Hanya sebuah fic ringan tentang keluarga tercinta kita SasuSaku XDD

Tiap chapter tidak berurutan meskipun masih saling terkait.

.

.

.

Naruto© Masashi Kishimoto


Ia tetap berdiri di sana, melirik dengan tak suka hati pantulan dirinya di cermin. Pipi semakin temben, berat badan meningkat secara drastis.
Huh, Sakura kembali mendengus sebal.

"Kenapa, Sayang. Tidak suka dengan keadaanmu sekarang?"
Suara ejekan itu tertangkap jelas di gendang telinga Sakura. Tetap dengan sebal ia melirik pada sosok gadis yang tengah tersenyum mengejek ke arahnya.

"Diamlah Karin," gerutunya kemudian.

"Hahahaha..." Tawa itu membahana di kediaman Haruno.

"Menyebalkan." Ia beranjak dari tempatnya berdiri, mendudukkan tubuhnya yang terasa berat pada salah satu sofa di ruang tamu Haruno.

Tanpa peduli kekesalan Sakura, Karin ikut menghempaskan tubuhnya di samping Sakura. Ia menengok, sebelah tangannya tertekuk menjadi tumpuan kepalanya. Tetap dengan senyum mengejek ia kembali bersuara.

"Hei, Sayang, berhentilah memasang wajah seperti itu. Tidak kangenkah kau pada kakakmu yang cantik ini. Hahahaha..." serunya lagi.

"Berhentilah mengejekku, Ka―kak," sungut Sakura tak suka.

Tawa Karin kembali muncul. Sejak kembalinya ia ke kediaman Haruno ia tak berhenti menertawakan keadaan adik kecilnya yang menurutnya lucu.

"Ah, jadi ingat saat kau bilang 'Aku nggak mungkin punya suami semenyebalkan Uchiha Sasuke, Karin' hahahaha...Dan setelah aku pulang aku malah melihat kau mengandung anaknya. Hebat," pekiknya geli.

Sebuah bantal tak lama melayang ke arah gadis berumur akhir 20 tahun itu. Sakura sungguh kesal sekarang.

"Itu hanya sebuah kecelakan kau tahu," bela Sakura.

"Tapi kecelakaan yang menyenangkan, bukan begitu Sayang," ejeknya lagi.

"Huh," dengus Sakura.

.

.

Ia diam, terasa melelahkan kalau ia terus terpancing ejekan sang kakak. Dari dulu ia memang tak pernah menang adu mulut dengannya, maka dari itu daripada ia terus-terusan dipermalukan akan lebih baik ia diam sembari menatap layar televisi yang tengah menayangkan acara anak-anak.

Merasa tak lagi diperhatikan sang kakak menggeser duduknya, mencondongkan badan supaya ia bisa leluasa merasakan gerakan-gerakan kecil dari perut sang adik yang tengah membuncit di telapak tangannya yang menempel.

Sakura cuek dengan tindakan kakak perempuannya, tanpa peduli raut muka kakaknya ia meraih cemilan di meja samping tempat duduk dan langsung memulai ritual ngemilnya.

"Hei, Nyonya Uchiha, berapa usia kandunganmu?" tanya Karin penasaran.

"Delapan bulan besok."

"Wow, aku nggak nyangka bakal punya keponakan secepat ini," cengir Karin.

"Hn."

.

.

"Hei, Sakura, kenapa kau tetap di sini. Kenapa belum pulang ke rumahmu?" tanya Karin lagi.

"Males Sasuke belum pulang," jawabnya. Tak lama kemudian ia menoleh ke arah sang kakak, "Kau mengusirku?" tanya Sakura balik.

Karin kembari memamerkan senyumannya.
"Siapa juga yang mengusirmu adik manis, aku cuma nggak mau Sasuke-kun terlantar gara-gara kau menemaniku," belanya.

"Sudah kubilangkan, Sasuke nggak ada di rumah jadi aku bebas pulang, toh inikan rumahku juga," kata Sakura enteng.

"Tapi kau sedang hamil, Sakura, tak baik wanita hamil sepertimu keluyuran tengah malam begini," tutur sang Kakak.

"Tidak apa-apa, kan rumah Sasuke masih satu blok, Kakak sayang," ucapnya membenarkan.

"Terserah kaulah, Sakura. Dasar adik keras kepala," kesal Karin.

"Kepalakan emang keras, Karin," kata Sakura tak mau kalah.

.

.

Hening.

.

.

Kedua kakak adik itu tengah terdiam menikmati sajian dari layar televisi dan dari toples yang semakin ludes isi di dalamnya.

Sakura mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi, membuat seseorang di sebelahnya menoleh dengan penasaran.

"Aku mau pulang," pamit Sakura. Ia memandang sang kakak yang tengah memandangnya juga.

"Mau aku antar?" tawar Karin.

"Nggak perluh, aku bisa jalan sendiri," tolaknya.

"Tapi ini sudah malam, Sakura, aku―"

"Sudah aku bilang aku nggak apa-apa, Kakak. Berhentilah mengkhawatirkan aku gara-gara tengah mengandung keturunan Uchiha," kesalnya.

Haruno Karin tersenyum, "Oh iya, besok aku harus kembali ke Kiri, Sakura," tutur Karin. Senyum tetap mengembang di sana meskipun mendapati tatapan sendu dari sang adik.

"Kenapa cepat sekali, padahalkan baru juga dua hari pulang," tanya Sakura. Kelopak matanya entah kenapa terasa berat untuk berkedip. Hingga air mata itupun tumpah bersamaan dengan pelukan sang kakak padanya.

"Maaf aku nggak bisa tetap di sini Sakura, masa libur kuliahku sudah habis dan aku harus kembali ke sana," jelas Karin. Sejujurnya ia masih merasa rindu pada adik manisnya ini, tapi mau gimana lagi. Tuntutan pendidikanlah yang membatasi kebersamaan mereka, dan jarak Konoha-Kiri itu semakin membuat kebersamaan itu terasa kurang.

Jemarin berkutex Karin menghapus jejak air mata di pipi adiknya.
"Hei, jangan nangis gini ah. Kalau Sasuke tahu pasti dia akan mengejekmu habis-habisan,"kelakar Karin.

"Kalau Sasuke melakukannya, aku janji akan membuatnya tidur di luar semalaman," sungut Sakura. Meskipun tak ada nada serius di ucapannya, tapi Sakura akan melakukannya jika memang terjadi.

"Hei, itu tidak boleh. Bibi Mikoto pasti nggak terima anaknya kau siksa, Sakura," ucap Karin geli.

"Ibu Mikoto lebih sayang padaku daripada Sasuke, akukan mengandung cucunya."

Karin sedikit lega ketika raut murung itu tergantikan akan sebuah senyum.

Pelukan kakak adik itupun terlepas.
"Kenapa nggak besok lusa aja kembalinya," pinta Sakura mulai merenggek.

Karin mengacak rambut Sakura yang mulai memanjang. "Maaf itu tidak bisa. Dan kenapa kau jadi manja gini padaku, Sakura?" tanyanya.

"Itu karena kau setahun lebih nggak pulang, bahkan di hari pernikahanku kau nggak datang. Jahat," seru Sakura. Air mata itu kembali membasahi bola matanya.

"Maaf, hari itu aku nggak bisa pulang karena ujian, Sayang. Tapikan aku sudah memberitahumu sebelumnya lewat telpon," jelas Karin. Senyum itu seakan tak mau lenyap dari bibirnya.

"Aku tau."

"Hei, jangan sedih gitu. Tenang sajak kok dua atau tiga hari lagi dia akan pulang, katanya dia merindukan adik manjanya," cengir Karin.

Sakura menatap Karin tak percaya.
"Benarkah kak Sasori akan pulang?" tanya Sakura berbinar-binar.

Karin menggangguk mantap.

"Yeeeeeeeeeiiiiiiiiiiiiii..."
Kembali kegaduhan menyelimuti kediaman Haruno.


"Sudah pulang."

Sakura mengangguk mendapati pertanyaan sang suami ketika ia memasuki kamar mereka. Tak peduli tatapan menyelidik Sasuke, ia menghempaskan tubuh lelahnya di samping sang suami.

"Dari mana aja jam segini baru pulang?"

Sakura mengubah posisi tidurnya, berbalik menghadap Sasuke yang tengah bersandar di kepala ranjang dengan sebuah buku di tanggannya.

"Menemui Kakak terbaik," jawab Sakura lengkap dengan cengirannya.

Alis sang Uchiha bertaut, "Maksudmu Karin," katanya memastikan.

Sakura mengangguk mantap.

"Kukira Kakak terbaikmu itu Sasori," cela Sasuke. Pasalnya setahu Sasuke, kedua kakak adik sesama gender itu tak pernah luput dari adegan adu mulut yang menurutnya kekanak-kanakan.

"Bukan."

"Hn?"

"Kakak terbaikku itu Karin, sedangkan Kakak tergantheng dan terimut itu kak Sasori tersayang," cengir Sakura.

"..."

"Andai kak Sasori itu bukan saudara kembar Karin dan bukan kakakku, aku mau menikah dengannya."

"..."

"Aah, senengnya kalau punya suami seperti kak Sasori. Udah gantheng, imut, baik hati pula, nggak kaya Uchiha Sasuke yang suka menyiksa istrinya."
Celoteh itu terdengar heboh dari bibir Sakura. Tak peduli sosok manusia di sampingnya tengah menahan amarah.

"Hahahaha...Kau tahu Sasuke, kak Sasori itu―"

"Berisik. Kenapa kau tak menikahi kakakmu itu," sengit Sasuke. Dengan kasar ia merebahkan tubuhnya dan segera menarik selimut sampai menutupi ujung rambutnya.

Sakura bengong mendapati reaksi sang suami.
"Loh, Sasuke. Kenapa kau jadi marah sih, kan emang bener kalau kak Sasori itu baik―"

"DIAAAM," bentak Sasuke dari balik selimut.

"Sasuke kenapa marah?"

"..."

"Hei, Sasuke, mudah-mudahan anak kita nanti kalau dia cewek cantik dan manis seperti aku. Hihihi..." Suara cekikian Sakura memenuhi pendengaran Sasuke. "Dan kalau dia dia cowok mudah-mudahan gantheng seperti―"

"Kaya ayahnya dong," batin Sasuke di balik selimut.
Hm, ternyata Uchiha Sasuke meskipun kesal tetap mendengar ocehan tak berguna sang istri.
Sungguh suami yang baik.

"―kalau cowok jelas gantheng dan imut seperti kak Sasori dong."

Toeng.

"Benerkan, Sasuke-kun?"

"..."

"Sasuke-kun, kau sudah tidur?"

"..."

"Sudah tidur ya. Ya udah selamat malam, Sasuke-kun."

"..."

Dan ingatkan Uchiha Sasuke ketika Haruno Sasori pulang ke Konoha untuk membawa Sakura pergi jauh untuk tak dekat-dekat dengan Sasori.
Karena bisa menimbulkan Hipertensi dan gangguan jantung.