Pacar Taruhan
Osomatsu-san © Akatsuka Fujio
Dibuat untuk kesenangan semata, tidak ada keuntungan lainnya yang didapatkan.
Highschool + Indonesia!AU, mengandung konten boys-love, dan alur cerita semacam ftv. Yang bersaudara di sini hanya younger trio; Ichimatsu(16), Jyushimatsu(14), Todomatsu(11).
.
.
.
1. Cemburu
.
.
.
Todoko, gadis yang kini berada di kelas satu sekolah menengah atas, akan berumur enam belas nanti Maret, dan suka sekali dengan hal-hal feminim. Suka sekali pergi belanja, suka foto di sana-sini, suka mendengar gosip atau berita baru tentang murid-murid di sekolahnya.
Cantik, kata hampir semua cowok-cowok yang mengenalnya. Dia cukup populer karena dia berteman dengan orang-orang yang terkenal baik di sosial media atau di sekolahnya. Selalu update tentang kegiatannya sehari-hari membuat ia mendapat banyak follower , adders, likes di akun-akun sosial medianya; Jalur, Garis, atau JepretObrolan.
Baru-baru ini dia kalah taruhan—bukan taruhan uang, untungnya, ia sudah lama menyimpan uang untuk membeli sepatu yang diincarnya tiga minggu lalu—dan kini, dia harus menerima hukumannya.
Walau dia tidak menyebutnya sebagai hukuman juga, sih. (Ini rahasia, sebenarnya. Dia tidak akan pernah mengatakan hal ini pada orang lain.)
"Gue mau lo jadi pacar gue,"
Kata-kata itu diucapkan secara keras tanpa sadar, membuat beberapa siswa menoleh ke arah mereka. Senyum di wajah Todoko lenyap ketika menyadari perbuatannya, namun mencoba agar terlihat tidak panik dengan tatapan murid-murid lainnya. Harus jaga imej, pikirnya.
Kedua alis Ichimatsu terangkat, namun selain itu, ekspresinya tak berubah banyak. Seakan ia hanya terkejut dengan suara si gadis yang keras, bukan kalimat yang diucapkannya. Dia pun tampak tidak terganggu dengan beberapa murid yang mulai berbisik-bisik sambil menatap mereka.
Titik-titik buliran keringat muncul di kening Todoko, kedua tangannya yang kini saling berpautan terasa dingin, dan si gadis merutuki si pemuda dalam hati karena tidak memberi respon apapun. Mau melirik ke Osoko juga tidak berani, nanti malah bertatapan dengan murid lain yang sedang menatap mereka.
Duh, penyesalan datang terlambat, harusnya dia ingat kata-kata itu ketika ingin memanggil Ichimatsu beberapa menit lalu.
Tiba-tiba sesuatu yang besar dan hangat memegang kedua tangannya yang dingin. Ketika ia mengalihkan pandangannya pada tangannya, ia baru menyadari 'sesuatu yang besar dan hangat' itu adalah tangan Ichimatsu.
Andai Todoko dapat teriak sekarang juga. Atau pingsan. Ah, tidak, tidak, dia kan harus jaga imej.
"Ya, gue mau." Kata-kata itu membuatnya kembali menatap Ichimatsu, yang kini menyeringai dan masih menggenggam tangannya.
Seluruh murid yang menyaksikan mereka langsung heboh, ramai, dan meneriakkan kata-kata yang bahkan tidak dapat Todoko cerna. Si gadis sempat melamun sebentar, agak tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun setelah melihat Ichimatsu menyeringai padanya—yang bisa dibilang, ini pertama kali si lelaki mengubah ekspresi wajahnya—ia tidak sadar pipinya bersemu, dan rasanya ia ingin menutup telinganya karena teriakan-teriakan teman sekelasnya justru membuat jantungnya semakin berdegup kencang.
Sampai teriakkan-teriakkan heboh itu berhenti, Ichimatsu tidak sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka.
"Karamatsu,"
Yang dipanggil menoleh, sedikit melirik kanan dan kiri sebelum orang yang memanggilnya melambaikan tangan. Karamatsu tersenyum lebar, lalu berjalan mendekati orang tersebut.
"Hei," sapanya, menepuk pundak Karamatsu ketika jarak mereka sudah dekat. Tepukkan itu dibalas, dan keduanya sedikit menepi agar tidak menghalangi pintu ruang klub drama.
"Oh, kawanku, ada apa gerangan kau datang ke sini? Rindu padaku, hm?"
Orang itu tertawa mendengar kata-kata Karamatsu, satu tangannya memegangi perut. "Hentikan ucapan menyakitkanmu itu."
Melihat temannya tertawa, Karamatsu melakukan hal yang sama. Sudah terbiasa dikatakan 'menyakitkan' oleh orang-orang. Dan lagi, menyakitkan sudah menjadi salah satu ciri khasnya.
"Tapi, Osomatsu, aku—"
Kalimat Karamatsu dihentikan akibat telunjuk Osomatsu yang kini berada di depan mulutnya, memberi tanda agar lelaki itu menghentikan apapun yang akan dikatakannya. Temannya itu kini merangkul pundaknya, dan mengajaknya untuk pergi dari sana. Lapar, katanya, Osomatsu ingin ditemani ke kantin, dan seharusnya Karamatsu juga istirahat sebentar dari latihan dramanya karena sekarang sudah waktu makan siang.
Keduanya mulai berjalan menjauhi ruang klub, dan sosok mereka menghilang di belokan ujung lorong. Ketika tidak ada tanda-tanda mereka kembali, Ichimatsu keluar dari tempat persembunyiannya saat melihat apa yang Karamatsu lakukan di ruang klubnya. Sedikit mendecih ketika mengingat betapa dekatnya Osomatsu dengan lelaki itu.
Kebiasaan Ichimatsu adalah menguntit kakak kelasnya yang satu itu, Karamatsu. Kakak kelas yang dikenal akan kata-kata anehnya (namun bisa romantis di beberapa saat), bakat aktingnya yang bagus, dan juga merupakan pemain basket yang handal. Kakak kelas satu-satunya yang menarik perhatiannya. Kakak kelas yang membuatnya ingin masuk sekolah ini agar bisa menguntitnya terus-menerus. (Mereka berada di sekolah menengah pertama yang sama, omong-omong.)
Banyak sekali hal yang diketahui Ichimatsu tentang Karamatsu. Misalnya seperti mengapa Karamatsu tidak mau dipanggil 'kak' oleh para adik kelas, atau dia memiliki berapa saudara, bahkan alamat rumahnya, juga rumor bagaimana Karamatsu terlihat dekat sekali dengan Osomatsu hingga dikira ada 'hubungan'. Tidak sia-sia ia menguntit Karamatsu.
(Sayangnya dia akan berhenti mengikuti kakak kelas menyakitkannya itu jika Karamatsu sudah bertemu Osomatsu. Dia kehilangan selera dan tidak mau tahu kegiatan mereka.)
"Ichimatsu," panggil seseorang, membuatnya menghentikan apapun yang sedang dipikirkannya dan menatap pemanggil namanya.
Dalam hati Ichimatsu mendengus. Gadis itu lagi. Gadis yang beberapa waktu lalu memintanya untuk pacaran hanya karena kalah taruhan.
Ichimatsu tidak merespon, hanya menatap gadis itu seakan siap mendengarkan apapun yang ingin dikatakan si gadis. Kedua matanya terbuka setengah, membuatnya terlihat seperti tidak tertarik dan malas.
"Kenapa kau tidak ikut Karamatsu dan kak Osomatsu ke kantin? Bukankah mereka baru saja pergi?" tanya Todoko, dengan memiringkan kepalanya ke satu sisi—pose yang dianggap Ichimatsu sebagai 'sok imut'.
Lelaki itu hanya memutar bola matanya, tidak memberikan jawaban yang berarti. Ada rasa kesal karena mendengar kata 'kak Osomatsu' diucapkan.
Todoko tertawa pelan, tahu bahwa Ichimatsu tidak suka dengan si kakak kelas yang dekat sekali dengan Karamatsu. Cemburu, mungkin. Tidak suka karena mereka terlihat terlalu akrab untuk status teman atau sahabat.
Tangan si gadis menarik tangan si pemuda tiba-tiba, menyeretnya untuk berjalan ke arah kantin. "Ayo, kau kan mau lihat Karamatsu. Jangan pedulikan kak Osomatsu ada atau tidak, mereka kan juga tidak pacaran atau bagaimana. Tidak perlu cemburu."
Ichimatsu tidak menolak ketika Todoko sudah menyeretnya setengah jalan, membiarkan si gadis menariknya dengan kekuatan yang cukup besar untuk seorang perempuan.
"Cemburu? Untuk apa aku cemburu, bodoh. Dia bukan milikku, aku tidak punya hak untuk cemburu."
Todoko melirik lelaki itu, yang kini memandang ke arah lantai setelah mengatakan kalimat tadi. Kalimat yang membuat si gadis sedikit berpikir.
Kini mereka berdua berpacaran bukan? (Walau hanya karena taruhan, dan memiliki batas waktu, sebenarnya, hanya hingga bulan depan.) Apa artinya mereka saling memiliki?
Kalau memang mereka saling memiliki ... bolehkah Todoko cemburu?
Rumor tentang Karamatsu dan Osomatsu memiliki hubungan sudah lama ada, sudah lama dibicarakan dari mulut ke mulut, sudah banyak yang bertanya pada orangnya langsung. Beberapa ada yang percaya, beberapa ada yang tidak, beberapa ada yang kecewa.
Kalau bertanya pada Karamatsu pasti langsung mendapat kata tidak. Tidak, mereka tidak berpacaran. Tidak, mereka tidak punya hubungan khusus selain bersahabat. Tidak, mereka tidak pernah melakukan hal-hal aneh dalam konteks 'hubungan'.
Beberapa percaya dengan Karamatsu. Beberapa lainnya yang tidak percaya beralih untuk bertanya pada Osomatsu.
Kalau bertanya pada Osomatsu—
.
.
Celestial Aika Rynka: Apalah saya yang susah nulis panjang :") diusahakan bisa cepet up ya 'v')/ kayaknya kalau Osomatsu sudah tahu ya kalau ada versi cowok dan ceweknya di sini uwu kalau Jyushi ... lihat nanti-nanti :)) "dipanjangin itunya"? itunya itu apa saya gagal paham nih /heh/ terima kasih atas reviewnya!
anisrinn: Terima kasih reviewnya! Semoga puas dengan lanjutannya yang masih pendek ini .w.
