Chapter 2
Yosh!
Ini chap 2 udah update. Maaf lama, karena aku ngetik nih fic ditengah-tengah kesibukanku yang Extra !
OMG!
Ada acara lomba untuk memeriahkan DN, dan segala macam tetek bengek lainnya. Buat proposal inilah, itulah-Arghhhh….pengin jambakin rambutnya ketua seksi yang cuman bilang, 'Ngak tahu aku, pusing!'_ketika aku mau tanay sesuatu.
Huuuh-
-pake' ngebentak segala lhoh, gimana ngak kesel coba. Hobinya nyuruh2 aja lagi.
Ehem-udah deh, Suzy jadi curhat ngak jelas kayak gini.
Selamat menikmati~
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Family, Supranatural
Pair : Uzumaki Naruto X Uchiha Sasuke
Rating : M *astaga!*
Warning : YAOI, FullLemon! Vulgar! OOC! Typo(s), M-preg(?), Supranatural, AU!
Don't like Don't read !
.
.
.
"AKH!"
Sasuke merasakan kulit lehernya seperti terkoyak, membuatnya menjerit kesakitan. Ia bahkan bisa merasakan desiran darahnya yang dihisap kuat oleh sang pemuda pirang. Namun, itu hanya beberapa detik, karena setelahnya rasa sakit itu berubah menjadi rasa yang sangat hangat.
Naruto menggigit leher putih itu, dan menghisap beberapa ml darah dari tubuh mungil dibawahnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera menyalurkan 'Zy'(*) miliknya pada tubuh Sasuke, membuat tubuh Sasuke yang berada di bawahnya merasakan kehangatan yang menyenangkan untuk tubuh lelahnya, dan membuat ia-
"Ngh~"
-melengguh karena nikmat, dan membuat Naruto tersenyum senang karena mendengar lenguhan seksi milik Sasuke.
Aroma tubuh Sasuke membuat Naruto mabuk kepayang. Ia berusaha menetralkan sisi gelapnya saat berhadapan dengan Sasuke_seseorang yang membuat ia bangkit dari dunia gelapnya dulu.
Naruto menghentikan gigitannya, ia menjilat bekas gigitan yang ia timbulkan. Membuat luka itu menghilang dalam sekejap, digantikan oleh tanda spiral kecil dengan beberapa huruf kanji yang menegelilinginya_pada perpotongan bahu kanan Sasuke yang terekspos jelas akibat kerah kaos longgar yang dipakai Sasuke tersingkap.
Naruto tersenyum senang saat melihat karyanya, lalu mengecup tanda itu singkat. Tanda berwarna hitam itu bersinar sedetik lalu kembali seperti semula. Layaknya tattoo, berwarna hitam pekat.
Bagi Sasuke, rasa itu terasa sangat menyenangkan. Membuatnya mendongakkan wajahnya_memberikan akses pemuda si atasnya untuk mengeksplorasi lehernya. Entah sejak kapan,kedua tangan sewarna porselen miliknya telah berpindah mencengkeram rambut pirang yang terasa sangat halus di telapak tangannya_menahannya agar tak berpindah.
Sedangkan Naruto yang merasakan respon positif dari Sasuke hanya tersenyum senang dalam cumbuannya yang berlanjut pada pada leher putih itu. Ia semakin gencar menghisap_tanpa menggigit_ kulit leher yang putih mulus itu hingga meninggalkan warna merah keungu-unguan, yang mungkin akan menghilang dalam jangka waktu yang cukup lama.
Puas dengan menandai leher putih itu, Naruto merangkak ke atas hingga wajahnya sejajar dengan wajah sang raven.
"Suke," suara Naruto terdengar sensual di telinga si raven, membuat perutnya tergelitik lembut. Menciptakan desiran halus di dadanya, seperti perasaan rindu yang sangat mendalam, bahkan semenjak mereka bertatap mata beberapa waktu lalu.
Ia merasakan wajahnya memanas, bahkan hingga telinga. Ya … ia cukup yakin bahwa wajahnya mungkin sudah sewarna buah kesukaannya_tomat.
Naruto menatap bibir mungil nan tipis dibawahnya. Tanpa meminta izin, ia merendahkan wajahnya dan mengecup bibir yang menggoda itu. Itu hanya sebuah kecupan ringan, sebelum menjadi lumatan-lumatan panas ketika Naruto merasakan betapa manisnya bibir yang tengah ia jamah.
Ia menjilat bibir bagian bawah Sasuke dengan basah, meminta ijin agar bisa memasuki rongga hangat yang akan segera ia jamah. Sasuke dengan senang hati membuka kedua celah bibirnya, memberikan Naruto akses untuk menjamah rongga mulutnya.
Sasuke tak berbuat banyak, ia hanya pasrah dengan segala kemauan pemuda pirang di atasnya. Memang melakukan hal ini untuk pertama kalinya, terlebih dengan seorang pemuda sama seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan olehnya. Bukan karena ia murahan hingga ia menurut layaknya kucing manis, tapi ia mempunyai alasan yang cukup kuat untuk menuruti semua keinginan sang pemuda pirang di atasnya.
Dirinya seolah memang telah terikat dengan Naruto_pemuda pirang di atasnya. Seperti ada sebuah ikatan yang terjalin antara dirinya dan Naruto. Dan hal itu cukup memberikan alasan bagi dirinya tentang perasaan rindu yang amat mendalam jauh di lubuk hatinya beberapa menit lalu.
Lidah basah milik Naruto menjelajah rongga hangat milik Sasuke. Mengabsen deretan gigi yang rapi, pangkal lidah, langit-langit, serta gusi. Seakan belum puas, ia melilit lidah Sasuke, mengajak lidah itu untuk menari bersama dalam rongga hangat itu. Membuat Sasuke mendesah tertahan.
Sasuke yang belum pernah melakukan hal panas seperti itu hanya memberikan respon sebisanya. Ia masih amatiran! Perlu diingat, ini pertama kali baginya. Ia sebelumnya memang belum pernah melakukannya.
Kedua tangan Naruto tak dibiarkan menganggur. Tangan kanannya naik ke tengkuk Sasuke, mendorongnya pelan agar cumbuan mereka semakin dalam. Sedangkan kedua tangan Sasuke mencengkram rambut spiky si pirang, dengan sesekali meremasnya kuat_seolah memberitahukan pada tubuh di atasnya bahwa ia merasa keenakan akan perlakuannya.
Tangan kiri Naruto bergerak perlahan menelusup kaos depan Sasuke. Ia meraba perut datar itu dengan sensual, lalu naik menuju ke sebuah titik incarannya.
Ia mengelus nipple yang masih berada dibalik kaos dengan gerakan mengambang, membuat Sasuke mendesah tertahan dalam cumbuan pasasnya. Naruto mencubitnya dengan gemas, sesekali menekannya dengan keras.
"Mnh!-Naru-hh-" Sasuke mengerang frustasi, disaat pasokan udaranya menipis_mulai kehabisan nafas.
"Manis-kau manis, Uchiha Sasuke-"
Naruto melepaskan cumbuannya. Ia memandang Sasuke akjub.
"-menakjubkan, Suke-chan.."
"Ja-jangan-panggil a-ku denga-n 'embel-embel' itu, Nar-naruto-hh" Sasuke memprotes panggilan itu dengan ekspresi masam ditengah meraup udara sebanyak-banyaknya akibat cumbuan panas beberapa detik yang lalu, membuat Naruto terkekeh kecil mendapati reaksi Sasuke yang sangat lucu dimatanya.
"Ja-jangan tertawakan aku!" protenya lagi. Ia mempoutkan bibirnya kedepan dengan ekspresi kesal, lalu memalingkan wajah ke samping, enggan untuk melihat kekehan kecil yang keluar dari celah bibir seksi milik Naruto.
"Hey-hey, aku hanya bercanda, Suke~"
Sedikit kesal karena Sasuke tak merespon, dengan Cepat Naruto merobek kaos yang dikenakan Sasuke dengan satu kali tarikan, membuat kaos biru tua itu menjadi dua. Sasuke merespon dengan mata membola.
"He-hey, .." Sasuke ingin protes, namun terhenti disaat dengan gerakan amat cepat, kepala berambut pirang itu menunduk dan menghisap nipple bwerwarna merah muda ittu dengan keras, membuat Sasuke mendesah keras
"Akh!-hh-Naru-hh,"
Naruto menjilat nipple yang menegang itu dengan nikmat. sedikit memebuat gerakan memutar pada tonjolan pink itu dengan lidah basahnya, lalu menghisapnya keras, hingga membuat Sasuke mendesah nikmat.
Tak dibiarkan menganggur, salah satu tangannya menuju putting yang lain. Tangan nakal itu mengelus, memilin, serta mencubitnya dengan keras. Sedangkan satu tangan lainnya menuju area selangkaan si raven. Ia mengelus benda yang sudah menegang itu dari balik celana kain yang dikenakan Sasuke, lalu tanpa pikir panjang, ia menarik celana itu kebawah.
Ia menghentikan hisapannya pada nipple sang raven lalu dengan tak sabaran, ia meneruskan untuk menarik celana kain sang raven, berikut dengan boxer dan celana dalam hitam. Tanpa perasaan, ia melempar kain yang baginya sangat menganggu itu_menyusul kaosnya yang telah sobek menjadi dua di atas lantai.
Sasuke hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang dengan nafas tersenggal. Tubuh seputih porselennya memerah, merasakan hawa panas yang menyerang tubuhnya yang telah polos-tanpa sehelai benangpun. Ia menatap pemuda pirang di atasnya yang menelanjanginya dengan pandangan membola. Ia melihatnya. Melihat serigai yang amat menyeramkan terbentuk di bibir Naruto, namun menambahkan kesan menawan pada Naruto.
Naruto menatap tubuh polos dibawahnya dengan serigai mesumnya.
"Bersiaplah untuk kenikmatan yang akan kau dapat, Suke~" ujar Naruto dengan baritone menggoda.
Kedua onix Sasuke berkilat mendengar ucapan Naruto.
Naruto merendahkan kepalanya pada selangkaan pemuda raven. Ia lalu menjilat ujung penis 'mungil' milik si raven. Membuat si empunya mendesis nikmat. Rongga hangat itu tanpa basa-basi mengulumnya penuh, membuat Sasuke melemparkan kepalanya yang setengah terangkat kebelakang, tepat pada bantal berwarna merah maroon.
"Mhh-ngh-naru,"
Kepala Naruto secara perlahan naik turun, memanja kejantanan si raven-hingga akhirnya bertambah cepat seiring kerasionalan si raven menguap.
"Lebih-cep-hh-cepat, Naruhh… aku-aku mau-" Sasuke tak sanggup lagi sanggup berkata ketika perutnya terasa melilit dan menegang, ada seseatu yang berdesir menuju puncak kejantanannya..
"-Narutooooo!" dan sebuah teriakan dengan punggung yang melengkung indah itu pertanda bahwa si raven mencapai klimaksnya. Menyemburka cairan kental itu ke dalam rongga hangat yang telah membuatnya menggelepar tak berdaya.
Naruto menelan cairan kental yang menyembur dalam rongga mulutnya-dengan senang hati. Cairan kental pertama yang dikeluarkan pemuda raven itu ditelannya habis, tanpa minat menyisakan setetespun.
"Manis-" guman Naruto dengan serigaian penuh arti.
Mata biru jernihnya memandang Sasuke yang masih menggelepar tak berdaya. Mulutnya berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya, pasca klimaks. Kedua mata onixnya menatap sayu pada Naruto.
Naruto kembali mencumbu bibir merah merekah akibat ciuman panasnya beberapa menit yang lalu dengan sanagat lembut. Ia menyibak poni panjang yang menutupi wajah seputih porselen_yang kini telah memerah dengan sanagt menggemaskan. Tak lama ia menarik undur wajahnya, lalu menyodorkan ketiga jarinya pada mulut mungil itu.
"Kulum," ujar Naruto.
Meskipun tak mengerti, ia hanya patuh menanggapi perkataan Naruto. Ia menjilat, lalu mengulum ketiga jari yang disodorkan Naruto dengan mulut mungilnya hingga basah.
"Cukup-" lagi-lagi, Sasuke patuh mendengar perkataan itu.
Ia menatap Naruto dengan pandangan bingung. Sungguh, ia benar-benar tak mengerti, kenapa pemuda pirang itu menyuruhnya untuk mengulum tiga jarinya. Padahal, setahunya, jika ingin membasahi tangan_baca:mancuci tangan_harusnya dengan air bersih, bukannya dengan air liur miliknya. Batinnya bingung.
Dan, Naruto harus menahan diri untuk tidak langsung menusukkan penisnya yang sedari tadi telah sesak di dalam celana- akibat rangsangan dan sentuhan yang telah ia berikan pada Sasuke- pada lubang sempit dan panas milik Sasuke_saat pandangan kebingungan dengan alis yang sedikit bertaut itu membuatnya terlihat semakin imut, sedang tertuju kearahnya.
'Fuck!' rutuknya dalam hati. Ia membuka kaki Sasuke lebih lebar, agar lebih mendapatkan akses yang leluasa nantinya.
Satu-
Jari atletis milik Naruto menyusup masuk pada rectum Sasuke, membuat Sasuke sedikit membolakan matanya saat merasakan ada sesuatu yang asing memasuki lubang bawahnya. Tidak sakit, hanya saja ia merasa tidak nyaman.
"Ahh-apa itu ?"
Tak menghiraukan pertanyaan si raven, jari itu menusuk masuk lebih dalam. Melakukan penetrasi agar memudahkan penis besarnya masuk_menggagahi pemuda manis itu.
Dua-
"Sakit! Hh-keluarkan, Dobe !" seru Sasuke kesal. Kepalanya sedikit terangkat dari bantal, memberikan deathglare terbaiknya pada Naruto agar segera megeluarkan sesuatu yang sedang asik menusukkan sesuatu di lubangnya. Ia mencengram sprei merah maroon dibawahnya dengan kuat. Membuat sprei kusut akibat cengkramannya.
Seakan tak mendengar, pemuda pirang itu tetap melanjutkan kegiatannya. Ia membuat gerakan menggunting untu mempelebar jalan masuknya, sembari memusatkan fokusnya untu menemukan satu titik yang membuat si raven melenguh nikmat.
"Sakit, uhh-" setetes air mata tampak mengalir dari sudut mata Sasuke. Marasa bersalah Naruto mendesis menenangkan.
"Ssttt-sabarlah, sebentar lagi" suara itu begitu merdu, sedikit membuat Sasuke tenang, namun tak membuat air matanya berhenti. Malahan semakin deras membasahi pip putihnya.
Naruto merendahkan tubuhnya, membungkam bibir mungil yang terus mendesis sakit akibat ulahnya.
Tiga-
"Sakit, Dobe! Keluarkan bodoh!" pekik Sasuke. Rasa sakit kini semakin terasa menderanya.
"Dob-Ahh~"
"Gocha!," seru Naruto dengan senyuman lebar yang menawan. Ia tambah bersemangat menumbukkan ketiga jarinya pada satu titik, apalagi suara desahan sexy yang terdengar ketika ia menusuk titik itu, membuat celananya makin sempit
"Ap-apa ituh ? Ah!- Ah!- Ah!- kenapa-hh rasanyahh-enak sekalihh-" Sasuke berujar disela-sela desahannya.
"Anggap saja itu titik manismu, Suke.."
Perut Sasuke terasa melilit_lagi. Ia merasakan akan menyemburkan cairannya untuk yang kedua kalinya,
Sedangkan Naruto yang mengetahui bahwa Sasuke akan klimaks untuk yang kedua, segera menarik ketiga jarinya, menimbulkan desahan kecewa dari bibir Sasuke
"Tak sabaran, eh?" Naruto menyerigai, membuat wajahnya memerah. Dengan terburu-buru, ia melepas kaosnya yang setengahnya telah basah oleh keringat, lalu melemparkannya kesembarang arah. Dan sekarang, tampaklah dada bidang atletis serta perut sixpack yang terbentuk sempurna. Dibalut oleh kulit tan yang berkilat oleh keringat, membuat Sasuke yang menatapnya tanpa berkedip.
"Suka dengan apa yang kau lihat, Sasuke ? " Naruto berkata usil, membuat Sasuke tersentak kecil. Ia memalingkan wajahnya kesamping, wajahnya kembali memerah, bahkan hingga telinga karena malu_ketahuan memperhatikan tubuh atletis Naruto.
Naruto sedikit mengocok kejantanannya sebentar, sesudah melepas celana serta undewearnya. Ia memposisikan kejantanannya tepat di depan lubang Sasuke.
"Aku masuk, Suke," Naruto berujar
Sasuke bingung. 'Apanya yang masuk ? ketiga jari nakal itu lagi ?' batin Sasuke, tak tahu apa yang akan memasuki dirinya nantinya.
Secara perlahan, Naruto mendorong kejantanannya pada lubang sempit milik Sasuke_
"Akh-Sa-sakit Dobe," Sasuke kembali berteriak kesakitan. Ia mencengkram pundak atletis Naruto yang berada di atasnya dengan kuat. Bukan, ia yakin bahwa benda yang memasuki dirinya bukan lagi ketiga jari milik Naruto. Benda itu lebih besar dari ketiga jari milik Naruto, bahkan sangat besar dan panjang dibandingkan ketiga jari milik Naruto. Apalagi benda itu terasa panas dilubangnya. Wajah dengan suam-suam merah yang masih sembab akibat air mata kini kembali dialiri cairan hangat dari kedua sudut matanya. Ia menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri, berusaha mengusir rasa sakit yang mendera tubuh bagian bawahnya.
"Ugh-sempit sekalih-hh," Bisik Naruto, parau. Ia menghentikan dorongan pinggulnya, membiarkan setengah penisnya tertanam di lubang ketat dan hangat milik Sasuke.
Belum masuk sepenuhnya.
Naruto yang melihat Sasuke berteriak kesakitan segera membungkam bibir itu dengan panggutan liarnya_berusaha mengalihkan rasa sakit itu. Sasuke mau tak mau membiarkan rongga mulutnya dieksplorasi secara liar oleh Naruto, dengan membalas sebisanya.
"Mmmhh-ah-mh,"
Dan tepat ketika Sasuke mulai terbuai oleh ciumannya_sedikit melupakan rasa sakitnya_Naruto menghentakkan pinggulnya.
JLEB!
Sasuke berteriak sunyi, membuat panggutan liarnya bersama Naruto terlepas.
"Kh-"Naruto melengguh, merasakan dinding yang sempit dan panas itu meremas penisnya kuat. Sedikit membuat penisnya nyeri akan jepitan kuat itu, namun tak memungkiri rasa nikmat lebih mendominasi dirinya.
Sasuke sempat merasa lega ketika benda panjang, besar dan panas yang memasuki dirinya itu ditarik keluar. Ia berfikir bahwa Naruto akan menyudahi kegiatannya, namun pemikirannya salah, ketika benda yang menyisakan di ujung lubangnya itu secara tiba-tiba didorong keras memasuki lubangnya lagi. Membuatnya berteriak, ingin memaki pemuda blonde yang telah memasukkan benda itu kedalam lubangnya, dan membuatnya berteriak sakit sedari tadi.
Namun, niatnya harus kandas, saat benda yang menggesek lubangnya itu menyentuh sudut tumpul yang berada di lubangnya, membuatnya mendesah keras.
"Ahh~" Sasuke mendesah keras. Ia merasakan dunianya berputar kala benda itu menusuk titik yang sama berulang-ulang. Kepalanya blank seketika, dan rasa sakit yang beberapa waktu lalu menderanya kini menguap entah kemana. Rasa sakit itu tergantikan oleh rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan.
"Ah!-Ahh!-ah!," desahan itu terdengar mengalun merdu di ruangan luas dengan pencahayaan remang-remang dari sebuah lampu redup. Begitu menggairahkan, membuat libido Naruto semakin memuncak.
Naruto menusukkan penisnya ke lubang Sasuke dengan cepat. Keluar-masuk-keluar. Terus seperti itu. Ia berusah sekuat mungkin untuk tidak menggagahi sang raven dengan brutal. Ia tak ingin menyakiti malaikatnya nantinya.
"Kau bisa merasakannya, Sasuke ?" Naruto bertanya tepat di telinga sang raven disela-sela genjotannya.
Ya. Sasuke memang bisa merasakan benda gemuk yang panjang, serta panas itu keluar-masuk lubangnya dengan cepat. Menusuk titik manisnya, membuatnya mendesah keras. Bahkan cengkramannya pada kedua pundak atletis Naruto kini berpindah pada leher Naruto. Mengalung dengan erat dan indah, mengakibatkan tubuh mereka lebih menempel satu sama lain.
Penasaran dengan benda yang menusuknya itu, Sasuke sedikit menunduk agar bisa melihat benda itu. Dan_jantung Sasuke hampir meloncat keluar kala mengetahui bahwa benda yang sedang menusuknya dengan cepat itu adalah …
"Ah-ah Pe-Penis!?" Sasuke memekik gila_kaget."Penis Naruto?" ia mengulangi lagi.
Naruto yang melihat reaksi Sasuke hanya mendengus geli. Sepertinya ia sempat melupakan, bahwa Sasuke adalah pemuda polos yang tak tahu menahu tentang hal dewasa, terlebih hubungan sesama jenis laki-laki. Jadi, pantas saja jika Sasuke akan bereaksi dengan begitu hebohnya.
'Beginikah jika sesama laki-laki berhubungan badan? Bersetubuh? Se- sex?!' Sasuke membatin dengan pikiran cerdasnyayang sangat lugu dan polos.
Naruto tak menghentikan genjotannya, malahan ia semakin menusukkan penisnya semakin dalam. Melihat reaksi Sasuke yang menurutnya_lucu, membuat libidonya semakin meninggi.
"Ya, kau benar. Itu penisku. Bukankah kau suka ? Suka ketika penisku menusuk lubang sempitmu, membuatmu mendesah keras dan_sexy, hmm?" Naruto menjawab pekikan gila Sasuke tak kalah gilanya.
Sasuke tersadar dari kekagetannya ketika mendengar perkataan vulgar dari mulut Naruto, bersamaan dengan tusukan di lubangnya yang semakin keras dan dalam.
"Akh!-Ya!. tusuk penismu ke lubang sempitku-ahh-lebih dalam-ah!-lebihh-kuat-Ahh!-" Sasuke tak tahu lagi apa yang diucapkannya. Kerasionalan pikirannya hilang entah kemana.
Naruto yang mendengarnya menggeram, tak kuasa untuk tidak menggagahi sang raven dengan brutal.
"Naru-hh-ohh," dan, perkataan Sasuke yang memanggil nama Naruto dengan nada sangat erotis itu menjebolkan pertahanan Naruto. Membuat Naruto layaknya hewan buas yang kelaparan.
"Ah-ah-ah-ahhh-ah-ah," suara desahan Sasuke mengalun merdu, layaknya nyanyian sang dewa-dewi malam. Naruto lepas kendali. Ia menggenjot lubang panas itu dengan brutal, membuat desahan dan erangan Sasuke melantun tanpa jeda.
Salah satu tangannya kini aktif memilin dan menekan nipple Sasuke yang penuh dengan tanda kemerahan, atau malah keunguan_kissmark. Sementara tangan lainnya kini menuju selangkaan si raven, mengocok penis 'mungil' milik Sasuke.
.
Sasuke tak pernah mengira bahwa ia akan mendapatkan kenikmatan yang saat ini tengah dirasakannya. Kehidupannya pasca kehilangan orang tua akibat kecelakaan beruntun_lima tahun yang lalu, adalah masa terberat dalam hidupnya. Ia yang saat itu hanya seorang bocah berusia sebelas tahun, hanya bisa menangis histeris kala mendapati kedua orang tuanya terbujur kaku. Seharian ia hanya mengurung diri di dalam kamar.
Penderitaannya semakin bertambah disaat pihak bank menyita semua harta benda keluarganya. Mereka mengatakan bahwa, ayahnya memiliki hutang yang sangat besar. Sasuke yang tak hau apa-apa hanya diam. Ia tak tahu apa-apa. Dia masih kecil, ingat?! Walaupun diumurnya yang terbilang bocah, ia sudah menduduki kelas dua di bangku SMP.
Ia menjadi miskin.
Ia sendiri.
Tanpa sanak saudara.
Dan, berakhirlah ia disalah satu panti asuhanyang kecil dan kumuh. Hidup menderita dengan makanan yang minim_harus berbagi dengan teman panti lainnya. Bahkan baju yang sering ia pakai adalah baju bekas, bahkan ada beberapa bagian yang bolong _saking bekasnya.
Ia bersyukur, masih bisa melanjutkan sekolahnya. Dengan kemampuan yang di atas rata-rata, ia bisa menyelesaikan study SMP-nya di umur yang ke-13 tahun. Iapun melanjutkan studynya di SMA dengan sangat baik. Ia juga belajar bekerja part time di salah satu toko yang lumayan besar sehabis pulang sekolah. Walaupun masih kecil, ia tak dianggap remeh oleh pemilik toko. Malahan, karena kecerdasannya, ia dipercayai menjadi penjaga kasir. Tak ayal, kepercayaan pemilik toko padanya menjadi suatu motivasi bagi dirinya sendiri_membentuk pribadi yang baik.
Dengan gaji yang terbilang lumayan, ia bisa membayar tagihan sekolahnya di tiap bulannya, membeli apa yang menjadi kebutuhan hidupnya_terutama pakaian. Ia juga tidak melupakan kewajiban utamanya sebagai seorang pelajar. Ditengah-tengah kesibukannya, ia selalu belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Menjadi siswa teladan di sekolahnya, dengan prestasi yang membanggakan.
Semua usahanya tak sia-sia. Di umurnya yang ke-15, ia telah berhasil lulus dengan nilai tertinggi. Mengundang decakan kagum bagi siapa saja yang mengetahuinya.
Namun sayang, pihak panti asuhan yang ditempatinya tidak mampu membiayai studynya di universitas, apalagi juga tabungannya selama bekerja part time tidaklah cukup , bahkan hanya untuk biaya pendaftaran saja. Maka dengan sangat terpaksa, Sasuke harus berhenti hingga jenjang SMA.
Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan, yang semakin lama terasa semakin sempit, dengan semakin bertambahnya anak-anak terlantar. Pengurus panti sebenarnya menolak keputusan Sasuke. Sasuke merupakan anak asuh kesayangannya, walaupun Sasuke 'sedikit' irit kata dan minim ekspresi. Namun, dengan segala tekat dan keyakinan, Sasuke berhasil membujuk pengurus panti dan mengijinkannya keluar dari tabungannya ia gunakan untuk menyewa apartemen kecil-kecilan yang murah. Ia tak lagi bekerja di toko, karena jarak toko tempatnya bekerja dulu sangat jauh. Jadi ia mencoba mencari pekerjaan baru di sekitar apartemennya.
Seorang dengan pendidikan SMA memang sulit untuk mencari kerja. Ia berusaha mencari pekerjaan di toko-toko mataupun di beberapa kafe. Namun, bukan pendidikannya yang jadi masalah. Mengingat umurnya yang masih lima belas tahun, ialah kendala utamanya dalam mencari kerja. Membuatnya sedikit frustasi karena sudah dua minggu lamanya ia mencari kerja, namun belum juga mendapatkan pekerjaan. Tabungannya juga semakin menipis, paling itu cukup untuk makan seminggu kedepan. Dan jika ia belum juga mendapatkan pekerjaan selama seminggu kedepan, entah apa yang akan terjadi pada hidupnya. Jadi gelandangan ?! mungkin saja.
Di suatu hari yang terik, ia yang tengah berjalan di sebuah trotoar jalan tanpa sengaja menabrak seorang wanita paruh baya. Ia meminta maaf_tentu saja. Ia salah, karena melamun di saat berjalan dan tanpa sengaja malahan menabrak seseorang. Wanita paruh baya tersebut berkata bahwa ia tak-apa. Ia memaklumi dan memaafkannya.
Entah bagaimana, perbincangannya dengan perempuan yang ditabraknya itu menggetarkan hatinya. Bukan. Bukan karena ia mencintai wanita paruh baya tersebut, namun tawaran pekerjaan sebagai pengantar makanan dari wanita paruh baya itulah yang membuat hatinya bergetar. Dengan sangat gembira, ia menerima tawaran itu.
Semua pekerjaan memang selalu ada resiko. Terlebih ia yang saat itu bekerja sebagai pengantar makanan cepat saji, dengan menaiki sepeda motor di setiap pekerjaannya_belum memiliki SIM.
Setahun ia telah bekerja sebagai pengantar makanan, entah dia yang sedang terburu-buru, atau memang nasib jelek sedang menimpanya. Ketika ia sedang mengantarkan makanan di malam hari, ada sebuah pemeriksaan di jalan raya oleh beberapa polisi lalu lintas. Ia yang sadar_sangat_tidak memiliki surat ijin mengemudi terpaksa berbalik arah untuk menghindar. Namun sialnya, ada seorang polisi yang mengetahuinya dan mengejarnya. Terjadilah kejar-kejaran antara dirinya dan polisi brengsek_menurut Sasuke_dijalan raya. Berkali-kali, terdengar suara klakson yang sengaja dibunyikan keras, dan juga umpatan-umpatan dari pengendara lain tertuju pada Sasuke saat Sasuke mendahului kendaraan mereka, sementara polisi yang mengejarnya masih saja keras kepala.
Hingga kejadian yang tak pernah diinginka siapapun itu terjadi.
Dimana motor dengan cat warna kuning mencolok yang dikendarai Sasuke menabrak sebuah mini market yang khusus menjual minuman. Banyak minuman mahal_terutama minuman beralkhohol yang pecah akibat ulahnya. Sasuke beruntung, pakaian yang diapakainya tebal, jadi bisa melindungi dirinya. Ia tak terluka seinchipun. Berbeda dengan pemilik mini market yang terkena luka gores disana – sini akibat pecahan botol kaca.
Dan berakhirlah Sasuke ditempat penjara yang tak biasa_iapun tak tahu namanya. Baik nama penjaranya maupun nama wilayah penjara itu berada. Kedua matanya bahkan ditutup setelah ia mendapatkan vonis penjara yang ia sendiri tak tahu hingga berapa lama. Penutup mata itu baru dibuka setelah ia sampai pada lorong panjang remang-remang di bawah tanah_mungkin.
.
Pinggul itu semakin kuat dan dalam saat penyatuan. Ia bisa merasakan dua bola kembar yang menampar-nampar pantatnya. Namun ia tak menbencinya. Justru ia menyukainya. Suka saat penis yang panjang dan gemuk itu menusuk dalam pada lubangnya. Menyentuh titik manisnya hingga ia mendesah keras_melupakan masalah kehidupannya.
"Terush, ah-ah! Ak-aku .. mau-" Sasuke berujar dengan suara erotis, membuat Naruto menyerigai senang. Dengan kesadaran, Naruto semakin brutal menyodok lubang yang membuatnya merasa nikmat.
"Ke-hh-keluarkan-lah, Suke…" Naruto berkata dengan geramannya. Kocokannya pada penis Sasuke semakin ia percepat.
Bagaikan sebuah perintah, tubuh Sasuke merespon perkataan Naruto dengan baik.
"NARUTOOO!" Cairan kental itu keluar untuk yang kedua kalinya dari lubang urinal Sasuke. Menciprat ke perutnya sendiri, dan juga sedikit pada dada bidang Naruto.
Naruto merasakan perutnya menegang. Ia juga akan sampai sebentar lagi. Lima sodokan terakhir itu berhasil membuatnya klimaks. Ia menanamkan penisnya dalam pada lubang yang telah memanja penisnya.
"SASUKE!" Ia memejamkan mata_menikmati disaat benihnya itu menyembur jauh didalam tubuh Sasuke. Memenuhi tiap sudut lubang Sasuke dalam delapan kali tembakan, bahkan saking banyaknya benih itu, sebagian meluber keluar melewati celah antara dinding rectumnya dengan penis Naruto.
"Ahh~ Naruu-" Sasuke yang merasakan cairan itu menyembur jauh dalam tubuhnya mendesah kecil. Kedua onixnya tersembunyi dibalik kelopak matanya, merasakan nikmat disaat panasnya cairan itu memenuhi dirinya.
Naruto melepas penyatuannya dengan Sasuke, ia memandangi wajah putih dengan semburat kemerahan yang berada dibawahnya itu dengan sebuah senyuman. Ia merendahkan wajahnya dan mengecup kening itu lama. Setelahnya ia sedikit merendahkan lagi wajahnya, mensejajarkan mulutnya pada cuping kanan si raven.
"Aku mencintaimu, Uchiha Sasuke .." Naruto berbisik pelan_tepat pada cupingnya, lalu mengecup cuping itu sekilas.
Deg!
Jantung Sasuke bergup kencang, disaat ia mendengar sebuah bisikan yang hanay tertuju padanya. Dengan cepat Sasuke membuka kedua kelopak matanya, menatap pada shapphire jernih yang telah memerangkapnya pada pandangan pertama_sebuah perasaan yang pertama kali ia rasakan.
"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu Sasuke. Bahkan jauh sebelum kau mengenalku_lagi," Naruto mengulanginya dengan suara lebih keras, menatap lurus penuh cinta pada mata onik dibawahnya. Ia berguling kesamping_tanpa melepas kontak mata dengan Sasuke, lalu menarik tubuh polos itu agar lebih mendekat.
Sasuke belum berkata, namun kedua mata onix nya memancarkan sejuta kasih sayang pada pemuda pirang dihadapanya. Ia tak tahu ini cinta atau bukan, namun melihat kesungguhan dan ketulusan dalam manik shapphire itu membuat dadanya menghangat.
"Bodoh! Dasar Dobe!" Sasuke merespon pada akhirnya.
"Eh-?!" manik shapphire Naruto membola. tak menyangka akan mendapat respon dikatai 'Dobe' oleh Sasuke.
"Hmp-" Sasuke mendengus, melepas kontak degan mengalihkan pandangan pada arah lain.
"Ap-apa maksutmu Teme?!" Naruto berujar gelagapan dengan nada yang naik satu oktaf, membuat telinga Sasuke berdenging untuk beberapa detik.
Naruto kesal dan takut disaat bersamaan. Kesal karena pernyataan cintanya hanya direspon dengan kata 'Dobe', dan ia merasa takut jika Sasuke akan membenci dirinya. Dadanya terasa nyeri bila membayangkan akan dibenci oleh orang yang amat sangat dicintainya. Hatinya pasti akan hancur setelahnya. Ia seharusnya tak tergoga dengan wajah innocent Sasuke yang manis tadinya, dan tak membuatnya jadi seperti ini. Berakhir dengan ia yang menggagahi Sasuke secara brutal, menyatakan cintanya, dan direspon dengan sebuah kata 'Dobe!'.
Sasuke kembali menatap lurus pada Shapphire Naruto, "Seharusnya kau mengatakannya sebelum melakukan ini padaku, Dobe! Aku juga mencintaimu," setelahnya Sasuke kembali memutus kontak mata. Memalingkan wajahnya_menyembunyikan semburat merah yang semakin kentara diwajah putihnya.
"Hie-" Naruto tak tahu harus memasang wajah seperti apa. Ia senang_sangat senang. Akhirnya orang yang dicintainya selama bertahun-tahun membalas cintanya. Tapi, tunggu dulu. Ia belum yakin jika Sasuke jujur. Sasuke baru bertemu dengannya kurang dari dua puluh empat jam. Dan dengan gamblangnya, Sasuke membals pernyataan cintanya. Berbohongkah ?
Naruto menarik dagu Sasuke agar wajah mereka sejajar. "Tatap aku, Sasuke .." Naruto berkata pelan.
Keraguan Narutopun menguap entah kemana. Ia yakin Sasuke tak berbohong. Melihat pancaran kejujuran dan cinta dari manik onix Sasuke membuatnya yakin bahwa Sasuke berkata jujur.
"Terimakasih, Sasuke .." Naruto menngucapkan dengan tulus sembari mengatakan 'Aku mencintaimu' berulang-ulang bagaikan mantra. Ia mendekap tubuh mungil Sasuke kedalam pelukannya. Memberikan kehangatan pada tubuh polos Sasuke.
Sasuke tak melawan, ia malahan menyamankan diri pada dekapan hangat Naruto. Membalas gumaman Naruto dengan kata 'Aku juga mencintaimu' sebelum jatuh tertidur karena kelelahan.
Mengetahui bahwa Sasuke terlelap, Naruto menarik selimut untuk menyelimuti tubuh polos mereka berdua sebatas pinggang.
'Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, Sasuke …'
.
.
.
TBC
.
.
.
Hay-hay~
Gimana chapter kedua Suzy, memuaskan ngak ya ? Bagus ngak ?
Mau balas review dulu nih :
-hyerisong21 : wah.. makasih udah dibilang inih fic keren dan makasih udah mau mereview fic pertamaku. Ma'af kalau aku belum bisa update cepet seperti yang diharapkan hyeri-san, dengan alasan yang udah aku munculin di bagian pembukaan. Naruto emang tidak me-rape Sasuke, tapi Naruto bercinta dengan Sasuke. Hehehe- Maaf kalau mengecewakan ..
-Guest : ini dah lanjuuut, makasih buat reviewnya lhoh~ Soal Naruto itu mahluk apa, jawabannya ada di chap depan. Mau coba tebak? *plaakk!*
-Sasu : inih dah lanjuut, makasih atas reviewnya~
-Sammy NaSu : wah~ makasih dah dibilang inih fic bagus. Ini dah lanjut kok~
-Lhanddvhianyynarvers : Wah~ makasih udah nyempetin mereview fic pertama aku ini. Aku suka dari pertanyaannya, kritis banget dalam membaca. Jawaban dari Lhandd-san(?) pasti kejawab di chap depan deh ~ Bakal aku munculin Flashback tentang kehidupan Naruto. Jadi, ditunggu yah …
-Guest : Wah~ aku suka dengan pertanyaan yang Guest berikan, teliti banget dalam kejanggalan yang udah sengaja aku beri(?). Oke-jawabannya ada di chap depan, ditunggu yah … Dan_arigato gozaimasu karena telah nyempetin diri buat review fic pertamaku ini~
-Oranyellow-chan : Makasih udah review, yellow-chan~ bertanya tentang hal kritis pula … Oke-jawabannya ada di chap depan. Ditunggu ya-?
.
(*) Zy: akan dijelaskan di chap depan. Ada yang mau nebak ? *plaak-plaak!*
.
Terimakasih yang sudah bersedia mem-follow dan mem-favorit fic pertama aku .. *yeeeey*
Kritik dan Saran dibutuhkan …
Review, Pleaseeeeeeee ….
.
.
.
SuzyOnix
