VIXX: Han Sanghyuk x Lee Hongbin

Genre: Romance, Fluffy

[Both are Idiots, But They Fall In Love]

.

Namaku Han Sanghyuk.

Dan aku sedang jatuh cinta pada seorang sunbae. Sebut saja dia Lee Hongbin (bukan nama samara, well, d'oh).

Singkat cerita, aku bodoh di perihal jatuh cinta. Oleh karenanya saat aku menyatakan cinta,

"Hongbin hyung, aku suka padamu!"

Dia malah membalas, "Oh tentu, dongsaeng-ku yang jangkung. Aku juga suka padamu, kau itu dongsaeng favoritku. Jadi kapan kita main lagi? Ada game baru di PS4. Mau ke rumahku malam ini?"

Salah, salah. Harusnya aku bilang cinta! Ya ampun!

Kenapa aku bisa jatuh cinta pada sunbae yang tidak peka seperti ini? Let me tell you, love is stupid, afterall. Aku sedang marah pada ayahku yang memintaku untuk belajar terus-terusan demi ujian masuk universitas terbaik di kotaku.

Padahal aku merasa aku sudah cukup bekerja keras. Setiap hari hingga dini hari aku selalu belajar, seperti rasanya kepalaku akan digilas mesin penggiling pasta - meskipun aku sebenarnya belum pernah melihat mesin tersebut sepanjang hidupku – yah, pokoknya tersiksa! Budaya Korea Selatan yang mementingkan prestige pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan sangat membunuh, kuberitahu kalian. Terutama untuk anak laki-laki.

Perempuan? Jangan buat aku memulai cerita patriarki di negeri ini.

Singkat cerita, aku kabur dari rumah, tiga hari sebelum ujian masuk universitas diselenggarakan.

Aku tidak punya teman, aku tidak punya tujuan, akhirnya aku hanya bisa menginap di internet café selama dua hari dengan makan mi instan satu kali sehari.

Sehari sebelum ujian masuk universitas dimulai, seorang laki-laki dengan suara rendah dan berat membuka pintu internet café dengan semangat. "Yo, Sungjae-ya, aku pesan lima jam lagi!" katanya dari ujung pintu. Suaranya begitu lantang dan terlihat senang, membuatku mundur dari bilikku untuk sekadar mengintip.

Wajahnya tak sesuai dengan rupanya. Dia sangat cantik! Untuk seorang laki-laki yang tinggi!

Dan beruntungnya, dia duduk di bilik sebelahku.

Aku tak bisa berhenti untuk melempar pandanganku ke arahnya beberapa kali saat itu. Wajahnya terlihat sangat senang. "Ah… sepertinya dia tidak banyak beban." Gumamku saat itu, yang tanpa kusadari ternyata kuucapkan dengan cukup jelas.

"… Ya?"

"Eh – "

"Kau sedang membicarakanku?"

"ah, maaf, aku – tidak bermaksud… hanya… kau terlihat semangat sekali bermain. Seperti tidak ada beban saja." Jawabku asal, panik.

"Ayahku tukang mabuk-mabukan. Ibuku melarikan diri. Aku tinggal sendirian dengan kerja sambilan sebagai model atau sebagai penjaga kasir. Aku juga sedang kuliah karena aku harus memperbaiki hidup. Bebanku tak berat, bukan?" jawabnya sarkas, lalu tersenyum. "Jadi tidak masalah aku menikmati waktuku sebentar disini. Apa kau sedang lari dari rumah?" tebaknya.

Aku menunduk malu.

"Tepat." Jawabnya sambil tertawa renyah. "Bermainlah, lalu belajarlah, lalu bekerjalah. Semua lakukan dengan setimpal." Lanjutnya.

Aku terkesima.

"Siapa namamu?" tanyanya. Aku mengangkat wajahku dan menjawab dengan terbata-bata. "H-Han Sanghyuk…"

"Lee Hongbin. Tahun kedua universitas X. Jurusan IT. Salam kenal, Sanghyuk-ah." Jawabnya dengan nada ramah. Semenjak saat itu aku tidak bisa menyingkirkan suaranya dari ingatanku. Oleh karenanya aku bertekad aku harus bertemu lagi dengannya. Aku bekerja keras agar aku bisa masuk ke universitas X tersebut, yang mana ternyata merupakan salah satu universitas terbaik, dan tentu saja ayah mengijinkanku.

Dan disinilah aku sekarang, menjadi dongsaeng orang yang aku cintai. Sudah setaun aku sekarang selalu berada di dekatnya, namun dia sama sekali tidak mengerti sinyal cintaku!

"Sanghyuk-ah~"

"Ah,"

"Kenapa bengong? Kau lapar, heh?" tanyanya sambil melirik manis ke hadapanku. "Tidak… aku hanya sedang berpikir."

"Berpikir apa~ dasar bodoh. Kau tidak boleh bengong begini di jalan. Ayo beli sesuatu dulu untuk dimakan di rumahku."

"Ehhh… ba-baiklah." Jawabku dengan nada kecewa. Andai saja dia tahu aku memikirkannya…

But hell, aku sangat mencintainya. Serasa hanya dalam satu kedip, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam! Kami bermain PS4 cukup lama, sebelum akhirnya perut kami mulai keroncongan. "Uhhh… Hongbin-hyung… aku lapar." Keluhku dengan nada manja.

"Aku juga. Pesan ayam dan soju?"

"sounds good."

Kami menunggu sekitar tiga puluh menit sebelum akhirnya kami menerima paket ayam kami. Dan beberapa botol soju. Akhirnya kami menikmati waktu lebih santai setelah sekitar… empat jam bermain game. Keren.

"Huuum~ jadi kau tidak akan memberitahuku apa yang kau pikirkan tadi~?" kata Hongbin hyung dengan nada suara yang mulai mendayu. Dia mulai mabuk, pikirku. Aku menghela napas dalam, lalu menjawab. "Tentu saja aku memikirkan tentang Hongbin hyung."

"…A~ku~…?"

Aku mengangguk. "Aku mencintai Hongbin hyung…"

"Aku juga sama, Sanghyuk." Jawab Hongbin hyung lagi. Aku tertawa pasrah. "Kau tidak mengerti, mungkin… aku mencintai Lee Hongbin seutuhnya… bukan karena kau sunbae-ku yang menjadi inspirasiku… bukan juga karena kau menjadikanku dongsaeng favoritmu. Aku mencintaimu karena… kau." Balasku.

"Kau pikir aku bodoh?"

"… Eh?"

"Tentu saja aku tahu kau mencintaku, dasar bodoh~"

"Eh? Eh?"

Hongbin hyung kemudian berdiri mendadak, lalu berjalan gontai ke arahku. Keseimbangannya terganggu karena efek alcohol, sepertinya, karena tak sampai tiga detik, dia nyaris tersungkur sebelum akhirnya aku menangkapnya. "Hyung!"

"Offf…"

"Hyung… kau mabuk…"

"Hmmm… jadi apa kau keberatan jika berciuman dengan rasa soju?" tanyanya. Aku seperti tuli, efek alcohol, atau apa? Dia bilang 'berciuman'? otakku yang terkontaminasi soju harus bekerja ekstra. "Ti-tidak sih… soal rasa ciuman… sih… aku…"

Chu.

Mataku terbelalak ketika bulu mata hyung-ku menyentuh pipiku…

Saat bibirnya yang lembab dengan aroma soju menyentuh bibirku. Mulutku terkatup rapat karena refleks. Selama lima detik, rasanya seluruh ototku mengeras, membuatku terpatung. Sebaliknya, saat Hongbin-hyung melepas ciumannya, ototku seakan luruh, membuatku nyaris serasa akan mati lemas. "Bilang kau mencintaiku, bukan hanya suka. Kau hanya bilang suka, suka, suka saja. Aku merasa dipermainkan. Ouf... Berbeda, tahu... Aku mencintaimu, begitu! Aku mencintai dongsaengku, kau mencintai sunbae-mu, harusnya begitu!"

"… Ah…"

"Mengerti?" tanyanya dengan nada yang sok berkuasa, lalu saat dia menunjukkan lesung pipinya yang manis, aku hanya bisa tersenyum selebar-lebarnya.

"Iya, hyung."

Aku tertawa lepas. "Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu."

Aku memeluknya dengan erat. "Ahh… aku sangat mencintaimu."

"dasar bodoh, hehe."

Kami tertawa.

Lalu berciuman lagi.

.

.

.

.

.

Halo! Seperti judulnya, fic ini berisi drabble-drabble singkat.

Shipnya macem-macem. Tapi kebanyakan mungkin bakalan LeoN :) dan setiap drabble mungkin tidak akan berkaitan. Karena fic ini khusus buat nampung ide-ide plot sederhana author yang suka muncul dimana saja, terutama kalo habis ngobrol di grup, haha. Heart Remedies maksudnya author sih pengennya -sok- mengikuti cerita-cerita cinta picisan yang ada di sekitar juga wkwkwkwkww. Dan tentu aja, disini VIXX bisa jadi pakai setting RL, atau setting alternatif. Semoga kalian suka ya...

Mohon reviewnya :) Terima kasih.