Summary :

Sekarang pupus sudah benci dan dendam dalam dada. Perlahan sekarang mulai bersemi benih – benih cinta dalam hati ini. Getaran aneh yang belum pernah ku rasa sebelumnya. Membuat hati, pikiran, serta jiwa raga merasa terusik…

It's time to reply reviews :D

To:

ChoWulan : hehe arigataou ya? Author seneng walau ini fic pertama tapi ada yang suka. And di chapters selanjutnya mohon kritik, saran dan masukan yang membangun ya? Ini chapter 2 udah update. :D

Ah Rin : arigatou . iya ini SasuSaku. Di fic ini emang di bikin Sasu yang diam – diam mengagumi Saku. Yach dengan ekspresinya yang tak terduga tentunya. Hehehe…

aguma : iya benar. Tapi ntar itu terungkap di akhir- akhir. Untuk sekarang ya cerita cinta anak muda dulu lah. Hahaha… :D

Hatsune Cherry : itu emang keluarga Sasu yang ngebunuh. Untuk alasannya ikuti terus fic ini dan jangan lupa reviewsnya. XD

Karasu Uchiha : iya author sadar penulisannya masih kacau. Nah author malah seneng ada yang kritik secara blak – blakan kayak Karasu ini. Kritiknya membangun. Nah untuk Chap ini dan selanjutnya tolong masukannya ya? J

sasusaku kira : Salam kenal juga. Hehe arigatou udah suka fic ini. (waja author memerah bak tomat) iya ini chapter 2 udah update.

booo : iya ini chapter 2 udah update.

mako-chan :kenapa Keluarga Sasu ngebunuh keluarga Haruno, itu nanti terungkap di akhir cerita. So ikutin terus ceritanya. Iya author juga love, love, loooove banget SasuSaku. Hahaha :D

Pink raven : iya arigatou. Ini chapter 2 udah update. Gug lupa minta reviewnya ya ntar?

LeEdacHi aRdian Lau : iya terimakasih. Hoho author udah nyiapin kogh chapter – chapter berikutnya. Cuma tinggal liat reviews ama peminatnya aja baru author update. Hohoho… J

Yosh finish juga sesi balas Reviewsnya. Hmm author berharap kedepannya bakal lebih banyak reviews dari pada ini. J

And now, happy reading….

LAST CHAPTER:

"Kau siap, Sakura?" ucap wanita itu tanpa menatap gadis di sebelahnya.

"Hn. Aku siap Tsunade Baa-chan" jawab Sakura dengan wajah tanpa emosi. Namun setelah itu terlihat sedikit simpul di bibir ranum gadis ini. Simpul membentuk sebuah senyum tipis walau sebentar dan segera kembali ke wajah datarnya.

'Aku siap untuk membalaskan dendam kedua orang tuaku' batin Sakura yang sedang bersemangat itu.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Warnings : OOC (maybe), Typo(s), etc.

You Hate It, Don't Read and Please Leave This Page

.

.

.

CHAPTER 2

THE PROMISE

Hari ini, seorang gadis berjalan dengan pandangan datar menatap lurus ke arah koridor yang ia lalui. Gadis dengan rambut berwarna buble gum ini tampak tidak peduli dengan tatapan dari berpuluh pasang mata yang memperhatikannya sepanjang koridor. Tidak peduli dengan pandangan kagum dari para kaum adam yang bersiul ketika gadis ini lewat di antara mereka. Tidak peduli dengan pandangan sirik dari sesama kaumnya yang iri dengan penampilan calon penghuni baru Konoha High School ini. Dengan santai ia berjalan melewati mereka semua. Dengan wajah datar dan pandangan mata yang tajam tak sekalipun ia menoleh ke arah datangnya suara di sekitarnya. Berbeda dengan wanita berambut pirang disebelahnya. Walaupun dia sudah di sebut "wanita" tak jarang ada siswa yang menggoda saat mereka lewat. Hmm, memang bentuk tubuh wanita ini beda dengan yang lain. Yang paling menonjol adalah tonjolan di bagian dada yang bisa dibilang ehem di atas rata – rata wanita kebanyakan. Dengan wajah cantik yang menutupi usia asli dari sang wanita.

"Kau yakin dengan keputusanmu, Sakura?. Aku sudah merasa tidak betah berada di sini" ucap wanita itu kepada gadis yang berjalan di sampingnya.

"Aku yakin atas ini, jika kau mau pulang, pulanglah. Aku bisa menemui kepala sekolah sendiri" jawab Sakura santai dengan wajah datarnya tanpa perlu repot – repot menoleh ke arah lawan bicaranya.

"Aku akan menemanimu. Aku khawatir dengan kese-" ucapan wanita itu terpotong secara tiba – tiba saat suara gadis di sampingnya meluncur dan menerobos ucapannya.

"Aku akan baik – baik saja Tsunade Baa-chan. Kau tak perlu khawatirkan aku. Aku bukan anak TK!" ucap Sakura tegas membuat Tsunade terdiam. Setelah percakapan itu mulut keduanya terkunci. Tidak ada yang bicara sampai akhirnya mereka berada di depan kantor kepala sekolah Konoha High School.

TOK..TOK..TOK

"Masuk" suara seorang pria dari dalam ruangan tersebut.

Kriieeet…

Suara pintu terbuka dengan halus. Nampaklah sesosok pria yang sedang sibuk mengamati dokumen – dokumen di atas meja kerjanya.

"Sama seperti biasa. Kau selalu sibuk Asuma" ucap Tsunade tanpa adanya rasa canggung pada kepala sekolah itu. Di susul dengan langkah memasuki ruangan olehnya dan Sakura.

"Owh kau rupanya Tsunade. Lama tidak berjumpa dan kau masih sama saja" ucap laki – laki yang diketahui bernama Asuma. Lalu pandangan pria ini beralih pada gadis musim semi di belakang Tsunade.

"Dia yang kau ceritakan?" tanya Asuma dengan menunjuk ke arah gadis itu.

"Hn. Dia Sakura yang akan bersekolah di sini. Ku harap tidak ada masalah dalam proses pembelajarannya. Mengingat aku juga salah satu donatur yang berpengaruh di sekolah ini. Jangan mempersulit dia di sekolah" ucap Tsunade dengan nada sedikit ancaman dan paksaan. Orang yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum pasrah mendengar ucapan itu. Dia lalu mengangkat telepon dan menekan beberapa tombol di atas telepon itu. Dia berbicara sebentar dan lalu meletakkan gagang telepon itu kembali di tempatnya.

"Kau akan masuk di kelas XI/A. melihat dari nilai mu yang sangat luar biasa kurasa si jenius itu akan mendapat saingan. Hahaha" ucap Asuma di selingi dengan tawa puasnya. Sakura hanya memutar bola mata yang menandakan bahwa ini merupakan hal yang tidak penting baginya.

"Hn" jawab Sakura singkat dengan tetap mempertahankan wajah datar tanpa emosi.

TEEENG..TEENG..TEEENG

Terdengar suara bel tak lama setelah percakapan itu. Dan dari balik pintu muncul seorang wanita cantik berambut hitam dan beriris merah. Jika dilihat, wanita ini begitu cantik. Dengan rok pendek sedikit di atas lutut berwarna hitam membuat kaki jenjangnya terpampang sempurna dan akan membuat para pria yang melihatnya akan menelan ludah. Ditambah dengan blazer ketat berwarna senada dan dalaman berwarna putih dengan belahan dada agak turun. Menampilkan kulit putih mulusnya serta sedikit belahan dadanya.

"Selamat pagi Asuma-sama" ucap wanita tersebut ramah sambil sedikit membungkukkan badan.

"Pagi Kurenai. Ini Sakura murid baru di kelas XI/A. Tolong antar dia ke kelas untuk mengikuti pelajaran hari ini" kata Asuma pada wanita yang bernama Kurenai tadi dengan tak melepaskan pandangannya pada wanita tersebut.

"Baik" jawab Kurenai singkat dan segera mengalihkan pandangannya ke gadis yang di maksud tadi.

"Mari, aku akan mengantarmu ke kelas" ucap Kurenai dengan senyum tulusnya.

"Hn" jawab Sakura singkat dan mulai mengikuti Kurenai dari belakang.

Setelah Kurenai dan Sakura menghilang di balik pintu Tsunade memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu.

"Ingat kata – kata ku, Asuma" kata Tsunade sebelum membuka pintu untuk keluar meninggalkan ruangan itu.
"Pasti, karena anak itu sangat berharga bagimu" jawab Asuma dengan nada serius. Seperti mengerti kekhawatiran yang dirasakan Tsunade saat ini. Mendengar jawaban itu Tsunade menyunggingkan senyum lega dan melenggang meninggalkan ruangan kepala sekolah itu.

.

.

.

Kelas XI/A

Dari luar terdengar sepi. Sepertinya guru mata pelajaran pertama sudah memasuki kelas dan bersiap untuk memberikan pelajaran bagi para murid.

.

Sreeek..

Seorang wanita berambut hitam memasuki ruangan dan berbicara sebentar dengan guru di kelas itu. Dan tak lama ia meninggalkan ruang kelas. Para murid sudah berbisik – bisik tentang apa yang terjadi.

"Harap tenang anak – anak. Hari ini kita kedatangan murid baru. Jadi mohon kalian dapat berteman dan bergaul dengannya." Ujar guru dengan masker yang menutupi lebih dari separuh wajahnya dan hanya menyisahkan matanya saja yang terlihat.

"Kau, silahkan masuk" kata guru tersebut pada seseorang di luar ruang kelas.

Masuklah sesosok gadis cantik dengan surai berwarna sama dengan kelopak bunga sakura di musim semi. Rambut panjang sepunggung di biarkan tergerai dan melambai seiring dengan gerak tubuhnya. Mata beriris hijau emerald yang sangat cantik terbingkai jelas di wajahnya. Decakan kagum mulai memenuhi seisi kelas. Melihat penampilan gadis di depan kelas itu. Gadis yang memakai kemeja dengan asal. Satu kancing bagian atas sengaja dibiarkan terbuka dan untung masih ada dasi merah yang menggantung, walau di pasang dengan asal pula namun dapat menolong bagian dada agar tidak terekspos secara vulgar dan gratis bagi para lawan pandangya. Kedua lengan baju di lipat sampai siku. Kemeja tidak di masukkan. Blazer yang hanya dibawa tanpa perlu repot – repot memakainya. Rok dengan ukuran 20 cm di atas lutut menampakkan paha putih nan mulus gadis musim semi itu. Dan lagi, tidak adanya stocking hitam yang harusnya wajib di pakai oleh siswi Konoha High School. Dengan alasan alergi dengan karet di kulitnya, sukses membuat gadis ini mendapat dispensasi. Dan itu membuat kaki jenjang nan mulus gadis itu terpampang secara live dan menambah kesan seksi bagi siapa saja yang menatapnya. 'Perfect' mungkin itu pikiran dari sebagian besar penghuni ruangan itu. Banyak murid laki – laki yang mulai dengan celometan jahil dan tak sedikit pula yang meneguk ludah masing – masing saat melihat makhluk yang bak bidadari turun dari khayangan di depannya.

Namun sepasang mata onyx yang berada di pojok belakang sebelah jendela menatap malas seakan berkata ' ada apa ribut-ribut, mengganggu saja'. Namun matanya melebar melihat sesosok gadis berdiri di depan kelasnya. Masih dalam keadaan cengo, pemuda berambut raven dengan emo style ini atau lebih pantas di sebut gaya pantat ayam ini di buat tambah cengo saat si gadis memperkenalkan diri.

"Perkenalkan diri mu" kata sang guru bermasker itu.

"Sakura. Kalian bisa memanggilku dengan nama itu" ucap Sakura datar dengan wajah dan tatapan tanpa emosi.

"Kau boleh duduk di-" kata sang guru terhenti saat mencari bangku kosong untuk murid barunya. Banyak siswa laki- laki yang berusaha mengalihkan pandangan sang guru agar Sakura dapat duduk dengan salah satu dari mereka. Namun pandangannya terhenti di bangku nomor dua dari belakang di deretan sebelah jendela.

" di sana, nomor dua dari belakang" ujar guru sambil menunjuk arah bangku yang dimaksud.

Sakura menoleh ke arah tersebut, sampai pandangannya bertemu dengan sepasang onyx yang sekelam malam. Emerald bertemu pandang dengan onyx.

'Dia? Seperti pernah melihatnya. Apa mungkin? Ah tidak mungkin' batin Sakura dengan wajah dan tatapan datar. Dia menuju ke bangku itu dan duduk di depan bangku pemuda raven itu.

-SASUKE POV-

' Ada apa ribut-ribut, mengganggu saja' batin ku yang merasa terganggu dengan keriuhan yang tiba – tiba terjadi.

Ku edarkan pandangan di samping bangku ku, dan sepertinya orang yang paling berisik di kelas ini belum datang. Namun kenapa ramai sekali. Pandangan ku tertuju pada sosok gadis di depan kelas yang sedang berdiri dengan ekspresi datarnya.

"Dia" gumamku pelan sambil memicingkan sebelah mata.

'Apa mungkin itu dia? Dia yang selama ini menghilang? Sekarang muncul di hadapan ku. Itu benar dia atau hanya orang lain yang hanya mirip' batin ku mulai angkat bicara tanpa komando dari otak ku.

Kuperhatikan seksama gadis di depan kelas itu. Rambut merah muda senada dengan warna guguran kelopak bunga sakura, mata dengan iris emerald yang indah. Tubuh dengan warna kulit seputih susu. Benar-benar mirip dengannya. Dan terdapat kalung yang tergantung di lehernya. Ya aku mengenali kalung itu. Kalung yang sama dengan yang di pakai gadis kecil di taman waktu itu.

'Apa ini nyata? Apa dia nyata?' batin ku mulai kacau.

"Sakura. Kalian bisa memanggilku dengan nama itu" ucap gadis di depan dengan nada datar dan wajah tanpa perubahan emosi sebelumnya.

'Sakura? Namanya Sakura? Kenapa bisa sama? Ya dia adalah Sakura yang dulu. Sakura yang selama ini ku cari' kata batin ku dengan yakin. Namun semuanya menjadi keraguan saat pandangan kami bertemu.

Saat dia mengalihkan pandangan ke arah tempat duduk yang berada di depanku tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Saat onyx milik ku menatap emerald gadis itu, pancaran matanya sangat jauh berbeda dengan gadis kecil waktu 10 tahun lalu. Tatapan kasih sayang, ceria, tatapan tulus yang mampu menenangkan hati bagi yang melihatnya berbeda dengan mata yang saat ini ku tatap. Terlihat jelas, benci, dendam, sakit, amarah, dan tatapan hampa dari mata itu. Tidak ada pancaran kehidupan dari mata itu. Dan itu membuat ku berpikir apakah benar gadis ini adalah gadis yang sama dengan gadis musim semi 10 tahun lalu?

Saat dia berjalan menuju bangku, tatapan kami tidak lepas satu sama lain. Seolah ingin membaca apa yang ada dalam pikiiran masing-masing. Ku keluarkan benda dalam saku yang senantiasa ku bawa kemana-mana. Sebuah sapu tangan putih bercorakkan kelopak bunga sakura dengan lambang lingkaran berwarna putih dan inisial H.S. ku tatap saputangan itu di bawah meja.
'benarkah itu kau? Tapi mengapa pancaran mata itu sangat jauh berbeda dengan saat itu?' batin pemuda raven itu.

-END OF SASUKE POV-

.

.

.

-NORMAL POV-

Saat pelajaran berlangsung sang pemuda raven tak henti – hentinya menatap punggung gadis bubble gum di depannya. Merasa terus diperhatikan membuat si gadis itu tidak nyaman. Dia hendak menegur pemuda di belakangnya jika saja tidak ada seseorang yang berisik memasuki kelas.

"Ohaiyo Kakashi –sensei" kata seorang pemuda berambut jabrik berwarna kuning menyala dengan cengiran lebar bak seekor rubah.

"Kau tahu sudah jam berapa ini, Naruto? Kau, bisakah tidak terlambat sehari saja?" kata guru yang di ketahui bernama Kakashi itu dengan nada bosan. Segera dia melanjutkan pelajaran yang tertunda akibat ulah siswa laki-laki yang bernama Naruto itu.
"Gomen sensei" kata Naruto disertai dengan cengiran rubahnya dan dengan santai berjalan menuju tempat duduknya yang berada di pojok belakang di sebelah pemuda raven tadi. Namun saat mencapai bangku ke dua dari belakang langkahnya terhenti saat mendapati sosok asing duduk di bangku yang biasanya kosong di depann bangkunya.

"Hn, anak baru?" tanya Naruto seraya membungkukkan badan dan mendekatkan wajah pada gadis penghuni baru di kelas itu. Hanya tatapan tajam yang diberikan sang gadis sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi. Naruto hanya tersenyum sambil berkata " Naruto Namikaze, kita akan berteman mulai sekarang. Siapa nama mu?"

"Sakura" jawab sang gadis tanpa melihat lawan bicaranya dan masih berkonsentrasi dengan pelajaran yang sempat terganggu oleh bocah rubah ini.

Naruto hanya tersenyum dan kembali berjalan menuju bangkunya. Saat hendak duduk, dia melihat gelagat aneh dari sahabat yang juga teman satu bangkunya itu. Senyum licik terkembang di bibirnya. Segera ia duduk, namun sang sahabat tidak menyadari kehadirannya. Dia malah sedang diam memandang sosok gadis di depannya itu. Tau akan hal ini membuat Naruto berinisiatif untuk melakukan sesuatu.

"Sakura-chan" panggil Naruto pelan. Tak ada respon dari yang punya nama.

"Sakura-chan" panggil Naruto dengan agak keras. Namun tetap tidak ada jawaban. Merasa sedikit kesal dia mengguncang bangku Sakura yang berada di depannya itu. Dan hal itu sukses membuat yang di panggil menoleh kebelakang. Namun bukan dengan wajah yang manis Sakura menjawab panggilan Naruto tersebut. Tapi dengan wajah masam plus deathglare dan aura ingin membunuh menguar disekitar tubuh gadis musim semi itu

"Apa?!" tanya Sakura dingin namun ada ketegasan dan ada nada tidak suka pada ucapannya.

Glek.

Naruto menengguk ludah karena mendapat daethglare yang sangat menusuk ke arahnya sebelum melanjutkan jawabannya. "D-dia Sasuke ingin berkenalan dengan mu Sakura-chan" jawab Naruto dengan cengiran rubah yang dipaksakan karena mungkin takut kali ya dengan aura gelap Sakura dan sambil menunjuk ke arah pemuda raven di sampingnya yang diketahui bernama Sasuke.

Sakura mengalihkan pandangannya ke arah pemuda berambut biru gelap dan bermata onyx yang menatapnya tajam. Wajah rupawan yang mampu menaklukkan setiap wanita mulai dari anak – anak hingga nenek – nenek. Kulit putih yang mulus bak porselein yang tanpa cacat menambah kesan 'Perfect' bagi pemuda ini.

'sama persis dengan anak itu. Tapi tidak mungkin dia adalah anak di taman waktu itu' batin sakura saat melihat Sasuke dari jarak dekat seperti saat ini.

"Sakura"ucapnya seraya membalikkan badan kembali menatap ke arah papan tulis guna melanjutkan konsentrasinya yang terpecah yang disebabkan oleh rubah aneh di belakangnya. Tanpa peduli dengan tampang cengo Sasuke yang masih di buat berbengong ria atas perkenalan singkat dan terkesan terpaksa itu.

Naruto yang memperhatikan sahabatnya yang hanya melongo menyikut pelan sahabatnya dan sukses membuat Sasuke terbangun dari aksi bengongnya. Kenapa dari tadi Sasuke di cengo – cengo in sih. Plaaaak!

"Sa..suke" ucapnya saat sadar dari lamunannya.

Naruto hanya nyengir melihat hal itu. Dia tahu apa yang sahabatnya rasakan. Ya walau Sasuke di kenal dengan sebutan 'Pangeran Es' tapi tetep aja dia seorang laki – laki yang bisa tertarik dengan perempuan. Dan itulah hal yang terpikir oleh Naruto saat ini.

.

.

.

TEEENG…TEEEENG..TEEENG

Bel tanda istirahat berbunyi. Sebelum guru Kakashi meninggalkan kelas dia menyampaikan bahwa untuk jam berikutnya akan kosong karena ada rapat mendadak. Namun para murid dilarang untuk pulang atau meninggalkan area sekolah.

Sakura dengan malas memasukkan bukunya ke dalam tas. Supaya tidak berantakan di meja dan bila sewaktu – waktu pulang akan gampang.

Sreeek….

Terdengar pintu di buka dengan keras…

"Sa-sakura" ucap seorang gadis blonde dengan poni menutupi salah satu matanya, dan rambut panjangnya di kuncir ke belakang seperti ekor kuda. Mata berwarna biru aquamarine itu membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Sa-sakura…chan?" timpal seorang gadis berambut indigo panjang dengan mata amethyst yang berada di samping gadis blonde tadi.

Merasa namanya di panggil dengan malas Sakura menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Alangkah terkejut dia melihat dua sosok gadis yang sedang berada di pintu kelasnya.

"Ino-chan, Hinata-chan" gumam sakura lirih, namun masih dapat di dengar dua penghuni di belakangnya yang sekarang bingung melihat tingkah ke tiga gadis itu.

Kedua gadis itu melangkah pasti menuju tempat duduk Sakura. Sakura sekarang berdiri dan menatap tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini.

"Kau Sakura kand? Teman masa kecil ku?" Ucap gadis blonde dengan mat berkaca – kaca saat berada tepat di hadapan Sakura. Sakura hanya diam tanpa sebuah kata meluncur dari bibirnya.

"Sa-sakura-chan? Ini benar – benar kau kan? Kami tidak bermimpi kan?" tanya gadis indigo tersebut dengan aliran air mata yang membasahi pipi mulusnya.

Sakura hanya mengangguk dan matanya pun mulai berkaca – kaca sama seperti kedua gadis di depannya. Tanpa di komando kedua gadis itu langsung memeluk Sakura dengan keras. Untung Sakura mampu menahan keseimbangan agar tidak terjatuh. Dan membalas pelukan mereka sambil berputar dan sekarang Sakura menghadap ke arah jendela. Di lepasnya pelukannya dari kedua gadis tersebut.

"Ino-chan, Hinata-chan. Apa benar ini kalian? Aku tidak mimpi?" tanya Sakura dengan senyum tulus yang menandakan kelegaan saat melihat sahabat masa kecilnya yang telah terpisah lama dan kini mereka tengah berdiri di depannya.

"Kau kira siapa lagi, Jidat?" ucap gadis blonde sambil menyeka air matanya.

"Ah,Jidat? Ino-pig ini seperti mimpi" kata Sakura pada gadis blonde yang di ketahui bernama Ino itu.

"Dan Hinata-chan, rambutmu sudah panjang ternyata, dan kau makin cantik" imbuh sakura dengan senyum yang tulus dan mata emerald itu memancarkan batapa dia menyayangi kedua orang ini. Tampak keceriaan memancar dari wajahnya.

Tanpa dia sadari, sepasang mata onyx yang sedari tadi menatap gadis musim semi itu membulat saat melihat senyum Sakura. Senyum yang dulu pernah di suguhkan kepadanya saat di taman 10 tahun lalu, sekarang kembali dapat ia lihat. Tanpa sang pemuda sadari, kini telah tersungging senyum walau tipis saat menatap Sakura.

'Kau benar gadis yang waktu itu, tidak salah lagi. Aku yakin, dan sesuai janji ku pada mu,atau pada diriku sendiri aku akan menjaga agar senyum itu abadi terkembang di bibirmu' batin Sasuke untuk dirinya sendiri

Sepasang blue shapire yang mengetahui senyum ya walau tipis di wajah sahabatnya namun itu adalah senyum tulus yang sangat jarang di berikan kepada orang lain oleh sang pemilik mata yang berwarna gelap sekelam malam. Dan apa yang di pikirkannya tidak akan meleset kali ini.

"Bagaimana kalian tahu aku di sini?" kata Sakura dengan wajah cerianya sama seperti 10 tahun lalu. Dan tanpa Sakura sadari pula, dia sedikit dapat melupakan dendam dan benci untuk saat ini.

"Tadi Hinata bilang dia melihat orang yang mirip dengan mu tadi pagi. Dan saat aku lihat memang mirip sekali. Mau aku pastikan tapi tadi sudah bel masuk, jadi kami putuskan waktu istirahat saja melihat orang yang mirip denganmu. Tak ku sangka ini benar kau" cerita Ino panjang lebar dan hanya di balas anggukan tanda mengerti dari Sakura.

"A-no Sakura-chan. Selama ini kau kemana saja?" tanya Hinata

Deg..

Sesaat Sakura terdiam dan menunduk. Membuat suasana hening sesaat.

"Ma-maaf Sakura-chan, aku tidak b-bermaksud membuatmu se-" ucap Hinata terpotong oleh sebuah senyum pilu dari sahabat masa kecilnya itu.

"Tidak apa-apa Hinata-chan. Akan ku ceritakan semua tapi tidak sekarang. Sekarang ayo kita menghabiskann waktu bersama. Aku kangen sama sahabat ku yang sudah lama tidak ketemu" kata Sakura dengan sebuah tawa atau bisa di sebut cengiran bahagia.

"Hmm, baiklah kita ke kantin saja. Lagi pula aku juga lapar" kata Ino dengan mengelus perutnya tanda dia sedang lapar.

"Hai" jawab Hinata bersama dengan anggukan pasti dari Sakura. Hendak mereka melangkah meninggalkan ruang kelas, langkah mereka terhenti oleh suara yang tak asing lagi.

"Hinata-chan. Apa kau melupakan ku?" ucap seorang pria di belakang mereka.

"N-Na..Naruto-kun?" kata Hinata sambil menoleh ke arah datangnya suara. Didapatinya seorang pemuda berambut kuning terang dengan iris blue shapire menatap ke arah Hinata dengan mengerucutkan bibir.

"Apa gara-gara bertemu teman lama kau lupa dengan kekasihmu sendiri?" ucap Naruto dengan nada sedikit cemburu.

"Kau pacaran dengan rubah aneh ini Hinata?" Kata Sakura dengan nada meremehkan dan sedikit ada nada menggoda yang sukses membuat wajah Hinata memerah semerah tomat.

"Siapa yang kau panggil rubah aneh hah?" tanya Naruto kesal. Terdapat empat siku berkedut di dahinya. Melihat ini Hinata langsung menenangkan kekasihnya itu.

"A-ano Naruto-kun. Ti-tidak usah emosi. Sekarang ayo kita ke kantin sama- sama." Ucap Hinata menenangkan Naruto dan berhasil membuatnya tenang.
"Baiklah" jawabnya dengan senyuman. Diliriknya sahabatnya yang ternyata sedari tadi pandangannya tidak lepas dari gadis musim semi. Siapa lagi kalau bukan Sakura gadis baru yang mampu mengalihkan perhatian pangeran es ini. Senyum licik tersungging di wajah Naruto.

"Woy Teme, sampai kapan kau akan terus memandanginya?" kata Naruto sambil melirik ke arah Sakura.

"Diam kau Dobe!" jawab Sasuke sambil mengalihkan pandangan sebab ia merasa sedikit panas diwajahnya.

"Hahaha, sudahlah ayo ke kantin. Ku tahu kau ingin dekat dengannya kan?" goda Naruto lagi dan sukses mendapat jawaban deathglare dari Sasuke.

Sakura yang sedari tadi merasa bahwa dirinya lah yang jadi bahan perbincangan dua orang aneh itu menghela napas dan berbalik menuju keluar kelas diikuti Ino. Hinata dan Naruto berjalan bersama dan tangan kekar naruto melingkar di bahu Hinata dan diikuti oleh Sasuke paling belakang. Sasuke berada di paling belakang melihat tingkah gadis merah muda itu dengan segala tingkahnya saat asik bercerita dengan Ino sepanjang koridor menuju kantin. Begitu ceria, tanpa beban berbeda seperti yang terlihat saat tadi pagi.

'Tak akan ku biarkan senyum itu hilang lagi dari wajahmu, gadis musim semi-ku' batin Sasuke dengan sebuah senyum menghiasi wajah tampannya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

Yosh Chapter 2 is updated..

Huft akhirnya selesesai juga. Aslinya cerita ini author tulis hampir tiap malam. Soalnya takut idenya ilang. Lagian juga habis UAS, jadi banyak waktu luang buat nerusin fic ini. Hahaha… And sudah selesai beberapa chapter. Tapi author gug update dulu, liat yang reviews banyak and mereka tertarik gak ama cerita ini. Hehehe..

Nah berhubung chapter dua udah update, tak lupa author minta reviews dari para pembaca. Masukan, kritik, saran semua author terima sebagai tolak ukur dalam penulisan fic selanjutnya. So kasih reviews yang banyak biar chapter selanjutnya cepet update juga..

Hahahaha… XD

Arigatou buat semua readers, reviewers dan yang hanya mampir buat melihat judulnya aja author udah seneng banget.

Ditunggu loch review untuk chap ini. Makin banyak, makin cepet chap berikutnya update…

Hehehehe :D