Disclaimer: SNK©Hajime Isayama
Story : Haru Tsukishima
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: AU, OOC, Lemon, Typo, gaje. Bagi yang tidak suka pair di dalam cerita ini harap menekan tombol back. Berhubung di chapter ini ada sedikit lemon scene, bagi yang berusia dibawah 20th untuk menekan tombol back. Ok! Tapi kalau mau skip juga gak apa-apa :D
.
.
Note:
"Bla bla bla" = Speak
'Bla bla bla' = Inner
.
.
Don't Like, Don't Read
.
~~* Takdir Cinta *~~
Happy Reading
.
.
.
Chapter 2
"Berapa semuanya?" Tanya pria itu pada si bartender.
"Semua sudah di tanggung oleh tuan Erwin" jawab bartender seraya tersenyum.
"Ah, sou ka" pria itu membopong tubuh Mikasa yang lemas. Meskipun gadis itu lebih tinggi darinya, ia tidak terlihat kesulitan untuk membawa tubuh tersebut. Iris deep bluenya menyapu sekeliling, mencari sebuah kursi untuk mendudukkan gadis ini.
"Hm, disana saja" ia teringat dengan taman yang berada diluar. Akan lebih baik jika membawa gadis itu keluar dari sini dan menghirup udara segar, begitu menurutnya. Ia sedikit mengeratkan rangkulannya pada pinggang Mikasa karena tubuh gadis itu hampir saja merosot.
"Levi, kau mau kemana?" Tinggal sedikit lagi dirinya berhasil mencapai pintu, seseorang memanggilnya.
"Oh, kau Mike. Aku sedang mengurus perempuan merepotkan ini" tunjuk Levi dengan dagunya pada Mikasa yang bersandar pada pundak pria tersebut. Mike tampak tersenyum.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, Levi. Jaa" pria itu pun pergi menghampiri Erwin yang sedang berbincang dengan keponakannya, Krista.
Levi menemukan tempat duduk disana. Tak disangka ternyata banyak juga pasangan tidak tahu malu yang asik bercumbu. Apa mereka lupa kalau itu bukanlah rumah mereka? Matanya menangkap sepasang anak manusia yang saling berpegangan tangan sambil menatap indahnya langit malam.
"Hoo, jadi karena itu kau bertindak bodoh" ujar Levi seraya melirik gadis yang masih bersandar nyaman padanya.
"Sebaiknya aku memberitahu bocah itu agar mengantarmu pulang" Levi hendak bangkit dari duduknya namun ada yang menarik lengannya. Pria itu menoleh dan mendapati Mikasa dengan tatapan sayu menatap tepat pada matanya.
"Jangan pergi" ucap Mikasa dengan wajah sendu. Kedua mata pria itu berkilat, ia sempat terkejut dengan sikap gadis itu.
"Aku masih ada urusan yang harus dikerjakan" Levi berucap datar tapi tidak ada sedikitpun gerakan untuk melepas lengan tersebut.
"Kumohon, temani aku" pinta Mikasa dengan tatapan sendu. Pria itu memaklumi sang gadis yang sedang mabuk itu. Tanpa berkata apapun, ia kembali duduk disamping Mikasa.
Sebenarnya pria itu sedikit khawatir Mikasa melihat Eren tengah bermesaraan dengan si gadis blonde. Pasalnya jarak mereka bisa dibilang tidak terlalu jauh. Ia akan berusaha mengalihkan perhatian gadis ini agar tidak melihatnya.
"Apa kau ingin ku antar pulang, Ackerman? Sepertinya kau tidak menikmati pesta ini"
"Tidak. Aku tidak ingin pulang. Tapi aku juga tidak ingin tetap berada disini" Jawab Mikasa dengan suara khas orang mabuk. Levi memutar otak, kemana ia akan mengajak gadis ini? Ke taman? Pantai? Atau daerah pegunungan?
"Levi-san" Mikasa memanggilnya. Pria itu hanya bergumam seraya menoleh. Namun ia dibuat sangat terkejut setelahnya.
Gadis itu tiba-tiba menariknya dan menciumnya dengan sedikit kasar. Bau alkohol yang tajam memenuhi indera penciumannya. Bahkan sisa dari minuman keras yang menempel pada lidah gadis itu terasa tajam di lidahnya.
Levi masih enggan membalas ciuman yang Mikasa berikan. Ia tahu gadis ini bertindak di luar kesadarannya. Jadi ia berusaha sebisa mungkin tidak terpancing bahkan terjerumus.
Tapi Mikasa dengan sengaja menggigit lidahnya, membuat pria itu melengguh akibat rasa sakit dari gigi gadis tersebut.
Levi menjauhkan tubuh Mikasa sekuat tenaga, menyebabkan gadis itu terbaring di atas kursi taman yang pastinya tidak empuk.
Ia merasa bersalah, meskipun gadis itu kuat tapi saat ini kondisinya sangat berbeda.
Mikasa menarik kerah blazer pria itu hingga menunduk diatas tubuhnya. Sepertinya ia tidak boleh meremehkan gadis ini ketika sedang mabuk. Untung saja ia yang bertemu gadis ini, coba kalau Gustav atau Mike, pasti gadis ini sudah di ajak ke love hotel.
"Hentikan tingkah konyolmu, Ackerman. Sebaiknya kita pulang"
"Sudah ku bilang aku tidak mau pulang, chibi" alis tipisnya berkedut. Apa tadi gadis ini mengatainya 'chibi?'
Baru saja Levi hendak membuka mulut untuk sedikit mengomeli gadis tersebut, Mikasa kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Bawa aku ke tempatmu, kumohon" dengan mata sayu bak anak anjing, dinding es dalam dirinya pun luluh. Tanpa berkata apapun Levi segera merangkul gadis itu dan membawanya ke mobil.
Ia tidak sempat pamit dengan Erwin dan yang lainnya. Ia yakin Mike pasti sudah menceritakan tentang dirinya bersama Mikasa pada mereka. Masa bodo. Saat ini dirinya ingin segera tiba dirumah dan beristirahat.
Ia sebenarnya terpaksa datang ke pesta tersebut karena firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu disana -pada Mikasa-. Dan benar saja, ia menemukan gadis itu mabuk di counter minuman.
.
.
Selama perjalanan Mikasa terus meracau soal Eren sambil menangis. Levi hanya mendengarkan tanpa berkomentar apapun, toh gadis ini sedang mabuk, wajar jika ia berbicara semaunya.
Sesampainya di rumah, Levi memapah tubuh Mikasa hingga ruang tamu dan menidurkan gadis itu di sofa. Lalu Levi masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Lagi-lagi pria itu dibuat terkejut dengan sosok Mikasa yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Gadis itu langsung menarik pria yang memiliki tinggi dibawahnya dan kembali mendaratkan ciuman pada bibir tipis Levi.
Pria itu menyeret Mikasa ke dalam kamar dan mendorong gadis itu hingga terjatuh di atas kasur. Levi berusaha menahan diri agar tidak meladeni permainan Mikasa. Ia tidak ingin memanfaatkan keadaan.
"Berhentilah memancingku, Ackerman. Jangan lakukan hal yang akan kau sesali"
"Sentuh aku,,, tubuhku rasanya sangat panas" Mikasa bangun dari ranjang kemudian membuka dress yang dikenakannya didepan Levi yang tercengang.
"Tidak. Cepat kenakan lagi pakaianmu, Ackerman" titah Levi yang pastinya sia-sia karena saat ini Mikasa sudah menanggalkan bra yang digunakannya. Pria itu masih tetap datar namun sesuatu dalam dadanya berdegup sangat kencang.
Levi mengambil selimut dan menutupi tubuh gadis itu, namun Mikasa malah menariknya dan mereka berdua terjatuh diatas ranjang dengan Levi menimpa tubuhnya. Karena tingginya yang lebih pendek, wajah pria itu mendarat tepat diantara buah dada Mikasa.
Levi segera bangkit dan menatap Mikasa tajam. Ia tidak ingin pertahanan dirinya runtuh.
"Levi-san, kumohon sentuh aku. Aku sudah tidak bisa menahannya" wajah gadis itu memerah dan tampak sensual. Tiba-tiba pria itu teringat sesuatu.
'Jangan-jangan bartender itu mencampur minumannya dengan aphrodisiac. Kuso!' Levi kesal. Pantas saja gadis ini bertingkah aneh. Kalau sekedar mabuk tidak akan seperti ini bukan?
.
.
.
*** Warning Lemon Scene ***
.
.
"Ahhh..." terdengar desahan dari ranjangnya. Sepertinya malam ini mental manusia yang selalu tanpa ekspresi itu sedang diuji. Baru beberapa menit dirinya mengingat kejadian di pesta tadi, kini Mikasa sudah tidak mengenakan apapun ditubuhnya.
Bahkan gadis itu malah bermasturbasi didepannya. Ternyata pengaruh aphrodisiac itu segila ini.
"Levi... aaahh... Levi-san..." Mikasa terus meracau menyebutkan namanya seraya menatap pria itu.
'Bagaimana ini? Kalau dibiarkan akan gawat. Tapi kalau ku ikuti...' konflik batin terjadi. Sementara itu bagian tubuhnya dibawah sana mulai mengeras dan terasa sesak.
"Tcih"
Levi menindih Mikasa dan mencium bibir gadis itu seraya menyingkirkan lengan gadis itu dan kini lengannya yang menyentuh organ kewanitaannya yang sudah basah.
Ia mengusap permukaannya, membuat gadis itu mengerang nikmat dengan sentuhan yang ia berikan. Lalu ia memasukkan satu jari kedalamnya, gadis itu merintih ketika lubangnya yang masih sangat sempit itu dimasuki oleh jari Levi yang ramping.
'Sugee. Dinding kewanitaannya menjepit jariku dengan sangat erat' tuturnya seraya menambahkan satu jari lagi kedalamnya.
"Oohhh... Levi... lebih cepat... ooohhh... a-aku ke-luar... aahhh" cairan bening keluar dari kewanitaannya dan membasahi jari serta seprai miliknya. Levi memandangi jarinya yang basah lalu memasukkan kedalam mulutnya. Ia sama sekali tidak merasa jijik, malah ia sangat menyukai rasa cairan tersebut.
Mikasa masih terkapar diatas ranjang dengan nafas terengah. Rasa nikmat masih memenuhi kepalanya namun ia merasa masih belum puas dengan hal tersebut. Ia menatap Rivaille yang tengah menjilati jarinya.
"Levi-san..." panggilnya dengan pelan. Pria itu menoleh dan melihat wajah Mikasa yang seakan meminta lebih padanya. Dengan setengah hati ia akan menuruti kemauan gadis tersebut.
"Bersiaplah, Ackerman" pria itu menanggalkan kaos yang dipakainya. Menampakkan tubuh kekar serta perut yang sangat atletis.
Ia berjongkok didepan kewanitaan gadis itu. Cairan itu masih terlihat mengalir dari sana. Pengaruh dari obat itu belum hilang rupanya. Ia menjilati cairan tersebut langsung dari sumbernya, membuat Mikasa mendesah keras ketika lidah pria itu menyapu kewanitaannya.
Slurp
Levi bagai kelaparan. Ia menjilat dan menghisap kewanitaan Mikasa serta memainkan lidahnya dalam lorong yang masih sempit itu. Mikasa hanya mengerang dan mencengkram seprai hingga tampak kusut.
Mikasa kembali berteriak tanda ia mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Terlihat Levi menyeringai seraya menikmati cairan tersebut.
Selesai 'membersihkan' bagian bawah gadis itu Levi kembali berdiri dan menatap Mikasa yang masih mengatur nafasnya.
Lalu gadis itu menatapnya dan bangkit dari posisinya menjadi duduk. Tiba-tiba gadis itu mengarahkan kepalanya pada bagian depan celana Levi yang tampak menonjol. Levi menahan pundak Mikasa, berusaha menjauhkan gadis itu darinya.
"Kenapa? Aku juga ingin bermain dengan juniormu, sensei" ucap Mikasa dengan sedikit menggoda. Pria itu masih konflik dengan batinnya, bak buah simalakama begitulah kondisi yang dialaminya saat ini.
"Hentikan Ackerman. Aku tidak ingin berbuat yang lebih jauh padamu"
'Karena aku menyayangimu' imbuhnya dalam hati.
"Kenapa, sensei? Aku juga menginginkannya. Bukankah sudah kewajiban seorang sensei untuk mengajari muridnya?" Ucap gadis itu dengan suara menggoda.
"Tcih, kenapa disaat seperti ini kau memanggilku seperti itu" Mikasa tersenyum genit. Levi masih berusaha menahan diri.
"Karena aku ingin diajari olehmu. Aku ingin bercinta denganmu, Levi-sensei" Mikasa berubah 180 derajat. Dengan tatapan genit gadis itu berusaha menggoyahkan keyakinan pria dihadapannya.
Levi menarik tubuh Mikasa dan menjatuhkan diatas ranjang. Ia mengurung gadis itu dibawahnya dengan kedua lengannya.
"Baiklah kalau itu kemauanmu. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya, Mikasa"
Levi menjauh dari ranjang. Ia membuka celananya dan menampakkan bagian bawah tubuhnya yang sudah menegang. Levi kembali menghampiri Mikasa yang menatapnya dengan penuh nafsu.
Ia menindih Mikasa dan mendaratkan deepkiss pada gadis tersebut. Lumatan demi lumatan serta tangannya yang memainkan payudara Mikasa, membuat gadis itu melengguh selama Levi melakukan pekerjaannya.
Pria itu melepaskan ciumannya, memberi kesempatan pada gadis dibawahnya untuk menghirup oksigen. Iris deepbluenya menatap bagian atas tubuh Mikasa. Tergolong besar untuk seseorang yang gemar menghabiskan waktu memukuli sandsack.
Ia mendekatkan wajahnya pada dada gadis tersebut, menjilat bagian puncaknya dengan perlahan. Mikasa mendesah pelan menikmati sensasi pada putingnya. Levi tersenyum melihat gadis tersebut menatapnya, memintanya untuk melakukan hal yang lebih.
Levi melumat puncak berwarna pink tersebut, sedangakan tangannya memainkan puncak yang satunya. Mikasa mendesah nikmat seraya memanggil namanya, gadis itu juga mencengkram surai hitam pria tersebut.
Pria itu berhenti memainkan payudara gadis berwajah Asia itu. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Mikasa. Tatapan gadis itu sayu dengan wajah merona. Cantik, Mikasa terlihat sangat cantik di matanya saat ini.
"Ada apa, Sensei? Kenapa berhenti?" Tanya gadis itu seraya membelai surai hitam Levi.
"Ini akan terasa sakit. Bila kau tidak kuat menahannya katakan saja atau kalau kau ingin tetap melanjutkannya kau boleh mencakar punggungku atau menggigit pundakku" Levi memperingatkan Mikasa sebelum pria itu melakukan lebih jauh.
"Baiklah. Ayo, lanjutkan lagi, sensei" ucapnya dengan nafas tidak beraturan. Tubuh gadis itu terasa panas.
Levi hanya menggumam dan memposisikan kejantanannya didepan kewanitaan Mikasa. Perlahan ia memasukkannya, cukup lancar karena sisa cairan kewanitaan masih melumuri lubang tersebut.
Ketika hampir setengahnya kejantanan Levi masuk, Mikasa mengerang seraya mencangkram kedua lengannya.
"Bagaimana? Masih ingin melanjutkannya, Mikasa?" Bisik Levi pada telinga gadis itu. Mikasa mengangguk. Ia kembali melanjutkan kegiatannya seraya memainkan payudara gadis tersebut dengan harapan dapat mengurangi rasa sakitnya.
"Itaii..." Mikasa mulai merasa sakit pada organ kewanitaannya.
"Lanjut atau berhenti?" Levi kembali menanyakan keputusan Mikasa.
"La-lanjut-kan saja" jawabnya setengah meringis.
"Baiklah. Siapkan dirimu dan tahan sebentar" Levi memundurkan tubuhnya, kedua tangannya fokus memainkan kedua payudara Mikasa.
Dengan gerakan cepat Levi menghunuskan kejantanannya, membuat Mikasa berteriak merasakan sakit luar biasa pada bagian bawah tubuhnya. Air mata gadis itu mengalir merasakan sakit yang baru kali ini dialaminya.
"Gomen, Mikasa. Apa terasa sakit?" Tanya Levi dengan wajah bersalah. Ia tidak tega melihat Mikasa kesakitan dibawahnya.
"Hiks.. sakit.. rasanya sakit sekali" isak Mikasa dengan air mata yang masih mengalir. Levi menghapus air mata dari kedua iris hitam Mikasa. Kemudian kembali mencium Mikasa dengan lembut dan perlahan.
Mikasa menyambut ciuman tersebut dan berhasil melupakan rasa sakit yang dialaminya. Selama beberapa menit Levi hanya menciumi Mikasa dan memainkan kedua payudaranya. Ia ingin membuat Mikasa rileks terlebih dahulu dan membiarkan bagian bawah Mikasa menyesuaikan diri dengan miliknya.
Ciuman mereka berhenti. Levi menatap wajah sayu itu dan mendaratkan kecupan pada keningnya. Bibir itu terasa hangat, membuat degup jantung wanita Asia itu semakin kencang.
Levi sedikit memundurkan tubuhnya, Mikasa melengguh merasakan sensasi yang baru dirasakannya. Levi tersenyum.
"Mikasa, bersiaplah" Levi memberikan warning karena ia tidak akan menahan diri setelah ini.
"Ha'i, Levi-sensei. Lakukan saja sesukamu" jawab Mikasa dengan wajah sensual.
.
.
*** End of Lemon Scene ***
.
.
Ddrrrtttt... ddrrrrtttt...
Terdengar suara getaran dari ponsel diatas meja samping ranjang. Gadis- maksudnya wanita bersurai bob hitam segera mengulurkan tangannya, meraba dimana letak ponselnya.
"Ngghhh... siapa yang menelepon pagi begini" ia meraih ponselnya dengan kesadaran yang masih separuh. Ia mengerutkan dahi tatkala melihat nama Eren tertera di layar. Dengan santai ia menjawab panggilan tersebut.
"Untuk apa meneleponku, Eren? Kau hanya perlu mengetuk pintu kamarku jika membutuhkan sesuatu"
"Kau dimana, Mikasa!? Kau tidak pulang dari semalam! Kaa-san memarahiku karena kau tidak mengatakan pergi kemana! Ttaku kau ini" ucap seseorang disebrang sana dengan kesal. Iris hitamnya membulat, ia segera mengubah posisi menjadi duduk dan menatap sekeliling.
'Eh, aku dimana? Khhh, kenapa kepalaku pusing sekali?' Mikasa memegang kepalanya. Rasa pusing itu membuatnya hampir menjatuhkan ponsel ditangannya.
"Aku akan pulang. Katakan pada Bibi agar tidak khawatir. Jaa" Mikasa memutuskan sambungan dan meletakkan kembali ponselnya pada nakas. Ketika menatap tubuhnya ia mendapati gaun hitam yang semalam digunakan masih menempel ditubuhnya.
Ia kembali menelisik kamar tersebut namun tidak ada apapun yang dapat memberinya petunjuk. Tidak ada foto atau apapun yang bisa menunjukkan identitas pemiliknya. Kamar itu juga sangat rapi dan bersih bahkan wangi.
Mungkin ini rumah salah satu teman perempuannya di kampus. Entahlah?
"Ini rumah siapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun? Aku harus segera mencari pemilik rumah ini" Mikasa beranjak dari tempat tidur, ia berjalan keluar dari kamar.
Hal yang pertama dilihatnya adalah ruang tamu yang juga tampak rapi dan bersih. Tidak ditemukannya juga sebuah benda yang biasa terpajang disetiap rumah yang biasa dilihatnya, foto keluarga.
Rasa waspada mulai menyelimutinya. Ia benar-benar tidak bisa menebak siapa pemilik rumah ini?
Mikasa menatap sekeliling, rumah itu ternyata memiliki 2 lantai dan halaman belakang yang cukup luas. Bila dilihat lebih seksama, pemilik rumah ini sepertinya seorang laki-laki.
Itu terlihat dari furniture dan hiasan-hiasan dirumah tersebut meskipun dihalaman tampak beberapa bunga dan tanaman lain yang sangat terawat.
Lalu tercium aroma masakan yang nampak lezat, ia mengikuti arah aroma tersebut dan menemukan sebuah dapur yang terdapat seorang pria tidak asing baginya sedang memasak sesuatu.
'Si Chibi itu! Apa yang ia lakukan disini? Jangan-jangan?'
"Kau sudah bangun, Ackerman" sapa pria itu tanpa menoleh. Ia bisa melihat Mikasa dari pantulan panci yang digantung.
"Kenapa aku disini? Apa yang kau lakukan disini?"
'Aa, sudah ku duga. Gadis ini tidak ingat apapun' inner pria itu sedikit lirih.
"Duduklah disana, aku akan menyiapkan makanannya" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Aku sedang bertanya padamu, chibi" Mikasa kesal tapi pria itu lebih kesal lagi disebut seperti itu. Levi berusaha menahan rasa kesalnya, ia mematikan kompor kemudian berbalik menatap Mikasa.
"Semalam kau mabuk berat. Kau bilang tidak ingin pulang karena kau patah hati melihat bocah itu sedang bermesraan dengan Annie Leonhardt. Jadi aku berbaik hati membawamu kesini" jelasnya dengan tangan terlipat di dada.
Mikasa masih mencoba mengingat kejadian semalam. Ia ingin memastikan kebenaran dari ucapan pria tersebut. Tapi nihil. Memorinya seakan tersegel.
"Sou ka. Lalu kenapa kau malah membawaku kesini?"
"Kau sendiri yang menginginkannya. Kau tidak ingin pulang kerumah. Apa kau tidak bisa mengingatnya, Ackerman?" Jawab Levi masih dengan wajah datar seperti biasa.
"Baiklah. Arigatou sudah sangat berbaik hati padaku. Kalau begitu aku akan pulang sekarang. Itteki-"
"Siapa yang menyuruhmu pulang?" Levi memotong ucapan Mikasa. Wanita itu pun menghentikan ucapannya dan menatap pria yang merupakan senseinya di kampus.
"Sebaiknya kau sarapan terlebih dahulu setelah itu aku yang akan mengantarmu pulang. Bagimana pun juga aku harus bertanggung jawab pada keluargamu" ucap Levi dengan gentle.
Dalam hatinya, Mikasa sedikit memuji sikap Levi yang sangat bertanggung jawab dan dewasa. Tapi hanya sedikit. Karena bagaimana pun juga ia masih tidak suka dengan pria tersebut.
"Baiklah jika itu mau mu" Mikasa tetap menunjukkan ekspresi datar. Tanpa wanita itu tahu Levi menatapnya dengan sendu.
"Ayo, kita ke meja makan. Kau duduk saja, aku yang akan menyiapkan semuanya"
Mereka sudah berada di meja makan dan duduk saling berhadapan. Mikasa tidak menyangka sensei yang paling tidak disukainya ternyata pandai memasak. Selama kegiatan makan tidak ada yang berbicara. Entah karena tidak ada bahan obrolan atau memang tidak ingin berbicara.
'Masakannya enak juga ternyata. Ku kira orang ini hanya pandai bela diri saja. Tapi di rumah yang sebesar ini apa dia hanya tinggal seorang diri? Ah, Kenapa juga aku harus memikirkan itu' Mikasa menyantap sarapannya seraya sedikit mencuri pandang pada Levi.
"Doushita, Ackerman? Kau tidak suka makanannya?" Pria itu menyadari Mikasa yang diam-diam menatapnya tajam.
"Tidak juga" ucapnya singkat. Ia berusaha tidak terlibat komunikasi yang panjang dengan pria tersebut.
"Katakan saja. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu" Levi sedikit was-was, mungkin saja ingatan wanita itu mulai pulih.
"Ku kira kau bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain" jawab Mikasa ketus.
Levi maklum dengan sikap wanita tersebut. Ia tahu Mikasa tidak pernah menyukainya karena pernah menghajar Eren di kampus. Tapi itu juga demi kebaikan Eren, bukan?
"Aa, waru'i" pria itu tidak ingin berbicara lagi. Toh lawan bicaranya memiliki sifat tidak berbeda jauh dengannya.
Suasana kembali hening. Mereka kembali melanjutkan akivitas menyantap makanan masing-masing tanpa interaksi satu sama lain.
"Gochisousama desu" Mikasa selesai lebih dulu. Ia merapikan peralatan bekas makannya dan hendak membawanya ke washtuffle, namun Levi yang juga telah selesai makan menghentikan wanita tersebut.
"Biar aku saja. Kau mandi saja selagi aku membereskan ini" ucap Levi datar.
"Tidak. Aku juga cukup tahu diri dimana aku berada sekarang" Mikasa tidak ingin dianggap manja.
"Kau adalah tamu. Jadi biar aku yang mengurus ini. Kau ingin segera pulang kan, Ackerman?" Nampaknya berhasil. Mikasa tidak lagi menunjukkan tanda-tanda perlawanan.
"Baiklah kalau begitu" wanita itu berjalan menuju kamar yang tadi di gunakannya. Ia terpaksa menurut karena ia tidak tahu dimana dirinya berada sekarang. Kalaupun kabur juga pastinya akan tersasar dan itu malah membuat orang-orang dirumah semakin khawatir.
.
.
.
"Tubuhku kenapa rasanya letih sekali? Seperti habis melakukan pekerjaan berat" gumam Mikasa yang kini tengah berendam dalam bathtub.
"Aku sudah siapkan baju bersih untukmu, Ackerman" ucap Levi seraya meletakkan pakaian tersebut di atas ranjang. Mikasa tidak menanggapinya, ia sangat menikmati berendam dengan air hangat yang membuatnya rileks.
Selesai membersihkan tubuh, Mikasa menatap pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Ia tidak menyangka Levi juga menyiapkan pakaian dalam untuknya. Ukurannya juga pas dengannya.
'Cih, dasar hentai' hanya itulah yang terbersit dalam fikirannya. Tapi toh ia memakainya juga. Tidak mungkin ia mengenakan pakaian dalam yang sudah semalaman digunakannya.
Setelah semuanya rapi Mikasa keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Ia berfikir akan lebih baik menunggu si pemilik rumah disana dari pada harus mencarinya.
"Kau lama sekali, Ackerman" pria yang selalu berwajah datar itu sudah berada disana. Mikasa sedikit terkejut
"Sepertinya kau tidak sabar sekali" jawab Mikasa ketus.
"Aku tidak ingin keluargamu khawatir" ucap Levi lebih datar lagi. Mereka berjalan menuju halaman depan. Disana sudah terparkir mobil sport hitam berlambang banteng yang sudah menunggu.
Kedua manusia tanpa ekspresi itu masuk kedalam mobil. Levi menyalakan mesin mobilnya dan mulai bergerak meninggalkan rumah bergaya minimalis itu.
Sepanjang jalan wanita berparas asia itu hanya diam. Ia teringat kejadian semalam ketika Eren bermesraan dengan Annie. Ia sangat tidak menyangka Eren akan jatuh dalam pelukan gadis es tersebut.
'Eren... '
"Ackerman... hoi, Ackerman... " perlahan terdengar seseorang memanggilnya. Mikasa sudah kembali pada alam sadarnya. Ia hanya menoleh pada pria yang sedang mengemudikan mobil disampingnya.
"Apa kau masih mengantuk? Sebaiknya kau tidur saja hingga tiba nanti. Tapi sebelum kau tidur, bisa beritahukan dimana alamat rumahmu?" Levi menganggap Mikasa masih belum istirahat dengan cukup.
"Distrik Shiganshina no. 13" jawab wanita tersebut tanpa menoleh.
"Jadi kau benar-benar tinggal satu rumah dengan Eren?" Levi ingin lebih mengenal wanita tersebut.
"Kenapa?" Mikasa menanggapinya dengan dingin.
"Tidak" Levi kembali fokus mengemudikan mobil. Ia tidak ingin memaksa Mikasa untuk berbincang dengannya, ia sangat paham dengan watak wanita tersebut.
'Semoga Eren tidak pernah membawa kekasihnya kerumah' inner Levi yang memikirkan perasaan Mikasa.
.
.
Akhirnya mereka tiba dirumah keluarga Jaeger. Terlihat nyonya Jaeger sedang duduk termenung di teras. Wajahnya muram akibat tidak bisa tidur semalaman memikirkan putri angkatnya.
Levi dan Mikasa keluar dari mobil yang diparkir di luar pagar. Dengan gentle pria itu menyapa nyonya Jaeger.
"Konnichiwa, nyonya Jaeger. Sumimasen, mengganggu anda" Carla menatap pria tersebut dengan terkejut.
"Levi-san. Mikasa?" Ia melihat Mikasa mengekor dibelakang pria tersebut. Ia sedikit takut Carla akan memarahinya.
"Sumimasen aku baru bisa mengantar Mikasa pulang. Semalam Mikasa menginap di rumahku"
Salut! Levi sangat berani mengatakan hal tersebut. Sedangkan nyonya Jaeger masih menatap mereka dengan tidak percaya.
"Mi-Mikasa menginap di rumah anda? Ba-bagaimana bisa?" Carla segera memeluk tubuh putri angkatnya dengan sangat antusias.
"Mikasa, nanti kau harus menceritakan semua padaku" seru Carla dengan sumringah. Ia tidak menyangka Mikasa bisa dekat dengan Levi.
"Bi-bibi" gumam Mikasa seraya menundukkan kepala. Tak lama muncul sang kepala keluarga dan menghampiri mereka.
"Levi? Kenapa Mikasa bisa bersamamu?" Dokter Jaeger nampak heran. Ia tahu Mikasa tidak menyukai pria itu dari rekannya, Hannes. Sedangkan Carla tak henti-hentinya tersenyum.
"Mikasa ternyata menginap dirumah Levi semalam, sayang. Sepertinya kita akan segera mendapatkan cucu" nyonya Jaeger kini bergelayut manja pada suaminya.
"Benarkah? Aku senang jika itu benar" Grisha tersenyum. Mikasa mengira keluarga angkatnya akan memarahinya, tapi ternyata mereka malah mengharapkan dirinya dekat dengan pria chibi tersebut.
"Arigatou. Tugasku sudah selesai. Aku sudah memulangkan Mikasa dengan selamat. Aku permisi, Tuan dan nyonya Jaeger. Konnichiwa"
"Hei, kenapa terburu-buru begitu? Ayo masuk dulu, aku baru saja membuat kue" bujuk Carla yang masih antusias.
Sebenarnya Levi sangat senang dengan perlakuan wanita tersebut, sikapnya yang hangat membuatnya merindukan sosok ibu. Tapi ia melihat aura ketidaksukaan yang Mikasa pancarkan, jadi ia memilih untuk tidak membuatnya kesal.
"Aku sangat berterimakasih atas tawaran anda, nyonya. Tapi maaf, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mungkin lain kali akan aku usahakan" tolaknya dengan sangat halus. Ekspresi nyonya Jaeger sedikit murung.
"Yah, sayang sekali"
"Tidak apa, Levi. Sesekali datanglah berkunjung" Levi hanya tersenyum mendapat tawaran dari tuan Jaeger. Ia tahu kalau pamannya menjalin hubungan baik dengan tuan Jaeger.
"Arigatou. Kalau begitu aku permisi" Levi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Jaeger. Grisha dan Carla pun berjalan kedalam rumah. Hanya saja entah kenapa Mikasa masih terpaku menatap keluar pagar. Kakinya seakan tidak ingin beranjak.
"Mikasa? Ayo masuk ke dalam" panggil Carla dari depan pintu.
'Kenapa kakiku tidak mau bergerak? Ah dia sudah pergi. Tcih! Apa yang aku lakukan!?' Mikasa memaksakan tubuhnya berbalik dan berjalan menuju rumah.
Carla yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum lalu memanggil suaminya dan memberitahukan apa yang dilihatnya.
.
.
Tok... tok... tok...
"Mikasa"
Terdengar suara Eren memanggilnya. Tidak biasanya pemuda itu berkunjung kecuali ada tugas dari kampus. Wanita itu masih berbaring pada ranjangnya. Tubuhnya masih terasa sangat letih.
"Boleh aku masuk?"
Karena tidak mendapat respon, pemuda itu meminta izin terlebih dahulu.
"Masuk saja, pintunya tidak di kunci"
Bila Mikasa yang biasanya, sudah pasti ia akan segera berlari dan membukakan pintu. Tapi saat ini ia enggan melakukannya karena ia masih mengingat kejadian di malam pesta Krista.
"Aku masuk. Maaf mengganggu" Eren masuk. Mikasa mengubah posisi menjadi duduk pada ranjang.
"Tidak biasanya, Eren" Mikasa menyambutnya dengan dingin. Seharusnya pemuda itu yang menanyakan hal tersebut tapi ada hal yang lebih penting untuk dibahas.
"Aa, aku tahu" Mikasa sama sekali tidak menatapnya. Wanita itu hanya memandangi lantai kamarnya. Mikasa benar-benar seperti orang asing hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.
"Apa benar kau menginap bersama Levi-sensei semalam?"
Mikasa terkejut. Pasti bibi Carla sudah bercerita. Tapi ia tidak ambil pusing, toh memang itu kenyataannya. Andai saja Eren tidak berhubungan dengan Annie, pasti hal itu tidak akan pernah terjadi.
"Kenapa? Bukankah kau juga menghabiskan malam dengan Annie" ucapan Mikasa membuat wajah Eren merona. Ia tidak menyangka Mikasa mengetahuinya. Padahal ia tidak bercerita pada siapapun.
"Kau benar. Tapi bukan itu yang ingin aku bahas. Bagaimana bisa kau menginap dirumah Levi-sensei? Bukankah kau sangat membencinya?"
"Aku tidak pernah bilang membencinya. Aku hanya tidak menyukainya. Sepertinya dia bukan orang yang buruk" Mikasa sedikit terkejut dengan ucapan yang meluncur dengan sendirinya.
"Jadi kau menyukai Levi-sensei? Wah, aku sangat senang-"
"Hentikan! Tidakkah kau mengerti perasaanku, Eren?" Pemuda itu tercengang. Kenapa Mikasa marah?
"Kenapa kau marah, Mikasa? Apa maksudmu?"
Mikasa mencengkram seprai dengan kuat. Pemuda ini kenapa sangat tidak peka?
"Tentu saja, bodoh! Apa kau tidak sadar selama ini aku menyukaimu? Kenapa kau malah menyukai perempuan dingin itu?!"
Eren terkejut. Ia benar-benar tidak tahu kalau Mikasa memendam perasaan padanya selama ini.
"A-apa? Kau menyukaiku, Mikasa? Bagaimana bisa? Maaf, aku hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih"
Eren hanya bisa menunjukkan wajah murung. Ia memang tidak memiliki perasaan lebih dari teman dan saudara pada wanita tersebut. Saat itu juga ia melihat wajah Mikasa dengan mata berkaca-kaca.
"Begitu ya. Aku mengerti. Maaf, bisa kau tinggalkan aku sendiri? Katakan pada bibi kalau aku tidak ikut makan malam"
"Mikasa..." Eren menatap saudari angkatnya dengan bersalah. Ia tahu Mikasa butuh privacy, lalu pemuda beriris zamrud itu keluar dari kamar.
Setelah Eren pergi, Mikasa kembali berbaring pada ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal. Ia meluapkan seluruh kesedihannya hingga tertidur.
.
.
.
Ting tong...
Ting tong...
Ting tong...
Ting tong, ting tong, ting tong, ting tong
"Hoi! Bisakah kau menekan bel dengan normal!" Pria berambut hitam dengan mata tajam membuka pintu dengan kasar.
"Habisnya kau lama sekali membuka pintu, Levi. Apa yang kau lakukan?" Ucapnya santai. Lalu wanita berkacamata dengan rambut ponytail itu masuk ke dalam tanpa seizin pemiliknya.
Levi menatap wanita nyentrik itu tajam lalu menutup pintu. Percuma mengusirnya, Hanji orang yang pantang menyerah.
"Ne, Levi. Mana gadis itu?" Tanpa babibu Hanji menanyakan hal tersebut. Pantas saja ketika ia masuk ke dalam ia memeriksa seluruh ruangan. Seperti polisi yang sedang merazia.
"Apa maksudmu?" Levi merapikan tumpukan majalah dan bantal-bantal sofa yang bergeletakan. Pria itu tampak menahan kesal. Hanji sebenarnya sedang mencari orang atau barang?
"Ish, kau ini pura-pura tidak tahu. Itu, gadis asia yang kita lihat di kampus. Mike bilang kau bersama gadis itu kemarin malam di pesta. Gustav juga melihatmu membawa gadis itu pergi dari pesta" jelas Hanji seraya menyeringai.
'Jadi karena itu. Sudah ku duga' Levi menatap dengan malas. Hari minggu damainya harus hancur karena kedatangan makhluk bernama Hanji.
"Tentu saja dia tidak ada disini. Aku langsung mengantarnya pulang malam itu" jawabnya seraya berjalan menuju dapur. Ia melihat kue buatannya yang baru saja matang.
"Kau bohong, Levi! Lihat, apa yang ku temukan?" Hanji menyeringai seraya menenteng sesuatu.
Levi terkejut, Hanji benar-benar mengerikan. Ia sudah seperti anjing pelacak.
"Hahaha. Kau terkejut Levi?" Wanita nyentrik itu tertawa puas melihat Levi hanya hanya diam menatap benda yang ia julurkan.
.
.
.
TBC
.
.
Yup,, seperti inilah kelanjutan atau chap 2 dari fic ini.
Gaje ya?
*kriikkkkk... krriiiikkkkk... krrriiikkkkk*
Hahahaha...
Apalagi ada sedikit lemon scene terselip diantaranya. Semoga gak pada kecewa ya dengan lemon gaje yang gue kasih. Maklum, Haru memang tidak berpengalaman a.k.a amatir.
Terima kasih ya buat Haru si Huru-Hara, Azumi999, dan Hitomi Komagata yang sudah bersedia memberi komentar. Apalagi ada yang like. Semoga tidak menyesal ya. Hahaha.
Hayo, penasaran gak Hanji nemuin apaan? Kalau enggak juga gak apa-apa kok, kan chapter depan bakal dibahas :P Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Levi dengan Mikasa? Saksikan di chapter berikutnya :D
Seperti biasa ditunggu reviewnya dari readers sekalian. Masih tidak membuka flame apalagi bashing karena sudah Haru peringatkan diawal. Hohoho.
See you next chap guys. Bye
