Waktu Yoongi melamar Jimin saat libur akhir tahun ajaran, semua orang terkejut. Para orang tua dari keluarga Yoongi pikir anak itu hanya akan menikahi pekerjaan atau kasurnya saja dan bukannya menikahi omega semanis Jimin. Jimin memang terlalu manis, terlalu baik, nyaris terlalu baik untuk Yoongi.
Sepupu jauh Yoongi, anak anak keluarga Lee, semuanya tidak ada yang percaya. Jihoon memang diam saja, tapi wajah Seokmin terbaca sekali tidak percaya-nya, untungnya Lee Chan biasa biasa saja. Yang paling muda di kawanan itu malah senang bertemu Jimin, ada sesuatu yang cocok dalam diri mereka, mungkin soal tari. Geumjo Noona, sebagai sesama omega, menyukai Jimin, Hyunjoo Noona juga tidak bicara apa apa, tapi Hyemin, Lee Erin, yang tingginya sepantar Jimin, memegang bahunya. Yoongi sudah bisa menebak akan ada sebuah kekacauan karena mulut sepupunya yang suka kelewat sialan itu, apalagi dengan Erin Noona yang menatap dalam dalam mata Jimin, membuat Jimin agak menciut karena bingung.
Wanita itu bilang, "Jimin-goon, masih ada banyak waktu untukmu berpikir. Jangan mau menghabiskan hidupmu dengan Yoong sebagai budaknya, kau terlalu baik untuk itu."
Yoongi tidak mau memikirkan omongan Erin Noona, terutama saat Jihoon menunjukan hasil kerjanya. Yoongi memikirkan bagaimana kalau Jihoon bertemu Chanyeol, atau mereka gabung dengan Jiho Seonbae dan Namjoon. Jihoon punya potensi yang besar dalam bermusik dan Yoongi merasa dia sedang membesarkan anak, memikirkan masa depan Jihoon lebih detail dari yang Jihoon mungkin bisa pikirkan.
Tapi dia masih menangkap jawaban Jimin, "Tidak apa apa, Noona, aku yang menginginkannya."
"Tapi Yoong itu, kau sendiri tahu Yoong kan? Dia itu tidak baik. Dia kasar, agak semaunya sendiri, dan pemalas."
"Aku ta-"
Yoongi tidak menangkap jawaban Jimin setelahnya, tapi kata kata Erin Noona membuatnya berpikir mungkin kesan dingin dan tidak bersahabat-nya yang menyulitkannya menghadapi keluarga Park. Kata Jimin mereka seperti bunga dan Yoongi menemui mereka saat mereka masih berupa kuncup, tapi nanti setelah mereka mekar pada Yoongi, Yoongi akan tahu bagaimana keluarga Park yang sebenarnya.
Sebenernya Yoongi sudah paham soal hal itu, soal Park yang senang menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya. Dia kenal Park Chanyeol sudah cukup lama dan sudah cukup dekat untuk saling menghujat.
"Kau!" Waktu itu Chanyeol marah karena Yoongi menggunakan cara primitif untuk meminta Jimin. Yoongi menandai Jimin dulu dan bukannya meminta dengan cara yang lebih menggunakan akal dari pada insting serigala, "Dasar primitif!"
Dan Yoongi tahu ini bukan saat yang tepat untuk main hujat-hujatan dengan Chanyeol Hyung-nya, "Setidaknya aku tidak sepertimu. Aku tahu pasti apa yang ingin, bisa, dan akan aku lakukan."
XXX
Studi tentang Serigala
Chapter 14: Angin Berbau Mawar
Cast: Parks+Min: Yoongi, Siyeon
Rating: T
Genre: Family/Romance
Warning: Part 1 of Yoon&Yeol Twoshoot, Ini bukan seri yang fokus, ini lebih seperti oneshoot collection antara tokoh yang itu itu saja di AU yang sama, OOC, OOC, OOC, ampuni semua yang OOC, maafkan aku, A/B/O, Wolf!AU, Alpha!Yoongi, Beta!Siyeon, Omega!Jimin.
Tolong jangan pernah berharap fic ini akan jadi romance super romantis (judulnya saja 'Studi tentang Serigala' bukan 'Percintaan antar Serigala').
XXX
Mungkin kalimat Yoongi itu membuat Park Siyeon merasa Min Yoongi sedang menantang kawanannya dan bukannya ingin berteman dengan mereka. Tapi pikiran itu datang hanya karena Siyeon tidak mengerti hubungan baik berhias hujat antara Yoongi dan Chanyeol. Chanyeol sudah menjelaskannya pada Siyeon kalau Yoongi tidak bermaksud buruk, tapi gadis itu tetaplah seperti itu.
Erin dan mulutnya yang sialan itu benar Yoongi memang tidak baik dan kesan tidak bersahabatnya ternyata memang menyusahkannya dalam menghadapi keluarga Park.
Park yang paling tua, yang Yoongi kira namanya benaran Bap, Park Minha. Terlihat tenang, manis, tapi jahil, untuk Yoongi sekilas dia mirip dengan Kim Seokjin, tapi Yoongi dengan cepat mempelajari kalau mereka adalah orang yang berbeda, atau mungkin sebenarnya mereka sangat mirip, entahlah.
Gadis itu menyeruput teh bunganya lagi. Ada banyak bau bunga di rumah ini, bau yang menenangkan, bau yang menyegarkan, dan Jimin membawa bau khas ini kemana mana, ke kamar Yoongi, ke bantal dan kasurnya.
"Min Yoongi, ya?"
"Iya."
Minha menatapnya langsung di mata, itu berani sekali untuk seorang beta. Ya, serigala dari keluarga Park memang pemberani, Siyeon saja berani memberi Yoongi tatapan tidak bersahabat.
"Temannya Chanyeol kan?"
"Iya."
Dan Minha memperhatikannya dari atas sampai bawah, mungkin seperti mengenalnya, mungkin juga sedang menilai apakah Yoongi pantas untuk Jimin.
"Aku pernah melihatmu di sekolah Jimin."
"Aku guru olahraga SMA dan pelatih basket SMP dan SMA."
"Oh. Begitu." Minha tersenyum, dia terlihat santai dengan Yoongi, tidak seperti Siyeon. Yoongi pikir hubungannya dengan wanita yang lebih tua cenderung tidak berkesan dan hubungannya dengan gadis gadis kecil amat sangat buruk.
Makanya Yoongi tidak menjawab terlalu serius waktu Jimin tiba tiba meneleponnya di musim kawin terakhirnya di rumahnya sendiri,
"Hyung..." suara Jimin berat dan tertahan.
"Jimin." Dan Yoongi bisa mendengarnya tercekat, menahan, suara Yoongi yang sesingkat itu saja sudah sangat berpengaruh padanya.
"Jiminnie." Panggil Yoongi lagi.
"Y-ya."
"Tahun depan kau akan di sini, di kamarku, bersamaku."
"Aku ingin cepat-" Jimin tercekat, "-tahun depan."
"Sabar, Jiminnie."
"Aku ingin anak perempuan, Hyung." Jimin tertawa, "Kau pernah membayangkannya? Kita dan seorang gadis kecil?"
Jimin meracau, Yoongi yakin. Atau mungkin dia ingin Yoongi bicara sesuatu yang lebih menjurus daripada hanya membuatnya frustasi dengan memanggil namanya.
"Kau tahu cara membuatnya?"
Jimin tercekat, lagi lagi, dan napasnya tidak beraturan, "Ajari aku, Alpha."
Tapi dari situ Yoongi berpikir, ini keputusan final; Dia harus bersikap lebih baik pada anak perempuan.
Terutama pada Kim Jiho, beta dari kelas 9-B yang pasti meneruskan ke SMA, itu berarti mereka akan bertemu setidaknya seminggu sekali.
Tapi pertama, dia harus berbaik baik dulu pada Siyeon.
Waktu Yoongi muncul di pekarangan rumah Jimin sehari setelah Jimin bilang heat-nya sudah selesai, dia masih bisa merasakan bau bau yang mengundang dari Jimin yang jadi lebih manis lagi. Biasanya dalam bau Jimin ada bau yang mirip seperti apa yang Hyorin Noona bilang bau matahari, tapi kali ini tidak, baunya benar benar seperti bau bunga. Dan Yoongi nyaris membuat bibirnya berdarah karena dia menggigitnya terlalu keras. Dia ingin merasakan Jimin tapi dia belum boleh melakukannya, dia harus menunggu sampai Jimin selesai SMA.
Lalu membawanya ke rumahnya dan melakukan semua hal yang ada di kepalanya.
Dan Yoongi mencium bau mawar, baunya memenuhi indera penciuman Yoongi. Pasca-heat, beta perempuan, Park Siyeon.
Yoongi yang duduk duduk di teras rumah melihat Siyeon mengintip dari jendela. Yoongi memang tidak berencana mengetuk pintu dan lebih memilih mengirim pesan pada Jimin yang dibalas Jimin dengan 'tunggu sebentar sayang. Aku di kamar mandi'. Tapi Siyeon saat ini sudah memergokinya.
Rambutnya yang hitam dan tebal jatuh di bahunya dengan cantik, matanya yang cokelat terlihat menyala ketika ditimpa sinar matahari, itu mata serigala tapi Yoongi tidak merasa ditantang, dan bibirnya merah. Ada yang bilang serigala paling cantik ketika selesai heat dan Yoongi akhirnya mengerti kenapa ada anggapan seperti itu. Siyeon saja terlihat secantik ini, Jimin akan terlihat seperti apa? Seperti malaikat?
Siyeon sepertinya tidak berencana membukakan pintu untuk Yoongi dan mereka cuma berpandangan, dibatasi kaca jendela. Di kaca jendela, Yoongi bisa melihat matanya berwarna abu dan dia berkedip, berusaha mengubah matanya ke warna biasa dan mengabaikan dorongan serigalanya. Siyeon menatapnya dengan menyelidik bukan dengan ketidaksukaan seperti waktu itu, Yoongi menyimpulkan gadis itu tidak masalah kalau Yoongi menunjukan sisi serigalanya.
Kemudian Siyeon membuka jendela, campuran bau pasca-heat dari Siyeon dan Jimin sedikit membuat pikiran Yoongi tidak jernih. Tapi Siyeon langsung bicara, "Aku tidak berniat membukakan pintu untukmu, Tuan Min."
Omong omong, kalimat itu bisa diartikan sebagai, 'Aku tidak memberi restuku, Tuan Min'.
Yoongi diam. Kalau dia tidak ingat gadis kecil ini adalah calon iparnya dia pasti sudah meledak dan melakukan cara primitif lain untuk mengambil Jimin-nya. Dan membuat Park Chanyeol akan menghajarnya.
Jadi Yoongi berusaha tidak meledak dan memaksa dirinya untuk berpikir kalau Siyeon bukannya tidak merestui, tapi belum merestui.
"Tidak apa apa." Karena kalau pun Siyeon belum menerimanya, Yoongi akan terus mendekatinya, mengikuti temponya, sampai dia merestui, "Aku akan menunggu Jimin."
"Jimin Oppa tidak akan ke sini." Kata Siyeon. Dia memandang Yoongi dengan tatapan biasa, santai seperti Minha waktu itu, tapi Siyeon masih terlihat ingin menilai Yoongi.
Yoongi mencoba membicarakan hal yang lain, "Kau tahu, aku sudah lama mengenal Chanyeol Hyung."
"Aku tahu. Aku juga tahu kalau kau senior Jimin Oppa." Kata Siyeon, "Aku suka lirikmu, Chanyeol Oppa suka bercerita tentangmu, tentang rap-mu, dan tentang seberapa cepat kau bisa menulis lagu. Ditambah akhir akhir ini Jimin Oppa juga sering bercerita tentangmu. Yoongi Oppa,"
Yoongi nyaris terkejut waktu Siyeon memanggilnya oppa.
"Aku bukannya tidak menyukaimu, tapi mendengarmu mengatakan suatu yang tidak menyenangkan soal kakakku membuatku kesal. Semua orang di rumah ini menyukaimu dan aku pikir aku juga harusnya menyukaimu."
Yoongi langsung berpikir kalau saja tadi dia meledak Siyeon pasti tidak akan pernah merestuinya selamanya.
Yoongi tersenyum, dia melakukannya untuk memberi kesan bersahabat pada Siyeon yang terlihat terkejut dan kemudian balas tersenyum.
"Terimakasih." Kata Yoongi.
"Untuk?" tanya Siyeon.
"Hm, karena tidak membenciku."
Siyeon tersenyum dengan cantik lagi, "Sebenarnya senyummu manis, Oppa. Kalau kau tersenyum seperti itu terus, lama lama kau bisa populer loh."
"Tidak, aku lebih baik menyimpannya untuk Jimin saja."
Yoongi ingat, dia baru menyadarinya, dia tidak tersenyum pada Siyeon waktu pertama kali mereka bertemu. Dan sepertinya benar, Yoongi memang harus mulai bersikap lebih manis pada anak perempuan.
Apalagi Jimin bilang dia ingin anak perempuan dan jangan sampai Yoongi membuat Min kecil itu membenci ayahnya sendiri.
Dan terutama pada Kim Jiho. Saat ini dia ada di kelas 11-B-1. Yoongi setuju gadis itu cantik sekali, rambut hitamnya lurus dan panjang, terlihat tebal sekali. Ada yang bilang perempuan dari keluarga Kim itu sangat cantik dan Yoongi memang setuju, apalagi setelah melihat Jiho dan Minkyung.
Tapi Kim Jiho benar benar tidak mau melepas sepatu flatnya yang cantik. Yoongi harus ingat untuk tidak mengenalkan sepatu sialan itu pada anak perempuannya nanti. Siyeon sendiri bilang flatshoes itu cuma akan menyakiti kaki karena solnya terlalu tipis dan apa dan apa yang Yoongi tidak terlalu peduli.
"Kim Jiho."
Jiho terlihat panik dan Yoongi melihat sepatunya.
Untung Yoongi ingat untuk jadi lebih baik pada anak perempuan.
"Potong nilai sepuluh."
"Apa!?"
Sebenarnya Yoongi tidak ingin jadi baik baik amat pada Jiho yang malas sekali mengikuti pelajarannya. Gadis itu belum berubah juga dari SMP.
"Melawan, duapuluh."
"Ta-tapi!"
"Kuberi kau waktu tiga menit untuk pinjam sepatu, kalau tidak keluar dari kelasku."
Ya, dengan begini Yoongi berpikir dia sudah agak baik, tapi tidak baik baik amat.
XXX
XXX
XXX
Note(-1): Silahkan marahi aku kalau Yoongi-nya OOC, aku tidak terlalu mengenal BTS tapi itu bukan berarti aku tidak suka mereka. Tolong marahi aku dan ajari aku soal bagaimana seharusnya Min Yoongi yang tidak OOC itu supaya di fanfic depan kalau aku memakai Yoongi lagi aku bisa mengurangi kadar OOC-nya.
Note(0): Chapter depan juga masih akan membahas seruan 'dasar primitif!' yang sama. Jadi seperti satu kejadian yang sama tapi punya efek berbeda antara Chanyeol dan calon adik iparnya, Yoongi.
Note(1): Kita mulai tahun ajaran baru! (= season baru?) Jimin kelas 3, Wonwoo kelas 2, Mingyu kelas 1. Yoongi mulai jadi guru OR SMA untuk kelas A dan B, dia tidak mengajar Jimin. Sayang sekali...
Note(2): Aku sengaja membuat Erin memanggil Yoongi dengan Yoong (Yung), Yoongi (Yung-I) dan bukannya Yoongi (Yun-Gi).
Note(3): Karena sepupu Yoongi di keluarga Min itu sedikit dan umurnya jauh jauh sekali darinya, dia suka dititipkan ke keluarga Lee. Dia itu sepupunya Jihoon dan sepupu Jihoon yang lain juga menganggap Yoongi adalah sepupu mereka.
Note(4): Kim Jiho itu haters Yoongi dari chapter EXTRA. Dia masih sakit hati karena flatnya dirusak Yoongi, tapi... Min Yoongi itu kalau perhatian sedikit saja bisa jadi manis kok, kata Jung Eunbi, sepupu Jung Hoseok (dan pacar Kwon Soonyoung) dan karena Hoseok berteman dengan Yoongi maka mereka saling kenal.
Note(5): Bangtan disini itu geng, Tae dan dua sepupunya (Nam&Jin) yang suka mampir (untuk bertemu Yoongi) waktu latihan basket, Namjoon yang memang teman Yoongi, Jimin yang teman Taehyung, dan Jungkook yang (tetangga Yoongi) didikan Min, ingat dia bilang dia alpha didikan Min, dan serigala Min itu mudah terbakar, cuma aku tidak memunculkan Hoseok saja.
Note(6): Kemarin waktu aku pergi ke toko permen dengan teman A.R.M.Y-ku, aku bilang, "Jadi inget Tae." Terus hello-hello, hello-hello, tell me what you want right now terus pegawai di sana ada yang ketawa, tahunya dia juga A.R.M.Y. Kupikir wajar kalau aku tahu BTS (terlalu tahu, paham innerjokes, atau yang begitu begitu) disekitarku banyak A.R.M.Y. aku sampai takut kalau tiba tiba ada sesuatu yang membuat teman teman A.R.M.Y. –ku tidak lagi jadi A.R.M.Y., aku bukan anak yang terlalu setia dengan fandom, aku lompat kemana mana dan kalau aku pikir seru aku akan tetap di sana, tapi aku tetap tidak mau ada kejadian dimana aku membuka pembicaraan dengan, "Eh, BTS begini begini loh." Dan dijawab, "Maafkan, aku udah bukan A.R.M.Y lagi, sekarang aku XXX." Kan jadinya nggak enak...
Note(7): Dan akhirnya aku ketemu lagi sama temen SMP-ku yang mirip Jimin, eyesmile-nya! Sama pipinya! Pantes waktu dulu aku lihat Chim rasanya kayak kenal banget sama mukanya.
Note(8): Aku lebih suka Chim dan Wonu tanpa make up, eyeliner mereka malah bikin aku males~ Iya, Chim, tanpa eyeliner, aku mau Chim yang manis dengan atau tanpa hip-hop.
