Because of You
NCT & Infinite Fanfiction
Kim Myungsoo x Lee Taeyong
Warning: GS, OOC, Typo(s), Gaje, Ide pasaran, dll, DLDR.
Rated T+
By El Lavender
.
.
.
Pagi ini Mansion Kim terlihat tenang seperti biasanya karena Mansion ini hanyalah di huni oleh Kim Myungsoo bersama sang istri dan juga beberapa pelayan saja. Myungsoo saat ini sedang menikmati paginya dengan secangkir kopi serta memeriksa beberapa dokuken di halaman belakang Mansion yang ditumbuhi oleh bunga-bunga cantik yang dirawat dengan baik oleh tukang kebunnya, ia sangat suka menikmati pemandangan kebunnya itu karena membuatnya menjadi lebih tenang.
Hari ini memanglah hari libur, Myungsoo bisa istirahat sejenak dari rutinitasnya sebagai CEO muda Kim Corp. Sejak beberapa tahun ini Myungsoo bekerja keras membangun kembali perusahaan Ayahnya yang di wariskan kepadanya. Myungsoo tidaklah sepenuhnya sendiri ia juga dibantu oleh sang paman, pamannya membimbingnya dalam membangun perusahaan itu. Myungsoo sudah menganggap pamannya seperti Ayahnya sendiri.
"Permisi Tuan, Nyonya sudah bangun." Seorang pelayan memberitahukan Myungsoo jika istrinya sudah bangun dari tidurnya.
Myungsoo bangkit dari duduknya dengan membawa cangkir kopi yang telah kosong beserta dokumen yang ia periksa tadi. Myungsoo bukanlah seorang yang selalu membiasakan hidupnya seperti raja, terkadang ia selalu melakukan apa yang bisa dia lakukan sendiri seperti mengembalikan cangkir kopi itu ke dapur.
Myungsoo sudah sampai di depan kamar sang istri, pelayan yang berada di depan kamar itu membukakan pintu untuk Myungsoo. Ia melihat sang istri sedang duduk mengeringkan rambutnya yang basah di depan meja riasnya, sebuah dress santai yang dibuat oleh salah satu desainer dari Paris melekat indah ditubuhnya. Myungsoo mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang.
"Jangan berani-beraninya kau memelukku sebelum kau membelikanku tas Gucci keluaran terbaru." Gadis itu tetap melanjutkan kegiatannya tanpa merasa terganggu akan pelukan pria itu.
"Hmm... Bukankah aku baru saja membelikannya untukmu, koleksi tasmu sudah terlalu banyak sayang." Myungsoo dapat melihat tatapan tajam yang diberikan gadis itu kepadanya melalui cermin di depannya.
"Baiklah-baiklah aku akan memesankannya untukmu." Myungsoo akhirnya mengalah terhadap permintaan istrinya.
Gadis itu sudah selesai merias dirinya dan bangkit dari duduknya sehingga pelukan dari Myungsoo juga terlepas. Myungsoo memutuskan duduk di ranjang dan melihat gadis itu sedang memilih sepatu dan juga tas yang disesuaikan dengan dressnya.
"Kau mau kemana?" Myungsoo memutuskan bertanya kepada gadis itu karena tidak mungkin dia tidak pergi keluar jika sudah berdandan seperti ini.
"Bukan urusanmu." Jawabnya ketus.
"Setidaknya sarapanlah dulu Taeyong."
"Apa pedulimu."
"Aku ingin sarapan denganmu, ini adalah hari libur setidaknya kau bisa menemaniku hari ini." Myungsoo hanya menatap sendu kepada gadis itu.
"Dengarlah Tuan Kim Myungsoo yang terhormat. Jika kau tidak menuruti semua kemauanku jangan berharap aku bersikap layaknya seorang istri kepadamu dan kita sudah sepakat dari awal jika kau tidak boleh mencampuri semua urusanku." Taeyong berkata dengan dingin kepada Myungsoo.
"Tidak cukupkah dengan semua yang telah kuberikan kepadamu? Tidak bisakah aku menikmati waktu denganmu sehari saja? Tidak bisakah kau berpura-pura layaknya seorang istri sehari saja? Aku akan melakukan apa saja untuk itu." Myungsoo masih menatap Taeyong dengan sendu.
Pernikah mereka memanglah sudah satu tahun lebih, selama setahun ini Myungsoo selalu menuruti apa kemauan gadis itu. Mereka berdua sangat jarang menghabiskan waktu bersama, Myungsoo sangatlah sibuk satu tahun ini karena kondisi perusahaan yang hampir saja bangkrut untungnya karena kerja keras Myungsoo hal itu tidak terjadi.
Taeyong akan berakting menjadi seorang istri yang baik hanya di depan para client Myungsoo saja, jika sudah dirumah dia akan berubah menjadi dingin dihadapan Myungsoo. Taeyong juga meminta untuk memiliki kamar sendiri, Myungsoo tidak keberatan akan hal itu selama gadis itu menjadi miliknya dan tidak meninggalkannya.
Myungsoo memang mencintai gadis itu walaupun dia selalu bersikap dingin kepadanya. Myungsoo ingin suatu saat gadis itu benar-benar bisa melihat cinta yang dimilikinya dan bukan hanya sebuah obsesi. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa jatuh cinta kepada gadis yang tidak tertarik kepada dirinya itu sementara banyak wanita diluar sana yang mengantri untuk menjadi istrinya.
Myungsoo berharap suatu saat mansion ini tidak akan sepi lagi dan diisi oleh tingkah lucu serta suara tawa anak-anak mereka tetapi Myungsoo tidak berharap banyak untuk itu. Selama Taeyong berada disisinya dia sudah senang akan hal itu.
Taeyong sejak tadi mencengkram erat tasnya karena mendengarkan perkataan dari Myungsoo.
"Baiklah... Hari ini selama 24 jam aku akan bersikap layaknya seorang istri untukmu, asalkan kau membiarkanku memakai Black Cardmu hari ini." Taeyong tersenyum palsu kepada Myungsoo.
"Benarkah?" Wajah sendu Myungsoo berubah menjadi ceria karena perkataan Taeyong.
"Iya sayang. Bukankah kau belum sarapan? Mari kita sarapan." Taeyong memulai sandiwaranya hari ini.
"Kau harus mengurangi kebiasaan minum kopi sebelum sarapanmu itu, tidak baik untuk lambungmu." Saat ini mereka sedang menikmati sarapan yang sudah dihidang oleh juru masak di Mansion itu.
"Akan aku kurangi jika kau yang meminta. Darimana kau tahu tentang hal itu?" Myungsoo tidak bisa berhenti untuk tersenyum.
"Bibi Gong yang selalu menceritakannya kepadaku." Bibi Gong adalah salah satu pelayan yang telah merawat Myungsoo dari kecil.
"Ah begitu. Apa rencanamu hari ini?"
"Aku ingin ke sebuah Mall untuk berbelanja, jika kau mau kita bisa menonton film setelahnya."
"Aku setuju." Myungsoo tidak akan menolak sama sekali permintaan Taeyong.
.
.
.
Mereka sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Untuk hari ini Myungsoo sengaja mengemudikan sendiri mobilnya dan menyuruh semua pengawalnya untuk tidak mengikutinya. Dia benar-benar ingin menikmati waktunya dengan Taeyong tanpa adanya gangguan, Taeyong sama sekali tidak keberatan akan hal itu.
Saat ini Myungsoo tidaklah memakai jas yang biasa dipakainya sehari-hari, penampilan Myungsoo lebih santai dan semakin menambah kadar ketampanannya. Taeyong tidak menepis fakta jika pria yang berstatus sebagai suaminya itu memanglah sangat tampan.
Taeyong saat ini mulai berbelanja beberapa pakaian, sepatu dan juga tas. Myungsoo dengan setia menungguinya, terkadang Taeyong juga akan bertanya apakah barang-barang itu cocok dengannya kepada Myungsoo dan Myungsoo akan menyuruh pelayan disana untuk membungkus apa saja yang dicoba oleh Taeyong tadi dan mengirimkan semua itu kerumahnya.
"Myungsoo kemarilah." Taeyong membawa sebuah kemeja dan dasi untuk Myungsoo.
"Sepertinya ini cocok untukmu." Taeyong mencocokkan kemeja dan dasi itu dibadan Myungsoo.
"Apapun yang kau pilih aku akan suka." Myungsoo tersenyum dan merengkuh pinggang Taeyong.
"Ck lepaskan, ini di tempat umum." Taeyong memukul tangan Myungsoo yang masih merengkuh pinggangnya.
"Apa salahnya aku memeluk istriku sendiri di tempat umum." Taeyong memutar bola matanya.
"Ya ya ya... Terserah kau saja." Taeyong memberikan kemeja dan dasi yang ia pilihkan untuk Myungsoo kepada pelayan.
"Wah wah lihat siapa yang aku jumpai hari ini~ selamat siang Tuan dan Nyonya Kim, sepertinya kalian sedang berbelanja banyak ya bahkan di tempat umum seperti ini kalianpun terlihat sangat mesra." Seorang pria tiba-tiba saja berada disekitar mereka dan menyapa mereka dengan nada yang tidak bersahabat.
"Senang kita dapat berjumpa disini Jung Jaehyun. Wah siapa gadis cantik yang kau bawa itu?" Myungsoo tidak kalah membalas perkataan pria yang bernama Jung Jaehyun itu.
"Perkenalkan ini adalah tunanganku Kim Doyoung. Sayang kenalkan ini adalah rival bisnisku bersama dengan Istrinya Kim Myungsoo dan Lee Taeyong yang sekarang marganya juga berganti dengan Kim." Ujar pria itu kepada Myungsoo dan tunangannya. Mereka berdua berjabat tangan dengan Doyoung sebagai tanda perkenalan.
"Ayo sayang kita pergi, sepertinya kita mengganggu pasangan romantis ini." Jaehyun berkata kepada tunangannya.
"Jika dia bangkrut kembalilah kepadaku, pintu rumahku selalu terbuka untukmu." Bisik Jaehyun kepada Taeyong ketika pemuda itu melintas disebelahnya.
Taeyong yang mendengar perkataan Jaehyun terdiam seketika. Ya, Jaehyun adalah mantan kekasih Taeyong yang ditinggalkannya demi menikah dengan Myungsoo.
Sebenarnya Jaehyun tidak kalah kaya dari Myungsoo tetapi pemuda itu tidak bisa menuruti semua kemauan Taeyong sehingga Taeyong lebih memilih Myungsoo pada saat itu. Seiring berjalannya waktu Jaehyun dapat membuat perusahaannya berkembang dan setara dengan perusahaan Myungsoo bahkan mereka sekarang menjadi rival.
Taeyong tidak tahu apakah dirinya menyesal atau tidak tetapi yang pasti dia pernah memiliki perasaan dan mencintai Jaehyun, sedangkan Myungsoo Taeyong tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada suaminya itu yang Taeyong tahu Myungsoo sangatlah terobsesi kepadanya.
"Yong... Taeyong." Myungsoo mengibaskan tangannya di depan wajah Taeyong.
"Ah maaf aku melamun." Taeyong tersenyum kikuk kepada Myungsoo.
"Apa kau tidak enak badan? Apa sebaiknya kita pulang saja?" Myungsoo memandang khawatir kepada Taeyong.
"Tidak aku baik-baik saja sayang. Aku tetap ingin menonton film. Jika kita pulang kapan lagi kau menikmati waktu denganku? Belum tentu aku akan bersikap seperti ini lagi kepadamu. Ayo kita bayar semuanya dan menuju Bioskop setelah itu." Taeyong menggandeng tangan Myungsoo menuju kasir. Myungsoo hanya bisa tersenyum mendengarkan perkataan dan juga melihat tingkah istrinya itu.
Mereka saat ini sudah berada di Bioskop dan perdebatan kecilpun terjadi diantara mereka dalam menentukan film manakah yang akan mereka tonton.
"Aku ingin menonton film horror."
"Aku ingin film action."
"Ish bodoh, jika kita menonton film horror jika aku takut aku akan memelukmu. Apakah kau tidak pernah berkencan sebelumnya? Jika kau tidak mau kita bisa menontonnya secara terpisah." Taeyong kesal karena sejak tadi mereka hanya berdebat tentang film apa yang akan mereka tonton.
"Ah jadi begitu ya. Baiklah kita menonton film pilihanmu, berarti aku bisa memelukmu dengan bebas kan." Myungsoo mulai menggoda Taeyong dan untuk kesekian kalinya Taeyong memutar bola matanya hari ini.
Mereka akhirnya memesan tiket serta menunggu 10 menit sebelum pintu Bioskop tempat film yang akan mereka tonton dibuka.
"Apa saja yang dilakukan oleh pasangan ketika mereka berkencan?" Taeyong yang serius dengan ponselnya menghentikan kegiatannya, ia menoleh kepada Myungsoo yang sedang menatapnya dengan polos.
"Apa kau benar-benar tidak pernah berkencan sebelumnya?" Taeyong kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada Myungsoo. Myungsoo menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak... Aku tidak pernah berkencan ataupun berpacaran sebelumnya. Selama ini aku hanya fokus kepada perusahaan. Ini adalah yang pertama dan kau juga yang pertama bagiku."
Taeyong terhenyak mendengar jawaban dari Myungsoo. Selama ini ia pikir Myungsoo adalah tipe seseorang yang suka berganti pasangan dengan mudah dan mengimingi kekayaannya kepada wanita-wanita diluar sana seperti yang dilakukan pria itu kepadanya tetapi ternyata dia salah. Bahkan Taeyong mengira selama ini Myungsoo bermain dengan wanita-wanita di luar sana karena dia selalu bersikap dingin kepada Myungsoo.
"Umm aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu berkencan itu seperti apa. Mungkin seperti yang kita lakukan saat ini bisa dikatakan sebagai berkencan." Ujar Taeyong canggung kepada Myungsoo.
Pemberitahuan bahwa pintu teater Bioskop tempat mereka menonton film sudah dibuka membuat mereka mengakhiri pembicaraan mereka.
.
.
.
Saat ini mereka sedang berada di salah satu restaurant untuk mengisi perut mereka yang lapar setelah menonton film.
"Filmnya tidak seru sama sekali." Myungsoo protes kepada Taeyong di sela-sela makannya.
"Kenapa? Menurutku sangat seru."
"Dimana adegan yang membuatmu ketakutan? Kau bilang kau akan memelukku jika kau ketakutan buktinya kau malah menikmati film itu tanpa takut sama sekali." Myungsoo merajuk seperti anak kecil kepada Taeyong.
"Hahaha... Maafkan aku, aku memang pecinta film horror. Kau sangat lucu jika sedang merajuk seperti itu." Taeyong tertawa melihat tingkah Myungsoo. Myungsoo terpana melihat Taeyong yang sedang tertawa, ini adalah untuk pertama kalinya Myungsoo melihat Taeyong yang seperti itu.
"Sudah-sudah lupakan hal itu, setelah ini apa kau ingin ke suatu tempat?" Tanya Myungsoo.
"Umm... Tidak, memang kenapa?"
"Tidak apa-apa, hari masih sore dan aku ingin mengunjungi panti asuhan. Apa kau mau ikut?" Taeyong menggangguk sebagai jawaban untuk Myungsoo. Mereka melanjutkan makan mereka dengan hening.
Myungsoo memanglah sering mengunjungi panti asuhan yang dinaunginya, ia tidak hanya sebagai donatur yang hanya memberikan dana saja tetapi Myungsoo juga sering berkunjung dan bermain bersama anak-anak di panti asuhan itu. Taeyong beberapa kali pernah ikut Myungsoo kesana karena penggalangan dana yang dilakukan disana sehingga dia harus ikut mendampingi Myungsoo.
Mereka berdua sudah sampai di panti asuhan di sambut dengan tawa canda anak-anak disana anak-anak itu juga segera menggerumbuli Myungsoo dan Taeyong. Myungsoo sudah membelikan beberapa makanan dan peralatan sekolah untuk mereka semua sebelum menuju kesini dan membagi-bagikannya kepada mereka. Taeyong ikut membantu Myungsoo membagikan semua itu kepada anak-anak disana.
"Wah hari ini paman membawa bibi cantik~ apakah aku boleh bermain dengan bibi cantik paman?" Seorang bocah sangat girang melihat kehadiran Taeyong. Myungsoo melihat ke arah Taeyong, Taeyong mengangguk tanda persetujuan.
"Tentu saja boleh, tetapi kalian tidak boleh menyusahkan bibi ya dan jangan sampai bibi cantik ini menangis karena ulah kalian." Semua anak-anak disana tertawa mendengarkan ucapan Myungsoo sedangkan Taeyong sudah mencubit perut Myungsoo.
"Aw sakit sayang. Lihatlah bibi cantik ini bisa berubah menjadi galak, kalian semua harus waspada." Bisik Myungsoo kepada anak-anak itu, mereka semakin tertawa mendengarnya.
"Ya! Kim Myungsoo aku mendengarmu!" Taeyong memberikan tatapan tajamnya kepada Myungsoo.
"Ayo anak-anak kita bermain bersama dan tinggalkan paman tampan kalian yang bodoh ini."
"Kau akhirnya mengakui ketampananku." Ucap Myungsoo narsis.
"Sepertinya aku tadi salah bicara."
"Paman dan Bibi kalian lucu sekali." Ucap salah satu gadis cilik kepada mereka.
"Ayo kalian semua bermain bersama bibi." Taeyong mengajak anak-anak itu bermain bersama.
Walaupun Taeyong termasuk tipe seseorang yang manja dan materialistis tertapi dia sama sekali tidak memandang rendah semua anak-anak di panti itu.
Myungsoo yang ditinggal oleh Taeyong memutuskan menemui kepala yayasan untuk membicarakan tentang panti asuhan itu. Setelah itu Myungsoo memutuskan untuk melihat bayi-bayi yang berada disana.
"Mereka sangat lucu, kenapa orangtua mereka tega membuang mereka begitu saja." Myungsoo dikejutkan dengan kehadiran Taeyong yang berada disampingnya.
"Apa kau sudah selesai bermain?" Myungsoo dapat melihat anggukan Taeyong.
"Bolehkah aku menggendongnya?" Salah seorang perawat memberikan salah satu bayi kepada Taeyong.
Taeyong menggendong bayi itu dengan hati-hati dan menatapnya dengan kasih sayang. Myungsoo yang melihat itu berjalan menghampiri Taeyong lalu memeluknya dari belakang serta menyandarkan kepalanya di bahu Taeyong. Bayi yang berada digendongan Taeyong tersenyum sehingga membuat mereka berdua turut tersenyum.
"Kapan kalian memiliki anak? Kalian saat ini sudah seperti keluarga bahagia." Ujar kepala yayasan itu.
"Kami akan memiliki anak secepatnya." Taeyong yang mendengarkan jawaban dari Myungsoo menyikut perut suaminya itu.
"Semoga Tuhan memberkati kalian."
Mereka berdua memutuskan untuk pulang karena tidak terasa hari sudah malam, mereka sempat makan malam bersama anak-anak di panti itu. Sekarang semua anak-anak disana sudah memasuki alam mimpinya masing-masing.
Myungsoo dan Taeyong sudah sampai di Kim Mansion. Taeyong masuk ke dalam Mansion terlebih dahulu diikuti oleh Myungsoo. Myungsoo masih mengikuti Taeyong hingga kamar gadis itu. Taeyong yang ingin masuk ke kamarnya mengurungkan niatnya karena melihat Myungsoo yang masih mengikutinya.
"Ada apa? Bukankah kamarmu berada dibagian selatan?" Taeyong yang penasaran akhirnya bertanya kepada Myungsoo.
"Bolehkah aku tidur denganmu malam ini? Bukankah kau berkata kau akan melakukannya selama 24 jam? Ini masih belum 24 jam bukan? Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang kumiliki." Taeyong bisa melihat keseriusan di wajah Myungsoo. Dia merutuki dirinya yang entah kenapa berkata 24 jam walaupun sebenarnya tidak buruk menghabiskan waktu bersama suaminya itu.
"Masuklah." Myungsoo tidak menyangka Taeyong akan mengijinkannya tidur bersamanya malam ini.
Myungsoo duduk di ranjang Taeyong sementara Taeyong sedang mandi dan mengganti bajunya dengan pakaian tidurnya. Taeyong sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya.
"Apa kau tidak mengganti pakaianmu?"
"Tidak, aku terlalu malas untuk berjalan ke bagian selatan Mansion."
"Kau kan bisa menyuruh pelayan untuk membawakannya." Taeyong menaiki ranjangnya dan duduk di sebelah Myungsoo.
"Aku tidak ingin merepotkan mereka."
"Yasudah jika begitu, selamat malam." Taeyong menarik selimutnya dan tidur membelakangi Myungsoo. Taeyong dapat merasakan suaminya itu juga sudah berbaring di belakangnya.
"Apa tidak ada good night kiss untukku?"
Cup
Myungsoo terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba diberikan oleh Taeyong, sebenarnya dia hanya bercanda akan hal itu. Bisa tidur bersama dengan Taeyong saja Myungsoo sudah sangat bersyukur.
"Sudah aku sudah memberikannya." Taeyong tersenyum kepada Myungsoo, sebuah senyuman tulus. Taeyong dapat merasakan kesepian dalam diri Myungsoo.
Myungsoo merapatkan dirinya ke Taeyong, ia pun lalu memeluk gadis itu. Tidak ada perlawanan dari Taeyong.
"Bolehkah aku meminta hakku malam ini?" Myungsoo berkata lirih kepada Taeyong. Myungsoo menunggu jawaban yang keluar dari mulut istrinya itu, jika pun Taeyong menolak Myungsoo tidak akan memaksa.
"Baiklah tetapi belikan aku sebuah Lamborghini. Hanya aku yang tidak punya mobil, Baekhyun bahkan mempunyai yang limited edition." Ujar Taeyong dalam pelukan Myungsoo.
"Baiklah akan aku belikan untukmu." Myungsoo menyetujui permintaan Taeyong karena hartanya tidak akan habis begitu saja untuk membelikan sebuah Lamborghini untuk Taeyong.
"Bolehkah aku memulainya?" Taeyong mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Malam ini Myungsoo mendapatkan haknya sebagai seorang suami setelah satu tahun lamanya. Taeyong mau memberikan keinginan Myungsoo karena dia merasa kasihan kepada pemuda itu, Taeyong hanya tau jika Myungsoo terobsesi kepadanya dan sebagai seorang istri tidak ada salahnya dia memberikan hak milik suaminya itu hanya untuk malam ini karena besok Taeyong sudah kembali menjadi seorang Taeyong yang hanya memanfaatkan kekayaan Kim Myungsoo.
.
.
TBC
.
.
Thans to:
Yutrash, Mifta Jannah, Shim Yeonhae, ryeong9 na, Yuta Noona, Hime Taeyong, sblackpearlnim, mybestbaetae. Ditunggu review dan masukkan kalian selanjutnya~ *tebar ciuman Johnny*
AAAAAA APA INI *pundung* Maaf alurnya kecepetan soalnya bikinnya pakai sistem SKS xD Maaf ya Taeyongnya dibikin matre dan agak sedikit antagonis ke Myungsoonya demi jalan cerita *evil smirk* #digampar
Yang kemaren minta Jaehyun dimunculin, sudah~ Jaehyun memang mantannya Taeyong dan lumayan besar pengaruhnya sama cerita ini kedepannya hahaha~
Siders? Review Please~~~
