Humanly Ljeevas

Death Note Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Warning : Canon, Plot agak cepat, typo(s), OOC and another imperfectness? Let me know my fault in Review?

.

.

Setting : Setelah Beyond Birthday memutuskan keluar dari Wammy House. Jauh sebelum Death note muncul. Dan sebelum Missa Amane menjadi model terkenal.


Pagi itu begitu damai. Setelah kejadian pingsan kemarin, Missa diijinkan untuk beristirahat setengah hari. Jadi Missa baru bekerja pada sore hari.

...

Gadis muda itu terduduk lemah di dalam kamar sewanya yang mungil, hanya berukuran 3x3 dengan perabot seadanya. Kasur tipis yang didudukinya sekarang, tas besar berisi pakaian yang teronggok di pojok kamar dan wastafel kecil dengan cermin buram yang terletak di sebelah pintu kayu bobrok.

Matanya menatap sayu pada jendela tanpa kaca yang hanya ditutupi selambu merah tipis. Seluruh tubuhnya masih terasa ringan, bahkan kalau berjalan masih terhuyung-huyung dan perlu berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh.

"Lapar..." erang nya perlahan.

Cih, uang bulanan ku sudah habis kuberikan pada ayah. Sekarang aku harus makan apa? Apa aku perlu mengais tempat sampah seperti kemarin? Tapi, berjalan saja sudah tidak kuat.

Ugh, perutku... sakit

Gadis itu berpaling ke pojok ruangan. Mencari sisi ruangan yang lebih hangat dan tidak terkena angin yang masuk tanpa penghalang dari jendela. Ia membungkus tubuhnya dengan kasur tipis dan diam disana.

...

Tok tok tok

"Siapa?" suaranya lirih, tapi masih bisa didengar orang dibalik pintu.

"Ini aku, Mello."

"Masuk. Tidak dikunci."

Trak trak! brak!

"Pintunya rusak, agak susah dibuka." Missa berteriak dari dalam. Tapi tubuhnya enggan bergerak. Ia masih meringkuk terbungkus kasur, merasa enggan meninggalkan posisinya yang sudah nyaman.

BUGH! Sekali dobrakan, pintu terbuka. Muncul wajah Mello yang tampak kesal.

"Missa-chan! Pindah dari tempat ini. Tempat ini tidak layak untuk dihuni. Sudah ku sarankan agar pindah ke tempatku saja. Disana nyaman, hangat, lebih luas, dan pintunya tidak susah dibuka seperti disini.." Mello mulai menceramahi Missa.

"Sudah kubilang aku tidak mau." jawab Missa singkat menanggapi ceramah Mello. Memang sudah puluhan kali Mello memaksa Missa untuk tinggal bersamanya karena alasan tempat ini tidak layak untuk Missa, tapi Missa terus menolak. Alasannya, Missa ingin hidup mandiri.

"Baiklah. Lain kali, akan ku seret kau untuk pindah ke rumahku kalau aku sudah tidak tahan lagi."

"Haha, baiklah. Umm apa kau tidak kerja? Matt pasti akan marah-marah kalau kau terlambat lagi."

"Biar saja. Lagipula, kalau dia tahu aku menjengukmu dia tidak bisa marah. Ini aku bawakan bubur. Masih hangat, makanlah."

Tanpa basa-basi Missa langsung menyantap bubur ayam jamur di hadapannya. Setelah habis baru Missa sadar kalau dari tadi sedang diamati.

"Apa?" nadanya terdengar sarkastik.

"Aku sudah bawakan bubur. Setidaknya kau mengatakan terimakasih."

"Terimakasih. Sering-sering saja bawakan aku makanan." Missa beranjak dari tempatnya menuju wastafel.

"Che! Enak saja. Itu hutang tahu. Kapan-kapan kalau aku sakit kau belikan aku bubur."

Missa mengangguk sambil menuangkan pasta gigi, kemudian mulai menggosok gigi, "Unggu ahu hi hawah ya!(Tunggu aku dibawah ya!)"

"Hm." Mello keluar dan menuju sepeda motor hitamnya yang di parkir di seberang jalan.

Setelah cuci muka dan ganti baju Missa segera turun dan langsung berangkat menuju kafe.

.

.

.

"Mello-kun! Kenapa terlambat? Missa-chan! Kau bersama Mello-kun? Syukurlah, kau langsung kembali bekerja. Badanku masih sakit setelah menggantikanmu semalam. Kuharap kau tidak pingsan lagi ya. Karena akan sangat merepotkan." itu Takada, kembali dengan perkataannya yang menyebalkan. Dengan nada yang dibuat semanis mungkin dihadapan Mello.

"Aku sudah lebih baik. Terimakasih telah mengkhawatirkanku." ujar Missa tak kalah manis, membuat Takada tampak muak.

"Missa-chan. Bukankah aku sudah menyuruhmu beristirahat?" itu Matt, sambil mengantarkan pesanan, ia menyapa Missa.

"Tidak apa. Lagipula, aku sudah baikan."

"Kalau begitu kalian berdua segera ganti baju dan mulai bekerja." dan itu Near. Meski tampak acuh, semua juga tahu ia peduli pada Missa.

"Aye captain!" Missa berujar semangat.

Mereka semua bekerja keras, bahkan Takada. Meski hanya sekedar meneriaki Matt tentang pesanan-pesanan yang belum dibuat, intinya pekerjaannya hanya mengganggu. Menjelang makan siang pengunjung semakin banyak. Dan semua orang semakin sibuk.

"Missa-san! Kemarilah." Near memanggil Missa dari kasir.

"Ada apa Near-sama? Pengunjung tidak ada habisnya, sebaiknya aku kembali bekerja." Missa hendak berbalik meninggalkan Near.

"Missa, pria di dekat jendela itu yang menolongmu kemarin."

"Benarkah? Apa kau yakin?" Missa berjinjit mencari sosok yang ditunjuk Near dari balik kerumunan manusia.

"Sepertinya ia hendak pergi."

"Benarkah?" Missa segera menerobos kerumunan dan mendapati meja itu telah kosong, hanya tersisa gelas sisa strawberry smoothie dan strawberry cheesecake.

Kemana perginya? Cepat sekali...

"Missa-chan! Cepat antarkan pesanan ini!" suara Matt terdengar nyaring. Sepertinya ia mulai kerepotan.

"Iya!"

.

.

.

"Missa-chan, sudah malam. Sebaiknya kau cepat pulang." Matt berteriak dari dapur.

"Iya, setelah semua beres aku akan pulang."

"Missa, malam ini aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Dan sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Maaf." tampaknya Mello agak terdesak. Wajahnya tampak tak rela membiarkan Missa pulang sendirian, tapi di sisi lain ada keperluan mendadak dan tidak bisa ia tinggalkan.

"Tidak apa. Aku bisa naik taksi, atau bis. Sepertinya masih ada bis di jam-jam seperti ini. Aku bisa naik apa saja. Jangan khawatirkan aku. Lagi pula aku bisa jaga diri." ucap Missa sungguh-sungguh, berusaha meyakinkan Mello.

"Aku bisa mengantarnya." tiba-tiba Matt muncul dari dapur.

"Tidak usah. Arah pulang kita kan berlawanan."

"Tidak apa. Aku siap-siap dulu ya."

"Maaf merepotkan." Missa membungkuk sungkan.

"Baiklah, kalau begini aku bisa tenang. Aku pergi dulu ya." Mello segera beranjak meninggalkan Missa.

"Ayo Missa-chan."

Matt dan Missa berjalan menuju sebuah ruko dimana Matt memarkirkan camaro merahnya. Saat sedang mengobrol ringan, tiba-tiba seseorang berhenti dihadapan mereka.

"Selamat malam," suara berat agak parau mengejutkan mereka berdua. Terutama Missa yang sepertinya memiliki perasaan tidak enak tentang orang dihadapannya.

"Maaf?" suara Missa terdengar canggung dan bingung.

"Kau laki-laki yang kemarin itu ya?" Matt berujar santai, mengabaikan Missa yang tiba-tiba mundur selangkah dibelakang Matt.

"Anda masih ingat saya?" suara parau itu kembali terdengar, janggal.

"Siapa?" Missa masih bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba saja ia merasa takut.

"Dia laki-laki yang menolongmu kemarin. Kau lupa? Tentu saja. Kau tidak sadar waktu itu." Matt yang kini berujar janggal.

"Benarkah? Kalau begitu terimakasih telah menolong ku saat itu." sesaat rasa takutnya hilang.

"Ya." orang itu menjawab canggung.

"Sepertinya wajahmu tidak asing." Matt mengamati wajah orang itu dengan seksama.

"Ya. Aku bekerja dekat sini dan sering mampir ke kafe untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan." suaranya terdengar ringan walaupun semakin parau.

"Siapa namamu? Kalau boleh aku minta nomor telepon, mungkin sesekali kau bisa mampir dan ku traktir di kafe kami. Untuk membalas pertolonganmu waktu itu," Matt menawarkan.

"Rue. Rue Ryuzaki. Maaf tapi aku tidak punya telepon genggam. Mungkin kapan-kapan aku bisa mampir lagi." Rue tersenyum.

"Um, baiklah. Sudah malam. Sebaiknya aku segera mengantarnya pulang. Sekali lagi terimakasih." Matt beranjak meninggalkan Rue diikuti Missa.

"..." sejak tadi Missa hanya diam menatap pria misterius bernama Rue.

.

"Sampai jumpa... Missa Amane-san,"

.

.

.


Yo! akhirnya apdet kilat sambil makan sate kambing...

Selamat Idul Adha bagi yang merayakan;))

gimana? Missa disini aneh gimanaaa gitu ya? Beyond juga kesannya kurang ya? Entar deh saya betulin, tolong kasih tau kekurangannya dimana ya! \

Ini sebetulnya baru masuk inti cerita, belum ceritanya. Jadi dinikmatin dulu aja ya, kita pelan-pelan aja. Keyh?

.

.

Let me know my fault in REVIEW pliiss?