o~o~o~o
"Aku tidak mengerti dengan semua ini…
Aku tidak sanggup merasakan semua ini…
Tuhan telah mengambilnya, Tuhan mengambilnya…
Tapi… Aku akan berusaha untuk mengambilnya kembali…"
o~o~o~o
Naruto Masashi Kishimoto
My Beautiful Guardian's Sequel Ryuku S. A .J
Jilid Kedua…
"Ulala~"
Kabuto menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala. Terseringai puas dengan hasil yang ia dapatkan pada layar monitornya. Ia mendengus. Kemudian tertawa kecil. Ia berdiri kemudian duduk lagi. Seperti orang bodoh mungkin, tapi pria ini sedang bermain-main dengan suguhan nikmat di hadapannya.
"Pein Yahiko…apa yang kau inginkan dari databaseku huh?" Kabuto menyeringai bak serigala buas yang lapar. Tangannya tidak berhenti menari-nari di atas keyboard komputer raksasanya.
"Melacak Deidara rupanya. Apa yang kau inginkan dari Deidara?"
Disisi lain Kabuto tidak menyadari kehadiran Deidara yang riweh dengan kaleng-kaleng soda bawaannya. Dari jauh ia melihat foto Yahiko pada layar monitor Kabuto. Ia terdiam. Wajah yang tadi diisi sedikit kegembiraan sekarang diisi dengan wajah tak suka.
"Hei Dei… lihat apa yang ku dapatkan," ucap Kabuto ketika menyadari Deidara berada disampingnya, meletakkan beberapa kaleng soda di atas meja komputer tersebut.
"Ya, aku sudah lihat dari belakang sana. Memangnya ada apa hm?"
"Apakah kau sudah lupa padanya hah? Dia mencari datamu, melacakmu dan akhirnya dia membobol databaseku. Entah apa urusannya."
Deidara diam. Ia mengambil satu kaleng soda, membukanya dan menenggak habis isinya. Ia menatap lekat tampilan pada monitor tersebut. Emosi menyelimuti dirinya sampai-sampai kaleng soda yang ia pegang sudah tidak berbentuk lagi.
"Saat itu aku mengira mereka tidak akan mencariku, tapi tak kusangka sehebat itu dia hingga bisa menemukanku disini. Apakah dia bersama dengan yang lain?"
"Dari kabar yang ku terima, dia bersama dengan tentaranya. Apa kau ingin menemui mereka? Bernostalgia sedikit."
"Aku tidak tertarik. Keputusan yang aku ambil saat ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Dan harusnya, mereka tidak perlu repot-repot mencari keberadaanku. Ini akan mengganggu."
Kabuto menoleh kearah Deidara. Menatap Deidara dengan tajam. Kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Kalau Pein menemukanku bersama kalian, tentu saja ia akan berpikir kalau aku diperalat oleh kalian. Ini akan membuat seluruh dunia semakin salah paham tentang bebasnya Orochimaru dari sel penjara."
"Deidei, kau menjadi lebih sarkastik akhir-akhir ini. Apa kau memang ingin lari dari mereka? Kau ingin hilang dari hidup mereka?" tanya Kabuto. Deidara diam. Sesaat angannya terbang bersama kenangannya dengan Sakura Haruno. Kekasih lamanya.
"Aku…sudahlah lupakan saja. Aku tidak minat membahas masalah ini sama sekali."
"Ah? Maaf kalau begitu. Tapi kalau Pein bertindak untuk melacak keberadaanmu sama saja bencana akan mendatangi kita semua."
"Hmm…serahkan itu padaku."
xXx Washington DC, United States xXx
"Kau berhutang mimpi buruk padaku!"
"Apa yang kau sebut mimpi buruk Hidan?!"
"Hentikan…"
"Berisik kalian berdua!"
"Sudahlah…"
"Hei!"
Kisame dan Hidan mewarnai pagi markas mereka dengan kebisingan tingkat dewa. Sakura tidak berminat melerai dan ikut dalam serial teriak-teriakan itu. Ia memilih diam sambil mengelap gelas-gelas dan piring yang baru selesai ia cuci. Sedangkan Yahiko, ia melerai mereka berdua dari jarak 10 meter. Kakashi hanya mengucap satu kalimat leraian setelah itu kembali kekamarnya.
Sakura tersenyum jawsdrop mendengar pertengkaran memalukkan ini. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil sesekali tertawa aneh saat melihat kelakuan Hidan dan Kisame.
Tak lama Ibiki datang, ia berdiri ditengah-tengah Kisame dan Hidan mengarahkan kedua telapak tangannya tepat di jidat masing-masing makhluk tersebut kemudian menghentakkannya dengan cepat sehingga mereka berdua terpental kearah tujuan masing-masing.
"Haha!" Sakura berteriak gembira ketika adegan tersebut berakhir. Dan yang terpental? Mengaduh kesakitan sembari menyalahkan satu sama lain.
Ibiki menghampiri Sakura. Ia meminta diseduhkan segelas teh hangat. Sakura segera menyiapkan pesanan pria tegap ini.
"Sakura, apa kau tau kalau Deidara ada disini?"
Sakura menjatuhkan gelas kaca yang ia pegang. Ia menatap Ibiki dengan pandangan tidak percaya. Begitu pula dengan Kisame dan Hidan, Yahiko terdiam disudut pintu. Ibiki melirik Yahiko dengan tatapan tidak percaya. Yahiko atau yang kita kenal dengan Pein telah menyembunyikan ini semua.
"Ja-jangan bercanda Ibiki-sama." ucap Sakura terbata. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ibiki memanggil Yahiko yang hampir mau kabur dari tempatnya berdiri. Ibiki dengan cara yang menakutkan memanggil Pein untuk duduk disampingnya. Yah walaupun Pein disini adalah ketua, tetap saja dia tidak bergeming saat ia mulai berhadapan dengan Ibiki.
"Pein seharusnya memberitahumu dari 2 hari yang lalu." jelasnya. Sakura beralih menatap Pein yang sedang mengelap keringatnya. Keringat rasa bersalah. Ia semakin tak karuan saat Sakura mulai membunyikan jari-jarinya. Pertanda bahaya bagi Pein.
"Deidara ada disebuah laboratorium bawah tanah yang tidak diketahui jelas lokasinya."
Sakura terdiam. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Membuat pasang mata yang ada disana terbujur kaku. Mereka amat sangat merasa bersalah.
Ibiki menatap Pein. Kisame dan Hidan kini duduk bersama mereka. Membicarakan masalah barusan. Mencari solusi bagaimana caranya agar Deidara bisa mereka dapatkan kembali serta menginterogasi alasan sebenarnya mengapa Deidara membantu profesor gila tersebut. Kemudian terdengar oleh mereka suara bantingan pintu yang cukup kencang dari atas.
Sakura berusaha menahan emosinya. Dia senang karena ada kabar tentang Deidara tapi ia juga tidak tau harus berbuat apa. Ia menatap sedih boneka rubah besar berekor sembilan yang ada diatas tempat tidurnya.
"Apa tujuanmu melakukan ini Deidara?"
Sakura menatap kalendar kecil di meja kamarnya. Pein tidak memberinya tugas sama sekali selain menjaga bar dan memantau situasi yang ada. Sakura merasa bosan. Ia berpikir untuk melakukan ziarah ke makam kakak dan neneknya.
Sekali lagi, Sakura menatap boneka besar itu. Lalu ia beralih pada gelang bermotif kuning belang pink yang ada di pergelangan tangannya. Ia ingat betul kalau dulu ia selalu bersama dengan pemilik gelang bermotif sama dengannya. Gelang yang tak sengaja ia dan Deidara dapatkan saat festival Hanabi beberapa tahun silam.
Tanpa pikir panjang. Ia segera mengeluarkan ranselnya yang berukuran sedang dan mulai mengepak baju-bajunya serta barang-barang yang ia perlukan untuk ia bawa.
Sakura mengangkat kasurnya sedikit. Ada dua handgun disana, berpahatkan huruf 'D'. Sakura meraih salah satu dan memasukkannya kedalam ranselnya.
"Aku butuh pencerahan. Aku akan pergi ke Jepang!"
xXx
Hidan berlari ke atas untuk menemui Kakashi. Tapi niatnya ia urungkan ketika ia melihat Sakura sedang mengepak barang-barang di kamarnya. Hidan memutuskan untuk menghampirinya. Ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan.
"Hei Sakura, kau mau kemana?" tanya Hidan sambil bersender pada pintu kamar Sakura. Sakura tidak menoleh, ia masih sibuk.
"Aku mau kembali ke Jepang, selama 3 hari mungkin."
"Memangnya kenapa? Kau tidak betah disini?" akhirnya Hidan melangkahkan kakinya. Ia duduk di tempat tidur Sakura, sedangkan Sakura ia duduk dibawah masih sibuk dengan kegiatannya.
"Aku hanya ingin mengunjungi makam kakak dan nenekku saja."
Hidan hanya menjawab 'oh' saja. Hidan berpikir mungkin Sakura melakukan ini karena berita tadi. Berita kalau Deidara bekerja dengan Orochimaru. Mungkin gadis ini syok mendengarnya.
"Kau akan pergi kapan?"
"Mungkin besok pagi. Aku juga belum sempat memberitahu yang lain."
"Lalu selama kau disana, kau akan tinggal dengan siapa?"
"Aku akan menyewa kamar hotel mungkin. Aku juga ingin mengunjungi Asuma-san dan Kurenai-san. Sudah lama tak bertemu mereka. Oh ya! Genma-san dan Iruka-san juga."
Hidan hanya manggut-manggut ketika Sakura menjelaskan itu semua. Ia ingin sekali mengajak gadis ini masuk dalam percakapan. Tapi sepertinya Sakura tidak akan mau bila diajak berbicara tentang hal ini.
"Sakura, apa kau mau mendengar ceritaku?"
Sakura menatapnya. Kemudian menyunggingkan senyum yang agak sedikit meledek. Hidan menanggapi sikap meledek itu dengan cengan yang lain.
"Memangnya mau cerita apa?"
"Ya karena kau sudah resmi menjadi anggota kami. Aku ingn membeberkan awal mula Organisasi ini terbentuk."
Sakura mulai menghentikan kegiatannya. Ia memutuskan untuk mendengarkan cerita Hidan. Ini cukup menarik perhatiannya.
"Awal mula organisasi ini bernama Akatsuki."
Masa lalu Hidan dan Akatsuki, akhirnya terkuak
Satu persatu dari masa lalu mereka akan mereka beberkan secara langsung dan mendetail
"Pada mulanya kami ini bukanlah orang-orang baik. Kami ini seperti pembunuh bayaran. Semuanya menilai kami adalah orang-orang jahat yang berdarah dingin. Tapi mereka tidak tau, kalau kami ini bukan sembarang pembunuh. Bisa kau lihat kan Sakura, kami ini ramah, baik hati dan tidak sombong!" tutur Hidan sambil bercanda. Sakura yang sudah sangat serius mendengarkan malah Hidan menambahkan banyolan. Ia memukul kaki pemuda itu, menyuruhnya untuk melanjutkan dengan lebih serius.
"Organisasi ini didirikan oleh Madara Uchiha. Madara terus-menerus mendongkrak reputasi kami di mata hukum dan juga Minato-sama waktu itu. Madara ingin menjadikan kami sebagai Organisasi yang bergerak di bidang hukum dalam hal penyelidikan, layaknya FBI ataupun CIA. Dan usahanya pun membuahkan hasil. Kami menjadi orang-orang terpercaya negara dan juga Presiden."
Hidan masih meneruskan penjelasannya. Tanpa ia sadari kehadiran Pein disamping pintu yang secara diam-diam menguping pembicaraan mereka.
"Anggota inti kami dulu hanya berkisar 11 orang. Aku, Pein, Nagato, Konan, Kakuzu, Kisame, Itachi, Deidara, Sasori, Zetsu dan Tobi."
"Ah~ dari nama yang kau sebutkan, ada 5 nama yang sepertinya tidak pernah aku dengar sebelumnya."
"Hm? Yaa, akan kujelaskan Sakura. Nagato dan Konan adalah rekan Pein selama mereka menjadi trainer dulu, Konan adalah perempuan. Setelah Madara meninggal dan Minato-sama menjatuhkan tanggungjawab organisasi pada Pein, mereka berdua ditugaskan secara langsung oleh Minato-sama untuk mengawasi seluruh Negara Eropa dalam diam. Sudah lama sekali aku tidak melihat mereka."
"Oh begitu. Aku tidak tau kalau masa lalu organisasi ini seperti ini."
"Akan kulanjutkan. Kakuzu adalah partnerku selama trainer. Ia juga menjabat sebagai bendahara organisasi. Dia sangat mata duitan tapi aku dan yang lain sangat menghormatinya, karena dia adalah anggota paling tua di organisasi. Dia juga yang telah menyelamatkanku dari kesesatan."
"Kesesatan?"
"Ya. Saat aku berusia 12 tahun, aku tinggal di panti asuhan. Orang tua ku meninggal akibat Tsunami yang melanda beberapa tahun silam. Di panti itu ada perayaan rutin keagamaan, menyembah Dewa Jashin. Saat itu aku masih kecil dan tidak mengerti apapun tentang agama. Beberapa bulan kemudian, Pein dan Kakuzu datang untuk merekrutku. Mereka bilang pada tetua panti asuhan kalau aku harus direhabilitasi dan mereka menunjukkan surat perintah dari Minato-sama. Secara otomatis, tetuaku langsung menyetujui hal itu. Saat diperjalanan, baru ku ketahui kalau mereka bohong. Mereka bilang, mereka ingin menyelamatkanku dari masa depan yang suram."
"Ahh~ itu cuma kedok mereka saja. Tapi…aku tidak menyangka kalau kalian semua adalah orang baik."
"Ya, berterima kasihlah pada Kami-sama mengenai hal itu. Aku akan membahas Zetsu. Zetsu tak pernah dipasangkan oleh trainer manapun, Pein menempatkan ia sebagai mata-mata organisasi nomor satu. Sekarang ia bertugas di Negara Indonesia dan sampai sekarang hanya Pein saja yang rutin mengontaknya, tak ada satupun dari kami yang bisa mengakses keberadaannya kecuali Pein sendiri."
"Lalu yang bernama Tobi?"
"Tobi? Ia pemuda misterius. Saat masa-masa trainer, ia selalu memakai topeng berulir oranye seperti lollipop. Hanya mata kanannya yang terlihat, itu juga gak terlalu banget. Ia sekarang bertugas di Jepang. Ah! Mungkin aku akan menghubunginya biar ia bisa menemanimu disana sekalian juga aku akan meminta Tobi untuk ikut bersama kita."
"Apa itu tidak akan merepotkan nantinya?"
"Haha~ Sakura aku sengaja, soalnya aku ingin minta tukar tempat tugas sama Tobi. Aku ada keperluan di Jepang, maka dari itu aku ingin Tobi dan aku bertukar tempat sementara."
"Oh begitu. Ada yang ganjal disini, kalau anggota inti kalian memang 11, lalu bagaimana dengan yang lain?"
"Oh itu. Selepas Madara meninggal dan kami bukan lagi trainer, Pein merekrut orang-orang hebat dan terpercaya. Kakashi, Anko, Ibiki, Genma, Kurenai, Asuma serta Kiba, mereka hanyalah tambahan untuk melengkapi kami. Tapi kami sudah menganggap mereka sebagai keluarga kami sendiri. Dan anggota yang lain tak keberatan saat mereka hadir didalam organisasi."
Sakura meletakkan tangannya di dagunya sendiri. Ia berpikir.
"Siapa yang masa lalunya paling suram?" tanya gadis itu polos.
"Kisame…"
"Ahh~ cukup sampai disitu penjelasannya Hidan."
Pein memasuki kamar Sakura. Kedatangannya yang tiba-tiba itu membuat Sakura terkejut. Hidan malah mendengus dan meledeknya.
"Aku tau kau dari tadi berdiri disitu, jadi jangan datang dengan gaya seolah-olah kau baru sampai."
Pein tertawa sumringah mendengar ucapan Hidan. Lalu ia menatap Sakura.
"Semuanya berjalan lancar. Tak lama aku merekrut Sasuke Uchiha. Dan insiden terbunuhnya Itachi dan Sasori pun datang. Selang waktu berlalu, kau muncul, Deidara hilang, kemudian kita hijrah ke Amerika. Itulah siklus yang sedang terjadi diantara kita."
Pein menjelaskan dengan serius. Sakura menunduk. Ia tak menyangka, takdirnya akan seperti ini. Bersama dengan orang-orang yang hebat dengan masa lalu yang misterius.
"Sakura, kau adalah keluarga kami. Kau adalah bagian dari Akatsuki."
"Terimakasih semuanya."
xXx
Keesokan paginya, Sakura sudah rapih dan bersiap untuk kembali pulang ke Jepang untuk beberapa hari. Sebelum ia turun, ia menyempatkan diri untuk berpamitan pada Anko. Anko masih terlihat sangat pucat dan sepertinya sindrom syok yang ia derita masih belum pulih. Sakura mencium dahi perempuan berambut ungu itu. Berharap Anko segera sembuh dan kembali ceria seperti biasanya.
"Cepat sembuh Anko-nee."
Sakura berangkat ke bandara diantar oleh Kisame. Ngomong-ngomong tentang Kisame, Sakura teringat oleh kata-kata Hidan yang menafsirkan Kisame sebagai salah satu anggota yang paling suram masa lalunya. Sakura ingin sekali bertanya mengenai hal itu saat ini, tapi ia mengurungkan itu semua. Selepas ia kembali dari Jepang, ia akan mengajak bicara cowok bertampang hiu ini.
"Hidan bilang, ia sudah menghubungi Tobi. Jadi setelah kau sampai disana, Tobi sudah menunggumu di gerbang penurunan penumpang. Kalau kau bingung, kau teriakan saja nama Tobi, oke?" jelas Kisame panjang lebar. Sakura menilai penjelasan Kisame membingungkan. Entah kenapa, tiap kali Kisame memberinya penjelasan, Sakura tidak pernah bisa mencernanya dengan baik.
"Terimakasih Kisame-nii!"
Sakura turun dari mobil yang ia tumpangi. Ia sudah sampai di bandara. Kisame membuka kaca mobil dan menyuruh Sakura untuk berhati-hati selama ia di Jepang nanti.
"Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa bawakan Sushi untukku ya!"
"Oke! Terimakasih! Sampai jumpa!"
Dan kemudian Kisame berlalu. Sakura menarik nafas lega. Akhirnya ia bisa kembali ke Jepang untuk pemulihan pikirannya yang sempat terganggu. Sambil memikirkan cara bagaimana agar Deidara bisa kembali dan menjelaskan situasi aneh ini padanya.
Tak sampai menunggu lama, Sakura segera naik ke pesawat dan meninggalkan Amerika dalam hitungan detik. Ia duduk di pinggir dekat jendela. Ia menatap langit dan awan yang sangat cerah kala itu. Lagi-lagi Sakura kepikiran Deidara. Pemuda itu ada di Amerika. Sakura merasa ganjil dengan semua ini, terlebih saat itu Deidara sama sekali tidak ada di sudut gedung manapun.
"Kami-sama, hatiku perih…"
Sakura meletakkan barang bawaannya di tempat penyimpanan barang di pesawat yang sekarang sudah ia tumpangi. Ia berulang kali menggumam sendiri untuk menenangkan pikirannya yang sejak kemarin terganggu.
"Sebentar lagi aku sampai di Jepang, tapi pikiran buruk ini tak mau pergi juga."
Sakura kembali ke tempat duduknya. Penumpang yang menuju Jepang hari ini terhitung sedikit. Sampai-sampai Sakura hanya duduk sendirian. Ia kembali duduk dengan menopang dagu.
'Sekitar 60 menit lagi, kita akan sampai di Bandara Internasional Jepang. Terimakasih'
Suara dari interkom pesawat. Sakura merasa bosan sekali dengan keadaan ini. Areal penumpang sepi dan hatinya pun begitu. Sakura menghela nafas. Ia memutuskan untuk tidur sejenak untuk menghilangkan rasa bosannya.
Baru saja ia ingin menutup matanya, tiba-tiba seseorang duduk dengan gaya grasak-grusuk disebelahnya. Sontak Sakura segera terbangun untuk melirik orang yang telah mengganggu acara tidurnya.
"Aduh aduh~"
Sakura meliriki pemuda yang ada disebelahnya. Orang ini seperti sedang kehilangan sesuatu. Ia mengecek satu persatu barang bawaannya. Dan ketika ia temukan ia segera meletakkan tak ransel yang berukuran besar itu ditempat Sakura meletakkan barang-barangnya tadi. Orang itu tak sadar kalau sejak kehadirannya tadi, Sakura sudah menatapinya dengan pandangan tak enak.
"Oh? Ha-Hallo!" sapa pemuda itu pada Sakura ketika mulai menoleh dan menemukan Sakura disana sedang menatapinya dengan lirikan tajam.
"Ke-kenapa ya?" tanya pemuda itu lagi. Tapi Sakura tidak menjawab, ia malah membuang muka dan menarik selimut yang tersedia di bangkunya. Membelakangi pemuda itu dan mulai tidur kembali.
"Sepertinya kamu terganggu ya? Gomennasai~" ucap pemuda itu sambil membungkuk-bungkuk pada Sakura yang masih membelakanginya. Sakura menoleh, menemukan pemuda itu tengah tersenyum kecil padanya.
"Iya tidak apa-apa," ujar Sakura sembari bergerak membelakanginya lagi.
Pemuda itu merasa canggung dan tidak enak hati atas sikapnya tadi yang berkesan menganggu gadis muda tersebut.
Waktu berlalu, pesawat besar itu akhirnya mendarat. Sakura keluar dari pesawat dengan hati-hati. Ia berjalan dengan langkah gontai, dan lagi-lagi pemuda yang duduk disebelahnya itu menabraknya dari belakang. Pemuda itu terlihat terburu-buru.
Sesampainya Sakura ditempat tunggu, ia melongo kesana kemari. Ia ingat betul kalau Kisame bilang orang yang bernama Tobi akan menunggunya. Tapi, tak ada tanda-tanda bahwa orang itu menghampirinya. Sakura kembali berjalan sambil menoleh kesana kemari. Ia tak sadar kalau ia berhenti disampingi pemuda tadi.
"Ah iya! Hidan-senpai! Aku sudah di Bandara! Kebetulan aku baru sampai di Jepang. Aduh maaf ya Senpai~"
Sakura terdiam. Ia mendengar dengan jelas kalau orang yang disebelahnya ini menyebut nama Hidan. Ya Hidan!
Sakura memutuskan untuk menoleh dan menepuk pundak pemuda itu. Tak hanya Sakura yang terkejut ketika pemuda itu menoleh, tapi pemuda itu sendiri pun terkejut.
"A-ada apa? Apa kamu masih marah gara-gara masalah tadi?" tanya pemuda itu dengan nada bersalah. Sakura membenarkan posisi ranselnya, kemudian menarik baju pemuda itu.
"Kau kenal dengan Hidan?"
"Eh?"
"Jawab!"
Entah mengapa pemuda itu ingin sekali pingsan sekarang. Ia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita sebelumnya.
"I-iya Nona~ le-lepaskan aku~"
Sakura melepaskan genggamannya dan meminta maaf. Sekali lagi ia bertanya pada pemuda ini.
"Tentu saja aku kenal. Dan sekarang aku sedang dimintai tolong untuk menjemput seseorang bernama Sakura Haruno."
Jelas pemuda itu sejelas-jelasnya. Sakura yang kaget sontak berteriak 'Ha' yang cukup nyaring, membuat semua orang yang berlalu-lalang disana menatap dua insan ini dengan pandangan curiga.
"Ke—kenapa?"
"Siapa namamu?"
"Namaku Obito, tapi orang-orang memanggilku Tobi…"
Sakura menepuk jidatnya. Ia tak menyangka makhluk menyebalkan yang ia temui di pesawat tadi adalah orang yang menjemputnya di Bandara. Salahnya karena lebih dulu bersifat jutek dan cuek.
"Gomennasai Tobi-san! Aku tidak tau kalau Anda yang menjemput saya!" Sakura membungkuk minta maaf pada pemuda bermata onyx tersebut. Tobi hanya menanggapi Sakura dengan senyum sweatdrop sambil berkata tidak apa-apa.
"Umm—tapi kamu siapa ya?"
Sakura ingin sekali membantai Tobi saat ini juga. Tapi ia berusaha menahan emosinya. Bagaimana pun juga Tobi ini adalah rekan satu organisasi walaupun mereka tak pernah bertemu sebelumnya.
"Aku Sakura Haruno."
"Oh! Astaga, aku tidak menyangka kalau kau cantik~"
Sakura merasa kalau Tobi ini tak jauh berbeda dengan Kakashi. Sama-sama tukang gombal dan rajanya nge-flirt.
"Ya ya. Terimakasih untuk pujiannya. Oke, karena sekarang kita sudah bertemu, kita akan kemana?"
Tobi mengeluarkan setoples kacang oven dari tas ranselnya. Ia menatap Sakura dengan pandangan bingung.
"Aku kan hanya menemanimu saja, kau yang menentukan setelah ini mau kemana."
Tobi mulai mengisi mulutnya dengan makanan yang ia bawa. Sakura menatap pemuda itu sebentar. Berambut hitam dengan balutan mata tajam yang menggoda. Sebelas-duabelaslah sama artis favoritnya.
"Aku juga tidak tau, aku jadi menetap selama 3 hari atau tidak."
Sakura menunduk. Tobi masih sibuk memakan kacangnya. Pemuda itu ikut berpikir sambil menyodorkan kacangnya pada Sakura.
"Aku tidak suka kacang."
"Makanlah~ ini enak~ dan satu lagi, aku sarankan kau tidak usah menetap terlalu lama. Aku juga ingin segera ke Amerika untuk mengapply pekerjaan baru."
Sakura mengambil beberapa kacang Tobi dan meletakkannya di telapak tangan kirinya. Tangan kanannya mulai mengambil satu persatu dan menyuapkannya ke mulut Sakura.
"Kalau begitu, kita kerumah Asuma-san dan Kurenai-san terlebih dahulu."
Tobi mengangguk. Ia menjlati jemari tangan kanannya yang penuh dengan balutan bumbu kacang. Melihat itu, Sakura segera menyodorkan sapu tangannya.
"Jangan jorok," ujar Sakura. Tentu saja ini membuat Tobi girang sendiri.
"Ah~ arigatou Sakura-chan~"
"Dan jangan genit."
Ancam Sakura ketika Tobi hampir saja memeluknya. Sakura sebal sekali kalau ada orang yang baru kenal sudah main peluk-peluk saja. Sementara Tobi hanya minta maaf sambil menyunggingkan senyumnya yang dibuat seimut mungkin.
Sakura terdiam sejenak. Tobi duduk disamping dia tadi. Itu berarti Tobi juga berangkat dari Amerika. Kenapa Tobi tidak mengabari Hidan atau Pein? Sakura berpikir keras. Ia merasa ada yang aneh.
'Orang ini patut di curigai…'
Sakura membatin. Ia melirik Tobi sebentar, lalu meninggalkannya begitu saja.
"He—hei! Tunggu aku Sakura-chan~!"
ToBeCo…
Pojok Alay Author :
Hallo Minna-san~ maaf updatenya lama buanget~ XD
pasti udah pada lupa sama cerita ini u,u
ini saya post udah lama banget tapi baru sekarang ada jejaknya lagi =="
Maaf ya~ dan terimakasih bagi yang masih sempat membaca dan mereview~
Satu lagi saya tambahkan, sebelum kemunculan dan bersatunya DeiSaku, saya selipkan TobiSaku/ObiSaku disini, kan kasian Sakura ga ada temennya u,u
dan juga saya update ini dari hp, jadi maaf kalau hasilnya gak rapih dan typo bertebaran u,u"
Terimakasih sekali lagi~ ^ ^
Sign,
S. A .J
