Sinar matahari berdengus kesal saat dirinya tak bisa menyelinap memasuki sebuah kamar bernuansa monoton hanya karena korden kelabu terutup rapat tak mengizikannya membangunkan dua sosok yang tengah tertidur pulas berbagi pelukan. Tapi, nampaknya bola gas itu harus berterimakasih kepada seseorang yang baru saja masuk dan tersenyum menatap dua sosok itu kemudian membukakan jalan masuk bagi sinarnya menghangatkan kamar sekaligus dua manusia itu.
"Namjoon, bangun," sosok yang baru masuk itu langsung membangunkan si surai platina kehijauan itu dengan niatan tetap membuat si surai pink, yang dipeluk, tetap tertidur nyaman.
"Hyung, sebentar lagi," ujarnya membuka sebelah matanya sebentar, tersenyum dan kembali memeluk sosok dalam pelukannya.
"Aissh, kau ini, saat Seokjin-hyung bangun kau juga harus bangun," omelnya pelan sambil berlalu keluar kamar, dan dengan sangat hati-hati menutup pintu. Namun, masih sempat ia mendengar erangan lembut khas seseorang yang baru bangun.
Dengan mengangkat ujung bibir kanannya ia melangkahkan kakinya santai menuju tangga, tapi belum juga ia menapakkan kakinya, sepasang lengan telah melingkar sempurna di lehernya dan suara nyaris melengking khas anak kecil merengek sok imut di dekat telinganya. "Hyung! Aku lapar!"
Hilang sudahlah lengkungan tampan di wajahnya, tergantikan oleh dengusan tertahan. Ia membalikkan badannya tanpa melepaskan kalungan lengan di lehernya. Menaikkan alisnya menatap seseorang yang lebih muda darinya serta bersurai hampir ungu pastel tersenyum lebar seperti anak kecil yang mendapatkan permen. Eh, dia, bukan, tapi mereka, memang mendapatkan permen, tepatnya mendapatkan 'permen' mereka kembali.
"Aku juga, Jim, dan tentu yang lainnya juga, jadi buatlah sesuatu untuk kita makan," jawabnya santai dan terkesan datar.
"Loh, memangnya Hyung belum membangunkan Jin-hyung?" Tanya lelaki dihadapannya dengan raut bingung.
"Namjoon tidak mengizikanku, Jimin, jadi ayo kita kedapur aku bantu kau membuat sarapan," lelaki bersuari hitam itu memang sangat tampan dan memesona kala mengangkat ujung bibirnya. Apalagi bagi pria yang tengah ditarik tangannya menuruni tangga, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menutupi betapa merah wajahnya.
Mereka berdua telah sampai di dapur, dan cukup terkejut saat melihat dua lelaki tengah berkecimpung di hadapan peralatan dan bahan masak tapi aroma ganjal mengoar mengelilingi atmosper di dapur. Dan si surai hitam pun melepaskan pegangan tangannya untuk menepuk bahu kedua lelaki dihadapannya.
Sontak saja mereka berdua kaget dan berbalik, cengiran bersalah dan sok polos dipasang dua lelaki bergigi kelinci dan bersenyum kotak itu. "Eh, Hyung, Jimin, kalian mau sarapan? Kami sedang membuatnya." Yang dipanggil Jimin hanya menyipitkan matanya dan memasang tatapan 'kalian ingin mati?' sementara yang paling tua diantara mereka berempat hanya menatap serius dua manusia di hadapannya sebelum mematikan kompor dengan panci berisi racun, terkaannya.
"Kalian ingin membunuh semua orang, eh?"
"Ti-tidak, hyung!"
"Kami ingin membuat kejutan untuk Jin-hyung, karna dulu Jin-hyung yang selalu memasak."
"Iya! Kami juga ingin membuat makanan untuk kita semua!"
"Dan mana mungkin makanan kami itu bisa membunuh semuanya, hyung."
Kedua lelaki itu sama-sama membela diri mereka, seolah tidak sadar bahwa masakan mereka dulu sama seperti C4 yang akan meledakkan seisi dapur kesayangan teman tertua mereka jika dulu mereka tidak dihentikan. Maka dengan sebuah jitakan manis nan sakit, Yoongi, si surai hitam, memberi peringatan, "Jika kulihat kalian membuat bencana di sini, akan kupastikan tak akan ada makanan untuk kalian!"
"Hah?!" pekik keduanya cukup keras untuk menggema keseluruh rumah.
"Hei, ada apa rebut-tibut pagi-pagi bergini?"seorang lainnya memasuki percakapan itu sambil meletakan plastic berisi di meja makan.
"Anu, Tae dan Kookie memasak dan dimarahi Yoongi-hyung," jelas Jimin agak takut-takut kepada pria berambut keorenan itu.
"Aish.. Taehyung, Jungkook, kalian tidak pernah belajar, ya?" ujar lelaki itu tersenyum riang sambil mengacak rambut kedua lelaki itu, kemudian balas menatap lelaki tertua di dapur. "Yoongi hyung, tidak usah marah lagi, aku sudah pesan Pizza," ujarnya santai seraya menggunakan dagunya untuk menunjuk plastik di meja makan.
Yoongi melepaskan tatapan menakutkannya dan memutuskan membuang nafas panjang, "baiklah, kalian berdua bereskan tempat ini, aku ingin nonton TV."
"Iya, hyung," Taehyung dan Jungkook hanya menunduk patuh saat Yoongi keluar dari dapur menyisakan mereka berempat.
Hoseok, si surai oren, tersenyum jahil sambil membuka kulkas, "apa sih mau kalian? Pagi-pagi sudah berusaha menghancurkan dapur."
Jimin terkekeh, "urusan memasak serahkan padaku dan Yoongi-hyung, kalian lakukan saja keahlian kalian," ia duduk di kursi yang dibelakangi kedua sejoli yang mulai membereskan ramuan beracun yang mereka sebut makanan yang tidak mungkin membunuh manusia.
"Keahlihan apa?" Tanya Taehyung melirik penasaran.
"Keahlihan tidak berbuat apa-apa!" ejek Jimin yang membuat Hoseok tertawa.
Jungkook dan Tehyung sudah siap mengomel jika saja tidak ada suara uapan panjang diikuti langkah kaki yang memasuki dapur bersama surai pink yang menyembul duduk di meja makan. "Pagi," sapa sosok itu polos tanpa menyadari tensi di atmosper dapur sesaat yang lalu.
"Hyung sudah bangun?"
"Bagaimana aku tidak bangun saat mendengar teriakan dari dapur," jawab sosok itu sambil menguap dan mengusap matanya.
Yoongi kembali dan ikutan duduk di sebelah Jin, "Hyung, tidak jadi nonton TV?" pertanyaan Jimin.
"Moodku hilang, dan saat melihat," Yoongi menunjuk Seokjin, "aku jadi lapar."
"Seokjin-hyung lapar, ya?" terka Hoseok yang mendapat anggukan setengah terpejam Seokjin.
"Ngomong-ngomong dimana Namjoon-hyung?" tutur Taehyung polos masih dalam posisi berdiri di depan kompor berantakan di sebelah Jungkook.
Jin menatap Taehyung dalam sama seperti lainnya yang diam-diam melirik dengan tatapan tajam, "ia mengira bantal adalah aku, jadi dia masih tidur."
"Wah, hyung, tega sekali kau pada Namjoon," Hoseok duduk dan membuka sebuah snack lalu mengunyahnya renyah.
Jin berdengus kesal lalu mengambil snack ditangan Hoseok, "habis semalaman ia memelukku! Panas!"
"Eh, hyung semalam kan hujan, aku sampe pake selimut double, mungkin Namjoon-hyung memeluk Seokjin-hyung agar hyung hangat," terka Jimin polos namun wajahnya langsung berubah dengan cengiran lebar, "auuwh, so sweet!"
Mau tidak mau Seokjin menguyah snack rasa jagung panggang itu cepat berusaha agar semburat pink yang baru saja tergambar di wajahnya untuk segera hilang. Dan mau tidak mau pula mereka, kecuali Seokjin dan Yoongi, bersorak ria antara mengejek atau kagum.
"Diamlah, itu tetap saja panas." Seokjin membantah sambil membuang pandang melihat tembok putih tulang polos dan menahan dagu dengan tangannya.
Hening sejenak, sebuah keheningan yang canggung. Taehyung dan Jungkook masih berdiri canggung, Hoseok ingin menguyah kerenyahan snacknya tapi tidak bisa karena Seokjin tetap memegangi erat bungkus beserta isinya, Yoongi menguap mengantuk hingga matanya menutup, lalu Jimin tersenyum canggung berdiri di belakang kursi Yoongi sambil mencoba mengirim telepati kepada dua orang yang berdiri lainnya.
Hingga.
"Seokjin-hyung!"
Dagu Seokjin jatuh dari telapak tangannya kerena teriakan suara baritton itu bahkan cengkramannya atas bungkus snack Hoseok terlepas hingga makanan cemilan wajib mereka itu tergeletak di atas meja dan langsung direbut Hoseok. Sementara sisanya, selain Yoongi, lagi ia memenjam matanya seperti tertidur dalam posisi duduk dan memangku dagu, berusaha menahan tawa saat melihat wajah membeku Seokjin. Terutama saat suara lari terdengar mendekat dengan kecepatan cepat hingga sosok laki-laki bersurai platina kehijauan itu beridiri di depan semuanya dengan sebulir pilu mengalir di pelipisnya.
"Hyung! Jangan tinggalkan aku sendirian seperti itu lagi!"
Sontak saja pria bernama Namjoon itu menompangan dagunya ke pucuk kepala Seokjin dan lengannya memeluk pria bersurai pink itu dari belakang kursi. "Aku sampai lupa caranya bernafas hanya karena tidak melihat hyung disebelahku, aku benar-benar takut." Ia menghirup dalam-dalam aroma manis dari Seokjin yang diam membeku dalam merah dan hangatnya pipinya.
Lainnya? Tentu saja terperangah, bahkan Yoongi juga- meski hanya bola matanya saja yang membesar serama 10 detik- dan Seokjin semakin memerah salah tingkah karena tidak bisa menolak perlakuan Namjoon.
"Nam-Namjoon! Lepaskan a-aku ingin memakan pizzanya!" Seokjin sedikit menggelengkan kepalanya dan berusaha-dengan tenaga yang sangat lemah- untuk melepaskan pelukan Namjoon. Namjoon tentu saja menurut dan mengambil tempat duduk di sebelah Seokjin tapi ia menautkan jemari mereka berdua dalam sebuah gemgaman hangat sebelum ia mengecup punggung tangan Seokjin yang lembut itu.
"Ehm!" Yoongi berdehem cukup keras untuk mendapatkan perhatian lainnya, "ayo kita sarapan sebelum pergi"
Setelahnya menjadi sedikit normal, normal jika mengartikan itu sebagai situasi yang tenang. Seokjin memutuskan setelah makan ia akan membantu Taehyung dan Jungkook sehingga kedua pelaku pengotor dapur dapat menikmati sarapan meski omelan Seokjin yang tidak rela terus mengalir dibarengi ejekan Jimin dan Hoseok serta kata-kata bijak Namjoon, Yoongi mengunyah dalam tenang acara dihadapannya. Dirinya tersenyum simpul yang samar-samar terlihat dari balik kunyahan bibir tipisnya.
"Ngomong-ngomong, Yoongi," Seokjin menyeletuk menggantikan topik setelah ia rasa sesi nasihat untuk TaeKook sudah cukup dan jika dilanjutkan maka dapur rangkap ruang makan ia akan hancur terkena letusan kepala mereka berdua. "Bisa kau ulangi rencana kita?"
"Hyung kemarin tidak memperhatikan saat rapat, ya? Makanya jangan nonton drama sama Jimin yang nangisnya sampe beranak laut begitu," ujar Taehyung di sela kunyahan pizzanya sambil berusaha membalas ceramah Seokjin sesaat yang lalu ditambah mengejek Jimin yang sejak awal memonjokkan Taehyung dan tidak membela teman seusianya.
"Rapat macam apa yang dilaksanakan di depan TV menyala dengan suara keras, dengan kalian berdua bersama Hoseok-hyung bermain game, Hyung yang ngemil sambil nonton drama dengan Jimin, dan pada akhirnya hanya aku dan Yoongi-hyung yang membahas jadwal perjalanan," Namjoon menjelaskan dengan jelas dan runtut serta sama sekali tidak ada penekanan pada semua kata, tapi eskpresi datar yang ia berikan pada potongan pizza yang tengah ia lumuri sauce.
Deg!
Semuanya, lagi kecuali Yoongi yang datar, diam dan memucat seketika, kunyahan pizza mereka juga sama, pandangan mereka kosong dan menatap takut-takut Namjoon yang masih datar beserta Yoongi yang sama datarnya.
"Intinya, pukul 8 nanti kita berangkat untuk sebuah trip 3 harian, jadi makan pizza kalian dan bersiaplah. Kita makan siang di jalan!" seru Yoongi dengan penekanan semangat, yang sangat tidak seperti Yoongi, seraya mengambil potongan pizza lagi sebelum berlalu keluar ruangan.
"Loh, Yoongi-hyung kemana?" Tanya Jimin agak berteriak.
"Aku belum selesai packing!" jawab Yoongi agak tersamar.
"Eh, aku juga belum!" pekik Taehyung histeris, "Jungkook kau sudah?!"
"Belum!" jawab si termuda cepat sambil mulai panilk menatap hasil mahakaryanya bersama Taehyung, "omo, masih berantakan!"
Seokjin dan Namjoon saling tatap dan menghela nafas panjang dua detik setelahnya, "Jimin bantu Yoongi-hyung, Taehyung dan Jungkook kalian packing saja ini biar kami bereskan," dua bua wajah panik menjadi cerah dengan senyuman lebar dan wajar menikmati makanan menjadi suram karena perkataan Seokjin barusan.
"Hyung! Kenapa aku juga harus beres-beres?!" pekik Hoseok tidak senang.
"Yey! Gumawo Seokjin-hyung, Namjoon-hyung, Hoseok-hyung!" setelah berterimakasih sambil mengirim kiss bye lewat udara mereka berdua berlalu keluar sambil membawa sepotong pizza untuk masing-masing.
"Sudahlah hyung, kalau tidak mau, hyung liat berita cuaca saja," perintah Namjoon sambil menunjuk ruang tengah dengan dagunya, "disini kami yang bereskan."
"Oke!" Hoseok semangat dan langsung bergegas mengambil sebungkus snack lainnya dan menuju ruang tengah dan menyalakan TV. "Kita semua tahu dia tidak akan benar-benar menonton berita cuaca," wajah Seokjin membentuk tatapn senyum pasrah.
Namjoon tersenyum tampan, entah kemana perginya sikap seperti anak kecil yang kebingungan karena permen yang disembunyikannya hilang, Seokjin membalas tersenyum tipis sambil merona. "Yosh! Kita mulai! Sebelum setengah 8 harus selesai! Aku mau mandi!" Seokjin menyemangati dirinya sendiri sambil mulai mengangkat alat masak ke bak cuci.
Seokjin menguap sebelum membuka matanya, alasan ia terbangun tidak lain karena sebuah tepukan pelan setengah tak tega yang ia rasakan di bahunya. "Mian, hyung, tapi kita akan makan siang, hyung ikut?" itu Namjoon dari kursi pengemudi telah melepaskan sabuk pengamannya dan mendekatkan badannya.
Plak
Seokjin memukul pelan dahi Namjoon , "kalau soal aku makan atau tidak, tidak usah ditanya pasti sudah tau jawabannya, kan?!" sambil menggembungkan pipinya Seokjin melepas seatbelt dan keluar dari mobil.
Mata Seokjin membuka lebar, selebar yang kelopak matanya bisa, ekspresinya terkejut dan tidak percaya. Saat ini ia melihat kolam renang tua yang ditinggalkan bersama sebuah bangunan di tengah hutan pinus yang hijau lebat. Angin awal musim gugur pun menyapa tubuhnya. Ke lima temannya sudah berpencar di sekitarnya, bermain dan tertawa, lalu memanggil mereka berdua untuk mendekat ke tengah kolam kering yang sudah siap dengan tumpukan lunch box berbagai warna.
"Tunggu, lunch box? Kukira kita beli akan beli makanan," Tanya Seokjin bingung.
"Haha, kita memang membeli makanan, tapi kita menyimpannya dengan lunch box di rumah," jawab Namjoon enteng sambil sedikit menyeret Seokjin untuk mendekat.
Seokjin ikut saja, tapi kemudian ia berhenti. "Wee hyung?" Tanya Namjoon mengangkat alisnya, "aku ingin mengambil beberapa foto dulu!" pekik Seokjin girang dan segera kembali ke mobil mengambil kameranya. Namjoon kaget, pertama kalinya Seokjin mengedepankan hal lain selain makanan.
"Hyung! Jangan jauh-jauh!" teriak Namjoon keras yang mendapat jawaban, "nde," yang tidak kalah kerasnya dari Seokjin yang mulai mengelilingi tempat di tengah hutan itu.
Awas Typo merajalela karena itulah kutukan ketidak sabaran dan kemalasanku...
.
.
.
.
updatenya lama?
sekalinya update gaje?
mian, tugas banyak dan ini memang baru permulaan...
betewe, ini latarnya dari semua MV bts, oke?
.
.
.
.
.
thanks buat reviewnya.,,, daku tak menyangka ada juga yang suka sama ff korban baper ini T_T
.
.
.
.
.
.
Konon, semua manusia lahir dengan sayap pemberian tuhan. sayap itu akan membesar dan semakin besar hingga mampu membawa manusia terbang kembali ke surga saat mereka mati. sayap itu akan tumbuh jika manusia berperilaku baik, tapi jika mereka membuat kejahatan maka bulu-bulu sayap mereka akan hancur. saat mereka mati dan sayap mereka tidak bisa membawa mereka terbang ke surga maka terpaksa mereka terlahir kembali membayar dosa. dan bagi mereka yang kehilangan sayap, mereka akan menjadi kawan iblis.
tunggu? bagaimana caranya mereka kehilangan sayap?
apakah iblis menghasut mereka?
uugh... halaman di buku ini sudah disobek!
siapa sih yang tega menyobek buku tua ini?!
