Title : To Be With You

Main Cast : Byun Baekhyun Park Chanyeol

Other Cast : EXO's Members and other

Main Pair : ChanBaek

Genre : School Life, Romance, Family, Brothership, YAOI (BOY X BOY!)

Rating : T

Length & Type : Chapter

.

.

.

WARNING! BOY X BOY! YAOI! TYPO!

.

.

.

DON'T BASH

DON'T PLAGIAT

.

.

.

Summary

Menjadi satu-satunya lelaki paling cantik dan 'tidak manly' diantara saudara-saudaranya adalah malapetaka bagi Baekhyun. Karena apa? Karena meski dirinya selalu menyebut "aku manly!" tetap saja ia selalu diperlakukan seakan ia yang paling bungsu, bahkan oleh adik bungsunya sendiri yang preman nya minta ampun. Lalu apa kabar dengan si pemimpin preman sekolah yang selalu bersikap aneh padanya? Siapa namanya? Park.. Park apa? ah sudahlah, Baekhyun tidak mau mengingatnya.

.

.

.

CHAPTER 1

.

.

.

Sudah terhitung 3 minggu Baekhyun mulai bersekolah di SMA Jungshin ini, sekolah ter-elite di Seoul ㅡsekolah drama, begitulah Baekhyun memanggilnya. Karena baginya sekolah ini tak ayalnya seperti sekolah di drama-drama. Sangat elite, megah, mahal, berisi orang-orang kaya dan jangan lupakan satu poin penting tentang pembullyan yang kerap terjadi. SMA Jungshin hanya bagus diluar saja, begitu penilaian Baekhyun. Meski sebenarnya SMA Jungshin sangat berprestasi dalam berbagai bidang.

Hanya saja, selalu ada sekumpulan kutu busuk ㅡread : pembuat onarㅡ yang membuat nama sekolah jadi miring. Siapa lagi oknum-oknum tak bertanggung jawab itu jika bukan para pelaku pembullyan dan kekerasan disini. Seluruh siswa di Seoul juga sepertinya sudah mengenal gank preman dari SMA Jungshin ini yang diketuai si kingka Jungshin yakni si pria bertinggi badan tiang dengan telinga lebarnya, si Park itu. Entah siapa namanya, Baekhyun tidak ingat, dan tidak pernah mau menyimpan nama itu dalam memory nya. Sialnya lagi, adik bungsu nya, si Kim yang menyebalkan justru malah menjadi bagian kelompok paling ditakuti itu. Adiknya yang dulu lugu kini berubah menjadi preman sekolah berwajah rupawan.

Belum genap satu bulan Baekhyun sekolah disini, ia sudah memiliki musuh abadi, siapa lagi kalau bukan si Park preman itu. Semuanya berawal dari sebuah seragam olahraga. Yah.. seragam olahraga.

Masih melekat di ingatan Baekhyun di hari ke 3 nya ia bersekolah di Jungshin. Pagi itu Jongin tiba-tiba mengaku sakit padahal Baekhyun yakin anak itu hanya berpura-pura saja melihat dari bagaimana caranya bicara serta kulit wajahnya yang segar bugar tidak seperti orang sakit. Kenistaan Jongin a.k.a Kai tidak sampai disitu saja, ia menitipkan seragam olahraga bername tag Park.. Park.. Park apalah Baekhyun lupa, yang jelas ia menyebutnya si Park preman. Saat itu ia belum tahu betul bahwa si Park itu adalah pemimpin preman sekolah, maka dari itu ia meng-iyakan saja apa yang Jongin titipkan padanya.

Singkat cerita, ia mencari-cari si Park itu ke kelasnya di kelas XI-4 seperti apa yang di informasikan oleh si Jongin. Yang ia pertanyakan adalah, kenapa semua orang di kelas XI-4 menatapnya horror kala ia mengutarakan maksudnya untuk mencari oknum bermarga Park itu, mereka memelototi orang yang merupakan kakak kelas mereka itu seakan-akan mereka ingin menguliti Baekhyun. Karena sepertinya si Park itu tidak ada di kelasnya, maka Baekhyun mencari di tempat lain. Jongin bilang, si Park itu suka berada di belakang gedung barat yang sepi, gudang di belakang perpustakaan, atau di toilet pria lantai 4. Tempat-tempat yang aneh menurut Baekhyun untuk berdiam diri. Namun sampai detik itu Baekhyun masih belum menaruh curiga sedikitpun tentang siapa si Park itu.

Pada akhirnya setelah memutar-mutar sekolah hingga 15 menit hanya untuk mencari si Park dengan ciri-ciri yang disebutkan Jongin, ia menemukan pria yang ia yakini adalah oknum bermarga Park itu didalam gedung lapangan indoor sekolah. Baekhyun pikir mereka hanya sedang pemanasan untuk mengawali olahraga, tapi ketika semakin melihat lebih dekat, ia dibuat kaget dengan seonggok tubuh yang sudah mengalami memar sana-sini di wajahnya tengah meringkuk di lantai lapangan dengan di kelilingi oleh orang-orang yang ia curigai adalah teman-teman dari si Park sedangkan si Park itu sendiri tengah duduk di bangku salah satu tribun penonton paling depan dengan pose santai.

Kegiatan mereka yang tidak baik itu sontak menuai teriakan dari Baekhyun yang masih belum disadari eksistensinya oleh mereka. Setelah berteriak, bisa dibayangkan semua mata anak lelaki dengan seragam berantakan itu langsung terfokus padanya. Mereka menyeringai dan menghampiri Baekhyun. Baekhyun digoda seperti anak gadis, mereka bahkan menoel-noel dagu Baekhyun membuat anak itu melotot horror yang hanya membuat ia semakin terlihat menggemaskan dimata mereka. Tak lama setelahnya si Park muncul dengan tatapan datarnya seraya berkata "sedang apa anak kecil disini?"

Dan Baekhyun rasanya ingin sekali menyumpal mulut nista itu dengan bungkusan seragam olahraga yang ia bawa. Anak kecil katanya? Ia bahkan lebih tua dari pria itu.

Tanpa berkata apa-apa, Baekhyun melempar kantung berisi baju seragam olahraga si Park ke arah pria itu namun pria itu langsung bisa menangkap kantung itu sebelum mengenai wajahnya.

"Wow! Kasar sekali, nona" itu adalah komentar salah satu dari oknum pelaku pembullyan sambil tertawa namun Baekhyun mengabaikannya kala itu.

"Jadi kau kakaknya Jongin, huh?" Si Park ㅡbaiklah sebut saja Chanyeol, berjalan mendekat pada Baekhyun sambil menyeringai lalu menundukkan sedikit tubuhnya untuk dapat mensejajarkan wajahnya dengan Baekhyun. Yang lainnya agak terkejut mendengar penuturan pimpinan mereka saat menyebutkan bahwa anak lelaki manis itu adalah kakaknya Kim Jongin.

Singkat cerita Baekhyun pergi dari lapangan indoor setelah beradu mulut dengan Chanyeol serta pengikut-pengikut bodohnya.

Sejak saat itu, Baekhyun menambahkan si Park... Park apa? Uhh.. ia tak pernah ingat nama si kunyuk sialan ituㅡ kedalam list orang nomor satu yang paling dia benci di SMA Jungshin.

Dan saat ini, di hadapannya, tengah berdiri si Park preman bersama 3 orang di belakangnya ㅡtermasuk ada Jongin disana, menatapnya datar saat mereka dengan sengaja menghadang jalan Baekhyun untuk lewat. Ia menatap Jongin memberi kode untuk membelanya namun pria tan itu malah menguap tidak penting.

"YA! KIM JONG IN!" Teriak Baekhyun menggema di sepanjang lorong membuat ia kini menjadi pusat perhatian. Tak banyak yang tahu bahwa mereka bersaudara, maka dari itu kini mereka jadi tontonan, orang-orang menganggap bahwa Baekhyun sangat berani ㅡatau mungkin sangat lancang untuk meneriaki salah satu preman sekolah yang paling ditakuti itu. Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi pada Baekhyun selanjutnya.

"Anak gadis jangan berteriak-teriak" ejek Jonghun membuat Kai di sebelahnya memukul kepala anak itu dengan malas.

"Dia hyungku, bodoh" omelnya dengan nada datar yang begitu menyebalkan di telinga Baekhyun dan pria dengan name tag Jonghun itu malah cengengesan tak berdosa.

"Minggir" Baekhyun mendorong bahu Chanyeol untuk menyingkir dari jalannya dan Chanyeol hanya mengikuti apa mau pria manis yang sering ia ganggu itu tanpa perlawanan. Entahlah, ia suka melihat raut kesal pria Byun itu.

"Kenapa sih kau suka sekali mengganggu kakaknya Jongin, Yeol?" Tanya Kyungsoo dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Chanyeol membalasnya hanya dengan gedikkan bahu kemudian kembali melanjutkan jalannya menuju ke gudang belakang perpustakaan, tempatnya untuk menghabisi seorang culun hari ini. Ia sudah tak sabar menghajarnya sampai babak belur.

Dilain sisi, Baekhyun tengah menggerutu kesal akan sikap Chanyeol yang menjengkelkan dan sikap Jongin yang acuh tak acuh. Dasar menyebalkan! Awas saja jika anak itu meminta cemilan di rumah nanti. Dasar bocah kurang ajar! Dia seharusnya bergerak untuk membelanya ketika tiap kali ia bertemu si Park itu yang selalu mengganggunya.

"Dasar adik tidak berguna" dumel Baekhyun hingga seseorang merangkul bahunya dari belakang. Itu si wajah kardus, Jongdae.

"Ada apa dengan wajahmu, Baek?" Tanya Jongdae ceria seperti biasanya menuai delikan tajam dari yang ditanya.

"Menyebalkan. Aku benar-benar kesal dengan ulah si Kim Jong In itu! Apa gunanya ia jadi adikku jika melihat kakaknya diganggu saja ia hanya diam. Uhh.. aku bersumpah akan memasukkan dia pada lukisan kak Changmin biar dia ada gunanya" gerutuan Baekhyun yang terdengar lucu di telinga Jongdae itu berhasil membuat tawa Jongdae pecah. Perutnya benar-benar tergelitik dibuatnya. Ini bukan kali pertamanya Baekhyun mengeluh soal sikap adiknya itu di sekolah. Selain menjadi preman sekolah, anak itu juga kerap bersikap tak acuh padanya padahal menurut pengakuan Baekhyun, Jongin adalah tipikal anak pencari perhatian saat dirumah. Maka dari itu Baekhyun tak pernah mengumbar sembarangan pada orang bahwa ia adalah kakak dari Kim Jong In berandal sekolah, baginya itu cuma aib, apalagi mengingat prestasi Baekhyun di sekolah lamanya di London yang ia bawa kemari.

"Hyung.. ada gosip baru!"

Baekhyun memutar bola matanya malas saat Sehun tiba-tiba muncul seperti ghost dan mengatakan hal yang nyeleneh dari topik yang tengah ia bahas dengan Jongdae. Lain halnya dengan Jongdae yang justru terlihat antusias saat mendengar penuturan Oh Sehun.

"Wae? Wae? Wae? Tell what the news?" Tanya Jongdae dengan semangat perjuangan. Perjuangan mencari gosip maksudnya.

"Banyak gosip bertebaran kalau Baekhyun hyung..." Sehun melirik Baekhyun ragu-ragu. Sedangkan Baekhyun yang merasa namanya dibawa-bawa kini menoleh pada si biang gosip itu dengan tatapan tajam seakan mengatakan -awas-kau-membicarakan-aku-yang-tidak-tidak-, Sehun nyengir kuda sebentar sebelum melanjutkan ucapannya "...bersaudara dengan Kim Jong In"

Baekhyun maupun Jongdae terdiam tanpa suara mendengar ucapan Sehun. Keduanya sudah sama-sama tahu bahwa itu benar. Dan Sehun memang sengaja tidak diberi tahu, hanya Jongdae dan Xiumin yang tahu, berhubung Kai pernah mengantarkan bukunya yang ketinggalan ke kelasnya dan terpaksa lah Baekhyun membuka kartunya. Sedikit memalukan memang saat mengakuinya, namun reaksi Jongdae dan Xiumin saat itu justru sangat berbalik dengan apa yang Baekhyun bayangkan. Mereka malah mengatainya keren. Itu kan tidak keren sama sekali. Siapa yang bangga punya adik badung seperti Jongin? Iya sih Jongin memang tampan, populer, tapi kenakalannya sungguh membuat Baekhyun ingin buang muka. Dan sekarang dihadapannya berdiri Oh Sehun yang tengah membicarakan itu, itu artinya orang-orang mulai curiga bahwa mereka sungguhan bersaudara. Tapi yasudahlah, tidak masalah juga meski mereka tahu ia adalah kakak Kim Jongin. Namun entah kenapa nada Sehun saat menyebut nama Jongin terdengar seperti 'ewh! Makhkuk hitam menjijikan'. Yeah, kira-kira seperti itulah kurang lebihnya.

"Haha.. gosip murahan. Itu hoax tahu!" komentar Baekhyun dengan tawa garing. Melambaikan tangannya sesaat, ia segera kembali ke kelasnya sebelum Sehun menanyakan yang tidak-tidak padanya.

"Dia kenapa hyung?" Sehun menyenggol lengan Jongdae pelan.

Jongdae tersenyum jahil kemudian berbisik "PMS" dan setelahnya berlari menjauh untuk menyusul Baekhyun karena mereka memang berada dikelas yang sama.

"YAAA! HYUNG!"

.

.

.

"Hyung, ayo pulang" tidak ada hujan tidak ada petir, kelas XII-1 dikejutkan dengan kehadiran si tan sexy alias Kim Jongin dengan nama beken Kai di ambang pintu kelas mereka setelah guru Song keluar dari kelas tersebut. Jongin dengan pose santai serta tangan yang aktif memainkan kunci mobil di tangannya menatap Baekhyun datar di kejauhan.

Semua mata lantas langsung mengarah pada Baekhyun menuai tingkah kaku lelaki manis itu. Ia menggaruk tengkuknya bingung dengan pemikiran 'sialan! Kenapa tiba-tiba Kim Jongin mengajak pulang bersama? Dan apa-apaan tadi? 'Hyung' katanya? Dia bahkan tak pernah memanggilku hyung saat dirumah! Aku bersumpah akan benar-benar memasukkan ia kedalam lukisan kak Changmin'

Semua mata di kelas itu ㅡkecuali Xiumin dan Jongdae yang jelas sudah tahu status persaudaraan merekaㅡ menatap Baekhyun dengan berbagai tatapan. Sepertinya begini yang mereka pikirkan saat ini

"Ada hubungan apa Baekhyun dan pangeran Kim Jong In?"

"Kenapa preman macam Jongin bisa mengenal siswa pindahan berprestasi dari London?"

"Apa mereka pacaran?"

Uhh! Baekhyun benci dengan opsi ke-tiga yang muncul di otaknya. Andai semua orang tahu bahwa ia merasa malu punya adik preman sekolah yang sangat urakan seperti KIM JONG IN.

Dengan membawa tasnya asal, Baekhyun pun keluar kelas dan melewati Jongin begitu saja untuk menuju ke lahan parkir terlebih dahulu. Saat berpapasan di ambang pintu tadi, tak lupa ia mendelik tajam pada yang lebih muda namun Jongin kelihatan santai-santai saja dengan sikap Baekhyun. Ia bahkan tak menyadari bahwa Baekhyun sangat risih dengan kehadirannya.

BRAK

Baekhyun membanting pintu mobil Koenigsegg Agera R berwarna merah milik Jongin dengan kesal. Ia barusan sudah menjadi pusat berhatian para siswa Jungshin yang kebetulan ada di lahan parkir atau sekitarnya.

Jongin ikut masuk kedalam mobil dan ekspresinya kelihatan damai tanpa beban membuat Baekhyun semakin niat memasukkan Jongin kedalam lukisan kakak sulungnya.

Tak sampai disitu saja Jongin membuatnya naik darah. Ternyata setelah mobil sport nya meninggalkan area Jungshin, pria berkulit tan itu tak langsung pulang, melainkan singgah dulu di sebuah studio yang terletak di sebelah trotoar untungnya, jadi Baekhyun tak perlu ikut turun dan ia hanya duduk menahan emosi didalam mobil Jongin. Lagipula Jongin dan para preman itu sedang duduk-duduk santai di atas motor atau mobil mereka yang sejenis dengan Jongin, mobil sport maksudnya. Mereka memarkir secara sembarangan kendaraan mereka di pinggir jalan. Tipikal preman bergaya selangit ternyata.

Ia enggan keluar dari mobil meski teman-teman Jongin terus menggodanya dari luar dan memanggil-manggilnya sok akrab. Cih.. menggelikan. Terkecuali si tuan Park preman itu, ia hanya terdiam sejak tadi, sesekali menatap datar kedalam kaca hitam mobil Jongin, dan tatapannya itu tertuju padanya. Meski kaca mobilnya gelap, Baekhyun yakin dari depan ia masih kelihatan oleh orang diluar mobil. Maka dari itu Baekhyun pura-pura sibuk dengan ponselnya meski tatapan datar sekaligus menusuk milik Chanyeol begitu membuatnya risih.

Sudah 25 menit berlalu dan Baekhyun sudah habis kesabaran untuk terus menunggu Jongin 'beramah-tamah' dengan teman premannya yang tidak ada benar-benarnya itu. Lantas ia membuka pintu mobil yang tak dikunci dengan kasar membuat atensi para pemuda bandel berjumlah 10 orang itu teralihkan pada sosok cantik Byun Baekhyun.

"Ow! Baekhyun sunbae keluar juga" goda Zico sambil memberi wink pada Baekhyun namun Baekhyun tak menatapnya sedikitpun dan malah menatap adiknya dengan tatapan bengis yang justru terlihat lucu jika Baekhyun yang melayangkan tatapan itu.

"KIM JONG IN!" Teriak Baekhyun untuk kedua kalinya hari ini memanggil nama lengkap Jongin dengan keras penuh emosi. Jongin menoleh pada kakaknya itu lalu menatapnya tanpa dosa.

"Apa, Baek? Santai saja" jawab Jongin kalem membuahkan tawa tertahan dari Yixing serta Zitao saat melihat ekspresi berang Baekhyun. Sepertinya akan menyenangkan jika Baekhyun bergabung dengan gank mereka, bukan untuk berkelahi tentu saja! Tapi sebagai teman ngobrol saja. Itu yang dipikirkan Yixing serta Zitao, begitupun anak-anak lain. Sosok Baekhyun yang ekspresif benar-benar menyenangkan daripada wajah datar macam Kyungsoo dan Chanyeol.

"Bergabunglah disini, Baekhyun-ssi" ajak Yixing sambil menepuk-nepuk kap mobil kuning benderang yang entah milik siapa. Jika Baekhyun sedang dalam keadaan normal, ia bisa menilai Yixing itu tampan dan menawan dengan mata sipit serta dimple yang manis saat ia tersenyum. Lihat tatanan rambutnya yang membuat dahinya terekspos, lalu pakaian ala anak berandal yang ia pakai benar-benar kontras dengan wajah menawannya. Andai Baekhyun sedang dalam mood baik, ia pasti akan menyadari bahwa seluruh anggota preman sekolah yang dipimpin oleh si oknum Park itu berisi pria-pria dengan wajah rupawan dan tentunya bersaku tebal. Lihat saja kendaraan mereka yang sangat mewah hanya untuk anak bandel seukuran mereka. Ya, andai saja Baekhyun menyadari itu. Hanya saja saat ini ia sedang dalam mood yang sangat-sangat buruk.

"Tidak, terimakasih" jawab Baekhyun dengan intonasi sebiasa mungkin agar orang itu tak menganggap bahwa ia adalah lelaki menyebalkan yang ketus. Demi Dewi Aphrodite, ia bahkan terkenal sangat ramah pada semua orang. Teman-teman SMA nya di London tahu itu.

"Pulang sekarang atau kutelepon kak Minho!" Ancam Baekhyun sambil menggenggam ponsel IPhone nya erat-erat.

Jongin refleks memutar bola matanya, agak malas meski ia agak takut juga dengan kakaknya yang satu itu. Jangan salah, Choi Minho adalah mantan ketua keparat seperti si Park itu. Dia bahkan sudah tercatat dalam daftar sejarah gelap SMA Jungshin 3 tahun silam. Mengenaskan memang. Tidak ada bedanya dengan si Kim Jong In itu. Tapi sekarang Minho sudah agak berubah, tidak se-bar-bar dulu.

"Ayolah, Baek. Kenapa harus Minho hyung? Kau tak seru sekali" decak Jongin malas membuahkan sebuah toyoran di kepala dari pria bermata bulat dengan ekspresi datarnya.

"Dia kakakmu, Kim" omelnya membuat Jongin bersungut-sungut tidak jelas.

Sejak tadi, Chanyeol terus saja menatap Baekhyun dalam keterdiamannya. Seakan membisu untuk sesaat, menatap lekat Baekhyun dengan segala hal menggemaskan yang ada pada lelaki yang lebih tua setahun darinya itu.

"Oke, oke. Aku akan memulangkan princess dulu ke istana. Bye" Jongin beranjak dari tempatnya nongkrong tadi sambil melambai pada teman-temannya yang hanya terkekeh geli melihat bagaimana ekspresi kesal Baekhyun saat Jongin memanggilnya 'princess'.

"Sampai bertemu lain waktu, Baekhyun hyung!" Seru seorang pemuda dengan senyum lebarnya, melambaikan tangan pada Baekhyun seakan ia sudah mengenal Baekhyun sejak masih ingusanㅡ sok kenal lebih tepatnya.

"Tunggu sampai aku benar-benar memasukkanmu dalam lukisan kak Changmin!" Omel Baekhyun selama perjalanan pulang mereka menuai kekehan gemas dari sang adik. Disini yang kelihatan seperti seorang adik sepertinya adalah Baekhyun. Dan Baekhyun sangat membenci fakta bahwa seluruh saudaranya memperlakukan dirinya seperti anak kecil. Bahkan adiknya sendiri yang menjengkelkan luar biasa ini.

"Coba saja, Baek" goda Jongin sambil memutar kemudi untuk memasuki halaman luas kediaman Kangta ㅡayah mereka.

"Panggil aku hyung!" Jerit Baekhyun seperti seorang yeoja. Lagi-lagi Jongin hanya terkekeh dan tak disangka-sangka ia mengecup sekilas pipi putih Baekhyun. Ini memang sering terjadi seakan ia adalah bocah balita yang polos. Terkadang ia habis pikir kenapa mereka ㅡsaudara-saudaranyaㅡtanpa tahu malu suka mencium pipi atau keningnya seolah mereka masih anak-anak.

"Aku tidak mau" Jongin menjulurkan lidahnya sebelum keluar dari mobil dengan cepat dan berlari memasuki rumah tanpa menghiraukan teriakan kekesalan Baekhyun. Ia seharusnya tahu bahwa pulang bersama dengan adiknya yang preman itu hanya akan membawa kesialan untuknya. Ia sendiri tak tahu apa maksud anak itu mengajaknya pulang bersama, padahal jelas-jelas selama ini Jongin tak pernah pulang lebih awal jika seusai sekolah. Yang Baekhyun tahu, anak itu baru akan kembali ke rumah sekitar tengah malam atau menjelang pagi dan itu pun dalam keadaan wajah penuh lebam. Apalagi yang dilakukannya diluar sana selain berkelahi bersama para preman sekolah itu? Huh.. Baekhyun benar-benar ingin mencekik siapa saja yang sudah membawa pengaruh miring pada adiknya yang dulu lugu hingga menjadi preman sekolah seperti sekarang.

Setelah mendengar teriakan melengking adik tersayangnya, Donghae yang kebetulan sudah pulang dari pekerjaannya sebagai dosen muda di sebuah universitas terbaik di Seoul langsung saja ke beranda depan dan mengecek apa yang terjadi pada adiknya yang cantik itu.

"Hey.. hey.. ada apa?" Donghae bertanya sambil tersenyum ceria seperti biasanya. Baekhyun yang asalnya cemberut pun langsung ikut tersenyum lebar kala melihat kakaknya yang jarang berada di rumah jam-jam segini ternyata sekarang ada dirumah.

"Kak Donghae!" Berlari seperti anak kecil, Baekhyun pun menerjang Donghae dengan pelukan childish nya hingga menuai tawa renyah Donghae. Untung saja lelaki yang mempunyai senyum manis itu tidak kehilangan keseimbangannya pada anak tangga yang tengah ia pijak saat ini.

"Ayo masuk, kau akan terkejut melihat sesuatu" bisik Donghae sok misterius membuat Baekhyun mengerutkan keningnya dan sudah membuka mulut untuk bertanya namun Donghae buru-buru menariknya kedalam kediamannya yang mewah luar biasa.

Benar apa yang dikatakan Donghae, Baekhyun sungguhan terkejut ketika melihat figure kakak tertuanya tengah duduk di ruang keluarga dengan gaya khas tumpang kakinya yang begitu elegan. Di depannya ada kakak ketiganya, Choi Minho, yang sepertinya sedang kena ceramahan kakaknya itu. Pasti ini masalah perempuan lagi. Oke, Baekhyun akui bahwa Minho itu memang playboy tingkat akut, satu-satunya pria playboy yang ada dirumah ini. Entah darimana sifatnya itu berasal, padahal tak satupun di keluarga mereka yang bisa dicap sebagai playboy tingkat akut seperti kakaknya itu. Wajah Minho memang tampan, sangat tampan malah. Jadi wajar banyak yang mengejar-ngejarnya meski tahu akan reputasi Minho sebagai playboy kelas berat.

"Hyung.." panggil Donghae ceria membuat orang yang tengah mengomel ㅡtermasuk yang tengah di omelinya pun menoleh ke sumber suara. Raut wajah pria tampan dengan tubuh proporsional itu pun langsung berubah drastis ketika melihat adik kesayangannya yang sudah beberapa pekan tak ia temui karena kesibukannya di Italy beberapa waktu lalu.

"Oh! Baekhyunee" panggil Changmin sambil merentangkan tangannya lebar, plus dengan senyum hangatnya membuat Baekhyun tak tahan untuk tak memeluk kakak tertuanya itu. Wangi maskulin ala pria dewasa langsung merangsek ke hidung Baekhyun kala hidungnya tenggelam dalam dada bidang Changmin.

"Aku rindu kakak" gumam Baekhyun yang disambut tawa dari Changmin.

"Aku juga, sayangku" Changmin melepas sejenak pelukannya demi menatap wajah lusuh adiknya yang baru pulang sekolah lalu sedikit menyentil hidung mancung Baekhyun hingga empunya hidung mengerang protes, "aku punya sesuatu untukmu" ujar Changmin seraya mengambil sebuah benda pipih lebar berbentuk persegi panjang yang dibungkus sebuah kertas coklat. Baekhyun tahu pasti itu adalah lukisan.

Dengan senyum merekah, Baekhyun membuka bungkusan lukisan itu dan menatap takjub apa yang terlukis diatas kain kanfas berbingkai kayu itu. Lukisan cat minyak dengan teknik yang mendalam. Baekhyun memang tak terlalu suka dengan seni lukis, namun ia begitu mengapresiasi karya Changmin yang begitu indah di matanya ini.

Isi lukisannya memang terlihat simple jika dilihat sekilas, hanya berisi gambar orang-orang yang berlalu lalang di sebuah kota dengan bangunan kuno yang pernah dijadikan syuting film Twilight dimana Volturi tinggal. Yeah, kota itu. Entah kenapa ini begitu indah dimata Baekhyun. Ia selalu menyukai hasil sapuan kuas yang dibuat Changmin, apapun isinya. Tangan berbakat Changmin selalu membuat setiap karyanya terlihat sempurna.

"Kau suka?" Tanya Changmin lembut, tangannya terangkat untuk mengusap surai hitam Baekhyun yang agak pirang

"Tentu saja, kak! Ini sangat... menakjubkan" ujar Baekhyun yang tak henti-hentinya menatap lukisan itu dengan sinar mata terang, "aku akan memajangnya di kamarku!" Serunya dengan semangat menggebu-gebu.

"Kau terlalu berlebihan, Baek"

Perusak suasana.

Itulah yang Baekhyun pikirkan ketika mendengar seruan datar dari Jongin yang datang dari arah dalam. Pakaian seragamnya yang lecek dan tak beraturan itu kini sudah tanggal dari tubuh tingginya, digantikan dengan pakaian casual yang selalu ia pakai untuk pergi bersama gank premannya.

"Jongin.. sejak kapan kau akan terus membuat kepala sekolah mengoceh padaku? Kau juga selalu tidak memanggil Baekhyun dengan semestinya. Dia lebih tua darimu, Jongin" ceramah Changmin dengan tatapan menghakimi pada Jongin. Ia tahu kemana Jongin akan pergi dengan pakaian seperti itu. Pasti ujung-ujungnya balapan liar atau berkelahi lagi. Changmin heran, kenapa wajahnya itu tak jadi buruk rupa padahal ia sering mendapatkan luka lebam di wajah rupawannya itu.

"Menikmati masa SMA itu wajar, hyung" Minho mengangkat bahu untuk pembelaan terhadap sikap urakan Jongin lalu menoleh pada adik bungsu nya itu dan saling melempar seringai sebelum akhirnya mereka berseru "HIGH FIVE!" seraya menepukkan telapak tangan satu sama lain menuai putaran mata malas dari Changmin, Donghae, bahkan Baekhyun.

"Kau membawa pengaruh buruk terhadap adik bungsu kita, Minho-ya" ujar Donghae setengah bergurau dan Minho menanggapinya seakan ia tak salah apa-apa.

"Hey! Aku tak seburuk Jongin dengan gank nya sekarang yang bahkan sangat tersohor diseluruh penjuru kota Seoul! Bahkan teman-teman kampusku mengetahui bahwa adikku bergabung didalamnya" pada akhirnya Minho hanya membela dirinya sendiri mengundang delikan tajam dari Jongin. Pria itu bergumam "dasar pengkhianat" setelah mendelikkan matanya pada Minho.

"Penipu!" Serang Baekhyun dengan ekspresi culasnya, memandang Minho sengit, "kakak bahkan sudah tercatat dalam sejarah kelam SMA Jungshin dan berada dalam list hitam paling mengerikan. Huh.. aku tak dapat membayangkan bagaimana bandelnya kakak saat itu. Guru Cho bahkan sering membanding-bandingkan kakak dengan aku. Dia bilang kakak tidak cocok jadi kakak ku" oceh Baekhyun di akhiri dengan memeletkan lidahnya main-main pada Minho.

"Aish! Guru Cho, guru paling menyebalkan se antero jagat raya. Bahkan dosen killer di kampus pun kalah dengan dia" keluh Minho seraya menempelkan telapak tangannya di kening seolah meratapi nasibnya. Sudah sepantasnya Minho memang meratapi nasibnya serta masa depannya nanti. Hah.. sekali preman tetap saja preman.

"Dasar tukang pamer, besok reputasi siswa berprestasimu akan hancur saat semua orang tahu bahwa kau kakak dari preman sekolah" ejek Jongin dengan sengaja memanas-manasi Baekhyun tanpa tahu malu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'preman'. Sudah sadar ternyata.

"Kak Changmin, bisa kah aku memasukkan Kim Jongin kedalam lukisan ini agar ia tak muncul lagi di dunia ini selamanya?" Tanya Baekhyun dengan nada lelah yang jelas dibuat-buat menuai tawa dari ketiga kakaknya sedangkan Jongin justru menatapnya bengis.

"Tch.. dasar.." gumam Jongin dengan sedikit senyum kecil di bibirnya, "aku pergi. Jangan cari aku sampai tengah malam"

Setelah berkata demikian sambil melambaikan tangan ogah-ogahan, Jongin berjalan begitu saja menuju beranda depan tanpa menghiraukan teriakan Changmin dan Donghae yang menyuruhnya untuk kembali. Jongin sudah terlanjur menjadi anak berandal, akan sangat sulit menghentikannya disaat masa-masa nakalnya.

.

.

.

Makan malam kali ini terasa sangat ramai di kediaman Kangta karena 4 bersaudara itu hadir untuk mengikuti makan malam, minus Jongin tentunya yang malah keluyuran tidak jelas diluar sana. Entah anak itu sudah makan atau belum. Disana juga tidak terlihat sosok kepala keluarga Kangta. Tentu saja ayah mereka itu sibuk mengurusi dollarnya ketimbang menemani putra-putra rupawannya untuk 'sekedar' makan malam.

Baekhyun sibuk berbincang ringan dengan Changmin tentang sekolahnya selama 3 pekan ini di Jungshin sedangkan Minho sibuk menceritakan tentang wanita-wanita yang ia kencani pada Donghae, anehnya Donghae merespon itu dengan sama hebohnya padahal Donghae bukan seorang player.

"Kak Minho kapan berubahnya sih? Kutebak kau tak akan menikah dan terus saja mengurusi wanita-wanitamu itu" komentar Baekhyun pedas kala telinga sehatnya mendengar bahasan 'pakaian dalam' yang sangat tidak senonoh dibicarakan di atas meja makan.

"Aigoo~ uri Baekhee.. aku hanya menikmati masa mudaku" jawab Minho santai menuai rotasi bola mata dari yang paling muda disana.

"Aku tidak mengerti darimana kau dapat sifat playboymu itu" tambah Changmin santai, tangannya mengapit sebuah gelas wine dan meminumnya dengan cara yang begitu berkelas.

"Hyung.. ayolah~ mereka terus berdatangan padaku, mungkin karena aku terlalu tampan" jawab Minho dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.

"Minho ini benar-benar miring sejak SMA kan hyung, dia bandel, suka berkelahi, dan... pemain wanita" Donghae ikut menimpali mengundang tawa dari Baekhyun serta Changmin dan delikan protes dari Minho. Selagi mereka sibuk tertawa dengan Minho yang merajuk dengan sangat menggelikan, Baekhyun mengambil gelas Changmin yang masih berisi wine merah dan hampir berhasil mencicipinya jika saja teriakan dari ketiga kakaknya langsung menghancurkan rencananya.

"ANDWAE!"

"Ayolah kak, aku sudah 18 tahun lewat. Masa hanya aku yang tak boleh merasakan alkohol?" Rajuk Baekhyun dengan ekspresi menyedihkan saat Changmin mengambil alih kembali gelas wine nya dan menjauhkan itu dari jangkauan adik manisnya.

"Tidak boleh! Alkohol tak baik untukmu" ceramah Minho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aish! Kalian menyebalkan" dumel Baekhyun yang hanya mendapatkan senyuman dari Changmin dan Donghae. Changmin mengelus kepala Baekhyun dengan sayang, alasan kenapa ia tak mengijinkan Baekhyun untuk mencicipi minuman beralkohol jenis apapun meski Baekhyun sudah 18 tahun adalah demi kesehatan adiknya. Apalagi daya tahan tubuh Baekhyun tidak sekuat mereka. Bisa dibilang, Baekhyun itu yang paling harus di lindungi disini ketimbang Jongin si bungsu yang tahan banting.

"Kakak akan meluangkan waktu kakak untukmu di akhir pekan sebagai gantinya" tawar Donghae membuat mata Baekhyun berbinar seperti anak puppy yang menggemaskan. Waktu berharga Donghae sangatlah berarti, biasanya kakaknya selalu saja sibuk dengan segala hal menyangkut pekerjaannya. Dan ini adalah kesempatan besar baginya untuk menghabiskan waktu dengan Donghae.

"Bagaimana dengan kak Changmin dan kak Minho?" Tanya Baekhyun seraya mengerjap polos.

"Tidak masalah" itu Minho.

"Kakak juga bisa" ㅡChangmin

Dan lengkap sudah kebahagiaan Baekhyun. Menghabiskan akhir pekan bersama 3 kakaknya yang super sibuk. Pasti menyenangkan. Andai Jongin juga bisa diajak bersenang-senang. Anak itu jelas pasti menolak karena dia pasti lebih memilih berkelahi bersama teman-teman premannya dibanding menghabiskan waktu bersama saudaranya.

.

.

.

Hari ini hari kamis, dan entah kenapa Baekhyun merasa ada yang tidak beres dengan hari ini. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi.

Awalnya, semuanya baik-baik saja. Baekhyun mengikuti kelasnya seperti biasa, makan siang di kantin bersama teman-temannya ㅡSehun, Xiumin dan Jongdaeㅡ. Yeah meski tak dapat dipungkiri bahwa ia sedikit bergidik saat tak sengaja melakukan kontak mata dengan si ketua preman, si Park itu. Tatapannya yang mengintimidasi itu sungguh membuat Baekhyun risih. Sejauh itu semuanya baik, hingga pada jam istirahat kedua ia merasa ingin pergi ke toilet. Karena letak kelasnya yang berada dilantai 2, ia pun memakai toilet di lantai itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Baekhyun menjatuhkan rahangnya ketika melihat si Park bersama anak buahnya yang tengah memukuli seorang pria yang Baekhyun tahu sebagai adik kelasnya yang berada di kelas X. Anak itu cukup terkenal di sekolah karena pernah beberapa kali terlibat perkelahian bersama salah satu anggota preman sekolah. Bisa dibilang anak itu cukup menantang dan tidak punya rasa takut, Kim Nam Joon namanya.

Kini di hadapannya, Namjoon sudah babak belur dengan kaki Zitao yang seenaknya bertengger di pipi Namjoon yang berbaring menyamping dengan keadaan mengenaskan.

Baekhyun sungguh tak bisa berkata-kata, apalagi saat para preman itu memandangnya dengan tatapan kaget.

'Bodoh, kenapa mereka tak mengunci pintunya?' Jerit Baekhyun dalam hati.

Si Parkㅡ Chanyeol maksudnya, berjalan dengan langkah ringan ke arah Baekhyun yang berdiri seperti orang bodoh di ambamg pintu. Langkah santai itu sekarang terdengar sangat mengancam dan menakutkan.

"Kau sengaja datang kesini, sunbae?" Jari-jari panjang Chanyeol menyentuh dagu Baekhyun dan mengangkatnya agar Baekhyun menatapnya karena sejak tadi ia tak mau menatap Chanyeol, "Jongin... harus ku apakan kakakmu ini?" Tanya Chanyeol main-main dan sialnya Jongin hanya mengangkat bahunya seraya menyeringai lebar.

'Terkutuk kau Kim Jong In!' Teriak Baekhyun dalam hatinya. Tak lupa ia memberikan death glare nya pada adik bungsu nya itu.

"Ayolah sunbae.. bicara" Chanyeol berucap dengan nada menggoda membuat teman-temannya tertawa keras, termasuk si keparat Jongin.

"Jangan sentuh aku, brengsek!" Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang masih berada di dagunya, "dasar tidak punya sopan santun! Aku sunbae mu, bodoh!"

Setelah memaki Chanyeol dengan emosinya yang meledak-ledak, Baekhyun segera melangkah pergi dari toilet terkutuk itu. Setiap langkahnya ia hentakkan menandakan bahwa ia betul-betul jengkel, kesal dan marah pada sikap Chanyeol yang tidak sopan padanya, dan juga pada sikap Jongin yang acuh tak acuh. Adik sialan!

Semakin lama ia berjalan, semakin ia menyadari bahwa tatapan orang-orang tertuju padanya. Ia sungguhan! Sungguhan tak salah lihat!

Ia menunduk untuk melihat penampilannya, lalu meraba-raba wajah, rambut serta punggungnya untuk mengecek apakah ada yang aneh pada dirinya tapi nihil. Ia merasa bahwa ia baik-baik saja.

Tatapan-tatapan aneh itu terus tertuju padanya bahkan sampai ia berada di kantin sekolah, duduk bersama Jongdae dan Xiumin yang terlihat biasa saja.

"Apa ada yang aneh denganku? Kenapa mereka terus menatap ke arahku?" Tanya Baekhyun was-was.

"Kau tidak lihat mading ya?" Tanya Jongdae heran, bukannya malah menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Memang ada apa di mading?"

"Fotomu dan Jongin saat pulang kemarin sudah tertempel disana. Entah siapa yang mengambilnya. Parahnya, dilengkapi berita bahwa kalian bersaudara!" Xiumin berseru heboh meski dengan suara tertahan menuai pelototan kaget dari Baekhyun.

"Y-yang benar? Jadiㅡ Jadiㅡ semua orang sudah tahu bahwa... aku adalah kakaknya Jongin?" Baekhyun bertanya denganwajah pucat pasi membuat keduanya tak tega namun tetap mengangguk sebagai jawaban.

"Aigoo~ hancurlah masa depanku" Baekhyun membuang kepalanya dengan kasar di atas meja tanpa mempedulikan rasa sakit yang diderita jidatnya akibat berbenturan dengan meja kantin. Percuma selama 3 pekan ini ia berusaha menutupi semua ini jika akhirnya pada hari ini, seluruh siswa Jungshin mengetahui bahwa ia yang notabene nya seorang siswa pindahan dari London yang berprestasi adalah kakak kandung dari seorang preman sekolah yang sudah terkenal seantero Seoul di kalangan pelajar maupun non pelajar. Mau ditaruh dimana mukanya?

"Turut berduka cita, Baek" ujar Jongdae dramatis sambil menyentuh bahu Baekhyun yang masih menenggelamkan wajahnya di meja kantin. Aksi Jongdae itu tentu saja menuai pelototan dari Xiumin yang langsung saja menyenggol lengan Jongdae agar tak memperburuk suasana hati Baekhyun saat ini. Xiumin mengerti, sangat mengerti apa yang di rasakan Baekhyun. Ia bisa membayangkan bahwa jika ia punya adik senakal Jongin. Pasti memalukan. Apalagi Baekhyun itu berasal dari keluarga terpandang, semua kakak-kakaknya adalah orang-orang terpelajar, yeah kecuali Choi Minho yang pernah Xiumin dengar dari Baekhyun bahwa kakaknya yang satu itu sebelas-duabelas seperti Jongin, bahkan lebih nakal lagi. Tokoh utama dalam sejarah kelam Jungshin pada masanya, kata Baekhyun sih begitu.

"Sudahlah, Baek. Lagipula tidak buruk punya adik populer dan... tampan tentunya" Xiumin mencoba untuk menenangkan. Ia tak bebohong soal Jongin yang memang populer meski dalam tanda kutip juga soal Jongin yang memiliki paras tampan.

"Haaaahh.. kau benar, aku akan mengabaikan tatapan mereka semua" Baekhyun mengangkat kepalanya lalu menarik kedua sudut bibirnya kedalam membentuk sebuah senyum getir.

"Yosh! Hwaiting!" Jongdae dan Xiumin sama-sama mengangkat tangan mereka berdua untuk menyemangati Baekhyun.

"HYUUUUNG!" Teriakan cetar membahana dari ambang pintu kantin membuat seisi kantin langsung terdiam dan menatap seorang lelaki tinggi dengan kulit putih serta paras tampannya yang luar biasa.

Matanya berapi-api, mengabaikan seluruh perhatian yang kini tertuju padanya didalam kantin itu. Ia berjalan ke arah meja kantin yang ditempati Baekhyun, Xiumin serta Jongdae. Ketiganya pun sama-sama menatap lelaki itu dengan tatapan aneh.

"Kau.. kenapa, Sehun?" Tanya Xiumin ragu-ragu. Melihat wajah Sehun yang ditekuk, ia yakin lelaki itu sedang dalam mode ngambek nya.

"Hyung! Apa maksudnya berita di mading itu?!" Semprot Sehun dengan wajah tak terima menuai tawa tertahan dari Jongdae dan Xiumin.

"Pfftt.. kau ketinggalan berita? Aigoo~ uri bigos Sehunee.." Jongdae berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menahan tawa yang siap meledak kapan saja.

"Kenapa kau kelihatan marah sekali? Apa ada yang salah dari itu?"

"Yaa! Xiumin-hyung! 'Apa ada yang salah dari itu'?" Sehun mengulang kalimat Xiumin barusan dengan nada sebal, "heol~ hyung! Ini benar-benar fakta yang keterlaluan untuk disembunyikan Baekhyun-hyung! Dia adalah kakak Kim Jong In, hyung! Kakak kandungnya! Ini Kim Jong In loh hyung! Salah satu preman yang membuat sekolah kita terasa tidak nyaman!" Cerocos Sehun membuat Jongdae kembali menahan tawa melihat wajah memerah Sehun yang begitu menggemaskan. Lantas ia menarik Sehun untuk duduk di bangku kantin.

"Hei! Tenanglah" Jongdae menepuk-nepuk bahu Sehun.

"Lalu aku harus bilang 'wow' begitu?" Tanya Baekhyun setelah mendengar ocehan panjang lebar dari Sehun.

"Hyung!" Teriak Sehun tak terima.

"Baiklah, aku tidak mengerti. Kenapa kau se-sensi itu, Sehun-ah?" Itu Xiumin yang bertanya.

Sehun tidak menjawab namun justru mendengus keras-keras menuai tanda tanya besar dalam benak ketiga orang yang lebih tua.

Tak lama setelah itu dan keadaan mulai kembali seperti semula, justru keterdiaman lagi yang ada di kantin saat Chanyeol dan teman-temannya datang kesana dengan penampilan urakan mereka.

"Itu dia" desis Sehun menatap tak suka pada kelompok preman sekolah Jungshin.

Tak ada yang berani bicara selagi mereka berjalan untuk membeli makanan di depan kantin lalu membawanya ke meja sudut yang biasa mereka tempati.

"Hai hyung" sapa Jongin dengan intonasi yang datar saat ia membawa tungkai kakinya melewati meja Baekhyun. Sapaan singkatnya itu menuai banyak perhatian penghuni kantin seolah, itu adalah sebuah klarifikasi yang mengatakan bahwa mereka memang bersaudara.

Baekhyun lagi-lagi merengut tidak suka. Ia sungguh sebal dengan sapaan 'hyung' yang dikeluarkan Jongin selama di sekolah. Anak itu bersikap seolah ia adalah adik yang baik, padahal jika di rumah, anak itu memanggilnya dengan namanya saja. Dasar menyebalkan.

"Apa yang kalian lihat, hah!?" Bentak lelaki dengan nama Gong Chan Sik sambil menatap seisi kantin yang otomatis mengalihkan pandangannya dari sekumpulan lelaki tampan yang populer karena sikap berandal mereka.

"Hyung~ tolong katakan padaku bahwa kalian bukan saudara" rengek Sehun dengan ekspresi mengenaskan, "hyung, dari segi manapun kalian tidak ada persamaannya. Kau itu cantik, putih, pintar dan santun. Tapi si hitam itu jelek, begajulan dan tidak punya sopan santun!"

"YA! Kau terang-terangan sekali sih mengejek seorang adik didepan kakaknya" omel Xiumin yang tak habis pikir kenapa Sshun bahkan terlihat biasa saja saat menyebutkan hal-hal jelek soal Jongin didepan Baekhyun yang notabenenya adalah kakak kandungnya.

"Tidak apa-apa. Jongin memang banyak kejelekannya" sahut Baekhyun santai, "tapi jangan menyebutnya jelek, Oh Sehun albino! Enak saja jelek! Di keluargaku tidak ada yang jelek tahu!" Omel Baekhyun dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi jika itu menyangkut soal fisik. Yeah... semua orang di Seoul pun memang tahu bahwa Kangta dan kelima putranya memiliki paras rupawan, dan fakta itu tak bisa dibantah.

"Tapi dia benar-benar jelek, hyung! Hitam, kumelㅡ"

"YA!" Baekhyun berteriak tak terima dan menjitak jidat Sehun hingga empunya meringis. Disaat-saat seperti ini saja ia membela Jongin, mana mau ia melakukan pembelaan pada Jongin untuk hal yang lain. Menurut Baekhyun, satu-satunya hal yang 'benar' yang ada pada Jongin hanyalah fisiknya, selebihnya anak itu benar-benar buruk.

"Hun-ah~ kudengar kau sedang dekat dengan Luhan ya?" Xiumin mengganti topik, ia menaik-turunkan alisnya dengan seksama membuat Sehun geli melihatnya.

"Tck! Tidak hyung! Dekat sih iya, tapi bukan dalam artian 'itu'. Luhan hyung nya saja yang selalu salah paham dengan kedekatan kita" Sehun menyangkal sambil mengibas-ngibaskan tangannya enteng.

"Sehun itu tipe bottom, Umin sayang. Mana mungkin bottom pacaran dengan bottom" ledek Jongdae dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya. Dan ucapannya itu tak ayal mengundang delikan tajam dari Sehun.

"Aku tak menyangka kau itu bottom" Baekhyun menyahut dengan satu alis terangkat, menimbulkan kerutan skeptis di dahinya.

"Kalau aku itu top, kalian akan jatuh cinta padaku" kelakar Sehun.

"PD gilaaaa!" Xiumin hampir saja melempar gelas juice nya pada Sehun andai ia tak ingat isinya masih tersisa didalam sana, sayang kan jika isinya dibuang hanya untuk ditumpahkan ke kepala Sehun.

"Sehun, tolong deh jangan bersikap narsis" Baekhyun merotasikan bola matanya dengan malas.

"Orang ganteng bebas, hyung!"

Lagi, Sehun mendapat jitakan di jidatnya dari tangan nista Baekhyun untuk yang kedua kalinya. Xiumin berlagak ingin muntah. Dan Jongdae melakukan gerakan seolah ingin mencekik Sehun.

Untung saja bel masuk cepat-cepat berbunyi. Jika tidak, sudah dipastikan Sehun akan jadi bahan bulan-bulanan ketiga orang yang lebih tua.

Kantin pun mulai sepi karena satu persatu siswa-siswi Jungshin kembali ke kelas mereka masing-masing. Berbeda halnya dengan sekelompok pemuda yang amat di takuti di sekolah ini, siapa lagi kalau bukan gank preman sekolah.

"Yeol, tidak kah kita harus kembali ke kelas?" Tanya Kyungsoo dengan wajah datarnya.

"Hn, kembali lah duluan" jawab Chanyeol tidak peduli.

Kyungsoo mengangkat bahunya acuh. Lalu dua diantara 10 pria itu bangkit dan meninggalkan kantin. Mereka adalah yang duduk dikelas akhir. Mereka tidak boleh bolos karena ini tahun terakhir mereka dan akan dihadapkan pada banyak ujian nantinya. Meskipun termasuk anak badung di Jungshin, Kyungsoo dan Yixing tetap memikirkan masa depan mereka.

"Hati-hati hyung!" Teriak yang paling muda diantara mereka, Gongchan. Disertai senyum imutnya. Senyum imut yang akan membuat siapapun tertipu dibuatnya.

"Yeol, kita juga harus kembali ke kelas. Pelajaran olahraga, bung!" Jongin menepuk bahu Chanyeol tanpa sungkan kemudian menarik bahu yang lebih tinggi tanpa persetujuan darinya, "kalian kembali lah ke kelas!" Jongin menunjuk teman-temannya yang lain sambil terus menyeret Chanyeol yang diam tanpa melakukan perlawanan.

Keduanya langsung mengganti seragam lusuh mereka dengan seragam olahraga di ruang ganti laki-laki.

Chanyeol membuka loker di kelasnya dengan malas dan menaruh seragam lusuhnya disana. Sebelum menutup pintu loker, ia terdiam sejenak. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada sosok mungil Baekhyun yang beberapa minggu lalu mengantarkan seragam olahraganya yang ada pada Jongin kepadanya. Bibir kissable nya tiba-tiba tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman kecil yang hanya bertahan selama beberapa detik saja. Selebihnya, ekspresinya kembali datar dan dingin.

.

.

.

"Ini hasil ulangan kalian minggu kemarin. Joonmyeon-haksaeng, tolong bagikan" guru Cho memberikan setumpuk kertas itu pada si ketua kelas, Kim Joon Myeon, yang langsung maju ke depan untuk mengambil kertas hasil ulangan teman-temannya.

"Astaga! Kau dapat 99,7, Baek!" Xiumin berseru heboh ditengah kericuhan kelas kala melihat kertas ulangan Baekhyun.

99,7 adalah nilai yang sangat langka diberikan oleh guru tampan bernama Cho Kyuhyun itu. Asal tahu saja, guru Cho sangat pelit terhadap nilai. Ia tak pernah memberikan nilai 100 terhadap muridnya karena baginya tidak ada yang sempurna. Dan nilai 99,7 adalah nilai yang sangat membanggakan mengingat seperti apa karakter guru Cho itu.

"Kenapa dia tidak memberikan 100 saja sih. Menyebalkan" gerutu Jongdae. Sejak dulu ia memang tidak suka terhadap guru Cho karena terlalu perfeksionis menurutnya.

"Sejujurnya," suara bising di kelas XII-1 itu mendadak lenyap saat guru Cho berujar. Lirik mata tajam dibalik kacamata minusnya itu teralih pada Baekhyun, "aku masih tidak menyangka. Mengapa anak berprestasi dari London bisa menjadi kakak kandung dari seorang siswa yang sangat nakal" lanjutnya mengundang cekikikan dari kelas XII-1, kecuali Baekhyun tentunya, "saya tidak bicara agar kalian tertawa!" Bentak guru Cho membuat seisi kelas kembali hening.

"Maaf, seonsaengnim" ujar semuanya, kecuali Baekhyun.

"Kalian saya beri tugas dalam satu jam terakhir pelajaran saya. Pergi berkeliling di lingkungan Jungshin, tulis sebuah cerita deskripsi mengenai aktivitas yang sedang terjadi bersangkutan dengan warga SMA Jungshin. Menggunakan bahasa Jerman yang baik dan benar!"

Kini seisi kelas berteriak tidak terima namun guru Cho tidak peduli akan hal itu tentunya, ia berjalan keluar kelas namun sebelum benar-benar keluar ia berujar kembali "dikumpulkan saat jam pelajaran saya berakhir"

Bagaikan mendengar vonis mati dari hakim agung, seluruh warga kelas XII-1 berteriak frustasi. Kali ini Baekhyun pun terlibat dalam suara gaduh itu.

"Ini gila!" Xiumin bersuara dengan tatapan kosong.

Singkat cerita, mereka akhirnya keluar dari kelas dengan membawa buku bahasa dan sastra Jerman mereka beserta catatannya. Baekhyun, Jongdae dan Xiumin pergi bersama ke daerah lapangan Jungshin.

"Kalau ini tugas bahasa Korea sih mudah saja" gerutu Jongdae dan di timpali oleh Xiumin

"Kalaupun bahasa Inggris juga masih lumayan"

"Tapi ini bahasa Jerman!" Dan keduanya kembali berseru dramatis membuat Baekhyun yang berjalan diantara keduanya menghela nafas.

"Sudahlah, lagipula tugas kita tak akan pernah selesai jika hanya untuk diratapi saja"

Baekhyun ada benarnya sih, tapi tetap saja mereka tak terima! Jongdae bersumpah dalam hatinya bahwa ia akan menghapus mata pelajaran bahasa dan sastra Jerman saat ia sudah jadi presiden Korea Selatan nanti.

Yeah.. teruslah bermimpi, Jongdae-sshi.

"Kau harus membantu kami, Baek" Xiumin bergelayut manja di lengan Baekhyun.

"What theㅡ, aku ini pindahan dari London, Xiu! Bukan dari Jerman!"

"Tapi kau mendapat nilai 99,7 pada ulangan bahasa Jerman, Byun Baek!" Protes Jongdae dengan ekspresi culasnya.

"Hahhh.. itu bukan berarti aku bisa menggunakan 'bahasa Jerman yang baik dan benar'" keluh Baekhyun dengan menirukan perkataan guru Cho.

"Penipu! Kau penipu kelas kakap, Baek! Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus membantu kami! Titik!" Keukeuh Xiumin, ia menekankan kata terakhirnya agar Baekhyun tak dapat menolak.

"Tapi akuㅡ AH!" kalimat sanggahan dari Baekhyun terpotong begitu saja saat ia merasakan sesuatu yang keras dan memantul menimpa kepalanya, itu bola volley.

Baekhyun menoleh dengan bengis ke arah sumber pelemparan bola untuk melihat siapa yang sudah melakukan hal itu padanya, "YAAA! Siapaㅡ Park!?"

Dan di detik itu mata bulan sabitnya bersirobok dengan mata bulat si kingka Jungshin, Park Chanyeol, oknum pelemparan bola volley yang mendapat vonis mati dari Baekhyun.

'Mati saja kau, keparat!'

.

.

.

- TBC -

.

.

.

Hai~

Aku balik lagi sesuai janji aku. Nah karena kemaren review nya lebih dari 10 maka aku dengan pd balik lagi hihi.. Makasih ya yang udah suport. Pertahanin buat kalian yang suka review dan diharap yang siders berubah jadi reader baik yaaaa..

Oke, aku bawa ff yang lagi-lagi genre nya pasaran. Entah kenapa suka banget sama ff bergenre percintaan masa sekolah wkwkwk. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi adakah yang minat buat lanjut? Gimana tanggapan kalian soal ff ini? Kasih suara kalian di kotak review ya guys!