Chapter 2
And The more he ignores me,
The more I adore him
.
.
Jihoon terbangun dengan kepalanya yang terasa sangat berat. Ia memperhatikan ruangan sekelilingnya dan ternyata ia sedang berbaring di ranjang klinik sekolahnya.
"Eh udah bangun.."
Leeteuk—dokter sekolah, menoleh dari di buku yang sedang ia baca ketika mendengar pergerakan yang datang dari satu-satunya ranjang yang terisi di ruang klinik pada saat ini. Ia kemudian berdiri dan menghampiri sumber suara.
Leeteuk memegang dahi Jihoon dan memeriksa suhu tubuhnya. "Tidak panas kok badannya.."
"Kau belum makan ya?"
Jihoon mengangguk. "Ngomong-ngomong, tadi aku pingsan ya?"
Leeteuk mengangguk.
"duh malu-maluin aja deh.."Jihoon jadi malu sendiri soal ia kan biasanya garang, gak mau diem, cerewet lagi, malu lah kalau pingsan. Kesannya kan jadi lemah banget.
"Oh iya, Ini tadi temanmu menitipkan makanan.."
Leeteuk menyodorkan kantong plastik berisi box makanan. "Makanlah dulu, kalian ini masih dalam masa pertumbuhan, gak usah diet-diet.."
"Enak aja siapa yang diet?" Jihoon langsung protes. Emang sih, badan dia agak montok. Tapi bukan berarti kalau dia pingsan karena kelaparan itu gara-gara diet. Enak saja.
"Oh gak diet, kirain.. lagian ngapain gak makan?"
Jihoon menghela nafasnya. "Soalnya di kantin ada orang gila.."
"Orang gila?" Leeteuk mengulang kata-kata dari Jihoon, ia terlihat bingung.
"Sudahlah, aku malas cerita. Lagipula abang udah tua, gak usah kepo sama urusan remaja.."
Leeteuk langsung mencubit pipi Jihoon, "dasar bocah kurang ajar.."
Jihoon tertawa, ia lalu membuka box makanan yang wanginya sudah melambai-lambai menggodanya,
"Wah, kare!" Jihoon langsung sumringah saat melihat isi box itu adalah makanan kesukaannya.
"Selamat makaaaan..!"
Jihoon dengan bahagia mulai menyantap makanannya dengan cepat. Enak sekali rasanya, apalagi kalau kelaparan seperti ini, jadi lebih nikmat rasanya. Pasti Hyungseob deh yang bawain dia makanan. Cuma dia yang tau kalau makanan kesukaan Jihoon. Hyungseob memang sahabatnya yang terbaik deh.
BRAKK
Tiba-tiba pintu klinik sekolah terbuka dengan kasar. Lalu masuklah Hyungseob, Daehwi dan Jinyoung yang berlari dan langsung memeluknya. Sumpah ini dramatis banget, udah kaya scene di drama korea.
"Aduduh.. Sesak nafasku!"
Jihoon meronta-ronta di dalam pelukan teman-temannya yang hiperaktif itu. Ia berusaha melepas jeratan maut mereka, khususnya Daehwi dan Jihoon. Akhirnya mereka pun melepas pelukan alias cekikannya pada Jihoon sambil tertawa-tawa. Tersisa Hyungseob yang masih memeluknya erat. "Jihoon aku khawatir.."
Jihoon tersenyum, ia menepuk-nepuk kepala Hyungseob dengan lembut. "Makasih ya Hyungseob.."
Begitulah Jihoon, ia cuma soft sama Hyungseob. Daehwi dan Hyungseob yang sudah biasa dianak-tirikan oleh Jihoon hanya bisa memutar matanya melihat perbedaan perlakuan yang diberikan Jihoon pada Hyungseob dengan mereka.
"Kamu kok bisa pingsan sih?"
"Kelaparan dia.." Leeteuk jawab asal nyambung aja, padahal bukan dia yang ditanya.
Daehwi dan Jinyoung langsung tertawa terbahak-bahak. "Pantesan hahahaha"
"Mana mungkin orang kaya gini bisa sakit." Ledek Daehwi
"Iya bener, Idiots can't catch cold. Iya gak?" Tambah Jinyoung.
Kurang ajar itu anak berdua emang, katanya khawatir, datang-datang malah asik ngeledekin dia.
"Kalian berdua keluar gak? Kalau gak aku lempar nih." Jihoon mengambil vas bunga yang terletak di samping ranjang dan memakainya untuk mengancam dua orang anak yang malah semakin terkikik geli melihatnya marah.
"Galak banget deh, ini baru Park Jihoon.."
"Udah turun, gak usah pura-pura lagi deh, kamu kan gak sakit.. "
Jihoon emang gak sakit. Tapi gara-gara dia pingsan tadi lumayan lah, dia jadi gak ikut kelas bahasa Inggris yang ia gak suka. Terus dia dikasih makanan enak lagi. Kan untung banget.
"Ngomong-ngomong makasih ya Hyungseob udah bawain aku makan, kamu emang sahabat terbaik aku deh.."
Hyungseob menatapnya kebingungan. "Makanan? Aku baru aja mau ngasih ke kamu.."
Hyungseob menyodorkan kresek berisi berbagai macam roti dan coklat untuk Jihoon. Loh, kalau Hyungseob baru ngasih makanan buat dia, nasi kare yang tadi ia makan itu dari siapa dong?
"Itu, tadi yang ngasih makanan kamu itu anak yang rambutnya merah, kulitnya rada gelap gitu, giginya gingsul.. dia tadi sama 3 anak lain yang gede-gede banget badannya."
"Heran aku, ada ya anak kaya begitu di sekolah ini.."
Muka Jihoon langsung horor, rasanya ia mau memuntahkan lagi makanan yang sekarang sudah aman bersarang di dalam perutnya. Kalau dari ciri-ciri yang dijelaskan Leeteuk, yang membawakannya makanan itu seperti Park Woojin. Jihoon menyesal sudah memakannya sampai habis.
Bagaimana kalau benaran ada pelet di dalam makanan itu?
Matilah Jihoon.
Walaupun tidak sakit, Jihoon akhirnya bolos kelas selanjutnya dan minta jemput sama abangnya. Ia mohon-mohon sama Leeteuk untuk membuatkannya surat sakit dengan imbalan traktiran makan siang selama dua hari.
Jihoon sudah gak ada mood lagi buat ikut pelajaran yang selanjutnya. Perutnya jadi mual gara-gara mikirin pelet dari Woojin. Selain itu ia malas kalau nanti sampai ketemu lagi dengan Woojin, hari dia udah gak ada tenaga lagi buat ngadepin keanehannya. Jadi mendingan dihindari deh.
-0-
Jihoon datang pagi banget, hari ini memang jadwalnya membersihkan kelas. Tapi karena kepagian jadinya baru dia sendiri yang bersih-bersih.
Jihoon menyapu kelasnya sambil bernyanyi-nyanyi. Udara pagi ini segar sekali, bikin moodnya baik.
Tiba-tiba Jihoon merinding, ia merasakan ada kehadiran orang lain disekitarnya.
Jihoon menoleh ke arah jendela. Dan,
Bunuh aja Jihoon.
Demi apa, ini masih pagi buta. Itu ngapain makhluk astral udah nongkrongin Jihoon aja.
Woojin sekarang sedang nongol di jendela kelasnya sambil cengar-cengir ngeliatin Jihoon. Mukanya sumringah banget, sumpah bikin jijik.
Jihoon langsung pasang muka tidak bersahabat. Ia melotot sambil memonyongkan bibirnya dan sebisa mungkin ia memasang wajah terseram yang ia miliki. Tapi sepertinya tidak ngaruh, Woojin soalnya malah tambah senyam-senyum ngeliatin dia.
Masih pagi padahal, tapi mood Jihoon udah rusak gara-gara ini.
"Jihoon sayang.. lagi piket ya?"
Jihoon gak mau jawab.
"Kok bisa ya ada orang nyapu lantai aja kelihatan manis banget.."
Jihoon masih gak mau respon.
"Nggak manis ding, cantik.. cantik banget kaya bidadari.. sampai-sampai aku jatuh cinta setiap melihatnya.."
"Kau begitu sempurna~"
"Dimataku kau begitu indaah~"
Jihoon langsung lari ke arah jendela dan ngibas-ngibasin sapunya ke arah muka Woojin. "Hush hush! Pergi sana! Dasar pantat kuali! "
"Ganggu aja orang piket! Gak usah pake nyanyi-nyanyi suara lu tuh fals tau gak!"
Bukannya pergi, Woojin malah tertawa. "Ih, Kamu gemesin banget kalau marah-marah begitu deh.."
"Mau abang bantu gak nyapunya? Tapi sapunya satu aja ya, supaya tambah romantis.."
Argh, Jihoon beneran kesal. Itu anak beneran ngeselin banget deh. Gombalannya itu gak banget,terus gayanya norak banget, bikin sakit mata—itu ngapain baju pake dikeluar-keluarin segala, celananya sobek-sobek lagi. Dasar sok preman.
Jihoon melepas sepatunya dan berpura-pura mau melemparkannya ke arah Woojin.
"Pergi gak?" Ancamnya.
Woojin tertawa. Ia pun pergi, sambil sebelumnya sempat mengedipkan matanya dan membuat hati dengan jarinya untuk Jihoon.
Jihoon akhirnya melempar sepatunya, sayangnya targetnya itu sudah lari sambil tertawa-tawa. "Dasar norak."
-0-
"Eh Jihoon, Woojin kayanya beneran naksir banget sama kamu deh."
Mereka sedang makan di kantin dan tiba-tiba Daehwi bahas topik yang Jihoon benar-benar benci. Remaja berpipi tembam itu pun langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Hyungseob yang duduk disebelahnya pun langsung membantu menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu agar batuknya cepat berhenti.
"Ih Najis!"
"Ckck. Gak boleh ngomong gitu, nanti suka beneran tau rasa loh.." Jinyoung nambahin.
Kenapa sih dua bocah ini kompak banget mojokin dia. Gak kaya Hyungseob yang baik banget, gak banyak komen.
"Tapi kayanya emang iya deh Jihoon.. Woojin beneran suka sama kamu.." Hyungseob akhirnya ikut nambahin. Dan seketika Jihoon merasa terkhianati.
"Nggak! Dia tuh cuma mau ganggu aku aja!"
Daehwi menggeleng, ia menunjuk ke arah meja dimana Woojin sedang duduk bersama tiga bodyguardnya. "Lihat tatapannya aja ngarah ke kamu terus tuh."
"Masa kamu gak bisa lihat sih, sangat jelas ada cinta di matanya.." Mulai lagi deh Daehwi sok puitis.
"Iih apaan sih jijik tau!"
Walaupun mengingkari, Jihoon akhirnya terpaksa melihat ke arah Woojin karena penasaran dengan ucapan Daehwi. Dan saat itu, mata mereka tak sengaja bertatapan. Woojin langsung sumringah, ia langsung dadah-dadah ke arah Jihoon.
Ughh, ngeselin. Jihoon langsung bikin muka jelek dan julurin lidahnya ke arah Woojin.
"Tuh kaaan.."
"Pandangan dia emang cuma ke kamu doang hoon.." Jinyoung nambahin.
Daehwi kegirangan, ia memukul-mukul bahu Jinyoung sambil tertawa-tawa. "Sweet banget deh, all eyes on you~"
Jihoon geli sendiri dengarnya. Walaupun memang udah jelas banget, tapi dia masih gak mau percaya Woojin beneran naksir sama dia. Ia masih gak ngerti sih, gimana ceritanya orang yang kamu pukul malah jadi suka sama kamu.
Ini kan bukan drama Meteor Garden.
Woojin bukan Tao ming tse, dan Jihoon bukan Sanchai.
Di dunia nyata, seharusnya Woojin bakal benci banget sama Jihoon setelah ia pukul, bukannya malah suka seperti ini. Beneran gak mungkin banget makanya. Pasti ada maksud lain dari Woojin ngejer-ngejer dia kaya begini. Jihoon gak boleh terlena, ia harus waspada. Siapa tau ini memang rencana jahat dari Park Woojin untuk balas dendam padanya.
-0-
Tampaknya semakin Jihoon mengabaikan Woojin, semakin keras pula usaha bocah bergingsul itu untuk mencari perhatian Jihoon.
Sekarang, setiap pagi selalu ada hadiah di atas meja Jihoon.
Bunga lah, coklat lah, boneka lah. Macem-macem deh. Tapi yang paling bikin dia geli bukan hadiahnya. Tapi surat cinta yang menyertainya.
Karena Jihoon sudah terlanjur jijik, jadi kalau gak Daehwi, ya Jinyoung yang bacain isi surat itu untuknya setiap hari. Jihoon udah gak peduli lagi teman-teman sekelasnya jadi tahu isinya dan membuatnya menjadi bahan ejekan untuknya. Bodo amat, ia sudah lelah, marah-marah juga percuma. Woojin gak bakal berhenti juga ngasih surat gak jelas kaya gitu buat dia.
Tapi ada satu hal yang paling gak masuk di logika Jihoon sekarang. Yaitu Daehwi bersikeras untuk menyimpan surat-surat terkutuk itu. Padahal Jihoon biasanya langsung buang ke tempat sampah. Daehwi bilang dia mau ngumpulin bukti, siapa tau Woojin sama Jihoon akhirnya jadian, itu surat mau dipake buat blackmail-in mereka.
Terserah aja deh. Yang penting Jihoon udah gak pegang lagi. Dia takut kalau lama-lama di dia, itu surat sebenarnya ada jampi-jampinya.
"MAWAR BERDURI, BEGITU HARUM MEWANGI DAN INDAH DIPANDANG. TETAPI BERBAHAYA.."
"MAWAR ITULAH DIRIMU PARK JIHOON, KAU CANTIK, TAPI KAU MENYAKITIKU DENGAN DURIMU.."
"OLEH KARENA ITU TERIMALAH CINTAKU.."
"TERSAYANG, PWJ."
Daehwi dan teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak selesai mendengar puisi absurd dari Woojin untuk Jihoon, yang dibacakan oleh Jinyoung dengan penuh penghayatan. Disebelahnya, Daehwi memperagakan puisi itu sambil menggigit mawar yang datang bersamaan dengan suratnya. Sekarang memang sudah menjadi agenda tetap di kelas Jihoon untuk mendengarkan lawakan pagi yang berasal dari surat cinta Woojin untuknya.
"Sumpah yang ini konyol banget. Parah!" Daehwi mengusap air matanya yang mengalir karena terlalu banyak tertawa.
"Itu anak cocok banget jadi pelawak."
Jihoon geleng-geleng kepala aja, se-enggak mengertinya dia sama puisi, ia aja tau kalau itu puisi ngaco banget. Kok bisa-bisanya itu anak kepikiran bikin begituan ya. Terus pede lagi dikasihin ke Jihoon.
"Terima aja lah, kasian dia.." Jinyoung mulai menggodanya lagi.
"Gak rugi kok pacaran sama dia.. udah lucu, anak orang kaya lagi.." Daehwi nambahin.
Jihoon bukan tipe orang yang lihat seseorang dari kekayaannya. Masalahnya First impression Woojin ke dia itu sudah jelek banget, makanya sampe sekarang Jihoon masih gak percaya sama dia. Masa anak preman kaya gitu bisa baik. Lagian Woojin bukan tipe dia banget.
Tipe Jihoon tuh anak yang pintar, berkarisma, ganteng, terus gayanya elegan.
Kaya kak Minhyun, atau kak Jonghyun. Kaya gitu lah tipenya.
Bukan yang norak, aneh dan gak jelas kaya Park Woojin.
"Kalian kok jadinya malah pada belain dia. Kemarenan bukannya kamu sama kamu.." dia noyor Jinyoung dan Daehwi satu persatu. "Juga ikutan jelek-jelekin dia.."
"Tapi dia kayanya baik kok. Soalnya dia tulus banget kayanya sama kamu hoon.."
Jihoon menghela nafasnya. Ia juga sih. Padahal itu anak udah berkali-kali Jihoon kasarin, tapi masih aja ngejer-ngejer. Harusnya kalau dia emang jahat dia bakal marah terus berhenti suka sama Jihoon.
Tapi ini enggak.
Apa iya, dia beneran suka sama Jihoon?
"Pikirin aja dulu Jihoon.. aku rasa sebenarnya dia anak yang baik kok.." Hyungseob menepuk bahunya untuk meyakinkannya.
"Tapi kalau gak suka gak usah dipaksain.."
Iya ya, Jihoon kayanya harus pertimbangkan deh.
-0-
Jihoon udah mikirin semaleman, sampai-sampai ia harus merelakan tidur cantiknya. Ia bahkan bela-belain minjam semua surat dari Woojin yang disimpan oleh Daehwi. Jihoon bacain satu-satu dan menganalisanya.
Kesimpulannya?
Jihoon gak ngerti.
Masalahnya itu surat absurd banget isinya. Jihoon yakin Woojin pasti pergi ke Mars dan balik lagi ke bumi cuma buat dapetin inspirasi buat nulis puisi itu. Makanya orang bumi kaya Jihoon mana ngerti maksudnya.
Akhirnya sekarang, Jihoon benar-benar menyesal udah meluangkan waktunya buat berpikir dan mempertimbangkan Woojin. Soalnya dia gak nemu apa-apa yang bikin Woojin keliatan bagus untuknya.
Padahal awalnya Jihoon mulai kasihan sama dia, tapi yang ada anak itu malah tambah keliatan bodohnya dihadapannya.
-0-
Jihoon yang kurang tidur itu beribu-ribu kali lebih menyeramkan dari ia yang biasanya. Kalau ia kurang tidur moodnya itu jelek, terus badannya jadi lemas, mau senyum aja susah. Makanya mukanya ditekuk, dan jangan coba-coba menganggunya.
Berani senggol, siap-siap aja kena bacok.
Hyungseob udah ngerti Jihoon yang begini. Jadi dia udah ngasih warning buat teman-teman sekelasnya untuk libur godain Jihoon dulu pagi ini.
Tadinya Hyungseob mau singkirin dulu hadiah Woojin yang ada di meja Jihoon supaya mood sahabatnya itu gak tambah jelek. Tapi ia terlambat karena Jihoon sudah melihatnya duluan.
Kali ini hadiahnya di dalam box.
Boxnya cantik banget, warnanya pink. Ada bunga-bunga ditempelin diatasnya. Gak kaya biasanya yang absurd bentukannya.
Tapi ternyata respon Jihoon gak seperti yang Hyungseob bayangkan. Jihoon hanya menghela nafasnya. Ia lalu memasukkan box itu dalam tasnya tanpa mengecek isinya sama sekali.
Tanpa bicara apa-apa lagi, ia lalu tiduran di mejanya.
Jihoon beneran gak ada tenaga buat ngerespon semua lawakan ini. Sekarang dia berharap satu hari saja, Woojin bisa berhenti mengganggunya.
Jihoon aja capek. Memangnya itu anak gak capek juga apa?
-0-
Karena malas ke kantin Jihoon nitip makanan ke teman-temannya. Hari ini pokoknya Jihoon mau sebisa mungkin menghindari masalah. Walaupun sebenarnya di kelas juga ia tidak aman, tapi setidaknya risikonya bisa lebih diminimalisirkan.
Jihoon mencoret-coret buku tulisnya, menghabiskan waktu sampai teman-temannya tiba dari kantin. Ia malas baca buku, terus kalau disekolah mereka memang dilarang bawa handphone. Jadi ya Jihoon gak tau mau ngapain lagi.
'JIKA AKUUU BUKAN JALANMUUU~
KU BERHENTI MENGHARAPKANMUU
JIKA AKU~
MEMANG TERCIPTA UNTUKMU~
KU KAN MEMILIKIMU~
JODOH PASTI BERTEMU'
tiba-tiba ada suara-suara nyanyian disertai suara riuh orang-orang menyorakinya. Kalau dengar dari suaranya, firasat Jihoon langsung buruk.
Tiba-tiba Daehwi masuk ke kelasnya sambil berlari. Ekspresinya antara cemas campur nahan ketawa. Ia langsung menghampiri Jihoon dan menariknya keluar.
"Jihoon kamu harus lihat!"
Jihoon dibawa keluar kelasnya, dan sampai di depan ia cuma bisa mengurut keningnya.
Tolong, jangan hari ini..
Jihoon udah gak tau mau respon bagaimana lagi ngelihat sumber dari masalahnya beberapa minggu terakhir ini, Si bocah aneh—Park Woojin lengkap memakai jas dan membawa sebuket bunga di tangannya. Di belakangnya—entah dia ngumpulin bala bantuan dari mana, tapi sepertinya semuanya adik kelas, mereka membawa alat musik, gitar yang macem-macem jenisnya yang udah kaya orchestra beneran. Terus ada juga yang lainnya, mereka pake kaos pink dengan tulisan norak.
Woojin ❤ Jihoon
Jihoon rasanya udah mau pingsan di tempat. Ngapain itu bocah bawa rombongan serenade buat dia. Jihoon benar-benar lagi gak mood hari ini, Woojin malah semakin memperburuk suasana hatinya dengan melakukan hal memalukan seperti ini.
Dan demi apa, Ini di koridor sekolah pada jam istirahat. Tentu saja mereka akan jadi tontonan.
Daehwi dan Jinyoung keadaannya sekarang benar-benar gak karuan. Muka keduanya merah karena menahan ketawa, tapi mereka gak enak melihat Jihoon yang kelihatannya bete banget.
Mau tertawa tapi takut kena tampol.
"Lu ngapain?"
Jihoon akhirnya bicara. Suaranya bergetar karena menahan emosinya. Di belakangnya Hyungseob memegangi lengannya, mencoba menahannya dari lepas kendali.
Woojin yang sepertinya tidak menyadari suasana hati Jihoon, sekarang tersenyum-senyum. Ia pun mengisyaratkan orang-orang dibelakangnya untuk mulai memainkan alat musiknya. Anak-anak berbaju pink mulai bernyanyi. Woojin mendekati Jihoon dan menyodorkan bunga.
Musik pun berhenti.
Woojin menarik nafasnya dalam-dalam, ia menatap Jihoon yang sedang menundukkan kepalanya.
"Park Jihoon. Aku sangat menyukaimu, maukah kau jadi pacarku?"
Suasana langsung riuh, karena orang-orang yang menonton ikut menyoraki mereka. Namun, masih tidak ada respon dari Jihoon, remaja manis itu masih menundukkan kepalanya, tangannya mengepal disamping tubuhnya.
PLAKKKK
Keadaanya jadi hening saat Jihoon menampar Woojin kencang.
Woojin hanya terdiam di tempatnya saat Jihoon berteriak kalau ia membenci Woojin dan lari menerobos barisan orang-orang yang berkerumun di sekeliling mereka.
Woojin tidak mengerti, mengapa Jihoon begitu marah padanya. Apakah ia sudah melewati batas?
"Woojin.."
Woojin mendongak dan melihat Hyungseob, sahabat Jihoon yang dulu pernah ia ganggu, sedang bicara padanya. Sekarang orang-orang disekitar mereka sudah bubar, karena mereka pun merasa canggung dengan apa yang terjadi.
"Maafkan dia ya, hari ini memang suasana hatinya sedang tidak baik, dan sepertinya ia salah paham denganmu."
"Tapi aku tau kok kalau kau benar-benar menyukainya.."
Woojin mengangguk. "Ya, aku gak pernah suka sama orang lain seperti aku menyukainya.."
"Kalau begitu apakah kau akan menyerah?"
Woojin tersenyum, namun terlihat ada kesedihan di matanya. "Aku tidak akan menyerah, tapi mungkin untuk saat ini aku akan memberikannya waktu. Mungkin memang yang aku lakukan benar-benar menganggunya saat ini. "
"Oleh karena itu aku akan sabar menunggunya.."
-0-
Yay, chapter 2!
terima kasih untuk yang udah baca dan review..
semoga kalian suka dengan chapter ini, selamat membaca! :))
