Balas Review! :D

AriFuKi 28423: Ketahuilah, justru bahasa yang ribet itu terkadang bisa membuat orang mengerti maksudnya! :V /

Thundy: "Mungkin kau perlu mendengar ini, dia sering memakai EM sejak pertama kali beli dari resale, waktu itu pangkatnya masih diamond 1 (atau 2 LT kalau nggak salah)..."

Yah, terima kasih Review-nya! :D

RosyMiranto18: Hmm, silakan tanyakan saja orangnya...

Teiron: "Kalau kau tanya soal tikus, justru malah dia yang takut dengan itu..." *nunjuk Alpha yang main game di pojokan.*

Lance: "Sebenarnya nama marga itu karangan Author, aslinya sih nggak ada... Kalau tau 'Epic Battle Fantasy' pasti ngerti..." -w-/

Kalau soal organisasi, mungkin aku perlu mencari sedikit referensi untuk itu... Tapi kalau kau nggak main game-nya, minimal tau dari 'situs tertentu' sudah cukup kok... ^^a

Teiron: *baca bagian terakhir.* "Motto macam apa itu?" =w=

Well, Thanks for Review! :D

Happy Reading! :D


Malam Minggu Eka: Balada Kolam Renang


"Oy Ketos, boleh minta waktu sebentar?" tanya Eka sambil menepuk punggung Exoray yang sedang piket kelas dan berjalan keluar.

"Ah, iya iya!" Si Ketos pun berjalan mengikuti gadis itu.


"Ada apa, Ka?" tanya Exoray bingung.

"Lu nggak pernah liburan bareng gitu?" Eka nanya balik.

Exoray menggeleng. "Nggak, memangnya kenapa?"

"Kalau mau nih ye, gue sama Purno pengen ngajakin lu pergi berenang!"

"Ke pantai atau kolam renang?"

"Yang kedua!"

"Beneran?"

"Iye, kalau perlu ajakin temen-temen lu gidah! Entar dibayarin!"

"Hmm, mungkin perlu gue bicarain dulu..."

"Kalau udah entar hubungi gue aja, lu masih punya nomornya kan?"

"Iya..."


Setengah jam kemudian...

"Oy Ketos, ada masalah?" tanya Vience saat melihat Exoray merenung.

Dia pun menengok. "Yang lain di sini semua? Kalau nggak panggilin yang belum ada!"

"Gue cari Teiron ya, katanya dia mau nyemil dulu!" Vience pergi meninggalkan si Ketos.


Beberapa menit kemudian, mereka semua pun berkumpul dan duduk di lantai.

"Ada apaan sih?" tanya Alexia sambil melipat tangannya.

"Tadi Eka nanyain sesuatu ke gue!" jawab Exoray.

"Eka tuh bukannya mantan gebetan lu yang- Aduh!" Ikyo langsung dicubit Icy sebelum selesai bertanya.

"Jangan bahas mantan, entar dia galau!" sembur Icy.

"Memangnya dia nanyain apa?" tanya Rendy.

"Katanya mau ngajakin ke kolam renang dan dia sama Purno yang bayarin..."

Webek, webek...

"KOLAM RENANG?!" pekik mereka semua (kecuali Exoray dan Rendy) kaget.

Rendy hanya menghela nafas. "Kalau soal itu, Purno juga pernah nanyain gue! Jadi..."


-Flashback-

"Ren, lu pernah berenang?" tanya Purno sambil menghampiri Rendy yang sedang piket kelas.

Rendy hanya menggeleng. "Nggak, emangnya kenapa?"

"Rencananya gue sama Eka mau berenang, tapi masalahnya nggak seru kalau cuma berdua, jadinya kami mau ngajakin temen!"

"Hmm, boleh aja sih..."

"Ajakin temen-temen lu aja sekalian, si Eka juga ngajakin si Ketos!"

"Ya udah..."

-Flashback End-


"Yah begitulah..." Rendy mengakhiri ceritanya.

"Baik bener mereka..." gumam Daren kagum.

"Tapi pertanyaannya: Emangnya mereka mau bayarin 15 orang sekaligus?"

Webek, webek...

Mereka semua langsung melirik Thundy selaku pencetus pertanyaan barusan.

Exoray hanya mengangkat bahu. "Entahlah, ada yang nggak ikut?"

Flamy angkat tangan. "Aku ada urusan, lagipula air bukan ide yang bagus untukku!"

'Walaupun Fire Mage, tapi bukan berarti ngomongnya kayak android yang anti air juga...' batin Teiron sedikit risih.

"Maaf, rubah sepertiku bukan ahli renang..." Ikyo mengibaskan tangannya.

"Aku juga punya banyak kerjaan..." timpal Zeptrun datar.

"Kalau ke pantai, tidak! Tapi kalau ke kolam renang, aku masih harus berpikir dua kali!" ujar Icy.

"Gue mau aja sih ikut, tapi nggak bisa renang..." gumam Teiron sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk.

Daren menepuk punggung anak berambut merah itu. "Kita senasib, Ron!"

"Ya elah, entar juga diajarin!" celetuk Alpha.

"Boleh-boleh aja sih!" Alexia hanya angkat bahu.

Dan beberapa orang lainnya pun mengangguk setuju.

"Jadi yang nggak ikut Flamy, Ikyo, dan Zeptrun... Aku akan bicarakan ini dengan Eka!"


Exoray pun keluar ruangan untuk melakukan pembicaraan khusus dengan Eka.

"Eka di sini!"

"Kita jadi pergi kan?"

"Yap! Yang lainnya gimana? Semuanya ikut?"

"Ada tiga orang yang nggak bisa ikut, nggak apa kan?"

"Baiklah! Kuharap kalian bisa bersiap malam ini karena kita akan pergi besok, jadi berkumpullah di depan asrama sebelum Purno bawa mobil jemputan jam delapan pagi! Sampai jumpa!"

Setelah panggilan berakhir, Exoray pun kembali ke ruangan.


"Katanya kita akan berangkat besok pagi!"

"BESOK?!" pekik yang lainnya berjamaah. "Dadakan banget!"

"Serius lu, Ray?!" tanya Vience memastikan.

Exoray hanya bisa menghela nafas. "Mau gimana lagi?"


Keesokan harinya di depan asrama...

"Mana Alpha dayo?" tanya Musket.

"Vie-nii lagi jemput dia, taulah kalau rumahnya rada jauh!" jawab Saphire seadanya.

Sekedar informasi, Alpha merupakan satu-satunya anggota OSIS yang tidak tinggal di asrama.

"Nah, itu mereka!" Teiron menunjuk Vience yang menaiki Jeronium bersama Alpha.

Entah kenapa Alexia yang melihat Jeronium langsung ngumpet di belakang kakaknya.

Yah, tau sendiri deh kalau Alexia itu phobia sama hewan yang satu spesies dengan Jeronium...

"Yo!" sapa Alpha sambil turun dari naga itu.

Kemudian, Vience segera membawa Jeronium pergi sebentar.

"Oke, semuanya hadir?" tanya Exoray.

"Absen lha, Ketos!" seru Icy.

"Lu jadi ikut, Icy?" tanya Daren.

"Semalem gue dikasih tau Emy kalau kolam renang yang dimaksud Eka itu indoor, jadi gue ikut aja!" jelas Icy sambil garuk-garuk kepala.

"Emangnya kenapa kalau kolam renangnya outdoor?" tanya Rendy bingung sambil melirik teman(kembar)nya.

"Dia nggak kuat panas!" jawab Thundy datar.

Kemudian datanglah sebuah mobil di depan mereka dan ketika kaca depan diturunkan, terlihat Purno sebagai pengemudi di dalamnya.

"Yo, apa semuanya sudah siap?" tanya Purno.

"Sebentar, kuabsen dulu!" Exoray memeriksa daftar. "Vience!"

"Di sini!" Vience yang baru saja selesai mengurus peliharaannya segera berlari menghampiri mereka.

"Teiron!"

Yang bersangkutan malah menyahuti dengan mulut penuh karena sibuk makan cupcake. "Hmphmph!"

Yang lainnya pun berusaha menahan diri untuk tidak tepuk jidat melihat kelakuan anak itu.

"Alexia!"

Webek, webek...

"Lha? Dia kemana?" Exoray langsung celingukan karena menyadari anak itu tidak terlihat.

"Ray, lu nggak nyadar ya kalau dari tadi dia ada di belakangmu?" Daren menunjuk di balik punggung si Ketos.

Exoray langsung memutar badan begitu mendapati sang adik memeluknya dengan wajah ketakutan.

"Lex..." Exoray menepuk puncak kepala adiknya dengan pulpen.

Alexia segera melepas pelukannya dan menjauhi sang kakak. "Maaf..."

"Alpha, Saphire, Daren, Musket, Maurice, Thundy, Rendy, Icy! Oke, semua siap!"

Salah satu pintu belakang mobil itu terbuka dan memperlihatkan sosok Eka. "Nah, ayo masuk!"


Satu setengah jam kemudian...

"Ah, sampai juga~" Purno memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung. "Nah, silakan turun!"

Mereka semua pun segera turun dari mobil, kecuali...

"Ron, Ron, bangun Ron! Udah sampe nih!"

"Sap, jangan teler di sini dong! Ayo bangun!"

Rupanya Teiron dan Saphire ketiduran di mobil.

"Yah, gimana caranya coba bangunin kedua kebo itu?" tanya Daren sambil tepuk jidat selagi melihat Thundy dan Vience sibuk membangunkan kedua orang itu.

Tiba-tiba Alpha langsung nyengir jahil. "Aku punya ide!"

Dia pun mengeluarkan HP-nya dan mendekatkannya ke telinga Teiron.

"I want you to borklieve~" gumam Alpha sambil menyetel sebuah lagu di HP-nya.

Kemudian terdengar suara gonggongan yang sukses membuat Teiron terbangun dengan wajah panik dan langsung melompat turun sebelum akhirnya nyungsep karena kepeleset.

"Itu lagu apaan, Al?" tanya Rendy.

"The Bork Files, lagu X-Files versi anjing!" jawab Alpha sambil nyengir lebar.

Alexia sedikit mengangkat alis. "Tau dari mana, tuh?"

"Dari seseorang yang tidak tau dimana Greenland!"

Webek, webek...

"You don't say..." gumam mereka semua (kecuali Alpha, Teiron, dan Saphire) sweatdrop.

"Ugh..." Terlihat Saphire yang mulai terbangun. "Apa tadi ada yang bilang X-Files?"

"Cuma lu doang!" balas Daren sinis.

"Kau tidak apa-apa, Ron?" tanya Maurice sambil membantu Teiron berdiri.

"Yah, sedikit..." balas anak itu seadanya.

"Oke, ayo kita masuk!" ajak Eka.

Mereka semua pun memasuki gedung itu.


Ketika sudah berada di dalam gedung (setelah membayar tiket masuk tentunya), terlihat tiga kolam renang dan sebuah perosotan panjang di ujung salah satu kolam.

"Kalian ganti baju dulu lha!" usul Eka sambil berjalan pergi.

Purno dan rombongan OSIS pun pergi ke ruang ganti.


Setelah ganti baju...

"Dary, naik itu yuk!" ajak Saphire sambil menunjuk perosotan di sana.

"Errr, gimana ya?" Daren terlihat agak ragu. "Boleh aja deh..."


Selagi kedua anak Andreas itu menaiki perosotan, Teiron terlihat menepuk-nepuk air kolam dengan kakinya.

"Ron, ayo renang!" ajak Alpha di tengah kolam.

Yang bersangkutan hanya menggeleng dan Alpha segera berenang mendekati anak itu. "Ayolah! Jangan nepi gitu deh!"

"Aku nggak bisa renang!" Teiron manyun.

"Makanya sini kuajarin!"

Teiron mulai turun ke dalam kolam, tapi masalahnya...

"Al, soal kacamatanya gimana? Lu kan tau sendiri Teiron tuh kayak gimana kalau kacamatanya ilang!" tanya Thundy yang berjongkok di tepi kolam dengan tampang agak skeptis.

Ya ampun! Kenapa itu nggak lu pikirin, Al?

"Tunggu sini!" Thundy berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi.

Setelah agak lama, dia pun kembali lagi dengan sebuah 'google' dan melemparnya ke arah si rambut merah yang langsung menangkapnya. "Nah, lepas kacamatamu dan pakai itu!"

Teiron dengan ragu melepas kacamatanya dan memakai 'google' itu. Setelah itu, dia pun mencoba untuk berenang dengan sedikit bantuan dari Alpha.


Di sisi lain, Icy terlihat sedang mengambang di tengah kolam (Nggak tenggelam lho ya!) dan semula terlihat baik-baik saja, sampai...

"BOM DATANG!"

BYUUUUUUUUUUR!

Dia kecipratan air dari Exoray yang baru saja melompat ke dalam kolam.

"Lex, giliranmu!"

Alexia yang berada di pinggir kolam mundur perlahan dan langsung berlari untuk melompat masuk, tapi...

Kreeeeeek! GUBRAK!

Bukannya masuk ke air, malah mendarat dengan wajah duluan di atas es.

"Nggak abang, nggak adek, sama aja sarapnya!" gerutu Icy yang ternyata menjadi pelaku dari terbentuknya es barusan.

"Icy..." Seseorang menepuk punggungnya dan ketika yang bersangkutan menengok, rupanya ada Rendy di belakang.

"Kita udah sepakat untuk nggak pake sihir di sini! Noh, liat tuh!" Rendy menunjuk ke arah sebuah 'keajaiban alam' dimana Musket terperangkap di dalam semburan es.

"To-tolong dayo, a-aku kedinginan..." pintanya dalam keadaan menggigil.

Icy yang melihat itu langsung nyengir kuda laut dan segera menghilangkan es buatannya agar kolam kembali seperti semula.


Setelah satu setengah jam berenang, mereka pun memutuskan untuk istirahat dan ganti baju.

Sepulang dari acara renang, Eka dan Purno mentraktir mereka makan di restoran Nusantara.


Bonus 1:

"Yo Lisa!"

Gadis pirang itu menengok, kemudian mendapati Alpha dan Saphire yang membawa kantong besar. "K-kalian?"

"Kami ke sini mau memberikan hasil curian kami untukmu!" ujar Saphire sambil membuka kantong yang dibawanya.

"Eeeh? A-aku... Tidak membutuhkannya... Aku tidak butuh itu!"

Tapi...

Rupanya yang terjadi adalah kelopak bunga yang berjatuhan di atas kepala Lisa karena ditebarkan oleh kedua orang tadi.

"Errr, uhm..." Lisa yang melihat itu hanya tersipu malu. "Te-terima kasih banyak..."

"Ehehe..." Kedua orang itu juga ikut tersipu.

"Mencuri bunga itu bukan dosa..."

"Yeay, dia sangat senang!"

"Jadi kalian yang mengambil bungaku..."

Tiba-tiba keduanya langsung kaget setelah mengetahui kalau mereka mengambil bunga dari Teiron dan yang bersangkutan sudah berada di belakang sambil menggertakkan tangan plus senyum angker di wajahnya.


Bonus 2:

Daren sedikit terkejut ketika melihat kancing lengan baju Rendy yang terlepas.

"Hey Rendy, kancingnya lepas tuh!"

"Eh?" Rendy langsung melihat lengan bajunya. "Oh, benar juga!"

"Serahkan saja ini padaku!" Daren mengeluarkan jarum dan benang, kemudian menjahit kancing temannya tersebut.

"Wah, terima kasih ya! Benar-benar hebat! Ternyata orang sepertimu bisa melakukan pekerjaan rumah!"

Tapi begitu Rendy melihat Daren memegang gunting...

"Jangan lihat guntingnya!"

"A-a-a-aku, aku masih normal! Tolong tolong!"

(Catatan: Rendy memakai baju lengan panjang dan dia punya sedikit phobia dengan gunting...)


Bonus 3:

Suatu hari, Teiron dan Lisa sedang makan kue bersama.

"Lis, ada remah kue di pipimu!" kata Teiron sambil mengelap mulut gadis itu dengan lengan bajunya.

"Terima kasih, Tei-kun!"

"Ya sama-sama!"

"Oh iya, kau juga punya remah kue di sini!" ujar Lisa sambil mencium pipi Teiron.

"Alam memang sangat mengerikan..." gumam Teiron sambil menutupi wajahnya yang memerah.

Alexia yang sedang minum soda di sebelahnya hanya terdiam dan memasang wajah risih.


Di sisi lain...

"Thun-kun, tanganmu terluka!" seru Emy ketika melihat tangan Thundy. (Catatan: Thundy memakai baju Epic Lightning Robe tanpa sarung tangan dan Lightning Hat!)

"Hah?" Thundy melihat tangan kirinya. "Oh, ini bukan masalah! Nanti juga akan sembuh dengan sendirinya!"

"Begitu ya..." Emy memegang tangan pemuda biru itu dan mengelusnya sebentar.

Thundy hanya mengangkat alis melihat kelakuan gadis di depannya. "Kenapa?"

Tanpa diduga, Emy mencium tangan Thundy yang terluka dan sukses membuatnya kaget, sampai-sampai topinya terlepas dan jatuh ke tanah.

"Alam memang sangat mengerikan..." Thundy ikut menutupi wajahnya yang memerah.

Alexia yang berada di antara kedua orang itu hanya memasang tampang skeptis.

Dasar muka jutek! Pantesan aja jadi perjaka tua! *Girl-chan langsung dikejar-kejar Alexia.*


Special Omake: (Mathias: "Udah 3 bonus plus ini pula, tambah panjang aja nih Chapter!" -.-'a)

1. Duet

Hari ini Duo Mercowlya sedang bernyanyi di ruang OSIS dengan Alexia yang memainkan gitar.

"Oh Tuhan, kucinta dia, sayang dia, rindu dia..."

"Dia-nya nggak..." sambung Exoray tanpa ekspresi.

"Kampret, nyanyi yang bener apa?!" bentak Alexia yang kembali melanjutkan lagunya. "Utuhkanlah rasa cintaku di hatiku, hanya padanya..."

"Untuk siapa..." Tiba-tiba Exoray langsung nangis. "Aku nggak kuat..."

Alexia beserta para penonton langsung sweatdrop mendengarnya.


2. Badut Pikachu

Di sebuah Mall, terlihat parade badut berkostum Pikachu di sana.

"Ngapain foto-foto, dayo? Orang lain mah juga bisa!" tanya Musket.

Saphire yang sedang memotret parade badut itu bertanya balik, "Terus gimana dong?"


Di ruang ganti badut...

"Lho, si Bonyok mana?" tanya seseorang kepada temannya.

"Paling udah pulang duluan!" jawab temannya.


Tapi ternyata, orang yang mereka maksud malah dibawa pulang sama Musket dan Saphire.

"KELUARIN SAYA DONG!"

"Waduh, mas-masnya lupa dikeluarin dayo!" ujar Musket.

"Jadi kita bawa pulang nih badutnya?" tanya Saphire agak bingung.


Keesokan harinya...

"Lagi main apa, dayo?" tanya Musket.

"Pokemon!" jawab Alpha yang sedang bermain dengan PSP-nya.

"Pokemon ya? Kalau itu mah kita juga punya, dayo!" ujar Musket.

"Masa sih? Coba bawa sini, kita battle!"

"Gue ambil dulu, dayo!"


Beberapa menit kemudian...

"Al, pokemon-nya udah gue bawa dayo!"

"Mana? Nyalain wireless-nya, yuk kita bat- tle?"

Ternyata pokemon yang dimaksud malah badut yang dibawa kemaren!

"Dek, keluarin saya dulu dong! Saya belum makan nih!" pinta mas-mas dalam kostum badut itu.

"Mas-masnya belum dikeluarin, dayo?" tanya Musket.

"Bukannya kemaren udah gue bilangin buat keluarin mas-masnya?!" bentak Saphire sewot.


3. Pemilu dan Jahitan

"Kamu kalau milih calon yang bener, jangan main pilih calon cuma gara-gara kejebak visi- misinya! Zaman sekarang banyak calon yang nggak bener, giliran udah jadi anggota dewan malah makan duit rakyat!"

Jioru hanya mengatakan "Iya..." berkali-kali saat kakak sepupunya yang tertua, Eiuron Avelon, memberikan wejangan seputar tata cara memilih calon yang baik dan benar kepada saudara-saudaranya (termasuk dirinya) barusan.

Sebenarnya Jioru tidak suka diceramahi hal-hal seperti itu karena dia rajin membaca koran atau menonton saluran berita. Selain itu, dia sedikit tidak percaya dengan jalan pikiran Eiuron yang sepertinya berubah 180 derajat. Si Vampire yang biasanya masa bodoh dengan keadaan di sekitarnya mendadak rajin membaca koran ditemani secangkir teh Rosemary.

Habis kesambet apaan ya?


Selain itu, dia teringat pertanyaan Adelia kepada Yorei saat pemilu beberapa tahun yang lalu.

"Kak Yorei, suasana di sana kayak gimana sih?"

"Pokoknya rame, sumpek, dan yang lebih nggak enaknya lagi, kelingkingmu harus dicelupin tinta yang nggak bakalan ilang selama 10 hari! Bayangin aja seberapa susahnya bersihin tinta itu!"

"Tintanya pake tinta printer ya?"

"Ya nggak lha! Yang bener aja pake tinta printer?!"


Sekarang Jioru sedang duduk manis di salah satu kursi yang tersedia di sana. Dia benar-benar tidak menyangka kalau TPS (Tempat Pemungutan Suara) tempat dirinya akan menggunakan hak pilih justru berada di luar gedung dan apesnya lagi, saat itu cuacanya terlihat mendung dan untungnya panitia telah menyediakan tenda yang cukup besar untuk melindungi tempat itu dari terjangan hujan.

Setidaknya dia dan para pemilih lainnya merasa aman... Untuk sementara waktu.

Entah apakah para panitianya termasuk keturunan Mad Dog atau bukan, habisnya greget sih...

Saat asyik memperhatikan suasana di pintu masuk sana, Jioru mendengar salah satu panitia menyebutkan namanya dan dia pun beranjak bangun dari kursinya untuk mendapatkan surat suara, kemudian melenggang menuju salah satu meja berbilik kosong yang tersedia di sana.


Setelah tiba di sana, Jioru langsung membuka lipatan kertas dan dalam hati sempat mengutuk cuaca yang sama sekali tidak mendukung untuk melakukan pemilihan umum kali ini.

Bayangkan saja, betapa susahnya para pemilih (termasuk Jioru sendiri) menahan surat suara mereka yang telah terbuka lipatannya agar tidak terbang ditiup angin yang berhembus.

'Seharusnya lokasi tempat pemilihannya di dalam gedung atau ruangan, bukannya di luar gedung kayak gini! Ngerepotin pemilihnya aja!' gerutu cowok Zeus berambut pirang itu dalam hati.

Setelah membuka seluruh lipatan surat suaranya, Jioru segera memilih salah satu calon yang menurutnya pantas berada di badan parlemen terpenting dalam pemerintahan. Setelah itu, dia segera melipat kembali surat suaranya agar tidak ada pemilih lain yang mengetahui apa pilihannya.

Tapi sayangnya, saat ingin melipat kertas suaranya, Jioru kesulitan karena angin yang setiap kali membuat lipatan kertas tersebut kembali terbuka. Dia terus melipat kertas itu kembali agar tersegel seperti saat dia menerima surat suaranya, tapi angin justru malah bertambah nakal dan membuatnya harus berpikir panjang bagaimana cara agar dia bisa melipat kertas itu seperti semula.

Tangan Jioru mulai meraba saku mantelnya untuk mencari barang apa yang bisa menahan lipatan itu agar tak terbuka oleh angin. Begitu tangannya menyentuh sesuatu, dia langsung menarik tangannya dan mendapati sebatang jarum yang dilengkapi dengan seutas benang yang terlihat cukup panjang.

Jioru teringat kejadian sebelum pergi ke tempat pemilihan umum. Waktu itu dia tengah menjahit dan tiba-tiba diperintahkan oleh Oberia agar bergegas menuju tempat sakral itu. Karena tak ada waktu untuk membereskan perkakasnya, dia terpaksa membawa barang itu pergi ke sana.

Entah kenapa, Jioru mendapat sebuah pencerahan dan tanpa pikir panjang langsung menusukkan ujung jarum yang tajam itu di permukaan kertas yang dilipat seperti menjahit di atas kain.

Tusuk jelujur sana, tusuk jelujur sini. Jahit sana, jahit sini. Matikan jahitannya di sebelah sana.

Setelah mendapati lipatan di kertasnya sudah ditahan dengan jahitan jelujur sampai angin tak dapat membukanya kembali, Jioru segera memasukkan kertas itu ke dalam kotak suara sebelum pergi meninggalkan TPU (Tempat Pemilihan Umum, bukan Tempat Pemakaman Umum).


Di Avelon Mansion...

"Oberia, lain kali kalau lu ngajarin jahit ke Jioru jangan kebablasan!"

"Heh, memangnya lu bisa apa?! Ngajarin juga nggak, bisanya ngomel doang! Sepupu macem apa lu?!"

"Masih mending! Lha, liat tuh sepupu lu! Bayangin aja, masa kertas suara sampe dijahit?!"

"Heh, Jioru tuh sepupu lu juga!"

Jioru hanya menggelengkan kepala sambil menutup telinganya saat melihat Eira dan Oberia sibuk adu mulut mengenai hobi menjahitnya. Sementara itu, Eiuron dan Yorei hanya bisa menepuk pundak sepupu mereka.

"Lagian lu aneh-aneh aja deh..." komentar Yorei sambil menghela nafas. "Yang bener aja kertas suara dijahit, lu kira kain?"

"Tau, aneh-aneh aja!" timpal Eiuron datar sambil menepuk pundak Jioru dengan keras karena malu dengan kelakuan sepupunya itu.

Jioru sangat menyesal. Dia tidak tau kalau ceritanya bakalan berakhir dengan adu mulut antara Oberia dan Eira.

Awalnya Yorei bertanya soal kejadian saat dia berada di sana dan Jioru dengan spontan menceritakan semuanya, termasuk saat menjahit kertas suaranya karena kesal. Tanpa disangka, Eira dan Oberia (yang saat itu sedang menonton TV) mendengar hal itu dan sukses membuat suasana memanas akibat percekcokan mereka.

Parahnya lagi, Eiuron selaku sepupu yang tertua malah cuek bebek dengan pertengkaran mereka dan lebih memilih untuk mengintimidasi Jioru yang dipikirnya sebagai 'kambing hitam' dari pertengkaran kedua sepupu ceweknya itu.

Sedangkan Yorei hanya bisa pasrah menghadapi sepupu-sepupunya. Jika dia berusaha melerai Eira dan Oberia, dia bakalan berakhir tragis menjadi samsak tinju mereka. Tapi jika dia memberitahu Eiuron agar tidak mengintimidasi Jioru, bisa-bisa dia malah diceramahi.

Intinya, serba salah!

"Jioru, kenapa mesti pake jahitan sih?! Kan tinggal dipegang doang kertasnya, terus dibawa ke kotaknya!" ujar Yorei sambil melipat tangan dan sukses membuat Jioru tepuk jidat.

'Kenapa baru kepikiran?'

Yah Jioru, silakan meratapi nasibmu sendiri!


4. Mantan

"Duuuh, gue stress nih diteror mulu sama mantan!" keluh Livora suatu hari.

"Memangnya mantan lu ada berapa?" tanya Naomi.

"Sembilan, dan mereka stalking gue mulu!" jawab Livora lesu.

"Ya elah, gue punya 50 mantan slow aja tuh!" seru Alisa.

"Lha, banyak amat! Lu doyan selingkuh ya?" tanya Naomi.

"Ada Leonardo, Raku, Jumin, Kuroko, Sakamoto, Kirito, Gintoki, Karma, Sebastian, Kaneki..."

"Itu mah mantan husband, mbak! Beda jauh!" komentar Naomi sweatdrop. "Lu tipe orang yang tiap nonton anime baru suka main klaim cogan ya?"


Note: Bagi yang nggak tau dari mana aja orang yang disebutin Alisa, silakan liat di bawah ini!

Leonardo: Kekkai Sensen

Raku: Nisekoi

Jumin: Mystic Messenger (Thundy: "Bukannya itu dari game ya?"/Me: "Yang penting ada cogan-nya!" :V /)

Kuroko: Kuroko no Basuke

Sakamoto: Sakamoto Desu Ga?

Kirito: Sword Art Online

Gintoki: Gintama

Karma: Ansatsu Kyoushitsu

Sebastian: Black Butler

Kaneki: Tokyo Ghoul


5. Teman

Zeptrun adalah tipikal teman yang paling tidak disukai oleh kawan sekelasnya.

Jika ditanya kenapa, alasannya banyak sekali dan beberapa dari sekian banyak dosa yang dilakukan Zeptrun adalah:


Satu: Jika ada tugas dan ditanya, "Kamu udah sampai mana tugasnya?"

Jawabannya selalu, "Hahaha, belum ngerjain nih! Mungkin besok mau bolos aja, nggak ngumpulin!"

Tapi besoknya, dia malah menjadi SATU-SATUNYA orang yang mengumpulkan tugas tersebut.


Dua: Waktu ujian datang dan ditanya, "Kamu belajar sampai mana?"

Jawabannya selalu, "Hahaha, belum belajar nih! Kayaknya nggak akan bisa, deh!"

Tapi ternyata dia menjadi yang PERTAMA mengumpulkan lembar ujian dan mendapat nilai SERATUS.


Tiga: Zeptrun adalah orang yang tidak tau bersyukur.

Dia tidak ragu untuk marah-marah ketika mendapat nilai 89 di depan anak-anak yang bahkan di atas KKM saja sudah sujud syukur.


"Orang itu kepalanya perlu dilempar dengan kamus Oxford!"

"Lalu dimasukkan ke dalam karung!"

"Dan dibuang ke sungai Amazon!"

Alexia, Daren, dan Gino langsung merencanakan konspirasi pembunuhan.

Omake End!


OC of the Day:

Eka Purbasari

Umur: 17

Tanggal lahir: 1 Januari (Tahun baru sekaligus ultah emak gue... :V / *ditinju Eka.*)

Zodiak: Capricorn

Warna rambut/mata: Hitam/hitam

Hero: Gatotkaca

Kelas: Premium (Indo Server only, soalnya di KLS dia masuk Hero Melee)

Fakta unik:

-Pacaran sama Purno.

-Pernah dekat sama Exoray, tapi ujung-ujungnya malah Friendzone. (Referensi: Fic 'Malam Minggu' Chapter Alexia)

-Pendiri klub gambang kromong (jangan tanya siapa yang mengizinkannya).

-Gadis dengan kearifan lokal, tapi kadang tau banyak tentang budaya asing.

-Udahan aja ya... *ditinju lagi.*


Sebenarnya mau ngerjain request orang duluan, tapi mumpung Rosy-san nanyain soal Eka, jadi ya kukerjakan saja ini... ^^a

Sebenarnya ini sedikit terinspirasi dari pengalaman berenang di 'Tiga Dara', yah setidaknya begitu deh... ^^/

Chapter depan akan bercerita tentang Nova si Necromancer atas request dari Nanami, nanti akan kuusahakan sebisanya! ^^/

Review! :D