Tidak ada seorang pun yang berani berbicara keras-keras di tengah suasana seperti ini. Dan, tidak ada juga yang lepas dari ketegangan. Orang-orang di rumah dua lantai yang semuanya berjenis wanita itu hanya berani berbisik-bisik sambil melanjutkan pekerjaannya –walau dapat ditebak, mereka lebih terfokus pada rasa tegang dan bincang-bincang berbisik daripada pekerjaannya–
Sudah sekitar lima belas kali gendang telinga mereka semua mendengar teriakan yang menguasai seisi rumah itu, ketika seorang pria membuka pintu rumah itu dari luar, melepaskan jaketnya dan setengah bergegas pergi ke lantai dua tanpa berbicara apa-apa. Orang-orang di lantai satu memperhatikan sosok yang perlahan menghilang, masuk ke dalam kamar utama yang berisikan seorang wanita muda yang sedang berjuang habis-habisan untuk mengeluarkan bayi yang berada di kandungannya.
Tiga puluh menit setelah pria itu berada di kamar utama –yang merupakan kamarnya, tentu saja–, terdengar suara tangis bayi yang menggantikan suara teriakan wanita muda tersebut. Mereka yang berada di lantai satu hendak pergi ke lantai dua ketika gendang telinga mereka mendengar teriakan, "bayi setaaaaaaaaaaan!" –mereka tahu kalau suara itu adalah suara sang bidan–
Beralih ke lantai dua. Satu-satunya pria yang berada di kamar utama itu menghampiri bidan yang sedang menggendong bayi berjenis perempuan yang dibilangnya sebagai 'bayi setan'. Pria itu segera mengisyaratkan pada bidan itu agar menutup mulutnya. Tatapan matanya yang tenang memberitahu bahwa kulit pucat yang dimiliki bayi itu bukanlah pertanda bahwa ia terkena kutukan.
Suasana rumah menjadi hening –dan tentu saja, rasa merinding yang dirasakan para kaum hawa disana– sebelum pria itu melepaskan ciumannya dari kening putrinya yang baru lahir,
"jangan karena hanya kulit pucatnya, mata merahnya serta rambutnya yang tidak memiliki pigmen, ia dituduh sembarangan sebagai jadi-jadian. Ia hanya diciptakan unik oleh Sang Pencipta, dan kurasa ini semua tidak akan menghalanginya untuk menjadi seorang wanita yang cantik seperti ibunya."
"Ta––tapi Tuan–"
"Jangan katakan apa-apa lagi, atau dia akan membuatmu semakin ketakutan dengan jeritan serta tangisnya."
"Dan mulai sekarang, panggil ia Julchen."
Hetalia Axis Power © Hidekaz Hiramuya
(Author tidak mengambil keuntungan apa-apa, hanya just for fun dan menyalurkan imajinasi *gila* saja)
Return Myself © YukaSvanidz
Warning:
Tercipta secara mendadak, memungkinkan adanya unsur ketidakjelasan cerita, ketidaksambungan judul dengan isi, typo(s). Cast disini mungkin OOC. Sepertinya, latarnya AU (authornya gak begitu mengerti juga sich *maklumin masih pemula* #dibejek). Ada unsur Nyotalia disini *atau genderbend yah? #gangertilagiapabedanya #ditabok*. Semua Pair disini straight, meskipun ada yang hasil Nyotalia (atau genderbend? Whatever deh :p). Dan yang terakhir, fanfiction ini memiliki rating T+ semi M. Mungkin rating dapat naik seiring berjalannya cerita #plak
Review amat dibutuhkan untuk menunjang fanfic ini. Review dapat berupa apa saja, bisa kritikan, saran dan kawan-kawannya.
Casts: Prussia x Hungary x Austria, and the others
–
Bagian Dua:
With Red Eyes and Pale Skin
(Dengan Mata Merah dan Kulit Pucat)
Tok-tok-tok. Tok-tok. Tok-tok-tok. Tok-tok.
"Aduh, bisa menunggu sebentar tidak sih? Baru dari WC, nih!" seru Elizabeta kesal mendapati tamu yang mengetuk pintu dengan frekuensi cepat, membuat suara berisik. Ia juga kesal pada dirinya sendiri, kenapa saat tamu datang dia malah kebelet untuk pergi ke toilet?
Secepat mungkin gadis itu menyelesaikan 'urusan'nya dengan toilet, dan langsung menyambar gagang pintu dengan cepat. Tidak ada seorang pun yang menunggu di depan pintu. Ia mengeluarkan kepalanya dari pintu, celingak-celinguk mencari, siapa yang mengetuk pintu barusan.
"Hai, sudah menunggu lama yah?" sapanya pada seorang gadis berambut pirang pendek yang sedang duduk di kursi yang terletak di samping kiri pintu ruang tersebut.
Gadis itu mengalihkan pandangannya dari BlackBerry yang daritadi dimainkannya untuk menghilangkan rasa bosan menunggu, "hummm–tidak kok, tidak begitu lama. Sekitar lima menit. Lagian, aku juga maklum kok, soalnya kamu lagi bersemedi di toilet, mana mungkin aku bisa ganggu gugat kekhusyukanmu?"
Gadis berambut coklat itu hanya memperlihatkan cengirannya ketika temannya tersebut berdiri dari duduknya dan mendahuluinya masuk ke kamar. Persahabatan mereka sudah berlangsung sejak mereka masih berupa anak-anak yang sehari-harinya hanya memikirkan main kucing-kucingan. Sebenarnya mereka bukan hanya berdua, sekitar sepuluh orang bersahabat karena permainan minim modal itu, tetapi delapan orang yang lain telah menghilang ditelan dimensi waktu dan tempat. Hanya mereka berdua yang masih berkomunikasi, dan mereka sudah menganggap satu sama lain sebagai anggota keluarga sendiri.
"Roderich kemana? Tumben tuh cowok nggak nguntit kamu lagi," cerocos gadis pirang itu ketika Eliza duduk di sampingnya, menaruh dua gelas serta sebotol Fanta berisi satu liter untuk dinikmati bersama.
"Dia lagi pergi ke Austria, jadi pianist di salah satu konser."
"Owh. Tuh orang agak kurang kerjaan juga, yah, tiap hari bolak-balik ke sini, terus-menerus mengeluarkan kritik sama kaca yang memang udah agak kusam –tapi masih bisa dipakai dengan baik, sih– itu."
"Bukan cuma kaca, kasur juga kena kritik. Katanya terlalu empuk, tidak baik bagi kesehatan tulang punggung. Dipikir-pikir, pusing juga kalau terus-terusan dia kasih ceramah melulu."
Bella –nama gadis berambut pirang tersebut– hanya tertawa kecil mendengarkan ocehan sahabatnya, "kamu tahu caranya biar dia nggak bawel lagi?"
"Yah, harus pindah ke tempat yang menurut dia itu bagus. Sayangnya, yang menurut dia 'bagus dan sederhana' itu terlalu mewah bagi aku. Nggak tahu kenapa, Bel, aku nggak begitu suka disuruh hidup mewah kayak gitu."
"Padahal enak juga, dapat fasilitas enak, gratis lagi. Cuma yah..harus menurut sama beberapa tradisi yang menurut kita nggak masuk akal."
"Nah, itu dia."
Bella mengambil gelasnya yang tiga perempatnya dipenuhi oleh Fanta merah, membuat Eliza teringat bahwa ia memiliki Fanta. Sepasang sahabat itu mengangkat gelas mereka masing-masing, melakukan toast sambil tertawa-tawa. Mereka tidak mempedulikan sebagian kecil isi gelasnya terjatuh ke lantai. Bella malah cekikan ketika mengutarakan pikirannya tentang reaksi Roderich bila ia ikut ada di tempat ini. Eliza ikut tertawa, bahkan sampai Fanta-nya tumpah ke lantai lagi.
"Eliza," tiba-tiba Bella menampilkan raut wajah serius di tengah-tengah pembicaraan mereka yang jauh dari kata serius, "leher kirimu –tepat di bawah telinga kirimu–, kena apa?"
Eliza segera mengarahkan tangan kirinya pada leher kirinya, dan sontak ia berhenti tertawa. Ia merasakan ada guratan yang cukup panjang di tempat itu, ia sendiri bahkan tak sadar bahwa lehernya pernah tergurat seperti itu.
"Ah, mungkin hanya terkena benda tajam dan aku tidak menyadarinya," jawab Eliza enteng, namun Bella masih serius memperhatikannya.
"Lukamu itu…tidak lazim. Luka ini tergurat di tempat yang tertutup oleh rambut tebalmu itu. Dan setahuku, kamu tidak pernah mengikat rambutmu kecuali bila mandi. Kukumu tidak cukup panjang untuk mengguratnya –dan kurasa kamu tidak menggunakan kuku untuk mandi, kan?–, dan mana bisa air menggurat kulitmu?"
"Bel, kurasa kamu kebanyakan baca komik horror. Kamu tahu kan kalau aku ini jarang memperhatikan hal sesepele itu?"
"Kemarin kamu jalan-jalan sama Roderich, kan?"
"Iya, memang kenapa? Roddy tidak mungkin menggurat leherku, memegangnya saja tidak pernah."
"Kamu sampai rumah jam berapa?"
"Huuum…jam berapa, yah? Aku lupa. Mungkin sekitar jam setengah sepuluh."
"Lihatlah foto ini," Bella memperlihatkan wallpaper handphone Eliza kepada pemiliknya, "foto ini diambil jam sembilan, dan luka itu jelas-jelas belum tergurat."
Eliza mengambil handphone itu dan membesarkan zoom-nya sampai maksimal. Terlihat dirinya bersama Roderich sedang berfoto bersama di depan sebuah mall baru bergaya klasik Austria yang antik. Lehernya masih mulus, belum mendapat guratan.
"Pulang ke sini, kamu ngapain saja?"
"Taruh barang-barang di lantai tanpa dibereskan, lalu langsung tidur. Ganti baju saja tidak sempat."
Bella memandang erat-erat pada luka di lehernya, membuat Eliza mulai bergidik.
"Hoooooiii! Wahai pemuda yang tidak awesome disana! Tunggu aku yang awesome ini!" teriakan itu membuat pemuda berambut coklat yang panjangnya sudah menutupi tulang belikatnya itu menoleh ke belakang. Lalu, ia menarik tali kekang kudanya, mengisyaratkan agar kuda coklat muda itu berhenti.
"Kira-kira lima belas menit aku menunggumu," katanya ketika pemilik suara itu sudah berada pada jarak kurang dari semeter darinya, "harusnya frying pan-ku sudah menghantam kepalamu sebanyak lima belas kali. Bersyukurlah hari ini aku tidak berniat membawa barang itu."
"Huh, syukurlah. Kalau kamu bawa barang tidak awesome itu dan beraninya memukul kepalaku. Penyiksaan pada gadis itu tidak etis, apalagi pada gadis awesome sepertiku!"
Pemuda berambut coklat itu hanya tersenyum. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana caranya gadis yang berada di depan matanya ini dapat begitu percaya diri. Rambut putih –oh, jangan samakan dengan uban yang bercokol di kepala kakek dan nenekmu–, mata merah dan kulit pucat, bukanlah ciri-ciri khas seorang manusia. Sebenarnya ia tahu, banyak orang menjauhi dirinya–entah takut atau jijik. Namun, ia tidak ikut-ikutan menjauhinya. Ia yakin kalau gadis itu adalah seorang manusia tulen, hanya memiliki ketidaknormalan dalam dua hal: darah albino dan pita suara yang selalu menggemakan kata "awesome".
"Hei, Daniel! Kenapa diam saja? Terlalu terpesona dengan diriku yang awesome ini?"
"Mengapa kau dapat begitu percaya diri, Julchen? Dengan dirimu yang jauh dari kata awesome bagi kebanyakan orang?"
"Mengapa? Karena mereka terlalu bodoh untuk memahami betapa awesome-nya seorang sepertiku!" kata-kata Julchen ini membuat Daniel geleng-geleng dalam hati.
"Bella…gara-gara kamu bilang luka di leherku ini tidak lazim, aku jadi teringat sesuatu yang agak 'aneh'," Eliza memecahkan keheningan diantara mereka sambil masih meraba-raba luka guratan di lehernya.
"Apa itu?" tanya Bella dengan antusias, membuat Eliza sedikit merinding.
"Entah mengapa, rasanya setiap ketukan pintu menjadi tidak lazim. Tadi kamu mengetuk pintunya dengan kecepatan bagaimana?"
"Maksudnya?"
"Coba kamu ulang caramu mengetuk pintu."
Bella mengernyitkan kening, namun ia menuruti keinginan sahabatnya itu, "perhatikan."
Eliza memperhatikannya dengan konsentrasi tinggi, "kurasa kau tidak perlu bilang pun, aku pasti perhatikan."
Tok-tok. Tok-tok. Tok-tok.
"Sudah?"
Eliza mengangguk, "ya…dan sepertinya aku mulai menangkap sesuatu."
TBC (To Be Continued)
Aduuuuuuh….sepertinya chapter ini kepanjangan, yah?
Keasikan nulis ini juga, masih kepengen ngelanjutin, tapi daripada kepanjangan dan buat bosan, saya sudahi disini dulu fanfic-nya.
(udah panjang masih gak jelas begini lagi -_-)
Chapter 3 nya sebagian sudah diketik, doakan saja sesampainya di Jakarta nanti saya masih bisa megang komputer… *saya asal Bandung #gapen #dibuang* buat ngelanjutin ini..
Dan sebagai penutupnya… RnR yah! Terserah deh mau review apa juga, mau kasih saran, kritik, fangirling dan kawan-kawannya. Saya bakal baca dengan senang hati kok ^^
