YUME

.

.

.

Disclaimer

Riichiro Inagaki

Yusuke Murata

.

.

.

Warning

Abal,jelek,typo,OOC,gaje

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Mamori melangkahkan kakinya dengan riang menuju sekolahnya padahal hari ini para siswa dan siswi Deimon diliburkan karena hari ini adalah hari penerimaan siswa baru, dimana pada saat ini sekolahannya itu akan dipenuhi oleh para calon siswa Deimon. Mungkin mereka ingin melihat apakah mereka berhasil diterima di Deimon atau tidak. Dan oleh karna itulah, saat ini ditempat ini Mamori berdiri bukan untuk melihat apakah dia diterima diDeimon atau tidak pasalnya Mamori sendiri adalah Siswa Demon, tapi untuk mengetahui apakah 'Adiknya' diterima atau tidak dan 'Adik' yang dimaksudkan disini adalah adik angkatnya yang merupakan tetangga serta teman sepermainannya sejak kecil. karena memang Mamori itu adalah anak tunggal dari pasangan Anezaki.

Saat Mamori tiba di halaman sekolah, ia dikejutkan dengan banyak orang yang berkumpul di depan sebuah papan pengumuman. Ia pun mulai bergegas menuju kerumunan orang-orang tersebut dan bermaksud untuk mencari Adik angkatnya itu, akan tetapi orang yang dicarinya tidak dapat ia jumpai dalam kerumunan manusia itu. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kerumunan tersebut dan bermaksud menunggu adik angkatnya didepan gerbang sekolah. 'Mungkin dia belum datang' pikirnya.

Saat Mamori akan menuju gerbang sekolah, tiba-tiba saja sesosok Anak laki-laki yang masih mengenakan seragam SMP nya muncul didepan matanya.

"Sena-kun sebelah sini!" teriaknya senang dengan sambil melambaikan tangannya pada pemuda berambut coklat tersebut.

"Mamori-neechan" ucapnya gugup dengan sambil memberikan senyuman lemah kearah gadis yang tadi memanggilnya.

Entah kenapa ia merasa gugup dan kurang percaya diri, ya... dia yakin bahwa ia tidak akan diterima disekolah ini, Sekolahan yang menurut orang-orang cukup favorit. Dan saat ia akan beranjak pergi, tiba-tiba saja sebuah tangan lembut sudah berhasil menepuk pelan bahunya. tanpa menolehpun dia sudah tahu siapa gerangan dari pemilik tangan tersebut.

"Aku baru mau pulang, aku tau aku gagal" katanya kemudian dengan sambil menunduk, agaknya pemuda tersebut kurang percaya diri akan kemampuannya.

"Jangan!" jawab sang gadis tegas dan langsung menyeret pemuda berambut coklat itu menuju papan pengumumman.

"021,021,021.." ucap Mamori pelan dengan sambil mencermati angka-angka yang terpampang pada papan didepannya. Sementara pemuda yang diseretnya tadi tengah berpusing-pusing ria karena mellihat banyaknya angka yang ada dihadapannya, atau mungkin karena dia juga merasa bahwa dia akan gagal.

"Ah..! ini dia!" ucapan dari gadis yang ada dihadapannya itu, langsung saja membuatnya terkejut serta mulai mengallihkan itensitasnya pada angka yang ditunjuk oleh gadis itu. Dan alangkah bahagianya ia saat mengetahui bahwa angka yang ditunjuk oleh gadis berambut auburn sebahu itu adalah nomor pesertanya.

"Aku tak pernah sesenang ini, selama ini setelah 10 tahun!" ucapnya senang dan tentu saja dengan sambil menangis terharu.

"Aku sudah bilang jangan terlalu khawatir dengan kemampuanmu, ah... ini semua berkat aku yang mengajarimu, ya kan Sena-kun?!" kata gadis itu dengan sambil menyikut pelan lengan pemuda berambut coklat jabrik itu.

Dan tindakan dari gadis tersebut hanya dibalas dengan senyuman pasrah serta senang dari pemuda dengan nama Sena itu.

"Wow... kau disekolah yang sama denganku" Ucap Mamori dengan sambil tersenyum senang.

"Aku ingat saat SD dulu" gumam Sena lemah.

.

.

FLASHBACK

.

.

Nampak seorang bocah berambut coklat yang tengah meringkuk menahan tangis dan bocah itu sedang dikelilingi beberapa bocah lainnya yang memiliki badan yang lebih besar dari bocah berambut coklat tersebut.

"Hahaha.. dasar cengeng!" ucap seorang bocah bertubuh tambun, dan ia bersiap akan menendang bocah yang tengah meringkuk ketakutan didepannya.

"Heeiii! Jangan ganggu Sena-kun!" teriakan dari seorang gadis berambut auburn sebahu yang tengah berlari menujunya itu, berhasil membuatnya menghentikan kegiatan membully bocah tak berdaya didepannya.

"Cih, ada Anezaki sebaiknya kita pergi, dia tukang ngadu" ucap bocah bertubuh tambun itu kepada temannya dan setelah itu mereka memutuskan untuk meninggalka bocah berambut coklat tersebut.

"Kau tidak apa-apa kan Sena-kun?" tanya gadis itu begitu berada dihadapan sang bocah berambut coklat tersebut.

Dan setelah itu, kedua bocah berbeda gender itu pun pulang bersama-sama dimana sang bocah berambut coklat tersebut berada digendongan punggung sang gadis kecil yang tadi menolongnya, gadis yang selalu ia anggap sebagai kakaknya itu.

.

.

END FLASHBACK

.

.

"Apa kau tidak senang bisa jalan bersama dengan temanmu yang cantik dari kecil ini?" ucap Mamori yang berhasil menyadarkan lamunan pemuda kecil yang ada disampingnya itu.

"hehe..iya" ucap pemuda itu dengan sambil tersenyum lemah.

"Aku benar-benar lega sekarang" ucap Mamori yang entah kenapa air matanya jatuh tanpa bisa ditahannya, dan begitu ia menyadarinya ia buru-buru menghapus air mata tanda haru tersebut.

"Selamat ya Sena-kun" ucapnya lagi dengan sambil tersenyum hangat.

"Oh iya aku akan mengambil buku pegangan siswa baru! Daaahh.." tambahnya lagi seraya meninggalkan pemuda bernama Sena tersebut.

Sementara sang pemuda masih setia menatap punggung gadis tersebut yang mulai menghilang dari pandangannya. 'Mamori-neechan menangis?' tannyanya dalam hati, karena walupun hanya sesaat tadi ia sempat melihat Mamori-neechannya menangis.

.

.

.

Setelah ia mengmabil buku pegangan siswa yang baru, ia pun langsung bergegas menuju tempat dimana ia meninggalkan 'adiknya' tadi.

Betapa terkejutnya ia, saat melihat seseorang yang tengah bersama 'Adiknya' tersebut. Orang itu adalah orang yang selalu memenuhi buku detensinya, orang yang selalu melanggar peraturan serta berbuat sesukanya dan orang itu adalah Hiruma Youichi. Dengan langkah yang terburu ia segera menuju sang 'Adik'.

"HIRUMA!" teriaknya lantang, dan kini telah berada didepan 'Adiknya' guna melindunginya dari pemuda yang mendapatkan julukan iblis dari orang-orang itu.

"Dia adalah siswa yang tidak boleh kau sentuh!" tambahnya lagi dengan sambil mentap tajam kearah pemuda berambut pirang tersebut.

"Huh!" ucap pemuda tersebut, dengan sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah gadis berambut auburn itu bermaksud untuk mengintimidasi gadis tersebut. Dan nampaknya gadis dihadapannya itu memang tidak pernah takut dengan semua intimidasi yang ia berikan, terbukti dari ekspresi menantang yang muncul diwajah gadis tersebut.

.

.

'Sebenarnya Anezaki-san sudah menjaminnya'

.

.

Tiba-tiba saja sebuah pernyataan yang dikatakan oleh Kepala Sekolah setahun yang lalu terngiang-ngiang diotaknya, dan hal itu sukses membuat ia menghentikan kegiatan mengintimidasinya kepada gadis didepannya itu.

"Horeee..aku diterima" suara kegembiraan dari seseorang itu berhasil mengalihkan perhatian sang pemuda iblis tersebut, dan langsung saja pemuda itu berserta temannya yang gemuk itu meninggalkan tempat itu, bermaksud untuk mencari 'mangsa' baru atau mungkin mereka sudah menemukan 'mangsa' baru mereka.

.

"Mamori-neechan, siapa dia?" tanya sena setelah pemuda yang menurutnya menyeramkan itu pergi.

"Dengar Sena-kun! Aku tidak mau lihat kau dekat dengannya! Apapun itu. Namanya Hiruma dan dia itu jahat, lihat saja matanya kau akan mengerti dan dia juga akan memakanmu bahkan sampai tulangmu!" ucap Mamori tegas dengan eksprei mengerikan diwajahnya.

"Hi..hiruma.." cicit Sena takut, kemudian ia membayangkan Hiruma yang berubah menjadi iblis dan memakannya.

"Hmmm" gumam Mamori dengan anggukan meyakinkannya.

.

.

.

Pagi yang cerah untuk kehidupan yang baru, Itulah yang saat ini tengah dirasakan oleh pemuda berambut coklat jabrik tersebut. Dalam benaknya saat ini, ia ingin agar dikehidupan SMA nya ia tidak menjadi budak orang lain, karena itulah ia harus memberikan kesan pertama yang berani dan tidak terlihat lemah. Walaupun terdengar mustahil karena sejak TK sampai SMP ia memang anak yang lemah dan selalu menjadi budak siswa-siswa yang lain.

"Ohayo... Sena-kun!" sapa seorang gadis berambut auburn.

"Are...dasimu longgar" tambahnya dengan sambil membetulkan dasi sang pemuda tersebut.

Dan nampaknya sang pemuda tersebut sudah terbiasa dengan perhatian yang ditunjukan oleh gadis yang sudah dianggapnya sebagai Kakak itu.

"Dengar Sena-kun, sekarang waktunya kau dapat teman baru!" ucap sang gadis memecahkan keheningan yang terjadi.

"Aku benci teman Mamori-neechan" jawab Sena pasrah.

"Seperti waktu aku SD dan SMP" lanjutnya lagi dengan sambil membayangkan masa-masa yang dilaluinya saat dia SD sampai SMP itu. Dimana pada masa itu dia hannya akan dijadikan budak oleh anak-anak lain saja.

"Mouu... bukan teman yang seperti itu! Kau hanya jadi pembantu, mereka itu tukang suruh" Kata Mamori yang berhasil menyadarkan lamunan Sena.

"Sekarang kau sudah SMA, kau harus menemukan teman yang sebenarnya dan kau harus cari kegiatan yang menarik untukmu!" lanjutnya lagi.

"Hmmm" gumam Sena kurang yakin.

"Aku tau bagaimana kalau bergabung dengan club" seru Mamori memberi ide.

"Club" jawab Sena yang lagi-lagi terdengar kurang yakin.

"Nah berjuang lah Sena-kun!" kata Mamori memberi semangat dengan sambil mendorong pelan Sena masuk kedalam halaman sekolah yang sudah dipenuhi oleh banyak siswa yang sedang mempromosikan club mereka.

.

.

.

Mamori berjalan dengan kesal menyusuri jalanan kota yang saat itu dipadati oleh orang-orang, dia sangat kesal karena lagi-lagi para Komite mengadakan rapat dadakan sehingga membuatnya pulang terlambat untuk kesekian kalinya.

'Drrrt..Drrrt' getaran dari handphonenya menyadarkannya, dan buru-buru ia mengambil handphone yang berada ditas nya guna melihat siapakah gerangan yang mengirimnya sebuah pesan. Dan ternyata pesan itu dari sang ibunda tercinta yang bermaksud menyuruh Mamori untuk mampir sebentar ke mini market guna membeli sebuah minyak goreng.

Tentu saja Mamori akan melaksanakn perintahnya karena ia adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya dan julukannya sebagai Angel Deimon bukan tanpa sebab.

Dari sekian banyaknya mini market dikota ini, kenapa pula ia harus bertemu dengan pemuda berambut pirang yang sudah menjadi musuh bebuyutannya sejak dulu di tempat ini.

"Apa yang kau lihat Cewek sialan!" seru sang pemuda kasar, saat menyadari tatapan galak dari gadis dihadapannya itu.

"Kenapa kau ada disini?!" ketus Mamori.

"Heh! Lucu sekali, memangnya hanya kau saja yang boleh berbelanja disini!?" jawab sang pemuda tak kalah ketus.

Dan pernyataan dari pemuda dihadapannya itu sukses membuatnya malu. Karena pernyataan yang diucapkan sang pemuda tersebut ada benarnya juga.

"Belanja? Seperti kau akan membayarnya saja!" seru Mamori meremehkan

"Keh! Bukan urusanmu cewek sialan" jawab pemuda tersebut dengan kasar.

Setelah perdebatannya yang cukup panjang dengan pemuda bernama Hiruma tersebut, akhirnya Mamori memutuskan untuk berlalu meninggalkan pemuda tersebut guna membayar barang belanjaan tersebut.

Saat dia membuka dompetnnya, ia baru sadar bahwa uang yang ia bawa hanya cukup untuk membeli tiket keretanya dan bila ia gunakan untuk membayar belanjaannya maka ia tidak dapat membeli tiket kereta dan tentu saja ia akan pulang dengan jalan kaki padahal rumahnya cukup jauh dari sini. Tapi kalau ia membatalkan belanjaannya, ia akan malu terlebih lagi pada pemuda yang ada dibelakangnya yang pastinya nanti akan mengolok-ngoloknya atau mungkn yang lebih parahnya lagi kejadian ini akan ia masukan dalam buku ancamannya.

'Sial' ucapnya dalam hati.

"Oii...cewek sial, cepatlah! Kau membuat antrian panjang" ucap pemuda itu dengan melebih-lebihkan. Karena mini market itu sedang sepi dan hanya ada mereka berdua saja dimini market tersebut.

Tak menghiraukan ucapan kasar dari pemuda dibelakangnya itu, Mamori masih sibuk berfikir apa yang seharusnya ia lakukan saat ini.

"Cih! Heii kasir sialan, lebih baik kau layani aku dulu!" Seru Hiruma dengan sambil menyodorkan belanjaannya ke meja kasir dan tentu saja sang kasir menurut, siapa sih dikota ini yang tidak mengenal dirinya.

"Heii!" kata Mamori tidak suka. Gadis itu sangat tidak suka dengan sikap Hiruma yang main menerobos saja.

"Kau seharusnya mengantri terlebih dahulu!" Tegur Mamori.

"Suruh siapa kau lamban sekali!" jawab Hiruma ketus. Dan setelah itu ia langsung beranjak pergi.

"eehh... Tuan, kembaliannya" seru sang kasir takut-takut.

"Sisanya, buat membayar belanjaan cewek sialan itu!" jawab Hiruma cuek, dan mulai keluar dari mini market tersebut.

"Eh?" ucap Mamori terkejut karena pemuda yang merupakan musuh bebuyutannya itu mau memberikan bantuan kepada dirinya. Dan setelah semua belanjaannya dimasukkan kedalam kantong plastik, ia pun bergegas menyusul Hiruma bermaksud untuk mengucapkan terimakasih. Akan tetapi sang pemuda yang dicarinya sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. 'Terimakasih' batin Mamori dengan sambil tersenyum. Ternyata orang seperti Hiruma pun juga memiliki sisi baiknya sendiri, walaupun dia menunjukkannya dengan cara yang seperti itu.

.

.

.

"APA?! Team football? Itukan clubnya Hiruma-kun!" pekikkan terkejut dari seorang gadis berambut auburn kepada seorang pemuda berambut coklat itu, berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang untuk sesaat.

"Yah... disana ada kurita yang baik!" jawab sang pemuda dengan wajah berbinar.

"Tapi disana ada Hiruma yang menyeramkan" lanjutnya lagi kali ini dengan wajah yang suram.

"Huuff...aku kan sudah bilang jangan dekat dekat dengannya" Kata Mamori sambil menghela nafas pasrah. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa adik angkatnya ini selalu saja terlibat dalam masalah.

"Dan lagi American Football itu kan sangat berbahaya Sena-kun!" lanjutnya.

"Kau kan sangat lemah, tidak semangat, tidak bisa melakukan apapun!" tambahnya lagi dengan semangat yang menggebu-gebu.

"Kau kan tidak perlu mengatakan itu semua kan" bisik Sena malu.

"Aku bagian dari Komite Kedisiplinan, jika Hiruma-kun mengganggu atau mengancammu. Kau harus segera melapor padaku" ucap Mamori khawatir.

"Hmm... lagi pula Mamori-neechan tidak perlu khawatir, aku kan cuma menjadi Manager team saja" jawab Sena dengan tersenyum riang.

"Manager?" ucap Mamori yang agaknya kurang yakin akan kemampuan adik angkatnya tersebut.

"Hmmm" balasnya dengan sambil menganggukan kepalanya penuh semangat.

.

.

.

"ini" ucap Mamori dengan sambil memberikan beberapa lembar uang dimeja milik Hiruma. Pada saat itu kelas sedang sepi, karena murid-murid yang lain sedang beristirahat.

"Hmm!" sahut Hiruma dengan sambil menaikan alisnya tanda heran.

"Aku kembalikan uang yang kau berikan padaku kemarin sore" jawab gadis tersebut.

"Tidak perlu" ucap Hiruma setelah ia mengetahui apa yang dimaksudkan oleh gadis dihadapannya itu.

"Tapi-" dan belum sempat Mamori membalas perkataan dari Hiruma, ucapanya sudah terlebih dahulu dipotong oleh tindakkan dari pemuda tersebut. Dimana sang pemuda tiba-tiba saja beranjak pergi meninggalkan sang gadis yang tengah berbicara padanya itu, dan tak lupa pula ia membawa serta laptop kesayangannya tersebut.

"Heyy.. HIRUMA! Aku belum selesai berbicara!" seru sang gadis kesal dan lagi-lagi semua perkataan serta ucapannya itu tidak akan pernah digubris oleh pemuda tersebut.

.

.

.

TOBECONTINUE

.

.

.

yaa~ chap 2 sudah update. Maafkan saya apabila dichap ini ceritanya jelek

dan lagi kurang sekali adegan HiruMamonya.

Sangat sulit untuk membuat moment-momen romantis HiruMamo, pasalnya saya ingin membuatnya tanpa harus membuat Hiruma OOC.

Dan ternyata itu sulit sekali... T_T

Tapi dichap berikutnya saya akan lebih berusaha lagi.

Ohhhyaa.. dichap ini pun saya adaptasi langsung dari filmnya hloo... saya aja sampai liat Eyeshield 21 yang episode 1 berulang-ulang kali,

Dan akhirnya saya masukan deh episode 1 eyeshield nya ke dalam cerita saya, dan tentu saja dengan saya tambahin beberapa cerita serta saya kurangkan hehe

.

.

.

Untuk Silentruder dan juga Yura : terimakasih sudah merevie cerita saya, semoga dichap ini kalian suka.

.

.

Untuk Sreaderr-san : terimakasih sudah Mau membaca fic saya yang abal ini T_T, dan terimakasih sudah mau mereview fic saya. Dan benar sekali saya ingin membuat cerita Eyeshield dengan versi HiruMamo, kan kalu di Eyeshield 21 ceritannya terfokus di Sena kan? Nah kalu disini mau saya fokuskan pada Mamori dan juga Hiruma. Semoga kamu suka dengan chap ini.

.

Dan terakhir untuk senpai saya BlondieFrankenstein : terimakasih atas saran serta masukan senpai di fic saya yang sebelumnya, dan oleh itu saya sudah memperbaikinya tapi sepertinya saya memang sedikit kesusahan dalam penempatan tanda baca. Heheheh terutama tanda koma T_T tapi saya akan berusaha lagi.

Semoga anda suka dengan Chap ini .

Ohhh yaa... kapan senpai juga buat cerita HiruMamo lagi , sebenarnya saya mau baca fic senpai yang judulnya Mamori's Bad Habit itu, tapi saya takut tidak dapat menahannyaa... xixixixixixi :,) jadi saya tidak berani baca mungkn akan saya coba baca pnasaran tingkat dewa Max...

.

.

.

Yaa~ akhir kata

Terima kasih sudah membaca

Dan

Mohon REVIEW nya yaa ;)