Senyumku merekah. Ah... hari ini aku benar-benar bahagia sekali. Hey, noona... gomawo sudah membuat hari-hariku lebih konyol. Huhu... Pelajaran matematika yang merupakan ilmu 'benar-benar pasti' berasa menjadi ilmu imajinasi.
"Jung Yunho," panggil sonsaengnim matematika yang bernama Kyuhyun.
"Nae... Kyuhyun-sshi?" jawabku.
Kyuhyun-sshi menumpuk beberapa buku di atas meja lalu berkata, "Tolong bawakan buku-buku ini ke meja saya di ruang guru," pintanya.
Ugh... jadi guru enak ya. Punya banyak anak buah yang selalu patuh karena alasan 'nilai'. "Arraseo," kataku malas. Aku pun membawa tumpukan buku tugas para siswa yang kalau ditimbang bisa sampai sepuluh kilo. Dengan penuh perjuangan, aku membawa tumpukan buku ini hingga ke ruang guru yang berada di lantai dasar. Lumayanlah fitnes gratis, hehe.
Kumenuruni tiap anak tangga yang jumlahnya setara dengan anak tangga kuil Jepang. Seandainya ada lift... Ah! Udah sekolah gratis malah nglunjak, dasar Yunho babbo. Akhirnya sampai juga ke tempat tujuanku, untunglah pintunya terbuka secara ke dua tanganku kepakai semua. Aku masuk dan meletakkan 'beban' ini ke timbangan tak berskala alias meja Kyuhyun-sshi. Saat aku berniat untuk keluar, tiba-tiba aku mengurung niatku. Aku melihat sesosok yeojya yang sedang menunduk dan duduk di pojok ruangan. Yeojya itu sedang berkutat dengan sesuatu yang membuat senyumku mengembang.
End of Yunho POV
.
.
Jaejoong POV
Disejajarkan, silang, terus dimasukin. Uagh! Nggak bisa! Gimana sih caranya makai dasi? Kalau begini terus aku bisa kehilangan martabat sebagai sonsaengnim kedisiplinan nih. Sudah gitu nggak punya malu pinjam dasi punya Sooman-sshi juga, sampai ditanya-tanyain yang aneh-aneh.
"Noona... plus satu poin..."
Aku tersentak lalu menoleh tapi tidak ada seorang pun. Setahuku hanya aku yang ada di ruangan ini, lalu suara siapa itu? Perasaanku mengatakan...
End of Jaejoong POV
.
.
Yunho POV
Aku memutuskan keluar sebelum Miss. Jae menyadari hawa keberadaanku. Tapi tanpa perlu melihatku, aku yakin Miss. Jae menyadarinya. Noona... kau semakin menarik saja. Aku semakin penasaran padamu. Tidak perlu terburu-buru Yunho, perlahan tapi pasti kau akan mengenalnya.
~oOOoOOOoOOo~
Kumasukkan jas laboratorium ke dalam lokerku. Baru saja praktek kimia selesai yang berarti juga pembelajaran telah usai. Kututup pintu loker lalu berniat untuk segera meninggalkan sekolah berbau buku ini. Namun, langkahku mati saat bola mataku menangkap sosok Miss. Jae yang sedang bersama seorang namja di depan ruang guru. Aku pun bersembunyi di balik tembok, mengitip apa yang sedang mereka lakukan. Aku tidak mengenal namja itu, tapi dari warna dasi yang dipakai oleh namja itu sudah jelas memberitahuku kalau namja itu berasal dari kelas akselerasi.
"Haha...," tawa namja itu. Aku tidak buta, tawa itu adalah tawa yang tulus, tawa penuh kebahagiaan.
"Jangan menertawakanku!" komplain Miss. Jae. Wajahnya mengembung, lucu sekali tapi sayang bukan ditujukkan padaku.
Rasanya ada yang aneh dengan dadaku. Perih sekali saat aku melihat Miss. Jae dengan hati-hati memakaikan dasi pada namja itu! Dan Miss. Jae berhasil memakaikan dasi pada namja itu dengan sempurna. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak, mungkin saja Miss. Jae sedang melaksanakan tugasnya sebagai sonsaengnim kedisiplinan," bisikku sambil mengeleng-gelengkan kepalaku.
Namun pembelaanku gagal saat Siwon-sshi yang merupakan sonsaengnim olahraga keluar dari ruang guru.
"Wah selamat ya untuk kalian berdua," kata Siwon-sshi sambil tersenyum.
Miss. Jae tersipu lalu menunduk sebentar memberi hormat. "Gamsahamnida, Siwon-sshi."
Siwon-sshi terkekeh pelan lalu menambahkan, "Yang akrab ya!"
"Apa Siwon-sshi tidak bisa melihat kami berdua? Kami sudah sangat akrab gini kok," timpal namja akselerasi itu.
Miss. Jae meninju pelan pundak namja akselerasi itu dan Siwon-sshi tertawa.
"Tanpa diberitahu aku tahu kok, kalian memang serasi. Oh aku hampir lupa! Jagalah Miss. Jae baik-baik karena dia itu terlalu cantik, benar begitu Changmin-ah?" canda Siwon-sshi sambil menaikkan alisnya pada namja akselerasi itu lalu menambahkan, "Aku permisi dulu, tidak enak menganggu kalian berdua, annyeong."
Ah... aku sekarang tahu nama namja akselerasi itu dan aku sangat paham tentang hubungan antara Miss. Jae dengan namja akselerasi yang bernama Changmin itu. Aku sangat mengerti...
End of Yunho POV
~oOOoOOOoOOo~
Jaejoong POV
"Sip!" kataku mantap. Aku sudah sangat yakin bahwa bajuku sudah sangat rapi, malu kan kalau sonsaengnim kedisiplan nggak rapi. Ah... dimana bocah konyol itu? Apa dia terlambat lagi? Baguslah, dengan ini aku bisa membalas dendam padanya. Minus satu poin, hehe.
5 menit berlalu
Aku melihat para siswa berjalan melewati gerbang sekolah dengan takut-takut. Kuakui mereka semua sudah rapi, tapi jangan menatapku ngeri gitu dong. Emang aku bodyguard mafia apa? (baca chap 1) Tapi bocah konyol itu kok nggak nonggol-nonggol ya? Awas kalau telat aku minus dua poin.
10 menit berlalu
Aku melihat para siswa berlari-lari memasuki gerbang sekolah karena sebentar lagi mereka akan terlambat. Sekarang ekspresi mereka bertambah takut melihat tatapanku yang sinis ini. Makanya jangan datang mepet-mepet dong. Tapi lagi-lagi bocah konyol itu nggak menunjukkan batang hidungnya. Dimana dia? Kalau benar-benar telat bakal aku minus tiga poin.
15 menit berlalu
"Teng... teng... teng..." lonceng sekolah berdentang tanda pembelajaran akan dimulai.
Heran zaman semodern ini masih memakai lonceng? Ah itu tidak penting! Yang penting dimana bocah konyol itu! Ugh... minus empat poin!
20 menit berlalu
Kakiku pegal karena harus berdiri selama dua puluh menit dengan hak sepatu yang agak tinggi supaya menandingi tinggi Changmin. Dimana bocah konyol itu! Apa dia tidak kasihan padaku yang sudah menunggunya lama? "Kalau Jung Yunho datang akan aku akan minus lima poin!" teriakku jengkel.
"Silahkan saja Miss. Jae," balas seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik gerbang sekolah.
Bocah konyol itu! Entah mengapa kejengkelan hatiku menguap begitu saja saat melihat wajahnya. Eh... tapi dia kok nggak komplain seperti biasanya? Kehabisan ide ya, haha.
"Saya boleh masuk Miss. Jae? Kalau tidak, mending saya bolos sekalian," kata Yunho datar.
Aku membulatkan mataku, kenapa dengan bocah konyol ini? "Boleh," jawabku singkat.
Tanpa cengengesan, tanpa berkomentar, tanpa mengodaku Yunho meninggalkanku begitu saja. Yunho kesambet setan apa jadi waras gitu? "Tunggu Jung Yunho!" kataku.
Yunho berbalik lalu berkata, "Mwo, Miss. Jae? Minus poin lagi? Sudah kubilang, aku tidak peduli."
"Ani... bukan itu. Maksudku mana dasimu?" tanyaku.
Yunho merogoh-rogoh saku celananya lalu mengeluarkan kain kecil panjang yang kuyakini sebagai dasi. Dengan semangat aku mendekati Yunho.
"Tidak perlu membantu memakaikannya Miss. Jae, saya bisa sendiri," tolak Yunho.
Aku terdiam dan melihat Yunho yang dengan lincahnya memakai dasi.
"Lebih baik Miss. Jae memakaikan dasi hanya untuk siswa akselerasi itu. Aku bisa memakai dasi, waktu itu aku hanya menipumu Miss. Jae," jelas Yunho lalu berbalik meninggalkanku begitu saja.
Siswa akselerasi? Maksudnya Changmin?
End of Jaejoong POV
~oOOoOOOoOOo~
Tiga hari berlalu...
.
.
Yunho POV
Kenapa denganku ? Aku tidak seharusnya melakukan hal ini. Aku selalu menghindarinya, selalu menganggapnya tidak ada padahal kami selalu bertemu setiap hari. Aku menatap langit biru dengan sedikit awan putih yang menghiasi. Sekian kalinya aku bolos pelajaran bahasa Inggris dan selalu bersembunyi di atap sekolah. Aku ingin melupakannya tapi tidak bisa... makanya aku selalu melarikan diri.
"Woy... Jung Yunho!" teriak seseorang dari bawah.
Aku menenggok ke bawah dan mendapati namja akselerasi yang bernama Changmin itu. "Mwo?" tanyaku cuek.
"Turun!" perintah Changmin.
"Jangan nganggu aku! Aku sedang tidur siang!" balasku cepat dengan mengambil posisi tidur kembali.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Miss. Jae, hah?" bentak Changmin.
Kenapa dia marah? Aku sudah tidak mendekati kekasihnya. Aku diam saja dan berpura-pura tidur.
Changmin kehabisan kesabaran, ia naik melalui tangga kecil, mendekatiku dan langsung menarik kerah seragamku. "Mari kita bicarakan sebagai sesama laki-laki!" tantang Changmin.
"Apa maumu? Aku sudah tidak menganggu kekasihmu, singkirkan tanganmu!" bentakku sambil menyingkirkan tangan Changmin.
'Buagh!"
Sebuah tinjuan mendarat tepat di pipiku dengan keras. Aku merintih kesakitan, tinju orang jenius ternyata kuat juga.
"Dasar babbo! Mana mungkin aku pacaran sama noonaku! Miss. Jae itu kakak perempuanku, mengerti tidak hah!" jelas Changmin dengan nada marah.
Aku yang berniat membalas tinjuan Changmin jadi kehilangan selera. Jadi aku selama ini aku salah persepsi?
"Kau harus bertanggung jawab! Gara-gara kau noonaku jadi bersikap seperti orang babbo. Masih mending babbo, tapi yang paling parah masakannya menjadi tidak enak!" Changmin menghela nafas lalu melanjutkan, "Kau tahu? Aku selalu makan masakan noonaku sebanyak delapan kali sehari dan kau pasti tidak bisa membayangkan penderitaanku!"
Wuih... badan sekecil ini nafsu makannya gila.
"A..a..." kataku tak jelas langsung disela oleh Changmin.
"Lihatlah dasiku menjadi korbannya!" Changmin menunjuk dasinya.
Aku melirik ke dasi Changmin yang benar-benar kusut.
"Sekarang selesaikan masalah kalian berdua!" perintah Changmin.
"Tenanglah aku akan bertanggung jawab, tapi tolong bantu aku ya!" kataku langsung meninggalkan Changmin. Aku langsung menuruni anak tangga dan menuju kelasku berada. Sesampainya, aku langsung mengetuk pintu kelas dan tanpa menunggu ijin aku langsung membukannya.
"Hi, Miss. Jae! Yunho come back," teriakku lantang.
Miss. Jae menatapku kaget sampai-sampai buku yang sedang ia pegang terjatuh. Para murid pun tidak ketinggalan kagetnya. Aku tidak ambil peduli, aku langsung menuju bangkuku dan duduk manis. "Silahkan lanjutkan mengajarnya Miss. Jae," kataku menahan geli melihat semua pandangan terus menjadikanku pusat perhatian.
"Ehem... sampai dimana kita tadi?" tanya Miss. Jae berupaya memulai kegiatannya mengajar.
Huah... gairah hidupku sudah kembali! Senang sekali melihat Miss. Jae yang kikuk gitu, tambah manis saja. Selama pelajaran bahasa Inggris aku selalu melihat tingkahnya yang serba salah. Seorang noona perfeksionis bisa juga berperilaku aneh seperti itu.
~oOOoOOOoOOo~
Pulang sekolah! Sudah lama aku menantikannya. Aku sudah bekerja sama dengan Changmin dan semoga dia pegang janjinya. Awas kalau bohong, aku sumpahin kamu selalu makan tidak enak, hehe. Aku langsung melesat pergi meninggalkan sekolahku menuju sebuah taman hiburan yang letaknya tidak jauh dari sekolahku.
Aku mempersiapkan apa saja yang akan mendukung aksiku nanti. Setelah merasa persiapanku matang, aku duduk di kursi panjang di bawah naungan pohon yang rindang. Aku langsung mengeluarkan ponselku dari saku celanaku lalu menelepon seseorang. Setelah telepon tersambung, aku langsung berkata, "Aku sudah siap, kerjakan tugasmu dengan baik Changmin." Setelah itu aku memasukkan kembali ponselku ke saku celanaku. Tugasku sekarang cuma menunggu saja.
End of Yunho POV
~oOOoOOOoOOo~
Author POV
"Yeoboseyo?," kata Changmin pada ponselnya. "Arraseo, kau bisa mengandalkanku." Changmin menutup ponselnya.
"Telepon dari siapa, Changmin?" tanya Jaejoong.
"Teman... hm tumben, noona sesenang ini? Ada apa?" tanya Changmin mengalihkan pembicaraannya.
"Benarkah? Apakah wajahku menunjukkannya dengan jelas?" jawab Jaejoong sambil memegang kedua pipinya.
Changmin mengangguk. "Syukurlah, noonaku satu-satunya ini kembali ceria. Bagaimana kalau kita ke taman hiburan?"
"Ide yang bagus," kata Jaejoong setuju.
Mereka berdua berjalan meninggalkan sekolah lalu menuju ke taman hiburan yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Tak lama akhirnya mereka sampai juga ke tempat tujuannya lalu memasukinya.
"Noona...," kata Changmin sambil meringis tak jelas.
"Mwo? Kenapa dengan wajahmu, Changmin?" tanya Jaejoong heran.
"Aku kebelet pipis. Aku ke toilet dulu, noona tunggu di kursi itu saja." Changmin menunjuk kursi yang letaknya di bibir kolam.
Jaejoong mendesah lalu mengangguk.
Changmin langsung melesat meninggalkan Jaejoong. Sementara itu Jaejoong menunggunya di kursi yang tadi di tunjuk oleh Changmin. Lama menunggu, Jaejoong mulai resah.
"Changmin, kamu tersesat ya?" gerutu Jaejoong.
"Hai noona, sendirian aja nih?" goda seseorang.
Jaejoong kaget lalu menoleh. "Jung Yunho!"
Yunho mendekat lalu duduk di sebelah Jaejoong. "Tidak baik, seorang noona cantik sendirian di taman sendirian."
Jaejoong merasa wajahnya memerah karena pujian Yunho lalu menjawab, "Aku tidak sendirian, aku bersama–"
"Tapi tidak ada buktinya tuh!" elak Yunho.
Jaejoong terdiam, di dalam hatinya ia mengutuki dongsaengnya, Changmin.
Yunho tertawa. "Bagaimana kalau bermain denganku saja. Kalu dianggap kencan juga boleh."
Jaejoong langsung membulatkan matanya, dia yakin jantungnya sedang berdetak kencang. "Tap–"
Yunho menyela perkataan Jaejoong, "Aku tahu apa masalahnya, maka dari itu pakai ini ya?" Yunho mengeluarkan dua buah benda dari tasnya.
"Topeng?" tanya Jaejoong.
Yunho mengangguk. "Supaya tidak ada seorang pun yang tahu identitas kita. Tapi yang terpenting tidak ada yang dapat melihat wajah cantikmu."
Jaejoong tercekat, ia kehabisan kata-kata.
"Tentu juga tidak ada seorang pun yang melihat wajah tampanku," tambah Yunho.
Jaejoong mencemberut.
"Aku pakaikan ya," kata Yunho sambil memakaikani topeng yang menutupi seluruh wajah Jaejoong–seperti topeng yang dipakai oleh pasukan ANBU Konoha.
Anehnya, Jaejoong menurut saja. Bahkan ia berharap dongsaengnya tidak usah kembali.
Yunho pun memakai topeng yang serupa. "Mari kita nikmati kencan pertama kita," ajak Yunho sambil mengandeng tangan Jaejoong.
"Yunho, aku malu," kata Jaejoong.
"Aku tak kan pernah membuatmu malu," janji Yunho.
Mereka telah berputar-putar mengelilingi taman hiburan dan Jaejoong mulai memperdulikan tatapan orang yang memandang mereka aneh.
"Yunho, mereka memandang kita aneh," keluh Jaejoong.
"Mereka hanya penasaran, itu saja kok. Tapi sayangnya, takkan kubiarkan mereka mengetahui wajah di balik topeng ini," jelas Yunho sambil mendekap kepala Jaejoong.
"Tap–" lagi-lagi kata-kata Jaejong disela oleh Yunho.
"Aku akan membelikanmu sesuatu agar kau merasa lebih nyaman," kata Yunho lalu mengeleng-gelengkan kepalanya mencari sesuatu, tiba-tiba gelengan kepalanya terhenti. "Ayo!" Yunho menarik tangan Jaejoong mendekati penjual balon gas.
Penjual balon gas menatap Yunho dan Jaejoong aneh, tapi namanya pembeli tetap harus dilayani.
"Pak, saya beli balon yang berbetuk hati dan berwarna merah," kata Yunho sambil menunjuk balon yang melayang.
Penjual balon gas mengambil pesanan Yunho, menyerahkan pada Yunho dan Yunho membayar tanpa meminta kembalian. Setelah itu Yunho meyeret Jaejoong ke bibir kolam dekat lokasi mereka pertama bertemu di taman hiburan.
"Ini untukmu," kata Yunho sambil menyodorkan balon gas itu kepada Jaejoong.
"Kau membelikanku balon? Aku bukan anak kecil," gerutu Jaejoong.
"Tapi pernah menjadi anak kecil kan? Sudahlah terima dulu, balon ini mempunyai arti spesial." Yunho semakin menyodorkan balon gas itu pada Jaejoong.
Jaejoong mengalah, ia menerima balon gas pemberian Yunho.
"Apakah kau mempunyai perasaan padaku?" tanya Yunho tiba-tiba membuat Jaejoong kehabisan nafas.
Jaejoong menghirup nafas panjang, "Tentu saja, perasaan ingin memukulmu, membuatmu menangis, dan–"
"Aku tidak bercanda," Yunho mendesah pendek lalu melanjutkan, "Yeojya seumuranmu pasti mengerti apa yang aku maksudkan. Jangan berpura-pura babbo."
"A...aku..." kata Jaejoong terbata-bata.
"Aku memiliki perasaan padamu. Aku sudah mengatakannya, bagaimana denganmu?" jelas Yunho.
Jaejoong terdiam, ia tidak bisa berkata satu patah pun.
"Kau tak perlu menjawabnya. Bila 'iya' maka tetaplah kau pegang tali balon gas itu, jika 'tidak' maka lepaslah tali balon itu." Yunho menunggu tindakan apa yang akan diambil oleh Jaejoong.
Jaejoong terdiam tapi kali ini ia sedang berpikir dan keputusan yang ia ambil adalah melepas tali balon gas.
Yunho terhenyak, tapi ia sudah mempersiapkan mentalnya untuk menerima segala yang terburuk. "Aku mengerti, mianhae sudah membuatmu harus menemaniku. Aku berjanji tidak akan mendekatimu melebihi hubungan guru dan murid."
"Yunho babbo," Jaejoong menghela nafas panjang lalu melanjutkan, " aku sengaja melepas tali balon gas tadi karena sejak tadi kau hanya mengandeng satu tanganku saja, sedangkan tangan satuku kedinginan."
Yunho menyeringai dan ia mengenggam kedua tangan Jaejoong. "Kau membuatku hampir mati, tapi aku lega sekarang. Jadi kita sudah resmi?"
Jaejoong mengangguk.
Yunho melepas gengaman tangannya lalu membuka topengnya dan topeng Jaejoong lalu membuang kedua topeng itu ke kolam.
"Sekarang aku ingin melihat wajahmu lebih dekat." Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong lalu berbisik, "Saranghae Boo."
End of Author POV
~oOOoOOOoOOo~
Yunho POV
SM Senior High Scool: Acara kelulusan.
"Ayo hyung kita foto bersama!" ajak Changmin padaku.
Aku menepuk dahiku pelan. "Bagaimana mungkin aku lulus dengan waktu yang sama? Memalukan!"
Jaejoong tertawa.
"Sudahlah, yang penting Yunho-ah lulus dengan nilai memuaskan," hibur Junsu-sshi. "Benar begitu Chunie-ya?"
"Nae... nae...," jawab Yochun-sshi.
"Gamsahamnida, ajumma, ajeossi. Kalian sudah berkenan datang," kataku senang.
"Anggaplah kita sebagai orang tua angkat, bukan begitu Chunie-ya?" tanya Junsu-sshi pada Yochun-sshi.
"Nae... auw!" raung Yochun-sshi.
Rupanya kakinya diinjak oleh Junsu-sshi. Haha, jadi ingat kejadian di apartemen.
"Soal uang sewa lupakan saja, kami sudah menganggapmu sebagai anak," lanjut Yochun-sshi.
"Dan kami akan membiayai biaya kuliahmu," tambah Junsu-sshi.
Entah apa yang dapat aku ungkapkan, tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaanku sekarang. Aku langsung memeluk Junsu-sshi dan Yochun-sshi bersamaan dengan berurai air mata.
"Lebih baik bila moment indah ini kita abadikan," kata jaejoong.
"Nae... aku sudah tidak sabar," komplain Changmin.
"Di hari bahagia ini hapus air matamu Yunnie-ya, kau harus kelihatan tampan di foto," nasehat Jaejoong.
"Arraseo, Boo," jawabku senang atas perhatian Jaejoong.
"Boo?" tanya Changmin, Junsu-sshi dan Yochun-sshi bersamaan.
"Boo itu ..." kata Jaejoong malu-malu.
"Panggilan sayangku pada Jaejoong, hehe," lanjutku tak kalah malu.
"Artinya?" tanya mereka bertiga lagi dengan kompak.
"Biarkan kami berdua saja yang tahu, bukan begitu, boo?" tanyaku pada jaejoong.
Jaejoong hanya tersipu.
"Siapa saja yang mau foto?" tanya fotografer yang disewa oleh sekolah.
Kami berlima saling berpandangan. "Tentu saja kami berlima!"
Fotografer lalu berkata, "Nah, ambil pose yang kalian inginkan, mengerti?"
Kami berlima pun saling berdempetan. Junsu-sshi bersebelahan dengan Yochun-sshi, demikian aku dengan Jaejoong. Sedangankan si magnae ketinggian ada di tengah.
"Siap? Satu... dua... tiga!" aba fotografer.
'Jepret!'
"Yunnie-ya!" teriak Jaejoong.
"Haha," tawaku meledak karena saat di foto aku mencium pipi Jaejoong. Jadi tidak sabar melihat hasil cetakan fotonya.
"Aigo, jadi kangen masa masih muda," sesal Junsu-sshi.
"Bukannya kita masih muda Suie-ya?" tanya Yochun gemas.
Changmin yang berada di tengah-tengah orang jatuh cinta menjadi gerah sendiri. "Ah, lihat! Ada balon berbentuk hati dan berwarna merah melayang di langit!" kata Changmin sambil menunjuk ke arah langit.
Kami berempat mengikuti instruksi Changmin dan tentu saja hanya aku dan Boo yang tahu asal-usul balon tersebut.
THE END
a/n:
gila! Baru pertama ini nulis kilat! Biasanya berhari-hari dan kali ini cuma beberapa jam (O.o)
Mian kalau banyak typos, malas ngecek karena pantat uda datar duduk lama =.=
Seharusnya bisa nyicil tapi kemarin malah download 3rd Asia Tour Mirotic Concert in Seoul. Nggak cuma itu doang, pokoknya banyak dech. Mungkin kalau diitung sampai 1 GB sehari #plak!
Aduh baru sekarang punya kesempatan nonton konsernya TVXQ(walau di laptop) sampai punya pikiran pinjem lightsticknya pak polisi, pinjem kaos partai P*I dan pakai topi sepak bola *Saya Cassie miskin, kasihanilah saya*
Pokoknya waktu nonton cuma bisa mematung. Aish... mereka seksi sekali #plak! Kenapa mereka pisah T.T
JYJ juga mau konser ke Indonesia, siapa yang mau nonton? Saya nitip jari buat nyentuh ototnya Jaejoong(masa di potong nie jari)
Apaan sih malah curcol nggak jelas.
Pokoknya gamsahamnida untuk para reader yang sudah mereview dan juga para silent reader ^^
Yah fanfiction terakhir T.T
Author's status : HIATUS
