MUSUH?
Summary : Mereka musuh sejak dulu, mungkin saat keduanya masih bayi. Bersaing dalam segala hal, tak kenal kapan dan dimanapun. Mereka bertetangga, orang tua mereka bersahabat, entah kenapa itu tidak terjadi dengan anak- anak mereka. Yang satu manis nan cantik dan yang satunya tampan mempesona. Bagaimana jika mereka disatukan di rumah yang sama, tinggal bersama hanya BERDUA! HunKai,LuMin,KiHae,YunJae.
Cast : Oh Sehun
Kim Jongin
Luhan
Xiumin
Oh (Kim) Kibum & Oh (Lee) Donghae (Sehun Appa & Eomma)
Kim (Jung) Yunho & Kim Jaejoong (Jongin Appa & Eomma)
Cast yang lainnya nyusul
.
.
Rated : T
YAOI BL
.
.
.
Setelah selesai makan terjadi keheningan sesaat sebelum suara Jongin memecah keheningan tersebut.
"oh ya, apa yang ingin kalian katakan padaku dan Sehun?"
"emh, begini kalian tahu kami bekerja sama untuk membangun perusahaan baru di China" Kibum, Appa Sehun menjawab pertanyaan Jongin. Yang di balas mereka dengan anggukan.
"lalu?" itu suara Sehun
"karena kami semua harus kesana langsung, maka kami memutuskan untuk meninggalkan kalian berdua disini, dan kalian akan tinggal bersama dirumah ini" ucap Donghae dengan raut muka cemas menunggunreaksi dari Jongindan Sehun.
"oh" sahut keduanya kompak.
1 detik
.
5 detik
.
30 detikk
.
1 menit
.
"MWOOOO?" Teriak keduanya berbarengan.
Chapter 2
Kini Jongin sudah berada didepan pintu keluarga Oh, setelah mengantar kedua orang tuanya dan Sehun ke bandara. Dengan malas ia mulai mengetuk pintu rumah Sehun, namun tidak ada jawaban. 'kemana dia?' pikirnya karena sedari tadi ia tidak mendapat balasan dari dalam rumah. Ia mulai kesal, bayangkan saja ia sudah berdiri sejak 15 menit dan kakinya sudah meronta ingin diistirahatkan. Dengan brutal ia kembali mengetuk –menggedor- pintu rumah Sehun.
DUG
DUG
DUG
.
.
"HEY! OH SEHUN CEAT BUKA PINTUNYA ATAU KAU MAU PINTU RUMAHMU RUSAK KARENA TENDANGAN MAUTKU!" karena masih tak ada jawaban dari dalam, Jongin pun bersiap untuk menendang pintu itu.
Hana
Dul
Set
Dalam hitungan ketiga pintu itu terbuka, dan karena masih diliputi rasa kesal Jongin tidak menyadari jika pintu itu sudah terbuka dan bersamaan dengan itu ia melayangkan tendangan mautnya.
DUAKK
"ARGH, APA YANG KAU LAKUKAN EOH? KAU PIKIR AKU INI BOLA YANG BISA KAU TENDANG SESUKA HATIMU" sang korban tandangan jongin –sehun- mengerang kesakitan, akibat tendangan Jongin, padahal tendangannya kemarin masih sakit dan kini sakitnya jadi bertambah berkali-kali lipat. Poor Sehun.
"ini salahmu sendiri, dari tadi aku mengetuk pintu rumahmu tapi tak ada jawaban, jadi jangan salahkan aku kalau kakimu yang jadi korban" Jongin berkata sambil berlalu dari hadapan sehun. Dengan sengaja ia menyenggol bahunya dengan bahu Sehun.
"ck! Tingkahnya seperti tuan rumah saja, dia pikir dia siapa" Sehun berdecak kesal pada Jongin dan muali menyusul Jongin yang sudah berada di ruang tamu keluarga Oh, Dan duduk dengan gaya sombongnya sambil memainka ponselnya,dia bertingkah selayaknya tuan putri kerajaan.
"dimana kamarku?" Jongin bertanya tanpa ada niatan untuk menatap sang lawan bicaranya.
"disana" Sehun menunjuk dengan dagunya, ia mengarahkan dagunya kesebuah ruangan di sebelah dapur.
Dan dengan mudahnya Jongin percaya dengan ucapan Sehun, ia mulai berjalan kearah ruangan yang Sehun sebut sebagai kamarnya.
Dan tak lama kemudian suara teriakan Jongin mulai terdengar, sungguh suara Jongin kali ini sama seperti suara petir. Nyaring dan menggelegar.
"wae?" sehun bertanya dengan nada –sok- polosnya.
"itu yang kau sebut kamar? Bahkan kamar monggu lebih bagus dari pada itu"
"benarkah? Wah, eommaku memang pintar memilihkanmu kamar. Kau memang pantas tidur disana dengan tikus-tikus menggelikan itu. Hahahaha..." Sehun berujar dengan nada mengejek dan disusul dengan tawa membahana darinya. Dia pun pergi dari hadapan Jongin menuju kamarnya masih dengan tawa menyebalkannya.
'tertawalah sepuasmu, habis ini aku yang akan menertawakanmu' batin Jongin menyeringai. Untung saja otaknya tidak bodoh-bodoh amat, otaknya masih bisa memikirkan rencana licik untuk membalas Sehun.
Dengan segera ia mengambil ponselnya, dan mendial sebuah nomor seseorang.
"yeoboseyo Jongie, waeyo?" ucap seseorang diseberang sana.
"eomma..." Jongin mulai mengeluarkan jurusnya, ia buat suaranya seperti merengek.
"wae?" suara disana terdengar khawatir
"Hae eomma, benarkah eomma memberiku kamar disamping dapur?" ternyata Jongin menelpon Donghae yang tak lain adalah eomma dari Sehun. Dasar beruang licik, ia sengaja menelpon donghae, karena ia tahu donghae lebih menyayanginya dari pada sehun yang merupakan anak kandungnya sendiri.
"mwo? Siapa yang berkata seperti itu?"
"Sehun, eomma"
"kau salah sayang, kamarmu ada dilantai dua, tepat disamping kamar Sehun. Sudah sebaiknya kau pergi ke kamar dan beristirahatlah. Biar Sehun eomma yang urus"
"ne, eomma gomawo" setelah sambungan telepon terputus ia terkikik geli, membayangkan apa yang akan dilakukan Donghae pada Sehun. Enak saja Kim Jongin dilawan.
0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
BRAK
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sehun –terserah dia,ini kan rumanya-, memasuki sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
"apa yang kau katakan pada eommaku?" tanya sehun dengan nada datarnya sangat super menyebalkan.
"aku hanya bertanya dimana kamarku. Itu saja" Jongin menjawabnya dengan santai.
"memangnya apa yang dikatakan Hae eomma" lanjutnya masih dengan nada yang sama, padahal dalam hati ia sudah tidak sabar mendengar jawaban sehun.
"gara-gara kau, uang jajanku dipotong bulan ini"
"mwo? Ha? Hahahahahahaha..." Jongin tertawa lepas sampai perutnya sakit, tanpa melihat objek yang ditertawakan berdecak sebal.
"ck! Bicara dengan orang gila membuatku jadi ketularan gila" Sehun, sepertinya percuma mengatakan itu semua pada Jongin kalau akhirnya ia yang jadi bahan tertawaan Jongin. Iapun berlalu dari kamar Jongin, dengan bantingan pintu sebagai pelengkap kekesalannya.
BRAK
"YA! AKAN KU ADUKAN PADA EOMMA MU KALAU KAU BARU SAJA MEMBANTING PINTU, BIAR SEKALIAN KAU TIDAK MENDAPAT UANG JAJAN. DAN NGOMONG-NGOMONG BUKANKAH DARI DULU KAU MEMANG SUDAH GILA. HAHAHAHA..." teriakan Jongin sungguh membuat telinga Sehun yang mendengarnya menjadi tuli seketika ditambah lagi tawa menyebalkan itu.
Keesokkan harinya
Jongin melirik jam yang berada di dinding kamarnya, gawat ia terlambat. Biasanya ada sang eomma yang membangunkannya, tapi kini eommanya sedang di China. Menyetel alarm pun percuma , karea tidur Jongin seperti beruang kutub yang berhibernasi.
Ia turun dari tanggan dengan langkah tergesa, dan karena kecerobohannya ia tak sengaja menginjak tali sepatu yang memang belum terikat. Iapun terjatuh dilangkah terakhirnya ditangga.
BRUK
"appo" ia bangun disertai dengan ringisan yang keluar dari bibr plump nya. Ia berjalan menuju ruang makan tempat namja menyebalkan –sehun- berada. Ia seperti tidak peduli pada Jongin yang terjatuh. Ia terlihat santai, tidak menanyakan keadaannya.
'apa yang ada dipikiranmu Jongin, memangnya aku butuh perhatian darinya? Hell no' batinnya berbicara dengan refleks ia menggelengkan kepalanya.
Sehun hanya menatap musuhnya aneh. Apa tadi setelah terjatuh otaknya jadi berpindk ke lutut.
"ada apa denganmu? Hey! Ini masih pagi jangan berpikiran mesum"
"mwo? Yang mesum itu kau bukan aku" ucap Jongin sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
'kyeopta' batin seseorang. Siapa? Sudah pasti itu suara hati Sehun. Seakan tersadar dari pikiran konyolnya, ia pun menggelengkan persis sepeti yang dilakukan Jongin tadi.
"tuh kan, kubilang juga apa, kau yang mesum" gerutu Jongin lirih.
Jongin menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, disana hanya ada satu piring dan itupun dipakai sehun. Berarti tidak ada sarapan untuknya.
"mana sarapanku?"
"kau pikir aku pembantumu? Buatlah sendiri." Ia tersenyum miring kearah jongin dan lantas ia bangkit dari kursinya bersiap untuk pergi ke sekolahnya
Jongin yang melihat sehun pergi, langsung berlari mengikuti sehun. Sehun sendiri bersiap untuk menyalakan mobilnya, tapi tiba-tiba terdengar teriakkan jongin. Sehun heran tak bisakah jonginn sehari saja tak berteriak?.
"SEHUUN TUNGGU AKU"
"aku ikut kau ya? Ya ya ya" jongin membuat ekspresi se-imut mungkin agar sehun mau mengabulkan permintaannya.
"tidak"
"ayolah kali ini saja. Kau tega melihat satu-satunya musuhmu terlambat ke sekolah eoh?" jongin masih berusaha merayu sehun. Ia tidak mau terlambat, dan ini sudah sangat terlambat. Tidak mungkinkan ia kesekolah dengan sepeda.
"tida tidak dan tidak" sehun tetap kekeh dengan pendiriannya.
"ayolaaah..." ia buat ekspresi semenyedihkan mungkin. Dengan mata puppy ingin menangis bibirnya yang mengerucut lucu ditambah dengan gembungan dipipinya. Imut sekali.
Dengan terpaksa ia menganggukan kepalanya. Jujur saja ia gemas dengan ekspresi yang dikeluarkan jongin, inginnya ia mencubit pipi namja tan itu, tapi gengsi.
"yey! Gomawo, jja cepatlah jalankan mobilnya ini sudah terlambat" kini jongin sudah kembali ketingkah aslinya. Tadi saja ia merengek seperti anak kecil dan setelah diberi apa maunya ia seakan lupa.
"kau pikir aku supirmu? Duduk dibelakang dan memerintahku? Duduk didepan" memang jongin duduk di kursi belakang, ia pikir sehun pasti tidak mau duduk disebelahnya. Dengan segera ia berjalan keluar untuk duduk disamping sehun. Diam-diam sehun tersenyu tipis, sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya. Termasuk jongin.
Sepertinya ia lupa disekolah ia duduk sebangku dengan sehun...
TBC...
THANKS TO :
Onlysexkai, imah99, novisaputri09, , ohkim9488, blackbaervampire, saaa07, diannurmayasari15, jumeeee, chanzhr, hunkailovers, jongienini, anon, ucinaze, njongah.
Yang sudah review chapter 1 dan yang sudah membaca ff saya yang masih banyak kekurangannya. Mian kalo lama updatenya :)
Salam hunkai shipper
HunKai Jjang!
