Terima kasih atas review di chapter sebelumnya:
Oh. ILoveCupcakes—maaf telat sampe 5 tahun, Kak#digantung Makasih masih nyempetin review, ya, Kak.
akari hikari—terima kasih udah nyempetin review, Akari. Maaf, baru updet, ya#ditendang
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Heroine Wannabe | Furika Himayuki
Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: OOC (stadium akhir); AU (tidak ada yg namanya Shinigami2an atau Hollow apalagi espada); siapkan obat sakit kepala sebelum dibaca; istilah medis yg seenaknya dipake author yg jelas2 tidak tahu apa pun ttg dunia medis
.
.
Terinspirasi dari:
Grey's Anatomy © Touchstone Television
Surgeon Bong Dal Hee © SBS TV
Team Medical Dragon © TV Asahi Entertainment
.
.
.
.
.
VOLUME II
"Kenapa aku dibawa-bawa?" Ggio bersandar di tembok, bersila lengan.
Renji mendengar keluhan itu lebih banyak dari rengekan bayi. Bersedekap dan melirik Senna, ia berjinjit menonton lewat jendela pintu. Mau di sinetron, film atau drama nyata, antusiasme penggila romance selalu ON tanpa tahu tempat. Ditariknya kerah belakang jubah putih si cewek berkuncir. Berujung pada pekikan alay mirip penonton sinetron remaja sepasang kekasih siap bercumbu, tapi listrik mendadak mati. Dongkol, kan?
Renji cuek, dan menitahkan pada Sakurai yang cemberut. "Daripada kau mengintip tidak jelas, lebih baik kau periksa apa 'Yakuza' dan Shihouin-sensei sedang menuju ke sini atau tidak. Itu lebih berguna!"
Boro-boro, Senna menghempaskan punggung ke dinding, mengerling Ggio, dan berucap setajam silet, "Kenapa tidak suruh Vega-sensei saja? Tugas itu lebih cocok untuknya."
Telinga si kepang menegak.
Satu alis Renji merangkak tinggi, menoleh pada dua kolega kiri-kanan. Senna-Ggio buang pandang, mirip pasangan tsundere akut di manga shoujo. "Ada apa ini? Kalian berdua sedang berperan jadi suami-istri yang mau tapi malu?"
"Oi, apa itu, Abarai?! Jangan membawa sinetron terkutukmu ke sini!" Si kepang menyergah sewot. "Dan aku dengan Sakurai," melirik, "tidak terjadi apa-apa, dan tidak ada hubungannya dengan peran suami-istri yang mau tapi malu!" Ya, Ggio tegaskan itu, sampai tercipta hujan lokal, dan korbannya tentu Renji.
(Tidak ada komentar) Abarai mengeluarkan sapu tangan, (masih tanpa komentar) membersihkan muka, dan (malangnya, masih tidak sempat komentar) badan besarnya sudah langsung ditarik berlawanan arah.
Oke, giliran Senna.
"Ya, itu betul!" Si ungu melotot marah (dibuat-buat, supaya tampak tidak terima, padahal hati sudah melonjak girang). "Tolong, jangan melawak di pagi bolong begini, Abarai-sensei!" Ah, sarkasme gagal dalam suara bergetar damba. "Aku dan dia jadi suami-istri?!" Ia niatnya memberi Ggio lirikan setajam belati, namun yang tampak adalah lirik damba harapan pelaminan. "Kurasa kau harus memeriksakan mata sipitmu itu! Dan yang paling penting," ia memburu oksigen, alih-alih karena jengkel, justru jantung yang dag-dig-dug, "tidak ada drama yang judulnya 'Suami-Istri yang Mau tapi Malu'! Jika ada, aku pasti sudah menontonnya, kau tahu itu!"
Ya, bukan itu masalahnya! Namun, Renji masih diam ... meski mengalami dua kali hujan lokal.
Terkutuklah topik 'Suami-Istri yang Mau tapi Malu'!
Empat-lima perawat berlalu-lalang, melirik curiga, dan berbisik, sebelum ambil langkah seribu setelah mendapati awan gelap mengerubungi Ggio dan mata melotot milik Senna.
Renji, tidak sengaja, berdeham.
"APA!" Ggio-Senna kompak.
Renji yang malang, bersuara salah tempat dan kondisi. "Aku ... hanya mau bilang," isi kepalanya langsung kosong, "aku mau beli minum―"
"LALU?!"
"Mungkin ... ada yang mau titip makanan...?
"TIDAK!"
"Persoalan begini kompak banget," Renji bergumam―
"APA?!" ―dan didengar.
Renji langsung ngacir. Gila! Sejak kapan Ggio dan Senna jadi tsundere parah? Kalau mau jadi tsundere, jangan ajak-ajak dia kali, main sendiri saja sana!
# 2 #
.
Ryuuken & Yoruichi
Apa yang sedang dilakukan tiga orang itu? Toushiro meminta mereka berjaga, bukan untuk lomba teriak-teriak.
Rukia tertawa pelan. Toushiro menoleh, dan nyengir malu. "Maaf."
Namun, Rukia tidak menyinggung kebisingan di balik pintu. Justru, muka cengo si dokter muda. Bayangkan saja seraut wajah kesal dan bengong. Ingin marah, tapi heran juga dengan debat tidak berbobot rekan-rekannya di luar sana.
Ekspresi yang ... luar biasa.
Rukia merasa sudah berabad lamanya tidak bertemu ekspresi murni manusia. Kehilangan tiga pegangan hidup dalam satu malam, tanpa alarm peringatan, membuat dunia dan masyarakat seakan berkomplot memusuhimu. Jagat raya mendadak hitam menggelap, langit ingin menginjakmu sampai remuk-redam, bumi haus menelanmu hingga jiwa kering kerontang. Orang-orang berubah menjadi monster pemakan harapan, dan melenyapkan asamu dalam bentuk kasihan, tidak peduli, hingga merasa menjadi manusia tidak layak hidup, tidak berguna―
―manusia paling menderita di dunia.
Ketika itu datang, Rukia sudah menyamaratakan semuanya. Sekujur dunia sama, langit dan bumi adalah neraka, tidak lebih dari atap dan lantai kusam menjijikkan. Seluruh manusia sama; orang-orang yang sudah dikenal, pernah dikenal, sekadar dikenal, kenal nama, kenal muka, dan tidak kenal muka-nama, tidak lebih dari sekumpulan iblis bertopeng malaikat. Mereka adalah makhluk paling bajingan di muka bumi.
Bila dunia dan isinya segelap dan sekejam itu, untuk apa ia bertahan―di saat ia sudah tidak punya naungan dan lindungan; keluarga, rumah, teman-teman ... ke mana mereka semua?
...Sendirian.
Rukia ingin ... lenyap.
...Deg... Deg... Deg. Deg...!
Rukia siap melepaskan semuanya. Namun, ada seseorang yang tidak rela.
Tangan lemah Rukia diletakkan pada sebuah pundak―pundak itu kecil, tapi serasa menjadi tiang penopang paling kukuh sedunia. Pelan-pelan, membantunya bangkit. Saat ia memberontak, tiang itu mengeluarkan sulur, memeluknya erat tapi lembut, tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja. Pelan-pelan, kembali menolongnya berdiri, dan berjalan satu-dua langkah. Kerikil-kerikil menggores kulit kakinya, ia takut, tapi si tiang tetap merengkuh, tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, itu hanya kerikil. Melewati semak-semak berduri tajam, menusuk dan mencakar, ia meringis sakit, tapi si tiang mengelus punggungnya, tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, itu hanya semak. Lalu berhadapan dengan tembok tinggi dan tebal seakan mau melumatnya menjadi bubur, ia gemetar dan ingin menyerah, tapi si tiang menggenggam pundak, tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, itu hanya tembok―
―dan kau tidak sendirian, aku ada di sini.
Deg! DEG! DEG! DEG!
Suara jantung itu adalah seruling kehidupan yang menjemputnya saat mata kembali terbuka melihat dunia. Mengiris nadi, menegak racun, terjun dari gedung rumah sakit, hingga pengajuan DNR―semua itu tidak cukup untuk membuat tubuh dan jiwanya menyerah.
"Kau tahu alasan kenapa kau selalu hidup ketika kau mencoba untuk mati? Itu karena tubuhmu, dirimu, nyawamu bukan lagi milikmu! Mereka milik orang lain―milik orang-orang yang peduli padamu."
Entah itu benar atau tidak; yang pasti, tubuh dan jiwanya memiliki semangat hidup lebih baik daripada mentalnya.
Ia mau mati!
Pikiran itu masih sering membayang. Tapi, ia sudah tidak punya niat untuk mewujudkan. Harapan dalam bentuk sesosok dokter muda, Toushiro Hitsugaya, memberinya keberanian untuk hidup. Namun, kemauan hidup tidak cukup untuk menjadikannya manusia―
―seutuhnya manusia.
Rukia memerhatikan detail demi detail wajah malu Toushiro. Laki-laki ini pernah terjun ke jurang sedalam yang ia pijak. Namun Hitsugaya-sensei bangkit, satu langkah-satu langkah, lamat-lamat, hingga ia bisa berdiri di atas kakinya, sampai Toushiro bukan hanya mampu menolong dirinya, tapi juga orang lain. Tidak hanya satu, tapi banyak orang.
Rukia ... ingin menjadi seperti―
"―Sensei."
Toushiro menoleh. "Apa?"
Duduk berdua di bibir kasur berseprai putih, membelakangi jendela dengan gorden merapat ke tepinya masing-masing. Matahari pukul 07.35 pagi menyingsing hangat, dan mendarat pada punggung Toushiro. Rukia termangu. Sepasang sayap berserat tipis, menyilaukan dan meneduhkan, mengepak halus, dan merayu untuk disentuh; permainan cahaya matahari pasti membuat Rukia melihat bayang-bayang seorang malaikat.
Menoleh penuh pada wajah bingung sang dokter, Rukia menatap lurus, tersenyum pasti, dan memutuskan, "Bawa saya bersama Anda, Sensei."
Tiga satuan detik terlewat, sebelum satu tanggapan meluncur, "Eh?"
Berpaling pada genggaman tangan, Rukia berucap lirih, "Bukankah alasan Anda muncul pagi-pagi begini sebelum kedatangan Madarame-sensei adalah untuk mengajak saya pergi?"
Ah, ketahuan, ya. Toushiro juga tidak bermaksud menyembunyikannya, sih. Penjagaan tiga rekannya di depan kamar sudah cukup sebagai bukti. Ia cuma tidak menduga Rukia menyinggungnya terang-terangan, sebelum ia mengutarakan ajakan resmi.
Toushiro berdeham diam. Ajakan resmi? Apa itu?! Memangnya, kau mau melamarnya, Toushiro?! Ia seakan bisa mendengar Renji menyindirnya sambil tertawa-tawa.
Rasanya, ia ingin menggali tanah, melompat masuk, dan baru bisa keluar esok hari.
Rukia tersenyum kecil mendapati muka merah Hitsugaya yang menjalar hingga ke daun telinga. Lucu sekali.
Sepi menjadi pihak ketiga. Jarum hitam jam dinding bergerak konstan. Satu detik-satu detik-satu detik, kestabilan yang menyesakkan.
Toushiro mendadak merenung.
Jendela berbingkai putih. Gorden putih. Ranjang putih. Seprai putih. Nakas putih. Tembok putih. Putih, warna murni dan suci, tapi juga monoton dan membosankan.
Dunia adalah kanvas putih. Manusia adalah pemegang kuas dan catnya. Hidup memang pilihan. Namun menyia-nyiakan kuas dan cat, tanpa punya nyali menyapukan pada kanvas, diharamkan sebagai pilihan.
Dunia begitu luas, dipenuhi banyak orang dengan bermacam corak karakter dan pikir, juga diberkahi beragam warna yang memukau. Siapa yang tidak takjub pada kombinasi danau berpagar merah meronanya pohon sakura berlatar pengunungan hijau asri berpayung langit biru cerah?
Toushiro berjanji akan membawa Rukia melihat itu semua―lagi.
Ia menutup mata dan menarik napas tajam. Berpaling pada sang Kuchiki yang masih kegelian, sebelum ditelan bulat-bulau oleh paras serius sang dokter. "Kalau begitu," mata itu tidak berbohong, suara itu tidak bergetar, rona wajah itu tidak hampa; memerah dengan satu permohonan pasti, "pulanglah bersamaku."
Rukia tertegun, kemudian terharu.
Tapi, ada sebuah bisikan melintas.
Dunia ini kejam. Orang-orangnya adalah iblis bertopeng malaikat.
Lalu―KENAPA?
Rukia mengangguk yakin.
Kenapa kalau memang dunia ini kejam? Kenapa kalau orang-orangnya adalah iblis bertopeng malaikat?
Rukia bermimpi bisa berkata penuh tekad dan berani seperti itu pada dirinya langsung―
―suatu hari nanti.
Karena itu, Rukia tidak merasa malu untuk meminta Toushiro membawanya pergi. Sebab detik ini, ia belum sanggup untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain, dan Toushiro adalah seseorang yang menawarkan diri untuk menjadi tiang penopangnya saat ia jatuh. Dan semuanya diawali dengan menciptakan sebuah rumah.
Rukia butuh rasa rindu. Dan rumah adalah kerinduan.
Toushiro mengulurkan tangan, Rukia meraihnya mantap. "Iya, ayo kita pulang, Sensei."
. . . . .
Kebahagiaan itu singkat, jadi nikmatilah setiap menitnya.
Siapa pun yang pernah berkata begitu adalah mereka yang tidak memiliki makhluk perusuh, yang dipanggil sahabat. Apanya kebahagiaan satu menit?! Kesenangan Toushiro cuma berlangsung lima detik! Itu kelewat pendek. Buang air kecil saja, bahkan lebih lama.
Pintu diketuk tanda peringatan. Sekonyong-konyong terbuka, memampangkan tiga kepala berjejer di sela-selanya. Spontan Rukia melepas tangan si dokter, dan si putih langsung menjauh.
"Aku tahu, kami mengganggu," kepala teratas, Renji, nyengir kuda; Toushiro berbahagia melempar sepatu ke mukanya. "Tapi, 'Yakuza' sedang dalam perjalanan ke sini, jadi―"
"Maaf mengganggu kemesraan kalian, ya, Hitsugaya-sensei, Kuchiki-san," kepala kedua, Senna, mengatupkan tangan seolah ia makhluk paling berdosa di dunia. Karena di kamusnya, dosa terbesar adalah mengusik adegan romantis dua sejoli. Ingatkan ia untuk bertobat nanti.
"Kalau tidak mau namamu masuk koran gara-gara di-DO dua kali, pacarannya ditunda dulu," Ggio adalah Ggio, dan mulut sinis adalah nama tengahnya.
Tidak ada yang paling sulit bagi Toushiro selain menahan diri melempar kursi depan ranjang pada trio terkutuk. Dan Rukia yang cekikikan di detik berikutnya, membantu Hitsugaya melupakan rasa dongkol, dan berganti paras bersalah. "Maaf, aku harus pergi. Lain kali aku—"
Namun, tiga serangkai tidak akan sudi melihat Toushiro hidup senang. Tangan-tangan menyergapnya sampai jas putih melorot ke pertengahan lengan, menyeretnya kasar keluar kamar hingga satu sepatu mau copot. Hampir saja kakinya digencet pintu saat ditutup dari luar.
Derita untuk Toushiro, lawakan untuk Rukia. Tawa kecil tidak pernah absen mengisi udara bila ia menjadi saksi tingkah konyol rekan-rekan si dokter muda.
. . . . .
Kerutan kening Ikkaku mengalahkan kusutnya pakaian tanpa setrika berbulan-bulan, pun kulit dahi berlipat-lipat layaknya kertas kipas penyangga obat nyamuk. Empat bocah intern yang dicarinya sedari pagi, sedang berdiri di tikungan koridor dengan banyak kerjaan.
Bayangkan saja, Senna berceloteh, bergosip ria di ponsel (yang salah posisi), punggung handphone yang menempel telinga. Ggio mengelap kacamata baca dengan tepi jas putih, berkali-kali seperti mengepel lantai kamar mandi. Hitsugaya bersandar tembok dengan gaya sok keren, satu tangan dilipat di dada, tangan lainnya menggenggam komik shoujo. Matanya melotot, membaca serius, lalu manggut-manggut seolah paham (Yoruichi mau saja terbahak detik itu juga, tapi memilih bilang, "Kau hebat, Toushiro, bisa membaca terbalik. Ajari aku nanti."). Muka Toushiro terbakar, lalu mengembalikan komik di posisi semestinya. Renji berpose paling tidak normal, bibir nyengir aneh seolah sedang sakit gigi, dua kakinya saling bergelut seakan menahan pipis.
Ikkaku berhenti.
Renji menyumpah. "Selacmat paggi, Maddarame-sennsei," pengucapannnya jadi cadel.
Ikkaku menarik alis tinggi saja. Entah kenapa, Renji merasa terhina. Terlebih, Ggio dan Senna terkagum-kagum, seolah si nanas betul-betul menghayati peran sebagai tokoh yang mengalami gangguan pencernaan.
Baru setelah dua petugas Mental Hospital mengingatkan tentang Rukia Kuchiki, sepasang dokter mengembalikan fokus, dan melanjutkan perjalanan dengan kesimpulan bahwa Renji Abarai menderita overactive bladder alias beser atau hasrat buang air kecil susah tahan. Jarang diidap laki-laki, sehingga bisa dijadikan objek penelitian nanti.
Senna melepas napas panjang begitu para dokter menghilang dari belokan koridor. Ia yang terbiasa jadi anak baik, harus bersandiwara, adalah ujian sulit tapi mendebarkan. Ponsel salah posisi dikembalikan pada saku, dan komik shoujo yang sempat dipinjamkan pada Toushiro. Ggio kecewa pada kacamata yang lecet-lecet karena digosok terlalu kencang, dan menoleh pada Renji yang masih bertahan menjadi aktor.
"Aku tahu kalau kau dulu bermimpi jadi pemain film, Abarai, tapi muka kebeletmu itu mengganggu pemandangan."
"Aku memang kebelet, Brengsek!"
Dan ngacir menuju WC terdekat untuk melaksanakan proses defekasi alias BAB.
. . . . .
Saat dua perempuan tersebut duduk di sofa; konyol sekali, Ryuuken Ishida sempat bertanya-tanya, pasien Mental Hospital-nya yang mana? Rukia Kuchiki yang duduk tenang menyesap teh hitam yang dihidangkan atau Yoruichi Shihouin yang antusias mencampur gula dan garam dalam kopi sebelum menghembuskan desahan nikmat? Hanya orang tidak waras yang mempunyai selera segila itu.
Ryuuken menggelengkan kepala. Ia juga termasuk golongan tidak normal karena sanggup berkawan dengan wanita seeksentrik ini selama puluhan tahun.
"Jadi...?" Ryuuken tidak sabar. Ini sudah penghujung jam kerja, dan ia tidak akan sudi melewatkan makan malam dengan istri tercinta hanya untuk melayani si dokter bedah.
Yoruichi meletakkan pantat cangkir bertemu piring, elegan tanpa suara, momen saat darah kebangsawanan Shihouin tidak berkhianat. Berpaling ke samping, dan memperkenalkan, "Ini Rukia Kuchiki yang kuceritakan kemarin, Ryuuken. Dan, Kuchiki, ini Ishida-sensei, psikiater songong, yang luar biasanya, bisa bekerja di sini."
Lupakan hasrat Ryuuken menendang keluar Yoruichi saat itu. Pertemuan tersebut terjadi sehari sebelum insiden DNR, yang kabarnya berembus hingga ke lantai tujuh gedung Rumah Sakit Seireitei, kantor Ishida.
"Kuchiki berada lima tahun di Mental Hospital, Ryuuken! Itu kelewat lama!"
Dan wanita tersebut kembali mengusiknya seminggu kemudian. Sudah cukup Shihouin mengerecoki hidupnya di universitas, mengapa si ahli bedah jantung masih tidak puas mengganggunya di tempat kerja dengan berkunjung kelewat sering.
"Dan aku akan menahannya seumur hidup bila pasien tersebut memang belum pantas dipulangkan ke masyarakat," tanggapan dingin ini tidak cukup menghentikan celotehan Yoruichi.
"Tapi, kau melihat anak ini kemarin! Dia normal, seperti orang-orang pada umumnyaI Dan aku yakin dia bisa sembuh total bila dikembalikan ke masyarakat!"
"Mizuiro Kojima memiliki hidup normal; keluarga lengkap dan berkecukupan, kekasih, teman-teman kuliah, dan dia adalah tersangka pembunuhan tujuh wanita dalam dua bulan."
Ishida menyesap teh hijau, bisa melihat fungsi lidah wanita itu hilang entah ke mana. Namun, tujuh koma lima detik adalah rekor paling panjang Yoruichi untuk bungkam dalam debat.
Karena setelahnya, "Aku tahu! Tapi Kuchiki masih dua puluh tiga, kita tidak bisa membiarkannya menghabiskan umur emasnya di dalam Rumah Sakit Jiwa."
"Kojima berumur sembilan belas ketika dia dijatuhi hukuman mati." Cangkir teh dikembalikan pada meja. "Dan bila aku boleh mengingatkanmu, hukuman mati akan dilaksanakan sebulan kemudian di saat umurnya dua puluh tiga. Hukuman mati, Shihouin. Hukuman mati!"
Punggung Yoruichi menabrak kuat punggung sofa. Bila itu bukan sofa kualitas terbaik, tempurung kepalanya pasti sudah terjengkang bertemu lantai. Desahan sengaja disuarakan keras-keras. "Ya, ya, ya! Kau menang, Ryuuken! Kau memang keparat!"
"Kau menghabiskan waktumu dua puluh tahun untuk menggangguku, dan kau baru tahu itu? Luar biasa." Ryuuken Ishida dan kata-kata sinisnya sudah menjadi belahan jiwa. Namun, sinis dan mengaku kalah adalah topik berbeda. Mendesah. "Hanya saja untuk kasus ini, kau yang menang, Shihouin."
Bandingkan saja Yoruichi dengan kucing yang disodorkan ikan di depan mata, wanita itu tidak pernah seberharap ini. "Apa maksudmu?!"
Ryuuken lagi-lagi mendesah, desahan menjadi temannya sekarang. "Ini bukan soal penilaianku pada kesehatan mental Rukia Kuchiki yang kulihat secara langsung. Tapi pada berkas-berkas rekam medis, yang entah bagaimana kau mendapatkannya. Jelas, ada pihak yang tidak ingin melihat anak itu bebas."
Ryuuken berdiri meraih map hitam di rak, dan menghempaskannya ke meja tepat depan Shihouin, dan kembali duduk.
Yoruichi diam saja.
Ryuuken curiga. "Kau pun sudah menduga."
"Aa, aku hanya menebak." Yoruichi memijat pelipis. "Maksudku ... siapa yang diuntungkan bila Rukia Kuchiki membusuk di Rumah Sakit Jiwa." Ia tertawa hambar, menggeleng-geleng. "Kadang kekayaan bisa membutakan segalanya, ya? Untuk ikatan keluarga, sekalipun."
Kacamata di hidung bertengger pas, tapi Ishida tetap meletakkan jarinya di sana, pengalihan rasa tidak nyaman yang mencubit. "Kasus seperti ini bukan hal baru lagi untuk menyebutnya 'terkadang'."
Kerongkongan Yoruich mendadak kering, tapi cangkir teh tidak disentuhnya. "Jadi...?"
"Karena yang kau ingin kan hanyalah kebebasan Rukia Kuchiki, kau tinggal membawa kerabat dekatnya untuk menjemputnya, dan masalah terselesaikan."
"Tapi, kerabat―"
"Kerabat dekatnya yang lain, Shihouin." Wanita ini mendapat kilatan aneh di mata Ishida. Astaga, pria ini ... serius? Siapa yang pernah bilang kalau Ryuuken Ishida adalah laki-laki dingin taat aturan? Yoruichi akan menendang bokongnya sekarang.
"Jadi, soal rekam medisnya?"
"Bukankah itu alasan kenapa kau meminta bantuanku?"
"Oh! Aku mencintaimu, Ishida!"
"Tolong, jangan. Aku tidak butuh tambahan malapetaka." Ryuuken berdiri membawa cangkir, meraih cerek pada bilik kecil di sudut kantor. "Dan aku tidak melakukan ini secara gratis. Jadi, jawab pertanyaanku. Kau bekerja pada siapa, Shihouin?"
Dipikirnya Yoruichi akan mengelak, namun wanita itu terdengar menghela napas dan bergerak pada pintu. "Mau bagaimana lagi. Semuanya gara-gara," meraih, memutar gagang, dan dibukanya, "tiga bocah tengil ini."
Suara bedebuk keras, badan berjumlah lebih dari satu menabrak lantai. Sang psikiater keluar dari bilik bersama cangkir mengepul untuk bertemu bocah magangdari departemen bedah; Toushiro, Renji, dan Ggio yang cengengesan malu.
. . . . .
"Mana mungkin kami berani melakukan itu?"
Gengoro Oonabara. Salah satu petugas medis Mental Hospital Seireitei. Pria besar, kepala plontos, dan kulit gelap. Berumur 62 tahun, sisa tiga tahun lagi hingga masa pensiun menjemputnya. Memiliki dua putri dan lima cucu.
Yoruichi berpaling pada petugas medis yang satunya.
"Ba-bagaimana bisa Anda menuduh kami begitu, Ishida-sensei!?"
Misato Ochi. Perempuan lajang berumur 32 tahun. Baru saja dipindahtugaskan dari RSJ Sunpu ke Seireitei tiga tahun yang lalu. Hidup sendiri di apartemen tanpa sanak keluarga. Memiliki seorang kekasih pengangguran tanpa identitas jelas. Menurut kabar angin, wanita ini sering diperas.
Ishida tertawa konspirasi. "Tolong maafkan ketidaksopanan saya, kalau begitu. Hanya saja," meraih map biru sodoran Yoruichi, "menurut rekam medis hasil tes MRI, EEG, CT scan, tes fungsi tiroid, kadar elektrolit tubuh, dan skrining toksi―"
"Bagaimana bisa rekam medis Kuchiki ada di tangan Anda?!"
Ochi melayangkan sergapan. Sayang, map biru langsung berlari ke udara, dibawa oleh tangan yang mengelak cepat.
"Bila memang rekam medis ini benar adanya, dan sudah sesuai prosedur; Anda tidak perlu sepanik itu, Ochi-san,"
Oonabara menatap rekannya, heran. Ochi gemetar, keringat dingin.
"Kecuali," Ishida sengaja menggantung, "isinya sudah dimanipulasi."
Oonabara tidak percaya, meminta rekannya memberi sangkalan. Namun, Ochi hanya diam bersama wajah sepucat mayat.
Ryuuken tinggal butuh satu dorongan.
"Anda tentu tahu UU Kementerian Kesehatan tentang mengubah isi rekam medis pasien. Penjara dua tahun dan denda 2.500.000 yen. Tapi bila Anda bersedia mengaku dan bersaksi, maka Anda akan bebas dan hanya dijatuhi denda seperempatnya." Asal tahu saja, lingkar pergaulan Ishida sangat masif, salah satunya adalah para pegiat hukum. "KUHP 310. Bukti-bukti Pengakuan Hukum. 'Bila buktinya hanya pengakuan terdakwa, maka terdakwa tidak bisa dinyatakan bersalah'. Anda mengaku, Anda bebas. Sedangkan untuk dalang kasus ini, dia tidak mengaku, maka dia yang akan dijebloskan."
Ryuuken menunggu―menunggu umpan untuk dimakan.
"Bu-bukan aku yang salah."
Hap!
Wajah Ochi menunduk, mencengkeram ujung seragam putih. "Wanita itu datang, dan mengancamku... Aku-aku tidak salah...!"
Yoruichi mengeluarkan senjata terakhir, yaitu segulung kertas dari tas cangklong. "Anda mendapat kiriman uang 20.000 yen di bulan pertama Rukia Kuchiki dipindahkan ke Mental Hospital Seireitei. Lalu bulan berikutnya 30.000 yen, dan berkembang hingga 100.000 yen." Ia mengangkat pandangan tajam. "Apa Anda masih bilang bahwa Anda tidak bersalah?"
Seperti terdengar seruan KO di kejauhan sana.
Entah ke mana, suara Ochi bersembunyi. Jatuh terduduk pada sofa dan menenggelamkan wajah pada kedua telapak tangan. Menangis sesenggukan, seolah ia adalah si korban.
Yoruichi tidak simpati. Manusia yang berani mengorbankan orang lain demi keuntungan diri sendiri tidak pantas dikasihani.
Hari berikutnya, kepolisian mendatangi rumah megah di tepi Kota Inuzuri, berlengkap kebun kopi, kakao, dan tebu seluas 10 ha. Lisa Yadomaru, adik tiri Byakuya Kuchiki, juga bibi dan satu-satunya kerabat Rukia, membuka pintu dengan tampang bingung sebelum waktu lima detik mengubahnya menjadi paras paham. Berucap tenang untuk berganti pakaian dan mengambil tas, tidak ada intonasi bersalah, dan digelandang menuju mobil kepolisian sambil menolak untuk bergelang borgol. Roman percaya diri memasuki mobil, tanpa acuh bisikan tetangga yang mengerubungi rumah saudagar Kuchiki.
Rumah, tanah, dan kebun; segala peninggalan Byakuya dan Hisana akan menjadi milik Yadomaru bila Rukia, satu-satunya pewaris sah, membusuk di Mental Hospital. Pengadilan tidak akan memberikan warisan pada anak bermental tidak stabil.
Tapi kini, semua itu bisa kembali pada pemilik sesungguhnya.
Yoruichi tidak pernah sesenang ini membaca koran pagi.
"Sekarang," Ishida mengusik, "yang tersisa adalah mengeluarkan Kuchiki dari Mental Hospital secepatnya sebelum Pihak Rehabiltasi atau Dinas Sosial datang mengganggu setelah dia menjadi yatim piatu berstatus miliader."
Yoruichi melipat koran dan menyimpannya di meja. "Pemerintah pasti ingin memanfaatkan situasi di saat pihak pengadilan belum mengetuk palu."
"Makanya, sekarang giliranmu bertindak, Shihouin. Aku sudah menyelesaikan peranku."
Si ungu mengibas tangan santai. "Tenang saja, Ryuuken. Percaya pada anak-anak itu. Mereka bisa diandalkan, kok."
Maaf saja, Ishida tidak bisa percaya pada tiga anak magang yang pernah menjadi biang kekacauan di rumah sakit.
. . . . .
Membayar utang sama dengan kewajiban membayar pajak. Itu adalah ajaran Aniki pada tiap anak buahnya. Makizou Aramaki menanamkan sumpah itu kuat-kuat ke akar benak. Entah itu utang yang (cuma) sebesar 10 yen, pinjam baju, numpang kamar mandi, hingga celana dalam. Tidak ada pengecualian, hal besar atau remeh. Terlebih, bila menyangkut utang nyawa.
"Aku butuh dua orang yang tidak mencolok. Biasa-biasa saja dan mudah dilupakan."
Dan ini adalah bentuk bayaran utang yang diharapkan Hitsugaya ketika Aramaki berjanji membayar utang karena telah menyelamatkan Aniki. Penasaran, tapi bukan pada tempatnya mencari tahu apa yang ingin dilakukan si bocah dokter pada anak buah yang akan dikirimnya.
Pelayan datang mengumumkan, dan menarik shouji, menampilkan sepasang tamu yang dinanti.
"Maaf, membuatmu menunggu, Makizou-san."
Aramaki menoleh pada dua kakak-adik yang berdiri menjulang. Ketimbang anak buahnya yang lain, mereka adalah orang paling normal di lingkaran Yakuza. Karena arti normal di mata Aramaki adalah tanpa tato, tanpa rambut mohawk, tanpa telinga-lidah-hidung tindikan, atau penampilan yang tidak membuat orang lain lari tunggang-langgang dengan satu kali lihat.
. . . . .
"Aku tidak penasaran soal ini, Shihouin. Namun karena kau sudah melibatkanku terlalu jauh, aku perlu tahu siapa penyokongmu selama ini?"
Rekam medis Rukia Kuchiki, dan cetakan rekening koran Misato Ochi bukan dokumen sembarangan yang bisa didapatkan orang biasa, bahkan untuk wanita bangsawan sekelas Shihouin.
Mata Yoruichi berkilat. "Menurutmu, siapa orang yang sanggup mendapatkan semua dokumen itu secara ilegal tanpa bisa dijerat hukum?"
Ishida menyeringai. "Tidak ada imbalan?"
Si rambut ungu mendengus. "Dia ingin aku memperbaiki batang lehernya yang bocor. Dasar rambut landak. Dia pikir dokter itu pasti Tuhan."
Tipikal Kenpachi Zaraki, pemimpin Yakuza Seireitei yang paling disegani dan ... ditakuti.
"Kau tidak bisa melakukannya sendirian."
"Jangan bodoh, tentu saja tidak. Karena itu kemarin, aku menghubungi Rumah Sakit Karakura kalau Ku―"
"Jangan gila!" Ishida menyergah. "Kau memanggil si Maniak Rokok itu ke sini?!"
Yoruichi nyengir licik. "Bukankah ini saat yang tepat mengenang kisah duo mahasiswa terbaik yang ditolak cewek idola kampus sampai harus telanjang di tengah lapangan?"
Tolong tahan tangan Ryuuken untuk membunuh Yoruichi sekarang juga.
. . . . .
Ingin lihat tampang konyol psikiater berkarisma di Seireitei Hospital, Ryuuken Ishida?
Inilah saat yang tepat.
Di sudut ruangan kantor pribadi, berdiri sosoknya yang kering, dengan kerah jubah putih yang melorot, dan sejumput rambut lemas menggantung di tengah wajah. Jangan lupa dengan kacamata yang hampir jatuh melewati hidung mancungnya. Mata kosong seolah bertemu badut di tengah ruang operasi, dihadapkan pada fakta yang ditolak keras-keras oleh otak nalarnya.
"Kuu Shio."
"Gan Shio."
Dua orang tamu berkacamata hitam bak mafia, tapi dengan kimono dan hakama layaknya geisha dan samurai Zaman Meiji yang tersesat di zaman modern. Salahkan Senna, komik shoujo, dan mimpi cosplayer-nya.
"Anda berdua ini…?" Yoruichi sampai harus mengontrol kuat otot wajah untuk tidak tertawa.
"Oh, saya," si geisha abal-abal menanggapi, berlengkap kipas di tangan, "adalah sepupu dari sepupu dari sepupu dari sepupunya Hisana."
"Kalau saya," samurai gembul merespons, berlengkap katana plastik di pinggang, "adalah keponakan dari keponakan dari keponakan Hisana."
Ryuuken butuh air, minum dan menyiram sepasang badut tersesat. Yoruichi sudah berjongkok, menjatuhkan wajah pada lantai, sukses gagal meredam pingkal.
"Mereka adalah keluarga Rukia Kuchiki yang tersisa." Toushiro kalem, maju mewakili rekan-rekannya. "Kami begitu susah payah menemukan mereka di Inuzuri."
"Sensei tidak akan mau tahu apa saja yang kami alami untuk menemukan mereka," Ggio menambahkan dengan begitu serius.
Maka, Renji menjelaskannya tak kalah serius, "Kereta mogok, kerampokan di bus, dikejar anjing, jatuh di got, dikejar banci—"
"—tenggelam di laut hitam, dimakan paus, jalan di lautan api, mendaki menara Tokyo, bertarung melawan para mafia di gang, dor-dor-dor!" Senna menutup tirai panggung dengan pose film laga dan efek suara yang meyakinkan.
Karena Yoruichi sudah tidak bisa diharapkan, Ishida tidak punya pilihan untuk mengembalikan kewarasannya yang hilang ditelan bumi. Berpaling pada Oonabara, mengumandangkan suara wibawa, yang membuat dirinya tidak percaya bisa ia temukan.
"Jadi, bagaimana, Oonabara-san?"
Oonabara menoleh, dengan wajah sepucat bertemu hantu sekelas nopperabo, si hantu tanpa wajah. Ishida merasa malang dengan si pria tua. Bisa-bisa, peristiwa ini mempercepat masa pensiunnya. "Tapi, Ishida-sensei, mereka ini―"
"Tampang mereka memang tidak meyakinkan, tapi Kuu Shio dan Gan Shio betul-betul kerabat jauh Rukia Kuchiki." Toushiro menyerahkan berkas-berkas berisi data resmi di balik map hijau. Oonabara menerima dan membukanya. "Selain itu, peristiwa ini tidak akan terjadi bila Anda bersikap lebih tegas dengan bawahan Anda, Misato Ochi. Kami bisa saja mengajukan tuntutan lebih soal ini, karena kalian sudah merenggut tahun-tahun penting untuk pasien. Anda tidak pernah tahu seberapa besar tekanan yang diterimanya di dalam sana. Anda tidak pernah tahu―"
"Hitsugaya-sensei!"
Ishida sudah membuka mulut, tapi bentakan Yoruichi datang lebih cepat. Hitsugaya terengah-engah, sesak yang selama ini menghimpint nyaris ia semburkan bak selang bocor. Tangan lain mendarat di pundak, Renji menenangkan, mengirim udara segar yang cukup membantunya melontarkan satu kata.
"Maaf."
Oonabara tersenyum sendu. "Tidak, Anak Muda. Kau benar. Gadis itu harusnya bisa mengecap kehidupan normal lebih cepat daripada hari ini. Tapi, karena kelalaian orang tua sepertiku, dia harus―"
"Kita bisa bicarakan itu, Oonabara-san." Ishida menuntun Oonabara menuju bilik kerja pribadi, merenggut diam map hijau yang terlantar di meja sebelum si pria tua melihatnya lebih jauh. "Tuan dan Nyonya Shio, tolong ikut kami. Dan kalian berempat, tunggu saja di luar."
Pasangan kakak-beradik Shio mengekor layaknya bebek, tanpa keluhan.
Yoruichi menghela napas pada pemandangan empat punggung yang menghilang di balik pintu, dan menyusul Ishida.
. . . . .
Bila berhadapan dengan kebahagiaan seorang teman, Senna adalah musim panas. Perempuan itu tidak bisa diam, terus berceloteh, antusias bergerak ke sana-ke mari, mengepak barang bawaan yang akan dibawa pulang oleh Rukia besok. Ya, esok pagi, ia resmi keluar dari rumah sakit, baik itu Rumah Sakit Seireitei atau Mental Hospital.
Rukia bebas.
"Kuchiki-san, Chappy-nya ditenteng saja, ya. Tasnya sudah tidak muat."
Tentu saja! Boneka kelinci putih seukuran anak SD mana sanggup masuk tas. Rukia menerima boneka kenang-kenangan Perawat Inoue, menyimpannya di nakas.
"Andai saja semangat belajar masakmu sebesar ini, Senna. Ggio pasti sudah dari kemarin-kemarin membawamu ke pelaminan."
Dan bokong Renji langsung ditendang hingga terjengkang masuk kamar. Ggio datang bersama kerutan pelipis dongkolnya.
Bila berhadapan dengan Ggio, Senna adalah musim semi. Perempuan itu jadi kelepek-kelepek mirip remaja baru kenal suka lawan jenis, dan tsundere tanpa sudi kalau hati mengaku cinta tapi mulut berbicara lain.
Rukia ingin tertawa.
Ggio menghampiri, ogah-ogahan. "Hitsugaya sedang mengurus berkas administrasi untuk kepulanganmu besok," ia mendadak menginformasikan pada Rukia yang duduk di tepi ranjang, "jadi mungkin malam ini, dia tidak sempat datang ke sini."
Rukia berkedip, berpaling, dan mengangguk kaku. Vega-sensei melayangkan aura tidak bersahabat.
Ggio mendesah, menoleh pada Senna yang tengah memandangnya. Perempuan itu cepat-cepat mengembalikan fokus pada lipatan pakaian di tas.
"Beberapa hal tidak berjalan lancar, tapi beberapa hal lainnya berjalan lancar." Renji bersandar pada punggung pintu yang terbuka. "Aku pikir Ishida-sensei akan membunuh kita tadi."
Senna merinding. Jangan singgung bahwa ia mandi keringat. Ia tidak pernah berbohong sampai segitu parahnya dalam 25 tahun hidup normalnya.
Ggio benci bersandiwara, karena ia buruk dalam hal itu. Namun, berpura-pura untuk kebenaran bukanlah hal jelek. "Cepat atau lambat akan ketahuan. Tapi untuk saat ini, dewi keberuntungan sedang menyayangi kita."
Suksesnya sandiwara oleh pelakon amatiran jelas disebabkan oleh faktor keberuntungan yang luar biasa.
Renji dan Senna nyengir. Rukia diam saja, tidak paham apa yang mereka bicarakan.
"Nah, soal 'beberapa hal yang tidak berjalan lancar'," Ggio baru ingat, menghadap Renji, dan belagak polos, "jangan bilang, kalau yang kau maksud adalah pertunangan Inoue, Abarai?"
Diam.
Renji murung. Senna menginjak kaki Ggio. Vega memekik sakit.
Hening.
Renji suram. Senna adu pelototan dengan Ggio.
Sunyi.
Renji galau. Senna dan Ggio buang muka.
"Vega-sensei?"
"APA?!"
Dosa apa Sentarou sampai harus menerima bentakan Senna-Ggio yang sedang tsundere.
"A-ano, itu, Madarama-sensei memintamu segera ke kamar jaga 4."
Ggio kembali ke pose normal. "Ada apa?"
"Sepertinya, dia terganggu dengan semua baju-bajumu di sana."
Renji langsung ON. "Katakan saja kalau Ggio itu tunawisma. Kasihani dia, dia tidak punya rumah."
Itu adalah cara Renji balas dendam sebelum menerima tendangan dan dibalas dengan tendangan pula.
Dasar bocah.
. . . . .
"Jadi, kapan si Pecandu Rokok itu datang?" Ishida menekan tombol tiga saat Yoruichi sudah berdiri bersamanya di dalam lift.
"Oh!" Bintang-bintang menjatuhi muka Shihouin. "Kau ternyata merindukan aibo-mu juga, Ryuuken?!"
Boks lift bergerak turun pelan seiring pajangan angka berkurang dari tujuh ke enam, melewati satu lantai ke lantai berikutnya.
Ryuuken memutar mata. "Aku butuh tahu kapan kedatangannya agar aku segera mengatur ulang jadwal pasienku. Saat dia datang, maka di saat itulah aku ambil libur kerja di rumah sakit."
Yoruichi cengo. "Kejam."
Ryuken menggumam saja.
Pintu tertarik berlawanan menyambut dua orang residen di lantai lima. Memberi sapaan hormat pada dua dokter ahli sebelum berdiri di sisi paling belakang. Boks baja melanjutkan perjalanan. Tidak lama terdengar bunyi dentingan pertanda tiba di tujuan. Ryuuken melangkah keluar dan disambut kesibukan kerja paling padat dari semua lantai. Departemen Bedah. Ia membiarkan Yoruichi mendahuluinya, mengantarnya pada ruangan Kenpachi Zaraki.
"Ken-chan pasti akan langsung menendang bokongmu saat melihatmu."
"Tolong, jangan." Ia jarang menginjakkan kaki di sini. Wilayah kerja kekuasaannya adalah lantai tujuh. "Aku berharap kau memegangi orang tua itu jika dia memang punya niat."
Namun, Kenpachi adalah pengecualian. Pria tua itu adalah salah seorang yang berjasa untuk karier dokternya.
Melewati satu belokan dan dua lorong koridor, Yoruichi berhenti di salah satu kamar VVIP. Terdapat ribut-ribut di balik pintu, Kenpachi pasti kedatangan tamu, tapi tidak menyetop tangan memutar gagang. "Ken-chan, aku sudah membawa―!"
Kebohongan empat bocah magang memang sudah kentara dari kemarin, tapi dusta yang terbongkar hanya dalam waktu satu hari setelah panggung lawak sandiwara―rasanya keterlaluan.
"Oh, Yoruichi! Siapa di belakangmu itu?! Oi, Ryuu! Bocah Sombong, kenapa baru menjengukku sekarang?!"
Kemurkaan Kenpachi pun tidak lebih dari angin lalu, yang berlalu begitu saja, dilupakan karena tidak berkesan. Sebab perhatian sepasang mata dokter tertancap pada dua tamu, yang berdiri mengkeret menempel dinding mirip cicak.
Ryuuken melewati Yoruichi yang cengo, menuju ranjang Kenpachi. "Maaf, baru menjengukmu sekarang, Zaraki-sama. Aku lumayan sibuk beberapa hari terakhir." Kadang, ia begitu kagum pada penguasaan dirinya dalam keadaan segenting ini.
Kenpachi mendengus saja. "Dasar bocah songong. Dan matamu ke arah mana?! Aku di sini. Jangan dipakai melihat perempuan saja, biarpun Kuukaku memang cantik, sih!"
Ryuuken tersenyum tajam. "Oh, nama asli Anda Kuukaku. Jauh lebih baik dibanding 'Kuu'."
"Nama asli? Apa itu? Mereka ini anggotaku, Bocah. Mereka kakak-beradik."
"A-Aniki, kami pergi dulu. Ra-rasanya, kami sudah terlalu lama di sini."
"Apa?! Kalian baru datang lima menit!"
"Kami bisa datang lagi nanti." Kuukaku lewat begitu saja, merinding pada cengiran aneh Yoruichi di muka pintu.
"Ne-Nee-chan, tungg―" Adiknya siap melarikan diri menyusul sang kakak ketika Ishida menghadang jalan keluar.
"Kita belum berkenalan, Gan Shio."
Ganju hampir mau pingsan. "Nama saya, Ganju Shiba. Salam kenal." Membalas uluran tangan Ryuuken, yang disambut dengan cengkeraman sekuat penghancur batu gunung.
Yoruichi seakan mendengar retak tulang dari posisinya. Anak malang.
To be continued...
.
.
.
.
.
.
.
A/N:
Peran Ryuuken lebih besar dari yang saya rencanakan. plot berkembang, seiring perkembangan karakternya.
Dan terima kasih untuk review Shofia Mutiarani di fiction "Passing Time". Karena otak lambat, hehe, saya baru paham beberapa minggu terakhir ini. Apa, ya? Mungkin, yang hilang itu, passion. Bagaimanapun tulisan yang dulu itu adalah tulisan semasa SMA, masih bocah. Hahaha, walaupun saya tidak bisa billang kalau saya sudah dewasa. Tapi paling tidak, sekarang saya sudah punya tanggung jawab. Kerja cari uang untuk ortu#dor
Tapi, saya betul-betul senang, sungguh, ada yang memerhatikan tulisan saya#pelukShofia Saya tidak janji saya bisa mengembalikan passion itu, tapi saya punya keyakinan, ya, karena kecintaan saya dengan HitsuRuki sama besarnya dgn yg dulu#halah
Update ke-3 di 2019. Terima kasih sudah membaca. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan#telat! Dan Selamat Hari Raya Idul Fitri (kurang dari seminggu) bagi yang merayakan.
.
30 Mei 2019
