A/N :
- Anata : Di Jepang berarti panggilan sayang untuk suami istri. Sasuke berniat menjahili Sakura karena mereka berperan sebagai King dan Queen, yang berarti pasangan -walau bukan suami istri.
- Eintrag : Cuma kata yang berarti "masuk" dalam bahasa Jerman. Nyarinya juga di GT (Google Translate), LoLL! Jadi ya maklum aja ya!^^
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Shizukano Aizawa
Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.
Pair: SasuSaku
Rate : T
Karangan ini asli punya saya, please no plagiarism! Thanks!
.
.
魔法の学校
(Mahou no gakkou)
DLDR
Don't Like, Don't Read
.
"We do not need magic to transform our world. We carry all of the power we need inside ourselves already."
― J.K. Rowling
.
Aku membuka pintu besar itu, menghela napas sejenak sebelum mengambil langkah masuk. Sasuke-senpai mengikuti di belakang. Ia dengan malas menutup pintu setelah kami berdua masuk. Di dinding dalam ruangan, aku bisa melihat bingkai foto para King dan Queen terdahulu. Di sisi kiri, potret pada King terpajang, sedangkan di sisi kanan adalah potret para Queen. Dan di sinilah kami akan memulai pekerjaan kami sebegai King dan Queen yang baru, di ruangan khusus yang disediakan hanya untuk King dan Queen.
Ruangan itu cukup besar. Benar-benar terlihat seperti ruangan para Raja. Di tempat duduk King sudah ada meja yang di atasnya sudah ada beberapa dokumen yang harus dikerjakan. Di samping kanan, terlihat meja Queen. Di atasnya tak terlihat dokumen apapun, hanya sebuat pot kecil berisi bunga Chocolate cosmos yang berbau coklat. Di ruangan itu juga ada beberapa rak berisi buku-buku. Ada beberapa buku panduan menjadi seorang King dan Queen, dan ada juga buku novel atau komik sebagai pelepas stres.
Aku mengamati ruangan cukup lama, hingga tanpa sadar Sasuke-senpai sudah duduk di mejanya dan membaca beberapa dokumen di sana. Aku berjalan menuju mejanya. "Dokumen itu berisi tentang apa, senpai?"
"Ini tentang pekan olahraga yang akan diadakan akhir musim panas." Ia membaca lagi. Kurasa dia bukan orang yang dingin juga. Aku tersenyum. "Beberapa orang berpikir aku dingin hanya karena aku tidak banyak bicara dan tatapanku yang tajam." Aku terkesiap. Oh! Aku lupa lagi jika dia bisa membaca pikiran.
"Apa karena senpai bisa membaca pikiran, jadi senpai tidak banyak bicara?"
"Tidak juga." Dia menutup dokumennya. Menopang dagunya dengan kedua tangan dan tersenyum padaku. Sial! Dia manis!
"Terima kasih." Aku terkesiap, lagi.
"Orang-orang yang biasa berbicara padaku adalah para gadis, bukan? Aku tahu mereka mengajakku berbicara hanya untuk mendekatiku atau apapun itu. Terkadang jika aku menjawab lebih, mereka akan berpikir bahwa aku menyukai mereka, padahal tidak sama sekali. Dan itu membuatku tidak suka." Dia menghela napas. "Mereka akan mulai berani merangkul dan dengan tiba-tiba memeluk. Aku risih." Sambungnya.
"Oh! Sekarang aku mengerti! Karena senpai sudah lebih dulu tahu bagaimana niat mereka, jadi senpai lebih baik diam, bukan begitu?" Tanyaku.
"Hn," ia berpikir sejenak, kemudian kembali menatapku dan tersenyum manis. "Tidak juga." Aku menganga. Menatapnya bingung.
"Kurasa itu sudah turun menurun di keluargaku. Mereka tidak banyak bicara." Sial! Dia terkekeh. Kurasa dia tahu aku mengumpatnya dalam hati. "Kalau begitu kenapa senpai menjelaskannya panjang lebar padaku?" Aku menatapnya bosan.
"Hanya ingin melihat bagaimana reaksimu. Naruto bilang kau anak yang menyenangkan." Aku sedikit tersipu. "Jangan terlalu emosional. Aku hanya ingin menguji perkataannya." Oh Tuhan! Aku benar-benar ingin melempar apapun padanya! Lihat! Dia tidak menghiraukanku dan sekarang kembali berkutat pada dokumen yang tadi ditutupnya.
"Oh ya, Sakura." Aku membalikkan badan lagi menghadapnya saat hendak berjalan ke mejaku.
"Ya, senpai?"
Dia tidak menatapku, hanya menatap dokumen saat berbicara. "Jangan memanggilku senpai. Kau adalah Queen -ku sekarang. Aku akan lebih senang jika kau memanggilku Anata atau Honey." Aku bisa melihat bibirnya sedikit tertarik. Shannaroo! Jika ingin menggoda seseorang, lakukan pada orang lain sana!
Ia terkekeh saat aku melemparkan sebuah buku tebal panduan menjadi King dan Queen yang baik, seri pertama.
Kurasa aku akan sering mengumpat dalam hati untuknya. Walau aku tahu dia akan tahu apa yang ku katakan.
Jam menunjukkan pukul 10 saat para siswa keluar dari ruangan. Aku membuka sedikit pintu untuk melihat, kemudian kembali ke dalam ruangan.
"Apa kita akan tetap di sini seharian?" Aku bertanya pada Sasuke-senpai.
"Hn. Kau tidak ingat apa yang orang tua itu katakan?" Jawabnya tanpa melepas pendangan dari dokumen ketiga.
-Flashback on
Aku membuka pintu ruangan Tsunade-sensei. Ia terlihat tidak senang dan menatap tajam sosok yang mengikutiku di belakang.
"Jadi kau King yang ditunjuk, Uchiha-san. Kenapa kau tidak datang saat penerimaan murid baru?" Tsunade-sensei tak sedikitpun menutupi kemarahannya.
"Aku tidak suka terikat suatu organisasi. Apalagi menjadi King." Sasuke-senpai melipat tangannya di depan dada. Ia menghela napas kesal.
"Tapi kau sudah ditunjuk, baka! Pilihan mahkota itu mutlak! Kau harus mengikuti perintahnya." Aku hanya bisa diam saat Tsunade-sensei mengamuk dan berteriak pada Sasuke-senpai. Sedangkan Sasuke-senpai hanya menatapnya malas. "Sekarang kembali ke ruangan King dan Queen. Sudah ada beberapa dokumen yang menunggu kalian disana. Untuk hari ini, aku akan memberikan kalian izin dan mengatakan bahwa kalian harus menangani beberapa dokumen penting." Tsunade-sensei menghela napas, menstabilkan emosinya. Ia menatapku. "Sakura-hime, kau ku perintahkan untuk selalu berada disisi King dan mengingatkannya akan tugas-tugasnya. Dan kau akan ku beri izin penuh untuk memperlakukan King semaumu jika ia bertingkah mengesalkan. Ku percayakan semuanya padamu."
-Flashback off
"Senpai, kau-"
"Anata." Potongnya. Aku mendesis pelan. "Kau mau minuman apa? Atau mungkin makanan? Aku mulai lapar." Ucapku, mengabaikan perkataannya.
Ia menatapku. Menutup dokumennya dan berdiri dari tempat duduknya. "Aku lebih suka pergi bersama. Ayo." Dia mengetuk pelan mahkotanya dua kali dengan telunjuk, merubahnya menjadi cincin perak putih dengan icon salju yang tersemat manis di jari manis kirinya sebelum ia mengulurkan tangannya padaku.
"Wow! Apa milikku juga bisa berubah?" Tanyaku. Aku tidak pernah tahu jika mahkota itu bisa berubah menjadi cincin.
Ia tersenyum tipis, menarik pergelangan tanganku agar aku mendekat. "Aku sudah mengulurkan tanganku. Kau seharusnya menyambutnya dulu sebelum terpesona." Ia mengaitkan jemarinya pada jemariku. Wha-!? Apa-apaan senpai ini!? "Aku akan mengubahnya jika kau memintanya dengan lembut." Ia menyeringai tipis. "Dan pastikan kau memanggilku dengan sebutan a-na-ta." Ia menekankan kata terakhir, membuatku bergidik. Le-lebih baik tidak ku ubah dari pada aku harus mengatakan itu.
"Jadi kau tidak mau? Kau tahu tidak, mahkota Queen hanya bisa diubah oleh King." Huh!? Dari mana senpai ini bisa tahu?
"Oh, tentu saja dari Naruto. Dia memberi tahuku semuanya mengenai apa saja yang bisa dilakukan King namun tidak bisa dilakukan Queen." Seringaiannya makin melebar. Shannaroo! Kenapa Queen tidak punya haknya sendiri untuk mengubah mahkota! "Kau tidak bisa meratapinya sekarang, Queen. Lebih baik kau tersenyum dan memintanya padaku. Bukankah Queen-ku sedang sangat kelaparan?" Aku menggembungkan pipiku kesal. Sial!
"Um, King-"
"Anata, Sakura." Ia mengela napas. Menekankan kata pertama.
Sial! Dia mempermainkanku! Lihat, dia bahkan tersenyum manis karena tahu aku mengumpatnya. "Anata, bisakah kau mengubah mahkotaku menjadi cincin juga?" Aku tersenyum manis. Mengeratkan genggaman tanganku padanya tanda kesal. Ia terkekeh kecil.
Memang, aku tidak pernah melihat senpai ini sebelumnya, mendengarpun hanya dari orang-orang yang mengaguminya. Tapi walaupun begitu, aku tidak pernah mendengar orang-orang mengatakan bahwa ia tersenyum. Terkekeh pun tidak pernah. Dia pasti selalu membatasi dirinya di depan orang-orang.
"Kau mulai suka padaku, ya?" Aku terkejut. Sontak mundur. "Kau gila!" Aku berteriak padanya.
Ia terkekeh, "aku bercanda."
Ia mengetukkan jemarinya pada mahkotaku. Mengubahnya menjadi cincin dengan icon bunga Sakura dan Salju yang berdampingan. Aku terkesiap, mengangkat tangannya yang menggenggam tanganku, melihat icon cincinnya yang juga berubah. Bunga Sakura dan Salju yang berdampingan. "Kenapa bisa?" Aku menatapnya. Ia terseyum.
"Mungkin karena aku membayangkan bunga Sakura yang mekar di musim dingin." Sasuke-senpai mengangkat bahunya acuh. Tapi, bukankah tadi icon-ku-
"Kau lebih cocok dengan icon bunga Sakura. Membawa kebahagiaan, ketenangan, kesejukan. Minnie mouse itu hanya bayangan keinginanmu. Ya, 'kan?" Aku berpikir sejenak. Apa benar seperti itu?
"Sudahlah. Ayo! Aku tidak ingin Queen-ku kelaparan."
"King! Berhenti menggodaku!" Dan ia tertawa sambil terus menggenggam tanganku erat.
"Sehari saja eratnya sudah seperti ini. Apalagi setahun ya?" Naruto-senpai menggoda kami. Aku sontak menarik tanganku dari genggaman Sasuke-senpai, namun ia malah menggenggam tanganku erat.
"Kurasa jadi King menyenangkan juga." Sasuke-senpai menatapku. "Lihat! Cincin kami serasi, bukan?" Shannaroo! Kenapa kau malah memperlihatkannya, senpai!?
"Woaah! Yuki to Sakura atau mungkin Fuyu no Sakura. Cocok sekali dengan kalian. Sasuke yang dingin dan Sakura yang ceria." Naruto-senpai terkagum. Kenapa pula dia harus mengatakannya keras-keras. Aku menghela napas.
Sasuke-senpai mengedipkan sebelah matanya padaku, aku tahu jika dia mengerti apa yang ku pikirkan. "Sasuke, tumben kau tersenyum di depan umum begini?" Seorang pemuda mirip Sasuke-senpai tersenyum. Ia juga tak lupa memberikan salam padaku. "Hai, hime."
"Hai, senpai." Aku masih berusaha melepaskan genggaman tangan kami.
"Ku rasa Sakura-hime tidak suka genggaman tangan denganmu, Sasuke." Naruto-senpai tertawa. Benar sekali! Itu sedikit membuatku merinding karena harus mendapatkan tatapan dari semua orang.
"Sakura itu Queen-ku. Mau bagaimana pun dia adalah partner-ku selama setahun ini. Jadi siapapun yang mencoba menyakitinya atau menatapnya tajam, akan berhadapan denganku." Aku tahu ini! Dia tahu apa yang ku pikirkan, karena itu dia mengatakannya dengan keras. Sial! Kau membuatku malu, senpai.
"Kau lucu, Sasuke!" Pemuda mirip Sasuke-senpai kembali bersuara. "Biasanya kau tidak akan peduli. Tumben kau peduli dengan hime kita ini." Namun ia tetap tersenyum saat mengatakannya.
"Namanya Shimura Sai, hime. Dia bukan kembaranku. Hanya saudara jauh." Sasuke-senpai mengabaikan ucapan Sai-senpai. Oh. Aku baru tahu.
"Sialan kau, Sasuke!" Sai-senpai menggerutu. Namun kembali melanjutkan, "ngomong-ngomong, apa kekuatanmu, Sakura-hime? Ku dengar, hime cukup terkenal di kalangan para siswa dan siswi angkatanmu." Sai-senpai bertanya, ia mempersilahkanku duduk, bersama dengan Sasuke-senpai yang duduk di sampingku. Bagaimana mungkin senpai ini tidak melepaskan genggamannya.
"Kekuatanku berhubungan dengan alam. Aku bisa berbicara dengan makhluk apa saja, dan aku juga bisa menjadi penghancur sekaligus penyembuh." Aku tersenyum. Mengabaikan tangan Sasuke-senpai yang menggenggam tanganku makin erat.
Sebenarnya kami memiliki tipe sihir yang berbeda-beda. Tidak seperti di novel dan film buatan J.K-sensei. Setiap orang memiliki kemampuan sihir mereka masing-masing. Dan mereka akan masuk dalam kelas kemampuan mereka. Di KMS ada empat kelas pembedaan kekuatan. Nature, Healing, Parity, dan Void.
Nature adalah kelas untuk anak-anak yang memiliki kemampuan yang berhubungan dengan alam. Di kelas ini ada anak-anak yang dapat berbicara dengan hewan dan tumbuhan. Ada yang dapat mengendelikan hewan, dan ada anak yang dapat mengendalikan tumbuhan. Mereka dikenal sebagai anak-anak yang berhati lembut. Mereka bukanlah anak-anak dengan tipe sihir petarung, namun beberapa di antaranya bisa bertarung.
Healing adalah kelas medis. Anak-anak dengan tipe sihir ini sangat lemah lembut dan penyayang. Mereka bukanlah petarung, namun mereka akan sangat dibutuhkan dalam masa peperangan.
Void, yang berarti kekosongan. Anak-anak di kelas void dapat mengendalikan ruang dan waktu, beberapa di antaranya juga dapat mengendalikan gravitasi. Mereka dilarang keras menggunakan kekuatan mereka diluar sekolah dan jika bukan dalam keadaan genting. Anak-anak tipe ini biasanya menggunakan kekuatan mereka jika terjadi kecelakaan atau apapun yang masih sempat dihindari. Pengguna sihir ini tidak banyak, karena kekuatan mereka yang cukup besar dan kuat. Mereka juga cukup ditakuti oleh pengguna sihir lainnya.
Dan terakhir adalah Parity, yaitu keseimbangan. Parity dibedakan lagi menjadi empat kelas, karena penggunaan elemen yang berbeda-beda. Earth, Wind, Fire, dan Water. Pengguna sihir parity juga sering disebut pemicu kehancuran, karena jika mereka marah dan menggunakan kekuatan berlebihan, mereka dapat menghancurkan apapun. Earth, mereka dapat memunculkan gempa bumi. Wind, mereka dapat memunculkan topan dan bencana yang berhubungan dengan angin lainnya. Fire, mereka dapat mendatangkan api yang besar, memusnahkan semuanya dengan membakar sekitar, dan pengguna sihir tipe Fire, terkadang bisa mendatangkan Petir. Water, mereka dapat mendatangkan banjir besar. Karena alasan itulah, kelas Parity sedikit dijauhkan dari bangunan utama.
"Jadi, Sakura-hime berada dikelas Nature, Healing, dan Parity?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan Sai-senpai. "Wow! Aku tidak menyangka Queen kali ini seseorang yang memegang tiga kelas." Ia tertawa kecil. "Dan, sifatnya juga jauh sekali dari keanggunan para Queen sebelumnya." Tuh, 'kan! Aku juga yakin aku tidak cocok menjadi Queen.
"Tapi dia punya semangat yang bagus." Aku menganggkat kepalaku menatap Sasuke-senpai. Ia tersenyum tipis. "Ia juga pekerja keras. Menyenangkan. Dan peduli terhadap yang lain." Aku terkesiap. Bagaimana mungkin dia berbicara seperti itu untuk orang yang baru ia kenal hari ini.
"Kurasa Sasuke sudah jatuh cinta pada Sakura-hime." Naruto bersiul, menggoda Sasuke. Tapi ia tidak menghiraukannya.
"Masih ada beberapa dokumen yang belum kita periksa, King. Sebaiknya kita membeli makanan dan membawanya ke ruangan." Aku menatapnya datar. Aku tidak tahu kenapa dia memujiku seperti itu. Apa dia tulus mengatakan itu. Entahlah.
"Hn. Queen-ku benar. Kami harus menyelesaikan beberapa dokumen hari ini." Sasuke-senpai mengelus pelan kepalaku. Ia tersenyum. "Sampai jumpa nanti." Kami bangkit berdiri, namun ia menghentikan langkahnya sejenak, menatap teman-temannya. "Jika semua pelajaran sudah selesai, cari aku."
"Yosh! Sampai jumpa nanti, Sakura-hime." Dan aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Normal POV
Ia berlari menyusuri hutan. Tak peduli bagaimana pepohonan dan duri-duri tanaman menyobek kulitnya. Darah tak berhenti keluar dari lengannya yang tampak tertusuk oleh sesuatu yang tajam. Napasnya yang memburu menandakan ia tak lagi sanggup berlari, namun berusaha sekuat tenaga melarikan diri dari sesuatu yang mengejarnya.
Rambut merahnya tampak basah oleh keringat. Di beberapa bagian rambutnya juga terlihat darah yang sudah mengering. Sesekali ia melihat ke belakang. Makhluk itu masih mengejarnya.
Ia tidak bisa menyerah sekarang. Ia tidak ingin mati. Ia tidak akan mati hanya karena makhluk sialan itu. "Sial! Sedikit lagi!"
Ia terus berlari. Kakinya yang sudah terasa sakit terus ia paksakan. Tak peduli bagaimana tanaman rambat yang berduri mengoyak kulit kakinya. Ia tak peduli darah yang keluar di sekujur tubuhnya. Ia hanya ingin hidup.
"Pohon itu!" Ia tersenyum lemah. "Itu tandanya!" Ia semakin mempercepat laju larinya. Meraih sesuatu yang tidak tampak. "Eintrag!"
Normal POV –End
Aku membuka jendela di belakang meja King. Menikmati semilir angin musim panas yang menenangkan. Aku bisa mendengar suara-suara hewan yang juga ikut menikmati musim ini.
"Oh! Aku baru tahu kalau di sini ada pohon apel. Apa kau mau, senpai?" Aku kembali melihat ke arah Sasuke-senpai, walau tak tampak karena punggung kursinya yang terlalu tinggi. Lagipula, posisinya saat ini sedang membelakangiku.
"Anata, Sakura. Jangan membuatku mengulanginya lagi." Dia mengabaikan pertanyaanku. Shannaroo! "Memangnya sekarang sudah matang? Putiknya saja belum ada."
"Aku bisa memintanya berbuah. Apa sen-" Sasuke-senpai memutar kursinya, menatapku dengan tatapan malas.
"Saat ini, aku adalah King dan kau adalah Queen-ku, Sa-ku-ra. Jadi ikuti perintahku. Atau kau mau ku jadikan Queen-ku yang sesungguhnya dulu." Shannaroo! Lihat itu! Dia bahkan berani berseringai di depanku!
"Tidak, terima kasih, a-na-ta! Sekarang berhenti menggodaku, dan kembali kerjakan tugasmu." Dia menatapku, menyeringai sembari melipat kedua tangannya di depan dada, menungguku menyetujui idenya.
"Baiklah, baiklah! Aku akan memanggilmu seperti yang kau minta, senpai. Tapi tidak di depan umum. Aku hanya akan memanggilmu Sasuke-Ousama." Dia terkekeh dan mengangguk.
Ia kembali memutar kursinya. "Aku ingin satu yang berwarna hijau." Pintanya.
Aku menghela napas. Mengarahkan telapak tanganku pada pohon apel dan tersenyum. Aku mengatakannya dalam pikiranku. Sebuah cahaya berwarna hijau muncul dari telapak tanganku, bersamaan dengan ranting pohon yang memanjang. Memberikan buah berwarna hijau yang aku minta. "Terima kasih." Ucapku.
Aku berjalan ke sisi kanan Sasuke-senpai, meletakkan apel yang ia minta. "Ini, ana-"
"Sakura!" Aku terkejut. Sasuke-senpai berdiri secara tiba-tiba dengan wajah serius.
"Sen- anata! Kau mengejutkanku. Kenapa berdiri tiba-tiba!?" Aku meneriakinya. Namun ia hanya menatapku serius.
Pintu tiba-tiba dibuka kasar. Seseorang berlari menuju meja King. "King, seseorang ditemukan pingsan dengan tubuh penuh luka di depan gerbang utama." Siswa dengan rambut putih bergigi taring itu berbicara dengan tergesa-gesa. Napasnya juga terlihat tidak teratur karena berlari cepat menuju ruangan ini.
"Dan dia sudah ada di ruang medis, 'kan? Bagaimana perkembangannya? Aku akan kesana sebentar lagi. Dan tolong berikan surat ini pada Shizune-sensei. Katakan bahwa jika menurutnya itu gawat, sampaikan langsung pada Tsunade-sensei." Pemuda itu mengangguk dan segera berlari keluar setelah menutup pintu ruangan.
"Apa yang terjadi, senpai? Dan surat apa itu?" Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tolong jelaskan padaku!
Tidak membuang-buang waktu, Sasuke-senpai menarik tanganku untuk ikut berjalan di sampingnya. Ia menggenggam tanganku seperti saat keluar untuk mencari makanan tadi. "Aku hanya mendengar isi pikirannya saat berlari kesini. Jadi dengan cepat aku menulis surat untuk Shizune-sensei. Seseorng ditemukan di gerbang utama, tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi cukup parah. Seseorang yang menemukannya sudah membawanya ke ruangan medis untuk diberikan pertolongan pertama. Kurasa dia seseorang dengan kemampuan sihir juga. Karena dia bisa masuk ke sekolah kita." Aku mengangguk mengerti.
Pintu ruang medis saat ini sudah berada di depan mata. Sasuke-senpai mempercepat langkahnya. Setelah pintu dibuka, seluruh pasang mata yang berada disana menatap kami. Saat aku dan Sasuke -senpai berjalan berdampingan dengan tangan yang masih tergenggam erat, aku bisa mendengar bisik-bisik kecil para gadis. Mereka mempertanyakan hubunganku dan Sasuke-senpai.
"Semuanya, keluar dari ruangan ini! Sisakan dua medis yang menanganinya! Aku adalah King! Jadi jangan pertanyakan lagi hubunganku dan Queen. Cepat!" Aku terkesiap. Baru kali ini melihat Sasuke-senpai yang serius akan tugasnya. Orang-orang yang mengelilingi kami segera keluar. Menyisakan sahabatku –Yamanaka Ino, dan Tenten-senpai di ruangan medis.
"Apa yang terjadi?" Sasuke-senpai segera bertanya. Kami belum melihat siapa orang itu. Sasuke-senpai sepertinya ingin tahu keadaan orang itu terlebih dahulu sebelum melihatnya secara langsung.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi siswa yang membawanya mengatakan bahwa ia sudah terlihat tak sadarkan diri di depan gerbang utama. Tubuhnya penuh luka dan yang paling parah adalah lengan kiri dan perut bagian kanan. Sepertinya ia tertusuk benda tajam dan cukup dalam. Tapi kami berhasil menyelamatkannya dari keadaan kritis." Tenten-senpai menjelaskan dengan cukup cepat dan cermat. Sasuke-senpai mengangguk.
"Kau bisa bertanya tentangku nanti, Yamanaka-san. Sekarang aku ingin melihat bagaimana keadaannya secara langsung." Ino-pig membelalakkan matanya terkejut.
"Dia bisa membaca pikiran." Aku mengatakannya tanpa suara. Ino tampak kagum dan mengangguk.
"Buka tirainya!" Ino-pig terkejut sekali lagi mendengar perintah mutlak Sasuke-senpai.
Aku hanya terkekeh, lalu mengikuti Sasuke-senpai karena ia tak sedikitpun melepaskan genggamannya sedari tadi. Ia menatap datar orang yang berbaring di tempat tidur itu. Aku tak bisa melihatnya karena terhalangi tubuh tegapnya. Sadar bahwa aku ingin ia melepaskan genggaman tangannya, ia melepaskannya. Segera setelah aku bergeser untuk melihat keadaan orang tersebut, mataku terbelalak lebar.
Rambut merah berantakan, kelopak mata yang tertutup menghalangi iris yang ku kenali, di beberapa bagian tubuhnya terbalut perban. Aku sungguh terkejut. Tak sadar berjalan mundur beberapa langkah. Aku bisa merasakan pandangan ketiga orang di ruangan itu mengarah padaku, tapi aku tak peduli. Aku menutup mulutku yang menganga tak percaya. Nama itu akhirnya keluar dari mulutku. Tidak keras, namun aku tahu Sasuke-senpai mengetahuinya.
"... Sa-sori..." karena setelah aku mengucapkan nama itu, ia...
"kau kenal dia, hime?"
To be Continued
A/N :
Update nya kelamaan banget yaa! u.u
Sadar kok sebenernya, tapi ya mau gimana~ Bahkan cerita yang lain masih on going~
Minta pengertiannya aja dari reader ya, saya lagi sibuk-sibuknya tugas akhir kuliah (buat buku/skripsi). Jadi ya gitu, kalau ada waktu lanjut. Kalau ada ide, lanjut. Kalo nge-stuck di tigas akhir, lanjut. Pokoknya doain secepatnya saya selesai ya~ Jadi bisa lanjut buat lagi.. Tapi doakan saya bisa lanjut ke sekolah lagi ya XD hahahaha
Pokoknya, makasih yang udah nge fav, follow, dan berikan review! Saya seneng bacanya~ Hahahaha
Nah, ini yang kedua! Jangan lupa tinggalkan jejak di kotak review yaaaa! ^^
Enjoyed! Mind to RnR?
