Behind The Pain~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Uzumaki Naruto/Hyuuga Hinata
Warning : Semakin tidak jelas, typo yang bertebaran dan masih banyak lagi kesalahan yang tidak patut dicontoh
Rated :T (Sepertinya akan tetap di rate ini, saya masih belum siap,,)
Don't Like? Please, Don't read...
~Part-2~
Wangi bunga Lavender terasa memasuki indra penciumannya. Laki-laki pirang yang memasuki usia 24 tahun itu memandang hamparan kebun bunga lavender di hadapannya. Tepatnya di kediaman keluarga Hyuga. Warna bunga lavender mengingatkannya tentang sosok yang kini menjadi calon istrinya. CALON ISTRI.
Aaarrgghh! Dipikir berapa kalipun ini benar-benar tidak masuk akal. Dalam beberapa hari lagi Hinata akan menjadi istrinya. ISTRI-nya!
Dia hanya kenal Hinata sebagai Tuan Putri Hyuga. Seorang yang dipanggil adik oleh Neji. Teman se-tim Kiba dan Shino. Murid kesayangan Kurenai. Dia tidak mengerti Hinata, dia tidak tahu kebiasaan gadis tersebut, apa yang membuat gadis indigo tersebut tersenyum.
Jika ditanya tentang Sakura, mungkin dalam waktu kurang dari 3 detik dia sudah bisa menjawabnya. Tapi Hinata, dia tidak tahu. Ingin rasanya dia melarikan diri, tapi mengingat kini posisinya sebagai seorang Hokage, Naruto tidak boleh meninggalkan tanggung jawabnya. Dia bisa saja berpura-pura tidak membalas segala perhatian yang diberikan oleh Hinata selama persiapan pernikahan mereka, tapi gadis tersebut tidak menyerah. Dia selalu tersenyum menanggapi kelakuan Naruto. Ini membuatnya semakin berat.
Dan fakta yang membuat dirinya harus menanggung beban yang semakin berat dalam pernikahan ini adalah Hinata menyukainya. Gadis berambut indigo tersebut rela mengorbankan nyawanya di tengah medan pertempuran melawan Pain hanya demi menyatakan cinta kepada dirinya. Bukankah hal ini semakin membebaninya?
Lamunan Naruto terhenti ketika sebuah suara lembut yang dia kenal melewati indera pendengarannya. "Naruto-kun,"
Naruto membalikkan badannya dan melihat seseorang yang memanggilnya. Naruto sempat menahan nafas melihat penampilan Hinata. Kimono berwarna ungu membalut tubuh Hinata membuat kulit putih pucatnya semakin tampak kontras. Gadis ini yang akan menemaninya, bukan gadis berambut merah muda. Entah kenapa dadanya merasa nyeri lagi ketika mengingat Sakura.
Laki-laki berambut pirang tersebut tanpa sadar meremas bagian depan dada kirinya yang berbalutkan jaket orange-hitam kesayangannya. Hinata yang menyadari kelakuan aneh Naruto segeran menghampiri pemuda tersebut "Kamu baik-baik saja, Naruto-kun?"
Hinata menatap penuh khawatir, ingin sekali ia mengulurkan tangannya dan mengusap bagian tubuh Naruto yang terasa sakit tersebut. Tapi itu hanya menjadi niat baiknya saja, ketika melihat ekspresi Naruto ia mengurungkan langkahnya. Sebaliknya ketika mendapati ekspresi Naruto, langkah kakinya membuat Hinata menjauhi sosok Naruto. Tatapan terluka, wajah yang mengeras dan bibir yang terkatup rapat. Hinata melihat itu semua. Naruto sedang menahan kesedihannya. Kesedihan yang diyakini Hinata karena perempuan berambut merah muda. Karena Sakura. Hanya Sakura.
Hinata menatap Naruto yang kini telah berdiri tegak lagi. "Aku hanya kurang enak badan, apa Hiashi-sama sudah menunggu?"
"Iya, tou-san sedang menunggumu, tapi jika Naruto-kun sakit mungkin tou-san akan mengijinkan untuk menunda pertemuan ini," Hinata menampakkan wajah khawatirnya. Naruto hanya menggeleng "Tidak masalah bagiku,"
Pemuda bermata biru langit itu mendahului Hinata dan melangkah masuk ke dalam kediaman Hyuuga. Kepala Hinata menunduk menatap telapak kakinya. Sampai kapan pun, Hinata merasa dia tidak bisa menggeser perasaan Naruto kepada Sakura.
Oo00oO
"Walaupun ini hanya siasat para tetua aku harap kamu tidak mengecewakanku," kata-kata Hiashi membuat Naruto tersentak. Orang tua di depannya benar, dia kini adalah seorang dewasa yang harusnya mampu melindungi. Melindungi seseorang yang 'terpaksa' mendampinginya. Melindungi fisik maupun batin Hinata.
Mata biru langitnya melirik gadis indigo di sebelahnya. Hinata hanya menunduk sambil mengepalkan telapak tangannya yang berada diatas pangkuannya. Gadis disebelahnya adalah tanggung jawabnya.
"Aku tidak akan mengecewakan anda" Naruto memberikan tatapan tegas untuk meyakinkan orang tua di depannya. Hiashi hanya menganggukkan kepala memberikan respon kepada Hokage muda di hadapannya.
Berbeda dengan ayahnya, Hinata semakin menundukkan kepalanya. Hatinya berdenyut sakit mengingat perasaan Naruto hanya tanggung jawab bukan cinta yang Hinata inginkan. Mata putihnya mulai memanas, bulir-bulir air sudah menumpuk di pelupuk matanya, siap menumpahkan perasaaan yang membuncah di hatinya. Hiashi meninggalkan dua orang di depannya, memberikan waktu untuk keduanya.
Baik Naruto maupun Hinata diam dalam hening. Hinata tetap menunduk memperhatikan tangannya yang terkepal di atas pangkuannya. Merasa tidak ada suara dari sosok yang duduk di sebelahnya, Naruto bangkit dari duduknya. Dia masih merasa canggung dan ingin memberikan ruang berpikir untuk Hinata.
"Naruto-kun," panggilan lirih tersebut menghentikkan langkah Hokage muda tersebut. Kakinya memutar dan memperhatikkan surai ungu yang menghiasi sebuah punggung yang kini tampak bergetar menahan tangis.
"Bisakah aku menggantikkan Sakura?" pertanyaan Hinata entah kenapa memberikan benturan keras pada dada kiri Naruto. Terasa lebih menyakitkan ketika dia mengingat Sakura. Bagi Naruto, Sakura dan Hinata adalah dua sosok yang berbeda. Sakura adalah cinta pertama penuh warna merah muda yang menghiasi masa remajanya yang penuh adrenalin, sosok penggembira pada masa kecilnya yang kesepian dan impian terpendam yang direbut paksa oleh sahabatnya.
Berbeda dengan warna tenang lavender yang ditawarkan Hinata, sosok pendiam yang selalu membuatnya bingung, seorang yang selalu hilang kesadaran ketika melihatnya, sosok yang selalu menyadarkannya, mendampinginya dan satu-satunya sosok yang mencintainya.
Naruto memang tidak bisa melarikan diri dari perasaan Hinata, tapi demi apapun dia tidak ingin Hinata menggantikkan sosok yang bahkan tidak pernah dia genggam. Hinata adalah sosok lain di hatinya. Sosok yang harus ia lindungi. Dia sudah berjanji.
Terdengar hembusan nafas berat dari Naruto yang berada di belakang Hinata "Aku tidak ingin kamu menggantikannya, Hinata"
Hinata tersentak, dia memang tidak diinginkan. Tidak diberi kesempatan oleh Naruto. Dengan memantapkan hatinya Hinata bangkit berdiri dan memberanikan diri menatap mata sapphire di hadapannya.
"Maaf, Naruto-kun mungkin aku sudah bertindak egois," Hinata terdiam sejenak, suaranya tampak bergetar menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan mengalir keluar.
"Aku... hanya... hanya... ingin menyelamatkan klan-ku," Hinata tiba-tiba membungkukkan badannya, membuat pemuda di depannya terkejut. "A... aku harap kamu tidak membenciku,"
Menyelesaikan kalimatnya Hinata bergegas keluar dari ruangan. Meninggalkan Naruto yang tertegun.
"Maaf Hinata," dua kata tersebut entah kenapa malah membuat hati Naruto berdenyut sakit.
Oo00oO
Hinata keluar dari kediaman Hyuuga untuk menenangkan diri. Melompat dari satu dahan ke dahan berikutnya melarikan diri ke arah gunung, tempatnya biasa berlatih.
'Aku mungkin orang paling egois,'
Air mata sudah mengalir membasahi pipi porselen Hinata. Dia hanya memikirkan dirinya yang terluka. Naruto juga terluka. Pemuda tersebut jauh lebih menderita darinya. Naruto bahkan tidak bisa berada di dekat Sakura lagi. Sedangkan dirinya masih bisa bersama Naruto. Dia benar-benar egois.
Tubuhnya yang kini terguyur oleh derasnya air terjun terasa dingin. Tapi Hinata tidak peduli, dia tetap melanjutkan latihannya. Walaupun tanpa sadar air mata terus mengalir jatuh bersama derasnya guyuran air terjun.
"Hiks… maaf… maaf…Naruto-kun… maaf,"
Oo00oO
Naruto berjalan menuju taman keluarga Hyuuga, hanya ingin memastikan gadis yang melarikan diri darinya tersebut baik-baik saja. Langkah kakinya yang pelan membawanya menuju taman dengan bunga lavender tersebut.
Beberapa orang yang melewati Hokage muda tersebut membungkuk penuh hormat. Naruto berhenti ketika mendapati Hanabi dan Hiashi sedang berlatih.
"Hiashi-san, apakah Hinata bersama anda?"
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya dan menatap manic biru laut itu dengan tajam "Aku rasa, Hinata tadi bersama denganmu," Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku melihat nee-sama berlari kea rah gunung tadi, mungkin ke tempat biasanya dia berlaih," Hanabi sepertinya menyelamatkan Naruto dari tatapan maut sang calon mertua.
"Ah… kalu begitu saya akan mencarinya dan mengajak Hinata pulang sebelum malam,"
"Sebaiknya begitu," jawaban singkat Hiashi menandakan ia ingin anaknya kembali pulang dengan selamat. Naruto segera pergi dari kediaman Hyuuga dengan melompati dahan-dahan pohon.
Beberapa meter dari kediaman Hyuuga, Naruto mengehntikkan langkahnya. Kata-kata terakhir Hinata terus terngiang di benaknya. Gadis indigo tersebut telah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Berusaha menghancurkan dinding hatinya. Tapi ia terus menghindar, lebih memilih menjadi keras kepala dan menyakiti diri sendiri.
Ditariknya nafas pelan dan menghembuskannya. Naruto akan berusaha. Mungkin untuk saat ini ia hanya bisa memberikan perhatian. Mungin juga hatinya akan bisa menerima Hinata. Naruto menampilkan senyum cerahnya. Ia harus bisa, demi Hinata. Demi gadis yang telah berjuang untuknya.
Naruto sudah akan melanjutkan langkahnya, ketika dua orang anbu menghalangi langkahnya. "Hokage-sama, dua orang ninja pelarian sedang menuju kearah gunung. Semua penjaga di penjara mereka bunuh. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan para tahanan lain. Tapi dua orang tersebut tidak bisa kami lacak keberadaannya,"
Hokage muda tersebut menghela nafas berat, kenapa di saat begini harus ada masalah seperti ini. "Kalian cepat kerahkan para Jounin untuk melacak mereka, pergilah ke arah gun..nung? GUNUNG?! Apa kalian baru saja mengatakan gunung?!"
Naruto berteriak berang di hadapan kedua anbu tersebut ketika menyadari sesuatu dari laporan kedua anbu tersebut.
"I…ii..ya Hokage-sama," Kedua anbu tersebut makin menundukkan kepala.
Naruto segera mengaktifkan mode Kyuubi, yang semakin membuat kedua anbu di depannya merinding. "Hokage-sama, mohon tenang kami… kami akan berusaha mencari mereka,"
Naruto sudah bersiap meninggalkan kedua anbu tersebut ketika berkata, "Jika sampai sesuatu terjadi dengan calon istriku, kupastikan kalian berdua akan mendapat pelajaran," Naruto menggeram marah.
Kedua anbu tersebut mematung ketika mendengar ancaman dari hokage muda tersebut. "KUSOOOO! Cepat kerahkan para Jounin untuk melacak Hinata-sama," Anbu dengn topeng kucingnya memberikan perintah. Temannya mengangguk dan kemudian menghilang diantara kepulan debu.
Naruto berlari dengan cemas. Jantungnya seakan ingin berlompatan keluar dari dada kiri Naruto. Hinata harus selamat. Gadis itu harus selamat.
Tanpa Naruto sadari, dirinya tidak ingin kehilangan Hinata.
Oo00oO
Hinata masih melanjutkan latihannya ketika indera pendengarnya menangkap sesuatu. Urat-urat nadi seketika bermunculan di sekitar mata putihnya. Dirasakannya dua cakra asing yang mendekat.
"Wah…wah…siapa yang kita lihat?" sosok laki-laki dengan baju tahanan dan rambut hitam panjang yang terikat ke belakang memperlihatkan sosoknya.
"Aku rasa, Hokage akan memberikan nyawanya untuk ditukar dengan calon istrinya, bukan begitu Hyuuga-san," sosok lain dengan rambut merah darah muncul disamping temannya.
"Naruto-kun, tidak akan menukarkan apapun demi diriku, karena aku kan mengalahkan kalian" Hinata bersiap dengan kedua tangannya memasang kuda-kuda di depannya.
Kedua musuhnya terkekeh pelan "Kami tidak semudah itu untuk dikalahkan,"
'Naruto-kun, aku tidak akan kalah,'
Oo00oO
'Naruto-kun,'
Naruto seperti mendengar Hinata memanggilnya. Tapi dia menggeleng, tidak mungkin suara hati seseorang bisa terdengar. Ataukah dia mulai berhlusinasi tentang Hinata?
Ia mempercepat larinya. Ia tidak peduli apapun itu, yang ia tahu Hinata memerlukan dirinya.
'Tetaplah selamat Hinata,'
~TBC~
Yo minna-san…
Yang mau lemparin Yuu pakai kunai..gara-gara telat update boleh kok,,
Yuu terima dengan lapang dada…
Ini gara-gara ospek kampus yang berkepanjangan…
Haaah….capek minta ampun
Belum lagi kegiatan kampus untuk maba yang gg ada habis-habisnya..
Eeehhh…Yuu kok malah curhat…
Ini Yuu udah update…mohon reviewnya ya…
Yang membangun dan semangat…
Yang udah review kemaren-kemaren…mkasi ya…
Maaf Yuu belum bisa bales satu-satu…
Untuk rossi…nih…updatenya…mbak
Iya firasatmu benar…soalnya ngintipin aku buat waktu kuliah..
Hehehe…
Arigatou minna…
Ketemu di chap depan ya..
Salam Hangat,,
Yuu
