You Don't Need Me Anymore

Pairing: 2MIN

with Hurt/Comfort, Family

Author : gildal

Warning YAOI! Don't like Don't read!


Happy reading~

.

.

"...kau terlalu bodoh untuk mengalahkanku Minho!"

"Seharusnya kau berfikir lebih panjang sebelum menemuiku bodoh! Cih"

...

Seohyun tersenyum simpul memandangi bento- bekal makanan yang khusus ia buat untuk kekasihnya, Kyuhyun. Ia memasuki lift kemudian memencet tombol angka 13, ruangan dimana Kyuhyun bekerja sebagai salah satu direktur eksekutif diperusahaan kakeknya.

Beberapa menit berlalu, ia melangkah pelan menuju ruangan kekasihnya.

"Kau tau, tak pernah aku membenci seseorang sampai rasanya ingin muntah!" Kyuhyun duduk diperut Minho, ia memukuli Minho dengan brutal.

"YA!" Seohyun menjatuhkan bento yang ia bawa sesaat setelah membuka knop pintu ruangan Kyuhyun. Terlihat Minho tergeletak bersimbah darah dengan Kyuhyun yang duduk diperut Minho, memukulinya tanpa ampun.

"YA! Hentikan Oppa!"

Seohyun memeluk Kyuhyun dari arah belakang, namun Kyuhyun tak menghiraukan kehadiran Seohyun. Ia terus memukuli Minho, "Kakek akan membunuhmu jika kau berani membunuh Minho" Seohyun bergumam lirih dibalik punggung Kyuhyun.

"Kau tau, kakek tua itu selalu membuatku muak!" Kyuhyun melayangkan tonjokan ke wajah Minho namun tangan lemah Minho berhasil menepis pukulan Kyuhyun, "Ck kasihan sekali, kau- kau jatuh karena perasaan iri. Aku yakin, kau akan jatuh selamanya haaa-arghhhh"

"Brengsek!" kemarahan Kyuhyun kembali tersulut oleh ucapan Minho, "Aku mohon hentikan!" Seohyun memeluk tubuh Kyuhyun dari arah depan, ia mendorong Kyuhyun untuk turun dari perut Minho. Tiba-tiba ia membungkam mulut Kyuhyun menggunakan bibirnya, air mata Seohyun mengalir pelan seiring lumatan bibirnya pada Kyuhun dihadapan suaminya. Choi Minho.

Minho tersenyum hambar menatap istri yang begitu ia cintai mencium lelaki lain dihadapannya. Ia memundurkan tubuhnya kemudian bangkit untuk meninggalkan ruangan yang tiba-tiba membuat suhu tubuhnya mendidih.

.

Ia berjalan sempoyongan memasuki mobil. Menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan beberapa pengemudi yang meneriakinya gila ketika ia tiba-tiba menghentikan mobilnya namun beberapa saat kemudian kembali menancapkan gas menyusuri jalanan ramai ditengah-tengah kota Seoul.

Minho menghentikan mobilnya dipinggiran sungai Han, persis seperti yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.

"Aaargghhh BRENGSEK!" ia berteriak keras memukuli stir mobil, memencet klakson dengan brutal tak peduli dengan kebisingan yang mungkin akan mengganggu suasana disekitar sungai Han.

"Seohyun sialan kau!" air matanya tiba-tiba mengalir dari kedua mata yang terpejam. Ia menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, menstabilkan nafasnya yang memburu kemudian memaksakan untuk terus terpejam. Berharap jika semua yang di alaminya hanya mimpi buruk—

Beberapa jam berlalu Minho masih tetap memejamkan matanya. Ia sedikit tersentak ketika ponselnya tiba-tiba berdering, ia membuka kedua matanya kemudian beralih melirik ponsel yang terus saja berdering. Ia terkekeh geli mendapatkan nama 'Nae yeobo' disana, "Apa pedulimu hah, ck" Minho membuka pintu mobilnya kemudian keluar begitu saja, ia tak menghiraukan Seohyun yang terus berusaha menghubunginya.

Minho tersenyum simpul ketika penglihatannya menangkap sosok kurus bersyal merah dipinggiran sungai Han. Ia melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, sedikit terkejut ketika mendapati jarum arlojinya menunjukan pukul 10 pm. Ia mendekatkan wajahnya pada spion kemudian menghapus jejak-jejak darah yang mengganggu ketampanan wajahnya.

Ia berjalan pelan mendekati seseorang yang ia lihat beberapa hari yang lalu, "Hey kau. Aku kembali melihatmu gadis manis. Apa yang kau lakukan dipinggiran sungai malam-malam seperti ini?"

Minho terkejut ketika melirik wajah anak itu sembab oleh air mata.

"Ya ya! Tinggallah sebentar. Aku pria baik-baik eum, siapa namamu?" ia menarik lengan anak itu yang tiba-tiba berlari- terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Minho.

"Taemin. Lee Taemin"

"Lee Taemin..." Minho tersenyum menatap punggung Lee Taemin yang tengah berlari dengan cepat meninggalkan sungai Han.

.

You Don't Need Me Anymore

.

Taemin terkejut mendapati Hyomin tengah berdiri didepan pintu, menatapnya dengan tatapan membunuh, "Kau- berani sekali kau pulang setelah apa yang kau lakukan!" ia memeluk tangannya didepan dada. Melirik Taemin, memikirkan tubuh bagian mana yang akan ia beri hukuman pada Taemin.

"Katakan apa yang kau lakukan pada pelangganmu hah!"

"Aku tidak tau!"

Taemin berdiri dihadapan Hyomin, berusaha menerobos bibinya yang berdiri menghalangi jalannya, "Dasar tak tau malu!"

"Apa yang akan kau katakan untuk memberiku alasan hah. Dasar brengsek, kau membuang uang-uangku sialan!"

"...kau membuang uang-uangku sialan!" ini terlalu memuakan. Ingin rasanya aku mengubur tubuhnya dengan tumpukan uang, sepertinya aku harus melakukan kejahatan lain untuk menguburnya dengan uang. Ck aku masih terlalu waras untuk melakukannya.

"Aku memukul mereka menggunakan botol wine setelah itu aku lari" jawabku enteng. Aku sama sekali tak menatap wajah wanita paling munafik dihadapanku sekarang, bukan karena terlalu takut hanya saja aku terlalu muak dengan perlakuannya.

"Sialan! Dasar tak tau malu. Kau tau karena wanita itu, karena kau, karena kalian suamiku meninggalkanku SIALAN!" ia kembali menjerit seperti orang gila jika mengungkit masa lalu, suaminya berakhir tragis bahkan karena ulahnya sendiri.

.

Paman membawaku kesini saat aku berumur 10 tahun, kecelakaan yang menewaskan ibuku membuatnya tanpa berfikir panjang memintaku untuk tinggal bersama keluarganya. Aku terlihat begitu menyedihkan selepas kepergian ibuku, aku tak memiliki siapapun selain ibuku. Bahkan tak jarang aku mengutuk Tuhan yang tak membiarkan aku mati bersama ibuku, satu-satunya orang yang mau menyayangiku. Ck menyedihkan bukan?

Saat itu aku belum cukup dewasa untuk mengambil keputusan sehingga aku dengan senang hati menerima tawaran paman untuk tinggal dirumahnya. Hidup bahagia ditengah-tengah keluarga utuh yang begitu menyayangiku, aku bahkan memiliki adik baru yang begitu menyayangiku. Kai.

Jangan terlalu serius, aku sedikit berlebihan ck.

Keadaan yang terlihat baik-baik saja seolah terjungkir balik ketika paman berada di luar rumah. Hyomin, wanita yang selalu menatapku dengan tatapan penuh aib akan mengurungku di kamar mandi kemudian menamparku bertubi-tubi. Kebencian yang melekat dimatanya seolah membakarku hidup-hidup, ketakutan tak pernah urung dari kehidupanku setiap harinya.

Ia selalu menganggapku sebagai kotoran hasil perselingkuhan suaminya dengan ibuku. Tentu saja itu tidak benar!

Hari dimana aku berharap semuanya akan segera berakhir, itu adalah benar-benar akhir dari kesakitanku sebelumnya namun kesakitan lain akan segera menyambutku.

Paman yang saat itu pulang awal dari pekerjaannya memergoki Hyomin yang tengah berusaha membunuhku dengan menggantungku diatap kamar mandi. Saat itu aku menangis begitu melihat paman, entah sedih atau bahagia karena untuk kedua kalinya paman menyelamatkan hidupku dari kematian yang sebenarnya memang aku inginkan.

Paman melepaskan ikatan tali dileherku kemudian menurunkan tubuh rapuhku namun tiba-tiba Hyomin berteriak seperti orang gila. Paman didorong dengan sangat keras hingga kepalanya menghantam besi dipojok kamar mandi dan itu adalah saat-saat terakhir aku melihat paman.

"Kau yang membunuh paman. Benar kau yang telah melakukannya!" aku bergumam merendahkannya, "Sialan kau! Dasar tak tau diri!"

Ia menyeretku dengan paksa, "Hyung! Umma lepaskan Taemin hyung, UMMA!" aku bisa mendengar jeritannya, Kai menggedor-gedor pintu kamarku. Ruangan dimana Hyomin akan melakukan hobby-nya seperti biasa.

"Bibi kau yang telah membunuh paman. Hahaa" kini akulah yang tertular kegilaannya, aku tertawa seperti orang gila dihadapannya. Tawaku seolah berhasil membangunkan kemarahan iblis jahat, ia mengeram melototiku. Ia pikir aku akan mati hanya karena dipelototi, ck.

Hyomin menjambak rambutku dengan keras kemudian menamparku berkali-kali. Ia menyeretku mendekati dinding kemudian menghantamkan kepalaku disana, ia kembali tertawa melihatku meringis kesakitan.

"HENTIKAN UMMA! Jebal!" aku bisa mendengarnya, Kai mulai terisak diluar sana.

"DIAM BODOH!" Hyomin melempar kursi ke arah pintu dengan keras. Ia berjalan mendekati pintu, meraih kursi yang ia lempar kemudian beralih melempar ke arahku.

"Kau gila haha" tawaku semakin keras. Aku terus tertawa merendahkannya hingga membuat ia kembali mengeram. Ia menendang perutku berkali-kali, memukuli wajahku hingga cairan amis mulai menguar dari beberapa luka diwajahku.

"Dasar tak berguna!" ia menendang wajahku. Aku memuncratkan darah segar dari mulutku, ini sedikit menjijikan.

Aku tertawa melihatnya keluar dari ruanganku, samar-samar aku melihat Kai menangis—menangisi kerapuhanku yang tak berguna.

.

.

"Taemin, namanya Lee Taemin. Gadis kurus dan wajahnya sangat sempurna, ia benar-benar cantik. Sepertinya ia masih sangat muda, belasan tahun...18 atau 19 tahun mungkin. Jonghyun-ah cepat cari info tentang Lee Taemin!" Minho menyuruh tangan kanannya, Kim Jonghyun untuk mencari tau tentang anak yang ia temui di sungai Han. Lee Taemin.

"Ya! Setidaknya kau memberiku alamat gadis itu atau paling tidak fotonya. Dasar bodoh!"

"YA! Kau mengataiku bodoh hah! yang bodoh itu kau! Gunakan otakmu itu bodoh! Kalau aku tau alamatnya, untuk apa aku menyuruhmu bodoh" Minho melempar tumpukan map ke arah Manager sekaligus sahabatnya sejak tingkat junior, Kim Jonghyun.

"Kau bahkan selalu menangis jika memikirkan Seohyun, tapi lihatlah ulahmu. Kau menyuruhku mencari gadis yang baru dua kali kau temui, menyedihkan. Secepat itu kau jatuh cinta? Kau bahkan belum resmi bercerai Minho?!" Jonghyun memunguti map yang berserakan karena ulah Minho kemudian menata kembali dimeja kerja Minho, "Gadis itu masih terlalu muda, ia tak akan sudi menikah dengan paman mesum sepertimu!"

"Siapa bilang aku akan menikahinya bodoh. Istriku hanya Seohyun seorang!" ia kembali melempar tumpukan map yang bahkan belum ada yang ia tanda tangani untuk proyek penting perusahaan kakeknya itu, "Seohyun meninggalkan rumah dan kau tau kapan terakhir aku melakukan seks? Itu lebih dari dua bulan yang lalu, aku bisa mati perlahan jika tidak melakukannya. Lee Taemin sangat cocok dengan tipeku, setidaknya aku bisa bermain dengannya hahaa" ia tertawa keras sambil terus menghujani Jonghyun dengan tumpukan map dimejanya.

"Dasar gila! Kau berniat memperkosa gadis pelajar dan kau menyuruhku untuk membantumu, begitu? Kau memang gila Minho!"

"Aku tak menyuruhmu untuk berkomentar brengsek!"

...

"Hyung..."

"Eumm" Taemin hanya mendengung merespon Kai yang tengah membersihkan luka dibibirnya, "Aku menyayangimu!" tiba-tiba ia meraih tubuh Taemin kedalam pelukannya, merengkuhnya dengan erat mencoba menyalurkan perasaan yang ia rasakan pada hyung satu-satunya itu.

"Aku juga menyayangimu, Kai"

"Bu-bukan itu maksudku hyung—"

"Ya! Kesini bodoh!" Hyomin menyeret Taemin dengan tiba-tiba, "YA! Umma!" Kai mengikuti ibunya yang menyeret Taemin keluar dari kamar, "Ingat, kali ini kau harus bersikap baik. Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau membantah!" ia mencubit pinggang Taemin dari arah samping tempat Taemin berdiri.

Terlihat seorang laki-laki dewasa menunggunya diruang tamu, "An-anyeonghaseyo Lee Taemin-ssi"

"Annyeong..." ia membalas senyuman pria dihadapannya, jelas terlihat pipi pria dihadapannya memerah ketika Taemin tersenyum ke arahnya.

"Kau mau kemana Jongin-ah!" Hyomin menyeret Kai yang berusaha mengikuti Taemin, "Umma sampai kapan kau akan melakukannya pada Taemin hyung!"

"Tentu saja sampai mati!" ia menyeret Kai memasuki kamar kemudian menguncinya dari luar.

Hyomin melangkah mendekati Taemin kemudian duduk disampinya, "Ah mianhamnida tuan. Taemin mengalami kecelakaan jadi wajahnya terluka" ia menyentuh pipi Taemin dengan lembut kemudian mengusap luka-luka diwajahnya.

"Sepertinya itu kecelakaan yang sangat parah. Saya bisa kembali beberapa hari lagi, apa anda keberatan Taemin-ssi?"

"Aaa tunggu sebentar tuan!" Hyomin menggandeng lengan pria yang tiba-tiba berdiri berniat meninggalkan rumahnya, yang ada dimatanya hanyalah tumpukan uang yang tak boleh ia lewatkan sepeserpun.

"Sejak kapan Lee Taemin menjadi seorang pria penghibur?"

"Ha?" ia terkejut, itu adalah pertama kalinya seorang pelanggan bertanya hal seperti itu, "Aaa itu sej—"

"Saya ingin mendengar jawaban dari Taemin-ssi!"

"Itu bukan urusan anda, jika anda ingin menyewaku malam ini aku bisa melakukannya!" Taemin membungkukan badan pada pria dihadapannya kemudian berjalan menuju kamar Kai.

"Saya mencari Lee Taemin, gadis cantik yang tinggal disekitar sungai Han. Tapi Lee Taemin yang saya maksud bukan seorang pria, terlebih ia seorang pria penghibur!"

...

"Ya! Minho bodoh lupakan Lee Taemin. Kau bisa mencari gadis lain untuk kau tiduri dan gadis itu bukan Lee Taemin!"

"YA! Aku hanya menginginkan Taemin. Kau menemukannya hah? Bawa ia kemari!"

"Dia laki-laki bodoh! Dan ia adalah pria penghibur!"

"Aku tak menyuruhmu beromong kosong brengsek!"

...

Minho terus melirik arlojinya, ia telah berdiam dimobilnya sejak pagi. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu ketidakpastian yang entah mengapa membuat ia tak jengah untuk menunggu di sana. Waktu telah menunjuk pukul 11 pm dan ia benar-benar telah menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu seseorang yang membuatnya begitu penasaran. Lee Taemin.

Tiba-tiba ia keluar dari mobilnya dan berlari dengan cepat menuju anak lelaki bersyal merah yang mulai melangkah mendekati pinggiran sungai Han.

"Lee Taemin!" ia memeluk Taemin dengan paksa, memastikan omong kosong yang diciptakan Jonghyun adalah tidak benar.

"Minho-ssi..."

.

Tbc

.

.


Gamsahamnida yang sudah bersedia mampir, monggo di review :D