Two
Koe O Kikasete
声をきかせて
Bel apartemen Kris berbunyi saat ia hendak menyantap supnya. Dengan perasaan kesal, diturunkannya sendok makannya lalu berdiri dan beranjak dari dapur ke pintu depan. Siapa orang kurang kerjaan yang datang malam-malam begini? Dibukanya pintu apartemennya demi melihat Tao datang dengan surat.
"Bukankah Lee Songsaenim sudah mempunyai anggota baru?" Tanya Kris setelah membaca surat pertandingan basket yang tadi diberikannya.
Tao menyesap kopi susunya, "Hmm… tapi kau lihat? Pertandingannya 2 bulan lagi, and that means, kita harus bekerja ekstra keras…" katanya lalu menyesap kopi susunya lagi.
Kris berpikir sejenak lalu menarik nafas, "Baiklah…" katanya seolah menyerah pada keadaan.
"Eh ngomong-ngomong Kris…" kata Tao menatap Kris intens, "…HANDPHONEMU DICURI!" teriak Tao panic sambil merentangkan kedua tangannya ke atas membuat Kris mengerukan alis.
Handphone?
Kris cepat-cepat merogoh kantung celananya. Kantung yang satunya lagi. Sial kenapa tidak ada. Kris menatap Tao yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Jangan-jangan….
Yixing menatap handphone itu sekilas sebelum bergumam, "Kenapa dimatikan?" ia melirik Luhan yang mengendikkan bahu. Tiba-tiba ponsel itu bergetar lagi sambil memutar lagu yang sama. Yixing sedikit terhenyak mendengarnya. Nomor baru. Siapa lagi ini…?
"Hallo?" kata Yixing seraya mengangkat telepon itu ke telinganya.
Terdengar seperti suara orang berdehem di sana, "Kris?" Tanya suara itu.
Yixing memutar bola matanya, "Bukan. Ini Zhang Yixing…" katanya santai dan langsung mendapat jitakan dari Luhan.
"Bodoh! Itu kan memang ponsel Kris!" katanya. Kadang Yixing memang bodoh. Menatap sinis pada Luhan, Yixing kembali meladeni lelaki yang sedang menelpon itu.
"Bisakah aku bicara dengan Kris sekarang?" katanya. Suara lelaki itu terdengar seperti orang dewasa. Mungkin sekitar 30 tahunan. Yixing tidak mau repot-repot mengira-ira usia lelaki ini, dia langsung berkata sambil memainkan sedotan di gelasnya, "Tidak. Dia tidak ada." Dan satu jitakan lagi melayang ke kepalanya.
"Ouch! Kenapa sih kau hobi menjitak kepalaku?" gerutu Yixing pada Luhan yang menempelkan satu telunjuknya ke bibirnya sendiri menyuruh Yixing untuk diam.
Yixing memutar badannya dan kembali pada percakapannya, "Maaf, kalau boleh tahu ini siapa?" tanyanya santai.
"Kau lupa dengan kakakmu sendiri? Keterlaluan! Aku hanya ganti nomor telepon dan hendak memberitahumu, dan kau tidak mengenaliku? Aku ini Henry!"
Dan dunia Yixing seperti berputar-putar. Tadi bertemu dengan orang itu, sekarang kakaknya. Astaga apa-apaan ini? Yixing memberikan ponsel itu pada Luhan. Yixing langsung memegangi kepalanya.
Ada apa dengan anak ini? Luhan mengangkat bahu sedikit lalu mengangkat telepon itu, "Hallo…"
"Siapa lagi ini? Aakh!"
Tuuuttt tuuutttt….
Kris memegangi kepalanya seraya mendudukkan kembali dirinya di sofa. Dengan desahan berat, dia menatap Tao yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Berhenti menutup mukamu dengan tangan Tao…" kata Kris akhirnya diiringi desahan lelah. Tao menatap Kris dengan dua mata pandanya. Sekarang bagaimana dia bisa menemukan ponselnya…?!
Kris menjentikkan jemarinya, "Aku pinjam ponselmu…" katanya mengulurkan tangan meminta ponsel Tao. Tao menatap Kris curiga sebelum akhirnya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna pink.
Kris menatap ponsel itu seraya menggeleng, "Dan kau bilang kau laki-laki?" tanyanya masih menggeleng. Untungnya, dia hafal betul nomor teleponnya sendiri. Kris mulai menekan tombol ponsel flip pink itu lalu meletakkannya di telinga.
Setelah sampai di rumah, Yixing dan Luhan duduk bersila di depan sebuah meja kecil. Menatap sebuah benda kotak yang berukuran tak terlalu besar itu dengan tatapan seolah mereka ingin memakannya. Benda kotak berwarna hitam itu milik Kris Wu! Lelaki paling popular di seluruh sekolah, yang juga merupakan teman SMP Yixing –Hell!
Mereka saling melirik, lalu menatap ke benda itu lagi. Lampu kamar Luhan yang dinyalakan remang-remang membuat suasana jadi makin mencekam. Mereka saling melirik lagi.
'XO XO… XO XO… XO XO…'
"Hyaaa!" Yixing dan Luhan terhenyak dan langsung saling memeluk. "Apa-apaan… hanya karena ringtone ponsel kita jadi kaget begini!" umpat Luhan melepas pelukannya dan menatap lurus kea rah ponsel yang terus bergetar itu.
Lagi-lagi Tao. Siapa sih Tao itu? Luhan menggelengkan kepala memikirkan hal bodoh itu. Yixing menatap Luhan sekilas seolah bertanya apakah ia harus menjawabnya atau tidak.
Luhan mengernyitkan dahi menatap Yixing lalu ke ponsel yang masih saja terus bergetar itu. Angkat… tidak. Angkaattt… tidaaaakk. Luhan mendesah dan mengendikkan bahu. Ia bingung. Ia kemudian menatap Yixing yang sedang menatap ponsel itu dengan bibir dimonyongkan seperti biasa. Oke, Yixing kesal.
"Sudah tidak usah diangkat saja." Kata Luhan lalu menekan tombol merah di ponsel itu.
"Eh?" Yixing melebarkan matanya menatap sepupunya yang menyilangkan tangan di depan dadanya.
Kris menerjab saat mendengar nada terputus dari ponsel Tao. Apa-apaan ini! Ia mengernyitkan dahi menatap ponsel pink dengan gambar panda itu seolah ingin menghancurkannya.
"Jangan di tatap seperti itu!" kata Tao merebut ponsel itu dari Kris.
Kris mendesah berat lalu memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Kenapa semua jadi seperti ini?
Suasana sekolah benar-benar tidak mendukung hari ini. Panas sekali… matahari sangat terik sedangkan Luhan dan Yixing sedang pemanasan di lapangan sepak bola. ughYixing benci sepak bola. Benci benci.
Saat latihan mendribble bola, tiba-tiba Lee songsaenim memanggil Yixing dan Luhan, "Yixing dan Luhan kemari!"
Luhan dan Yixing yang sedang menendang-nendang bola pun segera berlari ke arah gurunya itu, "Ne songsaenim?" tanya Luhan saat mereka berada di hadapan Lee Donghae.
Donghae tersenyum kecil lalu berkata, "Kalian ditunggu di lapangan basket." Kata Donghae dan membuat dua muridnya itu shock.
Omo… tidak!
Dengan pasrah kedua orang itu mulai berjalan keluar lapangan dan hanya bisa mendesah berat. Luhan menyenggol lengan Yixing setelah sampai di depan pintu masuk lapangan basket. Yixing melirik ke arah laki-laki yang lebih tinggi darinya itu sebentar, "Mwo?" tanyanya dengan tatapan ragu.
"Masuk tidak?" tanya Luhan.
Masuk… tidak…masuk… tidak… masuk… tidak… Masuk tidak ya?
Yixing melangkahkan kakinya ke depan pintu diikuti Luhan yang kemudian mengikuti Yixing, menguping. Dalam hati dua orang itu berpikir keras, masuk… tidak…masuk… tidak… masuk…tidak… masuk-
BRUUKKKK!
Good, masuk.
Mata Tao berkedip beberapa kali saat melihat dua orang tiba-tiba terjatuh di kakinya. Dua orang itu kemudian segera berdiri dan memnita maaf padanya, ia pun segera menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata, "Gwenchana…" lalu tersenyum lebar. "Kalian pasti pemain yang dibicarakan Lee songsaenim…" lanjutnya.
Luhan merapikan poninya yang dijepit dua buah penjepit rambut dan berkata, "Ne…" katanya membungkuk bersama Yixing.
Tao mengangguk-angguk pelan dan mengajak mereka menemui teman-temannya yang sedang duduk ditengah lapangan. Setelah sampai, Tao mendudukkan dirinya di lantai dan menepuk-nepuk lantai kayu itu menyuruh dua orang itu duduk dengannya. Luhan dan Yixing akhirnya turut duduk di depan dua orang lainnya. Satu orang dengan rambut pirang kecoklatan yang langsung tersenyum lebar pada mereka, namanya Park Chanyeol… atau Lee Chanyeol… Atau Kim Chanyeol? Sudahlah… yang jelas namanya Chanyeol. Yixing tahu itu, dan satu lagi berkulit putih dan berwajah dingin, kalau tidak salah namanya Sehun, Sehoon? Sehuun? Saehoen? Seeheon? Entahlah yang jelas terdengar seperti Sehun.
"Kita tunggu Kris dulu ne?" kata Tao dan disambut anggukan dari dua temannya.
Kris? Mampus!
Yixing menepuk dahinya pelan dan Luhan menjewer telinganya pelan. Tak lama kemudian seorang laki-laki jangkung berjalan ke arah 5 orang itu sambil membawa bola basket. Lelaki itu menatap teman-temannya kemudian menyuruh mereka berdiri.
Setelah semua berdiri dia mulai berkata, "Nde, sepertinya kita punya teman baru. Perkenalkan diri! Sebelum latihan." suruhnya dan Luhan yang pertama bicara, "Luhan imnida…" katanya.
Yixing segera membuka mulut bicara tapi terburu terpotong oleh ucapan Kris, "Aku sudah tahu kau." Katanya dan membuat Yixing membulatkan matanya.
Kampret sekali…
Kris menyuruh mereka untuk berlari mengitari lapangan 3 kali sebelum berlatih mendribble bola. Setelah latihan mendribble mereka latihan chest pass dan saling berpasangan. Yixing menarik tangan Luhan tapi Luhan sudah berpasangan dengan Tao rupanya, dia melihat Sehun tapi sudah dengan Chanyeol… berarti kalau berpasangan… dia dengan…
"Kau kenapa? Cepat menghadap kearahku dan jangan memasang wajah ibu-ibu mau melahirkan seperti itu!" suara baritone itu membuat Yixing sedikit terhenyak kemudian segera berbalik ke kanan untuk berhadapan dengan Kris.
Kris terlihat semakin tinggi di jarak 2 meter dengannya. Yixing memasang posisi dan Kris mulai melempar bolanya, Yixing menangkapnya kemudian melemparnya kembali ke arah Kris dan begitu seterusnya. Namun, berkali-kali lemparan Kris sengaja diperpanjang membuat Yixing harus kehilangan bola dan berlarian mengambilnya.
Lima jam kemudian…
"Hah! Aku lelah! Aku tidak bisa terus seperti ini!" Luhan hanya mengangguk-angguk kecil saat Yixing selesai mencuci muka dan berbicara pada bayangannya di cermin. Mereka sedang di kamar mandi.
Luhan mengambil tasnya dan berdiri dari tempat duduknya yang nyaman di kursi kayu kamar mandi, "Aku dan Tao baik-baik saja…" katanya sambil mengacungkap ibu jarinya.
Yixing menyipitkan matanya dan berbicara pada cermin, "Itu kan dengan Tao." Katanya datar.
Luhan tertawa kecil dan memberikan handuk pada Yixing, "Sudahlah… lagi pula sudah selesai latihan hari ini." Ucap Luhan membuat Yixing memanyunkan bibirnya.
Mereka keluar dari kamar mandi dan berjalan di koridor. Saat mereka berjalan di koridor, mereka melihat gerombolan Kris dkk juga berjalan ke arah yang sama. Yixing menyipitkan matanya. Mereka berjalan di belakang gerombolan Kris dkk sambil mendengar pembicaraan mereka seperti hahahah, lucu atau oh ya? Wah pasti keren atau anak cupu? Atau juga aku akan menelponmu nanti atau-
Tunggu! Handphone!
Yixing menghentikan langkahnya dan membuat Luhan menatapnya. Mereka terhenti di depan gerbang sekolah, "Handphone Kris, Lu!" ucap Yixing menatap Luhan horror.
"Oh iya!"
Luhan segera mengeluarkan handphone milik Kris dan menyerahkannya pada Yixing. Dua orang itu kemudian berlari ke arah ke mana kaki-kaki jenjang Kris membawanya. Oh tidak mobil itu! Kris mulai masuk ke dalam mobilnya dan terdengar suara mesin dinyalakan. Yixing dan Luhan cepat-cepat berlari sebelum Kris benar-benar menghilang dari sana.
Mbremmm…
Yixing mengatur nafasnya saat mobil sport itu melaju kencang dan membuat dia dan Luhan olahraga dua kali, tidak! Tiga kali ditambah sepak bola tadi pagi. Ok, whatever.
Luhan dan Yixing hanya bisa menatap mobil merah yang semakin jauh itu.
Malam menjelang…
BAMM…
"Aaahhhh… sial. Gara-gara tiang itu aku lelah sekali!" umpat Yixing membantingkan gelas sakenya ke meja kayu Bibi Kim membuat Luhan menatapnya miris. Mata Yixing menyipit dan tangannya meremas gelas kaca itu.
Luhan berpikir sejenak, "Hmm kira-kira siapa yang tahu rumahnya?"
Yixing menggeleng pelan saat Bibi Kim datang membawa dua porsi sup kepala sapi hangat membuat Yixing melupakan sejenak tentang Kris Wu. Yixing segera menarik miliknya dan menciumi aroma kaldu sapi yang menyeruak di dalam indra penciumannya.
"Rumah siapa?" tanya Bibi Kim lembut diiringi kekehan.
Luhan menatap Bibi Kim sejenak, "Rumah Kris Wu, Bibi tahu?"
"Dia tinggal tidak jauh dari sini…" ucap Bibi Kim kemudian duduk di samping Yixing yang memakan supnya.
Luhan melebarkan matanya, "Jinjja?" Bibi Kim menjelaskan jalan ke rumah Kris dan Luhan mengangguk-angguk sedang Yixing masih sibuk dengan kepala sapinya.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Yixing melihat sebuah bangunan besar yang disebut rumah itu dengan menganga.
Luhan menggangguk sambil berkedip beberapa kali, "Iya…"
Rumah Kris memang berada tidak jauh dari rumah kedai Bibi Kim, sekitar 10 menit untuk berjalan kaki. Parahnya… rumah besar nan mewah ini berdiri megah tepat, TEPAT di samping gedung apartemen Yixing dan Luhan tinggal. Bodohnya mereka… mereka tidak sadar jika mereka bertetangga dengan Kris.
Dengan satu helaan nafas, Yixing dan Luhan memasuki gerbang besar yang tidak ditutup itu dan melangkah maju ke pintu depan rumah itu. Luhan menekan bell rumah dan tak lama kemudian sesosok laki-laki jangkung dengan kaos oblong membuka pintu.
"Hm? Kalian… ada apa?" tanya Kris.
Yixing dan Luhan saling bertatapan dan mulai bicara, "Ada sesuatu yang harus kami berikan…" ucap Luhan membuat Kris mengernyitkan dahi.
"Apa?"
Yixing mengulurkan tangan putihnya dan sebuah handphone flip hitam tercetak di mata Kris. Handphone-nya.
Kris mengambilnya, "Ketemu di mana?"
"Kedai Bibi Kim." Jawab Luhan.
Kris mengangguk-angguk, "Mau aku antar pulang?"
Yixing dan Luhan melebarkan mata mereka. Tidak… tidak. TIDAK!
Cepat-cepat mereka menggeleng, mengucap permisi dan kabur dari hadapan Kris.
Kris menatap dua orang itu dengan tatapan aneh.
TBC
gimana? tambah gaje? ;-; aku rapopo aku rapopo ;-; komen guys ^-^ /bow/
