FOR SEHUN THE ANSWER IS LUHAN (2/3)
"Aku menyukaimu."
Luhan mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat,ia masih menatap Sehun dengan bingung.
"Luhan,Kalau boleh jujur. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Dan senyummu bisa membuat jantungku berdebar," ucap Sehun tulus, "Dan walaupun terkadang kau konyol dan ceroboh,aku betul-betul menyukaimu."
"Sehun-ah, Aku-"
Luhan menggigit bibirnya lalu menunduk sedih, "Maaf aku tidak bisa."
"Kau sahabatku Sehun," lanjut Luhan.
"Ya aku tahu," Sehun menunduk kecewa.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk mendesakmu menjawabnya. Aku menyatakan perasaanku karena aku hanya ingin kau tahu," ucap Sehun sambil tertawa pahit, "Maafkan aku ya Lu? Aku harap hal yang kuucapkan tadi tidak merusak persahabatan kita."
Luhan tersenyum lalu memegang tangan Sehun erat, "Tidak akan ada yang bisa menghancurkan persahabatan kita. Aku menyayangimu Sehun."
Sehun ikut tersenyum.
'Tidak bisakah kau menyayangiku lebih dari sahabat Luhan?'
"Ah Kalau begitu aku pergi tidur dulu."
"Hmm,Ya selamat tidur Luhan."
"Kau tidak tidur? Ini Sudah larut," tanya Luhan sambil beranjak berdiri.
"Tidak," jawab Sehun sambil merapatkan selimutnya dan menyesap cokelat panasnya, "Aku akan duduk disini sebentar lagi."
Luhan mengangguk lalu meninggalkan Sehun. Setelah Luhan pergi,Sehun menghela nafas dalam.
Kenapa disaat ia yakin dengan perasaannya,Luhan harus menolaknya?
Jujur,rasanya begitu sakit ditolak seperti ini. Tapi Sehun akan lebih sakit jika Luhan memaksakan diri untuk mencintai dirinya.
Jika Luhan tidak mencintainya seperti ia mencintai Luhan,Sehun tidak apa-apa,asalkan Luhan akan terus berada disisinya.
Beberapa hari setelah Sehun menyatakan Cinta, Hubungan Sehun dan Luhan tidak berubah sedikitpun. Dan Sehun bersyukur akan hal itu. Luhan masih saja menempel padanya, ia juga mengenalkan editor novelnya,Kyungsoo,Kepada Sehun. Hari ini juga walaupun Luhan harus mengeram dirinya di kamar bersama Kyungsoo (karena deadline naskah novelnya yang tinggal seminggu lagi) ,ia akan menghampiri Sehun dan memeluk Sehun jika ada kesempatan. Hanya untuk mengatakan bahwa ia merindukan Sehun dan berharap Sehun mau membelikannya Kopi di kafe langganannya.
Sehun sedang menggambar sebuah bangunan dimeja kerjanya saat ia mendengar pintu kamarnya terbuka pelan dan seseorang memeluk lehernya dari belakang.
"Sehun-ah!" teriak Luhan sambil mengayunkan tubuh mereka kekiri dan kekanan, "Aku merindukanmu!"
Sehun tertawa geli, "Ini sudah ketiga kalinya kau menemuiku dan mengatakan hal yang sama. Apa kau sudah selesai menulis? Atau sekarang ini juga caramu untuk menghindari pekerjaanmu?"
"Aniya!" ucap Luhan sambil meletakkan dagunya dibahu lebar Sehun, "Aku sudah selesai menulis! Dan Kyungsoo sudah pulang!"
"Oh,Bagus kalau begitu." Sehun tetap berkutat dengan pekerjaannya membiarkan Luhan memeluknya dan mengusap-usap pipi Sehun dengan jarinya.
"Kau menggambar apa sih?" tanya Luhan akhirnya.
"Rumah kita." Jawab Sehun.
"Rumah kita?"
"Ya,Bagaimana menurutmu?" tanya Sehun sambil menunjukkan hasil gambarnya pada Luhan.
"Bagus! Aku menyukainya!"
"Benarkah?"
"Ya," Jawab Luhan antusias, "Aku ingin jendela yang lebih besar disini." Tunjuk Luhan digambar yang dibuat Sehun. Sehun menurut dan menggambar sebuah jendela yang besar ditempat yang Luhan tunjuk.
"Aku ingin balkon disini, sebuah taman disebelah kanan dengan kolam renang-"
Dengan senang hati Sehun menggambar sesuai dengan yang Luhan inginkan. Karena pada dasarnya Rumah itu akan menjadi rumah impian Luhan.
Setelah Sehun selesai menggambar, Luhan membawa gambar itu keluar kamar Sehun dan menempelkannya diruang tengah mereka. Ia juga menulis "3 TAHUN LAGI,AKAN MENJADI RUMAH LUHAN DAN SEHUN" diatas gambar tersebut.
"Hey Sehun, Besok kau libur kan?" tanya Luhan setelah mereka menempelkan gambar rancangan rumah masa depan mereka didinding.
"Ya,aku libur. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Sudah lama kita tidak jalan-jalan bersama!"
Sehun memperhatikan Luhan yang menatapnya dengan antusias, "Kau ingin jalan-jalan?"
"Ya!Ya!Ya!" Jawab Luhan sambil berjingkak kegirangan.
Sehun tersenyum lalu mengangguk, "Baiklah! Besok Sehun akan menemani Luhan pergi jalan-jalan!"
"Yes!"
"Sekarang Luhan harus tidur. Ia sudah bekerja keras seharian untuk menulis novelnya. Pasti ia lelah."
Luhan mengerucutkan bibirnya, "Sehun benar. Luhan sangat lelah dan butuh tidur."
"Kalau begitu cepat tidur!" ucap Sehun sambil membereskan ruang tengah rumah mereka.
"Tapi Luhan bilang ia ingin tidur bersama Sehun malam ini."
Sehun mememandang Luhan bingung, "Bilang pada Luhan,Luhan dan Sehun sudah dewasa,tubuh mereka berdua tidak akan cukup tidur disatu ranjang."
"Tapi Luhan tetap memaksa! Luhan ingin bersama Sehun malam ini."
Luhan menunduk sedih. Lagi-lagi jurus aegyo yang ia keluarkan sebagai senjata terakhir membuat Sehun luluh.
"Baiklah," Ucap Sehun sambil menghela napas, "Luhan boleh tidur bersama Sehun dikamarnya malam ini."
Luhan tertawa kegirangan dan dengan segera berlari kekamar Sehun. Sehun yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala heran melihat tingkah Luhan yang semakin bertambah umur,semakin seperti anak kecil.
"Sehun-ah!" teriak Luhan pagi itu sambil menindih tubuh Sehun. Sehun terbangun dan mengerang.
"Cepat bangun! Ayo kita jalan-jalan!"
"Bagaimana aku bisa bangun kalau kau menindih tubuhku?" tanya Sehun sambil mengerutkan alisnya,sebal tidurnya terusik karena koala raksasa yang sekarang sedang menindih dan memeluk tubuhnya.
"Ah benar juga!" Luhan beranjak dari badan Sehun dan menarik selimut Sehun, "Ayo cepat bangun dan mandi! Aku akan menunggumu diluar oke!"
"Hmmm.." gumam Sehun malas-malasan.
"Sehun,cepat bersiap-siap atau aku akan menyebar fotomu ketika kau menjadi marlyn monroe di pesta halloween tahun lalu."
"Aku serius." Lanjut Luhan dengan nada yang begitu serius.
Sehun mengerang kesal dan akhirnya beranjak dari tidurnya. Luhan tersenyum puas dan meninggalkan kamar Sehun untuk bersiap-siap juga.
.
.
Akhirnya mereka berdua berangkat setelah memakan waktu dua jam untuk bersiap-siap. Didalam Mobil Sehun, Luhan dengan antusias mengabsen tempat-tempat yang ia ingin kunjungi bersama Sehun. Dari Taman hiburan sampai kebun binatang. Sehun yang sedang menyetir hanya mengangguk setuju,membiarkan Luhan memutuskan tempat yang ia ingin kunjungi.
Akhirnya mereka memilih untuk pergi ke taman hiburan yang terkenal di Seoul. Luhan dengan antusias berlari menuju loket dan membeli tiket masuk untuk mereka berdua.
"Ayo Sehun!" ajak Luhan sambil berlari. Namun Sehun dengan cepat menarik jaket jeans Luhan dan menariknya hingga Luhan berdiri disisi Sehun, "Jangan meninggalkan sisiku. Aku tidak mau hari ini berakhir dengan mencarimu yang hilang karena kau terus berlarian!"
Luhan mendengus kesal walaupun ia menuruti perintah Sehun juga. Ia juga tidak mau mengulang kejadian saat kuliah dulu, dimana ia tersesat ditengah-tengah festival tahun baru. Dan ketika Sehun menemukannya dengan terengah-engah,wajah yang panik dan marah, Luhan berjanji tidak akan pernah meninggalkan Sehun lagi demi mengejar penjual Balon berkarakter.
"Sehun-ah!" rengek Luhan seperti anak kecil, "Kau tidak perlu menggenggam tanganku terus. Orang-orang memandang kita dengan aneh!"
"Mereka pasti mengerti kalau mereka tahu seceroboh apa dirimu."
Sehun dengan tiba-tiba menghentikkan langkah mereka dan menatap Luhan yang sedang merengut kesal.
"Kau mau es krim?"
"Ya!" Seketika itu juga wajah Luhan kembali cerah. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Jika begini ,bagaimana bisa ia melepaskan Luhan begitu saja ? Ia mudah sekali dipancing,bagaimana kalau seseorang memancingnya dengan es krim dan menculiknya? Jadi tidak ada alasan lain kan untuk Sehun melepas genggaman tangannya pada Luhan? Bukan karena tangan Luhan yang terasa pas bertaut dengan tangannya atau rasa hangat yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya, tapi karena Sehun khawatir.
Setelah mereka (kebanyakan Luhan) menaikki wahana di taman hiburan tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Luhan mengusulkan untuk mengunjungi sebuah restoran terdekat karena ia begitu lapar. Sehun menyetujuinya. Karena kalau boleh jujur,menjaga Luhan seharian saja membuatnya kelelahan dan kelaparan juga.
"Luhan!" teriak seorang wanita saat Luhan dan Sehun masuk ke restoran tersebut.
"Oh Yerin!" sapa Luhan ketika ia menemukan wanita yang memanggilnya. Luhan dan Sehun menghampiri wanita itu. Sehun baru pertama kali melihat wanita itu. Ia cantik,berambut panjang dan hitam, dress berwarna peach yang ia kenakan sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna putih.
"Sehun,ini Yerin. Teman kuliahku dulu!" ucap Luhan.
"Hai Aku Sehun."
"Hai Sehun,senang berkenalan denganmu." Ucap Yerin sambil tersenyum dan menjabat tangan Sehun.
"Kau sendirian?" tanya Luhan pada Yerin.
"Ya,aku sendirian."
"Kalau begitu bolehkah kami duduk disini?"
"Tentu!" jawab Yerin antusias. Luhan lalu duduk diseberang Yerin dan menarik Sehun untuk ikut duduk juga disebelah Luhan.
"Aku memesan makanan dulu untuk kita bertiga ya? Tunggu sebentar!" tawar Luhan. Ia tidak perlu menanyakan apa yang Sehun mau,karena ia sudah tahu apa yang Sehun inginkan atau Sehun akan memakan apa saja yang Luhan berikan.
"Jadi apa pekerjaanmu Sehun-ssi?" tanya Yerin.
Sehun mengalihkan pandangannya dari Luhan yang sedang mengantri, "Ah aku bekerja sebagai arsitek disebuah perusahaan kontraktor."
Mereka terdiam beberapa saat. Sehun berpikir,mungkin ini saatnya ia menanyakan sesuatu juga agar keadaan tidak begitu canggung.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku seorang model," jawab Yerin, "Sebenarnya aku ingin menjadi pemain drama musikal di broadway. Tapi aku belum mempunyai biaya yang cukup untuk pergi kesana."
"Oh.." gumam Sehun sambil mengangguk. Well,Sehun memang tidak punya reaksi yang lebih baik.
"Hai maaf lama menunggu! Ini makanannya!" ucap Luhan sambil memberikan burger dan kentang untuk Sehun dan Yerin.
"Mana porsimu?" tanya Sehun pada Luhan.
"Ah! Aku tidak membelinya," jawab Luhan , "Tadi Kyungsoo menelepon. Aku harus cepat ke kantor penerbit karena akan ada rapat untuk membicarakan bukuku!"
"Oh ya? Kalau begitu ayo kita pergi."
"Tidak tidak!" ucap Luhan sambil menahan Sehun untuk pergi, "Aku bisa pergi sendiri, Kau makan saja dulu disini dengan Yerin. Aku takut kau akan bosan menungguku,jadi sebaiknya aku pergi sendiri. Ok?"
Sehun berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya Yerin! Sehun!" Luhan lalu berlari keluar meninggalkan Sehun dan teman wanitanya.
Sehun dan Yerin makan dalam diam. Yerin terlihat gugup sementara Sehun hanya ingin cepat menghabiskan makanannya dan menjemput Luhan. Ia juga memesan makanan untuk Luhan karena ia tahu Luhan belum makan.
Setelah makanannya habis Sehun bergegas membersihkan sisa makanannya dan beranjak pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Yerin.
Sehun mengerang,ia lupa ada Yerin bersamanya.
"Maafkan aku Yerin-ssi. Tapi aku harus segera pergi menjemput Luhan."
"Menjemput Luhan? Lalu bagaimana denganku?" tanya Yerin.
Sehun mengernyitkan dahi,
Well bukan urusanku.
"Kau bisa ikut. Aku akan mengantarmu pulang setelah kita menjemput Luhan."
"Kenapa aku harus pulang? Kita belum melakukan apapun untuk Kencan kita!"
"Kencan?" tanya Sehun bingung.
"Ya kencan."
"Kita tidak berkencan," Jawab Sehun, "Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Bahkan kita bertemu karena tidak sengaja."
"Bagaimana kalau aku memang sengaja menunggu kalian disini?" tanya Yerin jengkel sambil melipat tangannya didada, "Bagaimana kalau Luhan sengaja meninggalkanmu sendiri disini?"
"Apa maksudmu?"
Yerin memutar bola matanya, "Luhan yang meneleponku. Ia merancang kencan buta untukku dan untukmu Sehun-ssi."
Sehun mengeratkan genggamannya dibungkus makanan yang ia genggam.
Luhan?
Kenapa?
Tanpa berkata apapun lagi, Sehun berjalan cepat meninggalkan Yerin yang memanggi-manggil namanya. Ia lalu memacu mobilnya cepat menuju rumah.
Kenapa Luhan melakukannya?
Apa karena pernyataan Cinta Sehun waktu itu?
Tapi Sehun kira masalah itu sudah selesai.
Sehun memarkirkan mobilnya di basement lantai satu rumah mereka. Rumah masih dalam keadaan Sepi jadi Sehun menebak Luhan belum pulang juga. Ia keluar dari mobil sambil berusaha menelepon ponsel Luhan namun Luhan tidak mengangkatnya. Pada saat Sehun menelepon Luhan untuk ketiga kalinya ia melihat sebuah mobil berhenti diluar pagar rumahnya. Ia melihat sosok Xiumin turun dari mobil diikuti dengan Luhan yang turun dibantu oleh Xiumin dari sisi sebelahnya.
Hati Sehun terasa sakit melihat kejadian itu. Namun matanya tidak pernah meninggalkan sedikitpun sosok Luhan yang kini sedang berbicara dan tersenyum kepada Xiumin. Luhan masih belum menyadari keberadaannya hingga Xiumin akhirnya pergi.
Luhan membuka pagar, ia tersentak kaget ketika melihat sosok Sehun berdiri sambil menatapnya.
"Kau,meninggalkanku demi Xiumin?" tanya Sehun tidak percaya.
"Se-sehun,"
"Kau merencanakan semua ini kan Lu?"
Luhan tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya berusaha menghindari tatapan Sehun.
"Perjalanan kita menuju taman hiburan,permintaanmu untuk pergi ke restoran,Pertemuan kita dengan Yerin. Itu semua rencanamu kan Luhan?!" teriak Sehun marah. Ia sakit,Ia merasa terkhianati.
"Maafkan aku Sehun," ucap Luhan akhirnya.
Sehun tertawa pahit, "Apa karena aku menyatakan perasaanku padamu?"
"Apa karena kau tidak nyaman dengan hal itu?" tanya Sehun lagi, "Jawab aku Luhan!"
"Ya! Aku tidak nyaman!" jawab Luhan akhirnya, "Aku tidak bisa terus didekatmu ketika aku mengetahui perasaanmu padaku Sehun! Aku terus merasa bersalah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa! Aku tidak bisa membalas perasaanmu dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk membuatmu melupakan perasaanmu padaku!"
"Karena kau menyukai Xiumin," ucap Sehun, "Lalu kau merancanakan ini Semua. Mencarikan seorang kekasih untukku agar kau tidak merasa bersalah. Bukankah begitu?"
Luhan mulai menangis. Suara tangisannya begitu menyayat hati Sehun hingga ia ikut menangis.
"Apa kau tidak tahu? Aku memendam rasa sukaku padamu selama 10 tahun karena aku takut perasaan ini akan membuatmu terusik. Baru kali ini aku menyatakannya padamu karena aku percaya kepadamu seutuhnya Luhan,aku percaya bahwa kau tidak akan menghindar walaupun aku menyatakan perasaanku padamu."
"Dengar, Jika kau tidak nyaman dengan ini semua. Kau bisa mengatakannya padaku! Jika kau tidak ingin aku mencintaimu katakan saja padaku! Kenapa kau harus melakukan ini semua Lu?!"
Sehun mengusap air matanya kasar lalu menatap Luhan , "Baik,Baiklah. Jika ini yang kau mau. Aku akan mengikutinya. Aku akan melakukan apapun agar perasaanku tidak mengusikmu lagi."
Sehun menaiki tangga menuju rumah mereka dan masuk kedalam rumah. Ia lalu meletakkan makanan yang ia bawa ke sebuah piring dan menghangatkannya dalam microwave. Sehun kembali keluar rumah. Ia melihat Luhan berdiri ditempatnya sambil menangis. Sehun sebenarnya ingin memeluk Luhan tapi ia tidak bisa. Ia tahu dengan memeluk Luhan, Luhan akan merasa tidak nyaman.
"Aku pergi. Aku sudah menghangatkan makanan untukmu." Ucap Sehun dingin sambil masuk kedalam mobilnya.
Sehun takjub, semarah apapun dirinya pada Luhan ia tetap peduli dengan keadaan Luhan. Seperti sudah menjadi nalurinya, Kondisi Luhan adalah kepentingan nomor satu untuknya.
Sehun pergi ke Klub milik teman SMAnya,Jongin. Setelah sampai dan masuk dengan mudah ke klub tersebut, Kuping Sehun langsung dihadiah dentuman musik yang keras. Ia mencari sosok temannya ketika ia melihat pria itu sedang menari disebelah meja DJ diatas panggung.
"Jongin!" teriak Sehun keras setelah –akhirnya- ia berhasil melesak kedepan.
Jongin yang sedang menari langsung berhenti dan memperhatikan Sehun, "Oi Sehun!"
Jongin turun untuk menghampirinya dan memeluknya erat, "Senang bertemu denganmu man! Ini pertama kalinya kau berkunjung ke klubku!"
Sehun tertawa, "Yeah kupikir ini saatnya untuk berkunjung ke klub milik Siswa terseksi di SMAku dulu."
Jongin ikut tertawa sambil merangkul pundak Sehun, "Keputusan yang bagus kawan! Ayo kita ke bar, bartenderku membuat minuman terbaik di Seoul!"
Jongin mengajak Sehun duduk di barnya dan menyediakan beberapa minuman untuk Sehun.
"Kau masih tinggal dengan princess Lulu?" tanya Jongin sambil menyesap minumannya.
"Jongin.."
"Arraseo,arraseo," ucap Jongin melihat ekspresi tidak suka Sehun, "Aku tahu kau tidak suka mendengar panggilan itu."
"Aku ingat betapa marahnya dirimu ketika aku menindas Luhan dan memanggilnya Princess Lulu . Mian." Ucap Jongin sambil tersenyum bodoh.
Sehun hanya mengangguk malas dan meneguk bir yang disuguhkan oleh Jongin untuknya.
Jongin adalah sahabatnya saat sekolah dulu. Mereka berdua terkenal sebagai duo sahabat yang tampan dan pandai berkelahi. Tapi setelah Sehun menyelamatkan Luhan dan berita bahwa Sehun menjadi penyuka sesama jenis juga tersebar disekolah, hubungan mereka menjadi merenggang. Jongin masih berkumpul dengan kelompoknya sementara Sehun memilih untuk menemani Luhan.
"Jauhi dia Hun!" ucap Jongin kala itu, "Semua teman kita mulai menghindarimu!"
"Aku tidak peduli," jawab Sehun, "Aku harus melindungi Luhan."
Jongin tertawa mendengar perkataan Sehun, "Melindungi? Apakah kau sekarang berperan sebagai ksatria untuk princess Lulu-mu itu?"
Dan tanpa bisa dihindari sebuah pukulan dihadiahi Sehun untuk Jongin. Semenjak saat itu mereka tidak pernah bersama lagi.
"Hey perempuan disana memperhatikanmu terus," ucap Jongin sambil menyenggol Sehun dengan sikunya.
Sehun melihat kearah yang ditunjuk Jongin dan melihat seorang wanita sedang memperhatikannya.
"Haruskah aku mendekatinya?" tanyanya pada Jongin. Masih memandangi wanita itu hingga sang wanita tersipu malu.
"Tentu saja kawan! Dia sangat cantik dan seksi! Oh kalau aku jadi kau,aku tidak akan melewatkan kesempatan ini."
Sehun meneguk segelas martini ditangannya sekaligus sebelum beranjak dari kursi bar, "Thanks man. Aku akan menghubungimu nanti."
Sehun pergi meninggalkan Jongin dan berjalan mendekati wanita itu. Ia tersenyum dengan seduktif membuat wanita yang ditujunya tersenyum malu.
"Mau berdansa?"
Wanita itu tanpa ragu menerima ajakkan Sehun untuk berdansa dengan alunan musik yang keras. Wanita itu meliuk-liukkan tubuhnya didepan Sehun sementara Sehun hanya bergerak pelan sambil memegang pinggul wanita tersebut.
"Siapa namamu?"
"Sehun."
"Aku Jungmin."
"Apa kau mau ikut ke rumahku?" tanya Sehun tanpa berpikir panjang. Jungmin berhenti menari dan menatap Sehun sambil tersenyum.
"Tentu saja."
.
.
.
Sehun membuka pintu rumah dengan keras, Jungmin masih menciumi bibir Sehun ganas sambil menarik tubuh Sehun mendekat. Jungmin mendorong tubuh Sehun hingga pintu dibelakang Sehun tertutup. Mereka terus berciuman panas hingga Sehun mendengar sebuah bisikkan pelan memanggil dirinya.
"Sehun?"
Sehun melepaskan ciumannya dengan Jungmin dan menatap Luhan yang berdiri mematung didepan lorong menuju ruang tengah rumah mereka.
"Siapa dia?" tanya Jungmin.
"Teman serumahku." Jawab Sehun dingin, "Ayo kita pergi ke kamar." Sehun menarik Jungmin kekamar dan mengabaikan Luhan.
Sehun mendorong Jungmin ke tempat tidurnya. Dan Sehun terdiam,berdiri ditempatnya.
Apa yang kau lakukan Sehun?
Pikirnya.
Kenapa ia membawa wanita ini ke rumahnya?
"Hey Sehun, kenapa kau masih berdiri disitu?" tanya Jungmin.
Ah benar.
Ini demi Luhan.
Demi menunjukan pada Luhan bahwa perasaannya tidak akan mengganggu Luhan lagi.
Bahwa perasannya hilang dengan cepat dan Luhan tidak perlu cemas lagi.
Demi kenyamanan Luhan.
"Bukankah kau menginginkanku?" tanya Jungmin seduktif.
Sehun menyeringai. Lalu menindih Jungmin dan mencium dan menggigiti Lehernya hingga Jungmin melenguh keras.
Wanita bodoh.
Kalau bukan demi Luhan, Sehun tidak akan melakukan semua hal ini.
Ketika Sehun bangun pagi harinya, ia melihat Jungmin masih disana. Merebahkan kepalanya di dada telanjang Sehun. Sehun dengan pelan turun dari kasurnya dan memakai sweatpants serta kaos putih yang ia ambil dari lemari.
Saat ia keluar kamar ia bisa menghirup harum roti yang sedang dipanggang dari dapur. Dan Saat ia mengintip, Luhan sudah ada disana,menyiapkan sarapan sesuai dengan jadwal harian yang sudah ditentukan mereka berdua sebelumnya.
"Ah,Selamat pagi Sehun," ucap Luhan ramah. Sehun melihat Luhan masih bersikap seperti biasa.
Ia tersenyum pahit.
Apa yang ia harapkan? Apa ia berharap Luhan cemburu melihat ia membawa Jungmin ke rumah?
Jangan bermimpi Sehun, Luhan tidak mempunyai perasaan apapun padamu.
"Pagi," jawab Sehun singkat sambil duduk ditempat ia biasa duduk. Luhan menyodorkan sepiring roti panggang untuknya dan segelas susu, lalu duduk diseberang Sehun.
Keduanya makan dengan tenang. Tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan. Sesaat setelah itu, kamar Sehun terbuka dan Jungmin yang sudah berpakaian dan rambut yang sudah disisir keluar dari kamarnya.
"Ah annyeonghaseyo," sapa Jungmin sambil membungkuk, "Aku Jungmin. Maaf aku tidak sempat mengenalkan diri padamu."
Luhan tersenyum ramah kepada Jungmin, "Ah ya tidak apa-apa. Aku Luhan teman Sehun."
"Ayo duduk Jungmin-ssi. Kita sarapan bersama."
Jungmin dengan kikuk duduk disebelah Sehun. Luhan lalu menawarkan Roti padanya dan mereka kembali makan dalam diam.
"Sepertinya aku harus pulang," ucap Jungmin. Sehun masih memakan roti panggangnya,tidak mempedulikan Jungmin. Luhan yang menyadari bahwa Jungmin berharap Sehun ingin mengantarkannya pulang, menendang kaki Sehun dibawah meja.
Sehun memandang Luhan dengan sengit sementara Luhan memandang Sehun,seperti mengirimkan pesan bahwa 'Hey,Wanita disebelahmu berharap kau mau mengantarnya!'.
Sehun menghela napas lalu menaruh garpu yang ia pegang, "Aku akan mengantarkanmu pulang."
Luhan tersenyum mendengarnya. Jungmin-pun berpamitan pulang dengan Sehun.
.
.
Karena Jungmin Memohon untuk Sehun tinggal sebentar di apartemennya,Sehun menurut. Jungmin dan dirinya sedang mengobrol di dapur apartemen Jungmin ketika ponselnya berdering.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo,apakah kau keluarga dari tuan Luhan?"
"Iya benar," jawab Sehun, "Ada apa?"
"Tuan Luhan pingsan dan sekarang berada di rumah sakit S . Kau bisa-"
Tanpa berpikir panjang Sehun langsung menutup teleponnya dan bergegas menuju rumah sakit. Dengan tergesa-gesa ia berlari menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Luhan. Setelah ia tahu nomor kamar tempat Luhan beristirahat ia segera berlari kesana untuk menemui Luhan.
"Luhan!" pekiknya sambil membuka pintu kamar Luhan. Luhan dan seorang dokter disebelahnya memandang Sehun bersamaan.
"Ken-kenapa ia bisa pingsan?" tanya Sehun sambil mengatur nafasnya.
Dokter itu memandang Luhan sebentar dan akhirnya menjawab, "Karena ia kelelahan."
"Ia pingsan dijalanan,dan seseorang membawanya kesini."
"Apa sekarang ia tidak apa-apa?" tanya Sehun panik, "Apa ia perlu menjalani pemeriksaan khusus? Seperti MRI?CT Scan?"
"Sehun-ah," panggil Luhan sambil terkikik geli, "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Ya! Bagaimana aku tidak khawatir kalau kau-" Sehun menghela nafas. Ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Luhan.
"Sudahlah." Ucap Sehun akhirnya.
"Lagipula aku bisa pulang sekarang. Benarkan dokter?"
"Uh?Eh ya anda boleh pulang," jawab dokter itu, "Kalau begitu aku permisi dulu."
Dokter itu meninggalkan Sehun dan Luhan berdua diruangan itu.
"Sehun-ah,gendong aku." Ucap Luhan sambil duduk dikasurnya.
"Kenapa aku harus menggendongmu?" tanya Sehun sebal,walaupun ia tetap berjongkok dan bersiap menggendong Luhan dipunggungnya
"Karena aku masih lemas. Kau tidak mendengar apa kata dokter?"
Luhan menaiki punggung Sehun,dan memeluk leher dan melingkarkan kakinya diseputaran pinggang Sehun seperti Koala.
"Ya aku mendengarnya," ucap Sehun, "Kau pasti tidak tidur seharian dan menulis hingga pagi! Berhenti menulis hingga kau tidak tidur, Kau butuh istirahat!"
"Siap kapten!" jawab Luhan sambil memberi hormat membuat Sehun mendecak sebal.
"Ah bagaimana hubunganmu dengan Jungmin?" tanya Luhan.
"Baik. Kami berencana untuk bertemu lagi akhir pekan nanti."
"Bagus kalau begitu."
"Yeah," jawab Sehun malas.
"Sehun-ah.."
"Hmm?"
"Jika Jungmin orang yang baik. Kau harus serius berkencan dengannya."
Sehun menghentikkan langkahnya. Hatinya berdenyut sakit mendengar perkataan Luhan.
Sebesar itukah keinginan Luhan agar perasaan Sehun padanya hilang?
"Kau harus berkencan dengan orang yang baik Sehun-ah. Wanita yang mencintaimu seutuhnya. Agar ia bisa menjagamu dengan baik,merawatmu dengan baik," ucap Luhan sambil menguap.
"Ya,ya. Berhenti berbicara dan tidurlah. Kau pasti kelelahan."
"Sehun-ah,"
Luhan akhirnya tertidur. Sementara Sehun menggendongnya hingga tempat dimana mobilnya terparkir.
Ya,ia akan berkencan dengan Jungmin.
Jika itu yang Luhan inginkan.
.
.
.
Satu bulan setelah itu, Jungmin dan Sehun akhirnya berpacaran. Sehun akhirnya mengetahui bahwa Jungmin adalah wanita yang suka berpesta. Jadi tiap akhir pekan Jungmin akan membawanya ke klub untuk berpesta hingga larut malam dan mereka akan diantarkan pulang karena mereka terlalu mabuk. Sehun dan Luhan jarang bertemu karena Sehun sering menghabiskan waktunya di apartemen Jungmin. Saat Sehun pulang ke rumah mereka pun Sehun dalam keadaan mabuk dan biasanya jika ia mabuk, ia dalam mood yang tidak baik. Jika Luhan protes akan kebiasaan Mabuk Sehun akhir-akhir ini,Sehun akan marah dan tetap mengabaikannya.
Seperti suatu malam ketika Luhan mencoba membantu Sehun berjalan kekamarnya dan berkata bahwa Sehun sebaiknya berhenti mabuk. Sehun tiba-tiba mendorong tubuh Luhan ketembok dan menggenggam pergelangan tangan Luhan erat hingga ia kesakitan.
"Kau pikir,siapa yang membuatku seperti ini?!" ucap Sehun. Luhan bisa melihat luka yang Sehun rasakan dari matanya yang merah. Tanpa menunggu jawaban dari Luhan. Sehun menghempaskan tangan Luhan dan masuk kekamarnya.
Malam itu,Luhan baru saja mencoba tidur saat pintu kamarnya terbuka dan ia merasakan seseorang menaiki tempat tidurnya yang tidak terlalu besar.
"Sehun-ah?"
"Hmm.."
"Kau baru pulang?"
"Hmmm," gumam Sehun,menjawab pertanyaan Luhan. Luhan membalikkan badannya menghadap Sehun,Wajah mereka begitu dekat,hingga Luhan bisa merasakan hembusan nafas Sehun.
"Kau mabuk lagi?"
"Yeah sedikit."
Luhan menghela nafas sambil memperhatikan Sehun yang masih memejamkan matanya.
Sehun membuka matanya pelan dan menggenggam pergelangan tangan Luhan.
"Kau harus makan yang banyak. Kau begitu kurus dan pucat." Ucap Sehun sambil mengernyitkan dahi,merasakan pergelangan tangan Luhan yang semakin kecil terasa digenggamannya.
Luhan hanya mengangguk,mengiyakan.
"Lu?"
"Hmm?"
"Jangan tinggalkan aku. Ok?"
"Wae? Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?" Tanya Luhan bingung.
"Entahlah," jawab Sehun, "Akhir-akhir ini aku bersikap buruk padamu. Aku takut,Karena kau tidak tahan dengan sikapku,kau akan meninggalkanku."
Luhan tertawa mendengar perkataan Sehun.
"Aniya. Aku tidak akan meninggalkanmu. Seburuk apapun Sehun, Luhan tidak akan meninggalkan dirinya!Kecuali jika Sehun yang meminta."
"Jeongmal?"
"Hmm.. Jeongmal."
Sehun tersenyum lalu menarik Luhan untuk tidur didekapannya.
"Saranghae Luhan." Ucapnya lalu tertidur sambil mendekap Luhan erat.
Pagi itu Sehun bangun dengan pusing yang menyerang kepalanya. Ia duduk perlahan dikasur sambil memijat kepalanya berharap rasa sakitnya berkurang. Setelah rasa pusingnya mereda, Sehun mencoba untuk memperhatikan ruang sekitarnya dan mendapati dirinya ada di kamar Luhan. Kamar Luhan begitu rapi dengan rak buku dipojok ruangannya. Di meja kerja Luhan banyak tertempel notes kecil berwarna-warni yang Sehun sadari adalah notes dari dirinya. Sehun menemukan sepotong sandwich dengan notes kecil berwarna biru muda Di meja kecil dipinggir tempat tidur Luhan. Ia mengambil notes itu dan melihat tulisan rapi Luhan yang tertulis diatasnya.
Selamat Ulang tahun yang ke 27 Sehun!
Ini hadiahku untukmu!
Maaf aku tidak bisa menunggumu bangun karena aku harus pergi ke kantor penerbit
Setelah Luhan pulang, Sehun dan Luhan akan merayakan ulang tahun Sehun bersama. Ok?
Tunggu aku dan jangan kemana-mana!
Dari Luhan.
Sehun tersenyum melihat notes yang ditulis Luhan. Bahkan ia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Bagaimana Sehun bisa menghilangkan perasaannya pada Luhan ? Jika Luhan bersikap semanis ini padanya?
.
.
Malamnya, Sehun sedang bermalas-malasan sambil menonton TV ketika pintu rumahnya diketuk. Sehun beranjak dari duduknya. Menyangka bahwa yang mengetuk pintu rumah itu adalah Luhan yang sedang bersiap memberikannya kejutan. Dengan senyum yang mengembang Sehun membuka pintu rumahnya.
"Selamat ulang tahun Sehun!" seru Jungmin,Jongin dan beberapa teman yang ia kenal di klub milik Jongin.
Walaupun ia merasa kecewa,Sehun masih berusaha menampilkan Senyum terbaik yang ia punya.
"Wow! Thanks guys!" serunya.
Akhirnya gerombolan teman Sehun masuk dan membuat pesta dadakan yang meriah didalam rumahnya.
.
.
.
Luhan yang baru pulang dari kantor penerbitnya, berjalan dengan semangat sambil mengenggam kotak kue yang ia akan berikan kepada Sehun untuk merayakan ulang tahun Sehun. Saat luhan sampai dirumah,ia bisa mendengar musik yang diputar kencang dari dalam rumahnya. Dengan hati-hati Luhan membuka pintu rumahnya dan terkejut ketika melihat banyak orang yang sedang berdansa mengikuti alunan lagu. Ia pelan-pelan masuk kedalam rumah dan mendapati Sehun sedang duduk disofa bersama Jungmin.
"Se-"
"Wow Princess Lulu sudah datang."
Luhan membeku ditempatnya. Tiba-tiba nafasnya tercekat dan tangannya gemetar. Luhan mengenal suara ini. Suara Jongin, teman yang sering menindasnya dulu. Luhan memejamkan matanya erat,berusaha menghilangkan kenangan buruk yang tiba-tiba berkelebat dipikirannya.
"Sehun.." ia berusaha memanggil Sehun dengan keras namun yang keluar hanyalah bisikkan kecil dari bibirnya yang gemetar.
"Hey-"
Luhan dengan refleks menghempaskan tangan Jongin yang menyentuhnya.
"Jangan menyentuhku!"
"Kau ini kenapa?!" tanya Jongin, "Tenang aku tidak akan menindasmu seperti dulu. Aku sudah berubah," Ucap Jongin sambil menyeringai.
Luhan mengalihkan pandangannya dari jongin hanya untuk melihat seseorang tengah tertawa sambil melihat gambar rumah masa depannya dan Sehun yang tertempel ditembok dan hendak mencoret-coretnya dengan spidol ditangan mereka.
"Hentikan!" teriak Luhan sambil berlari mendekati gambar rumahnya itu.
Dengan keras ia mendorong orang yang hendak mencoret gambarnya itu, dan menutup gambar itu dengan tubuhnya.
"Hey apa masalahmu huh?!" ucap lelaki yang didorong Luhan. Ia kesal karena ia terjatuh dan menabrak meja dengan minuman diatasnya.
Lelaki itu hendak memukul Luhan ketika Sehun dengan cepat berlari kearah mereka.
"Ada apa ini?" tanya Sehun sambil menahan tangan lelaki yang marah itu.
Musik berhenti dan ruangan menjadi Sunyi. Napas Luhan tersengal, ia begitu takut,panik dan marah.
"Keluar," ucapnya pelan.
"Keluar dari rumahku sekarang Juga!" Teriaknya kesal.
Semua yang ada diruangan itu keluar sambil menggerutu kesal.
"Orang aneh," ucap lelaki yang marah itu lalu meninggalkan Sehun dan Luhan berdua didalam rumah.
"Kenapa kau mengusir teman-temanku?" tanya Sehun heran.
"A-aku tidak suka mereka Sehun. Mereka ingin merusak gambar rumah kita."
Sehun tertawa tidak percaya, "Astaga Luhan. Hanya karena hal kecil seperti itu, kau hampir saja dipukuli! Aku bisa menggambar lagi rumah itu jika kau mau."
"Aku tidak mau! Gambar ini sangat berharga untukku! Aku tidak peduli kalau aku dipukuli tapi mereka tidak boleh merusak gambar ini!"
"Jangan Konyol Luhan," ucap Sehun dengan serius, "Aku akan memanggil mereka kedalam dan kau harus minta maaf kepada mereka."
"Tidak Sehun," ucap Luhan sambil mencengkeram tangan Sehun, "Aku tidak suka mereka! Aku tidak Suka melihat mereka ada dirumah ini!"
"Kalau kau tidak suka. Kenapa bukan kau saja yang pergi?!" teriak Sehun penuh emosi.
Luhan memandang Sehun tak percaya. Cengkeramannya di tangan Sehun melonggar.
"Kenapa kau tidak pergi saja?! Bukankah kau memang tidak suka jika hidup denganku?! Kalau begitu kau saja yang pergi!"
"Sehun." air mata Luhan menetes. Dadanya begitu sesak mendengar perkataan Sehun.
"Aku melakukan semua yang kau mau," ucap Sehun, "Aku memacari Jungmin,aku menghabiskan waktu dengannya. Aku menjauhimu."
"Aku melakukan semuanya demi dirimu. Tapi aku tersiksa Luhan," rintih Sehun.
"Sehun-ah," panggil Luhan pelan, "Pernahkah kau berpikir, hal ini juga menyiksaku?"
"Aku akan pergi," jawab Luhan, "Jika aku membuatmu tersiksa. Aku akan pergi Sehun."
Luhan berjalan cepat menuju kamarnya, memasukan bajunya ke koper dengan asal.
Sehun masih berdiri,mematung ditempatnya mendengar perkataan Luhan, melihat begitu terlukanya Luhan saat Sehun mengusirnya, melihat sosok Luhan pergi meninggalkannya. Sehun hanya bisa terdiam hingga ia mendengar pintu rumahnya dibuka lalu ditutup lagi dengan pelan.
Luhan benar-benar pergi.
Sehun lalu menatap kotak kue dilantai. Kue didalamnya sudah hancur karena terjatuh. Sebuah notes kecil tertempel dibagian atas kotak kue tersebut.
Sehun-ah, terima kasih karena sudah lahir didunia ini,
Dan menjadi knights in shining armor untuk Luhan!
Aku mencintaimu.
Luhan.
TBC
