Genre: Action (Real) dan Humor (Main), Sport (Car Racing & Tuning), Drama (Tidak yakin)

Rating: M (bahkan bisa saja MA)

Warning: Typo, OOC, Non canon (Maybe! Semi AU), Non KBBI


Disclaimer:

Shutokou Battle dan Kaido Battle Series © Genki

Drift Spirits © Bandai Namco

High School DxD © Ichiei Ishibumi (Visual) & Miyama-Zero (Ilustrasi)

Initial D © Shuichi Shigeno

Wangan Midnight © Michiharu Kusunoki

Love x Evolution © evee

Mobil - mobil yang disebutkan juga bukan milik saya. Hanya OC dan plot milik saya


Legend / Keterangan:

"Drift": Talking / Bicara

'Drift': Thinking / Berpikir / Mental Communication / Telepati

Drift: Pesan / SMS / Telepon

*Drift*: Efek Suara

[Drift]: Talking / Bicara (Monster / Sejenisnya)

{Drift}: Thinking / Berpikir (Monster / Sejenisnya)


SHUTOKOU BATTLE : INTO FAITH

Proloque #2

Tokyo Highway, En route to Wangan...

10:57 pm

Normal POV

Sebuah Nissan Skyline GT-R V-Spec ungu metalik melesat melalui jalan raya Tokyo yang tenang. Sepintas mobil itu terlihat seperti mobil standar. Namun apabila dilihat dari gerakan mobil itu, mobil ini sebenarnya adalah mobil modifikasi, buktinya adalah laju mobilnya yang mencapai 300 kph dengan mudah.

'Ini Tokyo?' tanya sang pengemudi Skyline kepada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, dia pun dapat melihat Yokohama Bay Bridge, yang menandakan bahwa dia sudah sampai ke Tokyo.

'Chinatsu...akhirnya kita sampai di Tokyo...surga para hashiriya.' Setitik...dua titik dan kemudian titik-titik tersebut menyambung menjadi garis air mata yang mengalir dari matanya.

POV Change: Driver's POV

Tokyo...ya kota metropolitan dan juga ibu kota Jepang. Kota dimana biaya hidup untuk satu hari saja akan membuat kantong anda langsung menipis.

Tapi bukan itu yang aku omongkan.

Ini adalah surga dari para hashiriya...dimana baik pembalap jalan sampai tuner bahkan pembalap professional sekalipun memuaskan hasrat akan kecepatan mereka...membuktikan bahwa merekalah yang tercepat dari yang tercepat.

Bagi aku dan para pembalap jalanan dan tuner lainnya, Tokyo adalah tujuan kami yang utama. Namun masih ada satu tujuan yang paling diprioritaskan dari semua itu...

Mengalahkan "Akuma no Z".

Sebuah Datsun Fairlady S30Z berwarna biru metallik berkekuatan 800 hp.

Dan "Supersonic Legend (Chō onsoku no densetsu)"

Sebuah Subaru Impreza WRX STi Spec C (GDB) berwarna pink dengan tenaga 830 hp.

Dan, kalian pasti bingung kenapa aku mengendarai Nissan Skyline ini? Akan kuceritakan semuanya dengan singkat.

Semua ini dimulai dari dua tahun yang lalu, aku melarikan diri dari rumah.

Serius, aku melarikan diri. Kenapa? Permasalahan dengan akademis? Hidup? Harta? Takdir? Cinta? Harga Diri? Orang tua?

Jawabannya? Tidak salah satu dari itu, tapi semuanya. Iya aku melarikan diri dari semuanya...karena aku gagal dalam semuanya, aku telah mengecewakan diriku.

Karena rasa penyesalan yang mendalam itulah, aku memutuskan untuk melarikan diri dan menanggalkan semua yang kumiliki. Namun aku melarikan diri bukannya tidak meninggalkan semuanya, aku membawa barang berharga milikku dan beberapa stel pakaian yang nyaman. Di saat orang tuaku lengah, aku pun memulai rencana melarikan diriku ini. Dan tujuan utamaku? Pelabuhan.

Dengan memanfaatkan waktu pengecekan kargo, aku pun berhasil masuk ke dalam sebuah kapal kargo. Dan disaat itulah, aku memulai perjalanan hidup baruku ini.

Lima bulan kemudian dengan memanfaatkan jam kerja dan jam tidur para awak kapal mereka sebagai jadwal makan dan mandiku (dan tentu saja, aku mulai berolahraga walaupun itu hanya shadow boxing dan lari ringan) untuk bertahan hidup, kemudian aku sampai di sebuah pelabuhan.

Awalnya aku tidak tahu dimana ini, tapi setelah mengetahui dari percakapan para awak kapal...aku tiba di Jepang, lebih tepatnya, Fukuoka.

Di Fukuoka, aku kemudian memulai hidup baruku ini. Awalnya, aku agak kesulitan karena bahasa mereka (walaupun aku sanggup mengerti sedikit) dan uang yang kumiliki. Beruntung, aku mengkonversikan uang yang ada di dompetku, sehingga cukup untuk makan dan minum...walaupun sedikit.

Di Fukuoka jugalah aku mendapatkan teman sekaligus pacar kelimaku (kehidupan cintaku juga tidak bagus). Berambut coklat pirang dengan gaya ponytail, dengan mata biru sapphire dan haah...bodi seperti gitar Spanyol. Namanya adalah Chinatsu Yaegaki, seorang anak sekolahan dari sebuah SMA terkemuka. Aku bertemu dia saat aku sedang mencari sisa makanan yang masih segar.


Flashback

POV Change

Fukuoka

05:00 pm

Normal POV

"KYAAA!" Seorang perempuan berambut coklat pirang dengan seragam sekolah terhempas ke tanah dengan keras. Dia pun berusaha untuk mencoba bangun, tetapi tidak bisa karena kedua tangan dan kakinya dipegang oleh segerombol orang tak dikenal dengan kuat walaupun dia sudah berusaha untuk lepas sekuat tenaga.

"Nona manis, mari kita bermain..." Ujar sang pemimpin gerombolan tersebut, dimana dia bertubuh sedikit gempal dan berambut keriting. Dia pun kemudian memlepas paksa baju sang perempuan tersebut. Setelah beberapa saat, tampaklah bra putih renda dan pakaian dalam putih polos.

"Oh...nikmat sekali tubuhmu itu. Aku pasti akan merasakan nikmatnya tubuhmu ini saat kugoyang dengan..."

"Ini rape scene ya?" Bunyi seorang yang asing menurut sang pemimpin pun terdengar. Dia pun menghentikan membuka celananya dan berputar menghadap sumber suara. Suara itu ternyata berasal seorang pemuda berbadan tinggi 171 cm dengan mengenakan tas ransel, celana training dan kaos putih polos.

"Bung, kami tidak akan menghajarmu bila kau segera enyah dari sini. Bagaimana?" Ujar sang pemimpin tersebut dengan suara sangar. Normalnya sih bila orang yang kepergok scene macam ini dan dia masih sayang nyawa, dia akan segera kabur.

Sayangnya, sang pemimpin tersebut lupa bahwa bahasanya tidak dimengerti oleh si pemuda tersebut.

"?" Respon si pemuda sambil sedikit memiringkan kepalanya.

"Hei...kau ini budeg apa gimana?" Teriak sang pemimpin gerombolan, sebelum beberapa kata yang diucap oleh si pemuda membuat dia terhenyak.

"Anyone can help me translate?"

'Sial, dia tidak kabur?!' Rutuk sang pemimpin gerombolan dalam hati karena gertakannya gagal karena kesalahan bahasa. Tersadar akan kesalahannya, dia pun menyuruh anak buahnya untuk menghajar si pemuda tersebut dengan sebuah gerakan tangan.

"HEIYAAATT!" Semua orang yang tadi mengelilingi si perempuan tersebut kemudian langsung berlari menuju si pemuda tersebut dengan senjata mereka.

Adapun si pemuda tersebut pandangannya tertuju pada sesuatu di dekat tong sampah tersebut dan segera memungutnya yang sekilas tampak seperti sebuah pistol. Semua anak buah sang pemimpin gerombolan yang tadi berniat menyerangnya langsung berhenti. Melihat hal ini, sang pemimpin gerombolan yang kesal pun mulai membentak anak buahnya.

"KENAPA KALIAN MALAH..." Matanya membulat saat dia melihat senjata yang dipegang oleh si pemuda. 'Kampret. M79?!' Pikirnya saat melihat senjata tersebut. Bukan tanpa alasan, sebab sebenarnya yang dipegang si pemuda ini bukan pistol, melainkan senjata anti tank. 'Kalo dia tembak, bisa mampus gua. Gua masih mau hidup dan menikmati tubuh bohai para wanita,' pikirnya, wajahnya memucat.

"Gimana ini bos? Kita hajar dia sampai mampus apa cewek ini kita bawa kabur?" Tanya salah satu anak buahnya.

"Kita kabur..."

"Bos?"

"SUDAH KUBILANG...SEMUANYA KABUR DARI SINI!" teriak si pemimpin gerombolan dengan nada lantang dan lari terbirit-birit. Sejurus kemudian, anak buahnya pun menyusul.

Adapun si pemuda tadi hanya bingung kenapa mereka kabur, namun hanya sementara sebab dia melihat gadis yang terjatuh tersebut masih menangis syok.

"Hei...kau tidak apa-ap..."

Dan dalam waktu sekejap saja gadis itu pun langsung berlari dan memeluk si pemuda tersebut.

"Ari...arigatou...go...zai...masu[1]," ujar gadis itu lirih sambil menitikan air matanya.

"Ah...ie, daijobu[2]," balas si pemuda dengan sedikit kikuk.

"Nihongo o hanasu koto ga dekimasuka?[3]" tanya si gadis itu, kaget karena si pemuda yang menyelamatkannya bisa bahasa Jepang.

"Ie, sukoshi dekimasu...[4]" balas si pemuda dengan nyegir kuda.


Flashback End

POV Change

Tokyo Highway, En route to Wangan

11:00 pm

Driver's POV

Penyelamatan aneh bukan? Mereka langsung kabur karena senjata yang gua pegang. Itu saja sebenarnya hanya replika M79 lho...kok pada kabur tuh para rapist. Aneh...

Setelah beberapa percakapan singkat, kuketahui gadis yang kuselamatkan itu ternyata bernama Chinatsu Yaegaki.

Dan kehidupanku berubah...


Flashback

POV Change

Rumah Gadis (Chinatsu), Fukuoka

06:00 pm

Normal POV

Sang pemuda dan gadis yang dia selamatkan tadi pun akhirnya tiba di sebuah rumah dua lantai yang sederhana.

"Tunggu sebentar ya, biar aku bukakan," ucap gadis itu dengan mengenakan baju yang dipinjamkan oleh si pemuda tersebut.

'Dia bisa Indo juga...gua terkejut sih,' pikir si pemuda, kagum dengan kemampuan berbicara sang gadis.

"Onii-chan..." kata gadis itu sambil mengetuk pintunya. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka. Seorang laki-laki berambut sama dengan gadis tersebut dengan tinggi 165cm dan mengenakan kaos hitam dan celana pantai putih.

"Dari mana saja kau, Chinacchu...dia siapa?" ujar si pria tersebut.

"Dia orang asing, tapi dia tadi menyelamatkanku dari sergapan para gangster tersebut," balas si gadis dengan panggilan Chinacchu. Si pria itu pun terdiam sejenak.

"Er...apa dia turis?" Si pria itu pun bertanya.

"Tidak, dia hanya..."

*KRYUUUUK!*

Bunyi itu pun terdengar dari perut si pemuda. Adapun si pemuda itu hanya nyegir.

"Ahh...Chinatsu, suruh dia masuk. Akan ku buatkan makanan," ujar si pria tersebut.

~Timeskip~

"Mo...mohon maaf ya, aku telah mengganggu kalian berdua," ujar si pemuda tersebut.

"Ah...tidak, justru aku yang bersyukur. Walaupun mungkin cara pegang sumpitmu harus sedikit kuperbaiki," balas si pria tersebut.

"Mou...kakak, kenapa malah menceramahi dia sih," ujar Chinatsu cemberut.

"Hahaha...kakakmu itu benar Chinatsu, aku memang tidak lihai dalam menggunakan sumpit," sanggah si pemuda tersebut diselingi tawa ringan.

"Aku mengerti. Tidak kusangka orang Indonesia yang datang kerumahku ini...ahahaha," tawa si pria tersebut, "Namaku adalah Toshihiro Yaegaki, kakak dari Chinatsu Yaegaki," ujarnya sambil memperkenalkan diri. Si pemuda ini pun sempat berpikir sejenak saat pria itu (Toshihiro) memperkenalkan dirinya.

"Jean Grandia Armaline Yvalline y Valletta di Vucinic, panggil saja Valletta. Meskipun namaku seperti itu, aku besar di Indonesia, dan aku yatim piatu sejak masih kecil," ujar si pemuda itu.

"Ah, yatim piatu ya...maafkan aku Valletta-san," ujar Tohsihiro, meminta maaf kepada Valletta.

"Tidak apa-apa."


Flashback End

POV Change

Tokyo Highway, En route to Wangan

11:01 pm

Driver's (Valletta's) POV

Ya. Perkenalan itu adalah awal dari semuanya. Awal dari mana aku...

Huh? Kedipan lampu mobil? Aku pun kemudian menatap ke kaca belakangku dan benar sajam, kedipan lampu mobil di belakangku. Ada yang menantangku ya?

Oh ya, ini adalah hidupku...seorang hashiriya. Dan awal dari itu semua dimulai dua hari setelah aku bertemu Chinatsu.


Flashback

POV Change

08:30 pm

Rumah Gadis (Chinatsu), Fukuoka, Normal POV

Kurang lebih, dua hari setelah Valletta diterima sebagai penghuni rumah (atas paksaan Chinatsu terhadap Toshihiro), Valletta dan Chinatsu yang sedang bersantai menonton TV sambil tertawa. Kemudian terdengar suara pintu, dan tampak Toshihiro dengan baju kemeja berkaos panjang dan celana jeans.

"Chinatsu, Kakak pergi dulu ya?" ujar Toshihiro sambil membawa sebuah kunci mobil.

"Iya..." respon Chinatsu santai.

"Mau kemana kakakmu?" tanya Valletta

"Biasa, Meinohama, nambah mileage mobil," balas Chinatsu.

'Meinohama? Mileage mobil?' Pikir Valletta sebelum dia tersadar akan maksud tersirat yang dikatakan oleh Toshihiro.

"Kakakmu itu hashiriya kah?" Tanya Valletta yang sukses membuat Toshihiro memberhentikan langkahnya dan menatap Valletta. Adapun Chinatsu langsung menatap Toshihiro dan seketika tampaklah aura yang menakutkan dari tubuh bohai Chinatsu.

"Ah...itu...aku..." Toshihiro gelagapan seketika melihat aura gelap dari Chinatsu.

"Kakak...sudah kubilang kalau kakak ingin balap jalanan..." ujar Chinatsu dengan nada seram, "Seharusnya, ajak aku juga dong kak. Aku kan bosan main MT di arcade. Sekali-kali Chinatsu mau ngerasain balapan yang nyata itu kaya gimana."

"Aaaarggghh!"

*GUBRAK!*

Dan seketika Valletta dan Toshihiro sukses terjungkal dengan tidak elitnya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun tersadar dari jatuhnya. Dan kemudian mereka bertatapan satu sama lain dengan tatapan terkejut.

'Dafuq, Chinatsu?! Kau speed junkie ya?' pikir Valletta dan Toshihiro bersamaan.

"Ya sudah, ku tunggu sepuluh menit." Perkataan Toshihiro pun langsung disambut oleh respon senang oleh Chinatsu.

"Yey...Baiklah onii-chan," balas Chinatsu singkat dan dengan segera dia langsung menuju ke kamar ganti.

"Valletta-san, kau juga mau ikut?" tanyanya.

"Boleh...tapi aku dengan pakaian ini saja. Baju gua hanya bawa sedikit," balas Valletta singkat.

"Baiklah. Kita akan pergi sekalian beli beberapa baju, kebetulan masih ada uang sisa gajian bulan lalu," respon Toshihiro.


~Timeskip (Masih Flashback)~

08:49pm

Meinohama PA, Fukuoka, Normal POV

Sebuah Mitsubishi Lancer Evolution V berwarna putih standar pun terlihat memasuki PA dari Meinohama yang sudah dipenuhi oleh berbagai jenis mobil. Lancer Evolution V ini kemudian berhenti di antara mobil Toyota Celica GT-FOUR, Skyline GT-R V-Spec II dan Hyundai Accent. Dari mobil Evo V tersebut, keluarlah Valletta, Toshihiro, dan Chinatsu.

"Aku tidak tahu kalau onii-chan cukup disegani sebagai pembalap di sini," ujar Chinatsu sambil bangga.

"Ahahaha..." Toshihiro hanya tertawa grogi.

"Dan aku tidak tahu kalo Valletta-kun sangat lihai dalam masalah mobil," ujar Chinatsu dengan senyuman manis nan imut khasnya.

"Ah...itu biasa saja. Hanya kebetulan koq," balas Valletta dengan nada merendah.

'Iya...tapi kebetulan tentang pengetahuanmu itu yang mengerikan,' pikir Toshihiro disertai sebiji jagung yang muncul tiba-tiba dari belakang kepalanya (baca: sweatdrop).

"Ah, Toshihiro-san, tumben ada Chinatsu-chan dan orang baru, siapa dia?" tanya seorang laki-laki berambut pirang dengan tinggi 171 cm dengan jaket bergaya gothic yang dibiarkan terbuka, baju dalaman berwarna hitam, dan tentu saja...jeans hitam.

"Ahhh...Shirokawa-san, dia Valletta...er dia sepupuku dari Indonesia," balas Toshihiro dengan sedikit gugup.

Adapun orang yang dimaksud sweat drop, 'Fuck? Gua dibilang sepupu?!' sebelum akhirnya tersenyum simpul, 'Setidaknya ga dibilang freeloader.'

"Aku tidak tahu kalau dia sepupumu, ah perkenalkan, namaku Sho Shirokawa dan...ah, yang sedang bermain dengan Chinatsu itu adalah Namiko," ujar Sho sambil menunjuk seorang perempuan berambut biru pendek (sedikit menyerupai bob cut) yang mengenakan celana jeans yang panjangnya hanya sepaha dengan kaos tank top.

"Ahhh...namaku Jean Grandia Armaline Yvalline y Valletta di Vucinic," balas Valletta memperkenalkan dirinya dan mereka berdua bersalaman tangan.

'Itu nama kenapa sepanjang kereta?' Sho sweatdropped mendengarnya disela-sela dia berjabat tangan dengan Valletta.

"Ah, Kau baru di sini?" Tanya Sho.

"Ah..."

"Dia memang baru, kebetulan aku mengajak Valletta dan Chinatsu karena mereka berdua tertarik dengan dunia balap ini," potong Toshihiro.

"Chinatsu? Aku tidak tahu bahwa gadis teman baik adikku akan tertarik dengan dunia yang sama dengannya," ujar Sho, rasa keterkejutannya tumbuh mendengar ucapan Toshihiro barusan. Sejurus kemudian, dia pun menoleh kepada Valletta.

"Baiklah, aku lihat kau memilki determinasi, walaupun kau orang baru. Bagaimana bila kau mencoba untuk menjajalku, anggap saja sebagai ucapan selamat datang ke dunia balapan dariku?" tanya Sho.

"Baiklah...ku terima."


Flashback End

POV Change

Wangan Highway, Tokyo

11:03 pm

Driver's (Valletta's) POV

Pertemuanku dengan Sho adalah awal dari hidupku sebagai hashiriya. Aku dan dia berteman baik selama 5 minggu sebelum dia dan Namiko harus pindah ke Hakone karena pekerjaannya. Aku tidak tahu dia kerja apa, tapi bisa kubilang kerjanya pasti menghasilkan gaji yang cukup besar. Dan poin plus lainnya adalah dia adalah orang yang ramah dan cukup...

*FYOOM! *

Bunyi NOS? Aku pun menatap ke sebelah kanan, tidak ada...saat ku lihat ke...

*VROOOOOOOOM!*

Sial, mobil itu menyalip dari sebelah kiriku. Dan aku tahu mobil apa yang menyalipku. Sebuah Mitsubishi Lancer Evolution VIII MR GSR berwarna merah.

Ah, dasar mobil bandwagon.

Yap, aku benci bandwagon sejak aku bermain MT, kalau kau jago...coba mainkan HiAce atau Supra dan ambil crown Taikan. Dasar payah.

Dengan segera aku membejek gas lebih dalam, aku meilhat speedometer di depanku.

310 kilometer per jam.

Dan berhasil mengejar Evo laknat tersebut sehingga kembali berdampingan satu sama lain.

Dasar payah, aku bahkan tidak punya NOS dan masih bisa mengejar Evo yang masih make NOS. Ah, hashiriya zaman sekarang, mainannya adu NOS.

Dan sedetik kemudian, Evo itu kulewati.

"Hah...dasar payah," gumamku, mengejek siapapun yang mengendarai Evo merah tersebut. Kubejek gasku lebih dalam lagi.

325 kilometer per jam.

Dan dalam waktu sekejap saja, lampu depan Evo laknat itu pun akhirnya lenyap dari kaca belakangku...kemenangan mudah.

Aku bukannya sombong sih, tapi memang itu kenyataannya. Mobil ini 1000 hp bung, ya wajar kalau menang. Kalau ngadunya di C1, mungkin lain cerita...karena disana lebih technical treknya dibanding Wangan.

Oh, Skyline ini adalah mobil yang kubeli dari tempat mobil bekas. Mobil Skyline ini...menurut sang penjual, pemilik mobil sebelumnya berasal dari Tokyo dan dia menjual karena tidak bisa menghasilkan satu kemenangan pun...bahkan di Wangan, sehingga mobil ini bahkan dikenal sebagai The Loser of Wangan.

Tapi di tanganku...mobil ini terlahir kembali menjadi monster.

Oh, aku memang jarang membalap selama di Fukuoka Urban Expressway, karena aku berfokus pada pengembangan mobil yang kubeli ini. Tapi tidak berarti aku tidak membalap. Aku membalap, tapi tidak di Fukuoka...melainkan di sebuah touge di Hiroshima. Dan semua kemenanganku kuraih di sana.

Mengapa aku balapan disana? Singkat saja...mengasah teknik.

Kalau kau bisa mengendalikan monster berkekuatan 1000 hp di jalanan berkelok-kelok nan sempit, itu berarti kau bisa mengatasi jalan tol dengan mudah.

Kemenangan demi kemenangan kuraih, bersama dengan Chinatsu mengemudikan TVR Cerbera Speed 12. Entah dari mana dia mendapatkan mobil itu...bahkan aku dan Toshihiro tidak mengerti sama sekali.

Walaupun aku bisa saja balapan sendiri, aku lebih memilih untuk menjadi mekanik dari Toshihiro dan Chinatsu, nama yang kusebutkan belakang itu kemudian menjadi pacarku setelah beberapa lama tinggal, kurang lebih sembilan bulan atau seperti masa hamil manusia pada umumnya.


Flashback

POV Change

09:30 pm

Rumah Chinatsu, Fukuoka, Normal POV

Valletta dan Chinatsu sedang duduk saling berhadapan di meja makan, sedang menikmati makanan mereka.

"Valletta-san..." kata Chinatsu dengan nada malu.

"Iya, ada apa?"

"Aku...aku...tidak tahu harus mengatakan apa tapi setiap kali aku di sisimu, di bengkel, di jalan raya, di mall...aku serasa...uh rasanya, seperti hatiku berdebar. Entah kenapa...tapi aku...aku..." muka Chinatsu semakin memerah saat dia mulai mengungkapkan perasaannya.

"Oke...Chinatsu, tenangkan dirimu," potong Valletta melihat gelagat aneh dari Chinatsu yang sebenarnya dia tidak sadari. Chinatsu pun menuruti perkataan Valletta dan menenangkan nafasnya sejenak.

"Ah, maafkan aku Valletta-san," ucap Chinatsu, "Tapi..."

"Tapi?" Valletta bertanya dengan bingung, tidak mengerti kenapa Chinatsu kembali menjadi gugup.

Namun yang tidak disangka Valletta, Chinatsu pun maju ke arah Valletta dan menciumnya di bibir.

"Aku mencintaimu..." ujar Chinatsu pelan namun masih mampu didengar oleh Valletta dengan jelas. Spontan saja, muka mereka berdua memerah.

Tidak lama kemudian setelah pengakuan Chinatsu tersebut, Valletta tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Hah...Chinatsu, aku tidak tahu kalu suka denganku," ucapnya sambil menenangkan gejolak hatinya yang masih terkejut dengan deklarasi cinta barusan.

"Valletta, sejak kau menyelamatkan aku...aku diam-diam mulai menyukaimu. Mungkin kedengarannya aneh, tapi itulah..."

*CHU!*

Chinatsu tidak bisa menyelesaikan perkataannya sebab dia langsung dicium dibibir oleh Valletta.

"Tidak usah diberitahukan lebih lanjut, aku juga mencintaimu."

Yang awalnya berupa ciuman singkat kini menjadi ciuman French kiss yang ganas.


Flashback End

POV Change

Wangan Highway, Tokyo

11:04 pm

Driver's (Valletta's) POV

Ahh...sungguh hidup yang indah...serasa kau berada di puncak kejayaan. Hey, kalian kenapa? Pasti berpikiran tentang lemon antara aku dengan Chinatsu ya?

Hahahaha dasar. Sayangnya, aku tidak bisa menceritakannya.

Kenapa?

Akan kuberitahukan...dan ini adalah alasanku ke kota ini.


Flashback

POV Change

01:30 am

Rumah Chinatsu, Fukuoka, Normal POV

Valletta dan Chinatsu yang sudah berpacaran selama duapuluh bulan sedang menikmati kebersamaan mereka dengan tidur bareng di kamar Chinatsu. Hubungan mereka berdua pun disetujui oleh Toshihiro meskipun adanya perbedaan agama antara Chinatsu dan Valletta.

Ketenangan mereka berdua tiba-tiba terganggu oleh suara keras.

*BAM! BAM! BAM!*

Suara tersebut kontan membuat Valletta dan Chinatsu terbangun dari tidur bareng mereka.

"Eungh..." ujar Chinatsu dengan tubuh telanjang yang masih belum tersadar penuh dari tidur indahnya.

Adapun Valletta segera bangun dan mengenakan bajunya lalu menyalakan lampu kamar. Di saat dia hendak membuka pintunya, pintunya langsung terbanting karena Toshihiro. Valletta pun terkejut karena keadaan Toshihiro dengan sebuah pedang dengan luka di sekujur tubunya. Dengan sigap Valletta menutup pintu setelah Toshihiro masuk.

"Astaga! Ada apa denganmu?" TanyaValletta yang panik setelah Toshihiro terjatuh dan melepaskan pedang yang dipegangnya.

"Ka...KAKAK!" Teriak Chinatsu yang baru penuh kesadarannya melihat keadaan kakaknya yang terluka. Ternyata Toshihiro terluka serius di perutnya.

"Chinatsu..." ujar Toshihiro yang masih terbaring lemah, "Valletta, cepat kabur dari sini segera..." lanjutnya.

"Tapi kakak..."

"Chinatsu!" bentak Toshihiro yang bangun dengan perlahan. Chinatsu pun bergidik dan segera memakai bajunya. Toshihiro pun kemudian menoleh ke Valletta. "Valletta, aku minta tolong kepadamu jaga Chinatsu dan tolong amankan ini," Toshihiro melemparkan sebuah kotak kepada Valletta.

"Tolong jaga itu, jangan sampai mus..."

*BRAK!*

"Sial...Valletta, Chinatsu cepat pergi dari sini, aku akan menahan para bajingan tersebut," ujar Toshihiro yang kemudian memegang gagang pedangnya.

"Tapi kakak..."

"Kakak akan menyusul setelah ini," potong Toshihiro yang segera membuka pintunya, meninggalkan Valletta dan Chinatsu yang masih dalam keadaan panik.

"Di situ kau makhluk abnominasi, habisi dia," terdengar suara yang asing dari luar kamar Chinatsu.

Mendengar suara yang asing tersebut, Valletta dengan segera memegang tangan Chinatsu dan keluar dari kamar tersebut. Mereka berdua berlari menuju ke garasi dimana mereka menyimpan mobilnya.

"ARRRGHH!" Terdengar bunyi teriakan Toshihiro. Chinatsu yang mendengarnya ingin berteriak namun mulutnya ditutup oleh Valletta.

"Tenanglah Chinatsu, tenang," bisik Valletta, "Aku tahu kau ingin menyelamatkan kakakmu. Aku sebenarnya juga ingin, tapi ini keinginan kakakmu jadi tolong mengerti keputusan kakakmu," lanjutnya saat melihat Chinatsu meneteskan air matanya. Valletta menghela nafasnya sejenak sebelum...

*BRAK!*

"Kuso...Chinatsu, cepat." Valletta pun kembali menggenggam tangan Chinatsu. Dalam beberapa detik mereka pun sampai di garasi. Namun sesampainya di garasi...

*DOR!*

Valletta menoleh ke belakang, dan melihat seorang pria berjubah hitam dan topi feodora menembakan pistolnya. Valletta sempat meraba tubuhnya sejenak untuk memastikan apa dirinya tertembak, namun dia menyadari siapa yang pria tersebut tembak.

Chinatsu.

Tepat mengenai ulu hatinya. Tubuh imut Chinatsu pun terjatuh beberapa detik setelahnya yang ditangkap oleh Valletta.

"Chi...CHIIINATSUUUUUUU!" teriak Valletta.

"Va-kun...bertahanlah demi impian kita menjadi yang tercepat," ucap Chinatsu lemah sebelum tubuhnya berubah menjadi debu.

Valletta yang melihat kejadian tersebut langsung berlinang air mata ketika melihat pacarnya yang mati menjadi debu tepat di depan matanya. Dia pun kemudian menoleh ke si penembak.

"Kau..."

"Maafkan aku nak, tapi..."

"Tapi..." Valletta mendengus, "Kau membunuh orang yang tidak bersalah."

"Maafkan aku, tapi ini tugasku sebagai excorcist untuk menjaga dunia dari noda-noda dunia," ujar sang penembak dengan lirih.

"Noda-noda?" Valletta pun diam-diam meraba sesuatu dari dalam sakunya, "Apa salah Chinatsu dan Toshihiro sampai mereka harus menerima ajal secepat ini?!" teriaknya sambil menodongkan senjatanya.

"Tolonglah mengerti nak, ini demi kebaikanmu," ujar sang penembak yang mencoba untuk menenangkan diri Valletta.

"Oh...aku mengerti."

Excorcist itu pun tersenyum, "Syukurlah nak...kau mengerti..."

*DOR!*

Tubuh sang excorcist penembak itu terjatuh dengan luka tembak tepat di kepalanya.

"Mengerti, ndasmu. Mereka hanya ingin hidup tenang, apa sih salah mereka sampai mereka harus menderita seperti ini," ujar Valletta yang tadi menembak. Dia pun kemudai menyimpan kembali sebuah pistol revolver merk Smith & Wesson 500 ke sakunya dan kemudian masuk ke dalam mobil berwarna ungu metalik, yang dikenal sebagai Nissan Skyline GT-R V-Spec.

Di dalam mobil tersebut, Valletta kembali meneteskan air matanya. Namun air matanya lebih deras dari sebelumnya.


Flashback End

POV Change

Wangan Highway, Tokyo

11:07 pm

Driver's (Valletta's) POV

Itulah alasannya, Chinatsu dan Toshihiro meninggal. Kedua orang yang paling kusayangi meninggal tanpa alasan yang jelas dari pembunuhan mereka berdua.

Kemudian, aku menepikan mobilku di bahu jalan sejenak dan kumatikan mesin mobilku. Sudah tiga kota kusinggahi dalam empat bulan terakhir ini. Osaka, Nagoya, dan kota ini.

Aku hanya bisa meraung...meraung bagaikan anjing yang kehilangan majikannya. Pada saat kehilangan itu, aku tidak tahu harus berbuat apa, sebelum aku membuka isi kotak yang ternyata adalah sebuah surat yang baru aku ketahui saat aku menepi di sebuah PA. Aku pun kembali membaca surat itu.

Kepada Valletta, sahabatku yang setia...

Mohon maaf bila aku tidak memberitahukan asal-usul tentang kami berdua yang sebenarnya. Nama kami berdua memang Toshihiro Yaegaki dan Chinatsu Yaegaki. Dan kami memang juga suka membalap sepertimu. Namun ada satu kenyataan yang aku harus katakan.

Kedua orangtua kami berasal dari kota Kuoh, yang berjarak 10 km dari Tokyo. Dan kedua orangtua kami bukan sepenuhnya manusia. Ayahku, Masaomi Yaegaki, adalah seorang mantan excorcist. Sedangkan ibuku adalah Cleria Belial, iblis yang diberikan mandat untuk mengawasi kota ini dari segala kebocoran spiritual.

Kami berdua sebenarnya memiliki darah malaikat dan iblis dalam tubuh manusia kami. Ini tidak kuberitahukan demi keselamatanmu dari dunia spiritual Valletta. Walaupun kami berdua terkejut saat kau ternyata juga memiliki keyakinan dan energi spiritual yang kuat...walaupun agamamu bukan agama Nasrani.

Orangtua kami berdua mengungsikan kami ke Fukuoka, dimana paman ayahku tinggal untuk menyembunyikan kami dari pihak gereja maupun iblis karena hubungan terlarang kami. Orangtua kami tentu saja menikah secara diam-diam. Orangtua kami dibunuh beberapa bulan setelah kelahiran Chinatsu.

Paman kami adalah seorang hashiriya yang terkenal di Fukuoka. Aku diajari cara membalap di Fukuoka. Sekarang ini, dia pensiun dan memutuskan tinggal di sebuah kota bernama Hakone, kurang lebih sama dekatnya dengan Kuoh. Dia menjalankan bisnis bengkel mobil modifikasi sederhana.

Maafkan aku, Valletta bila kau tidak diberitahukan rahasia ini. Namun apabila yang terburuk yang terjadi...kami berdua dibunuh oleh excorcist maupun iblis, tolong jangan simpan rasa dendam. Sebab ini adalah resiko dari keturunan kami.

Dan jangan bilang paman tentang rahasia ini apapun yang terjadi.

Tertanda...

Toshihiro Yaegaki

Yap, itu alasan kenapa aku ke sini. Sebenarnya sih, Hakone sudah lewat, namun kenapa aku malah ke Wangan?

Usut punya usut, aku mendapatkan kontak Paman Toshihiro di belakang surat yang ditulis oleh Toshihiro dan ketika kutelpon, dia ternyata tidak berada di Hakone, melainkan Shiodome PA.

Dan dengan ini, perjalananku sebagai pembalap jalanan terhebat...dimulai.


Translation:

[1]: Terima kasih

[2]: Ah, tidak apa-apa kok

[3]: Kau bisa bahasa Jepang juga?

[4]: Tidak hanya sedikit


Ini adalah akhir dari prolog. Prolog sengaja saya buat 2 bagian. Karena ya...berbeda lah isinya.

Mengapa saya memutuskan untuk membuat ini? Simple, bosen bro...liat fanfic High School DxD crossover terbanyak...jiah, Naruto...

Dan kebetulan otak saya sedang ngelantur jauh...maka saya gabungkan saja dengan sebuah game balap yang berjudul Shutokou Battle (Bahasa Inggris dikenal sebagai Tokyo Xtreme Racer), yang kebetulan lagi berniat melihat fanfic yang sinting.

Namun, dikarenakan ketidakadaan nama game tersebut di kolom game, kuputuskan untuk memasukkan ini sebagai crossover dengan Initial D (walaupun lebih cocok dengan Wangan Midnight, atau malah Drift Spirits), walaupun stage awal dari cerita ini akan dipusatkan di Touge (aka Mountain Pass / Jalanan Pegunungan, meskipun Drift Spirits juga berfokus di Touge).

Dan nama Masaomi Yaegaki beserta Cleria Belial ada dalam LN High School DxD (kalau perlu bukti, silahkan cek wikinya), bukan OC. Adapun Toshihiro dan Chinatsu adalah anak dari hasil hubungan pernikahan (gelap, pastinya) antara kedua karakter tersebut. Toshihiro murni OC saya, sedangkan Chinatsu adalah karakter dari Love x Evolution (game berkonsep visual novel menjurus eroge, kalo gua ga salah).

Akuma no Z...pasti orang-orang Wangan Midnight (atau MT, kalau anda penggemar arcade) pada kenal lah.

'Supersonic Legend (Chō onsoku no densetsu)'? Itu terinspirasi dari sebuah Subaru Impreza berwarna pink...jadi secara teknis bukan hasil pemikiran gua, walaupun OC bisa dianggap milik gua.

Dan, karakter utamanya adalah seorang pelarian bernama Jean Grandia Armaline Yvalline y Valletta di Vucinic...OC gua.

P.S: Gua kembali dari hiatus buat cerita gua...

Bila ada keluh kesah mengenai apapun yang berkaitan dengan cerita ini silahkan direview.