat cangkir teh kemudian meminumnya.

"Iya. Sepertinya sifat kakek berubah seperti anak kecil ketika bertambah umur, ahjumma."

"Tepat. Orang tua memang seperti itu," Yoonah tersenyum kembali, "Maafkan sikap Jongin yang seperti itu. Dia hanya perlu menyesuaikan dengan orang asing."

Yifan mengangguk setelah menyelesakan tegakan teh hijau dari cangkir.

"Sebenarnya anak itu baik, tapi… yah begitulah," Yoonah melanjutkan, "Sejak SD, Jongin selalu dibully. Entah karena sikapnya yang kasar dan tak taat peraturan, atau berita kalau dia anak seorang Perdana Menteri tersebar, setelah ia menyembunyikan rapat-rapat."

Yifan hanya membisu,

"Belum lagi setelah mengenal namja China itu…"

Yifan mengerutkan keningnya mendengar perkataan yang sedikit menyinggungnya sebagai warga Negara China.

Yoonah menggerakkan tangannya, menutup mulut, kemudian melanjutkan perkataannya, "Maksudku Xi Luhan. Dia membawa pengaruh buruk untuk Jongin. Setelah Jongin mengenal Luhan, ia sering terlibat pertengkaran di pub, minum-minum dan sudah setengah semester ia tak mengikuti kuliah."

Pandangan wanita itu memudar, "Dan… nitizen mengatakan jika Jongin mempunyai hubungan khusus dengan Luhan. Hubungan sesama pria. Mereka beberapa kali memergoki Jongin dan Luhan, yah begitulah…"

Lelaki scorpio itu mengangguk dan membiarkan Yoonah untuk melanjutkan kata-kata yang terputus karena air mata yang mulai berjatuhan.

"Ia bahkan jarang pulang ke rumah jika ayahnya berada di rumah dinasnya. Jongin bahkan sering berteriak padaku. Jadi, bisakah aku mempercayakan Jongin padamu, Yifan?"

.

.

Yifan memang sepertinya diperlakukan beda oleh keluarga Kim. Berterimakasihlah pada Wu Lian. Keluarga Kim sangat menghormati beliau, begitu dengan Yifan. Meskipun Kim Sungsoo 'membayar' Yifan, namun, ia mengatakan jika tak perlu sungkan meminta bantuan padanya dan istrinya secara pribadi.

Yifan sekarang sedang menikmati seporsi nasi goreng kimchi dan semangkuk sup rumput laut.

Sarapan pagi ini, di atas meja makan keluarga Kim yang baru berlangsung 3 menit, harus terhenti karena ucapan seorang pelayan di rumah itu yang bernama Luna. Salah satu pelayan kepercayaan Yoonah dan Sungsoo.

"Nyonya, Tuan Jongin tidak ada di kamarnya," suara Luna berusia 24 tahun bergetar pelan dari samping Yoonah. "Dan setelah saya dan Jinki memeriksa rekaman CCTV, Tuan Jongin pergi dari jendela kamarnya dan melompat halaman belakang,"

"Astaga! Anak itu…" Yoonah dengan kesal meletakkan sendoknya yang sedang mengambil sup rumput laut.

Yifan menghentikan sarapannya. Sepertinya, ia tak akan bisa sarapan dengan tenang seperti saat ia menjadi tentara di Afganistan.

"Yifan… Kau sudah tau kan?" tanya Yoonah memandangi Yifan yang beberapa saat lalu sudah beranjak dari kursinya.

Yifan mengangguk. "Ne, Ahjumma."

"Luna, tolong antarkan Yifan menemui Chansung. Katakan pada Chansung untuk menyetir ke tempat Luhan. Kau mengerti?"

.

.

Perkataan Yoonah yang semalam menyinggung hubungan Jongin dengan laki-laki bermarga Xi itu benar.

Yifan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jongin berada di samping lelaki mungil di atas kasur sebuah apartement dengan keamanan yang tak memadai di kawasan Hongdae. Yifan menghela nafas, ia benar-benar tak menduga jika pekerjaannya akan sedikit rumit pada hari pertama ia bekerja.

Setelah menerobos apartemen yang diyakini milik seorang Xi Luhan, Yifan berdiri di samping tempat tidur apartemen kecil itu sembari menatap tajam kedua lelaki yang bertelanjang dada di hadapannya. Tidak sulit untuk memasuki gedung apartement yang system keamanannya belum terlalu canggih. Dan tidak sulit juga membuka lubang kunci pintu dengan besi kecil.

Kedua lelaki itu masih belum membuka matanya. Tertidur pulas walau waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.

Masih pada posisi yang sama, Yifan tak bergerak selama lima belas menit. Masih dengan melipat tangannya di dada.

Pergerakan kecil dari Jongin tertangkap oleh mata Yifan. Dengan perlahan, Jongin membuka matanya, mengamati ruangan itu dan ia dikejutkan oleh sosok Yifan yang tinggi dengan pandangan mata yang menusuk tajam sedang mengamatinya. Laki-laki tegap memakai kaos bergaris dengan celana kain coklat yang terlipat di ujungnya menyapa pengelihatan Jongin.

Luhan masih tertidur pulas di sampingnya.

"A…Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jongin sedikit terbata.

"Bereskan tubuhmu." Meskipun bahasa koreanya sedikit aneh, Jongin merinding mendengar ucapan Yifan. Ini pertama kalinya mendengar suara Yifan. Dingin.

Yifan beranjak keluar dari ruangan dan berdiri di dekat pintu kamar itu.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Jongin menemui Yifan dengan pakaian yang lengkap namun terkesan berantakan. Jongin menatap tak suka ke arah Yifan yang masih berdiri di dekat pintu kamar Luhan.

"Kau tak berniat menerima pekerjaan itu bukan?"

Yifan menyeringai, "Sayangnya, mulai hari ini aku akan terus mengikutimu,"

Lelaki dihadapannya hanya terkejut dan menampakkan mata yang bulat sesaat,

"Kupikir orang semacammu tak ingin punya pekerjaan rendah seperti ini."

Yifan tertawa merendahkan, "Bersetubuh dengan sesama jenis lebih rendah daripada pekerjaan ini."

Seketika itu, Jongin melotot marah memandang Yifan yang tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Wajahnya berpikir keras,

"Tak perlu mengelak." Ucapan dingin Yifan kembali terdengar, ia menarik pergelangan tangan Jongin dan menyeret laki-laki itu keluar, "Kau ada kelas jam 10."

Jongin berusaha melepaskan genggaman tangan Yifan yang erat di pergelangan tangannya. Beberapa kali ia memukul dan menendang Yifan, namun langkah Yifan sama sekali tak terhalang dengan itu.

BRAK!

Jongin mendorong tubuh Yifan pada tembok apartemen itu, ia mengambil alih keadaan.

"Baiklah, jika ini maumu."

Jongin hilang kesabaran, ia melayangkan pukulan telak pada tulang pipi Yifan.

BUGH!

BUGH!

Pukulan demi pukulan yang diterima Yifan pada wajahnya sedikit membuatnya meringis karena nyeri. Ia tak bisa melawan. Ya, laki-laki yang menguasai teknik-teknik beladiri itu hanya terdiam dan membiarkan tubuhnya menjadi sasaran. Walaupun Kim Sungsoo berkata pada Yifan, jika terpaksa menggunakan kekerasan, maka lakukanlah, namun sepertinya Yifan untuk saat ini tak ingin menggunakan kekuasaan itu.

"Sudah?"

Setelah Jongin sedikit terenggah-enggah karena pergerakan brutalnya, Yifan kembali menarik tangan Jongin menuju pintu keluar apartemen. Tanpa pikir panjang, Jongin menggigit tangan Yifan dengan keras, berharap laki-laki itu akan melepaskannya. Namun, nihil bahkan gigitan dan tendangan yang keras tanpa henti tak berhasil melepaskan tangan Yifan. Dengan cepat, Yifan membuka pintu belakang Maybach Landaulet putih yang berada di depan apartemen di gang kecil Hongdae dan mendorong Jongin masuk ke dalam.

"Jalan, Chansung."

Setelah Chansung mengunci semua pintu dengan otomatis dari kendali posisinya, Jongin mendengus kesal. Ia menatap keluar jendela, mengabaikan kedua orang yang berada dalam mobil itu.

Dari kaca spion tengah mobil, Yifan membuat heran Chansung karena beberapa luka lebam bahkan beberapa titik wajahnya mengeluarkan sedikit darah.

Tanpa kata, Chansung membawa mereka membelah kota Seoul dengan kecepatan lumayan kencang.

.

.

Terik matahari menyinari kelas politik dalam negeri yang terletak di gedung barat kampus itu. Sudah satu setengah jam kelas itu dimulai dengan sosen yang sedang menjelaskan teori-teori kepemimpinan. Hampir semua mahasiswa di dalam kelas itu memperhatikan penjelasan dosen bernama Leeteuk, karena beberapa hari lagi, ujian semester akan dilangsungkan. Dan beberapa diantaranya, malas-malasan dan terpaksa mengikuti kelas itu untuk mengisi daftar hadirnya.

Tak terkecuali Jongin.

Kulit tan miliknya terpapar langsung matahari melalui kaca yang tak jauh dari tempatnya menenggelamkan kepala. Batinnya menunggu untuk kelas yang menurutnya membosankan itu selesai.

Sebenarnya, ia bisa saja langsung keluar tanpa menunggu kelas usai, namun, bodyguard sialan itu menunggunya di ambang pintu masuk kelas. Setelah sebelum masuk kelas ia di permalukan karena Yifan menyeret paksa dirinya memasuki kelas itu dan beberapa mahasiswa melihatnya, ia enggan mengulangi kesalahan yang sama.

Di rendahkan secara tidak langsung dibawah kekuasaan Wu Yifan.

Sebelah tangan Jongin mengetuk-ketuk meja di hadapannya dengan tidak sabar. Beberapa mahasiswa yang memperhatikan penjelasan Leeteuk itu risih terganggu kegiatan Jongin dan hanya bisa berpura-pura mengabaikan bunyi itu tanpa berniat menegurnya. Mereka enggan terlibat masalah dengan Jongin. Jongin selalu membesar-besarkan masalah yang kecil.

Tampaknya, bunyi ketukan itu sampai di telingan Leeteuk yang seketika menghentikan penjelasannya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Takut dengan tatapan tajam dosen senior itu, beberapa mahasiswa malas segera menegapkan tubuh mereka.

"Kim Jongin." dosen berumur 50 tahun itu berteriak.

Walaupun ratusan mahasiswa menghadiri kelasnya setiap minggu dan sulit untuk menghafal nama-nama mereka, Leeteuk selalu tepat untuk menghafal nama-nama yang selalu membuatnya 'tersanjung' dengan prestasi atau masalah mahasiswa-mahasiswanya. Begitu juga dengan Jongin. Laki-laki itu beberapa kali terlibat pertengkaran dengan mahasiswa lain di beberapa kelas, termasuk kelasnya.

Kim Jongin tak mendengar teriakan sosen yang dikenal sebagai dosen senior dan baik hati itu di seantero kampus ini.

Leeteuk menghela nafas kemudian meletakkan spidol di mejanya kemudian berjalan menuju meja Jongin.

"Angkat kepalamu, Jongin." suara yang lembut dan pelan keluar dari mulut Leeteuk.

BRAK!

Dosen itu tak menunggu beberapa lama untuk segera bertindak tegas.

Gebrakan meja Jongin oleh Leeteuk, membuat Jongin tersentak. Ia mengangkat kepalanya.

"Untuk kedua kalinya, kau meremehkan kelasku hari ini, Kim Jongin."

Pertama, tidak memperhatikan penjelasan dosen itu.

Kedua, mendengarkan musik melalui headphone yang tersambung dari IPodnya.

"Keluar kelasku, sekarang juga."

Tak ada terbesit rasa takut dalam diri Jongin. Tanpa melepas headphone atau mempause musik hip-hop yang mengalun dari IPodnya, ia beranjak dari tempatnya. Ia membaca gerakan bibir dosen tua itu.

Setelah memastikan Jongin keluar kelasnya, ia kembali ke depan papan tulis dan kembali mengajar.

Jika dosen lain akan membiarkan Jongin 'mengacau' di kelasnya, maka jangan berharap untuk kelas Leeteuk. Walaupun ia mengagumi sosok ayah Jongin, namun perbuatan Jongin memang pantas untuk mendapat peringatan bahkan hukuman. Ia satu-satunya dosen yang tidak takut dengan kekuasaan ayah Jongin.

Yah, walaupun kecil kemungkinan Jongin akan menggunakan kekuasaan ayahnya di kampus ini.

Jongin melangkah keluar kelasnya, dan mendapati Luhan sedang berdiri tak jauh di dekat Yifan. Luhan tersenyum lebar ke arahnya. Sepertinya, lelaki itu belum mengetahui siapa Yifan yang sedari tadi melemparkan tatapan tajam dan dingin.

Luhan menghambur kepelukan Jongin. Kedua tangannya memeluk pinggang Jongin dengan posesif,

"Kenapa kau tak membangunkanku, tadi pagi?" tanya Luhan, "Aku kan mencarimu," lanjutnya.

"Sudahlah, jangan banyak mengeluh." Kata Jongin sembari sesekali melirik ke arah Yifan yang masih berdiri di dekat pintu kelas itu, menatap dirinya dengan Luhan.

Jongin sesekali mengelus rambut Luhan dengan perlahan. Mereka meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Yifan.

Hanya beberapa detik, sebelum menit, pelukan Jongin dan Luhan terlepas. Yifan menarik tubuh Jongin menjauhi Luhan.

Ya, salah satu tugasnya adalah menjauhkan Jongin dari Luhan.

Meskipun ia sendiri enggan mencampuri urusan pribadi orang lain, namun, ia terpaksa melakukannya demi uang. Uang benar-benar membuat orang lain bertekuk lutut dibawahnya.

Luhan melotot dan menatap Yifan dengan tatapan penuh amarah. Kilatan api menyambar dari balik bola matanya. Luhan mengamati dari ujung kaki ke kepala fisik Yifan yang menjulang bak model. Laki-laki itu terlihat sempurna dengan balutan kemeja hitam dan celana hitam dengan Air Jordan merah. Dan hidungnya yang mancung bak papan seluncur terlihat karena kacamata hitam bertengger di kedua telinganya. Yah…. Walaupun beberapa titik memar tampak di wajah Yifan, itu tak sama sekali mengurangi kharismanya.

"Apa yang kau lakukan?" itu respon Luhan pertama kali,

Jongin masih dengan gigitan kerasnya pada tempat yang sama; untuk kedua kalinya hari ini, ia menggigit punggung tangan Yifan. Jongin sedikit memikirkan untuk bertindak nekat dengan memukuli wajah Yifan di area kampus.

Yifan tak menjawab, ia hanya bergegas untuk membawa Jongin menjauhi Luhan. Walau mereka sedang dalam adegan 'tarik menarik'; Luhan menarik tangan Jongin, dan Jongin sedang melepaskan tarikan Yifan di lorong kampus ini.

Tak kuat menahan sakit, Yifan menghempaskan tangannya dengan cepat ketika mereka sudah berada di parkiran kampus. Jongin melepas gigitannya dan tubuhnya tertarik ke arah Luhan yang menariknya dari tadi.

"Kau siapa? Hah?" suara Luhan yang melengking tinggi terdengar,

Tidak ada tanda-tanda dari Yifan untuk mengucapkan sepatah katapun, Jongin berkata, "Namja gila!" Jongin meyakinkan kata-kata yang keluar dari mulutnya barusaja, "Ya, benar, dia namja gila."

Luhan mengangguk-angguk menyetujui ucapan Jongin sambil merapikan kembali kemeja Jongin yang sedikit berantakan.

Yifan melihat itu hanya menyeringai penuh, "Kalau begitu, kau…." Tangan Yifan dengan cepat meraih kembali pergelangan tangan Jongin dan menarik ke arahnya. "ikut aku." Ucapanya.

Dan adegan tarik menarik dengan posisi yang sama seperti di lorong kampus itu menjadi tontonan gratis yang sedikit menghibur mahasiswa yang sedang berada di parkiran mobil.

BRUK.

Pergerakan tangan kiri Yifan membuka pintu mobil yang di balik setir ada Chansung, kemudian menjatuhkan tubuh Jongin ke kursi penumpang itu bergerak dengan cepat. Luhan hendak memasuki mobil itu, namun tubuhnya terhenti karena Yifan menghalangi dengan tangannya.

"Kau seharusnya menyadari eksistensimu, Xi Luhan." Perkataan singkat Yifan terdengar memekik di telinga Luhan. Secara tidak sadar, Luhan mundur beberapa langkah dan membiarkan Maybach Landaulet itu meninggalkan area kampus.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam, mobil mewah itu memasuki halaman rumah yang familier bagi tiga orang yang berada didalam mobil itu. Setelah pintu terbuka oleh satpam penjaga, Chansung segera memberhentikan mobil itu di depan teras rumah majikannya.

Masih penuh amarah, Jongin membanting pintu mobil dengan keras.

Ah sungguh disayangkan… mengingat harga mobil itu yang tak bisa dibilang murah.

Kim Jongin melangkahkan kaki cepat memasuki pintu yang telah terbuka karena Luna membukakan setelah mendengar deru mesin di halaman rumah, Jongin langsung menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Kediamannya itu, terlihat sepi, tidak ada aktifitas besar di rumah itu. Yifan mengikutinya dari belakang tanpa suara sedikitpun. Ia yang menyadari Yifan di belakangnya, ia segera berlari menuju kamarnya, namun, tiba-tiba dia berhenti setelah sampai di depan pintu kamarnya yang bercat putih.

"Kau tau?!" dengan berbalik, Jongin mendapati Yifan yang berdiri kurang dari satu meter dihadapannya.

Tak ada ekspresi bertanya dari Yifan. Air mukanya tetap sama. Benar-benar datar tak berekspresi.

"Eksistensimu lah yang salah, namja gila!" lanjut Jongin.

BRAK

Pintu dibanting dari dalam.

.

.

Luna membalut pergelangan tangan Yifan dengan kapas dan sedikit untaian perban saat mereka duduk di halaman belakang tak jauh dari jendela kamar Jongin berada. Setelah memutuskan untuk mengawasi Jongin dari kursi yang berada tepat di dekat kamar Jongin, Yifan membawa Luna ke halaman itu; itu karena Luna memaksa untuk mengobati wajah Yifan yang terkena pukulan Jongin tadi pagi, juga tangan Yifan yang mengeluarkan beberapa tetes darah akibat gigitan Jongin yang menembus kulit Yifan.

Yifan sebenarnya tidak sadar saat Luna berteriak menghampirinya dan bertanya dengan keadaan khawatir karena tangannya yang meneteskan darah. Yifan saat itu tidak sadar jika darah dari pergelangan tangannya menetes di lantai dekat dapur dan meminta maaf pada Sulli karena harus membersihkan ceceran darahnya di lantai tersebut.

"Pasti Tuan Jongin membuat hari pertamamu bekerja sedikit sulit ya?" tanya Luna pelan. Perempuan itu masih merapikan balutan tangan Yifan.

Mereka duduk berdampingan di salah satu kursi panjang yang sebelumnya berada di dekat kolam renang, dan ia pindah ke dekat kamar Jongin.

"Bukankah itu salah satu resiko pekerjaan?"

Luna sadar, dan ia segera menghentikan pergerakannya, ia menatap Yifan dan terkikik geli. Menepuk beberapa kali kepalanya, "Oh iya… Kau benar."

"Jadi, apakah gossip di kalangan penjaga rumah ini benar, jika kau adalah cucu dari Tuan Lian?"

Yifan mengangguk.

"Wah! Hebat dong! Aku pernah sekali bertemu dengan beliau. Tapi aku tak menyangka jika cucunya berwajah tampan sepertimu."

Sedikit menggoda, Luna kembali tertawa kecil dan melanjutkan pergerakannya; menempel plester luka untuk mengunci untaian perban putih itu. Yifan hanya tersenyum. Yifan teringat kakeknya yang sedang berada di China. Belum satu hari ia bertemu dengan kakeknya, ia harus kembali meninggalkan kakeknya yang sedang sakit.

"Kau pernah bertemu dengan kakek?"

Perempuan berambut bob itu menjawab dengan anggukan, ia mengambil kapas yang sudah terlebih dahulu diberi alkohol dan menempelkan sisi kapas itu pada beberapa titik memar wajah Yifan,

"Iya. Saat Tuan Kim di lantik, yah 2 tahun lalu, kira-kira," jawab Luna, "Tapi kenapa tidak ada kau ya, Yifan?" lanjutnya.

Yifan harus kembali bercerita, "Saat itu aku menjadi tentara di Afganistan. Jadi…"

Belum sempat Yifan melanjutkan perkataannya,

BYUR!

Air dari atas, menyiram tubuh keduanya. Yifan menggeram, ingin marah. Ini benar-benar hal yang dibencinya, melecehkan Yifan. Luna segera menoleh ke atas, dan mendapati majikannya, Kim Jongin sedang membawa ember merah sembari menampakkan wajah mengejek,

"T…T…Tuan Jongin?" Luna terbata, ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata majikanya yang berkilat penuh amarah.

.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N :

Sebenarnya saya nggak tau mau kasih judul apa fanfiction ini, jadi sekenanya aja.

Terimakasih sudah membaca, review, favorite, dan follow.

Review hanya untuk menambah semangat~

REVIEW:

Chotaein816: Iya ini Kriskai. Hehe. Benar sekali! Jongin jadi semenya Luhan.

Kriskai shipper : Benar. Ini KrisKai! Hidup KrisKai!

Kimkai88 : Yeay! Iyaa!

Jongin48: Iya terimakasih sudah baca ~

Delu4Selu: Terimakasih ya! LOL. Tapi maaf sepertinya nggak ada KrisHan :(

Dims : Iya! Pasti!

Guest 1 : Iya di lanjut kok. Terimakasih!

Belaa : Iya nggak di tulis KrisKai. Hehehe. Iya Kai uke.

Sayakanoicinoe : Yeay terimakasih!

Adilia . Taruni . 7: Di chapter ini sudah ketemu ~ Yeay.