Author: Shfllyy3424
Title: { CHaptered} Twilight (Remake) Part 2
Genre: Yaoi. Romantic, Drama, SchoolLife, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)
Rating: Teen, PG-13
Cast:
Xi Lu Han(Exo M Luhan)
Oh Sehun (Exo K Sehun)
Other cast:
Kim Joonmyeon (Suho) – Zhang Yi Xing (Lay) = Dr. Kim & Wife
Kim Jongin (Kai) – Do Kyungsoo (D.O) = Dr. Kim & Wife's stepchildren (A Couple)
Kris Wu (Kris) – Huang Zi Tao (Tao) = Dr. Kim & Wife's stepchildren (A Couple)
EXO's Other Member
SM's Member
Cari sendiri
Ps: Yeah, my first remake FF. Listen well, this is a remake! Not a plagiarism, original story is belong to the Stephanie Mayer as the writer of Twilight Saga. But, all plot here is mine. Half story is same with the original text, but half others are different. I write it with my own idea, and i'll change it. :) gimme support guys~ (nb: i remake the movie)
Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!
Contact me on:
fb: athiya almas
wp: .com
Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^
Happy reading
Ini perasaanku saja, atau memang lelaki bernama Oh Sehun itu juga sedang menatapku? Tapi.. aku menangkap keganjilan dalam tatapannya padaku. Kelihatannya ia sedang sakit atau terluka? Atau ia sedang dendam padaku? Entahlah. Lama-lama aku mengalihkan pandangan darinya, tidak sanggup kalau ia balas menatapku begitu tajam.
.
..
"Mr. Lee!" Chanyeol bersikeras ingin mengantarku ke kelas, entah harus bagaimana untuk melawannya. "Hei Chanyeol." Sapa guru bernama Lee Donghae tersebut. "Ini, aku mengantar Luhan." Lee Donghae membuka berkas-berkasnya. "Oh, benar. Selamat datang Luhan, kau bisa duduk di sana!" ia menunjuk suatu tempat di kelas. Mata pelajaran biologi, namun sepertinya hari ini praktek. Aku menatap arah yang ditunjuk Donghae, dan guess what? Oh Sehun telah duduk di sana dengan tenang.
Aku melangkahkan kakiku, sampai kemudian kipas angin menerpa tubuhku. "Bisa aku minta data-datamu Luhan?" tanya Donghae, aku menyerahkan secarik kertas. Kemudian aku berjalan menuju ke arah Sehun, namun ia menutup hidungnya? Ia semakin merapatkan tutupan pada hidungnya ketika aku mendekat. Aku panik, apa aku bau? Atau setidaknya jika aku bau, apa aku sebau itu? "Baiklah kita mulai pelajaran kita hari ini lagi, kuharap kau bisa mengikuti pelajaran dengan baik Luhan. Tentang Planataria atau dapat disebut sebagai cacing pipih, aku yakin kalian telah mendapatkan pelajaran ini di SMA bukan?" Lee Donghae menjelaskan pelajarannya.
Kurasa aku memang bau, aku duduk di samping Sehun. Dan kulihat ia sama sekali tidak berkeinginan untuk menyapaku, aku mencium kaos yang kukenakan. Tapi aku hanya mendapati bau parfum yang baru saja kubeli kemarin. Lalu di mana masalahku?
Dosen dengan wajah tampan itu memberi kami dua tabung kecil, tanpa suara dan perlahan Sehun menggeser tabung itu ke arahku. Ia masih terlihat terus-menerus menahan nafasnya, tapi ia memandangku secara intens. 'Aish, dia membuatku gila! Katakan saja apa salahku kumohooonn!' jeritku dalam hati. Dan ia berhasil merusak semangatku untuk belajar dan juga mendengarkan dosen itu.
Aku mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa, dia benar-benar tidak mengalihkan pandangan dariku. Aku menyerah untuk penasaran, kemudian meja berderit kecil. Sehun bangkit bersamaan dengan bel istirahat yang berdering cukup kencang.
.
..
Aku bermaksud menyerahkan berkas-berkasku ke ruang tata usaha, baru saja aku membuka pintu kulihat samar-samar Kwon Yuri petugas tata usaha sedang berdebat dengan Sehun. "..Kumohon harus ada kelas yang tersisa untukku. Apa semua kelas penuh? Fisika? Kimia? Apa saja aku ingin pindah jurusan." Aku tercengang mendengar kata-kata lelaki itu. "Maaf Sehun, tapi aku sudah yakin kalau semua kelas sudah penuh. Kau bisa membaca datanya kalau kau mau. Maaf, dengan terpaksa kau tidak bisa berganti jurusan, tetaplah di Biologi." Ia menoleh menatapku sinis, aku diam. Apa ia pindah gara-gara aku? Gara-gara kedatanganku?
"Terserah, aku harus belajar sabar." Ia mengangkat jaket berwarna cokelat muda miliknya, berlalu melewatiku tanpa mengatakan sesuatu apapun. Ia membuka pintu yang berada di belakangku kasar, kemudian menutupnya dengan kasar pula. Aku membatalkan keinginanku untuk menyerahkan berkas-berkas, memilih untuk keluar saja.
.
..
Aku makan di sebuah resto kecil bersama ayah, kurasa ia sama sepertiku. Belajar mengakrabkan diri satu sama lain, seorang pelayan menghampiri kami meletakkan pesanan kami. "Aku tidak menyangka Luhan, kau tumbuh menjadi lelaki yang manis dan imut. Jika aku punya anak yang seumuran denganmu tak perduli jenis kelamin anakku mungkin aku akan menjodohkannya denganmu haha." Aku hanya tersenyum canggung. "Hey Luhan, kau ingat aku? Aku Kangin, dulu sewaktu kau kecil aku sering bermain ke rumahmu. Aku suka menjadi santa dan mengantar hadiah untukmu kau ingat?" aku menautkan kedua alisku.
"Maaf Kangin, tapi ia tidak pernah merayakan Natal bersamamu." Jawab ayah singkat. "Sudahlah Kangin, biarkan Luhan dan Hankyung memakan burgernya." Aku memotong burgernya, namun ketika aku akan mengambil saus bersamaan dengan ayah. Akhirnya ayah membiarkan aku mengambil saus itu terlebih dahulu.
. . .
Keesokan harinya, aku bertekad harus menemui Oh Sehun bagaimanapun caranya. Aku harus mengonfirmasi padanya mengapa ia begitu menjauhiku? Apa yang salah denganku? Apa ia dendam padaku? Aku menunggu Sehun di parkiran, di depan Chevyku. Tidak perduli beberapa orang –yang terus- menyindirku.
Tapi ia tidak muncul sepanjang waktu aku menunggunya, yang muncul hanya Kris dan Kai yang menaiki Jeep mereka. Serta Kyungsoo dan Tao yang mengendarai Mercedez benz berwarna merah milik mereka.
Kemudian keesokan harinya, ia juga tidak nampak. Lagi-lagi aku harus memendam rasa kecewaku. Hanya mereka berempat tanpa Sehun, dan rasanya setiap waktu aku tak pernah berhenti untuk memandangi keluarga mereka. Berharap Sehun bisa muncul secara tiba-tiba.
Beberapa hari berlalu, ia tetap tak nampak. Ini aneh, maksudku bagaimana mungkin ia absen selama ini? Apa ia sakit? Apa aku khawatir? Ah..
. . .
Aku terbangun cukup pagi gara-gara suara halilintar dan hujan yang mengganggu tidurku, lagi-lagi hujan dan awan pekat. Aku berlari menuju halaman rumah, ketika aku menuruni tangga..
Brukk!
Pantatku menyentuh halaman dengan sempurna, aku meringis kecil. "Kau baik-baik saja?" ayah membantuku berdiri, ia sudah mengenakan seragam polisinya. "Ya, tentu. Terima kasih ayah." Aku bangkit dan menuju Chevyku. "Itulah alasan mengapa aku menempatkan beberapa ban serep di dalam truckmu. Ban yang lama semakin tipis, bisa berbahaya bila dipakai di tengah hujan seperti ini." Jelas ayah.
"Nanti kau makanlah duluan, appa akan pulang terlambat nanti. Pekerja di sektor pertambangan ditemukan tewas karena serangan hewan buas." Aku menautkan alis, batal memasuki mobil. "Hewan buas?" aku membeo, "Ya, begitulah. Kau tak lagi di Beijing maupun Daegu saat ini Luhan. Jeju berbeda, maksudku.. ah kau pasti mengerti." Jawab ayah, padahal sebenarnya tidak. "Nanti kau terlambat, hati-hati." Ayah menuju mobil sedannya, lalu meninggalkanku. Dan beberapa saat kemudian aku juga meninggalkan rumah.
.
..
"..Jadi Luhan, nanti pesta prom pasti akan sangat meriah. Maksudku, semua orang pasti bersenang-senang di sana, dan aku kira kau punya selera musik yang bagus, jadi apa kau bisa membantuku memilih playlist? Dengar, apa kau err sudah punya teman kencan untuk ke.." "Heyyo wazzup, menikmati hujannya, Daegu?" Chanyeol muncul memotong perkataan Chen, lelaki itu mengibas-ngibaskan topi basahnya ke arahku. "Chanyeol, kau hebat, hebat sekali!" dengus Chen kesal.
Aku tidak perduli dengan perdebatan konyol mereka, hujan atau prom kurasa aku tidak ingin memilih keduanya. Aku menatap ke arah kelas yang cukup kosong, meski dosen telah datang. Dan aku.. entah kenapa aku bahagia melihatnya duduk di sana, melihat Oh Sehun duduk di sana lagi setelah beberapa hari.
Aku melangkah masuk dan mendudukkan diriku di samping Sehun, lagi-lagi ia menatapku. Baiklah kalau ia masih tidak ingin berbicara denganku, aku meletakkan tasku di bawah aku duduk. Menatap sebuah mikroskop yang terletak di antara kami. "Annyeong, Oh Sehun imnida, maaf aku tidak memperkenalkan diri pada saat pertama kali kita bertemu. Kau Luhan kan?" aku menoleh, ternyata suaranya yang berat begitu jernih jika mendengarnya sedekat ini. Aku mengangguk, "Ya, salam kenal." Aku membungkukkan badanku hormat.
"Sel ujung akar bawang, itulah yang ada di kaca mikroskop kalian saat ini. Arasseo?" kali ini Jung Yunho, "Jadi pisahkan dan tandai mereka berdasar fase mitosisnya, dan pasangan pertama yang mengumpulkan pekerjaan mereka secara benar akan mendapat barang emas dariku." Jung Yunho mengakhiri kalimatnya. "Kau duluan." Sehun menggeser mikroskop itu ke arahku, aku mendekatkan mataku ke benda itu. "Kemarin kau pergi, apa kau sakit?"
"Ya, aku memang pergi. Tidak, aku hanya keluar kota beberapa hari, ada sesuatu yang harus kukerjakan di sana." Jawab Sehun, aku menggeser mikroskop itu ke arahnya. "Prophase." Jawabku. "Kau tidak keberatan kan kalau aku melihatnya?" tanya Sehun, aku menganggukkan kepala. "Em, memang prophase." Jawab Sehun. "Ya, aku tadi sudah bilang kan?"
"Jadi, kau suka hujannya?" aku menatap Sehun lekat-lekat. "Kau bertanya tentang cuaca hari ini?" tanyaku balik. "Yeah." Jawab Sehun, aku mengendikkan bahu. "Aku tidak suka hujan, sangat tidak suka. Setiap ada hujan maka ada kedinginan yang mengikuti, dan juga fakta bahwa hujan itu basah sangat tidak menyenangkan. Aku benci basah, apalagi genangan air." Jelasku. Sehun terkekeh kecil, "Apa?" tanyaku ketika mendengar tawanya yang ganjil. "Tidak haha, oh yang ini anaphase."
"Tidak keberatan kalau kuperiksa?" Sehun tersenyum mengiyakan. "Kau benar, anaphase." Jawabku. "Jika kau membenci hujan, dingin atau basah, mengapa kau pindah di pulau paling basah di Korea Selatan?" Sehun menatapku. "Akan sangat rumit kalau kujelaskan." Jawabku. "Aku yakin aku bisa mengikuti penjelasanmu." Aku menghela nafas.
"Ibuku sudah meninggal, dan aku bukan orang asli Korea Selatan." Jawabku menggantung. "Maaf untuk menanyakan hal ini, lalu mengapa kau tidak kembali ke China atau menetap di kota sebelum kau tinggal di sini?" tanya Sehun, aku menggeleng. "Ayahku selalu berpindah tempat kerja, setelah ibu meninggal tidak mungkin aku akan tinggal di Daegu apalagi kembali ke Beijing. Jadi jalan satu-satunya adalah mengikuti ayah, meski aku harus meninggalkan teman-temanku. Oh atau dalam konteksnya aku sering kali melupakan teman-teman lamaku. Bukan sombong, hanya karena aku terlalu banyak bertemu orang baru dan terlalu pusing untuk meneliti mereka."
Aku menatap kedua bola mata Sehun, warnanya sedikit berbeda dari sebelum pelajaran dimulai. tapi aku berusaha tak ambil pusing, Sehun meraih mikroskop itu lagi. "Ini metaphase, kau mau mengecek ulang?" tawar Sehun, aku menggeleng. "Tidak, aku percaya."
Kelas berakhir, kemudian kami berjalan keluar beriringan. Aku menggenggam bawang emas tersebut di tanganku, "Kenapa kau tidak tinggal di asrama atau tinggal bersama saudaramu mungkin?" tanya Sehun. "Aku tidak suka tinggal di asrama, aku tidak terlalu bisa akrab dengan seseorang. Dan saudara, aku anak tunggal. Fakta bahwa semua saudaraku ada di China dan tidak mungkin aku meninggalkan ayahku seorang diri adalah faktor dominan, kukira semua orang akan bahagia bila aku tidak mengusik kehidupan mereka. Aku tidak terlalu akrab bahkan dengan ayahku sendiri aku canggung, tapi biar aku melalui begini, semua orang akan bahagia dan menjalani hidup mereka secara normal."
"Dan sekarang, kau yang tidak bahagia?" tanya Sehun. "Tidak, aku bahagia. Aku bahkan lebih suka Korea Selatan daripada China." Jawabku. "Maafkan aku selalu memberi presepsi yang salah padamu, kau hanya terlalu susah untuk dibaca." Aku menatap bola mata Sehun, warnanya emas. "Hey kau menggunakan kontak lensa?" tanyaku. "Tidak." Jawab Sehun singkat. "Warnanya hitam saat pagi tadi, kemudian selama pelajaran menjadi cokelat dan saat ini menjadi emas?"
"Aku tahu, maksudku.. ah!" Sehun beralih dan pergi tanpa pamit dari hadapanku.
.
..
Aku menuju ke parkiran mobil, kulihat keluarga Kim berdiri di dekat mobil mereka di sebrangku. Sehun berdiri di samping volvo miliknya. Tiba-tiba angin berhembus menerpa rambutku, lalu terdengar suara klakson mobil. Kulihat mobil hitam berjalan ke arahku dengan kecepatan tinggi, sangat cepat hingga rasanya aku tidak dapat berlari lagi, aku akan mati..
Tiiinnnn!
Aku memejamkan kedua mataku, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Tiba-tiba saja ketika kurasa jarak mobil itu kurang dari semeter, seseorang tiba-tiba menyusup ke arahku. Dan dengan ajaib, orang itu menahan badan mobil agar tidak mengenai tubuhku. Aku terkesiap, batal memejamkan mataku. Oh sehun berdiri di atasku dengan tangan yang menahan bodi mobil itu dan membuat mobil itu harus ringsek di satu sisi. Aku mengatur nafasku, betapa beruntungnya aku Sehun menyelamatkanku secepat itu. Sehun pergi dan meloncat dari celah mobil tadi, meninggalkanku.
"Luhan maaf, aku tidak sengaja sungguh. Kumohon maafkan aku.." Jonghyun sang pengemudi mobil, aku ingat dia yang mencubit pipiku di hari pertama bertemu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padaku, rasanya pusing mendengar suara mereka yang tidak berhenti.
. . .
"Luhan, kau tidak apa-apa nak? Ayah khawatir padamu. Hei kau, kita harus berbicara nanti!" ayah masuk ke dalam ruang periksa, lalu menunjuk Jonghyun yang dirawat di sampingku. Bahkan kelihatannya ia lebih terluka daripada aku. "Tidak apa-apa ayah." Jawabku. "Luhan maaf, aku tidak tahu kalau remnya blong." Jonghyun meminta maaf lagi, sudah lebih dari sepuluh kali. "Tidak apa-apa Jonghyun, sungguh." Jawabku menenangkan. "Tidak, pasti ada apa-apa. Kau jangan kabur sebelum kita berbicara!" ayah menaikkan nada bicaranya.
"Ayah sudahlah, tidak apa-apa." Aku menenangkan ayah. "Kau hampir terbunuh nak, mana bisa ayah membiarkannya?" ayah cemas lagi. "Tapi aku tidak jadi terbunuh kan? Sudahlah ayah.." ayah berkacak pinggang. "Kau harus memberi ucapan perpisahan pada SIM-mu."
Krek!
Pintu terbuka, aku menoleh seorang lelaki tampan berkulit pucat datang. Sepertinya itu dokter Kim, tidak kusangka ia setampan itu. –meski sebenarnya ada kemungkinan, mengingat betapa tampannya anak-anak angkatnya.- "Kudengar anak kepala polisi masuk rumah sakit?" sapanya hangat. "Hai dokter Kim." Sapa ayah, kentara sekali kalau dokter Kim lebih muda dari ayah. Surai cokelatnya menunjukkan fakta tersebut. "Hai Hankyung hyung, biar aku tangani ini Sunny." Dokter Kim mengambil alih tugas dari suster yang menanganiku sebelumnya.
"Xi Luhan.." panggil dokter Kim sembari membuka berkasnya. "Luhan." Koreksi ayah. "Ini mengejutkan, bagaimana perasaanmu saat ini?" tanyanya. "Baik." Jawabku singkat. "Tatap aku." Aku menatap lelaki itu, kemudian senter kecil diarahkan ke wajahku. "Kau bisa saja masih mengalami trauma atau keterkejutan luar biasa. Tapi kau menunjukkan kondisi yang baik, tidak ada memar apalagi gegar otak. Aku kira kau baik-baik saja." Jelas dokter Kim.
"Maafkan aku lagi Luhan, sungguh aku benar-benar tidak.." Srek! Ayah menutup gorden yang memisahkan antara aku dan Jonghyun. "Aku baik-baik saja, tapi mungkin tidak baik-baik saja bila Sehun tidak menolongku." Jawabku, dr. Kim masih fokus dengan catatannya. "Sehun? Apa dia anakmu?" dr. Kim mengalihkan tatapannya dari berkasnya. "Ya, itu sangat-sangat tidak masuk akal. Aku melihatnya cukup jauh dariku, tapi kemudian ia berada di sampingku dan menyelamatkanku begitu cepat dan juga kuat.."
"Kedengarannya kau diberi kadar keuntungan berlebih hari ini, oh aku meninggalkanmu dulu ada pasien yang menunggu. Hankyung hyung, aku permisi." Lelaki itu meninggalkan aku dan ayah, beliau sangat kalut sepertinya.
Beberapa saat kemudian pihak rumah sakit memperbolehkanku pulang, aku bersyukur. Aku bisa mati menahan pening jika terus-terusan menghirup aroma obat. "Luhan, ayah harus menandatangani beberapa berkas. Kau berjalanlah duluan." Aku mengangguk. Aku melangkah tapi samar-samar aku dapat mendengar perdebatan kecil di lorong rumah sakit, aku menatap tiga orang yang sedang berdiri. Itu dr. Kim, Tao dan juga Sehun.
"Kau tidak perlu melakukannya!" kesal Tao, aku menatap mereka. "Lalu aku harus apa hyung? Membiarkan ia mati tertabrak?" balas Sehun, mereka membicarakanku? "Anak-anak, kurasa tidak baik membicarakannya di sini." Tampaknya dr. Kim menyadari kehadiranku. "Boleh aku minta waktumu untuk berbicara?" tanyaku pada Sehun. "Tao, ayo kita pergi." Dr. Kim meraih tangan Tao.
"Apa?" tanya Sehun. "B-Bagaimana kau bisa begitu cepat? Maksudku, aku bersumpah Sehun aku melihatmu jauh di seberangku. Tapi kau seakan berlari hanya dengan sedetik lalu menyelamatkanku, bagaimana bisa?" aku memberondong Sehun dengan pertanyaanku. "Aku berdiri di sampingmu Luhan." Aku menggeleng. "Tidak, demi Tuhan kau ada di seberang sana!" aku membantah.
"Tidak, mungkin kepalamu terbentur sehingga kau masih bingung." Sehun mengalihkan pembicaraan. "Aku tahu apa yang kulihat dan aku tidak pernah meragukan penglihatanku." Elakku. "Apa itu?" tanya Sehun . "Kau ada di seberang sana, tapi tak sampai lima detik kemudian kau ada di sampingku. Kau hentikan van yang menggila itu, kau mendorong van itu hingga ringsek."
"Kurasa takan ada yang percaya denganmu." Sehun meremehkan, aku kesal. "A-aku tidak akan membocorkannya, hanya tolong beritahu aku kebenarannya." Ucapku memohon. "Tidak bisakah kau ucapkan terima kasih lalu lupakan segalanya?" mungkin Sehun juga kesal. "Tidak untuk melupakan, tapi gumawo." Ucapku. "Tapi aku tidak akan memberikanmu pernyataan yang benar, karena memang pernyataanku benar. Nikmati kekecewaanmu saja Luhan." Dan dia pergi lagi.. aku memandang punggung Sehun yang menjauh dengan sedih.
TBC!
Yap tbc lagi.. kenapa aku selalu masukin Minho? Bukan karena dia biasku, tapi dia bias temenku. Dan dia selalu maksa biar masukin Minho -_-v
Kenapa bukan Kai yang jadi Jacob? Karena aku gamau ada member EXO yang jadi pihak ketiga couple lain wkwk. Terus aku juga suka banget sama KaiSoo jangan sampai pisah deh._. Udah gitu nanti biar Minhonya sama taemin gitu.. (?) ambigu sumpah.
Yaudah as usual, review jusseyo ^^v
