Whoyeah! BBA chapter 2 akhirnya selesai. :) setelah mengalamai pergulatan mengetik beberapa malam sebelum tidur.
Tanpa banyak komen, langsung aja dimulai BBA-nya.
Disclaimer : Iya, FMA bukan punya Misa. Puas? Nama F4 juga bukan punya Misa. Tapi yang jelas, ff nya punya Misa ^^
Enjoy your salep!
Second : The Canteen Conqueror
Jam 12 siang. Jam makan siang.
Riza keluar dari kelas dengan perut kelaparan. Hari-harinya di Amestris University terasa sangat panjang dan lama. Setiap hari ia harus datang pagi, belajar sana sini, dan baru bisa kembali pulang pada sore hari.
Selesai kuliah pun, ia tidak bisa langsung pulang. Ia masih harus bekerja sambilan di sebuah restoran bubur beberapa blok dari Amestris University.
Riza tidak pernah menyesali keadaannya yang datang dari keluarga pas-pas-an. Ia justru senang bisa membantu orang tuanya untuk mencari tambahan penghasilan.
Setidaknya, ia bisa berperan menjadi 'anak baik'.
Selama ini, Riza memang menjadi anak baik dengan meraih beasiswa untuk kuliahnya di Amestris University.
Ia mendapat beasiswa di bidang olahraga. For your information, Riza adalah pemegang juara menembak nasional Jerman selama 5 tahun berturut-turut. Riza Hawkeye terpilih untuk mewakili Jerman dalam berbagai macam kompetisi menembak internasional. Singkatnya, she's as good as a sniper. Nama belakang 'Hawkeye' sangat cocok dengannya.
Riza berjalan menuju lokernya. Ia membuka loker, menaruh buku-buku yang sudah tidak digunakan, dan menarik keluar bekal makanan yang ia siapkan dari rumah.
"Riza!"
Riza menengok. Maria Ross berlari ke arahnya dengan wajah berbinar-binar.
"Ada apa, Maria?"
Maria Ross berhenti di hadapan Riza, "Hah...Hah...Hah..."
"Atur nafasmu dulu." Ujar Riza sambil mengunci lokernya.
Maria mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Riza, kau tahu? F4 hari ini akan makan di kantin!"
Gedubrak! Aku pikir apa.
Riza menampar pintu lokernya dengan kecewa.
"Ri-Riza?" Maria menemukan Riza sama sekali tidak tertarik.
"Heeehh..." Riza menghela nafas panjang, "dengar ya Maria Ross, aku tidak peduli mau F4 makan di kantin, di atas pohon, atau di toilet, atau pun tiba-tiba mereka makan tutup panci. Kalaupun F4 memang makan di kantin, itu tidak akan membuat dompetku bertambah isinya kan? Who will give it a damn about it?"
"I will!" Seru Maria semangat sambil malu-malu, "yah, mereka kan tidak jelek."
Riza memegang pundak Maria dengan tangan yang bebas, "Maria Ross-ku sayang, apa kau pernah ditawari cuci otak? Kalau iya, langsung terima saja ya."
Bibir Maria langsung manyun tidak setuju. "Kau jahat, Riza."
"Hahahahahahaha!"
"Ayo kita makan! Perutku sudah minta diisi." Riza menggandeng Maria yang masih kesal dan menyeretnya ke kantin.
Seperti biasa, kantin penuh seperti tempat pengungsian. Setiap senti area kantin dipenuhi dengan mahasiswa yang membawa nampan perak yang berisi makanan mewah. Mereka mengobrol dan tertawa sambil menyantap makan siang mereka.
Riza jarang sekali membeli makanan di kantin. Menurutnya harga seporsi makanan di kantin ini sama dengan 'gaji sebulanku ditambah harga set Tokalev terbaru keluaran Rusia dengan bonus peluru isi 10000 buah'.
Memang sih agak berlebihan, tapi itu cukup untuk mendeskripsikan betapa mahalnya harga sepiring roti di kantin ini.
Riza mencari meja yang masih kosong, sementara Maria mengantri di depan display menu makan siang.
"Ah!" Riza menemukan meja yang kosong di tengah keramaian. Riza melewati beberapa orang, meliukkan tubuhnya dengan lentur, lalu akhirnya sampai di meja itu.
Riza meletakkan bekalnya di atas meja. Ia menarik keluar kursi di hadapannya dan langsung duduk di atasnya.
"Kyaaa! F4! F4!"
"F4 ke kantin? Jarang sekali."
"Ada F4! Aduh, aku sudah cantik belum ya?"
"Prince Mustang!"
Oh ya ampun, bisa tidak sih aku makan siang dengan tenang? Riza menepuk dahinya dengan kesal. Ia berpaling dari bekalnya dan melihat para 'sumber masalah' baru saja mendaratkan kaki di pintu masuk kantin.
"Kyaaaaaaaaaaaaa!" Kerumunan mahasiswa-perlu-cuci-otak semakin histeris.
Riza memutar matanya. Ia langsung buang muka.
Makan siangku lebih penting daripada mereka.
Riza membuka tempat bekalnya, "Telur gulung, sosis bentuk gurita, dan..." Riza mencapit lauk kesukaannya dengan sumpit, "...udang tempura. Oh, hidupku sempurna."
Krumpyang!
Udang tempura Riza terjatuh dari sumpit. "Hee? Ada apa lagi sih?"
"Hei! Apa yang kau lakukan?"
Riza meletakkan sumpitnya dan berbalik menuju suara jatuh tadi. Suara itu berasal dari kerumunan di sekitar F4 sedang berdiri.
Riza memukul meja sambil berdiri. Ia berjalan menuju F4.
Mereka ngapain lagi sih? Mengesalkan sekali!
"Kau punya mata tidak?"
Riza bisa mendengar Mustang berteriak marah.
Riuh rendah ceomoohan di sekitar F4 semakin terdengar..
Riza mencolek punggung orang didepannya, "Hei, ada apa sih?"
Orang itu menengok, "Ada yang menumpahkan makanan di baju Prince Mustang."
"Hah?"
Riza penasaran. Ia menyelip, merampingkan badannya untuk melewati kerumunan. Akhirnya Riza sampai di bagian paling depan kerumunan.
Mata Riza membelalak.
"Ma-Maria Ross?"
Di hadapannya, Maria Ross tengah berlutut di hadapan Roy Mustang. Maria menangis sambil menggumamkan 'maaf' berkali-kali.
"Sepatu dan celana ini baru saja kupakai tahu!"
Maria tidak menjawab. Isakannya makin kencang.
"Harganya bahkan lebih mahal dari yang kau bayangkan! Berani sekali kau menumpahkan makanan murahan seperti itu?"
Maria masih terisak, "Ma...hiks...maafkan aku, Mustang. Aku tidak...hiks...tidak...hiks."
Roy menaruh kedua tangannya di kantung celana, "Maaf? Hah! Jangan membuatku tertawa. Maaf tidak akan membersihkan noda dari celanaku!"
Maria terisak makin keras, "Bi..hiks...biarkan...hiks...aku men..hiks...mencucinya."
"Mencucinya?" Roy mendengus, "kau mau cuci berapa kali pun, percuma saja! Tidak akan mengubah kenyataan kau pernah menumpahkan sesuatu diatasnya."
Maria mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar, "Ma...maafkan aku."
Roy mendelik ke teman-teman F4-nya, "Kau tahu apa artinya kan?"
Maria mengangkat wajahnya. Matanya menunjukkan ketakutan.
Roy tersenyum dingin, "Nota merah akan ada di lokermu..."
"Diam kau, Keparat Mustang!"
Roy terkejut. Berani sekali memotong pembicaraan Mustang. Ternyata yang mengatakan kalimat tadi adalah seorang gadis berambut pirang panjang.
"Apa kau bilang?" Roy bertanya dingin. Matanya menyipit penuh kebencian.
"Aku bilang," Riza ikut menyipit, "'Diam kau, Keparat Mustang'!" Riza memberikan tekanan pada dua kata terakhir.
"Siapa kau?" Roy bertanya lagi.
"Tidak penting siapa aku. Yang jelas, aku sudah muak melihat kau dan teman-temanmu itu sok berkuasa disini," Riza menjawab dengan nada dingin, "dan kau telah mengganggu makan siangku yang damai."
Orang-orang disekitar mereka bisa merasakan bulu kuduk mereka berdiri.
Suasananya sangat tegang. Riza dan Roy sama-sama memberikan tatapan penuh kebencian.
Riza meraih daging panggang yang terjatuh di depan kakinya.
"Apa maumu?"
Riza menimbang daging panggang itu dengan tangan kanannya, "Anyway, Mustang." Panggil Riza.
Roy Mustang menatap Riza.
"Dimana kau mau daging ini mendarat?" Riza tersenyum jahil, "di kemejamu? Di celanamu? Atau yang lebih baik, di antara kedua matamu? Aku senang sekali membidik ke arah itu."
Roy masih memberikan tatapan dingin. Alphonse yang ada di belakang Roy, maju selangkah untuk melindungi Roy. Tapi Roy mengangkat tangannya, menyuruh Al untuk tidak ikut campur.
"Apa kau berani melakukannya?" Tantang Roy.
"Berani?" Riza mendengus, "Oh, ini bahkan sudah ada di mimpiku sejak lama." Ejek Riza.
"Maria, tolong geser sedikit." Maria langsung merangkak cepat menjauhi Riza.
Riza mengambil ancang-ancang. Ia mengangkat tangan kanannya. Dengan sekuat tenaga, ia melempar daging impor sirloin steak well-done itu.
Plak!
Tepat menampar di antara mata Roy.
"Bull's Eye!" Riza mengepalkan tangan dengan bangga.
Sisa anggota F4 langsung pucat.
"Au!" Roy berteriak kesakitan. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Riza maju selangkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Tok...tok...tok. Roy bisa mendengar bunyi langkah flat shoes Riza mendekat kearahnya. Roy membuka tangannya, Riza hanya berjarak satu meter dari hadapannya.
"Aku belum puas, Mustang."
Roy langsung pucat.
"Heaaaahhhh!" Riza melompat, melebarkan kaki kanannya.
"Terima ini, Roy Mustang!"
Buagh!
Dengan efek slow motion yang dramatis, tendangan kaki kanan Riza mendarat tepat dan keras di pipi kiri Roy.
Roy terhuyung. Ia mundur beberapa langkah lalu jatuh berlutut. Teman-teman F4nya langsung membantu Roy berdiri.
"Kau tidak apa-apa, Roy?" Tanya Havoc.
Roy terengah, "Pe-Perempuan itu!Haah… Haaah… Si-Siapa dia?"
"Ah… Hm, aku rasa dia yang bernama Hawkeye. Penerima beasiswa khusus." Jawab Al ragu-ragu.
Riza berjalan ke hadapan Roy yang terjatuh, "Hei, Mustang!" Riza menunjuk wajah Roy, "aku benci padamu." Riza berkata dingin.
Bulu kuduk Roy bediri.
Riza berbalik menjauhi Roy. Ia mendatangi Maria Ross yang sedang terperangah.
"Ayo Maria, kita makan di tempat lain!" Riza menggandeng Maria, mengambil bekalnya, dan keluar dari area kantin.
Roy POV
Aku masih jatuh berlutut di hadapan teman-temanku. Jantungku berdebar keras. Nafasku terengah. Dan bulu kuduk di leherku belum mau turun.
Sialan! Gadis itu sangat menyebalkan!
Apa sih yang ia inginkan?
Aku, Roy Mustang, tidak pernah sekalipun di tendang oleh wanita. Apalagi, sampai harus ditampar dengan daging panggang. Ini sangat memalukan.
Jantungku berdebar keras tidak karuan.
Aku berdiri sambil dibantu oleh Havoc, "Hei Roy, kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa." Aku berdiri
Aku bernafas dalam-dalam, "Gadis Hawkeye itu, akan mati besok."
"He-hei Mustang. Kau tidak serius kan?" Al menepuk bahu Roy.
Aku meluruskan jas hitamku yang agak kusut karena tendangan si Hawkeye itu.
"Aku tidak pernah lebih serius daripada ini."
Aku membayangkan apa yang akan terjadi besok. Aku bisa merasakan sudut bibirku terangkat.
This is gonna be fun.
Normal POV
Riza dan Maria sudah berada jauh dari kantin. Lebih tepatnya, mereka jauh dari kampus. Maria memaksa Riza untuk makan di luar lingkungan kampus. Dan akhirnya, mereka sekarang sedang berada di sebuah food court terrace yang ada di pusat perbelanjaan kota Berlin.
"Errr- Maria, apa kita benar-benar mau makan disini?"
Senyum Maria mengembang, "Setelah kau dengan berani menyelamatkanku? Tentu saja iya."
Maria berjalan cepat mendahului Riza. Matanya menatap display makanan di kiri kanan jalan dengan mata liar. Di belakangnya, Riza celingak-celinguk melihat beberapa makanan yang sedang diobral.
Buagh!
Riza menabrak Maria yang tiba-tiba berhenti.
"Ma-Maria, bisakah kau bilang dulu kalau mau berhenti?"
Maria tidak menjawab apa-apa.
Riza berjalan ke samping Maria, "Ada apa sih?"
"Kita makan disitu yuk!" Maria menunjuk sebuah restoran keluarga 100m dari tempatnya berdiri.
"Ha?" Riza mengikuti arah jari telunjuk Maria.
Ini kan?
"Maria, hmm... I-ini..."
"Aku sudah lama tidak makan bubur," Maria berkata senang, "dan bubur vegetarian bagus untuk masa dietku."
Riza membaca plang restoran itu.
'The Porridge House'
Ini... Ini kan tempatku kerja sambilan. Pikir Riza. Ia terkena sweatdrop akut.
"Ayo masuk ke dalam!" Maria menarik Riza menuju restoran itu.
Klinting! Klinting! Bel di atas pintu restoran berbunyi riang menandakan ada tamu baru masuk.
"Selamat data... Ah! Riza!" Panggil seseorang dari balik meja kasir.
Maria dan Riza menengok ke sumber suara.
"Hai, Winry." Balas Riza kikuk.
Winry mendatangi kedua tamunya, "Selamat datang!" Ia menengok ke arah Riza, "Riza, tumben kau datang pada jam kuliah."
Maria menatap bingung, "Kau kenal dia, Riza?"
Riza menghela nafas, "Ini tempatku kerja sambilan setiap hari."
"Kok tidak memberitahuku?"
"Kau sudah keburu menarikku masuk."
"Oh, hehe, maaf." Maria tersenyum malu.
Riza menepuk bahu Winry, "Nah, kenalkan, ini Winry Rockbell. Dia temanku di rumah bubur ini." Riza berpindah ke Maria, "dia Maria Ross, temanku dari A.U."
Maria dan Winry bersalaman sambil mengatakan 'senang bertemu denganmu'.
"Maria, kau ingin bubur vegetarian kan?"
Maria mengangguk.
Riza berpaling ke Winry, "Winry, tolong beritahu Fuery untuk membuatkan bubur vegetarian spesial."
Winry mengangguk senang dan langsung melesat menuju dapur.
Riza mengajak Maria duduk di meja di sebelah jendela besar.
"Errr... Riza, kau sudah lama kerja disini?"
Riza menggaruk kepalanya, "Hmm, kalau aku hitung... Mungkin sudah hampir 1 tahun."
"Mmm... Habisnya, kau terlihat senang bekerja disini."
"Tentu saja." Riza tersenyum, "mereka menerimaku dengan sangat baik. Mereka juga mau mengerti keadaanku yang harus bekerja sambil kuliah."
Maria mengangguk mengerti.
"Anyway, Riza. Terima kasih ya telah menolongku." Kata Maria.
Riza mendengus, "Sama-sama. Aku memang sudah lama ingin melakukannya."
"Tapi, bagaimana nasibmu besok? Bagaimana kalau F4 sampai mengirimkan nota merah padamu? Bagaimana kalau..."
"Sssst!" Riza menempelkan telunjuk di bibirnya, "yang besok, yah biarlah terjadi besok. Tapi yang jelas, mau F4 memberikanku nota merah, buku merah, apa merah, aku tidak akan keluar dari Amestris University."
"Kelanjutan masa depanku tidak boleh tergantung mereka!" Nada bicara Riza sama seperti pidato kemerdekaan, "apalagi aku masuk ke A.U. dengan beasiswa. Kalau aku tiba-tiba keluar, bisa-bisa mereka akan meminta kembali uang pendidikanku selama ini."
Maria terdiam. Ia cemas apa yang akan terjadi pada Riza besok.
Riza, kau salah memilih lawan. Pikir Maria.
Riza terdiam. Ia memandang keluar jendela.
Disatu sisi, ia puas bisa membalaskan kemarahan temannya. Ia juga puas bisa membalas perbuatan F4 yang semena-mena itu.
Tapi, disisi lain, ia juga takut. Ia takut tindakannya ini bisa merepotkannya dan keluarganya.
Apakah tindakanku ini... Benar?
"Nah, Riza, Maria, buburnya sudah datang."
Winry datang membawa dua mangkuk bubur vegetarian yang masih mengepul.
"Thanks, Winry."
Riza mengalihkan pikirannya dari F4 dan mulai memakan buburnya.
Semua akan baik-baik saja, I wish.
Keesokan harinya, Amestris University.
Riza berjalan sepanjang koridor lantai dasar. Ia membetulkan letak tali tas selempangnya.
Pagi ini ia datang melalui pintu samping. Ia ingin menghindari tatapan orang padanya atas apat yang terjadi kemarin.
Dengan sedikit memutar, Riza akhirnya sampai di depan loker kesanyangannya.
Riza memutar kenop kombinasi di depan pintu loker. Setelah sedikit putaran ke kiri dan kanan, pintu loker Riza mengeluarkan bunyi 'klik'.
Ia membuka pintu.
"Ah."
Mata Riza melebar.
Oh sial.
Di hadapan wajahnya tertempel selembar 'undangan maut'.
Ternyata benar dugaanku.
Nota merah berlabelkan F4 lengkap dengan gambar tengkorak hitam menggantung di hadapan Riza.
"Hei, si Hawkeye mendapat nota merah!"
"Aku sudah menduganya. Maksudku, lihat kan apa yang ia lakukan pada F4 kemarin!"
"Itulah akibatnya kalau melawan Prince Mustang!"
"Dia akan mati."
Riza mengalihkan pandangan ke sekitarnya. Sekelilingnya sudah ramai dengan mahasiswa yang 'lapar' ingin menyiksa Riza. Ia mengeluarkan keringat dingin.
"Nah Hawkeye, ini akibatnya kala kau mencari masalah dengan F4 kami." Kata seorang gadis dengan handycam ditangannya.
Gawat! Apa yang harus kulakukan?
Berpikir Riza, berpikir!
"Bersiaplah untuk merasakan kemarahan F4, Riza Hawkeye."
Yak sodara-sodara, itulah tadi chapter 2-nya. Arigatoooo~ buat semua yang udah review di chapter pertama :) buat sherry-me, anda benar sekali. Kalau Roy ga sama Riza, rasanya ga asik. Hehehe. Juga buat BlackKiss'Valentine, gomen ya klo jokenya ga nambah. Misa agak susah bikin joke -_-"
Dan juga buat yang lainnya yang belum disebut, thanks banget reviwenya ^^ i love it.
Just like always, drop one or two reviews :)
^MisaChan^
