Kelas 9 bukannya serius belajar malah ngelanjutin fic… mana bisa lulus UN nanti!!!! Chapter 2 is out!! Enjoy yah!! Oia, di fic ini ga ada unsur shounen-ai… aku juga suka, Cuma aku belom berpengalaman dalam dunia BL.
Disclaimer:*sambil makan duren*untuk selamanya ga bakal semua yang ada di fic ini jadi punyaku… kecuali DBSK. GWAHAHAHAHAHHAHAHAH!!*keselek biji duren**mati*
Game Disaster
By:Vanilla Amano
Chapter 2:Final Eyeshield 21??
Kakei membuka matanya pelan-pelan. Setengah tersadar, dia merasakan semilir angin membelai rambutnya. "Angin... ini diluar?" pikirnya. Dia menyadari bahwa sekarang dia berada dalam posisi berbaring di 'sesuatu'(yang anehnya) empuk.
"Dimana aku?" dia berusaha bangkit, tapi 'sesuatu' dibawahnya itu mengerang.
"Jangan banyak gerak, dodol..."
"Eh??" Kakei menundukkan kepalanya dan terpekik kaget ketika melihat Sakuraba yang terkapar dibawahnya. "Sakuraba! Masih hidup!?" lekas dia menampar-nampar wajah Sakuraba yang setengah sadar setengah tewas itu.
"Gue udah sadar! Hentikan itu!" Sakuraba menggeplak tangan Kakei kasar, kemudian mengusap-usap pipinya yang merah karena ditampar-tampar barusan. "Ngomong-ngomong ini dimana?" tanyanya kemudian.
"Ga tau. Aku juga baru bangun..." Kakei mengangkat bahunya. "Tapi ngomong-ngomong, apa yang terjadi ya?"
"Ga ngerti ah. Dasar Takami gila." Sakuraba menggaruk-garuk kepalanya yang ga gatel itu. "Kita pasti lagi menjelajah jauh dari dunia kita. Inget apa yang Takami bilang kan?"
"Dunia? Menjelajah?? Jauh??? Kau percaya dia rupanya..." Kakei mencibir mendengar tanggapan Sakuraba barusan.
"Emangnya lo punya penjelasan yang lebih masuk akal dan bisa diterima daripada itu?" tuntut Saturaba sewot. "Aku tanya, emang di dunia kita ada tempat kaya gini!!?" dia menunjuk sekelilingnya kesal. Tau tempatnya Squall pas ketemu Cosmos di Dissidia pertama kali?? Sekarang mereka ada disitu.
" Ga usah sewot gitu kali. Sepele," Kakei bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat Cosmos muncul waktu itu. "Ini pasti semacem device yang biasa dipake buat hologram gitu. Yang jadi masalah adalah... hologram apa yang bakal kelu—AAAAAARRR!!!??" jeritnya kaget karena mendadak muncul Cosmos dari depannya. Cosmos kan kaya hologram. Betul ga sih??
Sakuraba dan Kakei menatap Cosmos dengan takjub. "... cantik..." gumam Kakei pelan begitu dia dapat menguasai kekagetannya.
Sakuraba mendelik. "Apa? Coba Mizumachi denger apa yang lo bilang?"desisnya. Kakei meliriknya sinis.
Cosmos menatap mereka lekat-lekat dengan pandangan sayunya(iya ga sih?? Atau malah merem??) yang biasa. Tiba-tiba matanya melebar kaget, "tapi kalian bukan tokoh dari Final Fantasy series!"
"Hah??" Kakei dan Sakuraba bertatapan cengo. Tiba-tiba…
"Tangkap dia!!"
"Hajaaaaarr!!"
"Dasar mata-mata!!"
"Kejar dia rekan-rekan semua!!"
"Ampun!! Aku ga tau apa-apa!!"
Kakei dan Sakuraba merasa mengenali suara yang terakhir itu. Mereka menoleh. Terlihat Riku sedang bertanding(baca:kejar-kejaran) dengan jurus Rodeo Drive andalannya melawan 10 orang tokoh utama Final Fantasy yang nyasar ke Dissidia dengan jurus andalan mereka masing-masing. Sebenarnya itu merupakan pertandingan yang menarik untuk diikuti, andai 10 orang itu tidak memiliki nafsu membunuh yang intens disetiap jurus yang mereka lancarkan.
"...................." Kakei dan Sakuraba menonton dalam diam.
"Bukannya mestinya kita nolong dia?" tanya Sakuraba sambil menunjuk Riku yang masih dikeroyok.
"Kalo lo mau mati, silakan... gue ga melarang..." tolak Kakei tegas.
"Ng, halllloooooo~! Riku temen kita juga kalee!!"
"Kalo gue punya Devil Bat Ghost, Spider Poison, Rodeo Drive, Trident Tackle or impulse kecepatan dewa, gue akan menolong dengan senang hati..."
"Lo kan juga punya jurus super apalah—namanya—itu! Gue juga punya Everast Pass!"
"Dan karena faktor itu, gue dengan sekuat tenaga menolak. Jurus kita digabung hasilnya sama dengan kematian instant, dodol..."
".................." Sakuraba terdiam. Bukan karena komentar Kakei barusan tapi karena tatapan 10 tokoh Final Fantasy dan Riku kearah mereka.
"Ah! Kakei! Sakuraba!" seru Riku lega begitu melihat 2 orang yang setidaknya dia kenali. Kakei dan Sakuraba jawdropped.
"Apa!? Kalian juga teman orang in!!?"
"Tidak bisa dimaafkan! Bermaksud menyerang Cosmos disaat kami tidak ada ya!!?"
"Oh my goat damn shit…" umpat Kakei pelan.
"Firasatku mengatakan… LARRRIIIIIIII!!!!!!"
***
Akaba melirik Hiruma sembunyi-sembunyi. Pandangan matanya menyiratkan, "haruskah kita percayai orang-orang didepan kita ini?" Tapi Hiruma tidak menggubrisnya. Dia sedang menatap lurus-lurus orang-orang yang ada didepan mereka berdua. 10 orang bertampang antagonis dan berwujud macam-macam balas menatap mereka. Salah satunya yang memiliki rambut panjang perak berada paling dekat dengan mereka.
"Ya, kami bukan berasal dari sini," suara Hiruma yang khas berkumandang diruangan(tempat para antagonis biasa ngumpul di Dissidia) itu. Orang yang berada didekat mereka menatapnya sambil tersenyum mengejek.
"Heh... ya, kami percaya. Tapi apakah kalian ini musuh atau teman... itulah pertanyaan kami sekarang..."
"Kekeke... menurut kalian bagaimana?" pancing Hiruma yang udah kebiasaan didunia gelap kaya gini. Akaba merasa bahwa dia udah bakal mati kalau Hiruma ga ada disebelahnya.
"Anak ini sama sekali tidak memiliki sopan santun... kita bunuh saja?" seorang perempuan yang melayang-layang disana mendadak sudah berada dibelakang mereka.
"Hentikan. Aku merasakan aura-aura aneh dari keduanya. Tuan Chaos pasti senang."
"Kekeke... aura aneh? Kalau begitu jawabannya jelas kan?" Hiruma memperlebar seringainya yang kadang mirip buaya itu. Tiba-tiba Akaba membunyikan gitarnya, lalu dia membenarkan sunglassesnya.
"Fuh... kita mempunya ritme yang sama... harmoni kita akan hebat..." katanya dengan nada cuek yang biasa. Perasaannya kembali tenang setelah membunyikan gitar dan dia mulai bisa berpikir jernih.
"Kekeke..." Hiruma terkekeh sambil melirik Akaba sekilas. "Aku selalu berpikir untuk menjadi tokoh antagonis sekali-sekali..." katanya, berhiaskan seringai setan(atau buaya??) kaya biasa.
Akaba merasakan lirikan Hiruma yang tadi. Dengan tenang, dia berjalan melewati perempuan melayang yang 'melayang' dibelakang mereka dan mengambil tempat duduk disalah satu pilar. "Jreeng," dia mengetes nada gitarnya. Setelah yakin gitarnya sudah distem dengan baik, dia mulai memainkan melodi yang hebat tapi juga mengerikan disaat yang sama(alaaah, lebay), membenarkan sunglasses lalu berkata, "aku mempersembahkan untuk kalian semua... melodi kematian yang baru saja kuciptakan:Doom of Final Fantasy..." kali ini bukan hanya senyum Hiruma yang melebar, tapi juga senyum semua orang yang ada diruangan itu.
"Aku suka mereka. Bawa mereka kehadapan Tuan Chaos."
To be continued...(again, will it be continued??)
Chapter awal di Dissidia FF. udah ketauan kan?? Biarin aja deh kalo ada yang OOC, soalnya cukup pusing bikin chapter ini, apalagi ada tokoh yang gabung sama penjahat. Tolong kasih repiuw, kritik, saran, pujian, amplop, sedekah, recehan, sembako, kertas yang warna pink ada angka 1 nolnya 5, dan lain-lain. Arigato!!
Next, Chapter 3:Dissidia Disaster!!(tunggu tanggal maennya)
