Chapter 2 is update desuuuuu –toa mode-
Disclaimer
Bleach © Kubo Tite
"Namanya Rukia Kuchiki, ya…" gumamnya lagi. dia mengingat senyuman, cara Rukia bermain basket, caranya tertawa, dan lainnya.
"Mana mungkin aku jatuh cinta pada muridku?"
Sensei I love you
By Shicchi Kurosaki
Chapter 2
Hari kedua Ichigo mengajar disekolah itu, tapi kepalanya masih saja di kelilingi oleh muridnya yang dia jumpai kemarin. Rukia Kuchiki.
"Tidak… jangan sempat hal itu terjadi lagi," gumamnya. Dia terus berjalan menuju ruang guru hingga dia berpapasan dengan Hinamori Momo.
"Ohayou sensei," kata Hinamori sambil mengarahkan senyumnya.
"Ohayou Hinamori-san," kata Ichigo membalas senyumannya.
"Sensei hari ini ada waktu senggang tidak?" tanya Hinamori sambil memegang bukunya yang tebal dan banyak.
"Hmm? Kenapa? Bukankah kalian ada pertandingan basket minggu depan?" tanya Ichigo.
"Iya, karena itu kami meminta Sensei mengajari kami bermain basket. Sekaligus menjadi pelatih kami." Kata Hinamori.
"Baiklah, bagaimana sepulang sekolah? Katakan kepada temanmu untuk berkumpul di lapangan sepulang sekolah," kata Ichigo. Hinamori langsung memasang raut wajah yang riang.
"Arigatou sensei," kata Hinamori kemudian pergi menuju kelasnya.
"Momo-chan, kamu dari mana saja? aku menunggumu lama tau…" kata Rukia ngomel. Namun Hinamori hanya tersenyum innocent membuat Rukia hanya memicingkan matanya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apakah kau dan Hitsugaya sudah jadian yah?" tanya Rukia asal.
"Ahh, Kuchiki. Aku dengan Hitsugaya? Anak urakan itu? Yang benar saja!" kata Momo
"Hey, siapa yang kau sebut urakan nona manja?" tanya Hitsugaya yang mendengar perkataan Hinamori tentang dirinya. Hinamori langsung menghadap Hitsugaya dengan pose menggembungkan pipinya.
"He…hey, kenapa dengan posemu itu?" kata Hitsugaya terbata-bata, terkejut dengan expressi yang dikeluarkan Hinamori yang menunjukkan dirinya kepada Hitsugaya bertapa mempesonannya dia.
"Kenapa? Kau tak suka?" tanya Hinamori sambil memalingkan wajahnya.
"Huh! Dasar perempuan manja," kata Hitsugaya lalu pergi keluar.
"Sudahlah, Momo-chan… kamu tadi mau bicara apa?" tanya Rukia yang mengingat ada percakapan yang hendak dibahas namun tertunda karena incident tadi.
"Oh, nanti kita pulang sekolah kesekolah dulu, karena Ichigo-sensei mau mengajarkan kita bermain bola basket," kata Momo sambil tersenyum, lain dengan Rukia, dia malah deg-deg-ser.
"E…Eh?"
"Kenapa Rukia-chan? Bukankah itu bagus? Kita punya pelatih baru sejak…" Momo berhenti berbicara.
"Pindahnya Kaien-sensei…" kata Rukia lirih. Momo merasa bersalah dengan kata-kata barusan kemudian langsung memeluk Rukia.
"Nee, Rukia-chan… jangan ungkit masa lalu," kata Momo. Rukia hanya mengangguk.
"Aku hanya terkejut ketika melihat seseorang yang mirip dengannya," kata Rukia sambil menggenggam roknya.
"Kita harus bisa memenangkan perlombaan ini. Juga pesan terakhir Kaien-sensei," kata Momo membuat Rukia tersenyum.
"Kau benar!"
_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)
"Ayo semuanya yang semangat kalau mau menang!" kata Ichigo kepada muridnya.
"Hai, sensei!" kata mereka semua. Mata Ichigo tertuju kepada seorang gadis kecil yang berusaha men-dribble bolanya menuju keranjang lawan.
"Yosh… Rukia-chan, Ganbatte!" ucap Momo dibelakangnya. Rukia yang mendengarnya hanya mengangguk. Di depannya ada Renji Abarai dengan tubuhnya yang proposional menghalangi Rukia. Namun, karena tubuhnya yang kecil mampu membuat Renji terkecoh.
"Argh! Sial!" kata Renji kemudian berlari mengejar Rukia.
"Yosh! Kerja bagus Kuchiki!" kata Inoue yang juga berlari mendampingi Rukia.
Plosh…
"Yeeeeeeeeei! Kita mencetak angka!" kata Rukia sambil memeluk Momo dan Orihime.
"Baguslah~ kali ini kita pasti bisa memenangkan pertandingan ini…" kata Momo senang.
"Mite… Sensei! Apakah kemampuan kami sudah bagus?" tanya Rukia memalingkan wajahnya menuju Ichigo yang daritadi memandang wajah Rukia.
"Eh? Umm… iya… kalian sangat bagus bermain. Aku yakin kalian bisa memenangkan pertandingan itu," kata Ichigo dengan senyumnya yang Oh! So sexy.
"K-kawai…" gumam Rukia dalam hati.
"Se-sensei!" panggil Orihime yang mendekati Ichigo dengan perasaan yang gugup.
"Iya, ada apa Inoue?" tanya Ichigo santai menatap Inoue samil tersenyum mempertambah semburat merah di pipi gadis bohai itu.
"A-ano… sensei… te.-teterimalah ini!" kata Inoue sambil membungkukkan badannya, keuda tangannya mengarah kedepan dengan sepucuk surat diujung jemari itu.
"Aaah, surat ya. arigatou Inoue." Kata Ichigo sambil tersenyum ramah, tak lama kemudian dia menyimpannya di saku bagian kanannya. Gadis yang ada didepannya hanya tersenyum kemudian meninggalkan Ichigo.
"Su-suratku diterima!" gumam anak itu seraya lompat-lompat gaje menyusul temannya.
"Haaaaaaah… dasar yang benar saja memberi surat kepada Ichigo-sensei?" gumam Momo sambil berjalan menuju bangku. Rukia yang daritadi hanya diam mulai berjalan.
"Kuchiki," panggil seseorang. Ya, ichigo yang memanggilnya. Seketika tubuh Rukia mendadak terkena demam panggung alias gugup.
"H-hai, sensei!" katanya sambil mendekati Ichigo.
"Bagaimana kalau sepulang sekolah temui aku disini? Aku akan mengajarkanmu bermain basket." Kata Ichigo dengan wajah yang calm.
"Ba-baiklah, sensei." Kata Rukia kemudian menjauh darinya menuju tempat duduk Momo. Rukia melihat dari kejauhan Hinamori Momo, sahabatnya sedang bertengkar-lagi- dengan Hitsugaya Toushiro.
"Aaaaah, romantisnya," gumamnya.
Skip_time, sepulang sekolah Rukia-sendirian- memasuki ruangan olahraga. Terlihat disitu Ichigo yang sedang memutar bola basketnya dengan ujung jarinya. Begitu mempesona, menurut Rukia.
"Se-sensei," kata Rukia sambil berjalan mendekati Ichigo. Yang dipanggil hanya mengangguk kemudian menghentikan aksinya. Sambil men-dribble bola dia mendekati Rukia.
"Dribble; tekhnik yang sering digunakan untuk menggiring bola menuju ring," gumam Ichigo masih men-dribble bola tersebut. Rukia hanya mengangguk. Tubuhnya masih kaku. Diam. Terpesona akan sosok sang guru olahraga yang daritadi hanya memantulkan sebuah bola kelantai.
"Tunggu apalagi? Cepat rebut bola ini dari tanganku," kata-kata Ichigo membuyarkan lamunannya tentang si-guru olahraga itu. Tak lama kemudian dengan ragu namun pasti dia mencoba merebut bola tersebut. Alhasil, jangankan merebut bola, menyentuhnya saja tidak bisa.
"Se-sensei! Aku lelah. Sensei seperti character di komik slam dunk deh," kata Rukia sambil meraih botol minumannya.
"Aahahaha… tidak juga. Itulah gunanya aku melatihmu." Kata Ichigo tersenyum simpul.
"Kenapa sensei hanya melatihku? Kenapa Momo atau yang lain tidak diajak?" tanya Rukia. YEEEH! Jack pot! Kalimat tanya yang dilontarkan Ichigo berhasil membuat Ichigo bungkam alias terdiam.
'Ke-kenapa aku hanya mengajak dia?' tanya Ichigo lagi dalam hati. Seolah-olah baru menyadari apa yang dia lakukan.
"Lupakan saja, sensei. Aku senang bisa dilatih private oleh sensei." Kata Rukia tersenyum manis hingga mampu membuat Ichigo bluuu~sh.
"Ki-kita lanjutkan latihannya," kata Ichigo.
"Hai!"
Next Day
"Rukia-chan? Mau pulang?" tanya Momo yang tadinya berlari mendekati temannya.
"Tidak Momo, hari ini aku mau latihan basket bersama Ichigo-sensei," kata Rukia diiringi blush tipis di pipinya.
TEP! Sepasang telinga mendengar percakapan mereka. Tiga orang gadis yang memainkan pena dan bukunya yang ada didalam locker masing-masing sambil mendengar omongan Rukia dan Momo. Setelah kepergian Rukia menuju ruang olahraga, taklama kemudian Momo pergi menuju gerbang sekolah. Ketiga gadis tadi, dengan serempak menutup lockernya dan membentuk formasi -?- hingga wanita yang ditengah, si ketua menatap sinis kearah punggung Rukia.
"Tch! Dasar. Sudah mulai berani mengganggu targetku," kata seseorang yang ada di tengah diantara tiga wanita itu. Sambil memainkan rambutnya yang tergerai panjang itu.
"Aaah, dia hanyalah seorang Kuchiki. Aku mendengar kasusnya dua tahun yang lalu disekolah ini." Kata wanita yang disebelah kiri.
"Ya, dan itu bisa kita jadikan senjata untuk melawannya," kata wanita yang ada disebelah kanan.
"well, well, baiklah. Kita harus bergerak cepat. Aku tidak mau targetku diambil serangga seperti dia," kata wanita yang ditengah itu lagi, diiringi anggukan kedua temannya.
Disudut lain -emang petinju?- ada Rukia yang menarik nafas kemudian membuka knop pintu. Ekspressi wajahnya seketika berubah drastic saat melihat sang guru mencoba membuat 'three point' dan dengan mudahnya bola tersebut masuk ke ring, hal itu mempertambah kekaguman sang Kuchiki kepada Ichigo.
"Sugoooi!" kata Rukia kemudian memasuki ruangan itu.
"Aaah, kamu tidak sopan. Sudah datang bukannya memberi salam malah mengintip," kata Ichigo becanda. Rukia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hari ini sensei mau mengajariku tentang apa?" tanya Rukia sambil memantulkan bola basketnya, kemudian dia membutar bola basket itu dengan ujung jarinya.
"Hmm… hari ini aku tidak ada niat untuk mengajarimu bermain basket, Rukia." Kata Ichigo dengan wajah yang cukup sendu.
"Kenapa? Sensei sudah kesekian kalinya membuat lelucon kepadaku, aku tidak akan percaya lagi." kata Rukia masih memutar bolanya pada satu tumpuan diujung jarinya.
"Aku… akan pindah mengajar dan hari ini adalah hari terakhirku mengajar disini." Kata Ichigo. Mendengar kata-kata itu, Rukia tak sengaja menjatuhkan bolanya ke lantai. Hingga bola itu menggelinding kearah yang lebih jauh dari Rukia.
"So-sonna…" katanya. Tak terasa air matanya mengalir begitu cepat.
"Ru-rukia…"
"Dame! Sensei tidak boleh pergi, tidak boleh." Kata Rukia sambil terduduk lesu dilantai.
"Rukia… kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Ichigo sambil merengkuh gadi mungil itu. Tak lama kemudian Rukia menghempaskan tubuhnya ke pelukan Ichigo. Mata hazel itu terbuka lebar. Tangannya masih belum membalas peluka gadis mungil itu, namun perlahan tangannya mengelus pelan rambut Rukia.
"Jangan pergi, sensei… A-aku… aku menyukai sensei. Aishiteru…" kata Rukia membuat mata hazel itu semakin terkejut, namun hal itu bisa dia atasi. Perlahan dia tersenyum dengan tangannya yang masih membelai rambut Rukia.
"Kau tau," bisik Ichigo ditelinga Rukia "aku hanya becanda," kata Ichigo.
1
2
Dalam hitungan ke-3 Rukia sudah melepaskan pelukannya dan mengubah ekspressinya 180 derajat berbeda.
"Sensei jahaaaaaaaaaaaaaat!" kata Rukia sambil memukul bahu kekar Ichigo. Yang dipukul hanya tertawa lepas melihat ekspressi muridnya yang tadinya menangis sekarang teriak-teriak.
"Aahahahahaha, gomen, gomen." Kata Ichigo. Rukia yang kini sudah seperti tomat kelewat matang masih memukul Ichigo hingga tangan mungil itu dihentikan oleh kedua tangan kekarnya Ichigo. Dalam seketika mata violet itu bertemu dengan mata hazel musim gugur itu.
"Se-sen…"
"Shhhhtttt!" telunjuk Ichigo mendarat di bibir mungil Rukia. Ichigo kemudian mengecup kening Rukia.
"Aishiteru yo, Rukia." Kata Ichigo sambil tersenyum lembut kemudian memeluk Rukia. Yang dipeluk hanya memejamkan matanya.
"Ta-tapi bagaimana dengan Inoue? Dia-"
"Suratnya samasekali belum dibaca, bahkan aku tidak minat membacanya." Kata Ichigo enteng.
"Tapi sensei-"
"Kalau sedang berdua panggil Ichigo saja, dan biarkan aku menikmati pelukan hangat ini sebenatr saja." kata Ichigo lagi. Rukia tersenyum kemudian mengangguk.
"Hai, Ichigo." Katanya.
Tak terasa…
Sepasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan sinis.
"Kalian berdua akan merasakan akibatnya," ucapnya datar.
~TBC~
Maaf kalau banyak typo. Solanya Shicchi ngetiknya jam tengah tiga pagi 0.0 malah jam 8 paginya musti T.O lagi~ aiiihhhh
Well, mind to review?
