A Genderswitch Fanfiction
Tittle : Second GIFT?!
Rate : T
THIS IS MY FANFICT!
Typo everywhere, be carefull
KyuMin and Other
.
.
.
.
.
The story is begin…
2
Dua manusia berbeda umur itu berjalan dengan pas. Gandengan tangan si kecil menggelayut erat pada tangan hangat ibunya. Wajahnya berseri-seri karena ia tengah merasakan kebahagiaan. Mau tahu kenapa ia begitu sangat berbahagia?
Jawabannya tak lain tak bukan adalah karena apa yang ia inginkan sudah ia dapatkan. CD game pesanan sang ayah yang pastinya akan berterimakasih padanya. Kyumin terus menerus tersenyum. Sesekali menunjuk bahan makanan yang ia inginkan untuk dibeli oleh ibunya. Dan sesekali juga mulut mungilnya mengomel saat melihat entah sayuran macam apa yang diambil ibunya. Ia sudah berjanji akan menjadi anak manis hari ini dengan menemani ibunya berbelanja karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Eomma, eommaa…" panggil Kyumin. Tangan mungilnya menggoyangkan gandengannya pada sang ibu saat melewati spot yang memajang berbagai macam jenis susu. Sungmin tersenyum, tahu apa yang diinginkan oleh sang jagoan.
"Mau beli yang mana?" tanya Sungmin. Ibu muda itu berjongkok disebelah Kyumin, sibuk mengamati kotak-kotak susu yang berukuran besar dihadapannya.
"Eummm... yang mana ya eomma?" tanya Kyumin yang lebih mirip seperti gumaman. Bocah kecil itu menaruh telunjuk di depan bibir. Pose berfikir yang sangat Sungmin sekali. Terlihat lucu dan menggemaskan.
Sungmin yang mendengar gumaman sang anak segera menoleh dengan satu kotak susu cokelat di tangannya. "Bukankah Kyumin suka susu cokelat?" tanya Sungmin lembut. Menunjukkan sekotak susu cokelat yang ia pegang.
"Bukan untuk Kyumin eomma," elak bocah kecil itu kemudian memasang wajah tak enak. Sementara sang ibu yang memperhatikan ekspresinya hanya mengerut alis bingung. "Lalu?" Tanya Sungmin.
"Emm... kemarin Kyumin ambil susu punya Hyukkie nuna." Cicit Kyumin malu-malu. Ia terkekeh kecil yang terdengar begitu menggemaskan.
Sungmin tersenyum melihat wajah bersalah Kyumin. Ia berdiri kemudian memasukkan beberapa kotak susu cokelat kedalam trolly. Ia mengambil satu botol susu strawberry berukuran besar, menunjukkan pada Kyumin. "Anak eomma yang baik ini ingin mengganti susu strawberry Hyukjae nuna, iya?" tanya Sungmin lagi.
Kyumin mengangguk antusias kemudian menunjukkan senyum cerahnya pada sang ibu. "Satu cukup?" tanya Sungmin lagi. "Untukku satu eomma."
"Arasseo, kajja!" Sungmin kembali menggandengan tangan Kyumin setelah memasukkan dua botol berukuran besar susu strawberry. Sebelah tangannya lagi mendorong trolly menuju kasir. Perburuan belanjaan hari ini sudah cukup menurutnya.
~o0o~
Satu senyum Kyuhyun lempar untuk salah satu kolega bisnisnya yang barusaja beranjak pergi dari ruangan meeting bersama dengan sekretarisnya yang cukup membuatnya geram. "Dasar wanita…" cibirnya saat dua sosok itu sudah tidak terlihat lagi.
"Istrimu juga wanita, Kyu. Ibumu juga." Donghae yang menemani Kyuhyun bernegosiasi hari ini menimpali. Lelaki dewasa yang masih terlihat berumur belasan tahun itu segera duduk di salah satu kursi didalam ruang pertemuan itu. Tangan kanannya meraih sebuah map dengan sampul berwarna marun dihadapannya kemudian membuka dengan gaya khasnya.
"Tapi setidaknya mereka berdua tidak seperti sekretaris Tuan Kim itu, siapa namanya? Se On? Seu Eun? Sa Eun? Terserahlah siapapun dia. Aku yakin pasti mereka berdua bermain dibelakang." Kyuhyun mencebik namun begitu ia ikuti Donghae mengambil salah satu map diatas meja lalu duduk di meja tanpa sopan namun terlihat keren.
"Bermain dibelakang bagaimana?" Tanya Donghae sedikit menurunkan mapnya menatap Kyuhyun yang posisinya lebih tinggi. "Dibelakang kantor begitu? Mereka bermain ayunan?" cibir Donghae.
"Jangan sok polos dengan otakmu yang kadar kemesumannya hampir menyamaiku itu, Hyung. Aku yakin kau mengerti maksudku." Kata Kyuhyun.
"Yakin sekali kau?" Donghae mencibir lagi.
"Tentu saja! Kau tidak lihat pakaiannya? Makeupnya? Cih! Kurasa siapapun tidak percaya jika wanita itu berumur dua puluhan. Dan genitnya itu… ya Tuhan! Ingatkan aku untuk tidak mencibir wanita itu jika nanti istriku hamil eoh, Hyung." Kata Kyuhyun lagi. Berapi-api saat mengingat sosok yang Tuan Kim bilang sekretarisnya.
"Ahh, membicarakan anak… kapan Sungmin akan hamil lagi?" Donghae kini menutup map marunnya dan meletakannya kembali ke meja. Menatap serius Kyuhyun yang juga tengah menutup mapnya. Terdengar helaan nafas Kyuhyun sebelum wajah sedihnya terkuas. "Wae?" Tanya Donghae lagi.
"Entahlah, Hyung. Kau tahu? Setiap kali membicarakan hamil lagi dia selalu terlihat sedih. Apa menurutmu dia menyembunyikan sesuatu?" Tanya Kyuhyun. Ayah satu putera itu kini memilih turun dari meja lalu memutar salah satu kursi berhadapan dengan Donghae. Mencoba bicara serius.
"Curigaan!" semprot Donghae langsung.
"Hyuung, bukan bermaksud begitu tapi memang Sungmin selalu sedih dan diam ketika aku membicarakan anak." Suara Kyuhyun memelan.
"Sudah coba tanyakan pada Sungmin?"
Kyuhyun hanya menggeleng sebagai jawaban. Ingin bertanya langsung tapi ia takut jika Sungmin malah semakin sedih dan membencinya karena sudah curiga padanya. Tapi tidak ditanyakan malah membuatnya penasaran begini. Menyebalkan!
"Sebaiknya ditanyakan langsung agar jelas." Nasehat Donghae. Melirik sekilas jam tangan hitam yang menggelangi tangannya. "Sepertinya aku harus kembali ke kantor." Kata Donghae beranjak merapikan map sehabis rapat tadi. "Aku pergi dulu." pamitnya.
"Eoh!. Hati-hati dijalan." Kyuhyun ikut mengambil beberapa berkas yang belum ia beresi. "Menanyakan pada Sungmin…?" lirihnya. Ia kemudian mengendikkan bahu. Mungkin saat ia sampai rumah nanti ia bisa bicara berdua. Tapi sekarang masih ada setumpuk berkas yang harus ia pelajari dan juga beberapa rapat yang harus ia laksanakan.
~o0o~
Hembusan nafas Kyuhyun terdengar dalam sepi senyapnya apartemen. Ia menyalakan lampu utama dalam mode redup agar jika istri ataupun putranya yang tengah tertidur karena menunggunya pulang tidak terkejut. Kaki berbalut selop putih polosnya menapak, menghampiri istri dan putranya yang memang tengah tertidur. Sungmin berbaring di sofa sementara Kyumin meringkuk lucu di karpet dibawah sofa dengan Ipad dipelukannya.
Pelan, penuh sayang ia mengambil ipad Kyumin dan meletakkannya dimeja. Diangkatnya Kyumin dalam gendongannya. Putranya ini semakin dewasa semakin mengerti tanggungjawabnya dan ia bangga. Sifat manjanya perlahan berkurang, selalu mengalah jika tengah bermain dengan Eunhae meski setelah itu ia merengek padanya. Kebiasaan Kyumin yang hanya bisa tidur dan bangun jika ia yang turun tangan pun sudah seminggu ini jarang terjadi. Putra tampannya ini sudah bisa tidur sendiri meski jika bangun masih harus Kyuhyun yang ikut campur.
"Kalau Kyumin sudah bisa mandiri apa Kyumin akan dapat adik?"
Kyuhyun tersenyum teringat pertanyaan polos Kyumin beberapa hari yang lalu. Mungkinkah karena Kyumin ingin punya adik jadi sifat manjanya berkurang? Entahlah, Kyumin bersikap manjapun ia akan tetap memberikan Kyumin adik. Kyuhyun beranjak keluar setelah memberi ciuman diseluruh wajah tampan Kyumin dan mematikan lampu utama kamar Kyumin. Masih ada sang istri yang harus ia pindahkan kekamar.
"Eoh? Kau sudah bangun?" Kyuhyun tersenyum mengamati istrinya yang tengah duduk kebingungan di sofa. Menggemaskan dan entah mengapa selalu saja menggemaskan sejak dulu. Wanita kecintaannya itu menoleh padanya, memberi seulas senyum tipis yang begitu manis seolah mengundangnya untuk bergabung dan segera bergumul. Segera ia mendekat, memberi ciuman manis di kening istrinya lalu memeluk tubuh yang seharian ini begitu ia rindu.
"Apa hari ini melelahkan?" suara serak Sungmin membuatnya memejamkan mata, menenggelamkan wajahnya dileher belakang istri seksinya itu.
Sungmin mengelus lengan Kyuhyun yang membelenggu perutnya. Merasakan tiupan-tiupan nakal yang suami mesumnya itu berikan dileher. "Ada banyak rapat dan berkas yang harus aku tangani. Apalagi klien yang rewel." Adu Kyuhyun seketika membuat Sungmin tersenyum. Ibu cantik itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Kau lapar?" Sungmin melepas pelukan Kyuhyun, memberi suaminya itu satu ciuman manis di pipi sebelum beranjak kedapur untuk menyiapkan makan.
Meski cemberut Kyuhyun membiarkan Sungmin beranjak kedapur yang masih bisa ia lihat dari tempatnya duduk. Mengekor gerakan luwes sang istri yang entah mengapa selalu membuatnya bergairah serta beruntung. Pandangannya melemah sesaat. Tidak munafik kata-kata Donghae tadi saat dikantor hingga sekarang masih terfikirkan olehnya. Bukan apa-apa, ia hanya ingin Sungmin terbuka padanya tentang masalah apapun yang mungkin kini tengah menggelayuti fikiran istri cantiknya itu.
Diperhatikan saja Sungmin yang dengan cekatan menyiapkan makanan untuknya juga segelas gingseng hangat yang tak absen dibuatkan Sungmin jika dirinya lembur dikantor. Mungkin sembari makan nanti ia bisa bertanya, atau sembari bercinta?
Ugh! Otak mesum berhentilah sebentar.
Kyuhyun kemudian menghampiri manis dimeja makan menunggu hidangan dari sang istri siap disantap, padahal disajikan istrinya telanjang saja ia sudah amat sangat bersyukur.
Ughh! Stop!
"Wae?" Suara Sungmin memecah keheningan malam ini. Merasa Kyuhyun tengah memikirkan sesuatu membuatnya bosan, apalagi melihat suaminya makan dengan tak berselera double membosankan menuju menyebalkan.
"Huh? Apa?"
Sungmin mencebik. Menghempas punggungnya pada sandaran kursi dan melipat kedua tangannya didada. Dan oh! Sekarang pandangan Kyuhyun mengarah pada dada sang istri yang membusung menggodanya. Kyuhyun seketika berubah nafsu makan. Ingin memakan itu…
Ya Tuhan… bisakah serius sebentar?
"Kyu… jika ada masalah kau bisa cerita. Kau tahu bukan aku paling tidak menyukai cara makanmu jika kau tengah ada masalah?" Ungkap Sungmin mulai melembut.
Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya bingung. Ingin memulai darimana dan berakhir dimana. Ia takut saja jika obrolannya kali ini akan menyakiti Sungmin. Tapi ia juga tidak mau jika Sungmin memendamnya sendirian.
"Arra… nanti aku akan cerita. Tapi biarkan aku makan. Oke?" Sungmin hanya mengangguk. Memilih pamit dahulu kekamar untuk membersihkan wajah dan segala ritual lainnya sebelum tidur.
~o0o~
Kyuhyun masuk kedalam kamar saat Sungmin masih asyik dengan pembersih wajahnya. Mengusap setiap lekukan wajah mulusnya dengan kapas bersih. Ia dekati sang istri, memeluk tubuh seksi itu dari belakang hingga bayangan mereka terpantul dalam indera masing-masing. Dengan lembut Kyuhyun meraih kapas ditangan istrinya, meski sempat mendapat sedikit protes tapi itu tak seberapa.
Ayah muda itu kembali menggoda ibu dari anaknya. Meniup-niupkan udara pada lekukan leher sang istri yang terekspos jelas akibat gelungan rambut Sungmin yang tinggi. Memberi leher mulus itu ciuman-ciuman kecil. "Aku ingin punya anak lagi." Bisik Kyuhyun kemudian, sembari mengamati pantulan wajah Sungmin yang berubah tegang dan lesu. Gotcha!
"Wae?" masih berbisik Kyuhyun berikan satu lagi kecupan dileher Sungmin. Menghisap kuat hingga bekasnya memerah. Membuat Sungmin menggelinjang geli.
"Ceritakan padaku." Lirih tapi begitu tegas tak menerima penolakan. Sungmin menghela nafas panjang-panjang. Memang kejadian itu sudah berlalu begitu lama, mereka pun sudah bersepakat untuk melupakan. Tapi maafkan hatinya yang tiba-tiba tak selaras. Ketakutan itu sering tiba-tiba datang. Membuatnya tegang dan ketakutan tanpa dasar.
"Apa ada yang salah jika kita punya bayi lagi?" suara itu kian menuntut disusul dengan godaan Kyuhyun dileher dan telinganya. Berani bersumpah jika kelakuan Kyuhyun kali ini benar-benar hampir menghilangkan akal sehatnya. "Katakan padaku apa ada yang salah?" Tanya Kyuhyun lagi. Kali ini ia bisa bernafas lega karena suami mesumnya ini menyudahi acara goda-menggoda. Memilih memeluknya dengan fokus pada pantulan mereka dalam kaca.
"Malhaebwa…" desaknya.
"Ayolah sayang… kau membuatku menjadi suami yang jahat jika kau terus begini…"
Saat Kyuhyun melepas pelukannya dan berteriak frustasi jantung Sungmin berdesir kaget. Sesuatu yang ia sembunyikan ternyata begitu berpengaruh untuk Kyuhyun? Tapi sungguh demi apapun Kyuhyun bukanlah suami yang jahat. Kyuhyun sangat baik, terlampau baik. Tapi… ya lagi-lagi ia salah karena menyembunyikan ini. Alasan kenapa ia selalu sedikit saja menghindar dari topic adik untuk Kyumin. Bukan bermaksud, tapi ia tak ingin Kyuhyun kecewa dan menyalahkan dirinya lagi.
"Kyuhh…" diusapnya lengan Kyuhyun penuh sayang hingga wajah frustasi Kyuhyun menghadapnya. Ia menunduk, memutar duduknya pada Kyuhyun yang kini berlutut didepannya. "Maaf, membuatmu merasa seperti itu. Tapi sungguh itu tidak benar, kau suami yang baik. Ayah yang baik untuk putra kita. Hanya…" sungmin menjeda kalimatnya kemudian tersenyum hangat penuh rasa bersalah.
"Aku takut."
"Kehamilan Kyumin dulu membuatku takut. Aku takut saat-saat itu terulang lagi, aku takut menjalani saat-saat itu sendirian."
Dada Kyuhyun seperti jatuh menggelinding dari tanjakan tertinggi. Wajahnya berubah sendu, ia tidak pernah mengira akan begini dahsyatnya efek kejadian dulu itu. Sungmin menyembunyikannya darinya, selama ini ketakutan itu ternyata masih ada dalam diri istrinya. "Ya tuhan sayang…" Kyuhyun mengusap kasar wajahnya. Merasa gagal menjadi suami yang mengerti akan istrinya. "Aku memang bukan suami yang baik." Lirih Kyuhyun lagi.
"Aniyaa… kau suami yang hebat. Aku bersumpah demi hidupku." Ujar Sungmin penuh keyakinan. "Ini salahku yang tidak bisa terlepas dari kejadian itu. Maaf, maafkan aku." Kyuhyun mendongak. Menatap manik hitam Sungmin yang berisi rasa salah dan menyesal, dan membuatnya makin merasa bersalah.
"Jangan meminta maaf. Aku yang salah. Aku mengerti. Maaf, memaksamu untuk terus memberikan Kyumin adik tanpa memperhatikan perasaanmu." Kyuhyun berdiri, memeluk sang istri dan menenangkannya. Mengumpulkan rasa bersalah yang tiba-tiba datang menyesaki hatinya hingga ingin meledak.
"Benar-benar suami yang buruk." Batin Kyuhyun.
.
.
.
.
.
Continue…
.
Heihooo!
Sory ya yang nunggu *kalo ada sih :D
Oh iya, di review banyak yang nyangka ini sequelnya My Story with (Y)Our Baby ya? Bukan loh.
Salahku juga sih ngepost langsung ke sequel hehe^^ Second Gift ini tuh sequelnya Gift. Kalau yang mau baca bisa mampir di WP berantakan punyaku. ipechpumpkinsjoy dot wordpress.
Yoshh, ini lanjutannya. Ngetik disela-sela RPP yang melambai. Ringan banget dan janji ini nggak bakal long-long banget. Seeyaa^^
