'Aku tak mau! Aku akan menyesal seumur hidup jika aku menikah dengannya!' batin Mamori sambil menangis dalam kamarnya sehari sebelum tanggal pernikahan.

'Tapi aku tak bisa apa-apa jika ayah sudah memutuskan.. maka, akupun harus menikah dengan orang itu..'



Eyeshield 21

Disclaimer Yusuke Murata and Riichiro Inagaki.



"Mamori, cepat! Sudah waktunya!" panggil ibu Mamori.

"Ya, bu." Jawab Mamori lesu.

Mamori menjalani prosesi pernikahannya dengan wajah yang tak bahagia seperti pengantin pada umumnya.

"Mamori Anezaki apa kau bersedia menyertai Hiruma Youichi dalam keadaan suka dan duka?"

Mamori segera tersadar dari lamunannya.

"Ya..aku..bersedia.." Mamori menutup matanya pelan setelah mengatakan itu.

"Dan aku resmikan, Hiruma Youichi dan Mamori Anezaki menjadi…"

'Aku tak mau dengar lagi!' Mamori berteriak dalam hatinya keras-keras.

-

-

-

"Hei, cewek sialan, ngapain kamu bengong di sana?! Cepat masuk!" panggil Hiruma kasar pada Mamori yang bengong di luar rumah baru mereka.

"Iya…" Mamori menjawab dengan lesu.

Tiba-tiba, Mamori menyadari sesuatu saat dia melihat pintu kamar.

"Kita pisah kamar! Aku tidak mau seranjang dengan orang yang tidak kukenal!!" Mamori mengatakannya dengan suara yang nyaris berteriak.

"Hoo..baiklah, kau cukup mengataknnya pelan-pelan, gadis sialan! Tak perlu sampai teriak begitu! Aku sudah tahu!" balas Hiruma.

Mereka tidur di kamar terpisah sejak itu.

Hari-hari mereka selalu dipenuhi pertengkaran.

"Kenapa kau taruh ini di tempat seperti ini, gadis sialan?!" bentak Hiruma.

"Jangan salahkan aku! Kau yang menaruhnya sembarangan!" Mamori membalas.

"Tapi kau bisa bertanya dulu sebelum menaruhnya!" balas Hiruma lagi.

"Kau bisa menaruhnya sendiri kan?! Makanya jangan salahkan aku!" Mamori mulai berkaca-kaca karena kesal dan marah.

"Aku capek bertengkar denganmu!" Hiruma membalikkan badan.

"Aku juga!" Mamori juga beranjak pergi dari sana.

'Bagaimana mungkin aku bisa menjalani kehidupan berkeluarga ku seperti ini terus? Mimpiku untuk memiliki keluarga yang bahagia hilang sudah karena orang ini!' batin Mamori sambil menangis.

Lama-lama, hubungan mereka makin buruk.

Tapi, suatu saat..

"Hiruma! Cepat bangun! Ini sudah siang!" panggil Mamori.

". . . . . . ." tak ada jawaban dari Hiruma.

Akhirnya Mamori naik ke atas dan menuju kamar Hiruma.

"Bangun, Hiru…" panggil Mamori lagi sambil membuka pintu kamar Hiruma.

Saat itu Hiruma terbaring lemah. Wajahnya merah dan terlihat pucat.

"Hi..Hiruma? kau sakit? Kau tak apa-apa?" Mamori langsung panik saat menyadari badan Hiruma sangat panas.

"Seperti yang kau lihat, istri sialan..tak mungkin aku baik-baik saja." Hiruma menjawab lemas.

"Baiklah, tunggu sebentar ya, akan kuambilkan air untukmu!" Mamori langsung berlari menuruni tangga dan menuju dapur.

"Huh, biasanya dia selalu marah-marah, kenapa sekarang malah perhatian?" gumam Hiruma.

Sebentar kemudian…

"Ini Hiruma, ini obat dan airnya. Diminum ya." Mamori langsung menyodorkan gelas berisi air dan obat demam.

"Aku ambil air dingin untuk kompres dulu ya." Mamori kembali berlari ke bawah dan menuju dapur.

'Sepertinya dia berbakat jadi istri ya..' batin Hiruma

Beberapa saat kemudian, Mamori datang dengan membawa bubur dan kompres.(entah bagaimana caranya dia membawa dengan dua tangan saja)

"Ini, makan buburnya dan istirahatlah!" Mamori menyuapi Hiruma sesendok bubur hangat.

Hiruma berpikir sebentar dan memakan suapan itu.

Wajah Mamori memerah sebentar karena malu.

"Wajahmu merah, apa kau sakit juga?" sindir Hiruma.

"Tidak..!" bantah Mamori sambil menyembunyikan wajahnya.

'Perasaan apa ini?! Aku kan membencinya.. ahh..lupakan saja!' batin Mamori sambil terus menyuapi Hiruma.

Akhirnya Hiruma tidur lagi. Mamori berjaga di sampingnya sampai ikut terlelap juga.

Mata Hiruma terbuka.

"Huh, cewek sialan ini, meski dia selalu marah-marah, ternyata perhatian juga. Ck." Gumam Hiruma pelan sambil membelai Mamori. Dan kembali tidur.

Esok paginya…

"Ung?" Mamori mulai membuka matanya.

Dan dia melihat wajah Hiruma yang sedang tidur tepat di depan wajahnya.

'Manis juga dia kalau sedang begini. Aku jadi lebih..menyukainya..' Pikir Mamori.

Akhirnya dia tersadar.

Dia dan Hiruma sedang tidur di kasur yang sama.

"Ahhh!" jerit Mamori pelan.

"Ada ribut-ribut apa, cewek sialan?!" Hiruma yang merasa tidurnya terganggu jadi ikut terbangun.

"Kau..apa yang kau lakukan padaku?!"

"Heh? Aku ini sedang sakit, mana bisa aku melakukan apa-apa?"

"Ah iya.. maaf aku lupa.." kata Mamori dengan wajah merah merona.

Hiruma mulai tersenyum.

"Tapi aku sudah sehat loh…" katanya sambil mengangkat wajah Mamori.


-THE END-

A/N: selesai! Ahh..maaf klo g jlas!