When You're Not Here
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Fluff
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please.
NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION.
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU :)
.
.
I have everything next to me, but only you're not here
.
.
"Hyukjae, aku tidak pernah melarangmu pergi bersama teman-temanmu. Aku hanya ingin kau tidak lupa waktu!"
Kalimat itu menjadi awal perdebatan Donghae dan Hyukjae di pagi yang lumayan cerah ini. Awalnya mereka hanya adu argumen soal Hyukjae yang belakangan ini sering keluar bersama teman-temannya, lama-lama merembet membahas perbuatan teman-teman Hyukjae yang menurut Donghae terlalu 'menempel'. Hyukjae tidak mengerti, kenapa Donghae jadi marah hanya karena hal yang sepele itu?
Donghae tiba-tiba membuang napas gusar ditengah perdebatan mereka, ia memijit pelipisnya sambil memejamkan matanya. "Aku tidak bisa menganggap ini sepele lagi, Hyukjae."
"Kau memang selalu membesar-besarkan masalah!" seru Hyukjae tak kalah gusar.
Donghae menatap kekasihnya tidak percaya. "Membesar-besarkan masalah?" tanyanya membeo. "Menurutmu, membahas soal dirimu yang kelewat mesra dengan teman-temanmu itu, di sebut membesar-besarkan masalah? Kau pulang larut malam, kau membiarkan mereka menempel padamu dan kau bahkan tidak keberatan saat salah satu dari mereka mengajakmu ke tempat yang tidak wajar!"
Hyukjae membuang napas berat. Ia yang sedari tadi berdiri memunggungi Donghae, akhirnya berbalik untuk memandang kekasihnya yang sedang duduk di sofa. Hyukjae tahu Donghae bukan sedang cemburu, dia hanya menunjukan rasa cemasnya. Tapi tetap saja Hyukjae merasa jengah, karena menurutnya Donghae terlalu berlebihan.
"Kau sendiri tahu, aku tidak melakukan apapun dan hanya bersenang-senang." Hyukjae melunak, ia menurunkan nada bicaranya dan mulai menghampiri Donghae ke sofa. Duduk disampingnya, lalu memandangi wajah gusar Donghae dengan mata doenya.
Donghae membuang wajah, kemudian beranjak dari sofa. "Sudahlah. Aku lelah, aku mau pulang ke rumah ibu."
Dan kini berjam-jam sudah berlalu sejak pertengkaran mereka tadi pagi. Siang, petang dan malam, Hyukjae lalui sendirian di apartemen mewahnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa ketika Donghae tidak ada di rumah. Jika pergi keluar menemui teman-temannya, maka Donghae akan semakin marah padanya. Jadi Hyukjae memutuskan untuk tetap berada di apartemennya dan menghabiskan waktu dengan minum wine sambil menonton televisi.
Jam sudah menunjukan hampir pukul tiga pagi, ketika Hyukjae mematikan televisinya dan beranjak ke kamarnya. Tapi meski matanya lelah, Hyukjae masih belum merasa ngantuk. Kantuk tidak juga datang, meski kini Hyukjae sudah berbaring di tempat tidur yang nyaman. Mata Hyukjae terpejam, tapi pikirannya tetap bangun dan melayang kemana-mana. Ini semua disebabkan oleh pertengkaran mereka kemarin pagi dan Donghae tiba-tiba pergi ke rumah ibunya. Hyukjae mendadak gelisah, karena apartemen mewahnya kini terasa sepi tanpa kehadiran Donghae. Tempat tidur yang ia tempati terasa sangat luas, karena tidak ada Donghae yang biasa memeluknya. Sejak kehadiran Donghae dihidupnya, Hyukjae jadi tidak terbiasa sendirian, ia jadi mudah bosan jika Donghae tidak ada disisinya. Padahal berulang kali Hyukjae selalu mengeluh karena Donghae yang selalu menempel padanya. Kini giliran Donghae pergi, ia malah gelisah tidak karuan. Lee Donghae benar-benar membuat hidup Lee Hyukjae menjadi kacau.
Karena kantuk yang tidak kunjung tiba, akhirnya Hyukjae memutuskan untuk menyalakan ponselnya. Pertama-tama ia mengecek kotak masuk pesannya, berharap ada pesan singkat dari Donghae. Tapi lupakan, karena Hyukjae tidak menemukan pemberitahuan apapun di ponselnya. Akhirnya Hyukjae membuka jejaring sosialnya dan memulai siaran langsung. Menyapa beberapa penggemarnya dengan menunjukan wajah manisnya.
Apa aku terlihat sangat mabuk? batin Hyukjae sambil membaca beberapa komentar. Meski benar ia mabuk, tapi Hyukjae merasa tidak semabuk itu. Ia yakin tidak menghabiskan isi botol wine itu. Mungkin hanya setengahnya? Entahlah, Hyukjae juga tidak begitu memperhatikannya. Tapi yang jelas, Hyukjae merasa tidak mabuk.
Cukup lama Hyukjae melakukan siaran langsung itu, hingga akhirnya ia melihat ada pemberitahuan pesan masuk di layar ponselnya. Awalnya Hyukjae tidak peduli, tapi begitu ia melihat ada nama Donghae tertera di sana, Hyukjae buru-buru mematikan siaran langsungnya.
'Sudah tidur?'
Hyukjae tersenyum membaca pesan singkat itu. Ia tahu, Donghae tidak akan pernah benar-benar mengabaikannya meski sedang marah sekalipun.
'Belum, aku tadi melakukan siaran langsung di Instagram.'
Masih dengan senyum sumringah, Hyukjae membalas pesan singkat kekasihnya sambil terlentang di tempat tidur. Matanya tidak bisa berhenti memandangi layar ponselnya, menunggu blasan dari Donghae.
'Lalu?'
Senyum Hyukjae semakin mengembang melihat balasan yang datang, ia buru-buru mengetik secepat angin.
'Lalu, aku tidak bisa mematikannya'
'Bodoh!'
Hyukjae berdecak melihat balasan Donghae. "Orang bodoh mengolok orang lain bodoh. Dasar bodoh!" gumamnya kesal.
'Sudah hampir pagi, cepat tidur.'
'Aku tidak bisa tidur.'
Tak lama setelah pesan terakhir Hyukjae terkirim, ponselnya berdering. Oh, ada panggilan masuk. Tanpa berpikir dua kali, Hyukjae buru-buru mengangkatnya.
"Kenapa belum tidur?" Suara serak Donghae di ujung sana langsung menyapa gendang telinga Hyukjae.
"Tidak bisa tidur karena seseorang yang biasa memelukku sedang tidak ada di sini."
Terdengar embusan napas berat di ujung sana."Tidurlah, ini sudah hampir pagi."
"Tidak mau!"
"Kenapa kau selalu membantahku? Tidurlah, aku akan pulang sebentar lagi. "
"Hmm."
Sambungan telepon terputus dan Hyukjae tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Alih-alih menuruti perintah Donghae untuk tidur, Hyukjae malah bergulingan di tempat tidur.
"Pembangkang."
Suara berat Donghae menghentikan aksi guling-guling Hyukjae, ia mengalihkan pandangannya ke pintu dan mendapati Donghae sedang berdiri di sana sambil menatapnya. Hyukjae mencebik, ia beringsut lalu duduk di tempat tidurnya, menunggu Donghae menghampirinya.
"Kenapa kau kekanakan sekali? Hanya berdebat kecil saja, kau sampai pulang ke rumah ibumu."
Donghae tidak langsung menanggapi ocehan Hyukjae, ia berganti pakaian terlebih dahulu sebelum bergabung dengan kekasihnya di tempat tidur yang terlihat sangat nyaman itu.
"Aku pergi karena memang sudah lama tidak pulang, tidak ada hubungannya dengan perdebatan kita," gumam Donghae tanpa berbalik.
"Kau marah?" tanya Hyukjae pelan.
Donghae menghela napas sebelum berbalik. "Aku tidak marah, aku hanya kesal."
"Apa bedanya," gumam Hyukjae hampir tidak terdengar.
Donghae menghampiri kekasihnya, ia berbaring, lalu menarik Hyukjae agar ikut berbaring bersamanya. Mata sendu Donghae menatap dalam mata Hyukjae, jemarinya mengelus wajah mulus itu, lalu ia mencubit gemas hidung mancung Hyukjae.
"Kau selalu membantahku," keluh Donghae tiba-tiba. "Aku melakukannya karena mencemaskanmu dan yang jelas aku tidak suka ada orang lain yang terlalu menempel padamu."
Hyukjae terkikik pelan. "Aku tahu, maafkan aku."
Dan langsung saja Donghae menghadiahi kekasihnya dengan kecupan ringan di hidung mancungnya. Dari semua yang ada pada Hyukjae, ia paling suka dengan hidung mancung Hyukjae yang menggemaskan.
Hyukjae berdecak. "Hanya di hidung?"
Tentu saja, Hyukjae tidak suka kecupan ringan seperti itu. Ia ingin lebih dari sekedar kecupan ringan. Dan Donghae dengan senang hati memberikan apa yang Hyukjae mau. Donghae mengecup lembut kening Hyukjae, lalu turun ke mata, pipi dan berhenti di bibir plumnya yang mencebik. Beberapa kali Donghae mengecupnya ringan, hingga akhirnya Hyukjae menahan tengkuk Donghae dan memperdalam ciuman mereka.
Donghae tidak menolak, ia ikut memagut bibir Hyukjae dan mulai mengendalikan pagutan mereka. Mata Hyukjae hanya terpejam ketika telapak tangan Donghae mulai mengelus tengkuknya. Ciuman Donghae kini turun ke leher dan tengkuknya, membuat Hyukjae semakin memejamkan matanya. Embusan napas hangat Donghae memberikan sensai menggelitik yang nyaman.
"Kau ... mau melakukannya? Ngh—" Hyukjae tidak bisa menahan desahannya ketika Donghae mulai menghisap lehernya. Oh, sial, bahkan jejak yang ditinggalkan Donghae kemarin belum hilang dan sekarang dia menambahnya lagi.
Tidak ada jawaban. Donghae terlalu sibuk mencumbu leher dan bahu terbuka Hyukjae. Wifebeater yang dikenakan Hyukjae malam ini membantu pekerjaan Donghae. Bibir tipis Donghae menyusuri bahu putih Hyukjae hingga turun ke lengan. Tidak cukup sampai di situ, Donghae menyingkap pakaian Hyukjae hingga sebatas dada, lalu ia mulai mengecupi perut rata Hyukjae hingga terus naik ke dadanya yang mulus. Donghae memberi hisapan di dada kirinya, meninggalkan jejak merah yang cukup jelas sebelum akhirnya menghisap puncak dada Hyukjae.
"Donghae!" Hyukjae berseru, ia berjengit kaget karena perlakuan Donghae yang tiba-tiba. Jari-jarinya menarik kasar rambut pirang Donghae. Memberi sinyal agar Donghae melakukan hal yang lebih lagi.
"Kau menyukainya?" tanya Donghae menggoda. Ia meninggalkan puncak dada Hyukjae dan kembali mengecupi bibir plum Hyukjae.
"Hm, aku menyukai semua yang kau lakukan padaku."
Donghae tersenyum puas, ia kembali mencumbu leher dan bahu Hyukjae, terus turun hingga kembali ke perut ratanya. Donghae berhenti sejenak, ia menarik turun celana pendek Hyukjae sebelum membawa bibirnya bermain-main di paha dan selangkangan Hyukjae. Tidak ada yang bisa dilakukan Hyukjae selain melenguh dan menarik-narik rambut pirang Donghae, semua perlakuannya membuat Hyukjae mabuk kepayang.
"Kau milikku, Hyukjae. Hanya milikku."
Suara berat Donghae membuat Hyukjae berjengit, sesuatu di bagian selatan tubuhnya menegang saat Donghae mulai menjilati betis dan paha dalamnya. Oh, ya Tuhan. Donghae benar-benar tahu cara membuat Hyukjae melayang.
"Hisap—ngh ... aku ..." Hyukjae terbata-bata mengucapkan keinginannya, ia tidak bisa menyusun kalimatnya dengan benar karena Donghae bermain-main di paha dalamnya dan tidak sekalipun menyentuh miliknya yang mulai tegang.
"Apa? Katakan dengan benar, sayang." Donghae mendongak, memperhatikan wajah kekasihnya yang merona. Tangannya masih mengelus paha mulus Hyukjae, sementara tangan yang satunya ia gunakan untuk menggoda puncak dada Hyukjae.
"Garuk ... itu—ngh, aku mohon," desah Hyukjae frustasi.
Donghae terkikik, ia suka melihat Hyukjae frustasi karenanya. "Berjanjilah kau tidak akan membantahku mulai sekarang. Hmm?"
"Oke ... aku tahu! Sekarang ... uh, Donghae aku mohon!" Kaki Hyukjae bergerak gelisah menendang udara, ia tidak tahan dengan permainan telapak tangan Donghae di selangkangannya.
"Ngh—Lee Donghae, kau memang idiot!" seru Hyukjae sambil mendesah dan melenguh.
Kini Donghae mulai menjilati milik Hyukjae yang tegang sepenuhnya. Oh sialan! Donghae selalu tahu cara agar Hyukjae patuh padanya. Lihatlah, Hyukjae patuh begitu saja hanya karena sentuhan Donghae yang tidak seberapa.
"Aku bilang hisap!"
Mendengar perintah Hyukjae, Donghae hanya bisa berdecak sebelum memasukan milik Hyukjae ke dalam mulutnya.
"Uh ... feels good, Donghae kumohon. Lagi ... lakukan yang lebih," pinta Hyukjae sambil terus menarik rambut Donghae.
"Oke, jangan sampai dulu. Let me in first, sweetheart."
Hyukjae hanya bisa mengangguk pasrah saat Donghae melepaskan hisapannya, kekasihnya itu mengambil sesuatu dari bawah bantal yang menjadi alas kepala Hyukjae.
"Aku membutuhkan ini," kata Donghae sambil menunjukan botol lubricant, sebelum Hyukjae bertanya padanya. Kemudian ia lepaskan celananya dan dalamannya sekaligus. "Aku tidak mau membuatmu menderita," gumamnya sambil mengeluarkan cairan lengket itu dari botolnya.
Sekarang Hyukjae merasa Donghae jadi seperti maniak. Kekasihnya itu menyimpan benda itu di setiap sudut ruangan. Sulit di percaya, dengan wajah sepolos itu, Donghae bertingkah seperti maniak yang menempel pada Hyukjae.
"Biarkan aku masuk dan membuatmu penuh." Donghae mengecup singkat bibir Hyukjae, sebelum membawa miliknya yang sudah berlumuran cairan lube itu ke lubang sempit Hyukjae.
"Ngh—Lee Donghae!" Hyukjae memekik ketika Donghae mengangkat sebelah tungkai kakinya dan mendesak masuk miliknya yang tidak bisa di bilang kecil itu.
"Langsung kena?" tanya Donghae polos.
Hyukjae mengangguk buru-buru, tangannya kembali menarik rambut Donghae dan membawanya ke puncak dadanya yang butuh sentuhan juga. Donghae menurut, ia menghisap-hisap puncak dada kekasihnya sambil menggerakan pinggulnya dengan cepat. Ia mengejar puncaknya buru-buru, karena mereka harus segera tidur sebelum matahari terbit.
"Pelan ... ngh—Donghae ... terlalu cepat—ngh."
Gerakan brutal Donghae, membuat Hyukjae terlonjak. Ia hanya mampu memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya agar tidak teriak terlalu heboh. Bagaimana tidak mau berteriak, kini bibir Donghae sedang menggoda puncak dadanya, tangan kirinya meraba seluruh lekuk tubuh Hyukjae dan tangan kanannya menggaruk milik Hyukjae dengan sensual.
"Donghae, penuhi aku ... aku ... aku akan sampai."
"Sebentar ... uh." Donghae menggeram sambil memperdalam dan mempercepat gerakannya. Telunjuknya semakin gencar menggoda milik Hyukjae yang semakin licin.
"Ah!"
Mereka mendesah lega hampir bersamaan, pelepasan mereka tumpah membasahi perut keduanya. Donghae tersenyum setelah selesai menikmati pelepasannya di dalam tubuh Hyukjae, ia ambruk menindih Hyukjae. Kepalanya tergolek pasrah di dada Hyukjae dan napasnya memburu.
"Kau berat!" seru Hyukjae sambil menyingkirkan Donghae dari atas tubuhnya.
Donghae bergeser memberi Hyukjae ruang, sebelum akhirnya ia menarik Hyukjae mendekat dan memeluknya dari belakang. Mata sendunya terpejam, tapi bibirnya tidak bisa berhenti memberi kecupan ringan di tengkuk dan bahu Hyukjae.
"Singkirkan bibirmu, idiot!" hardik Hyukjae sambil mengendikan bahunya yang sedang digigiti Donghae.
"Tidak mau!"
"Biarkan aku tidur, Lee Donghae."
"Aku akan tidur sambil menghisap bahumu."
Hyukjae berdecak, berusaha melirik Donghae dari balik pundaknya. "Dasar cabul!"
"Kau suka kucabuli, jadi jangan banyak mengeluh."
Mata Hyukjae membola sempurna. "Lee Donghae, darimana kau belajar bicara kotor seperti itu?"
END
.
.
ooODEOoo
.
.
Oke... ini yg keduanya wkwkwkwkwk
Aneh? Maafin yaaa heheheheheb
Oke, see ya di ff berikunya... jng bosen sama saya kkkkk :)
With Love,
Milkyta Lee
