"Aku bersedia memberikanmu apa saja agar kau percaya padaku."
"Benarkah? Kalau begitu—berikan kedua matamu."
:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:
NUN
:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:
Pair : MinMin (Shim Changmin DBSK x Lee Sungmin 'Super Junior')
Rate : T
Summary : Kekonyolan-demi kekonyolan yang terjadi dalam kehidupan Changmin, akankah membantunya ketika bertemu dengan seorang yeoja cantik. Lee Sungmin
Warning :Gender Switch (GS), typo(s), etc
Don't like don't read
No bash
:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:
:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:
.
...
CHAPTER 1
...
Before meeting...
"Aku masih tidak mengerti kenapa orang mengatakan senyuman Monalisa itu penuh dengan misteri dan membuat bulu kuduk setiap orang berdiri." Changmin memandang modul kuliahnya dengan tatapan memelas. Di sana, di antara rentetan tulisan-tulisan berbahasa asing, sebuah gambar lukisan paling fenomenal milik Leonardo Da Vinci terpampang. Membuat seorang pemuda membuat ekspresi begitu sedih di wajah tirusnya. "Haaahhh~ jika dibandingkan dengan wajah ibuku, dia tidak ada apa-apanya." Kemudian menggeleng pelan.
Seseorang yang sedari tadi berada di sampingnya hanya memandang dengan tatapan tak lebih baik, benar-benar sedih. Pasalnya sudah setengah jam Changmin 'meratapi' bukunya. Namun yang keluar dari mulut besar tersebut hanya kalimat tidak berguna.
Ryeowook mengunci pandangan pada pria gila di sebelahnya. Matanya menyiratkan sebuah raungan seperti 'Kau gila?! Bagaimana bisa membandingkan senyum ibumu yang menakutkan itu dengan Monalisa?!' Begitu intens.
"Wae? Kau tahu ibuku, kan?" Changmin menyadari dirinya yang ditatap aneh. Matanya menyipit, sambil wajahnya didekatkan pada teman belajarnya saat itu, berusaha menunjukkan raut keseriusan, namun lebih terlihat seperti ekspresi seseorang yang sedang diare. "Senyumnya itu... kau tahu? Aku dan ayah seperti seperti sedang dalam bahaya. Begitu banyak kejutan di balik senyuman itu." Changmin mengucapkannya sambil berbisik untuk menambah kesan 'horor' dengan pernyataanya tadi.
Ryeowook diam. Ia sedikit menjauh saat dirasakan wajah Changmin hampir menempel di wajahnya.
Mengerjap...
"Shim Changmin," panggilnya.
"Hmm?"
"Ibumu tidak tersenyum. Dia—menyeringai."
"Huh?" Changmin seperti tersadar. Ia terlihat berpikir.
Pemuda itu langsung menghela napas. "Kau benar~ selama ini yang bersikeras ibuku suka tersenyum adalah dirinya sendiri." ujarnya samabil mengagguk lemah.
"Aaaahhhh!" Changmin tiba-tiba berteriak. "Aku sudah tidak tahan. Apa-apaan profesor itu?! 'Selami matanya hingga titik terdalam, kalian akan menemukan rahasia itu.' Sudah kulakukan. Tapi aku justru merasa ingin mimisan sedari tadi. Memangnya apa yang bisa dilihat dari matanya?!" Telunjuknya menghentak-hentak keras tepat di atas gambar lukisan yang sedari tadi menjadi sumber masalah bagi akal sehat Changmin untuk bekerja.
Ryeowook, pemuda mungil di sebelahnya hanya merubah wajahnya menjadi terkejut. Walaupun sudah biasa temannya bertingkah seperti pengidap epilepsi seperti ini, tetap saja ia tak bisa setiap saat wasapada. Seperti saat ini. Ryeowook hampir terjungkal karena teriakan Changmin.
"Kim Ryeowook, apa kau tidak berpikir hal yang aneh dari lukisan perempuan ini?" 'Dia mulai lagi' Ryeowook merutuk dalam hati.
"Aneh apanya?" Kini ia sedikit menggeser tubuhnya ke belakang. Wasapada.
"Matanya~"
"Kau bilang tak lihat apa-apa dari matanya."
"Justru itu. Apa kau tidak berpikir bahwa matanya tidak memandang siapapun?"
Ryeowook menggeleng. Ia masih berusaha 'bergerilya' untuk membuat jarak yang lebih besar antara dirinya dan Changmin.
"Aku rasa—Lisa Ahjumma ini buta."
"Hah?" Ryeowook seperti ingin bunuh diri. Ia bersumpah besok akan pagi-pagi sekali ke kampus dan bertemu dengan dosen mereka untuk meminta bertukar partner dalam penyelesaian tugas kuliahnya.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
"Kau tidak bisa mengelak lagi. Taruhan akan terus berjalan. Jika kau tidak mendapatkan wanita yang lebih tua darimu, motor itu—" Junsu melirik tajam pada sebuah hypermotard merah mentereng di tempat parkir. "—akan jadi milikku." lanjutnya lagi dengan senyuman teramat manis. Changmin bersumpah ia sangat membenci childish smile milik seniornya itu. 'Benar-benar tidak sadar umur!' rutuknya dalam hati.
"Semalam itu aku kan sedang mabuk, hyung. Jadi tidak bisa dihitung." ujarnya memelas.
"Mabuk apanya? Kau bahkan masih bisa ke kamar mandi tanpa terjatuh. Salahkan saja mulut besarmu itu. Aku sudah merekamnya. Changmin-ah~ langit akan menghukum setiap laki-laki yang tidak bisa memegang ucapannya." Junsu berlagak kolosal, senyuman itu pun tidak tertinggal. Membuat Changmin ingin menelan bulat-bulat kepiting rebus terbesar di dunia ini.
Ia melirik Yunho yang sedari tadi sibuk memainkan helaian rambut kekasihnya. "Hyung~" meminta pertolongan. Pria bertubuh kekar itu pun menghentikan kegiatannya, ia mencondongkan tubuh dan sedikit mengikis jarak dengan Changmin.
Merasa dikhianati. Yunho justru menarik tangannya dan membentuk sebuah kepalan kuat. "Fighting~" ucapnya dengan nada yang—dibuat—sungguh-sungguh. Lengkap dengan wajah kelewat serius.
Masih sedikit mengais pertolongan terakhir, "Jae noona~"
Namun malang, wanita itu kemudian hanya mengusap kepala Changmin sembari berujar, "Kau pasti menemukan wanita yang baik~"
'Habislah kau, Shim Changmin!'
"Kalau begitu, selamat berjuang, saudaraku! Kami pergi~" Junsu mengalungkan tas selempangnya dan kemudian pergi. Dan sepasang kekasih yang tadi juga bersamanya pun mengikuti jejak teman mereka.
Changmin berharap soda yang tengah ia tenggak adalah sebuah hidrokarbon alifatik yang akan langsung membuatnya kejang dan tewas di tempat. Tapi tentunya tidak sungguhan, karena dengan begitu Junsu akan lebih mudah mewarisi motor kesayangannya itu. Jadi sesaat ia lega karena minuman itu tak menimbulkan efek apapun selain geli di perutnya. Ia kemudian bersendawa. Euugh~
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
The meeting...
"Namaku—Lee Sungmin."
Changmin terdiam dengan tatapan-kepada-angin wanita itu. Sungmin jelas tak memandang wajahnya ketika bicara. Gadis itu bahkan memang tidak memandang apapun. Angin musim dingin bulan ini membuat hidung Sungmin memerah tak jarang uap putih mengepul dari lubang hidung ketika menghembuskan napas panjang. Dan hal yang sama pun terjadi pada Changmin.
"Kau... sudah tidak apa-apa, kan?" Changmin tidak tertarik dengan sesi perkenalan yang kaku ini. benar-benar membunuh karakternya. Biasanya Changmin begitu ekspresif walaupun dengan orang yang baru saja ia kenal. Begitu—berisik.
Tapi lihat sekarang, bibirnya yang lebar itu hanya terkatup. Dan yang lebih parahnya bergetar saat hendak bicara.
"Berkat dirimu. Terimakasih. Sekarang aku harus pulang. Adikku pasti sudah lama menunggu." Sungmin berdiri, tak lupa ia menggenggam erat kantung plastik berisi sosis panggang tadi, yang mungkin kini sudah berubah jadi sosis beku.
"Eh?" Changmin kembali tersadar dari lamunan bodohnya. "S-sudah mau pulang?" Oke, pertanyaan ini benar-benar bodoh. Hey, siapa yang akan bertanya seperti itu kepada orang asing. Bukankah terdengar aneh?
Tepat seperti dugaan, Sungmin sedikit mengernyit, tak paham dengan kalimat pertanyaan yang diucapkan Changmin. "Ne. W-weyo?"
'Mati kau, Shim Changmin. Dia bertanya kenapa.'
"Kenapa? Eumm.. hehe... kenapa ya?" Aneh. Changmin mengelus tengkuknya dengan wajah bersemu—yang mungkin lebih terlihat sangat bodoh.
Sungmin tidak bergerak, masih berharap pria yang bersamanya ini akan mengucapkan sesuatu lagi. Bukannya tertarik, tapi wanita itu justru memiliki kebiasaan 'mendengarkan' untuk mengetahui karakter setiap orang yang ditemuinya, terlebih Changmin adalah orang asing sekitar tiga puluh menit lalu. Bulu matanya yang tidak begitu panjang namun sempurna membingkai foxy hitam di dalam sana. Mengerjap dan begitu manis.
Changmin memutar otaknya untuk membuat suatu alasan konyol seperti kebanyakan yang selalu ia ucapkan selama dua puluh lima tahun hidup. Biasanya itu hal mudah. Namun mengingat kelakuan minusnya tersebut lebih banyak membuat lawan bicaranya memutuskan untuk pergi dan berpura-pura tidak mengenal, Changmin tak ingin mengambil resiko bahwa wanita itu juga akan melakukan hal yang. Aneh memang, tapi kali ini rasana agak berbeda, ia tak ingin terlihat konyol di depan seorang Lee Sungmin—wanita yang baru saja ia kenal.
"Lalu lintasnya masih sangat ramai. Kalau tidak keberatan, kau mau aku mengantarkanmu? Mm... jangan salah paham, hanya saja..." 'Haaahh~ sulit sekali sih bicara!' "Hanya memastikan kau tidak diteriaki pengendara lagi." Changmin menjawab mantap. "Tidak apa, kan?"
Sungmin tersenyum, baru kali ini ia bertemu dengan orang yang bicara 'blak-blak-an' tapi berusaha keras untuk sesopan mungkin. Walaupun sangat sulit menolak, tapi ia masih harus melakukannya agar tidak berkesan murahan. Hey, dirinya itu tidak bisa melihat, dan orang bilang 'kebohongan' bisa dilihat dari cara seseorang menyorotkan tatapan matanya. Sungmin tak bisa melakukan itu yang pasti. Jadi sepertinya tidak apa jika tidak memperbolehkan pria itu mengantarkannya pulang. "Terimakasih. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Aku sudah biasa berjalan tanpa penuntun." ujarnya sebisa mungkin agar terdengar sopan.
"Oh?" Changmin kecewa. "Tidak boleh ya?"
'Ya ampun, apa-apaan pertanyaan itu?' Sungmin yang tadi bersikap tenang kini jadi salah tingkah. Pasalnya nada suara itu benar-benar tidak berusaha menutup sebuah kekecewaan. Sungmin sangat yakin dengan telinganya.
"Maafkan aku... aku tidak bermaksud—" Sungmin kehilangan kata-kata.
Sementara itu, Changmin hanya melongo. 'Kenapa dia meminta maaf?' pikirnya.
Hening beberapa saat.
"Baiklah~" Wanita itu menghela napas. "Tidak apa kalau kau mengantarku pulang?" Sungmin menyerah. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu sulit berbicara hal-hal yang ringan seperti ini. Entah kesalahan ada pada siapa. Yang jelas ia tidak suka merasa bingung saat terlibat pembicaraan. Cukuplah matanya yang tak bisa keluar dari kegelapan, jangan sampai kemampuannya 'mengenal' orang-orang sekitar dengan 'mendengarkan' juga jadi kacau.
Changmin langsung sumringah, otaknya dipastikan memang tidak paham dengan pertimbangan yang dilakukan gadis itu di dalam kepalanya, namun ia senang. Mendapatkan izin untuk mengantar gadis itu pulang seperti sudah menamatkan satu level permainan. "Kalau begitu ayo!"
'Kenapa aku begitu senang berlama-lama dengannya?'
~NUN~
"Noona, keras sekali. Bagaimana bisa kau membuat sosis panggang ini jadi seperti ice cream rasa daging sapi?"
Sebuah protes melayang dari mulut seorang bocah berumur sepuluh tahun. Lee Hyukjae. Mulut mungilnya mengerucut.
"Kenapa? Kau tidak mau? Kalau begitu kemarikan. Akan kuhangatkan kembali. Tapi kau harus menunggu beberapa menit." Tangan Sungmin terulur menggapai sang adik, meminta makanan yang berukuran panjang tersebut.
"T-tidak! Tidak usah. Aku akan memakannya. Lagipula... akan sama saja jika sudah masuk ke dalam perut." Bocah itu terlihat salah tingkah. Ia sedikit menjauhkan dan memeluk jajanan yang sudah susah payah kakaknya belikan tadi.
Dengan begitu Sungmin tersenyum.
Di seberang meja, seorang pria tinggi memperhatikan pemandangan itu dengan ekspresi sedikit kesal. 'Dasar bocah kurang ajar. Kau tahu bagaimana perjuangan kakakmu membelikan itu? Dia hampir saja tertabrak mobil tadi.' Karena tidak mungkin diucapkan, Changmin hanya bisa mencibir kepada bocah itu.
"Ahjussi, mwol bwayo?" (Paman, kau lihat apa?)
"Apa kau bilang? Ahjussi?" Changmin melotot. "Yah, bocah—"
"Hyukjea-ah, kau tidak boleh seperti itu. Tidak sopan. Changmin ssi, maafkan adikku. Ia memang kadang selalu bicara seenaknya." Sungmin sedikit membungkuk, sekali lagi, walaupun tidak tepat sasaran.
Changmin tersadar, ia juga tak seharusnya meladeni tadi. Yang benar saja, ia tak mungkin berkelahi dengan anak kecil, kan? "O-oh, ne, tidak apa. Dia masih kecil kok." Akhirnya hanya itu yang diucapkan.
Hening...
Kriiiuuuuk~
"Huh? Suara apa itu?" Hyukjae mengerjap, menghentikan segala konsentrasinya pada sosis yang tinggal separuh.
"Kau masuk ke dalam saja ya. Kau tidak ingin melewati acara TV kesayangan, kan?" Sungmin berucap lembut pada sang adik.
"Oh?" Bocah itu melihat ke arah jam dinding, "Sudah waktunya." Kemudian tanpa berkata lagi langsung berlari ke ruangan dengan sebuah televisi di dalamnya.
Sementara itu di seberang meja, wajah Changmin pucat pasi. Karena pada akhirnya alarm alami di dalam perut mengingatkan bahwa ruang di dalam sana masih 'kosong'. Belum diisi apapun.
"Changmin ssi, apa tadi suara perutmu? Kau baik-baik saja."
Changmin menggeleng sambil merutuki lambungnya dalam hati. 'Aku tidak baik-baik saja.' Tentu saja Sungmin tak bisa melihatnya. Itu juga yang membuat pria tinggi tersebut lega karena wajahnya kini pasti terlihat menyedihkan. Changmin benar-benar lapar sekarang.
"Ya Tuhan!" Sungmin menutup mulutnya karena terkejut. "Di sana... kau tadi pasti juga sedang mengantri, kan? Sosis panggang?"
Changmin hanya mengangguk lemah. Kini ia sungguh berharap bahwa wanita di hadapannya tidak sedang pura-pura buta. Wajahnya yang meringis pasti sangat jauh dari tampan.
Karena tak kunjung mendengar jawaban, Sungmin lengan Sungmin menggapai dan meraba meja perlahan, berharap menemukan sesuatu yang ia cari. Lengan Changmin.
'Ketemu.'
Changmin begitu terkejut karena tiba-tiba lengan kirinya yang masih bertengger di atas meja merasakan sebuah kelembutan. Sungmin menggenggam tangannya, meremasnya sedikit, dan yang membuat pria itu terbelalak adalah gadis itu membawa tangannya untuk menyentuh daerah sekitar leher jenjang dan mulus di sana. Perpaduan bunyi perut yang berkontarksi dan degup jantung kelewat cepat dirasa bukan sesuatu yang baik untuk mentalnya saat ini.
"Kau gemetar. Ternyata memang belum makan ya? Maafkan aku. Seharusnya kau tidak mengantarku pulang tadi." Sungmin menunjukkan raut wajah cemas karena merasa bersalah.
"T-tidak apa. A-aku baik... baik saja. Bukan masalah... besar." Sementara Changmin kesulitan menjaga deru napasnya yang tiba-tiba menjadi satu-satu. Ia merutuki tubuhnya yang begitu tidak toleran dengan rasa lapar. 'Apa salahnya sih menunggu sampai aku pulang? Kenapa harus bunyi di saat yang tidak tepat?' kembali ia menyumpah dalam diam.
"Tunggu sebentar. Sepertinya aku punya sesuatu yang bisa dimakan." Sungmin berucap saat akhirnya melepas genggaman tangan pada telapak Chagmin.
"Tidak usah. Aku tak ingin merepotkanmu!" Changmin berseru cepat.
"Tapi tubuhmu gemetar." Sungmin bertahan.
'Tentu saja gemetar! Kau membuatku menyentuh lehermu tadi!' Changmin betul-betul frustasi dibuatnya.
"Aku sudah akan pulang. Aku bisa mampir ke kedai dekat sini sebelum sampai rumah." Changmin masih berbasa-basi, padahal jika bisa bicara, perutnya mungkin akan berteriak 'Shim Changmin bodoh! Aku sudah tidak tahan!'
"Aku akan semakin merasa bersalah kalau kau menolak." Gadis itu berucap lembut. Membuat Changmin akhirnya mengalah telak.
"Baiklah~" ujarnya lemah. Ia benar-benar lelah menjadi Changmin yang 'pemalu'. Tidak ada untungnya sama sekali.
Changmin menyuap kimchi hangat ke dalam mulutnya, diikuti dengan sesendok besar nasi, kemudian mengunyah dua jenis makanan tersebut sekaligus. Pipinya yang tirus memperlihatkan tonjolan besar ketika setiap suapan baru. Benar-benar rakus. Sesekali ia akan menyeruput teh hangat yang manis jika kerongkongannya hampir tersedak. Jika sedang begitu, Changmin benar-benar punya dunia sendiri. Ia bahkan tak sadar bahwa saat ini ada wanita canik yang bersamanya.
Beberapa menit berlalu. Changmin menghabiskan semuanya. Makanan yang disediakan memang tidak banyak, namun efek teh hijau yang masuk ke dalam lambungnya akan mampu menahan rasa lapar, setidaknya sampai waktu sarapan besok.
Dan sebagai hidangan penutup, Changmin kembali menikmati pemandangan wanita dengan senyum yang begitu manis. Tanpa sadar bahwa noda merah masih tersisa di sekitar mulutnya.
Untung saja Sungmin tidak melihat~
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
"Apa anak itu baik-baik saja? Sudah hampir satu jam mulutnya terbuka seperti itu." Jaejoong menatap cemas adik kelasnya yang duduk sendiri di dekat jendela. Sebelah lengannya menangkup wajah, memandang—entah apa—ke luar jendela dengan mulut sedikit terbuka.
"Boo~" Jaejoong kembali memanggil kekasihnya yang kini masih sibuk menyingkirkan cukup banyak sesuatu yang berwarna hitam dari makan siangnya. Entahlah, seperti beberapa garlic yang hangus saat dimasak.
Pria kekar itu sama sekali tak mendengarkan panggoan Jaejoong. Begitu serius dengan 'pekerjaan'nya.
"YUNHO!"
Klontang! Yang dipanggil langsung terlonjak hingga menjatuhkan sendok garpu dalam genggaman. Mengerjap akibat keterkejutannya. Jaejoong seperti memiliki beberapa oktaf lebih tinggi dalam suara serak-serak basah yang hanya keluar di saat-saat tertentu. Seperti saat ini. Yunho merasakan bunyi ngiiiiing di kepalanya tak berangsur menghilang.
"Kau ini apa-apaan sih? Tiba-tiba berteriak." Yunho protes begitu bisa mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Pletak! Jaejoong menghadiahi sebuah hantaman sumpit alumunium di kepala Yunho. Membuat pria itu berteriak kesakitan. "Aku bicara padamu dari tadi. Berani-beraninya kau—ingin mengabaikanku, hah?!" Yunho seperti telah merubah kucing manis menjadi seekor macan yang buas.
"Aku tak mendengarmu tadi, maaf~" Yunho membela diri sambil mengusap kepalanya yang masih nyeri akibat hantaman tadi.
Wanita itu menarik napasnya dalam-dalam, berusaha kembali tenang, kepalanya berdenyut saat membentak tadi. Ini benar-benar tidak baik untuk kesehatannya. "Itu... di sana." Telunjuk Jaejoong mengarah pada pria yang masih bengong dengan wajah bodohnya di ujung meja sana.
"Kenapa dia?" Yunho justru merespon dengan raut tak peduli.
"Ck... itu tugasmu untuk cari tahu. Sekarang cepat hampiri." Jaejoong memerintah.
"Aku tak akan mendapat apapun. Lihat saja, itu tandanya dia sedang melepaskan rohnya ke tempat lain. Yang kita lihat hanya raganya." Yunho bicara sembarangan. Membuat kekasihnya hampir saja membentak lagi.
Beruntung Jaejoong masih bisa menahan, "Setidaknya buat dia mengatupkan mulut. Aku benar-benar takut ada serangga beracun yang masuk ke dalam sana."
"Rohnya tak akan mengenali dia kalau kita merubah sedikit saja posisinya saat kembali nanti."
PLETAK! Lagi. Dan yang baru saja seperti lebih keras dari yang pertama kali. "Sekali lagi kau bicara omong kosong aku akan berteriak kalau kau berusaha menyentuh payudaraku di tempat umum."
Yunho hanya bisa menganga mendengar ancaman wanita di sampingnya. 'Apa-apaan gadis ini? Tidak sekalian saja kau mengumumkan kepada seisi kantin kalau aku sudah sering menelanjangimu di toilet kampus.' ujarnya dalam hati dan masih dalam modus terkejut. Kekasihnya yang satu ini memang agak ajaib.
"Jangan pernah berpikir aku akan mengumumkan kalau kita sering bercinta di toilet kampus. Mereka tidak akan percaya. Kalau hanya menyentuh payudaraku, itu bisa jadi berita seru." Jaejoong berujar, membuat Yunho semakin melebarkan mulutnya.
Sebelum kekasihnya mengatakan lebih banyak hal-hal aneh, pemuda itu langsung beranjak dan menghampiri seseorang yang menurutnya memang sedari tadi menjadi sumber dari segala sumber kekacauan otak Jaejoong.
"Changmin-ah..."
"..."
"Shim Changmin!"
"Wae~" Tak disangka, Changmin sungguh merespon dengan sikap yang jauh dari perkiraan Yunho. Berpikir saat ia memutuskan untuk mengganggu lamunan Changmin, anak itu setidaknya akan terlonjak karena terkejut. Namun salah besar, ucapan 'wae' yang sangat lemah dan terdengar frustasi justru yang didengar.
"Kau kenapa?" Yunho duduk di bangku panjang yang sama di samping Changmin.
"Tidak tahu~" masih dengan nada yang sama, Changmin menjawab.
"Bangun dari sini. Bergabung bersama aku dan Jaejoong. Kau bisa kerasukan kalau begini terus." Pemuda kekar itu menarik lengan Changmin, tapi—
"Hyung..."
"Apa?"
"Aku bahkan bisa menahan lapar sebentar saat bersamanya." ucap Changmin tanpa mengalihkan pandangan menerawangnya.
"Hah?" Yunho mengerutkan kening bingung.
"Padahal sebelumnya, aku benar-benar lapar." Masih berbicara tanpa memandang siapapun.
"Kepalamu terantuk tempat tidur lagi ya pagi ini?" Seniornya itu semakin bingung dengan sikap aneh Changmin. Oh! Oke, Changmin memang aneh, tapi ini berbeda, dia membawa urusan makanan. 'Bisa menahan lapar' adalah kalimat yang tidak akan pernah ia ucapkan. Changmin rela menukar jiwanya hanya untuk makanan. Lalu, kenapa dengannya sekarang?
Changmin memasang wajah lebih frustasi sambil menghembuskan napas beratnya, "Kulitnya benar-benar seperti salju."
Tadi makanan, dan tiba-tiba beralih membicarakan salju. Yunho kesal sendiri, hingg akhirnya—
PLETAK!
"Aaaakh! Sakit, hyung!"
Well, setidaknya dengan begitu Yunho berhasil membawa 'roh' Changmin kembali masuk ke dalam tubuhnya. "Selamat datang kembali, Shim Changmin! Apa perjalanan spiritualmu menyenangkan?" tanya Yunho sinis.
Changmin hanya meringis sambil mengelus kepalanya. 'Tangannya keras sekali sih! Kupikir tadi ada besi yang menghantam kepalaku.' umpatnya dalam hati.
Yunho melambai pada wanita yang masih memperhatikan kedua pria itu dari kejauhan sedari tadi. Ia memberi isyarat pada Jaejoong untuk membawa serta makanan mereka ke meja di sini. Tidak sulit, kekasihnya itu mengerti dan segera menghampiri walaupun tangannya cukup kerepotan membawa dua makanan sekaligus.
"Changmin-ah, kau sakit?" Jaejoong menempelkan punggung tangannya di kening Changmin segera setelah menaruh piring-piring di atas meja. "Tidak panas tapi." Ia seperti menjawab pertanyaannya sendiri.
Yunho mencibir dan memandang sinis, 'Kenapa bukan kau saja yang bertanya dari awal? Malah mengancam dan membawa-bawa perkara toilet kampus.' Ia memajukan bibirnya.
Tiba-tiba saja dari kejauhan, Junsu berlari dan langsung menghempaskan dirinya di atas tempat duduk meja tempat ketiga orang sebelumnya duduk. "Yoooowww, Shim Changmin! Bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau sudah menemukan 'pendamping'? Uhh, aku sudah tak sabar ingin mengendarai motormu dengan wanita-wanita cantik di kampus ini." Junsu begitu bersemangat, betul-betul langsung merusak suasana hati Changmin. Untungnya saat itu ia belum memesan minuman apapun. Changmin bersumpah ingin sekali menyiram seniornya yang satu itu dengan air kencing kuda.
Tunggu! Memangnya Changmin suka minum air seni kuda?
"Waktumu tinggal tiga hari, Changmin. Aku harap kau bisa serius dengan pertaruhan ini. tidak seru kalau kau menyerah begitu saja." Pemuda bersuara seksi itu masih saja memanas-manasi Changmin. Membuatnya merengut lebih dalam. Lebih jelek.
"Aku tidak bilang akan menyerah!" hardiknya kesal. "Lihat saja nanti, kau bahkan tidak akan kuizinkan menyentuh kaca spionnya sekalipun."
Junsu terkekeh. "Tapi ingat Shim Changmin, kau harus membawa seseorang yang benar-benar kekasihmu, bukan orang yang kau bayar untuk berpura-pura menjadi kekasihmu. Jika aku sampai mencium kebohongan sedikit saja, motor itu benar-benar akan menjadi milikku tanpa syarat." Lengannya kemudian terulur menepuk pelan puncak kepala Changmin. "Selamat berjuang!" Laki-laki itu kemudian pergi lagi setelah mengucapkan selamat tingga pada pasangan yang masih sibuk mengacak-acak makanan mereka—makanan Yunho.
Junsu menghilang dari pandangannya. Dan dua orang di hadapannya kini sudah seperti pengkhianat ulung. Kemana simpati yang tadi mereka tunjukan? 'Benar-benar pasangan mafia!' rutuknya hanya dalam diam.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Changmin kembali membuat keributan dengan profesor mata kuliah filosofinya di kelas sore ini. Mereka kembali mendebat perihal lukisan Monalisa yang dikatakan menyimpan begitu banyak rahasia di dalam matanya. Salah profesor itu memang. Tidak ada yang meragukan otak random seorang Shim Changmin di angkatannya. Walau terhitung pintar, tidak jarang manusia yang satu itu membuat orang-orang di sekitarnya berpikir bahwa 'Tuhan masih saja menciptakan makhluk aneh ke dunia ini'.
Seharusnya pria tua botak tersebut tidak mencobanya, mengingat pagi-pagi sekali ruangannya kedatangan seorang mahasiswa dengan tampang memelas dan memohon untuk menukar partner kerja kelompoknya dengan orang lain. Siapa saja, kecuali pemuda gila bernama Shim Changmin.
Profesor Kim menunjuk Changmin untuk mengutarakan apa yang ia dapat dari hasil observasinya terhadap lukisan itu.
Kalian pasti tahu apa yang dikatakan Changmin.
"Profesor, kurasa Monalisa itu buta." Membuat seluruh isi kelas terbahak dan sempat ricuh beberapa saat.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu, Changmin ssi?"
"Anda lihat saja. Biasanya seseorang akan digambarkan dalam lukisan memiliki tatapan dengan visi yang tepat di mata orang yang melihatnya. Seperti Anda saat ini yang melotot pada saya." Sampai di sini masih masuk akal. Beberapa mengangguk. Tapi masalah muncul di pernyataan berikutnya.
"Anda tahu? Lukisan ibuku di rumah lebih terasa misterius. Ayah saya tidak pernah bisa membedakan tatapannya yang sedang marah ataupun bergairah. Semuanya sama." Kelas mendadak hening, "Saya bisa membawa lukisannya kalau Anda ingin menganalisisnya juga. Lukisannya cukup besar."
Kelas kembali gaduh dengan tawa dan terikan gila.
Dan Changmin diusir dari kelas sebelum perkuliahan berakhir.
"Tentu saja dia marah. Kau sudah menyinggung lukisan paling bersejarah dalam peradaban seni di dunia. Lagipula kenapa kau harus bilang Monalisa itu buta, sih? Ada-ada saja." Donghae, teman sekelasnya di departemen yang sama, menyeruput habis sisa-sisa ice cream yang sudah mencair di dalam gelas. Satu lagi keajaiban yang hanya bisa ditemukan di kampus sederhana itu. Seseorang yang begitu tergila-gila dengan makanan dingin dalam cuaca menjelang akhir tahun.
"Memangnya kenapa kalau Monalisa buta? Itu bukan sesuatu yang buruk. Setidaknya ahjumma itu pasti cantik waktu dia muda." Changmin menjawab asal. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Malam ini sangat dingin, dan tubuhnya dirasa tidak bisa menyimpan cadangan makanan dan energi lebih lama dari biasanya. Setidaknya itu yang ada dalam otak rumitnya.
"Kudengar kau bertaruh lagi dengan Junsu sanbae? Kali ini apa hadiahnya?"
Pertanyaan Donghae membuat aktivitas makan Changmin terganggu. Pasalnya ia begitu sensitif dengan isu tersebut. "Orang itu—" garpu di tangannya tiba-tiba saja diayunkan untuk menancap daging asap di atas meja. Membuat Donghae berjengit terkejut. "Aku tidak akan kalah! Lihat saja. Tak akan kubiarkan kesucian motorku ternodai oleh tangan-tangan manusia mesum." Changmin mendramatisir, membuat temannya itu hanya memandang kelu. Jika penggemar manga mungkin bisa menyebutnya sebagai fenomena(?) sweatdroop.
Matanya tiba-tiba mengedar ke jalan besar di luar kafe yang tengah mereka singgahi. Changmin mengenali daerah ini. Sudah menjadi kebiasaannya memang jika pergi kemana-mana tanpa navigasi khayal agar orientasi arah terhadap tempat-tempat yang dilaluinya bisa terekam dan tersimpan rapi di dalam otak. Dan kemampuannya mengenal tempat akan semakin buruk jika rasa lapar sudah melanda.
'Lee Sungmin'
Akhirnya nama itu yang muncul setelah bersusah payah mengaduk-aduk memori dalam kepalanya.
'Dia sedang apa ya sekarang? Tiba-tiba aku rindu padanya."
Tapi... buru-buru ia menggeleng. Punggung tangannya kembali merasakan sapuan lembut. Kulit Sungmin. 'Oh, dia benar-benar halus.' Changmin kembali terbuai. Donghae yang melihat gelagat aneh langsung saja meraih segelas air mineral. Menenggaknya dan—
Cruuuut! Pemuda berwajah innocent itu menyemburkan air dari mulutnya ke arah wajah Changmin.
"YAH, LEE DONGHAE! APA YANG KAU LAKUKAN!" Changmin berteriak. Tak peduli seluruh isi kafe melayangkan tatapan sangar kepada sumber kebisingan di sana.
"Welcome back, Shim Changmin." ujar Donghae datar.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Changmin berguling-guling di atas tempat tidur kecil dalam flat sederhananya. Semenjak pulang tadi, ia sudah kembali dipusingkan dengan masalah taruhan itu. 'Haaaaah~ waktunya tinggal tiga hari lagi. Darimana aku bisa mendapatkan seorang wanita?' ia kemudian berguling lagi ke arah sebaliknya. Sprei kasur itu sudah tidak berbentuk lagi. Benar-benar lepas dari tempatnya.
"Kapan terakhir kali aku punya kekasih?" Pemuda itu mulai bermonolog karena frustasi.
"Tidak ingat." Changmin menggeleng.
"Berciuman?" Ia menyentuh bibirnya.
"Eughh! Istri mafia itu—Jaejoong noona sudah mengambil ciuman pertamaku." Wajahnya bergidik, suasana mendadak mencekam. Ia tidak akan sudi mengingat lagi bagaimana kejadiannya.
'Dia harus lebih tua darimu, Shim Changmin.'
Kembali suara Junsu muncul secara tidak sopan dalam gelombang arus pendek otaknya. "Lebih tua?" Changmin mengulangi.
'Jadi, apa kau juga lahir pada tahun delapan enam?'
Changmin tersentak duduk. "Tunggu dulu! Delapan enam? Itu berarti lebih tua dariku kan?"
Lengannya meraih celana panjang yang dihempaskan begitu saja tadi sewaktu pulang. Changmin merogoh kantongnya dan menemukan benda bernama 'ponsel' di sana. Kedua ibu jarinya menyentuh layar dengan gerakan terlatih—terbiasa lebih tepatnya.
"Wae?" Seseorang di seberang telepon menyapa dengan enggan. Kentara sekali sudah merasa terganggu.
"Hyung, Junsu hyung!" Changmin memperjelas pendengarannya.
"Iya ini aku... oooohh... ada... apa? Hhh... hh.."
Changmin mengernyit mendengar nada bicara seniornya, "Hyung? Kau sedang apa?"
Napas Junsu di seberang telepon seperti terengah, "Bukan urusanmu, nghhh... gadis nakal... jangan menggigit di sana. Cepat katakan apa maumu? Akuhhh... sedang sibuk..."
Sejenak terpana dengan suara desahan lain di sana. Namun Changmin cepat-cepat menggeleng, berusaha fokus. "Hyung, mengenai taruhan itu. Kau hanya menyarankan wanita yang lebih tua, kan?"
"Aku benar-benar akan membunuhmu, Shim Changmin. Oooohhh... yeaah.. di sana. Apa kau meneleponku hanya untuk bertanya hal itu?!"
"Sudah jawab saja. Hanya itu kan? Tidak ada yang lain lagi? Tidak harus benar-benar sempurna. Hanya harus lebih tua."
"Iyaaaahhh... oowhh shit!"
Changmin mengangguk mengerti.
"Hyung..."
"Apa lagi?" Junsu semakin kesal.
"Jangan lupa pakai pengaman ya."
"Dasar anak setan!"
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Mau dilanjutkan lagi?
Hey, terimakasih banyak untuk reviewnya yah. Saya pikir pair ini akan dianggurin. Hehe...
Alurnya terlalu bisa ditebak ya? Hmm... gak apa... memang sengaja... tenang... ini masih panjang kok. Itupun kalau masih dapat respon baik, akan terus saya lanjut. *entah sampai chapt berapa*
Oh iya, kalau ada yg bertanya2 apa itu 'NUN', dalam bahasa korea artinya mata.
Ditunggu feedbacknya... p(*-*)q
#Sign 'Author'#
