"Tidak apa-apa, atau mungkin kau mau aku temani tidur?"

"Tidak usah. Aku bisa tidur sendiri. Selamat malam Sehun."

"Malam sayang."

.

.

.

.

.

Title : Rain Man

Genre : Romance, Fantasy

Rating : T to M (for save)

Main Cast : Yixing, Sehun, Junmyeon dan nama-nama yang akan tersebut kemudian.

Warning : BOYS LOVE , mengandung unsur "semi" dan bahasa-bahasa yang campur aduk serta tak sesuai EYD. Jangan maksa baca kalo tidak suka mending close aja.

Desclaimer : keseluruhan cerita 100% murni dari hasil ngayal saya, tanpa pemanis buatan. Cast adalah milik kita semua (kecuali Yixing sudah saya taken #digampar) saya hanya pinjam nama untuk keperluan cerita.

Enjoy the story...

.

.

.

.chapter 2

.

"Ayoo Sehun nanti kita terlambat." Teriak Yixing sambil berkacak pinggang didekat pintu apartemen.

"Iyaa...iyaaa... " terdengar balasan teriakan Sehun dari dalam kamarnya.

Pagi ini adalah pagi yang paling kacau bagi Yixing. Biasanya dia akan bangun jauh lebih awal dan mempersiapkan segala keperluannya bersama Sehun dengan sangat rapi, time management Yixing sangat bagus asal kalian tahu saja. Hanya saja, akibat dia tidak bisa tidur nyenyak semalam karena pikirannya terganggu dan baru bisa lelap dini harinya membuat akhirnya telinga Yixing tidak peka terhadap alarm yang berbunyi disebelah kepalanya. Lalu bagaimana dengan Sehun?, bangunnya Sehun ya bangunnya Yixing. Kalau Yixing saja masih molor apalagi Sehun.

"Kau sih pakai terlambat bangun segala." Sehun keluar sambil ngedumel dan membenahi kancing lengan kemejanya

Pletakk...

"Kau juga salah, kenapa tidak pernah bisa bangun sendiri?" Yixing menjitak penuh khidmat tepat di ubun-ubun Sehun, sedang sang korban hanya bisa manyun menahan sakit dengan mengusap-usap kepalanya.

"Cepat kunci pintunya."

"Iya iya sabaar... pagi-pagi sudah kena jitak, kena semprot pula."

Sungguh mood Yixing sangat berantakan hari ini, jadi mungkin Sehun yang harus bisa maklum karena kalau sudah begini, Yixing serasa tak tersentuh.

.

.

.

.

.

Seperti biasa, bekerja adalah hal yang membuat Yixing merasa lelah. Pria berdimple itu memang mencintai pekerjaannya, tapi kadang dia juga bisa merasa jenuh saat harus melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Kali ini untuk mengusir jenuhnya Yixing memutuskan untuk memulai makan siang lebih awal. Memesan segelas ice coffe dan beberapa makanan kesukaannya yang dia nikmati dengan duduk diujung kafetaria dekat jendela yang langsung menghadap taman kantor.

Kunyahan Yixing berhenti sejenak saat telinganya menangkap suara gemuruh dari luar, dengan mata teduhnya ia melihat langit mulai meredup beserta gumpalan-gumpalan awan gelap yang melintas.

"Alamat kehujanan lagi sepertinya. Sehun bawa payung tidak ya?" Yixing membatin sambil kembali melanjutkan makannya.

"Doorrr..."

"Ugh uhuukk uhhuukk..." Yixing gelagapan dan langsung meneguk isi gelasnya. "Sialan, kau ingin membuatku mati?"

Si tersangka hanya terkik, mengambil duduk dihadapan Yixing dan meletakkan tray makan siangnya. "tumben kau makan sendirian?"

"Hmm, aku agak sedkkit bosan hari ini jadi aku makan siang lebih awal."

"Jadi kau juga akan kembali lebih awal?"

Yang ditanya hanya mengangguk, masih sibuk memisahkan beberapa sayuran dipiring yang tak disukainya.

"Makan semuanya, Xing. Semua sayur itu rasanya sama."

"Bagimu. Bagiku hanya wortel dan brokoli yang rasanya masih bisa kuterima."

"Oh iya, Xing. Aku punya kabar gembira."

Yixing mendongak dan melihat mata sipit Sehun terlihat lebih berbinar. "Manajer akan menaikkan gajimu?"

"Tidak, lebih baik dari itu."

Oke sepertinya Yixing tetarik. "Katakan!"

"Luhan akan pulang dari Islandia besok." Sehun mengatakannya dengan semangat dan senyum yang lebar "aku sudah tidak sabar menanti dia sampai di Korea."

Lain Sehun, lain Yixing yang wajahnya berubah emm... entahlah, perpaduan antara malas, sedih, tidak suka tapi juga nampak datar. "Kau bilang dia akan disana 2 tahun, ini baru tahun pertama Luhan."

"Luhan bilang Islandia memang negara yang indah, tapi jika tidak ada aku rasanya seperti tinggal di padang pasir, hahaha."

Yixing hanya tersenyum getir. "Baguslah, setidaknya aku tak perlu repot harus memasak untuk dua orang."

Sehun berhenti tertawa dan menggeser tempat duduknya kesamping Yixing, ada aura tidak enak yang tiba-tiba ia rasakan jadi dia perlu melakukan sesuatu.

"Kau tetap yang terbaik bagiku, percayalah." Sehun mengusap pipi Yixing dengan lembut.

"Tidak perlu menghibur, aku baik-baik saja."

Pria berkulit pucat itu mengecup pundak Yixing yang tertutup blazer. "Percayalah semua tak akan berubah. Aku akan tetap menyayangimu seperti ini."

"Jangan membuatku terlihat mengenaskan. Aku tidak apa-apa." Yixing berpaling berusaha sibuk dengan makanannya.

"Xing..."

Yixing terdiam. Ini yang dia khawatirkan, dia harus rela melepaskan Sehun meski itu harus menyakiti dirinya sendiri.

Dari awal mereka bertemu hingga sekarang, mereka memang tak pernah memiliki status ditengah-tengah hubungan yang mereka jalani. Yixing bertemu Sehun sebagai rekan kerjanya 3 tahun lalu di perusahaan ini. Yixing menyukai orang yang tidak terlalu banyak bicara namun perhatian dan Sehun menyukai orang yang penuh dengan kasih sayang meskipun agak cerewet, beruntungnya itu semua ada pada diri mereka masing-masing. Setahun lebih menjalin kedekatan hingga tercipta perasaan saling percaya lebih dari yang orang lain ketahui, baik Sehun maupun Yixing mulai berusaha untuk mendalami perasaan satu sama lain.

Suatu hari mereka berdua pernah menghadiri konser outdoor dari sebuah band internasional. Rencananya Sehun ingin mengungkapkan keinginannya untuk menyatukan perasaannya dengan Yixing disana, mungkin setelah konser berlangsung atau ketika momennya terasa pas. Namun belum sempat hal itu terjadi, sesuatu diluar dugaan menimpa Sehun. Entah berasal dari mana, tiba-tiba pancaran sinar hijau menyilaukan mata Sehun. Awalnya Sehun tidak sadar dan membiarkan saja sinar itu mengganggu matanya beberapa kali. Tapi saat tiba-tiba pandangannya terasa kabur dan berubah gelap, Sehun baru menyadari kalau itu bukan sinar hijau biasa.

Sehun yang berteriak karena tiba-tiba pendangannya gelap membuat Yixing panik. Dengan segera Yixing membawa Sehun ke rumah sakit dan saat itu juga dunianya berubah.

Oleh dokter, Sehun dinyatakan mengalami kebutaan permanen akibat laser yang memapar matanya terlalu lama. Yixing mendengar semuanya dan dia merasa dungu karena tidak tahu apa yang harus ia perbuat dalam menghadapi hal ini.

Beberapa hari pasca musibah itu, Yixing bahagia mendapat kabar dari orang tua Sehun bahwa Sehun akan mendapatkan pendonor meski hanya satu mata saja. Tidak masalah, setidaknya Sehun masih bisa beraktivitas kembali dengan normal nantinya walaupun mungkin masih ada keterbatasan.

Namun harapan untuk bisa kembali lagi bersama Sehun hanya tinggal angan untuk Yixing. Sang pendonor, adalah Luhan. Mantan kekasih Sehun saat Sehun masih sekolah dulu, ibu Sehun sendiri yang menceritakannya pada Yixing. Lebih menohok hati Yixing lagi bahwa Luhan pernah berjanji pada orang tua Sehun kalau ia akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan Sehun agar Sehun memberinya kesempatan untuk kembali karena Luhan masih sangat mencintai Sehun.

Yixing merasa semakin tidak berguna saat Sehun menerima ajakan Luhan untuk kembali. Sehun beralasan kalau dia tidak punya daya untuk menolak Luhan setelah semua yang dilakukan padanya. Tapi Sehun juga berjanji kalau dia akan terus menempatkan Yixing pada posisi teristimewa didalam hatinya.

Setahun yang lalu, Sehun memberitahu Yixing kalau Luhan akan dikirim ke Islandia oleh perusahaan tempatnya bekerja untuk pelatihan selama 2 tahun. Tadinya Yixing berpikir Sehun akan mengikuti Luhan, tapi Sehun berkata "selama itu aku akan tinggal bersamamu. Aku akan menebus semua rasa bersalahku selama ini, kita lakukan apapun yang ingin kau lakukan bersamaku. Aku juga ingin membuatmu bahagia dan aku juga ingin merasakan bahagia bersamamu. Aku menyayangimu, Xing."

Itulah kenapa setahun belakangan ini Yixing tinggal satu apartemen dengan Sehun, meskipun rencananya 2 tahun mengingat itu yang pernah disampaikan Sehun.

"Harusnya aku yang yang melakukannya saat itu. Harusnya aku yang menyelamatkanmu." Yixing kembali dari bayangan masa lalunya, matanya mulai sembab menahan sakit yang sebenarnya ingin ia sampaikan pada Sehun.

"Tidak sayang, justru aku yang akan merasa sangat bersalah kalau sampai kau melakukan itu. Aku sama sekali tidak ingin kau terluka." Sehun mengusap alira bening yang mulai melewati pipi Yixing.

"Lalu bagaimana dengan sekarang?, kau kembali dengan Luhan karena dia sudah menyelamatkanmu dan kau terlihat sangat bahagia, sedangkan aku harus berhenti sampai disini. Kau pikir kau tidak menyakitiku?" Suara Yixing terdengar sumbang dan begitu lirih.

"Baiklah, mungkin aku hanya bisa minta maaf karena aku juga tak tahu apa lagi yang bisa kulakukan. Tapi kalau kau mau aku bisa membuat jadwal dengan dokter untuk operasi mengembalikan mata Luhan, lalu kita bisa hidup bersama."

"Apa kau kembali pada Luhan hanya karena balas budi?, dan solusi macam apa itu, kau pikir organ tubuhmu itu lego yang bisa kapan saja di bongkar-pasang?"

Sehun memeluk Yixing dari samping dan menyandarkan dagunya dipundak orang yang sebenarnya sangat dia sayangi itu, "Aku minta maaf sayang, aku benar-benar minta maaf atas keadaan ini. Aku sungguh tak mengira kalau jalan cerita kita akan serumit ini dan kau akan terluka sedalam ini. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu."

Saling memeluk seperti itu sebenarnya sudah jadi kebiasaan mereka tak peduli di kantor atau dimanapun, jadi mereka tak perlu sungkan dengan orang-orang disekitar mereka saat ini, mungkin yang sedikit berbeda di hadapan orang-orang adalah Yixing yang biasanya akan bersikap menolak dipeluk Sehun, kini ia hanya diam saja.

"Sehun,"

"Ya..."

Yixing melepas pelukan Sehun dan membuat mereka berdua berhadapan. Dengan mata sembab Yixing memandang dalam ke mata Sehun, kiri dan kanan. "Apa yang kau lihat sekarang?"

"Dirimu." Sehun sebenarnya agak bingung dengan maksud Yixing, tapi dia berusaha menjawab.

"Sekarang apa yang kau lihat?" Kali ini Yixing menutup mata kiri Sehun dengan satu telapak tangannya.

"Gelap, sayang."

"Itu yang akan terjadi pada diriku setelah ini." Yixing melepas tangannya dan beralih menangkup lembut pipi Sehun. "Kau mungkin hanya tahu aku selalu mengomel dan menolak segala kontak fisik yang berlebihan darimu. Tapi asal kau tahu, aku melakukannya karena aku takut suatu saat nanti aku tak siap melepasmu, walaupun kenyataannya sampai sekarang aku tak pernah siap."

"Hidupmu tak akan berhenti meskipun aku tak disisimu, Xing. Kalau kau terus seperti ini rasanya aku ingin mati saja. Aku tidak mungkin meninggalkan Luhan begitu saja tapi aku juga tidak mau membuatmu menderita. Walau begitu kau harus percaya bahwa aku akan tetap dan selalu menyayangimu, datanglah padaku kapan saja saat kau membutuhkanku atau hanya sekedar ingin aku mendengarkanmu. Kau mau mencoba?" Sehun mengecup singkat bibir Yixing.

"Dan satu lagi, aku juga minta maaf padamu kalau mulai hari ini aku tidak akan pulang ke apartemen lagi. Apartemen itu kini milikmu seutuhnya, semua atas namamu jadi kau berhak menentukan siapa saja tamu yang boleh menginjakkan kaki disana, tak terkecuali aku jika memang setelah ini kau membenciku."

Sebelumnya, Yixing memang susah payah menabung untuk membeli apartemen sendiri yang dekat dengan tempatnya bekerja. Karena kalau dia tetap tinggal di rumah orang tuanya, dia memerlukan waktu berjam-jam untuk sampai di kantor. Saat itu jumlah tabungan Yixing bahkan tidak sampai setengah dari harga apartemen yang ingin ia beli, beruntung Sehun melunasi semua kekurangan biaya Yixing -yang kalau dihitung sih sama seperti Sehun membelikan apartemen untuk Yixing- dan mengatasnamakan semua berkas-berkasnya dengan nama Yixing, yang akhirnya mereka tinggali bersama meski hanya setahun.

"Itu juga tempat tinggalmu, kau boleh kapan saja datang. Tidak usah mengetuk pintu atau menekan bel, aku tidak akan mengganti passwordnya. 120715"

12 untuk tanggal lahir Sehun, 07 untuk tanggal lahir Yixing dan 15 untuk tahun dimana mereka membeli apartemen tersebut.

"Tentu saja, aku masih akan sering mengunjungimu saat aku ada waktu." Sehun mengusap air mata Yixing diiringi berbagai perasaan. Perasaan bersalah, tidak rela dan tidak ingin meninggalkan.

"Xing, nanti kan aku sudah tidak pulang lagi ke apartemen kita, boleh kuminta satu saja permintaan sebelum aku benar-benar pergi?"

"Apa maksudmu dengan benar-benar pergi?"

"Maksudku, untuk terakhir kalinya sebelum kau mungkin akan melupakan perasaanmu seiring berjalannya waktu, aku ingin melakukan ini denganmu. Kau bersedia?"

Yixing terdiam memikirkan permintaan Sehun, Yixing tau apa yang akan diminta Sehun, tapi ia tidak yakin apa dia bisa melakukan ini dengan Sehun.

"Kalau kau tidak bisa..."

"Baiklah." Yixing menginterupsi sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya.

Sehun tersenyum tipis dan membelai pipi Yixing lembut sebelum mengecupnya singkat kemudian.

"Pulang kerja, kutunggu kau di rooftop kantor."

"Rooftop kantor?, maksudmu kita akan melakukannya disana?, sekarang?"

Sehun mengangguk mengiyakan, "waktu makan siangmu kurasa sudah habis."

Yixing menengok arlojinya. "Kau benar, kalau begitu aku kembali dulu. Habiskan makananmu, sayang. Sampai jumpa nanti." Gantian Yixing yang mengecup pipi Sehun, sedang yang dikecup hanya membalas dengan senyum hangatnya.

.

.

.

Pukul 05.20 p.m.

Kurang lebih sudah sejak 20 menit yang lalu Yixing menunggu Sehun di rooftop kantor. Sehun bilang dia masih ada urusan dengan atasannya, maklum Sehun dan Yixing memang berbeda divisi. Sembari menunggu Sehun, Yixing menerawang kembali mengenang masa-masa dimana ia dan Sehun menjalin sebuah kedekatan. Dimana Sehun selalu menempatkan dirinya dalam posisi paling penting.

"memang kapan aku pernah pulang lebih dulu darimu?"

Dia ingat Sehun mengatakan itu kemarin dan itu salah satu contoh bahwa Sehun hampir selalu memprioritaskan Yixing. Seberapa lamapun, Sehun akan tetap menunggu Yixing untuk pulang bersamanya. Tidak hanya saat mereka tinggal bersama, tapi sejak awal mereka dekat. Sehun seperti rela berkorban waktu atau apapun itu demi Yixing.

"Lalu apa yang bisa kulakukan untukmu?" Yixingbermonolog, kembali merasa sakit saat kebodohannya malah membuat ia berpisah dengan Sehun. "Harusnya aku yang melakukannya, bukan Luhan."

"Sudah kubilang kau tak perlu melakukan apapun." Sebuah bisikan mengalun lembut di telinga Yixing disertai rengkuhan dipinggangnya.

Yixing tersenyum. "Kau lama sekali."

"Maaf."

"Hanya maaf?, kau tidak ingin melakukan sesuatu sebelum aku berubah pikiran?"

Sehun tertawa singkat, "setelah ini, jangan memintaku berhenti."

Yixing membalas dengan tatapannya yang seolah berkata 'aku terima tantanganmu.'

Tanpa banyak bicara lagi Sehun mendekap Yixing dan langsung meraup bibir seksinya dengan gerakan tegas dan tanpa ragu. Begitupun Yixing yang langsung menerima serangan Sehun dengan mengalungkan kedua lengannya pada leher Sehun.

Permainan dimulai dengan saling menghisap belah bibir masing-masing, atas dan bawah secara bergantian. Sehun terlihat ingin mendominasi, tapi Yixing juga tak mau kalah. Bibir tipis Sehun memang menantang Yixing untuk terus menghisapnya lebih dalam, sedangkan bibir penuh Yixing membuat Sehun menggila hingga ia berpikir setelah ini mungkin ia akan kecanduan.

Setelah bibir, kini mereka memperdalam invasi dengan saling beradu lidah. Suhu tubuh Yixing berangsur meningkat meski suhu udara terus menurun akibat mendung dan hari yang menjelang malam. Sehun mendorong tengkuk Yixing, sementara tangan Yixing bergerilya menuju rambut Sehun untuk melampiaskan segala perasaannya dan menyalurkan hasratnya yang selama ini ia tahan untuk tidak berinteraksi terlalu intim dengan Sehun.

Matahari semakin lekang dari peraduannya dan entah sudah berapa lama kedua anak adam itu saling menikmati sentuhan masing-masing. Meski hanya mulut yang saling membungkam tapi itu sudah mewakili segala perasaan yang ingin mereka ungkapkan.

Sadar bahwa mereka punya paru-paru yang harus diisi udara, mereka mengakhirinya dengan nafas yang terputus-putus. Masih saling menautkan kening sambil merasakan deru nafas dan detak jantung masing-masing.

"Seandinya keadaan ini tidak terjadi, apa kau akan terus menolak kucium?" Ya, hanya itu selama ini yang diinginkan Sehun dan Yixing tau betul, hanya sebuah ciuman yang dalam.

"Hanya Luhan yang membuatku tak bisa melakukannya. Kalau tak ada dia, kapanpun kau minta pasti akan kulakukan. Aku hanya berkata jujur."

"Maafkan aku" Sehun merengkuh Yixing yang juga terlihat nyaman dalam pelukannya, mengakhiri hari dengan akhir dari cerita dan perasaan yang harus mereka pendam.

.

.

.

.

.

Yixing berdiri termangu dibalik jendela balkonnya yang tertutup tirai. Tangannya terus mengaduk teh hangat yang sengaja ia buat untuk menghangatkan tubuhnya di malam hujan begini sekaligus ia berharap aroma teh dapat menenangkan pikirannya yang kalut.

Hujan terdengar semakin deras mengguyur , hujan... hujan... hujan...

"Astaga..."

Yixing baru ingat kalau kemarin malam Sehun berjanji akan menemaninya mencari seseorang yang kemarin mangacaukan pikirannya karena tindakan bodoh orang tersebut. Lalu bagaimana sekarang, apa dia harus menghubungi Sehun dan menagih janjinya sebelum Luhan tiba di Korea?, atau dia biarkan saja dan berjuang sendiri dengan rasa penasarannya?

Yixing menghembuskan nafasnya kasar, tidak tahu jawaban mana yang akan dia ambil, penat sekali rasanya dia hari ini. Bermaksud ingin meringankan beban pikirannya dengan melihat hujan, Yixing berinisiatif membuka tirai jendela balkonnya dan...

"Ya tuhan..."

Praangg...

Yixing terkejut bukan main hingga menjatuhkan gelas tehnya. Seseorang berdiri diujung balkonnya dengan keadaan basah kuyup dan menatap kearahnya. Memori Yixing kembali memutar kejadian malam kemarin, dimana sesorang dengan bodohnya berdiri ditengah hujan tanpa bergerak sedikitpun. Sekarang apa lagi?, seseorang berdiri diujung balkonnya. Yang jadi pertanyaan Yixing, bagaimana dia naik ke balkon apartemen Yixing yang berada di lantai 4?, apa maksudnya bertengger di balkonnya hujan-hujan begini? dan, apakah dia orang aneh yang sama yang dilihat Yixing kemarin?.

Yixing berteriak dari dalam, entah makhluk itu mendengar atau tidak.

"Siapa kau?"

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued...

...

Eng ing eng...

Chapter 2 sudah update dan inilah hubungan yang sebenarnya antara Sehun dan Yixing, miris ya?...

Kayaknya ada yang nanya kenapa Sehun selalu jadi orang ke-3 ya?, itu karena yang aku lihat sih, Sehun kayaknya mulai lengket gitu ama Icing. Malahan nih menurutku video fanmade di youtube banyakan HunLay daripada SuLay. Sedih sih, sebagai official couple si papih sama mamih jarang bikin momen. Menurutku HunLay kyutt juga kok hhehe, tapi tetap saya tak akan berpaling dari SuLay #hidupSuLay

Dan untuk yang kasih saran supaya alurnya jangan terlalu banyak bercanda dan selipan-selipan gak penting itu, aku ucapin terimakasih banyak buat kalian semua. Maaf ya kalo bacanya jadi gak nyaman. Aku emang orangnya rada slengekan gitu, suka becanda, jadi kebawa pas nulis. Kedepannya semoga aku bisa nempatin becandaan itu di porsi yang pas.

Nah, kalo chap ini aku emang niat ngebangun feel jadi gak aku selipin canda-candaan, semoga kali ini feelnya lebih dapet dan kalian lebih nyaman bacanya. Yang nungguin Suho keluar sabar ya, Suho lagi latihan ngafalin script :D

Well, Happy Reading and Review juseyoow...!

Thanks To :

Kerdus Susu , cumi-cumi , demiapa , Regina Pearl Luce , qwertyxing , chenma , baymaxhug , Guest , may , MinieZhang , SeonRa12 , micopark , xingmyun