Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.


PERMULAAN



"Hei, Yuge!!" Sebuah suara memanggil dengan sangat keras. Seorang remaja lelaki berbalik dan mendapati lelaki berambut jingga berlari ke arahnya.

"Ada apa, Jou?" tanyanya bingung, menaikkan sebelah alisnya.

Jounochi berhenti dan membungkuk, menarik nafas. Keringat membanjiri tubuhnya. Dia lalu menegakkan tubuhnya kembali, punggung tangannya mengelap keringat di dahinya.

"A-aku..." mulainya, masih berusaha mengambil nafas. Yugi memberikan botol air padanya – yang kemudian langsung diembat tanpa basa-basi.

"Apa, Jou?"

Jounochi mengalihkan perhatiannya dari botol minum yang dia pegang. Dia menaikkan sebelah alis, pertanda bahwa dia bingung apa yang Yugi maksud, sebelum dia teringat tujuannya mendatangi Yugi.

"Oh! Yugi! Kaiba menantangmu duel!"

Mendengar ucapan Jounochi, Yugi menautkan alisnya. "Lagi?"

Jounochi mengangguk.

"Kutolak."

"Kenapaaaaaaa??!!"

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak menerima duel apapun lagi!"

"Yugi! Toleransi dikit, dong!! Kalo aku pulang tanpa hasil, dia bakal ngamuk!"

"Itu, sih, DL!"

Jounochi terdiam, sebelah alisnya terangkat. "DL? Apaan, tuh?"

"Derita Lu!"

"Tega!!!!" Jounochi merengek, air mata mengalir deras (anime-style). "Yugi!!! Kita, 'kan, temen! Yang namanya temen mestinya saling bantu!"

"Itu urusanmu! Dia pacarmu, kan?!"

"Jahaaaaaaat!!!!!" rengek Jounochi. Hal ini berlangsung selama tiga jam.

Berhubung kepala pusing, ditambah mendengar rengekan, teriakan, jeritan dari Jounochi yang membuatnya semakin pusing, akhirnya Yugi menghela nafas atas kekanak-kanakan temannya itu dan memutuskan menerima tantangan Kaiba.

"Ya, ya... kuterima."

Wajah Jounochi langsung berseri-seri. "Beneran?!"

"Ya..."

"YES!!!" teriak Jounochi senang sambil berhigh-five, lalu dia berlari memeluk lelaki yang lebih tinggi tiga senti darinya itu. "Thanks, Yug!"

"Ya, ya... kapan duelnya?"

"Sekarang."

Mata Yugi membulat. "Sekarang?"

Jounochi mengangguk. "Yep! Sekarang!"

Yugi menghela nafas lagi. Kenapa mendadak begitu, sih? Sementara dia berpikir begitu, dia merasakan tubuhnya ditarik Jounochi yang berlari.

Mereka sampai di sebuah gedung yang merupakan perusahaan Kaiba. Jounochi tidak menurunkan kecepatan sampai mereka masuk ke dalam lift.

"Pantes kamu selalu capek, lari tanpa ada berhenti-berhentinya." engah Yugi sambil melirik Jounochi yang duduk KO.

Tak berapa lama, pintu lift terbuka. Mereka berdua berjalan keluar saling bersisian. Para pegawai wanita melirik mereka dengan penuh cinta... tepatnya menatap Yugi. Dalam hati Jounochi merasa imejnya berkurang saat melirik Yugi yang berjalan di sampingnya.

Selama dua tahun ini, Yugi berubah drastis. Wajahnya yang chubby berubah menjadi wajah dewasa, mata ungunya yang lebar menyipit, walau rambutnya masih sama. Dia menjadi mirip dengan Ya- maksudnya Atem.

Dan yang paling membuat harga diri Jounochi hancur adalah... pertumbuhan Yugi. Sekarang Yugi setinggi Kaiba, tubuhnya proporsional dan berotot. Dia samasekali tak menyangka bahwa tinggi Yugi melampauinya. Sudah begitu, karena perubahannya itu, dia menjadi idola di kampus dan kemanapun dia berjalan pasti lirikan dan tembakan dari para gadis menyertainya.

"Akhirnya kalian datang." Sebuah suara menarik kembali Jounochi ke dunia nyata, dia menoleh dan melihat Kaiba berdiri dengan kedua lengan terlipat di depan dadanya. "Baguslah. Baru sekali ini si anjing berhasil melakukan sesuatu."

"HEY! SIAPA YANG LU SEBUT ANJING, MONEY BAG!!" bentak Jounochi murka. Kaiba menatapnya tanpa ekspresi.

"Siapa lagi, mutt." Kaiba menghadap Yugi, menghiraukan teriakan dan bentakan dari kekasihnya yang 'manis'. "Kau bawa deckmu?"

Yugi mengangguk sambil menunjukkan decknya. Kaiba berbalik dan menggerakkan tangannya sebagai tanda agar Yugi mengikutinya.

Mereka berdiri di area masing-masing. Virtual aktif dan hologram duel monster terlihat.

"Duel dimulai!"

*************************

"Kukorbankan dua monster di arena," Kaiba mengambil sebuah kartu di tangannya. "Keluarlah Blue Eyes White Dragon!!"

Yugi melihat kartu tangannya, dia hanya memiliki life point 500 dan life point Kaiba 700 ditambah dia samasekali tidak memiliki monster di arena, ini sangat tidak menguntungkannya.

Selama dia berkonsentrasi berpikir, dia melihat satu kartu di tangannya. Kartu yang akan membawa kembali saingan monster andalan Kaiba.

"Kuaktifkan magic card!" Yugi menarik kartu truf yang kemungkinan akan menjadikannya pemenang. "Rebi-"

DEG!

Yugi tersentak berhenti. Tiba-tiba ingatan dua tahun lalu dimana duel ritual terjadi terlintas di kepalanya. Tubuhnya gemetar. Kenapa ingatan itu kembali? Dia yakin Isis dan Malik telah mengunci ingatan itu atas permintaannya.

Cahaya membutakan bersinar dari kartu yang akan dia gunakan tadi... kartu Rebirth. Cahaya juga muncul dari dalam decknya dan tiga kartu terlepas. Empat kartu itu bersinar dan melayang di hadapan Yugi yang terbelalak.

Kaiba dan Jounochi yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam takjub. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu berputar di kepala mereka.

Hal itu terjadi selama beberapa detik sebelum keempat kartu itu kehilangan cahayanya dan jatuh di kaki Yugi.

Yugi tersentak sadar dari lamunannya. Dia berlutut dan mengambil kartu-kartu yang tergeletak di kakinya. Kartu Rebirth dan tiga kartu dewa ; Osiris, Obelisk, dan RA.

"Apa yang barusan terjadi?" pertanyaan Jounochi memecah keheningan yang terjadi. Yugi dan Kaiba menggerakkan bahu.

Di saat kebingungan masih melanda mereka, lantai berguncang dengan keras, membuat mereka sulit untuk tetap berdiri. Tubuh Kaiba menghantam dinding kaca, dia memegang kepalanya yang sakit karena terantuk kaca.

Dia melihat ke luar kaca dan apa yang dia lihat membuatnya terkejut. Awan gelap yang tebal berkumpul melingkar seperti topan di langit. Petir berderu, menghiasi awan-awan itu. dan yang paling membuatnya kaget adalah sebuah garis cahaya dari pusat putaran awan-awan itu.

Apa sebenarnya itu?

Jounochi juga melihat apa yang disaksikan pacarnya. Dalam hatinya dia merasakan suatu harapan. Dia tidak tahu apa itu, tapi entah mengapa dia merasa bahwa cahaya itu akan menarik Yugi kembali dari kegelapan yang menyelimutinya.

Sementara itu tanpa sepengetahuan dua temannya, Yugi berlutut dengan kedua tangan memegang kepala. Tubuhnya gemetar, dia berusaha menghilangkan suara-suara yang ada di dalam kepalanya. Suara-suara dengan kata-kata yang aneh.

Gerbang terbuka.

Rantai terikat.

Darah dan daging bersatu dengan waktu.

Bangkitlah anak dewa.

Menuju dunia kegelapan.

TBC...

A/N : Jelek...

Aku tahu...

Ceritanya semakin tidak dimengerti... dan semakin aneh.

Bahasanya pun berantakan.

Maaf bila tidak memuaskan pembaca.

Sekali lagi, maaf...

Please review, if don't mind.

With crimson camelia,

-

Scarlet Natsume.