FOLLOWING THE BROKEN ROAD BACK TO YOU

Written by EXObubz

Original Story

exobubz livejournal com/61796 html

.

(spasi diganti titik)

Indo Trans

Translated by Beescrescent75

PART 1

.

.

Langit tampak suram dihari Baekhyun mendapat kabar kecelakaan ayahnya, yang mana menyatakan bahwa ayahnya lumpuh untuk sementara waktu. Ini terlihat aneh (walau nyatanya, memang sangat aneh) dimana ayahnya meminta hal tidak sewajarnya yakni meminta anak laki-lakinya untuk kembali ke desa. Baekhyun akhirnya meminta cuti dari pekerjaannya sebagai seorang model profesional untuk memenuhi permintaan ayahnya yang sedang membutuhkannya sementara waktu, dan bersamaan dengan permintaannya untuk kembali pulang ke rumah, sang ayah juga memintanya mengelola bisnis keluarga selama proses penyembuhan.

Kotor, kotoran, lumpur, dan hal-hal kotor lainnya adalah semua yang terpikir oleh Baekhyun ketika ia mengemasi barangnya, di malam sebelum kepulangannya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan peternakan. Memberi makan ternak, yang mana menguntungkan untuk kebutuhan manusia dan juga memberi kesenangan tersendiri disaat mereka mengalami patah hati atau saat sedih. Akan tetapi hal itu bukanlah hal yang menarik baginya. Mengolah peternakan, menjalankan traktor, memerah susu, memberi makan ternak jelas bukan hal yang menarik baginya. Entahlah, hanya bukan tipe hal yang menarik baginya, dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa ia meninggalkan desanya di usia 21 tahun, pergi ke kota untuk meraih mimpinya.

Hal yang ia lakukan tidaklah berjalan dengan sangat mulus tanpa pengorbanan yang berat. Ketika Baekhyun meninggalkan desanya, ia meninggalkan teman, keluarga dan cinta pertamanya, Park Chanyeol. Chanyeol bukanlah pemuda yang sangat menarik, tapi saat itu, Baekhyun merasa bahwa dia adalah seseorang yang sempurna dihatinya. Tidaklah mudah untuk move on saat itu, dan di tahun-tahun pertamanya, ia harus berjuang menyembuhkan sakit hati yang ia rasakan. Tapi keyakinannya yang kuat, bahwa ia mengorbankan semua itu demi hal yang lebih baik terus memotivasinya untuk berjuang. Setelah beberapa waktu, Chanyeol dan semua hal yang berhubungan dengan desanya perlahan mampu ia lupakan.

Gumpalan lumpur basah akibat guyuran air hujan di malam sebelumnya mulai tercetak di alas kaki sepatu boot Baekhyun, saat ia berjalan menuju rumahnya. Ia bahkan mengumpat, menggerutu sungguh tidak bergunanya sepatu boot yang ia pakai. Dibalik tembok putih itu, terlihat rumah kokoh yang berdiri di dekat jalanan yang rusak, disanalah tempat dimana Baekhyun akan bekerja selama masa pemulihan ayahnya. Dengan menajamkan indera penciumannya, ia hampir bisa mencium bau ternak dan oli dari traktor yang mengedar di udara. Dan itu jelas bukanlah hal yang menyenangkan.

Ia mengetuk pintu, sambil menunggu di teras yang tampaknya telah direnovasi, dengan koper dan ponsel ditangannya. Ponsel yang benar-benar membuatnya marah karena tidak mendapat sinyal sama sekali bahkan dengan semua usaha dan doa yang telah ia lakukan. Baekhyun mulai mengetukkan kakinya, berfikir kenapa orang tuanya belum memasang bel dirumahnya, yang menurutnya, hal ini akan lebih efektif untuk mengetahui kalau ada tamu dan untuk tamunya sendiri daripada harus mengetuk pintu.

Ketika pintu akhirnya terbuka, ia disambut oleh ibunya yang dengan cepat membuka kunci dan memeluknya di teras. "Akhirnya kau sampai! Masuklah. Lepaskan sepatumu honey. Kau harusnya jangan memakai sepatu semacam itu. Combat boot mungkin terlihat sangat fashionable di perkotaan, tapi itu hanya akan menjadi seperti magnet lumpur disini."

Baekhyun memaksa tersenyum saat ia melepaskan pelukannya, mencoba dengan cepat melupakan kritikan tak langsung yang diberikan oleh ibunya mengenai pilihan stylenya. "Dimana ayah?"

"Ia sedang di ruang tamu bersama seorang tamu," ibunya menjawab, sambil mengambil alih salah satu koper yang ia bawa.

"Masuklah cepat. Aku memasak makanan favoritmu di dapur."

Sambil mengangguk, Baekhyun mulai membungkuk untuk melepaskan sepatunya, mengingatkan dirinya sendiri untuk segera mencuci sepatunya sebelum lumpurnya mengeras. Setelah meletakkan sepatunya diluar, ia masuk ke dalam rumah yang sangat ia kenal dan terkejut dengan wajah yang sangat familiar baginya.

"Baekhyun!" ayahnya memanggilnya untuk mendekat.

Mengabaikan laki-laki yang duduk di dekat ayahnya, Baekhyun tersenyum dan mendekat pada ayahnya, memberi ayahnya pelukan yang sangat erat.

"Hai, ayah. Bagaimana dengan lengan dan kaki yang patah?"

"Oh, itu baik-baik saja," ayahnya menjawab sambil melambaikan tangan satunya yang tidak patah. "Dokter bilang kalau semua akan baik-baik saja selama aku istirahat."

Tersadar kalau ia tidak mungkin mengabaikan laki-laki itu selamanya, Baekhyun menelan gengsinya dan berbalik menatap mantannya. "Hai Chanyeol."

Tatapan yang diberikan laki-laki itu terlihat kosong, tapi menyelidik, dan Baekhyun dapat merasakan kalau batin dan pikiran Chanyeol tengah menilai tiap detail dari penampilan, nada bicara, dan suaranya. Ketika mereka bersalaman, Baekhyun tidak dapat berhenti berfikir tentang rasa takut dan emosi yang tiba-tiba membanjirinya.

Chanyeol yang dulu jelas berbeda.

Tujuh tahun yang lalu, jelas terdapat kilau unik di matanya. Walaupun tubuhnya masih selalu lebih tinggi dari pada Baekhyun, Chanyeol dulu lebih kurus dan warna kulitnya lebih cerah. Senyumannya dulu selalu menarik dan sentuhannya pada tiap hal selalu meninggalkan kesan lembut yang menggelitik. Sekarang, Chanyeol bukanlah lagi seperti pemuda yang selalu ada di pikiran Baekhyun. Pemuda itu pergi digantikan oleh seorang laki-laki yang tengah menjabat tangannya.

Senyum yang selalu menyambutnya dan sorot mata yang selalu berbinar ketika menatapnya kini telah menghilang. Wajah Chanyeol terlihat begitu dingin, tak berekspresi, kaku seolah tak meninggalkan satupun memori tentang Baekhyun. Kulitnya tidak lagi pucat, tapi terlihat sedikit lebih gelap karena pekerjaan di peternakan. Kesan anak muda dan lemah tidak terlihat lagi, dan ia yang duduk di dekat si brunet adalah seorang laki-laki yang gagah, berotot-tangan kekar dengan telapak tangan yang kasar karena bekerja keras.

Chanyeolah yang pertama melepaskan tangannya, mengalihkan kontak mata dan ia melihat ke arah Mr. Byun yang sama sekali tidak menyadari suasana kaku dan dingin yang tengah tercipta saat itu.

"Saya harus pergi paman," Chanyeol berkata sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Saya masih harus mengecek atap kandang kuda milik Junmyeon, dan itu sangat darurat untuk diperbaiki secepatnya. Badai di musim ini akan segera datang dan kuda-kuda itu tidak akan suka basah kehujanan."

"Ah, lakukan yang harus kau kerjakan," Mr. Byun berkata dengan penuh pertimbangan sambil melihat Chanyeol yang beranjak dari tempat duduknya.

"Tinggalah untuk makan malam, Chanyeol."

Baekhyun menahan nafas mendengar permintaan ibunya pada Chanyeol. Chanyeol menengok ke arahnya, tapi ia terlihat diabaikan jika dilihat dari cara Chanyeol memutuskan pilihannya.

"Tidak apa bibi Byun. Saya akan berkumpul dengan teman-teman sore ini, dan terima kasih tawaran makan malamnya." Chanyeol berhenti sebentar, dan tersenyum. Tapi jelas dengan senyum yang berbeda, terlihat tulus, tapi sama sekali tidak ada semangat hidup di dalamnya.

"Baiklah, aku yakin kita akan bertemu lagi besok pagi."

"Ya, tentu."

Setelah Chanyeol pergi, Baekhyun tertawa dengan sedikit terpaksa, dan kemudian berkata.

"Ia terlihat baik-baik saja selama ini."

"Ia baik-baik saja." Ayahnya mengangguk membenarkan. "Ia membantu disana sini. Biasanya ia memperbaiki sesuatu untuk warga yang lain di desa atau membantu di peternekan."

Dibandingkan dengan Chanyeol, Baekhyun lebih mungil, lemah dan terlihat lebih lembut di penampilannya. Itu tidak mengherankan baginya, mengetahui Chanyeol bekerja sebagai buruh. Di sebuah desa kecil dimana ia tinggal, memang tidak banyak pilihan selain bekerja dengan mengandalkan fisik, dan inilah hal yang dibenci Baekhyun. Saat ibunya kembali ke dapur, Baekhyun duduk ditempat yang diduduki Chanyeol sebelumnya. Pikirannya mengembara ketika ia merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh Chanyeol di tempat tersebut.

"Apakah ia selalu membantu ayah?"

"Tidak, tapi mulai besok ia akan membantu."

"Aku tidak mengerti maksud ayah?"

"Aku tidak bodoh Baekhyun. Aku tau kau tidak mengenal satu pun alat di sini, jadi aku meminta Chanyeol meluangkan waktu untuk membantu mengerjakan tugasmu sementara sampai kau benar-benar bisa melakukan tugasmu sendiri."

Hal ini benar-benar membangkitkan amarah Baekhyun dimana ia harus melangkahkan kakinya ke jalan setapak berlumpur untuk melakukan pekerjaan seperti yang Chanyeol ataupun warga desa biasa lakukan di lingkungan ini. Ia tidak paham kenapa ia diperlukan disini. Ini adalah hal diluar batas yang bisa ia lakukan selama ini menurutnya, tapi Baekhyun hanya bisa menggigit lidahnya memikirkan hal tersebut semalaman.

Ia sedang dalam masa diet, namun Baekhyun meluangkan waktu ekstra untuk sarapan di pagi harinya. Walaupun ia berusaha makan dengan porsi cukup kalori setiap harinya, orang tuanya memaksanya untuk makan lebih banyak, yang mana ini sangat menyebalkan baginya. Fisik dan penampilan sangat penting untuknya dan pekerjaannya, dan jika saja orang tuanya tidak mengerti hal tersebut dan fakta bahwa ia hanya cuti dari pekerjaannya untuk sementara, maka Baekhyun tetapkan ia tidak akan semudah itu menyerah.

"Honey, kalau kau tidak makan, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa." Baekhyun menghargai perhatian ibunya, tapi ia hanya mengabaikannya, dan sedikit tersinggung dengan hal tersebut.

Pilihan sepatu yang sudah ia siapkan untuk bekerja terlihat tepat menurut pemikiran Baekhyun. Itu adalah sepatu boot terbaru dengan harga yang mahal. Terlihat bersih dan mempunyai desain yang bagus, tentu ini yang membuat harganya sungguh mahal, tapi pagi dihari pertamanya bekerja yakni untuk mencoba mengelola peternakan benar-benar membuyarkan semua angan-angan yang ada dipikiran Baekhyun.

"Ini tidak akan berhasil."

Saat itu, Baekhyun benar-benar berniat untuk berbalik arah, memangil taksi khusus yang mungkin bersedia datang ke area tersebut dan pergi meninggalkan tempat itu. Komentar dari Chanyeol yang berupa kritikan pedas tentang pilihannya untuk berpakaian sungguh benar-benar memalukan.

"Aku benar-benar tidak mengerti," Baekhyun berkata dengan nada datar. "Saat membelinya, mereka bilang kalau ini akan cocok untuk area pedesaan."

"Dan mungkin kau telah pergi dari desa ini terlalu lama," Chanyeol menjawab dengan nada sama datarnya. Mereka berdiri di gudang peralatan, beberapa meter lumayan jauh dari rumahnya, menciptakan suasana yang meyakinkan Baekhyun untuk tidak berbalik arah berjalan melewati lumpur untuk kembali kerumah.

"Sepatu bootmu memang jelas bagus, tapi kau akan membutuhkan sepatu yang setidaknya mencapai betis. Sepatumu hanya menutupi kakimu beberapa inci diatas mata kaki. Dan itu jelas tidaklah cukup."

Sebelum ia dapat beradu pendapat tentang sepatunya lagi, Chanyeol memberikan sepasang sepatu boot seolah Baekhyun salah dalam memilih kostum yang harus ia pakai. "Aku akan berganti di gudang dan meletakkannya disana. Kau bisa mengambilnya nanti ketika kita istirahat siang."

Baekhyun hampir kehilangan kata-katanya. Ini baru jam 6 pagi, yang berarti masih harus menunggu enam jam lagi untuk istirahat pertamanya. Menelan kembali komplain yang akan ia berikan, Baekhyun berakhir hanya dengan menganggukkan kepalanya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Baekhyun untuk menggerutu sambil sesegera mungkin mengganti sepatunya. Untuk beberapa alasan, ia merasa khawatir membiarkan laki-laki itu menunggu lebih lama karena menurutnya itu kurang sopan. Ketika ia keluar setelah berganti, Baekhyun menangkap mata Chanyeol yang sedang mengamatinya dengan seksama. Dengan sedikit gugup Baekhyun tersenyum.

"Kenapa?" Diam-diam si brunet mengharapkan pujian, dan ia terkejut tidak percaya ketika Chanyeol bertanya,

"Apakah itu celana jeans bermerek?"

Sambil mengedipkan mata tak percaya dan bingung, ia menjawab. "Ya...?"

Chanyeol menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Lain kali, pakailah celana jeans yang sudah lama terpakai. Yang kau pakai sekarang tidaklah masalah, tapi honey, kurasa kau tidak akan senang ketika jeansmu rusak karena pekerjaan yang akan kita lakukan."

"Ini adalah musim setelah panen. Adakah hal lain yang akan kita lakukan selain mengurus ternak dan berjalan-jalan di lumpur?"

Ekspresi dan tanggapan yang Chanyeol peroleh sungguh sangat menghiburnya. "Banyak hal yang harus dilakukan setelah musim panen, Baek. Mempersiapkan hal-hal untuk musim selanjutnya dan memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki."

"Contohnya?"

Chanyeol mengangkat bahu dan menjelaskan. "Well, untuk permulaan, kita akan memperbaiki pagar untuk kandang ternak setelah kita selesai memberi makan ternak."

Baekhyun memikirkan tentang pekerjaan itu sejenak, ia beranggapan kalau tugasnya masih berhubungan dengan pemeliharaan ternak. Itu tidak akan sulit untuk memperbaiki satu atau dua hal kan. Cukup memaku sana dan sini maka semua akan beres untuk memperbaiki jaring-jaring bodoh yang telah rusak saat digunakan.

"Baiklah." Baekhyun berkata dengan angkuh, berharap mampu meyakinkan Chanyeol yang terlihat cukup meremehkan kemampuannya. "Itu bukan hal yang sulit kan."

Terdapat sedikit jeda sebelum Chanyeol merespon, dan kemudian Baekhyun dapat merasakan kalau laki-laki itu merasa ragu saat menjawabnya. "Ya..."

Ternak pertama yang harus diberi makan adalah ayam dan hal ini memberikan harapan pada Baekhyun kalau memberi makan ternak akanlah lebih mudah seperti yang ada dalam pikirannya. Chanyeol memberinya satu ember penuh berisi makanan dan memerintahnya untuk mengambil makanan itu menggunakan tangan dan melemparnya ke beberapa bagian di tempat itu.

"Kau tidak akan memberiku sarung tangan?"

Sementara Chanyeol hanya memberikannya tatapan datar. "Pekerjaan ini tidak memerlukan sarung tangan."

"Kau tau, sesekali aku melakukan permodelan dengan tanganku," Baekhyun menyela "Aku tidak ingin, kalau..."

"Percayalah," si mantan dengan lembut menyelanya, "Aku tidak akan memberimu pekerjaan tanpa sarung tangan, jika itu akan menimbulkan resiko padamu. Aku tau kau hanya disini untuk sementara waktu."

Kata-kata itu membuat si brunet diam dengan telak, dan ketika itu terjadi, Chanyeol meninggalkannya sendiri dan mengambil sesuatu yang dibutuhkan untuk memberi makan kuda. Dalam kesendiriannya, Baekhyun merasa terhibur dengan dirinya yang dikejar-kejar oleh ayam-ayam itu, menikmati perhatian ayam-ayam itu padanya. Ia, untuk sejenak, merasa seperti menjadi seekor induk ayam.

Ketika embernya telah kosong, ia menutup kandang dan keluar, menengok kesana-sini untuk mencari keberadaan Chanyeol. Setelah beberapa saat berusaha menemukan si giant, akhirnya Chanyeol menampakkan diri, datang dari arah pojok mengendarai truk yang kotor belumur lumpur. "Ayo. Masuklah kita akan mencari jerami untuk kuda."

Baekhyun tidak mengatakan apapun saat ia berjalan menuju kursi penumpang, menimbulkan sedikit suara derap kaki saat melangkah mendekat. Ia membuka pintu truk tua itu dan masuk kedalam. Sebelum ia sempat memasang sabuk pengaman, Chanyeol telah memberinya sepasang sarung tangan terbuat dari karet kaku yang lebih kuat dari baja (mungkin, itulah yang ada dalam pikiran Baekhyun)

"Inilah pekerjaan yang akan membutuhkan sarung tangan."

Melihat sekilas tangan Chanyeol, ia bertanya. "Kenapa kau sama sekali tidak memakainya?"

"Karena aku bukan sang model disini." jawab Chanyeol singkat.

Baekhyun tidak tau harus menganggap perkataan Chanyeol murni sebagai perhatian atau ejekan tentang pekerjaannya, jadi ia hanya menanggapinya dengan diam. Mereka mengemudi keluar dari tanah keluarga Byun dan Baekhyun merasa terkejut.

"Kenapa kita keluar pekarangan?"

"Untuk mendapatkan jerami." Chanyeol menjawab dengan singkat. Baekhyun mengerti dan memilih untuk diam untuk saat selanjutnya. Tapi sesaat setelahnya, Chanyeol mengambil nafas dalam dan menjelaskan.

"Ayahmu membeli jerami dari Junmyeon yang memiliki dua peternakan yang luas. Setiap sekitar seminggu sekali ia akan pergi dan membeli beberapa tumpuk jerami. Dia bilang bahwa itulah yang terbaik, tapi menurutku karena jarak yang dekat selain juga karena Junmyeon memiliki jerami untuk memberi makan di bisnis peternakan kudanya."

"Oh begitu." Baekhyun berkata pelan, mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. "Aku tidak tahu, kupikir ayah memiliki jerami sendiri."

"Dulu seperti itu, aku tidak yakin taukah kau jika tanah yang dimiliki oleh keluargamu sudah tidak seluas dulu. Ayahmu sudah tidak memiliki cukup lahan untuk melakukan itu lagi sekarang."

"Banyak hal telah berubah, kurasa." Baekhyun menjawab pelan. "Seperti truk ini misalnya."

"Kenapa dengan truknya?"

Terdapat suatu hal di nada Chanyeol yang memintanya untuk lebih berhati-hati saat berucap ketika ia bertanya hal tersebut, tapi Baekhyun tidak menyadari kenapa, jadi ia terus melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

"Aku tidak mengerti kenapa ayah membeli truk tua ini. Dia bilang kalau ia membeli truk baru beberapa bulan yang lalu saat kita bicara melalui telefon. Ketika ia bilang baru, kupikir memang berarti baru—"

"Ini bukan truk ayahmu." Chanyeol menatap kearahnya. "Truk ini milikku."

Baekhyun terkejut. "Oh."

Tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan memori tentang sebuah truk menyeruak dalam pikirannya. Ketika Chanyeol tepat berusia 18 tahun, ia memiliki cukup tabungan untuk membayar kurang lebih setengah dari harga kendaraan bekas dan ayahnya menjanjikannya untuk memberi uang setengahnya untuk membeli kendaraan itu. Saat itu Baekhyun merasa sangat senang berbagi kebahagian bersama si mantan ketika si giant tiba-tiba muncul di rumahnya.

Mengedarkan pandangannya ke dasbor , Baekhyun meraba dengan jari-jarinya pada gurat-gurat goresan yang seharusnya jelas terlihat tepat saat ia duduk di kursi penumpang. Ia harusnya mengingat kalau ialah yang membuat goresan-goresan itu. Disaat-saat memanas dulu, ia akan mengambil kunci truk Chanyeol ketika mereka tengah bertengkar disaat berusia 19 tahun, berusaha membenci Chanyeol yang sangat menyukai truknya, dengan mengambil kunci truk, menggoresnya tepat di sepanjang dasbor yang berwarna abu-abu terang, mengukirnya dengan penuh amarah.

Merasa agak canggung, Baekhyun memaksa sedikit tertawa. "Oh aku ingat, beberapa hal tidak berubah kurasa."

"Mungkin juga."

Percakapan tentang itu berakhir sampai disitu, dan dengan segera suasana berubah kembali ke konteks pekerjaan seperti sebelumnya, tanpa mengarah ke pembicaraan pribadi. Ketika mereka mereka sampai di pekarangan Junmyeon, Chanyeol memarkirkan truknya diluar rumah Junmyeon. "Tunggulah disini, aku harus memberikan uang ke Junmyeon untuk jeraminya."

Baekhyun melakukan apa yang diperintahkan, duduk diam di dalam truk sambil melihat Chanyeol mengambil uang dari dasbor dan membawanya ke dalam rumah putih yang megah. Seorang laki-laki keluar, ia tampak lebih tua dari mereka berdua, tapi kesan ramah laki-laki itu tetap terlihat meski Baekhyun hanya melihatnya dari balik kaca jendela truk. Ia juga menyaksikan hal yang menarik dari tempat terisolasinya, yakni sekilas senyuman Chanyeol. Untuk pertama kalinya semenjak mereka bertemu, senyum itu terlihat tulus tanpa terkesan memaksa. Sedikit kecil Baekhyun merasa cemburu dan terluka mengetahui fakta bahwa Chanyeol tidak menyambutnya dengan cara yang sama. Setidaknya dalam pemikirannya, laki-laki itu bisa mengurangi kecanggungan dengan mencoba lebih bersahabat. Dan lagi, Baekhyun merasa seharusnya perpisahan mereka bisa sedikit menyisakan perasaan untuk sekedar bersahabat baginya dan Chanyeol.

Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya ketika Chanyeol telah kembali disampingnya, Baekhyun terlonjak kaget sambil sedikit tersenyum, sedikit sekali untuk terilhat bersahabat, tapi tidak cukup terkesan personal.

"Kemana tujuan selanjutnya?"

"Kembali," Chanyeol menjawab sambil menekan persneling truknya. "Kita akan mengambil empat pak minggu ini dan menaruhnya di belakang." Ia menjeda sejenak sebelum melanjutkan, "Untungnya kau memakai baju lengan panjang, dengan begitu mengangkut jerami tidak akan berefek pada kulitmu nantinya."

"Aku pernah mengangkut jerami sebelumnya," Baekhyun menjawab perkataan Chanyeol.

"Ingatlah, kau selalu dibantu seseorang sebelumnya?" si mantan balik menjawab.

"Pekerja musiman selalu tidak tega membiarkanmu kesusahan, jadi mereka melakukan itu untukmu. Kali ini, ini akan menjadi tugasmu sendiri, karena aku tidak akan membantumu melakukan pekerjaan ini."

Baekhyun menautkan alisnya. "Bukankah tujuanmu adalah untuk membantuku?"

"Jangan salah mengira tujuanku disini," Chanyeol menjawab sambil mengusak kepalanya. "Aku disini untuk menunjukkan padamu bagaimana cara membantu ayahmu. Aku disini bukan untuk mengajarimu tiap langkah dan caranya bekerja seperti seorang bocah."

"Aku pikir itu adalah hal sepaket."

"Tidak sama sekali."

Chanyeol mengemudikan truknya ke gerbang menuju tempat dimana Junmyeon menyimpan jeraminya. Memberhentikan truknya, kemudian Chanyeol memerintah, "Keluarlah dan bukakan gerbang untukku."

Baekhyun sama sekali tidak ingin menuruti perintahnya, tapi akhirnya ia beranjak keluar. Ia berjalan kedepan truk dan menuju gerbang. Awalnya ia tidak tahu bagaiman cara membuka gerbang sialan itu. Itu terlihat sangat rumit baginya dan ia hanya berdiri disana tanpa melakukan apapun sambil menunggu berharap Chanyeol bosan dan berakhir keluar dan membantunya. Namun ketika ia menengok kebelakang, untuk melihat dengan gugup apakah si giant sedang berjalan menghampirinya, yang ia lihat adalah Chanyeol yang menyandarkan sikunya di jendela truk dengan santai menaikkan alis matanya dan cukup membuat dongkol Baekhyun.

Tampak suatu hal menarik dengan penampilan Chanyeol yang tidak disadari Baekhyun sebelumnya. Kaos putih yang simple, rambut hitamnya yang tidak tertata memberikan kesan yang menarik menurut Baekhyun, tapi sikap dan sifatnya sangat berbanding terbailk dengan laki-laki yang pernah Baekhyun cintai bertahun-tahun yang lalu, itu cukup mampu membuat Baekhyun untuk teguh pada pendiriannya.

Setelah memutuskan lebih baik mencoba dari pada tidak melakukan apapun selain menggelengkan kepala tanda kebingungan, Baekhyun mulai mencoba mendorong gerbang sekuat tenaga, tapi usahanya berakhir sia-sia saat gemboknya sama sekali tidak terpengaruh. Ia bahkan telah mencoba untuk membuat pancatan untuk mendorong lebih kuat.

Entah ia yang terlihat begitu menyedihkan atau malah terlalu lama menghabiskan waktu, sebelum Baekhyun dapat menyuruh laki-laki itu pergi, Chanyeol terlebih dulu mendorongnya untuk menyingkir dari gerbang.

"Baiklah. Kenapa tidak kau saja yang mengemudi truk dan aku yang membukakan gerbang."

Merasa malu, Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. "Ya. Bisa juga."

Saat ia hendak beranjak, Chanyeol menahannya bahunya, memintanya mendekat. "Sebelum kau pergi, perhatikan ini." Setelah melepaskan si brunete, Chanyeol meraih bagian belakang papan besi yang cukup lebar dan mendorongnya, membengkokkan grendel ke atas. Kemudian dengan sekali dorong dengan penuh tenaga, gerbangya terbuka dan ia menatap kearah Baekhyun.

"Ingatlah selalu, bahwa hampir semua gerbang memiliki grendel, bahkan gerbang yang ada di peternakan ayahmu."

"Aku tau, tapi—"

"Tidak, kau tidak tau," Chanyeol menyela. "Tapi sekarang kau tau."

Baekhyun belum selesai membela diri. "Grendelnya tersembunyi."

"Tentu saja."

Terlihat jelas kalau Chanyeol tidak ingin menjelaskan alasannya, tapi Baekhyun dipaksa menyerah berdebat ketika Chanyeol menaikkan alisnya dan menunjuk kearah truk. Mendengus kesal, Baekhyun menyerah, berjalan ke truk dan menaikinya. Sedangkan Chanyeol berdiri diluar gerbang sambil menunggu truk masuk kedalam, Baekhyun mempunyai ide kejam untuk menabrak si mantan, tapi berakhir mengurungkan niatnya khawatir akan mencemari imejnya sebagai seorang artis.

Dibalik gerbang, ia dapat melihat tumpukan jerami yang tertata rapi, telah siap untuk dijual pada mereka yang membutuhkan. Saat mencoba menjalankan truk, Baekhyun menginjak pedal gas terlalu kuat karena tidak biasa dengan truk itu, ia berhasil melewati gerbang, dengan kerusakan yang ditimbulkan tentunya. Dengan roda yang menjorok lebih kekanan, badan truk sebelah kanan terpaksa menggores gerbang besi dan Baekhyun tertunduk lemas dengan suara kerusakan yang terdengar mengerikan akibat ulahnya.

Namun ia masih mencoba untuk tenang mengontrol truk, menginjak kopling dengan asal, tapi dengan tidak elitnya truk malah dengan keras membuat tubuhnya terdorong ke arah depan. Tanpa menggunakan sabuk pengaman ia terlonjak ke arah depan dengan kepalanya yang membentur stir. Baekhyun kemudian mengumpat kenapa Chanyeol tidak membeli pelapis untuk stirnya, mungkin pelapis dengan bulu yang lembut dan fashionable. Merasa terkejut dengan kejadian itu, Baekhyun tidak memperhatikan kemarahan Chanyeol ketika tiba-tiba pintu truk dibuka dengan keras dan ia membentak. "Apa yang kau lakukan!"

"Kenapa kau membentak." Baekhyun menjawab sambil melepaskan diri dari tarikan Chanyeol.

"Karena kau baru saja menghantamkan kepalamu sendiri ke stir."

Kemudian Baekhyun tertawa sambil mengusap dahinya. "Tidak terlalu buruk kok. Kupikir trukmu—"

Belum sempat Baekhyun menyelesikan perkataanya, Chanyeol sambil menahan amarahnya agar tidak meledak lagi, ia berjalan ke arah sebelah kanan truk dan ternganga dengan goresan putih yang menghiasi truknya. "Kaukah-"

"Maaf," Baekhyun cepat-cepat menyela, "Aku tidak bermaksud—"

"Kenapa kau selalu menggores apapun yang kumiliki?" Chanyeol berkata sebelum ia mampu menahan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Ia tidak bermaksud menyinggung lebih kearah pribadi seperti yang baru saja diucapkannya, dengan frustasi ia mengacak-acak rambutnya.

"Aku bisa memperbaikinya," Baekhyun menawarkan dengan pelan.

Nafas Chanyeol terlihat naik turun tak beraturan. Baekhyun ingin segera menyingkir dari situ, tapi kakinya tetap teguh membuatnya tetap berada di tempatnya berdiri. Setelah beberapa saat si mantan kembali menatapnya dengan marah, tapi untuk beberapa alasan, kemarahannya tidaklah ditujukan langsung untuk Baekhyun karena kerusakan truk yang ia sebabkan.

"It's fine." Suara Chanyeol terdengar berat dan penuh amarah. Baekhyun sangat tidak terbiasa dengan nada tersebut, karena Chanyeol tidak pernah berkata padanya dengan cara seperti itu selama mereka berpacaran dulu. Bahkan ketika mereka sedang bertengkar, biasanya si giant yang mencoba lebih tenang dan mengalah. "Tak perlu khawatir dengan truknya. Semua akan menua dan rusak ngomong-ngomong."

"Tapi tetap saja—"

"Lupakan. Ini tidaklah penting," Chanyeol mencoba bersikap tenang kembali. "Tidak ada gunanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan diperbaiki."

"Kubilang, aku akan memperbaikinya."

"Kau tidak akan bisa."

"Apa maksudmu tidak bisa? Ada banyak bengkel dikota yang—"

"Tidak semua hal layak untuk diperbaiki kan? Jadi lupakan dan kembailah masuk ke truk. Kita terlalu lama menghabiskan waktu."

"Kenapa kau sangat menyebalkan?" Baekhyun menyahut, mengeratkan genggamannya. "Aku mencoba untuk bersikap baik."

"Kubilang masuk ke truk," Chanyeol menjawab mengabaikan Baekhyun dan berjalan kearah kursi kemudi. "Kita tidak punya banyak waktu."

"Kau menjadi sangat aneh Park!" ia berucap sambil menghentakkan langkah kakinya menuju ke kursi penumpang, membuka pintu sekeras mungkin dan menaiki truk. Chanyeol membalasnya dengan menutup pintu truk dengan keras, dan lagi-lagi Baekhyun membalasnya dengan bantingan yang lebih keras.

"Kau marah karena aku tidak bisa mengemudikan truk tua ini dalam jarak lima kaki tanpa merusaknya, aku bahkan sudah minta maaf, iya kan? Kubilang aku akan memperbaikinya untukmu!"

"Berhenti bicara. Aku tidak dibayar untuk mendengar ocehanmu." Tanpa menunggu si brunet untuk memasang sabuk pengaman, Chanyeol menginjak gas dan Baekhyun terdorong kearah belakang membentur kursinya.

"Sial! apa yang kau lakukan?" Baekhyun membentak setelah ia berhasil memasangkan sabuk pengamannya. "Kenapa kau kejam sekali?"

"Haa.. Tuduhan apalagi itu? Kau bahkan belum menghabiskan waktu setengah hari bersamaku. Bukankah ini terlalu awal memberikan penilaian, atau memang beginilah biasanya di duniamu kau berperilaku? Benarkah?" Chanyeol menambahkan lagi bahkan ketika ia belum mendapat jawaban. "Orang-orang berubah ketika hidup terus berjalan. Apakah kau benar-benar berharap aku masih menjadi orang yang sama saat di sekolah dulu atau seperti apa?"

"Bukan seperti itu, tapi paling tidak aku berharap kau tak sekejam ini," dengan sinis Baekhyun menjawab.

Chanyeol mendengus dan memilih diam sampai mereka tiba di tempat tumpukan jerami. Ia mematikan mesin dan tidak repot-repot menunggu Baekhyun untuk keluar truk lebih dulu sebelum ia meninggalkannya untuk berjalan duluan ke stok penyimpanan jerami.

"Gunakan sarung tanganmu. Kita akan mulai bekerja."

Baekhyun tidak memberikan komentar apa-apa. Menyobek kertas pembungkus sarung tangan itu, lalu memakainya dengan cara tidak biasa yang membuat Chanyeol terheran ketika Baekhyun meloncat keluar dari truk. Chanyeol menunggu selama beberapa detik sebelum akhirnya memutar matanya malas dan memutuskan melakukan pekerjaan itu tanpa menunggu Baekhyun.

Menekuk lututnya, Chanyeol mengambil tumpukan jerami dan mengangkatnya ke bahu. "Buatlah dirimu berguna sedikit dan bukakan pintu belakang."

Sambil menggerutu, Baekhyun berbalik arah, membuka pintu belakang truk. "Sejujurnya, kau tidak sekejam orang-orang yang pernah bekerja denganku, tapi tetap saja—"

"Bisaka kau—umm." Melemparkan jerami kebelakang truk, Chayeol memberinya tatapan sebentar. "Berhenti bicara dan kemarilah. Harusnya ini tidak menghabiskan waktu selama ini untuk mendapat jerami untuk makan kuda. Kita seharusnya sudah—"

"Kau tau kan kalau aku tidak bisa mengangkatnya seperti yang kau lakukan."

"Kalau begitu seret saja mereka." Si mantan tidak mau mendengarkan alasan. "Apakah kau tak bisa melakukannya juga?"

Itu bukanlah pertanyaan melainkan lebih pada ejekan yang meremehkan. "Aku telah berusaha mencoba, dan aku tidak bisa. Tidak dengan bedanku ini. Lagipula aku sudah cukup lelah dan—"

"Lelah?" Chanyeol mengusap dahinya pelan. "Kau belum melakukan apa-apa selain melempar makanan ayam dan duduk di dalam truk!"

"Aku sudah beradu pendapat denganmu sebagian besar waktu yang kita habiskan dan—"

"Yang benar-benar diluar konteks pekerjaanku karena kau menghabiskan waktu percuma hanya untuk menebak-nebak mengapa aku bukanlah orang yang sama seperti yang kau tinggalkan dulu. Dan sekali lagi aku tekankan, kalau semua telah berubah."

"Kau mungkin tidak paham dengan kondisiku yang sekarang, " Chanyeol berkata sambil menunjuk kearah Baekhyun dari atas ke bawah. "Kau orang yang dangkal, primadona naif yang berpikiran kalau dunia hanya berputar disekitar kehidupanmu hanya karena potret wajahmu ada di billboard dan cover-cover majalah. Aku benar-benar heran kenapa ayahmu memintamu melakukan hal seperti ini, untuk orang sepertimu yang bahkan tidak akan peduli dan mencemooh pekerjaan ini."

"Jika kau tidak ingin berada disini Park, kau bisa pergi!" Baekhyun menyahut.

"Pergilah ke neraka sekalian, tempat pantas untuk orang-orang kejam sepertimu. Jika ayahku membayarmu untuk berada disini, kenapa kau tidak melakukan pekerjaan itu dan bukan malah menganggapku seperti musuh sialan. Kenapa kau tidak bisa memperlakukanku lebih baik dan seperti biasa dari pada bertindak dingin dan sombong? Apakah itu sulit? Kalau memang iya, kau sebaiknya pergi." Baekhyun menunjuk kearah jalanan.

"Banyak orang lain yang mau membantuku. Dan itu tidak harus kau. Jika kau mebutuhkan uang, ambilah. Kau bisa mengambil apa yang ayahku janjikan padamu. Aku sama sekali tidak peduli hal itu, karena aku kasihan padamu. Aku kasihan padamu karena aku menjadi satu-satunya alasan kenapa kau merasa tersakiti dan muak denganku. Kenyataannya memang benar bahwa kau masih saja si brengsek yang patut dikasihani tanpa memiliki pendapatan lain selain pekerjaan yang diberikan oleh ayahku. Jadi berhentilah menjadi—"

"Kau benar-benar berpikir kalau aku melakukan ini karena butuh uang?" Chanyeol tertawa tak tertahankan. "Berhentilah berpikiran seperti itu. Jelas-jelas kau belum mengetahui sekeliling desa ini ataupun hal lainnya saat ini."

"Lalu apa? Kau disini karena kau masih mencintaiku atau apa—"

"Aku disini karena ayahmu!" Kemarahan Chanyeol kembali menyala saat ia memutuskan untuk melangkah kearah tumpukan jerami, sambil menghentakkan kakinya di tanah. Baekhyun kemudian mengikutinya. "Seperti yang kubilang, dunia tidak hanya berputar disekitarmu. Aku disini karena ayahmu membutuhkanku. Uang adalah masalah belakangan."

"Kau tidak membantu. Kau menjadi orang yang sangat kejam disini."

"Kaulah orang yang tidak melakukan apapun!" Chanyeol membentak kembali. "Oh demi Tuhan... ini terlalu pagi untuk berdebat. Angkat jerami ini dan tutup mulutmu."

"Kau—"

Mengambil kuntungan karena jarak Baekhyun yang begitu dekat, Chanyeol menariknya, menarik kerah bajunya dan membawanya mendekat padanya. "Angkat satu jerami atau aku akan meninggalkanmu disini."

"Tidak akan." Baekhyun mengejeknya. "Tidak selama aku adalah anak laki-laki ayah, aku tidak akan melakukannya."

"Anak laki-laki?" Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tersenyum datar. "Honey, kau jarang dan baru saja berkomunikasi lagi dengannya. Aku sungguh tidak yakin menganggapmu anaknya. Keturunan karena darah mungkin, tapi hanya itu saja menurutku."

"Beraninya kau." Darah Baekhyun serasa mendidih di ubun-ubun. Tidak ada hal lain yang bisa memuaskannya saat ini selain memukul Chanyeol tepat di rahangnya. Itu tak akan berhasil karena perbedaan tinggi badan mereka. Chanyeol setinggi 6 kaki dan Baekhyun hanya 5 kaki. Memukul kepalanya mungkin akan melukai Chanyeol.

Memutar bola matanya dengan malas, Chanyeol membalikkan tubuhnya. "Aku tidak ingin berkelahi denganmu Baekhyun. Aku tak akan melakukannya lagi karena aku memutuskan untuk mengakhiri perdebatan. Aku sudah selesai, percayalah. Berhentilah menggangguku dan biarkan aku bekerja. Aku janji, ketika kau mampu melakukan pekerjaan disini, aku akan pergi dan kau tidak perlu bertemu lagi denganku. Paham?"

Baekhyun tidak berkata apapun.

"Baguslah."

.

.

Baekhyun diberi tugas untuk membawa semua peralatan untuk memperbaiki pagar, dimana ia harus bersusah payah dengan satu gulungan kawat yang besar dan satu box berat berkarat berisi peralatan lainnya. Chanyeol menunjukkan jalan tanpa membawa apapun selain sebuah tonggak kayu yang katanya akan digunakan untuk mengganti yang sudah rusak terpakai. Walaupun suasana disekitar mereka sudah mereda, Baekhyun belum memanfaatkan situasi ini untuk minta maaf. Ia merasa gugup hanya dengan memikirkannya, tak dapat memikirkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan. Diam-diam ia memperhatikan Chanyeol dari belakang saat mereka menuju ke pekerjaan mereka.

"Jadi, umm.." Baekhyun berhenti sebelum membuat kesalahan saat berucap. "Apa yang kau ingin, umm aku lakukan?"

Tidak terdengar jawaban dari pertanyannya, dan Baekhyun tidak memaksakan lebih lanjut. Ia baru saja membuat laki-laki itu jengkel beberapa waktu yang lalu, tapi ia tetap mengakui kalau itu sudah berjam-jam yang lalu. Chanyeol, di pikiran Baekhyun seharusnya sudah melupakan itu. Nyatanya, ia mulai berpikir haruskah ia meminta maaf atau tidak ketika laki-laki yang ada didepannya tetap bertingkah sangat menyebalkan.

Ketika mereka tiba di tempat tujuan, Baekhyun melihat sekilas pekerjaan yang akan mereka lakukan. Itu terlihat tidak begitu berat, yang mana membuatnya lega. Lima buah tonggak setinggi empat kaki telah roboh, menyebabkan kawat ikut tertarik juga tersangkut dan dua diantaranya adalah tonggak milik tetangga.

Ujung tajam kawat perlu dipotong dan tonggak itu perlu dicabut. Semua hal ini adalah hal yang sudah diketahui oleh Chanyeol. Ia menyiapkan tonggak baru yang telah ia bawa, tapi Baekhyun tetap menggenggam alat-alat yang dibawanya, takut kalau-kalau Chanyeol membentaknya jika tidak seharusnya ia juga meletakkan kawat dan box di tanah.

Berjalan ke arah tonggak yang roboh, Chanyeol membungkuk dan mencoba, menariknya ke atas untuk melihat apakah ia bisa dengan mudah mencabut tonggak itu dari tanah—dan ia berhasil. Baekhyun melihatnya, saat Chanyeol menggunakan tenaganya untuk mencabut tonggak tua itu dari tanah, melemparnya kesamping seolah itu tidak sulit sama sekali.

Hari semakin panas, dan si brunet dapat melihat titik keringat yang mulai bermunculan di dahi Chanyeol, tapi ia menolak untuk melakukan apa-apa mengenai hal tersebut. Untuk beberapa saat, Baekhyun berpikir haruskah ia mengambil sebotol air atau yang lain untuk si giant, tapi ia menggelengkan kepala menolak pemikirannya sendiri. Konyol kenapa ia harus peduli.

"Berikan aku tang," Chanyeol berkata tanpa menatap ke arah Baekhyun. Ia memperhatikan kawat itu, dan berpikir dimana ia harus memotongnya.

Meraba-raba sebentar, ia mulai menjatuhkan gulungan kawat dan membuka box peralatan yang dibawanya. Sial, seperti apa bentuk sebuah tang sebenarnya. Ia pikir ia mengetahuinya karena ia tumbuh besar dengan alat-alat itu di sekitarnya, ia hanya sedang lupa saja kan. Tapi ia tidak akan membiarkan Chanyeol tau tentang hal tersebut. Jadi dengan menggunakan sedikit akalnya, ia mengambil tiga buah alat yang kelihatannya bisa digunakan untuk memotong sesuatu yang keras. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju Chanyeol yang telah menunggunya dengan tatapan tajamnya.

"Ini."

Hanya dengan sekilas melihat, Chanyeol kemudian memutar bola matanya malas. "Tidak satupun dari ketiganya adalah tang. Mungkinkah kau tidak tahu tang itu seperti apa?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Aku sangat yakin kalau salah satu dari ini adalah—"

Kata-katanya mengambang saat Chanyeol berjalan melewatinya dan mencari di box apa yang benar-benar ia butuhkan. Ketika ia menemukannya, ia berjalan kearah Baekhyun lagi, menunjukkan padanya alat itu tepat di hadapan Baekhyun.

"Inilah yang disebut tang. Sekarang perhatikan."

Sedikit rasa malu, memberikan Baekhyun rona merah muda di pipinya, selanjutnya ia mengikuti langkah si mantan di belakangnya. Ketika ia sampai di salah satu tonggak yang roboh, Chanyeol memberikan padanya tang tersebut.

"Potonglah, tapi sisakan beberapa bagian untukku untuk menali ujungnya jadi itu tidak akan bermasalah dengan kekuatannya jika dibandingkan dengan yang lain."

Sambil mengangguk, Baekhyun memotongnya dengan tepat sesuai yang dibutuhkan. Chanyeol tidak berkata apa-apa, yang berarti ia mungkin puas atau ia pikir ia dapat menggulung kawat yang Baekhyun sisakan untuknya. Apapun itu baekhyun tidak mendapatkan ceramah, jadi kemungkinan besar ia melakukan hal yang benar.

Chanyeol menyuruhnya unuk melakukan hal itu lagi sampai tonggak yang lama terbebas dari kawat sekitar. Ia memasang tonngak baru ditempat yang sama dengan yang lama dan menggunakan pukul besar untuk menancapkannya ke tanah sampai itu berdiri kokoh. Baekhyun mencobanya ke tonggak yang lain disekitarnya.

Ia sangat percaya diri dengan pukulnya sampai pada saat ketika ia tidak sengaja memukul ibu jarinya sendiri. Ia menggigit lidahnya berupaya mencegah dirinya untuk berteriak. Walaupun pada akhirnya ia meringis. Ketika ia berbailk arah, ia melihat Chanyeol sedang menatapnya, jadi ia mencoba tersenyum ditengah rasa sakit pada ibu jarinya, dan dengan cepat ia berbalik membelakangi Chanyeol.

Sebagian besar pekerjaan mereka selesai ditangan Chanyeol, jelas karena faktanya ia lebih kuat dari Baekhyun dan tau apa saja yang harus dilakukan. Baekhyun mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sampingan, dan ia harus mengakui kemampuan Chanyeol untuk mengarahkannya. Ketika mereka kembali ke truk, Baekhyun mencoba memecahkan kesunyian.

"Terimakasih..."

"Untuk?"

"Karena menerima pekerjaan ini..." Terdapat kehati-hatian dalam ucapannya. "Aku tau kau tidak harus melakukannya, dan kau tahu akan melakukan pekerjaan ini denganku, yang mungkin akan membuatmu canggung."

"Kau tidak perlu berterimakasih, ini bukanlah apa-apa."Chanyeol menjawab tetap memunggungi Baekhyun yang berjalan di belakangnya. "Seperti yang kubilang, aku melakukan ini untuk ayahmu. Bukan untukmu." Baekhyun mengunci mulutnya, mengangguk pada dirinya sendiri, karena apa yang sebenarya ia harapkan? Jauh diluar jangkauannya.

Mereka makan siang secara terpisah. Walaupun mereka bersama-sama memasuki rumah Baekhyun, Chanyeol memilih untuk makan diluar teras belakang. Ia benar-benar merasa nyaman seperti itu, dan ibu Baekhyun paham betul dengan kecanggungan antara keduanya, menggumam pada dirinya sendiri sambil tetap menyibukkan diri mengurus rumah, ia paham benar kalau ini adalah rencana yang sangat buruk sejak awal.

Baekhyun tidak mendengarnya. Ia makan sendiri di dapur tanpa berbicara pada siapapun. Dari tempat ia duduk, ia dapat melihat punggung tegap Chanyeol duduk diluar tepat disebelah pintu masuk teras belakang. Sejak awal sanwichnya telah berada digenggamannya, jari-jarinya meremas-remas makanan yang dipegangnya sambil mengulang-ulang kata yang akan diucapkan.

Setelah beberapa saat, perasaan bersalah mulai muncul dibenaknya. Tapi belum sempat ia melanjutkan, Chanyeol telah selesai dengan makannya, berdiri dan berjalan kembali masuk ke rumah bertemu langsung dengan tatapan Baekhyun padanya saat ia berjalan meletakkan piring di wastafel. Saat ia menelan sanwichnya saat itu juga ia menelan keberanian yang ia rencanakan bersamanya. Ia berharap Chanyeol mengatakan sesuatu, mengatakan padanya apa yang harus dilakukan setelah makan, tapi tak satupun kata keluar dari mulutnya.

Ketika waktu menunjukkan pukul 6 sore, mentari mengubah warna langit menjadi lebih oranye dan Baekhyun benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Ia telah bercucuran keringat, lemas, lelah, dan mati rasa, tak satupun pekerjaan di dunia permodelan yang bisa membuatnya selelah ini, tapi ia menyadari bahwa kakinya yang terbakar diterik matahari adalah hal yang positif. Karena jelas hal ini membakar kalorinya setelah memakan makanan penuh karbohidrat saat makan siang beberapa jam yang lalu.

Chanyeol sama sekali tidak berbicara padanya semenjak makan siang. Itu membuat Baekhyun merasa sedikit bersalah, tapi tidak cukup untuk membuatnya mengakui kesalahan yang mungkin ia lakukan pada Chanyeol. Saat laki-laki iu melepas sarung tangan dan mengibaskannya dibelakang truk, Baekhyun menghela nafas lega dan keluar dari truk menuju ke kursi penumpang. Terbesit perasaan yang sungguh nyeri mengetahui kalau Chanyeol tak mau menatapnya, tapi kemudian ia menegakkan dagunya, dan memutuskan untuk tidak peduli.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Baekhyun.

Chanyeol memberinya tatapan datar sebelum berjalan kembali ke belakang truk, melewati Baekhyun menuju depan rumah. "Kenapa?"

Ini benar-benar situasi yang dibenci si brunet ketika Chanyeol malah balik bertanya. Mendengus pelan, ia menggerutu tanpa menjawab pertanyaan itu sambil ia berjalan mengikuti Chanyeol masuk ke rumah orang tuanya. Ia setengah berharap bahwa Chanyeol akan membantunya membuka pintu dan mempersilakannya masuk duluan, tapi apa yang dilakukan Chanyeol melenyapkan imajinasi yang ia harapkan.

Rumah terasa hangat, penuh dengan aroma masakan yang ibunya masak, Baekhyun melepaskan sepatu bootnya, menyadari kalau Chanyeol tidak berniat melakukan hal yang sama.

"Apakah pekerjaan kalian sudah beres nak?" Ayah Baekhyun bertanya dengan semangat dari tempat duduknya.

"Iya paman," Chanyeol membungkuk hormat, bibirnya mambentuk garis lurus untuk tersenyum. "Kita juga telah meneliti saluran air. Dan terlihat baik-baik saja."

Itu memang seharusnya baik-baik saja. Baekhyun sangat yakin ia tidak akan mau berjalan sepanjang 2 mil untuk mengeceknya ditengah terik sinar matahari lagi.

"Itu berita yang bagus. Oh ya Baek." Mengalihkan pandangan padanya. "Jangan lepaskan dulu sepatumu. Ibumu memintamu untuk mencarikan sesuatu untuknya."

Dengan rahang yang hampir terjatuh, Baekhyun merasa pundaknya merosot lemas. "Tapi aku lelah."

"Sebenarnya ibumu membutuhkan beberapa hal di toko. Tidak akan bisa menyelesaikan masakan untuk makan malam tanpanya." Ayahnya mengambil dompet dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat. "Bergegaslah sebelum gelap. Tokonya akan tutup jam 8 malam."

Banyak keringat yang menempel ditubuhnya, dan Baekhyun sama sekali tidak memiliki niat untuk menambahnya lagi. Karena hal itu benar-benar tidak nyaman dan pergi ke toko hanya akan menambah penderitaannya. Ia memiliki niat untuk menolak dan melangkahkan kakinya ke lantai atas dan berpikir haruskah ia menyewa orang untuk menggantikan tugasnya di peternakan.

Itu pasti akan lebih mudah baginya. Tidak seperti dirinya, siapapun yang akan disewanya yang jelas akan lebih mampu untuk bekerja dan merawat peternakan untuk waktu beberapa bulan yang dibutuhkan. Imajinasinya buyar ketika Chanyeol mengambil printah ayahnya, melangkah kedepan untuk mengambil kertas tersebut. Ia membuka lipatannya dan melihat sekilas list yang dibutuhkan.

"Apakah hanya ini yang bibi butuhkan?"

Terkesan dengan kebaikan Chanyeol, ayah Baekhyun mengernyit. "Ya, tapi untuk yang ini, Chanyeol, itu bukan pekerjaan yang harus kau lakukan."

"Itu bukan masalah."

"Ini memang masalah Chanyeol—Baekhyun, mau kemana kau?"

Menyelinap diam-diam ke belakang, Chanyeol belum beranjak pergi seperti yang ia prediksikan. Ia berhenti melangkah, selangkah lagi menuju tangga. "Aku akan mandi."

"Aku baru saja memintamu untuk membelikan sesuatu di toko."

"Chanyeol bilang, ia akan melakukannya."

Sambil meninggikan suaranya pada anaknya sendiri, Mr. Byun menunjuk jari ke arahnya. "Aku menyuruhmu. Chanyeol telah melakukan hal lebih dari cukup untuk hari ini untuk orang yang membantumu secara cuma-cuma."

Cuma-cuma? Tatapan Baekhyun beraih kearah Chanyeol, tapi laki-laki itu mengalahkan pandangan darinya, menatap pada ayahnya. Memori itu menyeruak di pikiran Baekhyun bagaimana tuduhan-tuduhan yang ia ucapkan ke laki-laki itu sebelumnya, dan perasaan bersalah benar-benar menggerogotinya. Menelan ludah dengan gugup, ia membuka mulutnya untuk meminta penjelasan mengenai hal tersebut, tapi sekali lagi Chanyeol menyelanya.

"Paman, tak apa-apa. Biarkan Baekhyun pergi. Ini sama sekali bukan masalah buatku."

Baekhyun menautkan alisnya saat ia mengamati apa yang dilakukan Chanyeol. Kenapa ia membohonginya dan kemudian membelanya? Apakah untuk mencari muka. Menggertakkan rahangnya, Baekhyun berbalik arah kearah dua laki-laki yang lain, merebut kertas yang ada di tangan Chanyeol.

"Berhentiah berdebat. Aku akan melakukannya."

Ayahnya terlihat lega dengan apa yang Baekhyun lakukan saat ia membalikkan badannya kearah pintu. Pikirnya tidak ada susahnya memakai sepatu boot yang sudah ia pakai, jadi ia memakainya dari arah terbalik. Selama beberapa saat, ia menganggap kalau ia sudah benar-benar keren saat ia keluar rumah, tapi beberapa langkah setelahnya, ia sadar kalau ia melupakan sesuatu.

"Aku perlu kunci mobil."

Chanyeol belum beranjak dari tempatnya, tapi perhatiannya tertuju pada Baekhyun yang tengah kebingungan. Benar-banar membutuhkan usaha yang keras bagi si brunet untuk mengabaikannya.

"Kunci trukmu."

"Truk?" Mr Byun tertawa terkekeh, dan itu menyindir Baekhyun entah kenapa. "Tak taukah kau truknya tidak ada di rumah sekarang? Kalau ada, bukankah kau sudah melihatnya dari tadi."

"Apa maksudnya tidak ada truk dirumah?"

"Maksudku, truk itu tengah diperbaiki di bengkel," ayahnya manjelaskan dengan santai. "Ada masalah kebocoran di tangkinya. Aku tak mungkin membiarkannya kalau aku tak ingin membuang-buang bahan bakar saat berkendara." Rahang Baekhyun mulai mengeras karena geraman gigi-giginya menahan marah.

"Lalu bagaimana caranya aku ke toko!?" suaranya yang tinggi membuat Chanyeol jengkel.

"Baekhyun perhatikan nada bicaramu."

Ia menatap ke ayahnya seperti awal lagi. "Haruskah aku berjalan kaki!?"

"Ada sebuah sepeda tua di gudang. Kurasa kau bisa menggunakannya," Ayahnya berkata dengan pelan.

"Sepeda yang sama saat kau gunakan di bangku sekolah dulu, jadi mungkin terlihat berkarat di beberapa bagian." Isakan lolos dari mulut Baekhyun. Wajahnya mungkin terlihat putus asa sehingga Chanyeol menyelanya untuk yang ketiga kalinya dan berjalan mendekatinya. "Aku akan mengantarnya ke toko." Baekhyun menaikkan alisnya. "Benarkah?" satu kata lolos sebelum ia sempat berpikir, dan untuk pertama kalinya, Chanyeol berkata sambil menatap padanya.

"Chanyeol, menurutku ia—"

Menggelengkan kepalanya, Chanyeol menolak untuk mendengarkan alasan lagi. "Seperti yang paman katakan, hari akan segera gelap, seingatku Baekhyun tidak pernah memasang lampu di sepedanya dan itu tidaklah aman bersepeda saat gelap nanti."

Laki-laki itu benar-benar masih ingat, Baekhyun tak dapat berkata-kata selain kagum padanya. Ia bahkan tidak mengingat sepeda sialan itu, apalagi kalau ia harus memasang lampu ketika ia masih dibangku sekolah dulu. Sambil mengernyit, Baekhyun memegang pergelangan tangan Chanyeol.

"Berikan aku kuncinya dan kau bisa tetap disini. Kau terlalu banyak membantu." Ia berkata dengan pelan. Tertawa simpul, Chanyeol memberinya ekspresi sindiran, tapi ia tidak melepaskan tangannya dari sentuhan Baekhyun. "Setelah kejadian gerbang itu, aku tidak akan lagi meminta tolong darimu." Mengalihkan pandangan dari Baekhyun yang masih menganga tak percaya, Chanyeol membungkukkan badannya pada laki-laki yang lebih tua yang menunggunya di tempat duduk yang sama. "Aku akan kembali secepatnya."

"Chanyeol—"

Keduanya, si ayah dan anak memanggilnya secara bersamaan, tapi ia tampak tak mempedulikannya. Dengan beberapa langkah, Chanyeol sudah berada di teras, menuruni tangga menuju truknya. Baekhyun mengamatinya melalui jendela rumahnya, benar-benar frustasi dengan sungguh keras kepalanya si Chanyeol itu.

"Dari sekian banyak orang kenapa kau memintanya..."

Pertanyaan itu lolos pelan tanpa nada protes. Malah lebih terdengar semacam nada sedih didalamnya. Perhatian Baekhyun terlalu terfokus dengan kejadian itu untuk menyadari sesuatu.

"Sebenarnya aku tidak memintanya. Pemuda itu mendengar berita kalau aku memaksamu pulang dan dia menawarkan bantuan."

Baekhyun terdiam. Lalu, "Apa yang diinginkan sebagai gantinya?"

"Tak ada. Bahkan ia tidak meminta bayaran."

To be continued...

.

.

T/N

Gimana? Penasaran?

Masih banyak kejutan cerita di part selanjutnya, so stay tune for the next updates!

Thanks for reading and please leave comments. And HAPPY NEW YEAR to you all. ^^

#lovesign