Disclaimer seperti chapter sebelumnya.

Sekedar info, Istri naruto bukan Yasaka :v tapi OC ane, baru Yasaka jadi Anaknya(toh masih kecil)

Bab 1: Langkah awal ANBU

Part 1: Misi

"Sebelum saya bubarkan, mulai sekarang, setiap Divisi ku harap kalian bisa bekerja dengan baik sesuai dengan divisi kalian. Para pemimpin Divisi, ku harapkan agar kalian berkumpul di ruangan saya. Selebihnya, kalian boleh bubar. Tapi jangan keluar dari divisi ini dulu." Ujar Naruto dengan nada tinggi, dengan harapan semua orang di gedung aula mendengar perkataannya. Kemudian, dia berjalan pelan ke belakang panggung lalu berjalan menuju ruangannya yang berada di pojok ruang bawah dengan lebar 4x4 meter. Satu set sofa dan meja panjang terletak di sisi kanan ruangan. Di pojok kiri terdapat bar mini. Di pojok kanan terdapat lemari yang khusus menyimpan buku-buku penting. Di seberang sofa, terdapat sofa yang khusus dia gunakan untuk duduk. Sedangkan di bar mini terdapat seorang perempuan berambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai. Perempuan itu mengenakan afron hitam untuk melapisi baju maid dirinya. Melihat perempuan itu membuatkan minuman ketika dia baru masuk ke ruangan ini, membuatnya menghela nafas pelan. Namun dia tersenyum melihat ekspresi gembira tercetak di paras indahnya. Bulu mata lentiknya menambah kesan cantik di matanya.

"Hah, kenapa kau disini, Hana?" Tanya Naruto sembari menghempaskan bokongnya di sofa yang khusus dia gunakan. Kemudian dia mencomot sebuah kue yag tersaji di atas piring. Dia heran sama sosok perempuan yang berada di bar mini tersebut. "Disaat dia sibuk, kenapa malah berada disini."gumamnya dengan nada yang sangat kecil. Ia menatap sosok yang membuatnya jatuh cinta tersebut yang membawa napan yang diatasnya terdapat gelas yang berisi jus jeruk, minuman kesukaannya. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa ada seseorang yang berada di dalam ruangannya, ia juga merasakan aura youkai yang sangat kuat dan hangat yang berasal dari dalam ruangannya. Sosok yang mampu membuatnya bangkit dari keterpurukan, mampu membuatnya bangkit dari putus asa, dan selalu menariknya dari jurang kegelapan tatkala ia hampir lepas kendali karena mengingat kembali ketidak mampuannya menyelamatkan istrinya di dunia Shinobi dulu, dan sosok yang membuatnya berani move on dari masa lalu. Walaupun pertemuan pertama sangatlah tidak elit, mengingatnya membuat dirinya ketawa kecil.

"Apa salahnya sih mengunjungi suamiku, walaupun aku sibuk, tetapi aku tetap tidak akan melupakan kewajibanku sebagai istrimu, baka!" Melihat Hana cemberut, membuatnya menahan diri untuk tidak menerkam sosok di depannya ini. Dengan wajah cemberut yang sedikit memerah, ditambah tubuh langsingnya dan mencuatnya sepasang telinga rubah, membuat kesan manis dan lucu. Ditambah suasana ruangan yang remang-remang, menambah kesan yang lainnya. Hana meletakkan minuman yang dibuat untuk suaminya itu di atas meja. Tak lama kemudian, sebuah ketokan dan suara cempreng yang menggangu pendengarannya. Setelah itu, pintu 'dibuka' dengan sangat pelan. Dari balik pintu muncullah seorang anak perempuan dengan telinga rubah dan sebuah ekor dan rambutnya pirang cerah yang digerai.

"Papa! Yasaka kangen!" Anak yang menyebut dirinya Yasaka yang ternyata anak Naruto dan Hana berlari kemudian melompat ke pelukan papanya. Dengan sigap Naruto menangkap tubuh Yasaka. Kemudian menurunkannya dengan pelan-pelan dan mengacak-acak rambutnya dengan lembut.

"Ya papa tahu. Tetapi lain kali jangan ceroboh ya, nanti kau terluka lagi seperti kemarin." Ujar Naruto dengan nada lembut. Sifat anaknya, Yasaka sangat mirip dengannya dulu, saat dia masihlah bocah dan seorang pembuat onar

Dua menit kemudian, lima pemimpin divisi, namun dua dari lima itu merupakan rekan dan mantan musuhnya. Mereka berlima duduk di sofa. Sedangkan Yasaka duduk di pangkuan Naruto dan Hana sedang menyiapkan minuman untuk para tamunya. Naruto menatap intens mereka berlima tanpa melepas acara mengelus kepala anak yang mulai menggeliat keenakan. Terlihat dari ekornya yang bergerak ke kiri dan ke kanan dengan wajah yang ceria.

"Naruto, siapa perempuan yang berada di bar mini itu?" Tanya pria berambut putih yang mengenakan Yukata yang warnanya senada dengan rambut pria itu. Rambutnya kini sedikit panjang, hingga seleher. Jadinya dia ikat menjadi satu, mengingatkan akan Itachi, rambutnya yang diikat satu.

"Dia istriku, Namanya Hana, dia juga adalah seorang pemimpin para youkai. Dan ini Yasaka, anakku." Naruto memperkenalkan dua sosok yang kini menjadi orang yang sangat berharga bagi dirinya. Dia mengambil gelas yang berisi teh lalu meminumnya sedikit.

"Jadi, ada apa kau memanggil kami, Naruto?" ujar seorang perempuan berambut hitam yang sangat halus yang panjangnya selutut. Rambutnya diikat agar tidak berantakan. Dia mengenakan kimono berwarna kuning keemasan dengan obi berwarna putih. Kulitnya putih mulus, matanya tidak terdapat pupil, khas clan hyuuga. Dia adalah Hanabi hyuuga.

"Apa kalian juga merasakannya? Ketika aku sampai di kota ini, aku merasakan gejolak sihir misterius yang saling bertubrukan dengan sihir misterius lainnya. Bahkan aku merasakan kota ini dilapisi kekkai yang sangat kuat yang entah apa fungsinya." Ujar Naruto menyipitkan matanya begitu melihat mereka yang tidak memperlihatkan emosi yang berlebihan.

"Sejujurnya aku tidak tahu Naruto-sama, aku juga merasakan sihir yang sangat besar namun samar-samar ketika pertama kali menginjakkan kaki ke kota ini." Ujar Gray sembari memakan sebuah wafer coklat.

"Karena itu, aku akan memberikan misi ke Divisimu, Hanabi. Cari informasi tentang apa yang terjadi di kota ini, paham?" Tanya Naruto memasang wajah serius. Dia menatap datar Hanabi yang mengangguk kecil, menyetujui misi tersebut.

"Kemudian, setelah menemukan info tentang apa yang terjadi di kota ini dan kita tahu pemilik sihir misterius ini, aku perintahkan divisimu Toneri untuk menyergap mereka dan seret mereka ke markas." Lanjut Naruto menatap ke Toneri yang menyeringai.

Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu. Dia menepuk jidatnya karena lupa hal penting.

"Ah aku lupa, Hanabi, kau sekarang jadi pemimpin divisi penghancur, jabatanmu beralih ke Gray. Jadi Gray, divisimu adalah divisi mata-mata. Tugasnya seperti yang aku bilang ke Hanabi tadi, paham?" Tanya Naruto menatap Gray yang mengangguk. Dia tahu, bahwa Gray belum terbiasa dengan atmosfer ketegangan yang disebabkan aura mereka bertiga.

"Kemudian Hanabi, divisimu, divisi penghancur, seret Sekiryuutei yang kini berada di kuoh academy. Hindari sebisa mungkin kontak, bahkan pertarungan dengan fraksi iblis yang menguasai kota Kuoh, paham?" Naruto menatap Hanabi yang lumayan mirip dengan Hinata, istrinya dulu. Mengingat Hinata, bagaimana keadaanmu di alam sana ya?

"Dan untuk misimu, Kenshin, aku beri misi untuk timmu untuk menyelamatkan manusia yang ditawan oleh kumpulan malaikat jatuh yang dipimpin oleh Kokabiel sialan itu. Prioritaskan keselamatan tawanan tersebut, eliminasi musuh secepat mungkin. Jika ketemu Kokabiel, mundur, paham?" Naruto menatap seorang pemuda berambut merah dengan luka sayatan berbentuk huruf X di pipinya. Dia merupakan seorang ninja yang ahli di bidang penyusupan dan pembantaian.

"Jadi, kalian boleh kembali ke divisi kalian dan tunjuk siapa saja yang akan menjalankan misi yang ku berikan." Perintah Naruto. Hanabi, Toneri, Kenshin, dan Gray beranjak dari Sofa lalu berjalan keluar ruangan. Naruto menatap mereka sembari tersenyum tipis. 'Semoga kalian berhasil, kawan.' Batin Naruto mendoakan keberhasilan mereka. Kemudian pandangannya beralih ke Hana.

"Jadi, ada apa di Kyoto, Hana-hime?"

"Menurut mata-mataku, mereka akan beraksi sebulan lagi. Mereka akan membebaskan sang juubi no ookami, sang youkai yang menyerap energy kegelapan." Mendengar kata Juubi No Ookami, membuat mata Naruto melebar.

"Maksudmu youkai raksasa dengan ekor sepuluh, seluruh tubuhnya berwarna hitam dan matanya Cuma satu." Hana sedikit terkejut dengan deskripsi Naruto yang sangat benar. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Jadi, bisa beritahu aku rinciannya?"

Part 2: Holy Grail

Akhir-akhir ini terdapat keanehan di kota Yamato, mulai dari pembunuhan yang kian bertambah tinggi, sebuah kawah besar, ledakan yang terjadi di malam hari, dan sebagainya. Polisi yang berusaha memecahkan keanehan tersebut frustasi karena tidak ada petunjuk yang mengarah ke keanehan tersebut.

Oleh karena itu, Naruto menyuruh divisi mata-mata dan penyergap untuk menyelidiki dan menangkap pelakunya lalu diintrogasi agar masalah ini tidak terulang lagi. Sudah cukup banyak korban akibat keanehan ini.

Oleh karena itu, ANBU tidak membiarkan masalah ini semakin parah. Mereka mulai bergerak. Gray, dan Toneri mulai bergerak. Divisi Gray yang berisikan lima anggota pun dipecah menjadi lima kelompok. Sedangkan anggota dari divisi penyergapan hanyalah sepuluh orang, yang dipecah juga menjadi lima kelompok.

"Baiklah semuanya, tentunya kalian tau bukan keanehan yang ada di kota ini? Jadi, Kiiro senkou-sama memerintahkan divisi kita dan divisi mata-mata untuk menyelidiki dan menangkap serta mengintrogasi pelaku tersebut guna mencegah agar kejadian ini tidak terulang kembali." Ujar Toneri yang kini berada di kelas. Kenapa berada di kelas? Karena anggotanya merupakan anak SMA semuanya, namun mereka bukan hanya anak SMA biasa. Mereka adalah Shiba Miyuki, Shiba Tatsuya, Misaka Mikoto, Accelerator, Gajeel, Touma, Erika, Mibu, Uiharu, Natsu dan Haruna. Namun mereka tidak menyadari kehadiran Natsu.

"Karena divisi Gray dibagi menjadi lima kelompok, jadinya kita juga—" ucapan Toneri dipotong oleh Gajeel sembari menunjuk pria berambut pink yang berada pojok kelas yang sedang mengupil. "Oy otak api, kenapa kau ada disini? Bukannya kau anggota Dragon team?"

Sebelum Natsu menjawab pertanyaan Gajeel, Hanabi muncul di depan Natsu kemudian melancarkan juuken ke perut Natsu. Natsu yang belum siap menerima serangan dadakan kini harus terlempar hingga menghantam dinding di belakangnya.

"Kenapa kau disini, bodoh. Bukannya aku menyuruhmu ke stasiun karena satu jam lagi kita akan ke kota Kuoh, HAH?" bentak Hanabi sembari mengaktifkan byakugan dan menaikkan aura pembunuhnya yang membuat seluruh orang di kelas ini merinding, bahkan Toneri gemetaran ketakutan. Toneri tambah merinding melihat kuda-kuda yang membuatnya trauma, Hakke Ni Hyaku Go Juu RokuShou, lebih banyak dari jumlah pukulan yang bisa dilakukan oleh petinggi clan Hyuuga, bahkan ayahnya. Sebuah teknik yang menggabungkan Jyuuken dan Byakugan. Terlihat di sekitar mata Hanabi terdapat banyak urat-urat yang menegang.

"Hakke: Ni Hyaku Go Juu Rokushou!" Seketika, seluruh orang yang berada di tempat penyiksaan yang dilakukan Hanabi kepada Natsu hanya bisa berdoa agar Natsu selamat. Bahkan Gajeel hanya bisa menatap miris Natsu yang terkena 256 pukulan yang merupakan teknik berbahaya clan Hyuuga. Teriakan penuh kesakitan yang keluar dari Natsu bagaikan melodi yang memecahkan keheningan di kelas ini. Setelah pukulan terakhir, Hanabi memegang kerah baju Natsu, kemudian menyeretnya keluar kelas.

"Mengheningkan cipta dimulai."

Serentak seluruh orang yang berada di kelas ini menundukkan kepalanya, berdoa agar mereka tidak bernasib sama dengan Natsu. Bukan berdoa untuk keselamatan anggota Dragon team tersebut.

'Selamat berjuang kawan,' batin Gajeel dengan senyum nista. Dia menahan tawa karena melihat Natsu tersiksa. Baginya Natsu tersiksa adalah hiburan tersendiri baginya.

.

.

.

Setelah pembagian kelompok, yang dimana mereka adalah Tatsuya dan Erika, Mibu dan Mikoto, Miyuki dan Haruna, Touma dan Gajeel, dan Accelerator sendirian. Sedangkan Uiharu menjadi instruktur mereka. Dia mempunyai kemampuan hacker yang tinggi, sehingga mereka bisa menyergap pelaku. Tetapi, sebelum mereka keluar dari kelas. Mereka merasakan lonjakan energy asing yang besar yang saling bertabrakan, seperti terjadi pertarungan antara pemilik energy tersebut. Tatsuya langsung mengarahkan pandangannya ke jendela, tepatnya dinding transparan yang berada di luar sana.

"Kekkai. Sangat tipis namun sangat kuat." Ujar Tatsuya membeberkan hasil pengamatan singkatnya.

Toneri ingin berkomentar tentang analisis Tatsuya, langsung terkejut mendengar ledakan yang besar yang ia duga berasal dari lapangan olahraga. Ia menatap anggotanya lalu sama-sama mengangguk. Karena mereka berfikiran sama, yaitu pergi ke sumber ledakan. Dengan cepat, mereka berlari ke lapangan olahraga yang berada di tengah-tengah sekolah ini.

Ketika mereka sampai di sumber ledakan, mereka terdiam melihat pertarungan yang terjadi di lapangan basket, salah satu bagian dari lapangan olahraga. Sebuah kawah berukuran sedang terlihat jelas ditengah-tengah lapangan basket. Di dalam kawah tersebut terdapat dua orang yang bertarung. Seorang laki-laki bersurai biru yang mengenakan armor biru dan menggunakan tombak merah melawan seorang laki-laki bersurai putih yang mengenakan baju merah lengan panjang, bentuknya seperti jumah, yang dilapisi oleh armor yang menutupi badannya dan ia menggunakan dua dagger hitam dan putih. Pertarungan tersebut berlangsung sangat sengit.

"Siapa mereka? Seluruh tubuh mereka adalah sihir yang sangat padat." Komentar Shiba Tatsuya mengamati dua sosok asing itu. Raut wajahnya tetaplah datar, namun ada satu orang yang mengetahui bahwa Tatsuya terkejut, dia adalah adiknya, Miyuki.

Melihat rekannya tidak bergerak, Misaka berinisiatif menghentikan pertarungan dua sosok misterius itu. Dia mengambil sebuah koin di saku bajunya. Kemudian ia lempar, lalu dengan tenaga penuh, dia menjentikkan jarinya. Hingga koin itu melesat dengan kecepatan tinggi. Hingga serangan Misaka seperti laser petir. Namun dua sosok itu menyadari serangan Misaka. Namun mereka lambat menghindar karena cepatnya serangan Misaka. Terjadi ledakan kecil di tempat dua sosok itu berdiri

"Hentikan pertarungan kalian!" seru Toneri begitu mereka berhasil menarik perhatian dua sosok misterius itu.

Asap mengepul menghalangi pandangan divisi penyergapan. Mereka dalam posisi bersiaga, bersiap-siap jikalau terdapat serangan dadakan. Mereka menunggu asap itu menghilang dengan jantung yang berdetak lebih cepat dua kali lipat. Ketika asap itu menghilang, dua sosok itu

"Ugh, serangannya sangat menyakitkan. Laser berbasis petir ini membuatku serasa mati rasa. Namun…" ucapan Pria berambut biru itu dalam kondisi tidak baik itu terhenti. Petir-petir kecil berpercikan di semua tubuhnya. Lengan bajunya kini lenyap tanpa sisa. Banyak luka gosong di armor dan baju. Mereka berasumsi bahwa serangan Misaka membuat dua sosok itu jadi kaku dan susah bergerak. Namun mereka sepertinya harus membuang asumsi tersebut karena pria itu melesat menuju mereka.

Tanpa berfikir panjang, Gajeel yang merupakan maniak bertarung, langsung melesat menuju pria itu. Seluruh tubuhnya berubah menjadi warna hitam. Tangan kanan Gajeel berubah menjadi tongkat dan memanjang. Pria itu sedikit shock karena serangan dadakan tersebut, dia tidak bisa menghindar karna serangan pria itu sangat dekat. Walaupun dia tidak bisa menghindar, namun refleksnya sangat mengerikan. Dia menahan serangan Gajeel hingga termundur. Erika pun berinisiatif membantu Gajeel untuk membuat salah satu sosok itu tidak berkutik. Dengan katana miliknya, ia melesat lalu mengayunkan katananya dengan target leher pria itu. Namun pria itu melompat ke belakang dengan tolakan yang ia lakukan pada kedua kakinya. Lompatannya lumayan jauh, memberinya jarak yang sangat renggang. Gajeel menarik nafas panjang. Kemudian dia hembuskan dengan keras, seraya berteriak, "Tetsuryuu no Hoko!" Hembusan yang dikeluarkan Gajeel membentuk tornado besar berwarna hitam. Di dalam tornado itu terdapat banyak pecahan besi yang sangat tajam menambah damage bagi lawannya.

Tanpa mereka sadari, di atap sekolah ada seorang perempuan yang mengenakan seragam yang sama dengan mereka. Rambutnya diikat twintail berwarna hitam. Di tangan kanannya terdapat sebuah lambang yang menurut orang awam itu tato.

"Sihir Dragon Slayer?" gumam perempuan itu melihat pertandingan antara Gajeel dengan pria yang menggunakan tombak.

"Halo nona, tidak baik mengintip loh," Perempuan itu melebar tatkala mendengar suara serak namun datar yang sangat ia kenali, guru Ekonomi sekolahnya, Toneri Ootsutsuki. Tubuhnya menegang mendengar bisikan horror di telinganya.

"Kinbou Tensei Baku." Ucap lirih Toneri dengan tangan kanan yang menggengam bola berwarna hijau. Bola itu menyentuh tubuh perempuan itu.

'Si-sihirku berkurang dratis. Ga-gawat!' batin perempuan itu merasakan energi sihirnya berkurang dratis hingga mau mencapai titik terendahnya. Bagi penyihir energy sihir itu bagaikan nyawa. Pandangannya menggelap diiringi energy sihirnya mencapai titik terendah. Samar-samar ia melihat bola hijau itu melewati tubuhnya dan membesar.

"Archer… tolong aku." Ucap perempuan itu dengan nada sangat pelan sebelum kesadarannya direngut oleh kegelapan. Kemudian Toneri menggendong perempuan itu dan melesat menjauh dari bola hijau itu yang sebentar lagi mengenai tanah. Ketika bola itu mengenai tanah…

Duar

Sebuah ledakan yang sangat besar terjadi. Atap gedung sekolah rusak berat hingga kerusakan itu menjalar hingga lantai dua. Ledakan tersebut sontak membuat warga sekitar lokasi ledakan terkejut karena merasakan goncangan yang sangat kuat. Sementara anggota Toneri menegang mendengar ledakan besar di belakang mereka. Goncangan besar tersebut sangat terasa karena dekatnya posisi mereka dari ledakan. Serpihan serpihan bangunan mengenai barier yang dibuat oleh Shiba Miyuki secara refleks dengan peralatan yang bernama CAD miliknya.

Sementara itu, Seorang pria misterius satunya menegang mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara yang sangat lemah yang terdengar beberapa saat sebelum ledakan. Ketika ledakan terjadi, ia menoleh ke sumber ledakan. Terkejut, karena sumber ledakan itu berada di tempat pemilik suara itu.

"Le-ledakan apa itu, Toneri sensei?" Tanya Tatsuya menoleh ke Toneri. Kemudian dia terkejut karena mata Toneri berubah. Dia merasakan kekuatan yang menakutkan berpusat di mata Toneri.

Toneri tidak menyahut ucapan Tatsuya. Dia langsung melesat menuju belakang gedung sekolah. "Semuanya cepat tinggalkan tempat ini, sebelum para warga memenuhi sekolah untuk melihat kejadian ini."

Mereka yang ingin bertanya tentang hal yang sama dengan Tatsuya pun diurungkan. Mereka merasa ucapan pemimpin mereka betul. Jika mereka sampai terlihat oleh warga, bahkan rumit urusannya. Kemungkinan terburuk mereka akan di-cap teroris karena yang berada di lokasi adalah mereka semua. Mereka akan tersudut karena tidak bisa membuktikan bahwa mereka tidaklah bersalah.

Sementara itu dari markas ANBU yang tidak jauh dari lokasi Toneri, Naruto merasakan energy Toneri yang bersatu dengan energy asing sebelum terjadi ledakan. Dia tersenyum tipis karena ia tahu teknik yang digunakan oleh Toneri, teknik yang membuatnya hampir kalah sewaktu bertarung di bulan.

"Kinbou tensei baku eh, Toneri."

Kembali ke posisi Toneri dan anggotanya.

"Hah… Hah… Hah… Siapa yang menciptakan ledakan yang sangat dahsyat itu?" Tanya Erika dengan nafas ngos-ngosan. Sementara Gajeel dan yang lainnya sibuk mengatur nafas karna mereka belari menjauh dari sekolah. Namun tanpa disadari, ada satu orang menghilang, tetapi ada satu yang yang menyadari pemimpin mereka menghilang. Dia adalah Haruna, Mahou shoujo unik dengan gergaji sebagai senjata andalannya.

"Eh mana Taichou?" Tanya Haruna. Mereka tersentak karena tidak sadar berpisah dengan Toneri. Mereka saling pandang satu sama lain, berharap ada yang mengingat sejak kapan mereka berpisah dengan Toneri. Namun harapan mereka pupus, karena mereka menggeleng semua, termasuk Haruna.

"Sebaiknya kita kembali ke markas."

"Osh!"

Sementara itu di tiga tempat yang berbeda.

"Energy macam apa ini? Walaupun terasa samar-samar, tetapi, terasa sangat menusuk. Apa yang terjadi di dunia atas?" gumam pria yang mengenakan seraga kebangsawanannya berwarna merah crimson, seperti warna rambutnya

"Energy ini terasa menakutkan. Ku rasa asal energy ini tidak jauh dari sini, yamato kah?" gumam pria yang sedang memancing di sungai yang dangkal. "Hah lagi-lagi tidak dapat ikan. Dasar ikan keparat, datanglah kepada papa Azazel yang tamvan!" ekspresi serius yang tadi pria berambut hitam dengan poni berwarna kuning langsung lenyap digantikan dengan ekspresi yang mampu membuat ikan kejang-kejang dan mampu membuat mata anda serasa dibakar amaterasu.

"Energy ini… setara denganku, namun awalnya hanyalah energy tunggal, namun lama-kelamaan energy asing ia rasakan dan saling bersikronisasi dengan energy sebelumnya, bagaimana menurutmu, Gabriel?" Tanya pemimpin fraksi malaikat kepada sosok perempuan di sebelahnya.

"Ku harap pemilik sosok itu bukanlah musuh." Jawab Gabriel sembari berdoa agar pemilik energy ini tidak menjadi musuh mereka.

Sementara itu, Toneri membawa perempuan itu ke apartementnya yang berada di seberang belakang sekolahnya. Dibaringkan perempuan itu dengan lemah lembut di kasur miliknya. Perempuan itu mengeluarkan suara lenguhan kecil, perlahan, matanya terbuka, hal pertama yang perempuan itu liat adalah sebuah langit-langit suatu ruangan yang berwarna putih dengan lambang sembilang magatama.

"Ini dimana? Alam kematian kah?" Perempuan itu mengubah posisinya menjadi duduk sembari memegang kedua kepalanya yang serasa mau pecah.

"Ara, kau sudah sadar rupanya eh, Tousaka Rin." Rin menoleh ke sumber suara yang membuatnya pingsan di atap sekolah. Dengan mata melebar dan tubuh bergetar hebat, dia mengucapkan sepatah kata yang membuatnya pingsan.

"Toneri-sensei!"

"Jadi, bisa kau jelaskan semuanya. Aku merasakan energymu dan energy pria berambut putih yang mengenakan seragam petarung berwarna merah itu sama persis. Seperti master dan peliharaannya, atau master dan pembantu." Perempuan yang bernama Tousaka Rin ini Nampak agak enggan menjelaskan apa yang ia ketahui kepada gurunya ini. "Jadi, apa kau mau menjelaskannya? Atau kau perlu diberi sentuhan agar mau buka mulut, heh?" Dengan sedikit menaikkan tekanan killing intens, namun dampaknya begitu besar bagi Tousaka Rin yang belum dalam keadaan prima. Ia sesak nafas, seakan menghirup karbon monoksida, peluh membanjiri seluruh tubuhnya, tubuhnya bergetar ketakutan.

"Jadi, kau mau bicara?"

Tidak ada jawaban dari Rin. Toneri menoleh ke perempuan itu dan mendapati tatapannya mengosong, seakan tenggelam dalam alam bawah sadarnya sendiri.

"Cepat jawab Tousaka Rin!" bentak Toneri tanpa sadar melesat menuju ke Tousaka Rin kemudian menendang perut Rin hingga menabrak dinding di belakangnya. Rin memuntahkan darah segar, nafasnya terputus-putus, pandangannya memburam, tubuhnya mati rasa. Baginya ini merupakan siksaan yang paling menyakitkan. Dia tambah susah bernafas tatkala Toneri mencekik lehernya. Cekikannya sangat keras, sehingga aku sangat susah mencari pasokan oksigen. Aku berusaha melepaskan diri dari keadaan sangat terdesak ini.

"Ar… che…r…se…la…mat…kan…aku…" perintahku dengan bersusah payah mengucapkaan sepatah kalimat perintah. Namun segel perintah tidak beraksi.

"Archer? Pria itu? Hahahah dia tidak akan meresponmu, aku tahu gambar di tanganmu ini adalah segel perintah, bukan? Percuma. Energy sihirmu aku kunci sementara." Ujar Toneri dengan nada santai. Namun berbeda dengan cengkramannya, tambah kuat. Aku melemas karena kekurangan oksigen. Pandanganku tambah kabur.

"Ba…baik…A…ku…menyerah…"

'Maafkan aku Tousaka, sebenarnya aku tidak mau menggunakan cara kasar, tapi semua ini demi melindungi masyarakat yang tinggal di kota Yamato.' Batin Toneri sembari melangkahkan kakinya ke dapur, meninggalkan Tousaka yang tertunduk dalam posisi duduk sembari terbatuk-batuk.

Part 3: Amukan sang kaisar naga merah!

Perjalanan dari kota yamato ke kota Kuoh memakan waktu satu jam. Kini jam menunjukkan jam empat sore. Stasiun kereta api dipenuhi oleh lautan manusia yang berlalu-lalang di sekitar stasiun. Hanabi dan dragon team kini sudah sampai di kota Kuoh. Ketika sampain disana, Ia dan dragon team berjalan dengan santai.

Ketika keluar stasiun, Hanabi merasakan sebuah barier transparan yang menutupi taman dekat , Vali, Natsu, Laxus, Toshiro saling pandang satu sama lain. Mereka berberlima merasakan energy yang menjadi pillar untuk membangun barier ini. Energy suci yang ternodai. Hanya satu ras yang mempunyai energy semaca itu. Malaikat jatuh.

"Malaikat jatuh? Sebaiknya kita periksa dulu keadaan disana, Hanabi—" Sebelum Laxus mengutarakan hal yang dia ingin ucapkan, Hanabi langsung berlari dengan posisi badan sedikit menunduk, lari gaya ninja. Kini Hanabi menggunakan byakugan miliknya. Dia mampu melihat seorang perempuan memegang energy yang berbentuk tombak. Sedangkan, energy pria itu sedikit kacau karena emosinya tidak stabil. Dia juga melihat aura berwarna merah pekat, aura yang menjadi target mereka, Sekiryuutei.

"Juuken!"

Setelah menemukan titik yang menjadi kelemahannya, Hanabi langsung melayangkan teknik andalah clannya. Dampak serangan Hanabi lumayan besar. Lubang tercipta lumayan besar. Melihat itu, Hanabi langsung melesat ke taman itu, sebelum barier ini tertutup lagi.

Dia tanpa lupa mengenakan topeng, karena samar-samar merasakan aura iblis yang bersembunyi di suatu tempat. Ia menyentuh fuinjutsu di jari telunjuk tangan kanannya. Di alirkan chakranya ke fuinjutsu tersebut, terciptalah ledakan kecil yang menyebab akan asap menutupi apa yang terjadi dengan tangan kanannya. Setelah asap itu menghilang, di tangan kanan Hanabi terdapat sembilan kunai, dan satu kunai ia gigit. Ia lemparkan kunai tersebut ke perempuan yang duga sebagai Da-tenshin

"Tidak akan aku biarkan kau membunuh manusia, Da-tenshin sialan!" seru Hanabi menatap tajam sosok itu yang mengalihkan pandangannya ke dirinya. Hanabi terus berlari untuk memotong jarak diantara dirinya dan da-tenshin tersebut.

"Siapa kau manusia jalang?!" serunya dengan nada yang terdengar sangat kesal, geram dan marah. Dia yang awalnya ingin melempar tombak cahaya miliknya ini, diurungkan niatnya itu karena insting bertarungnya membunyikan alarm tanda bahaya. Refleks dia melompat sedikit ke belakang. Delapan kunai yang awalnya melesat ke arahnya, kini hanya mengenai tanah. Ketika ia melihat sosok manusia rendahan itu jaraknya tinggal satu meter lagi, membuatnya panic. Ketika dia ingin melemparkan tombaknya, tiba-tiba sosok manusia itu menghilang.

"Checkmate. Kau berada dalam jangkauanku!"

Kini Hanabi berada di depan Da-tenshin itu, tubuhnya sedikit menunduk. Dia berniat mengincar delapan titik dimana jika titik itu terkena serangan, maka alam kematian menyapanya.

"Hakke Hyaku ni juu hachi shou!"

"Ichi!"

Serangan pertama ia lancarkan ke tangan kanan Da-tenshin itu, dimana ditangan tersebut ia memegang tombak cahaya.

"Ni!"

Serangan kedua ia lancarkan di bahu Da-tenshin itu untuk melumpuhkan tangan kanannya agar tidak menghalangi delapan target yang ia inginkan.

"Yon!"

Serangan ke empat ia arahkan ke dada kiri, tempat jantung berada. Dia hanya membuat da-tenshin ini sangat susah bergerak untuk menghindar, jadinya ia tidak dapat menghindari serangan ini. Hal ini karena tubuhnya tidak-tiba kaku dan mati rasa.

"Hachi!"

Serangan ke delapan ia arahkan dari leher sampai bahu kiri. Ia menyerang leher karena ia malas mendengar suara melodi yang menjijikan yang keluar dari mulut jalang di depannya ini.

"Juuroku!"

Kini serangan ke enam belas ia arahkan ke arteri koroner yang berada di sekitar jantung berada. Ia mengincar arteri koroner guna membuat jantung kekurangan stok oksigen karena pembuluh darah yang dimana bertugas untuk darah beroksigen ke otot jantung mengalami sobek dan hancur. Terlihat dampaknya dengan jelas, perempuan da-tenshin tersebut terbatuk darah.

"San juu ni!"

Serangan kali ini mengarah ke paru-paru saja. Tetapi, karena hanya satu focus serangan tersebut, membuat paru-paru mengalami damage yang sangat besar.

"Roku juu yon!"

Kini target serangannya menghancurkan sendi engsel yang ada diantara tulang lengan atas dan tulang hasta, sendi yang terletak di antara pergelangan bahu dan tulang lengan atas, kemudian sendi yang berada di lutut, kemudian sendi yang berada di antara tulang bagian atas dan belikat.

"Hyaku Ni Juu Hachi!"

Kini targetnya adalah memutuskan pembuluh darah yang mengalir ke organ penting, seperti lambung, otak, ulu hati, ginjal, mata, dan paru-paru. Dampak serangan ini sangatlah fatal, membuat organ-organ penting kekurangan pasokan darah. Bisa membuat makhluk supernasturan sekalipun mati seketika karena organ-organ pentingnya hancur dan tidak berfungsi.

Serangan Hakke Juu ni hachi shou miliknya berbeda dengan milik pengguna teknik yang sama dengan hyuuga lainnya. Perbedaannya terletak pada Juuken dan pengetahuan tentang organ penting manusia. Jika Hyuuga yang lainnya menggunakan teknik ini hanya untuk menutup titik tenketsu, Hanabi menggunakan teknik ini untuk menghancurkan lawannya dengan serangan one hit, dimana ia mengincar organ penting, pembuluh darah penting, sendi, dan titik yang mempunyai persentase keberhasilannya memenangkan pertarungan meninggi. Dia tahu bahwa dirinya tidak sekuat Naruto dan Toneri karena mereka berdua mempunyai banyak jutsu destruktif dan chakra yang melimpah. Dirinya hanya mempunyai chakra yang tidak sebanyak mereka berdua. Jadinya ia mempelajari tentang organ tubuh bagian dalam manusia lalu digabung dengan teknik-teknik clan miliknya

Tubuh kaku tak bernyawa Da-tenshin itu ambruk ke belakang. Raut wajahnya terlihat jelas tersiksa dan kesakitan. Organ dalam perempuan Da-tenshin itu hancur. Hanabi yang melihat tubuh yang merupakan lawannya tersebut tidak peduli, ia menatap sosok pria berambut coklat yang menatap kosong sosok yang ia bunuh. Samar-samar ia mendengar suara lirih penuh ketidakpercayaan tentang fakta bahwa pacar jadi-jadiannya itu berniat membunuhnya. Hanabi mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu berdiri.

"Pemuda-san, kau tidak apa-apa?" Tanya Hanabi dengan nada lembut dan tersenyum tipis. Dengan ragu-ragu Issei menerima uluran sosok yang menyelamatkan hidupnya.

"Etto, Apa yang sebenarnya terjadi, apa itu sacred gear? Kenapa aku diincar oleh Yuuma-chan?" Tanya Issei dengan nada bergetar. Dia masih belum melupakan fakta bahwa ia hampir saja dibunuh oleh sosok pacarnya itu. Ia menatap Hanabi dengan pandangan memohon untuk menjelaskan apa yang ia ketahui.

"Nee, sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu, bisakah kau tunjukkan dimana kedai dango?" Mendengar permintaan sosok yang menyelamatkan dirinya, Issei mengangguk pelan. Kemudian mereka berniat meninggalkan taman, tetapi tidak jadi karena sebuah bola padat yang terbuat dari energy sihir yang dipadatkan melesat menuju Hanabi dan Issei.

Divide

Divide

Divide

Tiba-tiba muncul sosok yang mengenakan armor putih dengan sayap mekanik di belakang Hanabi dan Issei. Perlahan-lahan bola hitam itu menghilang. Pelaku penyerangan Hanabi dan Issei tadi melebarkan matanya. Hanya satu orang yang mempunyai kemampuan Divide, Hakuryuukou.

"Power of destruction? Gremory kah?" gumam Sosok itu dengan nada seperti suara mekanik.

"Percuma kalian sembunyi, aku dari awal sudah tahu kau ada disitu Iblis-chan." Mendengar ucapan sosok disamping Issei itu, seorang perempuan berambut crimson yang mempunyai tubuh yang sangat menggoda bagi kaum adam dan seorang perempuan berambut putih dengan sebuah telinga kelinci dan ekor, menandakan dirinya youkai nekomata. Kemudian, di belakang mereka muncul pria bishounen dengan pedang yang digenggam erat olehnya dan seorang perempuan bersurai hitam yang mengenakan haori putih dengan aksen merah, hakama merah dan sepasang Zori dengan Tabi putih. Mereka semua berada di gedung dekat tempat dirinya akan dieksekusi.

'Rias senpa, Akeno senpai, Bishounen bastard senpai, Koneko senpai.' Batin Issei terkejut melihat senpainya memunculkan diri mereka yang ternyata tidak terlalu jauh dari tempat Issei akan dibunuh. Issei menatap tak percaya bercampur kecewa, jikalau senpai berada tak jauh dari tempat ia akan dieksekusi oleh mantan pacarnya, kenapa mereka tidak menolongnya? Itulah pertanyaan yang ada di dalam benak Issei.

"Siapa kalian sebenarnya?" Tanya sosok berambut crimson dengan nada datar. Dia terlihat sangat kesal dengan kehadiran sosok yang menggangu rencananya untuk memasukkan Issei ke dalam peeragenya. "Apa tujuan kalian datang ke daerah kekuasaan ku?" tanyanya lagi. Walaupun dia takut karena sosok kaisar naga putih berada di pihak sosok di sebelah Issei, namun ia dituntut untuk bersikap tenang karena pemimpin itu harus bisa mengendalikan emosinya.

"Aku? Kalian tidak perlu tahu." Ujar Hanabi dengan nada santai disertai senyuman tipis. Dia membalikkan badannya dan menatap empat orang sosok didepannya. Namun senyuman itu diganti dengan seringai yang menakutkan. "Kalian menyebut kota ini yang merupakan tempat manusia tinggal ini daerah kekuasaan kalian, HAH?! Asal kalian tahu, dunia ini merupakan tempat tinggal manusia, bukan makhluk supernatural seperti kalian!"

Setelah mengucapkan itu, Hanabi meledakkan chakranya, menyebarkan terror bagi sosok iblis di depannya. Aura membunuh yang sangat pekat memenuhi taman yang dilindungi barier ini. Sementara empat orang sosok iblis yang dikenal Issei menunduk sembari menahan nafas. Tubuh mereka terasa berat dan susah digerakkan. Sementara Issei hanya sesak nafas, berterimakasihlah kepada sosok pria berambut pink yang berusaha mengimbangi killing intens milik Hanabi itu. Namun tak lama kemudian aura membunuh Hanabi mereda.

"Mari kita pergi pemuda-san," ujar Hanabi sembari meninggalkan taman, menuju tempat yang mereka ingin kunjungi sebelumnya, kedai dango!

Issei mengangguk pelan, kemudian melayangkan ekspresi kecewa kepada para senpainya. "Aku kecewa pada kalian senpai, kalian memang cocok jadi iblis." Setelah itu, dia berlari mengejar sosok yang menyelamatkan dirinya dan pria berambut pink serta sosok yang mengenakan armor putih.

Kemudian mereka pergi dari taman itu.

Ketika sudah agak jauh dari taman itu. Issei langsung berdiri di depan mereka lalu menundukkan kepalanya 90 derajat. "Terima kasih karena kalian telah menyelamatkanku."

Pria berambut pink langsung menepuk pundak Issei. "Jangan membungkukkan kepalamu, wahai sahabatku." Issei terkejut karena ada yang mau menjadi sahabatnya, tanpa ada maksud tertentu. Kemudian dia tersenyum, "Sahabat ya?" gumamnya dengan nada yang sangat kecil.

"Issei, mau kami antar pulang?" Tanya Hanabi dengan nada watados. Namun terdengar menyindir Issei yang masih belum bisa melindungi diri. Vali, Natsu, Laxus dan Toshiro sweatdrop melihat pemimpinnya yang pertama kali memasang wajah watados. Namun Natsu yang melihat aura suram Issei pun langsung berkata, "Sekalian kami mau menjelaskan semua yang ingin kamu tanyakan. Aku yakin, setelah insiden ini, kamu pasti punya banyak pertanyaan untuk memuaskan rasa penasaranmu, bukan?"

"Begitu, rumahku sebentar la

Issei menghentikan langkahnya. Ia melihat rumahnya dipenuhi para tetangga disekitarnya. Mata Issei membulat, firasatnya sangat buruk setelah melihat itu. Berbagai fikiran negative memenuhi otaknya.

—are? Kok rame di depan rumahku?"

Dengan cepat Issei berlari, menghiraukan teriakan Hanabi, Vali, Natsu dan Toshiro. Dia menghampiri salah satu teman bibinya yang menangis di depan rumahnya. Ia melihat kondisi rumahnya dalam keadaan rusak parah. Dinding rumahnya hancur, terdapat banyak kawah kecil. Dengan nada lirih, ia bertanya, "Bibi Mito… Ke-kenapa…ru-ruma-rumahku seperti ini?" Tubuhnya melemas, ia jatuh terduduk. Tanpa sadar, tetesan cairan bening mengalir deras. Matanya yang tadi bersinar terang, kini menjadi kosong, seakan tidak ada cahaya kehidupan di tatapannya. Perlahan ia berdiri lalu dengan langkah yang seperti orang mabuk, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.

"I-ini pasti hanya mimpi. Aku yakin ini pasti hanya mimpi. Aku hanya harus bangun dan menyambut amarah ibuku karna aku telat."

Dengan langkah lunglai, Issei memasuki rumahnya.

Sementara itu, Natsu melihat Issei yang kacau karena insiden yang terjadi di dalam hidupnya. Dia yang sudah tergoncang jiwanya karena hampir dibunuh oleh mantan pacarnya. Natsu yakin Issei berusaha melupakan insiden yang terjadi di taman tersebut. Sekarang, ia harus menerima kenyataan, rumahnya diserang oleh seseorang. Natsu yang tadi mengikuti Issei, langsung menutup mulutnya. Terkejut, karena melihat halaman rumah Issei. Ia merasa di medan perang. Terdapat banyak rumput yang terbakar, kawah yang berukuran kecil, dinding rumah hancur. Namun anehnya, kerusakan tersebut hanya sampai di pagar rumah Issei. Kerusakan tersebut tidak terjadi di jalan raya. Natsu merasakan jejak-jejak sihir suci di halaman rumah Issei. Ia juga melihat bulu sayap gagak berwarna hitam yang berserekan di halaman rumah Issei. Kemudian, dia berniat memuntahkan isi perutnya yang tadi baru ia isi dengan beberapa tusuk dango. Pemandangan yang mengerikan tak sengaja ia lihat di pojok halaman rumah Issei. Sebuah dinding yang berfungsi menjadi pembatas antara rumah Issei dan rumah di belakangnya.

"Tadaima, Kaa-san, Tou-san." Mendengar nada lirih Issei, membuyarkan lamunan Natsu. Ia melihat Issei melakukan gerakan seperti membuka pintu. Kemudian Ia memasuki rumah itu. Hanabi yang berada di samping Issei menutup mulutnya.

"A-apa yang terjadi?"

Natsu yang daritadi menahan diri agar tidak muntah, kini berlari menuju parit dekat rumah Issei lalu memuntahkan isi perutnya.

Huueekkss

Sementara itu, Vali menghampiri Natsu lalu mengurut punggung Natsu. Sementara Natsu terus memuntahkan isi perutnya.

Toshiro langsung menghampiri Issei yang daritadi berterima Tou-san dan Kaa-san dengan suara yang tinggi namun terdengar lirih di dalam rumah. Dia harus menyadarkan Issei sebelum terlambat yang mengakibatkan mentalnya terganggu. Ketika ia berada melihat Issei dari kejauhan, ia langsung berlari dan menghadang Issei. Dia sedikit terdiam ketika melihat Issei seperti mayat hidup. Dia pun menahan kedua bahu Issei lalu digoncang-goncang kedua bahunya.

"Issei, sadarlah! Semua ini bukanlah mimpi!" Toshiro terus menggoncang tubuh Issei, berharap agar ia sadar. Berharap Issei sadar bahwa semua ini merupakan hal yang nyata, bukan sebuah ilusi ataupun mimpi. Tiba-tiba Issei menepis kedua tangan Toshiro dengan kedua tangannya lalu menendang tubuh kecil Toshiro hingga terlempar ke dinding di belakangnya yang sebenarnya jaraknya lumayan jauh dari Issei. Punggung Toshiro serasa kesetrum ketika menabrak dinding.

"Argh!"

Laxus dan Natsu mendengar suara Toshiro yang berasal dari dalam rumah. Mereka saling pandang, kemudian menggunakan sihirnya untuk membuat seluruh warga yang ada di rumah Issei pingsan dan lupa ingatan tentang apa yang terjadi lalu membuat ingatan palsu.

"Biar aku yang masuk, Natsu. Keadaanmu tidak prima." Ujar Laxus sembari melangkah masuk, namun lengannya ditahan oleh lengan yang berukuran lebih kecil darinya. Ia menoleh ke belakang, tepatnya ke Hanabi yang menangis, yang merupakan pelaku yang menahan tangan Laxus.

"Tolong Laxus… tolong sadarkan Issei bahwa ini semua adalah nyata. Wa-walaupun jujur lebih baik daripada bohong, tetapi… aku tahu betapa sakitnya kehilangan kedua orang tua kita. Kejadian ini mengingatkan diriku dengan kehidupanku sebelumnya, dimana aku tidak berdaya, hanya mampu melihat ayah dan kakakku mati di depan mataku… hiiks tolonglah sadarkan Issei." Ujar Hanabi dengan muka yang menunduk, mengingat insiden di dunianya dulu, dunia Shinobi, dimana seluruh keluarganya, mati di depan matanya. Mengingatnya aja masih terasa sakit. Mengingat itu semua membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.

"Aku ikut Laxus, kata Albion, dia merasakan aura Ddraig meningkat dratis." Ucap Vali dengan suara seperti robot bicara. Dia kini mengenakan armor putih dan terdapat sepasang sayap mekanik biru. Kemudian Vali dan Laxus memandang Natsu. Seolah paham maksud tatapan itu, Natsu mengangguk. Ia pun membuat barier yang menutupi rumah Issei. Ia sadar, dengan turunnya Laxus dan Vali, dengan kata lain turunnya dua anggota Dragon team, membuat suasana sekitar mereka menjadi tingkat S, tingkat yang memungkinkan sebuah Negara hancur oleh serangan satu orang.

Sementara itu di dalam rumah Issei, keadaannya lebih kacau daripada di luar. Seluruh tubuh Issei diselimuti sihir berwarna merah. Di tangan kanannya terdapat gauntlet berwarna merah. "Host Legendary Blue eyes, tolong hentikan Issei. Dia kini dikuasai oleh amarah. Aku tidak mampu menyadarkannya. Kondisi mentalnya down, cepa—

Suara serak khas suara monster memasuki indera pendengaran Toshiro, ia menatap gauntlet yang bersinar. Gauntlet tersebut lama-kelamaan bersinar terang.

Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost

gawat, cepat hentikan bocah mesum ini! Dia akan memasuki Juggernaut Drive!" Suara yang berasal dari Gauntlet itu kini terdengar panic. Tetapi Toshiro mendengar kata Juggernaut Drive melebarkan matanya. Ia mencoba berdiri. Ketika berdiri, dia sempat linglung. Namun mampu menguasai diri tak lama kemudian.

"Aku tidak tahu siapa yang membuat hostku menjadi seperti ini lagi. Setelah sebelumnya, lebih tepatnya kehidupan sebelumnya, ia kehilangan control emosi dirinya karena 'hampir' dan mengaktifkan Juggernaut drive"

Toshiro menaikkan sebelah alisnya, jadi Issei pernah mati dan dia diberi kesempatan kedua oleh kami-sama kepadanya. Ia jadi keingatan sebuah rahasia yang hanya segelintir orang yang tahu, termasuk dirinya yang tahu rahasia itu. Bahwa lebih dari separuh anggota ANBU merupakan anggota pilihan dari dunia lain yang kata mereka dunia mereka hancur secara misterius. Mereka diberi kesempatan kedua oleh kami-sama.

"Hyourinmaru: Kai!" ucap Toshiro dengan nada dingin. Ruangan tempat ia berdiri menurun dratis hingga mencapai suhu minus derajat. Sebuah portal hitam muncul di telapak tangan Toshiro. Perlahan keluarlah sebuah pedang putih polos, namun menebarkan sensasi dingin di sekitarnya, kecuali dirinya karena sudah terbiasa. Kemudian ia tarik paksa pedangnya itu dari portal. Setelah ditarik sepenuhnya, portal tersebut menghilang.

Sebuah mantra keluar dari tubuh Issei, aura yang keluar dari tubuh Issei langsung menggila ketika mantra tersebut diucapkan. Hembusan angin yang sangat dahsyat membuat Toshiro susah mengeliminasi jarak antara dirinya dengan Issei. Dalam sekejap Issei dalam mode Balance Breaker. Tubuhnya dilapisi oleh armor merah yang menutupi tubuhnya. Sepasang sayap juga tumbuh di punggungnya.

"Hyourinmaru: Bankai!" Air dengan volume gila terbentuk dari udara dan mengelilingi tubuh Toshiro. Perlahan-lahan air yang mengelilingi tubuh Toshiro membeku. Menjadikan air yang membeku tersebut menjadi tamengnya. Dengan begitu, ia bisa melangkah mendekati Issei.

Aku adalah seorang yang akan bangkit

Muncul enam Kristal dari tubuh Issei. Kristal itu bersinar terang. Merespon emosi sang pengguna sekarang. Bersinar terang, namun disisi lain terlihat… suram.

"Sudah dimulai, sepertinya akan dimulai." Suara terdengar seperti suara anak kecil. Terdengar suara anak kecil dalam keadaan hati yang senang.

Kedua Naga langit yang telah merampas prinsip dominasi dari Tuhan

"Memang seperti itu, apapun yang akan terjadi." Kini terdengar suara perempuan muda.

"Itu tidak benar, setiap saat memang seperti ini" Kini terdengar suara yang seperti suara… Issei. Laxus dan Vali yang mendengar suara Issei dari Kristal itu terkejut. Bahkan Toshiro yang berusaha mendekat ke arah Issei terkejut dan menghentikan langkahnya. Dia terlempar ke dinding ketika terjadi ledakan energy. Dan gelombangnya membuat dirinya terlempar ke dinding. Membuatnya kembali memuntahkan darah segar. Ia pun melancarkan serangan, sebuah naga es yang tadi mengintari Toshiro, melesat ke arah Issei.

Tekanan energy Issei bahkan bisa dirasakan oleh dua pemimpin dari fraksi Iblis dan Malaikat yang berada di dimensi yang berbeda dengan manusian. Hanya ada satu jawaban dari energy yang menakutkan itu. Kaisar naga merah mengamuk. Kemudian mereka berdua menghilang dan menuju ke tempat asal energy kaisar naga merah berasal. Ketika mereka sampai, ternyata ada seorang pria berambut hitam dengan poni kuning yang berdiri di depan barier tempat Issei berada.

"Azazel, apa yang terjadi?"

"Kaisar naga merah mengamuk, Sirzech." Azazel memandang Sirzech sejenak lalu memandang kondisi rumah yang diduga rumah sang Kaisar naga merah itu dalam kondisi kacau, seperti terjadi pertarungan. Namun Azazel memincingkan matanya melihat sesuatu yang membuatnya curiga. Beberapa bulu sayap gagak berceceran di halaman rumah tersebut. Matanya menatap dengan pandangan melebar ketika melihat seorang pria terbujur kaku dengan sebuah tombak cahaya. Tombak yang jika dilihat oleh orang biasa dianggap tombak biasa. Namun jika dilihat oleh orang tingkat atas, mereka bisa melihat jelas bahwa tombak itu adalah tombak cahaya.

"Tombak ilusi, brengsek kau Kokabiel!" Azazel mengeram marah menyebutkan nama Kokabiel. Pelakunya merupakan bawahan Kokabiel. Dia sebenarnya sudah mengendus gerak-gerik mencurigakan Kokabiel. Namun kini bukti di depan matanya. Delapan tombak cahaya menusuk tubuh tak bernyawa sosok pria yang ia duga merupakan orang tua sosok sang kaisar naga merah. Membuat sosok pria itu tergantung di dinding dengan keadaan yang mengenaskan.

Sementara Sirzech dan Michael diam tak berkomentar. Mereka menatap kasihan Azazel yang nampaknya kesusahan mengatasi masalah internal fraksinya. Ia melihat pria berambut pink berusaha mempertahankan keberadaan barier tersebut. Mereka tahu bahwa pria itu adalah manusia. Namun kondisinya yang tidak bisa dibilang baik, membuat barier yang menurutnya tidak bisa bertahan lama.

"Pemuda, bisa buka portalnya? Kami berniat membantu anda."

Namun ucapan Michael sang archangel diabaikan oleh Natsu. Mereka menyadari tubuh Natsu linglung langsung ambruk. Namun beruntung ditahan oleh perempuan yang berada di dekat Natsu. Matanya sembab membuat para pemimpin fraksi menduga perempuan itu habis menangis. Melihat bariernya melemah, para pemimpin fraksi langsung tanpa halangan berarti.

"Kamu tidak apa-apa nona?"

"Maaf merepotkan paman, tetapi barier ini hanya bisa dipertahankan jika dialiri oleh energy cahaya atau energy naga." Ujar perempuan itu dengan suara lirih. Mendengar itu, membuat Michael dan Azazel bekerja sama mengalirkan energy cahaya mereka ke barier itu hingga menjadi kokoh kembali. Sedetik kemudian, energy sang kaisar naga kembali meledak, namun lebih besar lagi dari sebelumnya. Membuat Sirzech bertanya, "Siapa yang melawan kaisar naga merah?"

"Sang Hakuryuukou, host legendary blue eyes dragon swordman, dan seorang dragon slayer dan juga seorang the king dragon of fanfnir."

Mereka membeku mendengar siapa yang sedang berusaha menjinakkan sang kaisar naga merah. Tiba-tiba Sirzech teringat sesuatu, teringat pesan ayahnya, yang dimana akan ada organisasi yang didalamnya terdapat para naga, entah sacred gear atau penyihir pembunuh naga, maka waktu kemunculan sang pemicu ragnarock tidak lama lagi.

"Baiklah nona, kamu tetap disini. Pulihkan kondisimu, biar aku yang mengecheck keadaan di dalam."

Disaat bersamaan sebelum para pemimpin fraksi berhasil menerobos barier yang dibuat oleh Natsu

Aku tertawa pada "Ketidakbatasan" dan berduka pada "Impian"

"Seorang yang dunia cari." Terdengar suara gadis yang bagaikan melodi yang membuatmu tenang.

"Seorang yang dunia tolak."Kini terdengar suara pria yang terdengar serak dan angkuh.

Aku akan menjadi naga merah dominasi.

"Selalu kekuatan."terdengar suara Issei, namun terdengar sangat lirih.

"Selalu cinta." Terdengar suara anak kecil yang terlihat ceria.

"Kalian memilih kehancuran, tak peduli berapa kali pun" kini terdengar kembali suara pria yang terdengar angkuh dan serak.

Disaat bersamaan armor issei berubah…bentuknya menjadi lebih tajam. Tumbuhnya sayap raksasa. Muncul benda seperti cakar di kaki dan tangan Issei. Helmnya berbentuk seperti… kepala naga.,, Intinya Issei berubah seperti naga.

"Dan aku akan menenggelamkanmu ke dalam pengampunan crimson!" terdengar suara campuran, mulai dari suara Issei, anak kecil, perempuan muda, pria angkuh, suara gadis yang merdu.

JUGGERNAUT DRIVE

Groooooarrgghh!

Sementara itu, Naruto yang berada di kuoh karena khawatir dengan salah satu rekan seperjuangannya. Dia memutuskan untuk menyusul rekannya karena feelingnya buruk. Benar aja, dari kejauhan dia merasakan energy dengan intensitas gila, energy yang sangat ia kenali. Walaupun posisinya jauh, dia merasakan energy itu dengan sangat jelas.

"Sepertinya Sang kaisar naga merah mengamuk."

Sirzech, Michael dan Azazel menoleh ke belakang. Mereka terkejut melihat seorang pemuda bersurai kuning yang mengenakan setelan jas. Dia memegang sebilah katana putih.

"Lucifer, biar timku yang mengurus Sekiryuutei. Kalian tidak akan membayangkan kekuatan Sekiryuutei yang sekarang." Sirzerch menaikkan satu alisnya. Namun seketika waktu seperti berhenti bergerak. Burung yang berada di langit tidak bergerak sama sekali. Membuat Sirzech terkejut.

Forbidden Balor View?

Begitulah isi fikiran para petinggi para pemimpin tiga fraksi. Mereka tidak bisa tidak terkejut karena Sekiryuutei bisa menggunakan kekuatan Forbidden Balor View. Mereka merasakan energy Hakuryuukou dengan intensitas besar. Namun, energy itu perlahan mengecil. Membuat mereka melebarkan matanya. Mereka mengenal salah satu teknik dimana energy serangan lawan berkurang lalu menghilang. Energy yang bertolakbelakang dengan Sekiryuutei. Kini mereka menyadari, bahwa level kekuatan Sekiryuutei masa ini merupakan Sekiryuutei yang paling kuat. Dengan kemampuan Forbidden Ballor view, Pembagi dan melipatgandakan. Mengingat itu membuat mereka berharap sosok Sekiryuutei sekarang bukanlah musuh di masa depan. Ledakan besar terjadi berkali-kali. Sosok berarmor emas dengan percikan petir di sekujur armornya

"Cih. Aku tidak menduga bahwa Sekiryuutei bisa menampung energy yang bertolak belakang. Sepertinya aku harus turun tangan." Naruto menutup matanya. Energy berwarna orange memasuki tubuhnya dengan cepat. Energy itu memasuki tubuh Narut0. Terdapat perubahan warna di sekitar mata. Muncul sepasang sayap besar naga berwarna merah di punggungnya. Setengah kepala Naruto berubah menjadi setengah helm yang berbentuk kepala naga. Mata naga di helm tersebut mengkilat. Setengah dilapisi armor tipis.

"Sword of unindentification!" Di tangan kanan Naruto Nampak memegang sebuah pedang. Namun pedang itu tidak dapat dilihat dengan mata keranjang. Sesuai namanya, pedang tak ter-indentifikasi, pedang tersebut tidak terlihat. Tidak ada yang mengetahui bentuk dan kemampuan pedang itu, kecuali penggunannya tentunya.

Dia menatap sosok naga berwarna merah sedang menyerang habis habisan sosok armor emas, putih dan es. Mereka selalu gagal menyerang Sang kaisar naga merah. Dan sebaliknya, mereka selalu menerima damage besar karena tidak bisa menghindar karena kemampuan Forbidden Ballor View. Mereka tahu jangka waktu forbidden Ballor View hanyalah lima detik. Tetapi dalam pertarungan, tiap detik itu sangatlah berpengaruh menentukan kemenangan.

"Cih tidak ada cara lain. Juggernaut Drive harus dilawan dengan Juggernaut Drive!"

Jangan!

Vali menoleh ke belakang dan melihat sosok leader mereka, Naruto, yang berubah menjadi setengah naga. Dia menaikkan satu alisnya tatkala merasakan aura Ddraig dan Hakuryuukou, serta aura cahaya yang sangat mengerikan yang keluar dari sesuatu yang digenggam oleh Naruto.

Aku lah sang kesatria tanpa wujud

"Kami akan bangkit. Bangkit memusnahkan sang dominator." ujar suara anak kecil yang sangat cempreng. Namun Hanabi mengenal suara itu. Di belakang Naruto terdapat bayang-bayang sosok perempuan kecil yang seperti laki-laki.

'Itu diriku yang masih kecil.' Batin Hanabi terdiam menatap bayangan dirinya sewaktu kecil.

Seorang kesatria sihir pembasmi kegelapan hati

"Itulah tugas kami,sosok tanpa wujud" terdengar suara perempuan yang lagi-lagi Hanabi kenal, sang penerus nama Densetsu no Sannin, perempuan berambut pink, Sakura Haruno.

Menantang sang ketidakbatasan dan berharap pada impian

"Kami akan wujudkan, tentu saja kami bisa mewujudkannya." Terdengar suara perempuan yang sangat merdu. Naruto mengenal suara ini. Di belakangnya, terdapat bayangan sosok perempuan berambut merah yang mengenakan apron biru. Dia memeluk Naruto dan tatapannya melembut. Naruto menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dia sangat rindu dengan ibunya. Ia sangat ingin bertemu ibunya. Tetapi, ia tahu, belum saatnya menemui ibunya di alam sana. Ada yang harus ia kerjakan disini

"Dengan cinta, kasih, dan kebersamaan, kekuatan yang mampu menandingi segalanya." Kini seorang pria yang mengenakan masker dan rambutnya yang berwarna putih itu serasa menantang sang gravitasi. Namun kini pria itu tidak pakai masker. Terlihat senyuman yang seolah mengatakan, 'Aku percaya padamu Naruto.'

Aku lah sang perdamaian

"Hidup tanpa peperangan." Ujar seorang pria yang sangat mirip dengan Naruto. Dia menyentuh pundak Naruto. Jubah Hokage berkibar. Tentu saja pria itu hanya roh atau bayangan semata.

"Hidup tanpa permusuhan." Ujar sosok kakek berusia sekitar delapan puluh tahunan. Dia mengenakan topi khas topi hokage di tempatnya berasal. Dia mengenakan Jubah yang mirip dengan sosok pria di sebelahnya. Dia memegang kepala Naruto dan mengusapnya

"Kalian memilih peperangan, bersiaplah dengan hukuman sang ilahi!" Setelah itu muncullah sosok perempuan yang mengenakan pakaian khas jounin nin. Dia mempunyai fisik yang agak mirip dengan Hanabi. Matanya yang berwarna Lavender menatap Naruto dari belakang. Ia tersenyum lembut. Kemudian sekilas menatap sosok Hanabi di bawah dan diberikan senyuman yang tulus. Dia adalah sosok perempuan hebat yang mendampingi lelaki di depannuya dalam keadaan suka dan duka. Mulutnya bergerak, seperti mengucapkan sesuatu.

'Tetaplah hidup demiku, Anata'

Naruto yang mendengar suara itu, walaupun samar-samar, tak kuasa lagi menahan air mata yang akan tumpah.

"Janganlah menangis naruto, kau adalah lelaki kuat" ujar seorang pria berambut Silver, sang gurunya.

"Selesaikan tugasmu Naruto. Jadilah sosok pemimpin yang bijak." Ujar pria yang sama seperti Naruto. Dialah sang ayah Naruto, sosok yang menjadi panutannya.

"Ganbattebane!" ujar perempuan berambut merah yang sedari tadi memeluk Naruto.

"Selesaikan tugasmu Naruto, buat kami bangga!' Kini perempuan berambut pink yang memberikan semangat kepada Naruto.

"Selesaikan tugasmu Naruto-nii, dan jagalah diriku yang ada disana." Ucap perempuan yang merupakan sosok Hanabi waktu kecil.

Naruto menatap mereka semuanya. Mulai dari perempuan berambut merah aka Kushina, lelaki yang mirip dengannya aka Minato, Pria berambut silver yang menantang gravitasi aka Kakashi, perempuan yang berambut pink aka Sakura, perempuan dengan mata berwarna lavender aka istrinya, Hinata, seorang kakek yang mengenakan jubah seperti Minato, aka Sandaime Hokage atau Hiruzen Sarutobi. Kemudian tiba-tiba sebuah suara yang sangat tidak bisa ia lupakan, dia yang merupakan saudara tanpa ikatan darah, Sasuke yang muncul di depannya dengan mengacungkan kepalan tangannya ke arahnya.

"Dan aku akan menghancurkanmu hingga menyisakan secercah penyesalan yang tiada akhir." Ujar sasuke dengan Nada dingin. Naruto menerima uluran kepalan tangannya. "Seorang Uzumaki Naruto selalu bisa mengalahkan segala rintangan. Bukan begitu, Dobe?"

Forbidden Dragon Knight!

Armor Naruto berubah menjadi lebih tipis. Armor yang menutupi seluruh tangan, Kini hanya menutupi dari telapak tangan sampai siku. Topeng yang hanya menutupi setengah, kini hanya menutupi kedua matanya. Sepasang sayap mekanik berukuran sangat besar tumbuh di punggungnya.

Kini Naruto menghadap sosok-sosok yang berpengaruh di dalam hidupnya, sosok yang membuat dirinya mengerti akan kehidupan. Sosok yang meringankan segala beban yang ia pikul. Sosok yang menemani hidupnya.

"Tetaplah hidup Naruto, dan tetaplah tersenyum."

Kemudian sosok-sosok itu berubah menjadi partikel cahaya berukuran satu bola pimpong. Melayang menuju sesuatu yang Naruto genggam.

"Sang kesatria naga terlarang?" gumam Azazel menaikkan satu alisnya. Dia tidak pernah mendengar nama itu. Kenapa ada kata forbidden di nama tersebut. Begitulah semua pertanyaan yang berada di kepala Azazel. Hal itu membuatnya tertarik. Dia pun memfokuskan kembali mempertahankan barier itu.

Naruto pun menatap sendu temannya yang menghilang dari hadapannya. Kemudian, matanya melirik pedang tanpa wujud tersebut. Pedang yang dialiri berbagai macam perasaan dari temannya. Hingga dia dapat tersenyum kembali. Setelah puas menatap pedang tanpa wujud itu, Naruto melirik Vali, Laxus dan Toshiro yang melawan mereka. Naruto tersenyum dibuatnya. Tanpa pemberitahuan darinya bahwa ia membutuhkan waktu, mereka berinisiatif setelah melihat keadaan. Tanpa strategi, tanpa komunikasi. Hanya bermodalkan ikatan kepercayaan kepada rekan dan juga kepedulian antar sesama, membuat mereka saling melindungi dan bekerja sama. Saling melindungi ketika menerima serangan, saling membantu ketika menyerang. Melihat itu membuatnya teringat kerjasama team 7 untuk terakhir kalinya sebelum kehancuran dunianya.

"Vali, Laxus, Toshiro, mau bekerja sama denganku?" tawar Naruto kepada Vali, Toshiro dan Laxus. Mereka menerima dengan teriakan 'Ya' sembari melesatkan serangan, yang diakhiri oleh hilangnya serangan itu karena teknik Divide. Naruto menilai tubuh Issei sangat kuat, seharusnya Issei tidak mampu menggunakan Divide berkali-kali mengingat itu bukanlah tekniknya.

"Dimension Slash!" teriak Naruto dalam hati. Dia menebaskan pedangnya membentu huruf X di udara. Namun tiba-tiba serangan menggores armor sang kaisar naga merah hingga meninggalkan goresan berbentuk huruf X. Namun serangan itu belumlah cukup karena armor Issei sangat kuat.

Melihat percobaannya berhasil, Naruto membuat kesimpulan, kemampuannya adalah memangkas jarak diantara mereka. Namun kelemahan dari teknik ini adalah Serangan tersebut hanya untuk satu arah. Namun kesimpulan pertama harus dia buang jauh-jauh karena dia bisa bergerak lebih cepat 10 detik dari seharusnya. Namun teknik ini mudah terbaca karena gelombang kejut yang membuat musuh tau dimana posisimu dengan memanfaatkan gelombang kejut tersebut. Setiap naruto bergerak, meninggalkan after Image. Bola sebesar bola sepak selalu menghampiri dirinya. Namun, ia yang lebih cepat karena teknik ini, membuatnya bisa menghindar 10 kali lebih cepat. Dia yang membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk sampai di depan Issei, kini hanya membutuhkan waktu enam detik. Naruto menendang Issei ke atas. Di atas sana, sosok armor berwarna keemasan sedang dalam posisi untuk siap melakukan serangan. Petir berintensitas tinggi menari di armor sosok itu. Dia menarik nafas panjang, lalu seraya berteriak dalam hati, ia mengeluarkan salah satu sihir yang ia kuasai.

"Rairyuu no Houko!"

Laxus menghembuskan angin tornado dengan petir-petir yang menari di dalamnya dengan target. Tornado itu mengenai sosok kaisar naga merah. Sosok itu berteriak kesakitan menerima serangan itu. Pada dasarnya serangan Laxus adalah serangan yang dapat membunuh naga. Dampaknya sangat besar ketika serangan itu mengenai naga.

Rebound!

Divide Divide Divide

Setelah Divide tiga kali, tornado itu menghilang. Terlihat sosok kaisar naga merah terluka parah. Armornya rusak parah, hingga tubuh Issei terlihat gosong dan terdapat banyak sayatan. Vali langsung melesat menuju Issei lalu melayangkan pukulan yang keras. Setelah berhasil melayangkan pukulan tersebut, disaat bersamaan, Vali langsung menggunakan teknik andalannya.

Divide Divide Divide Divide

Sosok Issei melesat jatuh ke tanah. Hingga sebuah ledakan kecil terjadi ketika mendarat di tanah. Kepulan asap menutupi pandangan mereka. Naruto yang melihat itu tidak melewatkan kesempatannya untuk menyerang. Besi terbentuk di tangannya. Kemudian dia melesat menuju asap itu. Hanya butuh satu detik baik Naruto untuk sampai di asap itu. Ia melihat Issei yang terkapar. Armor naganya mulai beregenerasi kembali. Kemudian dia menancapkan besi hitam itu di tangan kanan Issei. Kemudian, ia membentuk besi tersebut di tangannya, seperti besi itu terbuat dari ketiadaan. Kemudian ia tancapkan besi itu di tangan kiri Issei. Lalu dia ciptakan besi itu lagi lalu ditancapkan besi itu di kaki kanan Issei. Dan ia ciptakan besi untuk terakhir kalinya lalu ditancapkan besi itu di kaki kiri Issei.

Setelah Issei ia buat tidak bergerak lagi, Naruto langsung menusukkan sesuatu yang tak berwujud itu ke tubuh Issei. Namun, sesuatu yang tak berwujud itu hanya menembus badan Issei. Naruto Nampak melafalkan mantra, terlihat bibirnya bergerak dengan cepat. Sebuah aksara misterius muncul mengintari sesuatu yang tak berwujud tersebut. Aksara itu memasuki tubuh Issei dengan sesuatu yang tak berwujud itu menjadi media aksara itu menyebar di lima titik. Kepala, kaki kiri, kaki kanan, tangan kiri dan tangan kanan.

"Fuin!" Setelah mengucapkan itu, Issei berteriak keras. Tubuhnya berkeringat banyak. Nada teriakannya itu sangat lirih.

Keesokan Harinya.

Naruto menyuruh tim Dragon membawa Issei yang pingsan ke salah satu markas mereka. Namun bagi Valid an yang lainnya, tempat itu tidak cocok disebut markas, tapi Vila. Bagaimana tidak, rumah tersebut sangat besar, mempunyai halaman yang luas. Kemudian di depan vila tersebut terdapat satu mobil panjang yang dinamakan Limosin berwarna putih. Banyak tanah kosong disekitar Villa. Sedangkan di belakang Villa terdapat kebun yang terdiri aneka tanaman sayuran. Hanabi dan tim Dragon dibuat menganga karena tempat yang sangat waw ini merupakan markas sementara ANBU yang menjalani misi di daerah Kuoh.

Kemudian Laxus yang membawa tubuh Issei pun bergegas masuk dan merebahkan tubuh Issei di salah satu kamar di Villa itu. Kamar yang memiliki ukuran 4x4 meter, dengan isi satu buah meja makan yang terletak di sisi barat kamar, satu set lemari beserta isinya yang merupakan pakaian beraneka ragam ukuran. Serta satu set lemari khusus senjata mereka. Satu set sofa yang terletak di sebelah lemari tersebut. Lampu dengan model peradabah eropa tergantung di tengah-tengah kamar. Setelah menaruh tubuh Issei di kasur, Laxus langsung meninggalkan ruangan Issei.

Setelah Laxus keluar dari kamar Issei, tiba-tiba Issei ngigau, "Okaa-sama, Otou-sama, jangan tinggalkan aku, tolong jangan tinggalkan aku!"

Di perut Issei muncul sebuah lambang pentagram dengan bintang-bintang kecil yang mengelilingi pentagram tersebut. Lama-kelamaan pentagram tersebut menghilang.

Rias-senpai!

Akeno-senpai!

Koneko-chan!

Kiba-senpai!

Teriak Issei setengah ngigau. Ekspresi wajahnya seperti orang ketakutan, takut akan kehilangan sosok yang berharga baginya. Dia sangat gelisah, takut, sedih, kehilangan. Tanpa sadar, ia meledakkan energy miliknya hingga membuat tim dragon, para pemimpin tiga fraksi dan Hanabi terkejut merasakan energy yang tiba-tiba melonjak. Tatapan mata Hanabi menjadi sendu dan khawatir. Dia yang merupakan sensirik yang paling sensitive daripada orang-orang yang ada di sini, walaupun Naruto yang paling ahli dalam membaca mimic wajah dan perasaan orang lain.

Sementara itu, ketiga pemimpin fraksi menatap Naruto dengan pandangan berbeda-beda. Sirzech dengan pandangan menyelidik, Azazel dengan tatapan tajam, sedangkan Michael hanya tersenyum.

"Siapa kau sebenarnya, Naruto?"

Dengan wajah polos dan tersenyum tipis, Naruto menjawab, atau bisa disebut bertanya balik, "Apakah kalian yakin ingin mengetahui jati diriku sebenarnya?"

Mereka tidak bisa membaca ekspresi Naruto karena tertutup topeng. Namun dari gerakan tubuhnya, mereka mengetahui bahwa pemuda di depannya itu tetap santai. Mereka menerka-nerka sosok manusia di hadapan mereka. Mereka mengangguk dan memasang ekspresi serius. Naruto menarik nafas panjang, kemudian dia berucap dengan nada polos yang membuat ketiga pemimpin itu terjungkal dengan tidak elit.

"Aku adalah… Manusia?"

TBC

Word: lebih dari 8000

Next Update: Maybe 7 days later.

Yo minna, semoga kalian puas dengan cerita ini. Yang bertanya atau req, liat aja nanti, apa terwujud, dan apa jawabannya memuaskan dahaga kalian.

Untuk beberapa pertanyaan sudah terjawab di chapter ini. Untuk request tentang siapa Aliansi dengan ANBU, kita liat aja ke depannya.

Dan terakhir

Selamat hari raya Idul Fitri.(telat :v )